Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Asy Shyuura (Musyawarah) – surah 42 ayat 23 [QS. 42:23]

ذٰلِکَ الَّذِیۡ یُبَشِّرُ اللّٰہُ عِبَادَہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ؕ قُلۡ لَّاۤ اَسۡـَٔلُکُمۡ عَلَیۡہِ اَجۡرًا اِلَّا الۡمَوَدَّۃَ فِی الۡقُرۡبٰی ؕ وَ مَنۡ یَّقۡتَرِفۡ حَسَنَۃً نَّزِدۡ لَہٗ فِیۡہَا حُسۡنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ شَکُوۡرٌ
Dzalikal-ladzii yubasy-syirullahu ‘ibaadahul-ladziina aamanuu wa’amiluush-shaalihaati qul laa asalukum ‘alaihi ajran ilaal mawaddata fiil qurba waman yaqtarif hasanatan nazid lahu fiihaa husnan innallaha ghafuurun syakuurun;
Itulah (karunia) yang diberitahukan Allah untuk menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan kebajikan.
Katakanlah (Muhammad),
“Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.”
Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya.
Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.
―QS. Asy Shyuura [42]: 23

It is that of which Allah gives good tidings to His servants who believe and do righteous deeds.
Say, (O Muhammad),
"I do not ask you for this message any payment (but) only good will through kinship."
And whoever commits a good deed – We will increase for him good therein.
Indeed, Allah is Forgiving and Appreciative.
― Chapter 42. Surah Asy Shyuura [verse 23]

ذَٰلِكَ demikian itu

That
ٱلَّذِى yang

(is of) which
يُبَشِّرُ menggembirakan

Allah gives glad tidings *[meaning includes next or prev. word]
ٱللَّهُ Allah

Allah gives glad tidings *[meaning includes next or prev. word]
عِبَادَهُ hamba-hamba-Nya

(to) His slaves –
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
ءَامَنُوا۟ beriman

believe
وَعَمِلُوا۟ dan mereka beramal

and do
ٱلصَّٰلِحَٰتِ kebaikan

righteous deeds.
قُل katakanlah

Say,
لَّآ tidak

"Not
أَسْـَٔلُكُمْ aku minta kepadamu

I ask you
عَلَيْهِ atasnya

for it
أَجْرًا upah

any payment
إِلَّا kecuali

except
ٱلْمَوَدَّةَ kasih sayang

the love
فِى dalam

among
ٱلْقُرْبَىٰ kekeluargaan

the relatives."
وَمَن dan barang siapa

And whoever
يَقْتَرِفْ mengerjakan

earns
حَسَنَةً kebaikan

any good,
نَّزِدْ Kami tambahkan

We increase
لَهُۥ baginya

for him
فِيهَا padanya

therein
حُسْنًا kebaikan

good.
إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
غَفُورٌ Maha Pengampun

(is) Oft-Forgiving,
شَكُورٌ Maha mensyukuri

All-Appreciative.

Tafsir

Alquran

Surah Asy Shyuura
42:23

Tafsir QS. Asy Shyuura (42) : 23. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa apa yang telah diberitakan mengenai pemberian karunia dan kesenangan serta kemuliaan di akhirat bagi hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh adalah satu berita gembira yang disampaikan di dunia agar jelas bagi mereka bahwa hal ini pasti menjadi kenyataan.
Selanjutnya Allah memerintahkan Muhammad ﷺ menyampaikan kepada kaumnya bahwa di dalam menjalankan tugas menyeru dan menyampaikan agama yang benar, ia tidak meminta balasan apa pun, tetapi ia hanya mengharapkan kasih sayang kaum Muslimin terhadap dirinya, kerabatnya dan kaum Muslimin lainnya.


Barang siapa berbuat baik, taat, dan patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melipatgandakan kebaikan kepadanya.
Satu kebaikan dibalas sekurang-kurangnya dengan sepuluh kebaikan, sampai tujuh ratus kebaikan bahkan lebih banyak lagi, sebagai rahmat dan karunia dari Allah, sebagaimana firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَاِنْ تَكُ حَسَنَةً يُّضٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَّدُنْهُ اَجْرًا عَظِيْمًا

Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar dharrah, dan jika ada kebajikan (sekecil dharrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.
(an-Nisa’ [4]: 40)


Firman Allah:

مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَا

Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. (al-An’am [6]: 160)


Allah ﷻ berfirman:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.

Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (al-Baqarah [2]: 261)


Selanjutnya ayat 23 ini ditutup dengan satu penjelasan bahwa Allah mengampuni kesalahan hamba-Nya bagaimana pun banyaknya dan melipatgandakan pahala amal kebaikan meskipun sedikit, karena Dia adalah Tuhan Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

Tafsir QS. Asy Shyuura (42) : 23. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Karunia besar itu sendiri adalah sesuatu yang dijanjikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan taat.
Katakan, wahai Rasul,
"Aku tidak mengharapkan imbalan dari penyampaian misi suci ini kecuali agar kalian mencintai Allah dan Rasul-Nya pada saat mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan perbuatan baik. "
Barangsiapa yang benar-benar taat, Allah pasti akan melipatgandakan pahalanya.
Allah benar-benar luas ampunan-Nya kepada orang-orang yang berdosa, dan Maha Berterimakasih atas perbuatan baik hamba-hamba-Nya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai sekalian manusia, kenikmatan dan kemuliaan akhirat yang dikabarkan Allah adalah kabar gembira bagi hamba yang beriman di dunia dan taat kepada-Nya.
Wahai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang musyrik kaummu yang meragukan datangnya hari Kiamat,
"Aku tidak meminta imbalan harta kekayaan atas dakwah menyampaikan kebenaran kecuali kalian mencintaiku dalam kekerabatan.


Kalian menyambungkan tali persaudaraan antaraku dengan kalian.
Barangsiapa berbuat baik, Kami akan melipatgandakanya menjadi sepuluh kalian lipat, bahkan lebih.


Sesungguhnya Allah Maha Mengampuni dosa hamba-hamba-Nya, Maha Membalas kebaikan dan ketaatan hamba kepada-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Itulah karunia yang dengan itu Allah menggembirakan) berasal dari lafal Al-Bisyarah


(hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh.
Katakanlah,
"Aku tidak meminta kepada kalian atas seruanku ini) atas penyampaian risalah ini


(sesuatu upah pun kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan) Istitsna di sini bersifat Munqathi‘ maksudnya, tetapi aku meminta kepada kalian hendaknya kalian mencintai kekerabatan denganku yang memang pada kenyataannya telah ada hubungan kerabat antara kalian dan aku.
Karena sesungguhnya bagi Nabi ﷺ mempunyai hubungan kekerabatan dengan setiap puak yang berakar dari kabilah Quraisy.


(Dan siapa yang mengerjakan kebaikan) yakni ketaatan


(akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu) yaitu dengan melipatgandakan pahala kebaikannya.


(Sesungguhnya Allah Maha Pengampun) terhadap dosa-dosa


(lagi Maha Mensyukuri) bagi orang yang sedikit beramal kebaikan, karenanya Dia melipatgandakan pahalanya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Setelah menceritakan taman-taman surga untuk hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh, lalu Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam firman selanjutnya:

Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh.
(QS. Asy Shyuura [42]: 23)

Yakni hal ini pasti diperoleh mereka sebagai berita gembira dari Allah subhanahu wa ta’ala Kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:


Katakanlah,
"Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan."
(QS. Asy Shyuura [42]: 23)

Katakanlah, hai Muhammad, kepada orang-orang musyrik dari kaum Quraisy,
"Aku tidak meminta sesuatu harta pun dari kamu atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian ini sebagai imbalannya yang kamu berikan kepadaku.
Sesungguhnya yang aku minta dari kalian ialah hendaknya kalian menghentikan kejahatan kalian kepadaku, dan kalian biarkan aku menyampaikan risalah-risalah Tuhanku.
Jika kalian tidak mau membantuku, maka janganlah kalian menggangguku, demi hubungan kekeluargaan yang ada antara aku dan kalian."

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abdul malik ibnu Maisarah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Tawus menceritakan hal berikut dari Ibnu Abbas r.a. Bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya mengenai makna firman-Nya,
"Kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan."
Maka Sa’id ibnu Jubair (yang ada di majelis itu) langsung menjawab,
"Keluarga ahli bait Muhammad."
Ibnu Abbas r.a. berkata,
"Engkau tergesa-gesa, sesungguhnya Nabi ﷺ itu tiada suatu puak pun dari kabilah Quraisy melainkan mempunyai hubungan kekerabatan dengan beliau ﷺ Untuk itulah maka beliau ﷺ bersabda, ‘terkecuali bila kalian menghubungkan kekerabatan yang telah ada antara aku dan kalian’."

Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara munfarid (tunggal).

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini dari Yahya Al-Qattan, dari Syu’bah dengan sanad yang sama.


Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Amir Asy-Syabi, Ad-Dahhak, Ali ibnu Abu Talhah, Al-Aufi, dan Yusuf ibnu Mahran serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, dari Ibnu Abbas r.a. dengan lafaz yang semisal.


Hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid, Ikrimah, Qatadah, As-Saddi, Abu Malik, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam serta lain-lainnya.

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim ibnu Zaid At-Tabrani dan Ja’far Al-Qalansi.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Adam ibnu Abu Iyas, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Khasif, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ berkata kepada mereka (orang-orang musyrik Mekah):
Aku tidak meminta kepada kalian atas seruanku ini suatu upah pun kecuali kecintaanmu kepadaku mengingat kekeluargaanku dengan kalian, dan hendaknya kalian pelihara kekeluargaan yang ada antara aku dan kalian ini.

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Hasan ibnu Musa, bahwa telah menceritakan kepada kami Quz’ah (yakni Ibnu Suwaid) dan Ibnu Abu Hatim, dari ayahnya, dari Muslim ibnu Ibrahim, dari Quz’ah ibnu Suwaid, dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas r.a, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:
Aku tidak meminta kepada kalian atas keterangan dan petunjuk yang kusampaikan kepada kalian ini sesuatu upah pun, kecuali ketaatan kalian kepada Allah dan pendekatan diri kalian kepada-Nya dengan cara taat kepada-Nya.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Qatadah, dari Al-Hasan Al-Basri.
Dan hal ini bagaikan pendapat yang kedua seakan-akan disebutkan:

kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.
(QS. Asy Shyuura [42]: 23)

Yakni kecuali bila kalian mengerjakan amal ketaatan yang mendekatkan diri kalian kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.


Pendapat yang ketiga ialah seperti apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lain-lainnya melalui riwayat Sa’id ibnu Jubair dengan kesimpulan bahwa makna yang dimaksud yaitu, ‘kecuali bila kalian menunaikan hak kekeluargaan kalian denganku’.
Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa terkecuali kalian berbuat baik kepada kaum kerabat kalian.

As-Saddi telah meriwayatkan dari Abud Dailam yang telah menceritakan bahwa ketika Ali ibnul Husain didatangkan sebagai tawanan dan diberdirikan di atas tangga kota Dimasyq, maka berdirilah seorang lelaki dari kalangan penduduk negeri Syam, lalu berkata,
"Segala puji bagi Allah yang telah membunuh dan memberantas kalian serta memotong sumber fitnah (kekacauan)."
Maka Ali ibnul Husain bertanya kepada lelaki itu,
"Apakah engkau membaca Alquran?"
Lelaki itu menjawab,
"Ya."
Ali ibnul Husain bertanya,
"Tidakkah engkau membaca Ali Ha Mim?"
Lelaki itu menjawab,
"Aku telah membaca seluruh Alquran, tetapi belum pernah menemukan yang namanya Ali Ha Mim."
Ali ibnul Husain berkata, bahwa tidakkah engkau pernah membaca firman-Nya:
Katakanlah,
"Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan."
(QS. Asy Shyuura [42]: 23)
Lelaki itu berkata,
"Sesungguhnya kamukah yang dimaksud dengan mereka itu (ahlul bait)?"
Ali ibnul Husain menjawab,
"Ya."

Abu Ishaq As-Subai’i mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Amr ibnu Syu’aib tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala,:
Katakanlah,
"Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan."
(QS. Asy Shyuura [42]: 23)
Maka Amr ibnu Syu’aib menjawab, bahwa yang dimaksud adalah kaum kerabat Nabi ﷺ Riwayat ini dan yang sebelumnya kedua-duanya diketengahkan oleh Ibnu Jarir.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Malik ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Abdus Salam, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Abu Ziad, dari Miqsam, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa orang-orang Ansar pernah mengatakan anu dan anu seakan-akan mereka membangga-banggakan dirinya.
Maka Ibnu Abbas atau Al-Abbas —Abdus Salam atau perawi ragu—mengatakan,
"Kamilah yang lebih utama daripada kamu."
Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau mendatangi majelis mereka, lalu bersabda,
"Hai orang-orang Ansar, bukankah dahulu kalian dalam keadaan hina, lalu Allah memuliakan kalian melaluiku?"
Mereka menjawab,
"Memang benar, ya Rasulullah."
Beliau ﷺ bertanya,
"Bukankah dahulu kamu dalam keadaan sesat, lalu Allah memberimu petunjuk melaluiku?"
Mereka menjawab,
"Benar, ya Rasulullah."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Mengapa kamu tidak menjawabku?"Mereka balik bertanya,
"Apakah yang harus kami katakan, ya Rasulullah?"
Rasulullah ﷺ bersabda:
Tidakkah kamu katakan bahwa bukankah kaummu telah mengusirmu, lalu kami memberimu tempat tinggal.
Bukankah mereka mendustakanmu, lalu kami membenarkanmu.
Dan bukankah mereka menghinamu, lalu kami menolongmu?
Rasulullah ﷺ terus-menerus mengatakan hal itu sehingga mereka terduduk di atas lutut mereka (merendahkan diri) dan mereka mengatakan,
"Semua harta yang ada pada tangan kami untuk Allah dan Rasul-Nya."
Lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya:
Katakanlah,-
"Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan."
(QS. Asy Shyuura [42]: 23)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari Ali ibnul Husain, dari Abdul Mu’min ibnu Ali, dari Abdus Salam, dari Yazid ibnu Abu Ziad, tetapi ini daif, dengan sanad yang semisal atau mendekatinya.


Di dalam kitab Sahihain, dalam Bab
"Pembagian Ganimah Hunain"
disebutkan hal yang semisal dengan konteks ini, tetapi tidak disebutkan turunnya ayat terebut.
Mengenai penyebutan turunnya ayat ini di Madinah masih diragukan kebenarannya, mengingat suratnya adalah Makkiyyah.
Dan tidak ada kaitan yang jelas antara ayat dan riwayat ini;
hanya Allah­lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami seorang lelaki yang senama dengannya (yakni Ali), telah menceritakan kepada kami Husain Al-Asyqar, dari Qais, dari Al-A’masy, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan, bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Katakanlah,
"Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan."
(QS. Asy Shyuura [42]: 23)
Mereka (para sahabat) bertanya,
"Wahai Rasulullah, siapakah mereka yang diperintahkan oleh Allah agar kita mencintainya?"
Beliau ﷺ bersabda,
"Fatimah dan anaknya."

Sanad hadis ini daif, karena didalamnya terdapat seseorang yang tidak dikenal yang menerima hadis ini dari seorang guru beraliran Syi’ah yang ekstrim.
Dia adalah Husain Al-Asyqar yang beritanya tidak dapat diterima dalam masalah ini.
Dan penyebutan mengenai turunnya ayat di Madinah jauh dari kebenaran, karena sesungguhnya ayat ini Makkiyyah, dan pada saat itu Fatimah r.a. belum mempunyai anak sama sekali.
Mengingat sesungguhnya Fatimah r.a. baru menikah dengan sahabat Ali r.a. hanya setelah Perang Badar, yaitu di tahun kedua Hijrah.

Pendapat yang benar sehubungan dengan tafsir ayat ini adalah apa yang telah diketengahkan oleh ulama umat ini juru penafsir Alquran, yaitu Abdullah ibnu Abbas r.a, seperti yang disebutkan dalam riwayat yang dikemukakan oleh Imam Bukhari darinya.
Dan memang tidak diingkari adanya wasiat (anjuran) serta perintah untuk memperlakukan ahli bait dengan perlakuan yang baik dan menghormati serta memuliakan mereka.
Karena sesungguhnya mereka berasal dari keturunan yang suci dari ahli bait yang paling mulia di muka bumi ini dipandang dari segi keturunan, kedudukan, dan kebanggaannya.
Terlebih lagi bila mereka benar-benar mengikuti sunnah nabi yang sahih, jelas, dan gamblang;
seperti yang telah dilakukan oleh para pendahulu mereka, misalnya Al-Abbas dan kedua putranya, Ali dan ahli bait serta keturunannya.
Semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka.

Di dalam hadis sahih telah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ dalam khotbahnya di Gadir Khum (nama sebuah mata air) telah bersabda:

­Sesungguhnya aku menitipkan kepada kalian dua perkara yang berat, yaitu Kitabullah dan keturunanku (ahli baitku), dan sesungguhnya keduanya tidak dapat dipisahkan sebelum keduanya sampai di telaga (ku).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Abu Khalid, dari Yazid ibnu Abu Ziad, dari Abdullah ibnul Haris, dari Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib r.a. yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Quraisy itu apabila sebagian dari mereka bersua dengan sebagian yang lain, mereka menjumpainya dengan wajah, yang cerah dan baik.
Tetapi bila mereka bersua dengan kami, maka mereka menjumpai kami dengan wajah yang kami tidak kenal (dengan muka tidak sedap)."
Maka Nabi ﷺ marah sekali, lalu bersabda:
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, iman masih belum meresap ke dalam hati seseorang sebelum dia menyukai kalian karena Allah dan Rasul-Nya.

Yakni sebelum mencintai ahli bait Rasulullah ﷺ demi karena Allah dan Rasul-Nya.


Kemudian Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Yazid ibnu Abu Ziad, dari Abdullah ibnul Haris, dari Abdul Muttalib ibnu Rabi’ah yang menceritakan bahwa Al-Abbas r.a. masuk menemui Rasulullah ﷺ, lalu berkata,
"Sesungguhnya kami benar-benar keluar dan kami lihat orang-orang Quraisy sedang berbicara dengan asyik.
Tetapi bila mereka melihat kami, maka mendadak mereka diam."
Maka Rasulullah ﷺ marah dan mengernyitkan dahinya, kemudian bersabda:
Demi Allah, iman masih belum meresap ke dalam kalbu seseorang muslim sebelum dia mencintai kamu karena Allah dan karena kekerabatanku.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Khalid, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Waqid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya menceritakan dari Ibnu Umar r.a, dari Abu Bakar r.a. yang mengatakan,
"Ingatlah Muhammad ﷺ terhadap ahli baitnya."

Di dalam kitab sahih disebutkan bahwa Abu Bakar As-Siddiq r.a. pernah berkata kepada Ali r.a,
"Demi Allah, sesungguhnya hubungan kerabat dengan Rasulullah ﷺ lebih aku sukai daripada aku menghubungkan persaudaraan dengan kerabatku sendiri."

Umar ibnul Khattab pernah berkata kepada Al-Abbas r.a,
"Demi Allah, sesungguhnya keislamanmu di hari engkau masuk Islam lebih aku sukai ketimbang keislaman Al-Khattab seandainya dia masuk Islam.
Karena sesungguhnya keislamanmu lebih disukai oleh rasulullah ﷺ daripada keislaman Al-Khattab."


Demikianlah sikap kedua Syekh (Abu Bakar dan Umar) dan hal ini merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk meniru jejaknya.
Karena itulah maka keduanya merupakan orang mukmin yang paling utama sesudah para nabi dan para rasul;
semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada keduanya, juga kepada semua sahabat Rasulullah.

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, dari Abu Hayyan At-Taimi;
telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Hayyan yang mengatakan,
"Aku dan Husain ibnu Maisarah serta Umar ibnu Muslim berangkat menuju ke rumah Zaid ibnu Arqam r.a. Dan ketika kami sampai di rumahnya, Husain berkata, ‘Hai Yazid, sesungguhnya engkau telah menjumpai banyak kebaikan.
Engkau telah melihat Rasulullah ﷺ dan mendengar hadis langsung darinya, ikut berperang bersamanya, dan salat bersamanya.
Sesungguhnya engkau, hai Yazid, telah menjumpai kebaikan yang banyak.
Maka ceritakanlah kepada kami sebagian dari apa yang engkau telah dengar dari Rasulullah ﷺ‘ Maka Zaid ibnu Arqam r.a. menjawab, ‘Hai anak saudaraku, sesungguhnya usiaku telah tua dan sudah cukup lama hidup sehingga aku lupa kepada sebagian yang pernah kuhafal dari Rasulullah ﷺ Karena itu, apa yang akan kuceritakan kepadamu, terimalah;
dan yang tidak dapat kuceritakan, janganlah kamu memaksaku untuk menceritakannya’."
Kemudian Zaid ibnu Arqam melanjutkan, bahwa di suatu hari Rasulullah ﷺ bangkit melakukan khotbah di sebuah mata air yang dikenal dengan nama Khum, terletak di antara Mekah dan Madinah.
Pertama beliau mengucapkan hamdalah dan sanjungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, lalu memberikan peringatan dan pelajaran (nasihat).
Setelah itu beliau bersabda:
Ammd ba’du.
Hai manusia, sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia yang hampir kedatangan utusan Tuhanku, lalu aku menyambutnya.
Dan sesungguhnya aku titipkan kepada kalian dua perkara yang berat;
yang pertama ialah Kitabullah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah Kitabullah dan berpegang teguhlah kepadanya.
Nabi ﷺ menganjurkan (mereka) untuk berpegang teguh kepada Kitabullah dan memberikan dorongan (kepada mereka) untuk mengamalkannya, lalu beliau bersabda:
Dan (yang kedua ialah) ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku.
Maka Husain bertanya kepada Zaid ibnu Arqam r.a,
"Hai Zaid, siapakah yang dimaksud dengan ahli baitnya?
Bukankah istri-istri beliau ﷺ termasuk ahli baitnya juga?"
Zaid menjawab,
"Sesungguhnya istri-istri beliau bukan termasuk ahli baitnya, tetapi yang termasuk ahli baitnya adalah orang yang tidak boleh menerima zakat sesudah beliau tiada."
Husain bertanya,
"Siapa sajakah mereka itu?"
Zaid menjawab,
"Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Al-Abbas radiyallahu ‘anhum."
Husain bertanya,
"Apakah mereka semua tidak boleh menerima harta zakat?"
Zaid menjawab,
"Ya."


Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Nasai melalui berbagai jalur dari Yazid ibnu Hibban dengan sanad yang sama.

Abu Isa At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Munzir Al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Atiyyah, dari Abu Sa’id dan Al-A’masy, dari Habib ibnu Abu Sabit, dari Zaid ibnu Arqam r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian sesuatu yang selama kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan sesat sesudahku.
salah satunya lebih besar daripada yang lain, yaitu kitabullah yang merupakan tali yang terjulurkan dari langit ke bumi.
Dan yang lainnya ialah keluargaku, yakni ahli baitku;
keduanya tidak akan terpisahkan sebelum keduanya mendatangi telaga (ku).
Maka perhatikanlah, bagaimanakah kalian menggantikan diriku terhadap keduanya.

Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini secara tunggal, kemudian ia mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib.

Imam Turmuzi mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Abdur Rahman Al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Hasan, dari Ja’far ibnu Muhammad ibnul Hasan, dari ayahnya, dari Jabir, bin Abdullah r.a. yang mengatakan bahwa ia pernah melihat Rasulullah ﷺ dalam hajinya di hari Arafah menunggang unta qaswa-nya seraya berkhotbah, dan ia mendengarnya bersabda:
Hai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian suatu perkara yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan sesat, yaitu kitabullah dan keturunanku, yakni ahli baitku.

Imam Turmuzi mengetengahkan hadis ini secara tunggal pula, lalu ia mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib.


Dalam bab yang sama telah diriwayatkan hal yang semisal dari Abu Zar, Abu Sa’id, Zaid ibnu Arqam, dan Huzaifah ibnu Usaid radiyallahu ‘anhum.


Kemudian Imam Turmuzi mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Daud Sulaiman ibnul Asy’as, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Mu’in, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Yusuf, dari Abdullah ibnu Sulaiman An-Naufali, dari Muhammad ibnu Ali ibnu Abdullah ibnu Abbas, dari ayahnya, dari kakeknya (yakni Abdullah ibnu Abbas r.a.) yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Cintailah Allah subhanahu wa ta’ala karena Dia telah melimpahkan kepada ‘kalian sebagian dari nikmat-nikmat-Nya.
Dan cintailah aku karena cinta kepada Allah, dan cintailah ahli baitku karena cinta kepadaku.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib, sesungguhnya kami mengenalnya hanya melalui jalur ini.


Dan sesungguhnya telah diketengahkan banyak hadis menyangkut hal ini dengan penjabaran yang sudah cukup dan tidak perlu diulangi lagi di sini, yaitu pada tafsir firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
(Al-Ahzab:
33)

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Suwaid ibnu Sa’id telah menceritakan kepada kami Mufaddal ibnu Abdullah, dari Abu Ishaq, dari Hanasy yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Zar r.a. berkata seraya memegang pegangan pintu,
"Hai manusia, barang siapa yang mengenalku, maka sesungguhnya dia mengenalku.
Dan barang siapa yang tidak kenal denganku, maka aku adalah Abu Zar.
Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Sesungguhnya perumpamaan ahli baitku di kalangan kalian hanyalah seperti bahtera Nabi NuhBila ditinjau dari segi sanadnya hadis ini daif.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu.
(QS. Asy Shyuura [42]: 23)

Yakni barang siapa yang mengerjakan suatu kebaikan, maka Kami tambahkan baginya dalam kebaikan itu kebaikan lagi, sebagai imbalan dan pahalanya.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang, walaupun sebesar zarrah.
Dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.
(An-Nisa:
40)

Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa sesungguhnya sebagian dari pahala kebaikan ialah kebaikan yang lain sesudahnya, dan sesungguhnya balasan keburukan ialah keburukan lain sesudahnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.
(QS. Asy Shyuura [42]: 23)

Artinya, Dia mengampuni orang yang banyak dosanya dan memperbanyak pahala kebaikan bagi orang yang beramal sedikit.
Maka Dia menutupi, mengampuni, dan melipatgandakannya sebagai tanda terima kasih dari­Nya.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Asy Shyuura (42) Ayat 23

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang agak lemah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum Anshar bermaksud mengumpulkan harta benda untuk Rasulullah ﷺ Maka Allah menurunkan ayat ini (asy-Syuuraa: 23) yang menegaskan bahwa Rasulullah tidak mengharapkan upah sedikitpun atas misi-nya itu, kecuali menumbuhkan kasih sayang dan persaudaraan.

Setelah turun ayat ini, sebagian dari mereka berkata: “Kalau demikian pantaslah ia selalu membela sanak-saudaranya.” Maka Allah menurunkan ayat berikutnya (asy-Syuuraa: 24-25) sebagai bantahan terhadap tuduhan mereka dan anjuran untuk bertobat atas perbuatannya itu.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Asy Shyuura (الشورى)

Surat Asy Syuura terdiri atas 53 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Fushshilat.

Dinamai "Asy Syuura" (musyawarat) diambil dari perkataan "Syuura" yang terdapat pada ayat 38 surat ini.
Dalam ayat tersebut diletakkan salah satu dari dasar-dasar pemerintahan Islam ialah musyawarat.

Dinamai juga "Haa Miim ‘Ain Siin Dalildalil tentang Allah Yang Maha Esa dengan menerangkan kejadian langit dan bumi, turunnya hujan, berlayarnya kapal di lautan dengan aman dan sebagainya.
▪ Allah memberi rezeki kepada hamba-Nya dengan ukuran tertentu sesuai dengan kemaslahatan mereka dan sesuai pula dengan hikmah dan ilmu-Nya.
▪ Allah memberikan anak-anak laki-laki atau anak-anak perempuan atau anak laki-laki dan perempuan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, atau tidak memberi anak seorangpun.
▪ Cara-cara Allah menyampaikan perkataan-Nya kepada manusia.
▪ Pokok pokok agama yang dibawa para rasul adalah sama.

Hukum:

▪ Tidak ada dasar untuk menuntut orang yang mempertahankan diri.

Lain-lain:

▪ Keterangan bagaimana keadaan orang-orang kafir dan keadaan orang-orang mukmin nanti di akhirat.
▪ Memberi ampun lebih baik daripada membalas dan membalas jangan sampai melampaui batas.
▪ Orang-orang kafir mendesak Nabi Muhammad ﷺ supaya hari kiamat disegerakan datangnya.
▪ Kewajiban rasul hanya menyampaikan risalahnya.

Audio

QS. Asy-Shyuura (42) : 1-53 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 53 + Terjemahan Indonesia

QS. Asy-Shyuura (42) : 1-53 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 53

Gambar Kutipan Ayat

Surah Asy Shyuura ayat 23 - Gambar 1 Surah Asy Shyuura ayat 23 - Gambar 2 Surah Asy Shyuura ayat 23 - Gambar 3
Statistik QS. 42:23
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah Asy Shyuura.

Surah Asy-Syura (bahasa Arab:الشورى) adalah surah ke-42 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah makkiyah, terdiri atas 53 ayat.
Dinamakan Asy-Syura yang berarti Musyawarah diambil dari kata Syuura yang terdapat pada ayat 38 pada surah ini.
Dalam ayat tersebut diletakkan salah satu dari dasar-dasar pemerintahan Islam ialah musyawarah.
Surah ini kadang kala disebut juga Ha Mim ‘Ain Sin Qaf karena surah ini dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah itu.

Nomor Surah42
Nama SurahAsy Shyuura
Arabالشورى
ArtiMusyawarah
Nama lainHa Mim Ain Syin Qaf
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu62
JuzJuz 25
Jumlah ruku’5 ruku’
Jumlah ayat53
Jumlah kata860
Jumlah huruf3521
Surah sebelumnyaSurah Fussilat
Surah selanjutnyaSurah Az-Zukhruf
Sending
User Review
4.8 (28 votes)
Tags:

42:23, 42 23, 42-23, Surah Asy Shyuura 23, Tafsir surat AsyShyuura 23, Quran Asy Syura 23, Asy-Syura 23, Surah Asy Syura ayat 23

▪ qs 42:23
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 19 [QS. 16:19]

Dan tidak saja Mahakuasa dan Maha Pencipta, ketahuilah wahai manusia bahwa Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan sembunyikan dalam hatimu, dan Dia mengetahui pula apa yang kamu lahirkan dan ny … 16:19, 16 19, 16-19, Surah An Nahl 19, Tafsir surat AnNahl 19, Quran An-Nahl 19, Surah An Nahl ayat 19

QS. Yaa Siin (Yaasiin) – surah 36 ayat 43 [QS. 36:43]

43. Dan ingatlah, jika Kami menghendaki mereka tidak selamat dalam pelayaran laut itu, Kami tenggelamkan mereka ke laut dengan datangnya badai atau rusaknya bahtera. Maka ketika itu tidak ada seorang … 36:43, 36 43, 36-43, Surah Yaa Siin 43, Tafsir surat YaaSiin 43, Quran Yasin 43, Surah Yasin ayat 43

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا
Arti dari kalimat di atas adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا

'Hampir-hampir kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran'
--HR. Imam al-Baihaqi dalam kitab 'Syu’abul Iman' (no. 6612). Hadits ini adalah hadits yang lemah.

Siapakah ilmuan muslim yang pertama menjadi penemu Al-Jabar?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī adalah seorang ahli dalam bidang matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di Khwārizm dan wafat sekitar tahun 850 di Baghdad.

Di bawah ini adalah cara untuk menjadikan semangat mengamalkan ilmu dalam kehidupan kecuali ...

Benar! Kurang tepat!

+

Yang diajarkan oleh Rasulullah adalah jika kita melihat kemungkaran untuk mencegahnya pertama kali dengan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Dalam hadits shahih disebutkan.

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya jika tidak bisa maka dengan lisannya, jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.'
[HR. Muslim dalam Al-Iman (49)]

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
Arti dari hadist diatas adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Rasulullah Shallalhu'alaihi wa sallam bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

'Sampaikanlah dariku, meskipun satu ayat.'
(HR. Bukhari no. 3461)

Pendidikan Agama Islam #30
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #30 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #30 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #13

Apa nama peperangan pertama yang berlaku dalam sejarah Islam? Perang Salib Badar Hunain Uhud Khandaq Benar! Kurang tepat! Penjelasan:Pertempuran Badar

Pendidikan Agama Islam #19

Surah yang menjelaskan bahwa “Allah Subhanahu Wa Ta`ala tempat meminta”, yaitu … an-Nash al-Ikhlas al-Fatihah al-Qadr al-Alaq Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #26

Surah yang terpanjang dalam Alquran adalah … Yasin Al-Maidah An-Nisa’ Al-Baqarah Ali Imran Benar! Kurang tepat! Penjelasan:Surah Al-Baqarah adalah surah

Instagram