QS. Asy Shyuura (Musyawarah) – surah 42 ayat 23 [QS. 42:23]

ذٰلِکَ الَّذِیۡ یُبَشِّرُ اللّٰہُ عِبَادَہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ؕ قُلۡ لَّاۤ اَسۡـَٔلُکُمۡ عَلَیۡہِ اَجۡرًا اِلَّا الۡمَوَدَّۃَ فِی الۡقُرۡبٰی ؕ وَ مَنۡ یَّقۡتَرِفۡ حَسَنَۃً نَّزِدۡ لَہٗ فِیۡہَا حُسۡنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ شَکُوۡرٌ
Dzalikal-ladzii yubasy-syirullahu ‘ibaadahul-ladziina aamanuu wa’amiluush-shaalihaati qul laa asalukum ‘alaihi ajran ilaal mawaddata fiil qurba waman yaqtarif hasanatan nazid lahu fiihaa husnan innallaha ghafuurun syakuurun;

Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh.
Katakanlah:
“Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”.
Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.
―QS. 42:23
Topik ▪ Iman ▪ Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin ▪ Bersandar kepada Allah
42:23, 42 23, 42-23, Asy Shyuura 23, AsyShyuura 23, Asy Syura 23, Asy-Syura 23

Tafsir surah Asy Shyuura (42) ayat 23

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Asy Shyuura (42) : 23. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa apa yang telah diberitakan mengenai pemberian karunia dan kesenangan serta kemuliaan di akhirat bagi hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh adalah satu berita gembira yang disampaikan di dunia agar hal itu jelas bagi mereka.
Hal ini pasti menjadi kenyataan.
Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh Muhammad ﷺ menyampaikan kepada kaumnya bahwa di dalam menjalankan tugas menyeru dan menyampaikan agama yang benar, ia tidak meminta balasan suatu apapun, tetapi ia hanya mengharapkan kasih sayang kaum Muslimin terhadap dirinya, dan kerabatnya dan kaum Muslimin.

Diriwayatkan oleh Ibnu `Abbas sebagai berikut: “Berkata orang-orang Ansar, Kami telah lakukan ini dan itu, seakan-akan mereka itu membanggakan perbuatan mereka.
Berkata Ibnu `Abbas: “Kami telah berbuat lebih daripada itu”.
Hal bangga membanggakan itu sampai kepada Rasulullah ﷺ lalu beliau mendatangi mereka dan berkata: “Wahai orang-orang Ansar! Apakah engkau tidak pernah hina, lalu Allah memuliakanmu?
Mereka hanya menjawab: “Benar ya Rasulullah” (kenapa kamu tidak menjawab lebih banyak lagi), lalu mereka berkata: “Apa yang akan kami lakukan?
Kata beliau, Kenapa tidak kamu katakan, apakah tidak pernah engkau diusir oleh kaummu dan kamilah yang menampungmu?
Apakah tidak pernah engkau didustakan oleh kaummu dan kamilah yang membenarkan?
Apakah tidak pernah engkau dibiarkan begitu saja dan kamilah yang menolongmu?
Demikianlah beliau berkata terus hingga membungkuk ke lututnya sampai mereka berkata: “Harta kami dan segala apa yang ada pada kami adalah kepunyaan Allah dan Rasul-Nya”.
Lalu turunlah ayat ini.

Barang siapa berbuat baik, taat, dan patuh kepada perintah Allah dan Rasul Nya, Allah akan melipat gandakan kebaikan kepadanya.
Satu kebaikan dibalas sekurang-kurangnya dengan sepuluh kebaikan, sampai tujuh ratus kebaikan, bahkan lebih banyak lagi, sebagai rahmat dan karunia dari Allah, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesuguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun hanya sebesar zarah dan jika ada kebaikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi Nya pahala yang besar.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 40)

Selanjutnya ayat 23 ini ditutup dengan satu penjelasan bahwa Allah mengampuni kesalahan bagaimanapun banyaknya dan melipatgandakan pahala amal kebaikan meskipun sedikit, karena Dia adalah Tuhan Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Karunia besar itu sendiri adalah sesuatu yang dijanjikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan taat.
Katakan, wahai Rasul, “Aku tidak mengharapkan imbalan dari penyampaian misi suci ini kecuali agar kalian mencintai Allah dan Rasul-Nya pada saat mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan perbuatan baik.” Barangsiapa yang benar-benar taat, Allah pasti akan melipatgandakan pahalanya.
Allah benar-benar luas ampunan-Nya kepada orang-orang yang berdosa, dan Maha Berterimakasih atas perbuatan baik hamba-hamba-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Itulah karunia yang dengan itu Allah menggembirakan) berasal dari lafal Al-Bisyarah (hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh.

Katakanlah, “Aku tidak meminta kepada kalian atas seruanku ini) atas penyampaian risalah ini (sesuatu upah pun kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan) Istitsna di sini bersifat Munqathi’ maksudnya, tetapi aku meminta kepada kalian hendaknya kalian mencintai kekerabatan denganku yang memang pada kenyataannya telah ada hubungan kerabat antara kalian dan aku.

Karena sesungguhnya bagi Nabi ﷺ mempunyai hubungan kekerabatan dengan setiap puak yang berakar dari kabilah Quraisy.

(Dan siapa yang mengerjakan kebaikan) yakni ketaatan (akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu) yaitu dengan melipatgandakan pahala kebaikannya.

(Sesungguhnya Allah Maha Pengampun) terhadap dosa-dosa (lagi Maha Mensyukuri) bagi orang yang sedikit beramal kebaikan, karenanya Dia melipatgandakan pahalanya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah menceritakan taman-taman surga untuk hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh, lalu Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam firman selanjutnya:

Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh.
(Q.S. Asy Shyuura [42]: 23)

Yakni hal ini pasti diperoleh mereka sebagai berita gembira dari Allah subhanahu wa ta’ala Kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (Q.S. Asy Shyuura [42]: 23)

Katakanlah, hai Muhammad, kepada orang-orang musyrik dari kaum Quraisy, “Aku tidak meminta sesuatu harta pun dari kamu atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian ini sebagai imbalannya yang kamu berikan kepadaku.
Sesungguhnya yang aku minta dari kalian ialah hendaknya kalian menghentikan kejahatan kalian kepadaku, dan kalian biarkan aku menyampaikan risalah-risalah Tuhanku.
Jika kalian tidak mau membantuku, maka janganlah kalian menggangguku, demi hubungan kekeluargaan yang ada antara aku dan kalian.”

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abdul malik ibnu Maisarah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Tawus menceritakan hal berikut dari Ibnu Abbas r.a.
Bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya mengenai makna firman-Nya, “Kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Maka Sa’id ibnu Jubair (yang ada di majelis itu) langsung menjawab, “Keluarga ahli bait Muhammad.” Ibnu Abbas r.a.
berkata, “Engkau tergesa-gesa, sesungguhnya Nabi ﷺ itu tiada suatu puak pun dari kabilah Quraisy melainkan mempunyai hubungan kekerabatan dengan beliau ﷺ Untuk itulah maka beliau ﷺ bersabda, ‘terkecuali bila kalian menghubungkan kekerabatan yang telah ada antara aku dan kalian’.”

Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara munfarid (tunggal).

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini dari Yahya Al-Qattan, dari Syu’bah dengan sanad yang sama.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Amir Asy-Syabi, Ad-Dahhak, Ali ibnu Abu Talhah, Al-Aufi, dan Yusuf ibnu Mahran serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang, dari Ibnu Abbas r.a.
dengan lafaz yang semisal.

Hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid, Ikrimah, Qatadah, As-Saddi, Abu Malik, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam serta lain-lainnya.

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim ibnu Zaid At-Tabrani dan Ja’far Al-Qalansi.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Adam ibnu Abu Iyas, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Khasif, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ berkata kepada mereka (orang-orang musyrik Mekah): Aku tidak meminta kepada kalian atas seruanku ini suatu upah pun kecuali kecintaanmu kepadaku mengingat kekeluargaanku dengan kalian, dan hendaknya kalian pelihara kekeluargaan yang ada antara aku dan kalian ini.

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Hasan ibnu Musa, bahwa telah menceritakan kepada kami Quz’ah (yakni Ibnu Suwaid) dan Ibnu Abu Hatim, dari ayahnya, dari Muslim ibnu Ibrahim, dari Quz’ah ibnu Suwaid, dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas r.a, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda: Aku tidak meminta kepada kalian atas keterangan dan petunjuk yang kusampaikan kepada kalian ini sesuatu upah pun, kecuali ketaatan kalian kepada Allah dan pendekatan diri kalian kepada-Nya dengan cara taat kepada-Nya.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Qatadah, dari Al-Hasan Al-Basri.
Dan hal ini bagaikan pendapat yang kedua seakan-akan disebutkan:

kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.
(Q.S. Asy Shyuura [42]: 23)

Yakni kecuali bila kalian mengerjakan amal ketaatan yang mendekatkan diri kalian kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.

Pendapat yang ketiga ialah seperti apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lain-lainnya melalui riwayat Sa’id ibnu Jubair dengan kesimpulan bahwa makna yang dimaksud yaitu, ‘kecuali bila kalian menunaikan hak kekeluargaan kalian denganku’.
Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa terkecuali kalian berbuat baik kepada kaum kerabat kalian.

As-Saddi telah meriwayatkan dari Abud Dailam yang telah menceritakan bahwa ketika Ali ibnul Husain didatangkan sebagai tawanan dan diberdirikan di atas tangga kota Dimasyq, maka berdirilah seorang lelaki dari kalangan penduduk negeri Syam, lalu berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membunuh dan memberantas kalian serta memotong sumber fitnah (kekacauan).” Maka Ali ibnul Husain bertanya kepada lelaki itu, “Apakah engkau membaca Al-Qur’an?”
Lelaki itu menjawab, “Ya.” Ali ibnul Husain bertanya, “Tidakkah engkau membaca Ali Ha Mim?”
Lelaki itu menjawab, “Aku telah membaca seluruh Al-Qur’an, tetapi belum pernah menemukan yang namanya Ali Ha Mim.” Ali ibnul Husain berkata, bahwa tidakkah engkau pernah membaca firman-Nya: Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (Q.S. Asy Shyuura [42]: 23) Lelaki itu berkata, “Sesungguhnya kamukah yang dimaksud dengan mereka itu (ahlul bait)?”
Ali ibnul Husain menjawab, “Ya.”

Abu Ishaq As-Subai’i mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Amr ibnu Syu’aib tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala,: Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (Q.S. Asy Shyuura [42]: 23) Maka Amr ibnu Syu’aib menjawab, bahwa yang dimaksud adalah kaum kerabat Nabi ﷺ Riwayat ini dan yang sebelumnya kedua-duanya diketengahkan oleh Ibnu Jarir.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Malik ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Abdus Salam, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Abu Ziad, dari Miqsam, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa orang-orang Ansar pernah mengatakan anu dan anu seakan-akan mereka membangga-banggakan dirinya.
Maka Ibnu Abbas atau Al-Abbas —Abdus Salam atau perawi ragu—mengatakan, “Kamilah yang lebih utama daripada kamu.” Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau mendatangi majelis mereka, lalu bersabda, “Hai orang-orang Ansar, bukankah dahulu kalian dalam keadaan hina, lalu Allah memuliakan kalian melaluiku?”
Mereka menjawab, “Memang benar, ya Rasulullah.” Beliau ﷺ bertanya, “Bukankah dahulu kamu dalam keadaan sesat, lalu Allah memberimu petunjuk melaluiku?”
Mereka menjawab, “Benar, ya Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Mengapa kamu tidak menjawabku?”Mereka balik bertanya, “Apakah yang harus kami katakan, ya Rasulullah?”
Rasulullah ﷺ bersabda: Tidakkah kamu katakan bahwa bukankah kaummu telah mengusirmu, lalu kami memberimu tempat tinggal.
Bukankah mereka mendustakanmu, lalu kami membenarkanmu.
Dan bukankah mereka menghinamu, lalu kami menolongmu?
Rasulullah ﷺ terus-menerus mengatakan hal itu sehingga mereka terduduk di atas lutut mereka (merendahkan diri) dan mereka mengatakan, “Semua harta yang ada pada tangan kami untuk Allah dan Rasul-Nya.” Lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Katakanlah,- “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (Q.S. Asy Shyuura [42]: 23)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari Ali ibnul Husain, dari Abdul Mu’min ibnu Ali, dari Abdus Salam, dari Yazid ibnu Abu Ziad, tetapi ini daif, dengan sanad yang semisal atau mendekatinya.

Di dalam kitab Sahihain, dalam Bab “Pembagian Ganimah Hunain” disebutkan hal yang semisal dengan konteks ini, tetapi tidak disebutkan turunnya ayat terebut.
Mengenai penyebutan turunnya ayat ini di Madinah masih diragukan kebenarannya, mengingat suratnya adalah Makkiyyah.
Dan tidak ada kaitan yang jelas antara ayat dan riwayat ini; hanya Allah­lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami seorang lelaki yang senama dengannya (yakni Ali), telah menceritakan kepada kami Husain Al-Asyqar, dari Qais, dari Al-A’masy, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan, bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala: Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (Q.S. Asy Shyuura [42]: 23) Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka yang diperintahkan oleh Allah agar kita mencintainya?”
Beliau ﷺ bersabda, “Fatimah dan anaknya.”

Sanad hadis ini daif, karena didalamnya terdapat seseorang yang tidak dikenal yang menerima hadis ini dari seorang guru beraliran Syi’ah yang ekstrim.
Dia adalah Husain Al-Asyqar yang beritanya tidak dapat diterima dalam masalah ini.
Dan penyebutan mengenai turunnya ayat di Madinah jauh dari kebenaran, karena sesungguhnya ayat ini Makkiyyah, dan pada saat itu Fatimah r.a.
belum mempunyai anak sama sekali.
Mengingat sesungguhnya Fatimah r.a.
baru menikah dengan sahabat Ali r.a.
hanya setelah Perang Badar, yaitu di tahun kedua Hijrah.

Pendapat yang benar sehubungan dengan tafsir ayat ini adalah apa yang telah diketengahkan oleh ulama umat ini juru penafsir Al-Qur’an, yaitu Abdullah ibnu Abbas r.a, seperti yang disebutkan dalam riwayat yang dikemukakan oleh Imam Bukhari darinya.
Dan memang tidak diingkari adanya wasiat (anjuran) serta perintah untuk memperlakukan ahli bait dengan perlakuan yang baik dan menghormati serta memuliakan mereka.
Karena sesungguhnya mereka berasal dari keturunan yang suci dari ahli bait yang paling mulia di muka bumi ini dipandang dari segi keturunan, kedudukan, dan kebanggaannya.
Terlebih lagi bila mereka benar-benar mengikuti sunnah nabi yang sahih, jelas, dan gamblang; seperti yang telah dilakukan oleh para pendahulu mereka, misalnya Al-Abbas dan kedua putranya, Ali dan ahli bait serta keturunannya.
Semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka.

Di dalam hadis sahih telah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ dalam khotbahnya di Gadir Khum (nama sebuah mata air) telah bersabda:

­Sesungguhnya aku menitipkan kepada kalian dua perkara yang berat, yaitu Kitabullah dan keturunanku (ahli baitku), dan sesungguhnya keduanya tidak dapat dipisahkan sebelum keduanya sampai di telaga (ku).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Abu Khalid, dari Yazid ibnu Abu Ziad, dari Abdullah ibnul Haris, dari Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib r.a.
yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Quraisy itu apabila sebagian dari mereka bersua dengan sebagian yang lain, mereka menjumpainya dengan wajah, yang cerah dan baik.
Tetapi bila mereka bersua dengan kami, maka mereka menjumpai kami dengan wajah yang kami tidak kenal (dengan muka tidak sedap).” Maka Nabi ﷺ marah sekali, lalu bersabda: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, iman masih belum meresap ke dalam hati seseorang sebelum dia menyukai kalian karena Allah dan Rasul-Nya.

Yakni sebelum mencintai ahli bait Rasulullah ﷺ demi karena Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Yazid ibnu Abu Ziad, dari Abdullah ibnul Haris, dari Abdul Muttalib ibnu Rabi’ah yang menceritakan bahwa Al-Abbas r.a.
masuk menemui Rasulullah ﷺ, lalu berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar keluar dan kami lihat orang-orang Quraisy sedang berbicara dengan asyik.
Tetapi bila mereka melihat kami, maka mendadak mereka diam.” Maka Rasulullah ﷺ marah dan mengernyitkan dahinya, kemudian bersabda: Demi Allah, iman masih belum meresap ke dalam kalbu seseorang muslim sebelum dia mencintai kamu karena Allah dan karena kekerabatanku.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Khalid, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Waqid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya menceritakan dari Ibnu Umar r.a, dari Abu Bakar r.a.
yang mengatakan, “Ingatlah Muhammad ﷺ terhadap ahli baitnya.”

Di dalam kitab sahih disebutkan bahwa Abu Bakar As-Siddiq r.a.
pernah berkata kepada Ali r.a, “Demi Allah, sesungguhnya hubungan kerabat dengan Rasulullah ﷺ lebih aku sukai daripada aku menghubungkan persaudaraan dengan kerabatku sendiri.”

Umar ibnul Khattab pernah berkata kepada Al-Abbas r.a, “Demi Allah, sesungguhnya keislamanmu di hari engkau masuk Islam lebih aku sukai ketimbang keislaman Al-Khattab seandainya dia masuk Islam.
Karena sesungguhnya keislamanmu lebih disukai oleh rasulullah ﷺ daripada keislaman Al-Khattab.”

Demikianlah sikap kedua Syekh (Abu Bakar dan Umar) dan hal ini merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk meniru jejaknya.
Karena itulah maka keduanya merupakan orang mukmin yang paling utama sesudah para nabi dan para rasul; semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada keduanya, juga kepada semua sahabat Rasulullah.

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, dari Abu Hayyan At-Taimi; telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Hayyan yang mengatakan, “Aku dan Husain ibnu Maisarah serta Umar ibnu Muslim berangkat menuju ke rumah Zaid ibnu Arqam r.a.
Dan ketika kami sampai di rumahnya, Husain berkata, ‘Hai Yazid, sesungguhnya engkau telah menjumpai banyak kebaikan.
Engkau telah melihat Rasulullah ﷺ dan mendengar hadis langsung darinya, ikut berperang bersamanya, dan salat bersamanya.
Sesungguhnya engkau, hai Yazid, telah menjumpai kebaikan yang banyak.
Maka ceritakanlah kepada kami sebagian dari apa yang engkau telah dengar dari Rasulullah ﷺ’ Maka Zaid ibnu Arqam r.a.
menjawab, ‘Hai anak saudaraku, sesungguhnya usiaku telah tua dan sudah cukup lama hidup sehingga aku lupa kepada sebagian yang pernah kuhafal dari Rasulullah ﷺ Karena itu, apa yang akan kuceritakan kepadamu, terimalah; dan yang tidak dapat kuceritakan, janganlah kamu memaksaku untuk menceritakannya’.” Kemudian Zaid ibnu Arqam melanjutkan, bahwa di suatu hari Rasulullah ﷺ bangkit melakukan khotbah di sebuah mata air yang dikenal dengan nama Khum, terletak di antara Mekah dan Madinah.
Pertama beliau mengucapkan hamdalah dan sanjungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, lalu memberikan peringatan dan pelajaran (nasihat).
Setelah itu beliau bersabda: Ammd ba’du.
Hai manusia, sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia yang hampir kedatangan utusan Tuhanku, lalu aku menyambutnya.
Dan sesungguhnya aku titipkan kepada kalian dua perkara yang berat; yang pertama ialah Kitabullah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah Kitabullah dan berpegang teguhlah kepadanya.
Nabi ﷺ menganjurkan (mereka) untuk berpegang teguh kepada Kitabullah dan memberikan dorongan (kepada mereka) untuk mengamalkannya, lalu beliau bersabda: Dan (yang kedua ialah) ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku.
Maka Husain bertanya kepada Zaid ibnu Arqam r.a, “Hai Zaid, siapakah yang dimaksud dengan ahli baitnya?
Bukankah istri-istri beliau ﷺ termasuk ahli baitnya juga?”
Zaid menjawab, “Sesungguhnya istri-istri beliau bukan termasuk ahli baitnya, tetapi yang termasuk ahli baitnya adalah orang yang tidak boleh menerima zakat sesudah beliau tiada.” Husain bertanya, “Siapa sajakah mereka itu?”
Zaid menjawab, “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Al-Abbas radiyallahu ‘anhum.” Husain bertanya, “Apakah mereka semua tidak boleh menerima harta zakat?”
Zaid menjawab, “Ya.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Nasai melalui berbagai jalur dari Yazid ibnu Hibban dengan sanad yang sama.

Abu Isa At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Munzir Al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Atiyyah, dari Abu Sa’id dan Al-A’masy, dari Habib ibnu Abu Sabit, dari Zaid ibnu Arqam r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian sesuatu yang selama kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan sesat sesudahku.
salah satunya lebih besar daripada yang lain, yaitu kitabullah yang merupakan tali yang terjulurkan dari langit ke bumi.
Dan yang lainnya ialah keluargaku, yakni ahli baitku; keduanya tidak akan terpisahkan sebelum keduanya mendatangi telaga (ku).
Maka perhatikanlah, bagaimanakah kalian menggantikan diriku terhadap keduanya.

Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini secara tunggal, kemudian ia mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib.

Imam Turmuzi mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Abdur Rahman Al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Hasan, dari Ja’far ibnu Muhammad ibnul Hasan, dari ayahnya, dari Jabir, bin Abdullah r.a.
yang mengatakan bahwa ia pernah melihat Rasulullah ﷺ dalam hajinya di hari Arafah menunggang unta qaswa-nya seraya berkhotbah, dan ia mendengarnya bersabda: Hai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian suatu perkara yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan sesat, yaitu kitabullah dan keturunanku, yakni ahli baitku.

Imam Turmuzi mengetengahkan hadis ini secara tunggal pula, lalu ia mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib.

Dalam bab yang sama telah diriwayatkan hal yang semisal dari Abu Zar, Abu Sa’id, Zaid ibnu Arqam, dan Huzaifah ibnu Usaid radiyallahu ‘anhum.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Daud Sulaiman ibnul Asy’as, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Mu’in, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Yusuf, dari Abdullah ibnu Sulaiman An-Naufali, dari Muhammad ibnu Ali ibnu Abdullah ibnu Abbas, dari ayahnya, dari kakeknya (yakni Abdullah ibnu Abbas r.a.) yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Cintailah Allah subhanahu wa ta’ala karena Dia telah melimpahkan kepada ‘kalian sebagian dari nikmat-nikmat-Nya.
Dan cintailah aku karena cinta kepada Allah, dan cintailah ahli baitku karena cinta kepadaku.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib, sesungguhnya kami mengenalnya hanya melalui jalur ini.

Dan sesungguhnya telah diketengahkan banyak hadis menyangkut hal ini dengan penjabaran yang sudah cukup dan tidak perlu diulangi lagi di sini, yaitu pada tafsir firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
(Al-Ahzab: 33)

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Suwaid ibnu Sa’id telah menceritakan kepada kami Mufaddal ibnu Abdullah, dari Abu Ishaq, dari Hanasy yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Zar r.a.
berkata seraya memegang pegangan pintu, “Hai manusia, barang siapa yang mengenalku, maka sesungguhnya dia mengenalku.
Dan barang siapa yang tidak kenal denganku, maka aku adalah Abu Zar.
Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya perumpamaan ahli baitku di kalangan kalian hanyalah seperti bahtera Nabi Nuh ‘alaihis salam; barang siapa yang masuk ke dalamnya selamat, dan barang siapa yang tertinggal darinya (tidak masuk) niscaya ia binasa’.”

Bila ditinjau dari segi sanadnya hadis ini daif.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu.
(Q.S. Asy Shyuura [42]: 23)

Yakni barang siapa yang mengerjakan suatu kebaikan, maka Kami tambahkan baginya dalam kebaikan itu kebaikan lagi, sebagai imbalan dan pahalanya.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang, walaupun sebesar zarrah.
Dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.
(An-Nisa: 40)

Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa sesungguhnya sebagian dari pahala kebaikan ialah kebaikan yang lain sesudahnya, dan sesungguhnya balasan keburukan ialah keburukan lain sesudahnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.
(Q.S. Asy Shyuura [42]: 23)

Artinya, Dia mengampuni orang yang banyak dosanya dan memperbanyak pahala kebaikan bagi orang yang beramal sedikit.
Maka Dia menutupi, mengampuni, dan melipatgandakannya sebagai tanda terima kasih dari­Nya.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Asy Shyuura (42) Ayat 23

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang agak lemah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum Anshar bermaksud mengumpulkan harta benda untuk Rasulullah ﷺ Maka Allah menurunkan ayat ini (asy-Syuuraa: 23) yang menegaskan bahwa Rasulullah tidak mengharapkan upah sedikitpun atas misi-nya itu, kecuali menumbuhkan kasih sayang dan persaudaraan.

Setelah turun ayat ini, sebagian dari mereka berkata: “Kalau demikian pantaslah ia selalu membela sanak-saudaranya.” Maka Allah menurunkan ayat berikutnya (asy-Syuuraa: 24-25) sebagai bantahan terhadap tuduhan mereka dan anjuran untuk bertobat atas perbuatannya itu.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Asy Shyuura (الشورى)
Surat Asy Syuura terdiri atas S 3 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Fushshilat.

Dinamai “Asy Syuura” (musyawarat) diambil dari perkataan “Syuura” yang terdapat pada ayat 38 surat ini.
Dalam ayat tersebut diletakkan salah satu dari dasar-dasar pemerintahan Islam ialah musyawarat.

Dinamai juga “Haa Miim ‘Ain Siin Qaaf” karena surat ini dimulai dengan huruf-huruf hijaiy­yah itu.

Keimanan:

Dalil-dalil tentang Allah Yang Maha Esa dengan menerangkan kejadian langit dan bumi, turunnya hujan, berlayarnya kapal di lautan dengan aman dan sebagai­nya
Allah memberi rezki kepada hamba-Nya dengan ukuran tertentu sesuai dengan kemaslahatan mereka dan sesuai pula dengan hikmah dan ilmu-Nya
Allah mem­berikan anak-anak laki-laki atau anak-anak perempuan atau anak laki-laki dan perempuan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, atau tidak memberi anak se­orangpun
cara-cara Allah menyampaikan perkataan-Nya kepada manusia
pokok­ pokok agama yang dibawa para rasul adalah sama.

Hukum:

Tidak ada dasar untuk menuntut orang yang mempertahankan diri.

Lain-lain:

Keterangan bagaimana keadaan orang-orang kafir dan keadaan orang-orang mu’ min nanti di akhirat
memberi ampun lebih baik daripada membalas dan mem­balas jangan sampai melampaui batas
orang-orang kafir mendesak Nabi Muham­ mad ﷺ supaya hari kiamat disegerakan datangnya
kewajiban rasul hanya me­ nyampaikan risalahnya.

Ayat-ayat dalam Surah Asy Shyuura (53 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Asy-Shyuura (42) ayat 23 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Asy-Shyuura (42) ayat 23 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Asy-Shyuura (42) ayat 23 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Asy-Shyuura - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 53 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 42:23
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Asy Shyuura.

Surah Asy-Syura (bahasa Arab:الشورى) adalah surah ke-42 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah makkiyah, terdiri atas 53 ayat.
Dinamakan Asy-Syura yang berarti Musyawarah diambil dari kata Syuura yang terdapat pada ayat 38 pada surah ini.
Dalam ayat tersebut diletakkan salah satu dari dasar-dasar pemerintahan Islam ialah musyawarah.
Surah ini kadang kala disebut juga Ha Mim 'Ain Sin Qaf karena surah ini dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah itu.

Nomor Surah 42
Nama Surah Asy Shyuura
Arab الشورى
Arti Musyawarah
Nama lain Ha Mim Ain Syin Qaf
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 62
Juz Juz 25
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 53
Jumlah kata 860
Jumlah huruf 3521
Surah sebelumnya Surah Fussilat
Surah selanjutnya Surah Az-Zukhruf
4.8
Ratingmu: 4.8 (28 orang)
Sending







Pembahasan ▪ Surah syi syura

Iklan

Video

Tidak ada.


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta