Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ash Shaffaat

Ash Shaffaat (Barisan-barisan) surah 37 ayat 107


وَ فَدَیۡنٰہُ بِذِبۡحٍ عَظِیۡمٍ
Wafadainaahu bidzibhin ‘azhiimin;

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
―QS. 37:107
Topik ▪ Keluasan ilmu Allah
37:107, 37 107, 37-107, Ash Shaffaat 107, AshShaffaat 107, Al-Shaffat 107, AshShaffat 107, Ash Shafat 107, Ash Shaffat 107
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ash Shaffaat (37) : 107. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini ditegaskan bahwa apa yang dialami Ibrahim dan putranya itu merupakan batu ujian yang amat berat.
Memang hak Allah untuk menguji hamba yang dikehendaki-Nya dengan bentuk ujian yang dipilih-Nya berupa beban dan kewajiban yang berat.
Bila ujian itu telah ditetapkan, tidak seorang pun yang dapat menolak dan menghindarinya.
Di balik cobaan-cobaan yang berat itu, tentu terdapat hikmah dan rahasia yang tidak terjangkau oleh pikiran manusia.
Ismail yang semula dijadikan kurban untuk menguji ketaatan Ibrahim, diganti Allah dengan seekor domba besar yang putih bersih dan tidak ada cacatnya.
Peristiwa penyembelihan kambing oleh Nabi Ibrahim ini yang menjadi dasar ibadah kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah, dilanjutkan oleh syariat Nabi Muhammad.
Ibadah kurban ini dilaksanakan pada hari raya haji/raya kurban atau pada hari-hari tasyriq, yakni tiga hari berturut-turut sesudah hari raya kurban, tanggal 11, 12, 13 Zulhijah.
Hewan kurban terdiri dari binatang-binatang ternak seperti unta, sapi, kerbau, dan kambing.
Diisyaratkan binatang kurban itu tidak cacat badannya, tidak sakit, dan cukup umur.
Menyembelih binatang untuk kurban ini hukumnya sunnah muakkadah(sunah yang ditekankan).
Firman Allah:

Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).
(Al-Kautsar: 2)

Dengan disyariatkannya ibadah kurban dalam agama Islam, maka peristiwa Ibrahim menyembelih anaknya akan tetap dikenang selama-lamanya dan diikuti oleh umatnya.
Ibadah kurban juga menyemarakkan agama Islam karena daging-daging kurban itu dibagi-bagikan kepada masyarakat terutama kepada fakir miskin.

Ash Shaffaat (37) ayat 107 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ash Shaffaat (37) ayat 107 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ash Shaffaat (37) ayat 107 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kami menebus anak itu dengan sembelihan yang besar, sebab datangnya atas perintah Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Kami tebus anak itu) maksudnya, anak yang diperintahkan untuk disembelih (Nabi Ismail).
Menurut suatu pendapat bahwa anak yang disembelih itu adalah Nabi Ishak (dengan seekor sembelihan) yakni dengan domba (yang besar) dari surga, yaitu domba yang sama dengan domba yang dijadikan kurban oleh Habil.
Domba itu dibawa oleh malaikat Jibril, lalu Nabi Ibrahim menyembelihnya seraya membaca takbir.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
(Ash Shaaffat:107)

Sufyan As- Sauri telah meriwayatkan dari Jabir Al-Ju'fi, dari Abut Tufail dari Ali r.a.
sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
(Ash Shaaffat:107) Yakni dengan kambing gibasy yang berbulu putih, gemuk, lagi bertanduk yang telah diikat di pohon samurah.
Abut Tufail mengatakan bahwa mereka (berdua) menemukannya dalam keadaan telah terikat di pohon samurah yang ada di Bukit Sabir.

As-Sauri telah meriwayatkan pula dari Abdullah ibnu Usman ibnu Khasyam, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa kambing gibasy itu telah digembalakan di surga selama empat puluh tahun.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Ya'qub As-Saffar, telah menceritakan kepada kami Daud Al-Attar, dari Ibnu Khasyam' dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa batu besar yang ada di Mina di lereng Bukit Sabir adalah batu tempat Nabi Ibrahim menyembelih tebusan anaknya Ishaq.
Kambing gibasy yang gemuk lagi bertanduk turun dari Bukit Sabir menuju ke tempat Nabi Ibrahim seraya mengembik, lalu Nabi Ibrahim menyembelihnya.
Kambing itu juga yang dipakai kurban oleh anak Adam, lalu diterima, dan kambing itu disimpan hingga dijadikan tebusan untuk Ishaq.

Telah diriwayatkan pula dari Sa'id ibnu Jubair yang mengatakan bahwa kambing gibasy itu hidup bebas di dalam surga hingga dikeluarkan dari Bukit Sabir, dan pada leher kambing itu terdapat bulu yang berwarna merah.

Disebutkan dari Al-Hasan Al-Basri, bahwa nama kambing gibasy yang dijadikan kurban oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam adalah Jarir.

Ibnu Juraij mengatakan bahwa menurut Ubaid ibnu Umair, Nabi Ibrahim menyembelihnya di maqam Ibrahim.

Menurut Mujahid, Nabi Ibrahim menyembelihnya di Mina di tempat penyembelihan kurban sekarang.

Hasyim telah meriwayatkan dari Sayyar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a., bahwa Ibnu Abbas pernah memberikan fatwa kepada orang yang bernazar akan menyembelih dirinya, lalu Ibnu Abbas memerintahkan kepadanya agar menggantinya dengan menyembelih seratus ekor unta.
Sesudah itu ia berkata bahwa seandainya dia memberikan fatwa kepadanya agar menyembelih seekor kambing gibasy, tentulah hal itu sudah mencukupi baginya.
Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman di dalam Kitab-Nya: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
(Ash Shaaffat:107)

Menurut pendapat yang sahih, tebusan tersebut berupa seekor kambing gibasy.

As-Sauri telah meriwayatkan dari seorang lelaki, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
(Ash Shaaffat:107) Ibnu Abbas mengatakan bahwa sembelihan itu adalah seekor kambing gunung.

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Amr ibnu Ubaid, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa tidaklah Ismail 'alaihis salam ditebus melainkan dengan seekor kambing gunung dari Aura yang diturunkan untuk Ibrahim dari Bukit Sabir.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepadaku Mansur, dari pamannya (yaitu Musafi' dan Safiyyah binti Syaibah) yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya seorang wanita dari Bani Salim yang telah melahirkan sebagian besar penduduk perkampungan kami, bahwa Rasulullah ﷺ mengirimkan utusan kepada Usman ibnu Abu Talhah r.a.
(pemegang kunci Ka'bah).
Wanita itu pernah bertanya kepada Usman, "Mengapa Nabi ﷺ memanggilmu ?"
Maka Usman menjawab, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: Sesungguhnya aku melihat sepasang tanduk saat memasuki Ka'bah, dan aku lupa untuk memerintahkan kepadamu agar menutupinya dengan kain.
Karena itu, tutupilah sepasang tanduk itu dengan kain, sebab tidak patut bila di dalam Ka'bah terdapat sesuatu yang mengganggu kekhusyukan orang yang salat (di dalamnya).

Sufyan mengatakan bahwa kedua tanduk itu masih tetap tergantung di dalam Ka'bah hingga Ka'bah mengalami kebakaran dan keduanya ikut terbakar.

Hal ini merupakan bukti tersendiri yang menunjukkan bahwa anak yang disembelih itu adalah Nabi Ismail 'alaihis salam Karena sesungguhnya orang-orang Quraisy menerimanya secara turun-temurun dari para pendahulu mereka generasi demi generasi, sampai Allah mengutus Rasul­Nya.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Berikut ini sebuah pasal yang mengemukakan asar-asar yang ditemukan dari ulama Salaf tentang siapakah sebenarnya anak yang disembelih itu.

Berikut ini dikemukakan pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq 'alaihis salam

Hamzah Az-Zayyat telah meriwayatkan dari Abu Maisarah rahimahullah yang mengatakan, bahwa Nabi Yusuf 'alaihis salam pernah mengatakan kepada raja dalam alasannya, "Apakah engkau menginginkan makan bersama denganku, sedangkan aku adalah Yusuf ibnu Ya'qub nabiyyullah ibnu Ishaq sembelihan Allah ibnu Ibrahim kekasih Allah."

As-Sauri telah meriwayatkan dari Abu Sinan, dari Ibnu Abul Huzail bahwa Yusuf mengatakan hal yang sama kepada raja.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, dari Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair, dari ayahnya yang mengatakan, bahwa Musa 'alaihis salam pernah mengatakan dalam doanya, "Ya Tuhanku, mereka selalu mengatakan demi Tuhannya Nabi Ibrahim, Ishaq, dan Yaqub.
Mengapa mereka selalu mengatakan hal tersebut?"
Allah subhanahu wa ta'ala menjawab "Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang tidak membandingkan sesuatu dengan-Ku, melainkan dia pasti memilih-Ku.
Dan sesungguhnya Ishaq telah rela demi Aku untuk disembelih, selain itu dia adalah seorang yang lebih dermawan.
Dan sesungguhnya Ya'qub itu manakala Kutambahkan kepadanya cobaan, maka makin bertambah pulalah baik prasangkanya kepada-Ku."

Syu'bah telah meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwas yang telah menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki membanggakan dirinya dihadapan Ibnu Mas'ud r.a.
Lelaki itu berkata, "Aku adalah Fulan bin Fulan bin para tetua yang terhormat." Maka Abdullah ibnu Mas'ud r.a.
berkata bahwa orang yang patut mengatakan demikian adalah Yusuf ibnu Ya'qub ibnu Ishaq Zabihullah (sembelihan Allah) ibnu Ibrahim kekasih Allah.

Riwayat ini sahih bersumber dari Ibnu Ma'sud r.a.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a., bahwa dia adalah Ishaq.
Juga telah diriwayatkan dari Al-Abbas dan Ali ibnu Abu Talib hal yang semisal.
Telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Ishaq dan Abdullah ibnu Abu Bakar, dari Az-Zuhri, dari Abu Sufyan, dan Al-Ala ibnu Jariyah dari Abu Hurairah r.a.
dan Ka'bul Ahbar yang telah mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq.

Pendapat-pendapat yang telah disebutkan di atas —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— semuanya bersumber dari Ka'bul Ahbar.
Ketika masuk Islam di masa pemerintahan Khalifah Umar, ia bercerita kepada Umar r.a.
tentang apa yang terkandung di dalam kitab-kitab terdahulunya.
Dan barangkali Umar r.a.
sendiri mau mendengarkannya sehingga orang-orang pun mau mendengarkan apa yang ada pada Ka'bul Ahbar, bahkan menukil darinya segala sesuatu yang ada padanya, baik yang telah dipalsukan maupun yang masih asli.

Akan tetapi, bagi umat ini —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— tidak memerlukan suatu huruf pun dari apa yang ada pada Ka'bul Ahbar itu.
Al-Bagawi telah meriwayatkan suatu pendapat yang mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq, yang menurutnya bersumber dari Umar, Ali, Ibnu Mas'ud, dan Al-Abbas r.a., sedangkan dari kalangan tabi'in bersumber dari Ka'bul Ahbar, Sa'id ibnu Jubair.
Qatadah, Masruq, Ikrimah, Ata.
Muqatil.
Az-Zuhri, dan As-Saddi.
Al-Bagawi mengatakan bahwa hal ini dikatakan oleh salah satu di antara dua riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a.
Dan telah disebutkan mengenai masalah ini dalam sebuah hadis yang seandainya hadis tersebut terbukti kesahihannya, tentulah kita mau mengatakannya dengan penuh kepercayaan, tetapi sayangnya sanad hadis tersebut tidak sahih.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnu Habbab, dari Al-Hasan ibnu Dinar, dari Ali ibnu Zaid ibnu Jad'an, dari Al-Hasan, dari Al-Ahnaf ibnu Qais, dari Al-Abbas ibnu Abdul Muttalib r.a., dari Nabi ﷺ dalam suatu hadis yang di dalamnya disebutkan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq.

Akan tetapi, di dalam sanad hadis di atas terdapat dua perawi yang daif, yaitu Al-Hasan ibnu Dinar Al-Basri berpredikat matruk, dan Ali ibnu Zaid ibnu Jad'an hadisnya munkar (tidak dapat diterima).

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya dari ayahnya, dari Muslim ibnu Ibrahim, dari Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid ibnu Jad'an dengan sanad yang sama secara marfu'.
Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa Mubarak ibnu Fudalah telah meriwayatkannya dari Al-Hasan, dari Al-Ahnaf, dari Al-Abbas r.a.
Dan sanad riwayat ini lebih sahih ketimbang yang sebelumnya, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Mengenai asar-asar yang menyebutkan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ismail 'alaihis salam, predikatnya sahih dan dapat dijadikan sebagai pegangan.

Di atas telah disebutkan suatu riwayat dari Ibnu Abbas 'alaihis salam yang mengatakan bahwa dia adalah Ishaq 'alaihis salam Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, Sa'id ibnu Jubair, Amir Asy-Sya'bi, Yusuf ibnu Mahran, Mujahid, dan Ata serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
bahwa anak yang disembelih itu adalah Ismail 'alaihis salam

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, .telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Qais, dari Ata ibnu Abu Rabah, dari Ibnu Abbas, bahwa anak yang dikurbankan itu adalah Ismail 'alaihis salam Dan orang-orang Yahudi mengira bahwa dia adalah Ishaq, orang-orang Yahudi itu telah dusta.

Israil telah meriwayatkan dari Saur, dari Mujahid, dari Ibnu Umar r.a.yang telah mengatakan bahwa anak yang disembelih adalah Ismail 'alaihis salam

Ibnu AbuNajih telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa dia adalah Ismail 'alaihis salam Hal yang sama telah dikatakan oleh Yusuf ibnu Mahran.
Asy-Sya'bi mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ismail 'alaihis salam Dan ia pernah melihat sepasang tanduk gibasy itu di dalam Ka'bah.

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Al-Hasan ibnu Dinar dan Amr ibnu Ubaid, dari Al-Hasan Al-Basri, ia tidak pernah meragukan masalah ini bahwa anak yang diperintahkan oleh Allah agar Ibrahim menyembelihnya di antara salah seorang dari kedua anaknya adalah Ismail 'alaihis salam

Ibnu Ishaq mengatakan, ia pernah mendengar Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan bahwa anak yang Ibrahim diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk menyembelihnya di antara kedua putranya adalah Ismail.
Dan sesungguhnya kami benar-benar menjumpai keterangan hal ini di dalam Kitabullah.
Demikian itu ialah bahwa setelah Allah subhanahu wa ta'ala selesai mengutarakan kisah anak yang disembelih di antara kedua anak Ibrahim, lalu ia berfirman: Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.
(Ash Shaaffat:112) Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala: maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub.
(Huud:71)

Yakni dia akan mempunyai anak, dan anaknya itu akan mempunyai anak.
Jadi tidak mungkin Allah memerintahkan kepada Ibrahim agar menyembelih Ishaq, sedangkan Ishaq telah dijanjikan akan mempunyai keturunan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, Dengan demikian, tiada lain putra yang Ibrahim diperintahkan untuk menyembelihnya hanyalah Ismail.
Ibnu Ishaq mengatakan bahwa ia mendengar Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi sering mengatakan hal ini.

Ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Buraidah ibnu Sufyan Al-Aslami, dari Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, bahwa ia pernah menceritakan hal ini kepada Umar ibnu Abdul Aziz yang saat itu menjabat sebagai khalifah karena saat itu Muhammad ibnu Ka'b ada bersamanya di negeri Syam Lalu Umar ibnu Abdul Aziz berkata, "Sesungguhnya berita ini merupakan suatu berita yang belum pernah saya perhatikan, dan sesungguhnya aku hanya berpendapat seperti apa yang engkau katakan.” Selanjutnya Umar ibnu Abdul Aziz memanggil seorang lelaki Yahudi yang ada di negeri Syam yang telah masuk Islam dan berbuat baik dalam Islamnya.
Dahulu lelaki itu termasuk salah seorang dari ulama mereka (Yahudi), Lalu Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz bertanya kepadanya, "Manakah di antara kedua putra Ibrahim yang diperintahkan agar disembelih?"
Saat itu Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi berada di samping Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz.
Lelaki itu menjawab, "Demi Allah, hai Amirul Mu-minin, sesungguhnya orang-orang Yahudi benar-benar mengetahui hal tersebut, tetapi mereka dengki terhadap kalian bangsa Arab bila bapak moyang kalian yang disebutkan dalam perintah Allah dan keutamaan yang dimilikinya saat menghadapi perintah Allah berkat kesabarannya.
Mereka berbalik mengingkari hal tersebut dan menduganya bahwa yang disembelih itu adalah Ishaq, karena Ishaq adalah bapak moyang mereka.
Hanya Allah Yang lebih mengetahui mana yang sebenarnya, yang jelas Ishaq adalah seorang yang taat kepada Allah subhanahu wa ta'ala"

Abdullah putra Imam Ahmad ibnu Hambal rahimahullah mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada ayahnya tentang anak yang disembelih itu, Ismail ataukah Ishaq.
Maka Imam Ahmad menjawab bahwa putra yang disembelih itu adalah Ismail.
Ia menyebutkan hal ini di dalam Kitabuz Zuhud-nya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, ia pernah mendengar ayahnya mengatakan bahwa anak yang disembelih itu yang benar adalah Ismail 'alaihis salam

Telah diriwayatkan dari Ali, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Abut Tufail, Sa'id ibnul Musayyab, Sa'id ibnu Jubair, Al-Hasan, Mujahid, Asy-Sya'bi, Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, dan Abu Ja'far alias Muhammad ibnu Ali serta Abu Saleh, bahwa mereka telah mengatakan anak yang disembelih itu adalah Ismail.

Al-Bagawi di dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa pendapat yang sama dikatakan oleh Abdullah ibnu Umar, Sa'id ibnul Musayyab, As-Saddi, Al-Hasan Al-Basri, Mujahid, Ar-Rabi' ibnu Anas, Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, dan Al-Kalbi, juga menurut suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas, dan pendapat yang sama diriwayatkan pula dari Abu Amr ibnul Ala.

Sehubungan dengan hal ini Ibnu Jarir telah meriwayatkan sebuah hadis yang garib.
Dia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ammar Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ubaid ibnu Abu Karimah, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Abdur Rahim Al-Khaltabi, dari Abdullah ibnu Muhammad Al-Atabi (salah seorang putra Atabah ibnu Abu Sufyan), dari ayahnya, bahwa telah menceritakan kepadanya Abdullah ibnu Sa'id, dari As-Sanabiji yang mengatakan, bahwa ketika kami berada di tempat Mu'awiyah ibnu Abu Sufyan, orang-orang yang hadir membicarakan tentang anak yang disembelih, apakah dia Ismail ataukah Ishaq.
Lalu Mu'awiyah ibnu Abu Sufyan berkata, "Kalian bertanya kepada orang yang tepat."

Mu'awiyah melanjutkan bahwa pada suatu hari ketika kami para sahabat berada di tempat Rasulullah ﷺ, maka beliau kedatangan seorang lelaki yang berkata kepadanya, "Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku sebagian dari apa yang telah diberikan oleh Allah kepadamu sebagai harta fai', wahai putra kedua orang yang disembelih."

Rasulullah ﷺ tersenyum mendengar hal itu.
Lalu ada yang bertanya (kepada Mu'awiyah), "Wahai Amirul Mu-minin, siapakah kedua orang yang disembelih itu?"
Maka Mu'awiyah menjawab, bahwa ketika Abdul Muttalib diperintahkan untuk menggali (ulang) sumur zam-zam, ia bernazar kepada Allah, bahwa jika segala sesuatunya dilancarkan oleh Allah dalam urusannya itu, dia akan menyembelih salah seorang putranya.
Mu'awiyah melanjutkan kisahnya, bahwa ternyata setelah dilakukan undian (di antara anak-anaknya) pilihan jatuh kepada Abdullah (ayahanda Nabi ﷺ).
Tetapi paman-pamannya yang dari pihak ibu melarangnya, dan mereka mengatakan, "Tebuslah anakmu ini dengan seratus ekor unta." Akhirnya Abdul Muttalib menebusnya dengan seratus ekor unta.
Dan orang kedua yang disembelih adalah Ismail 'alaihis salam

Hadis ini garib sekali, dan Al-Umawi telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab Magazi-nya, telah menceritakan kepada kami sebagian dari teman-teman kami, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ubaid ibnu Abu Karimah, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abdur Rahman Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Muhammad Al-Atabi (salah seorang anak Atabah ibnu Abu Sufyan), telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami As-Sanabiji, bahwa ia pernah menghadiri Majelis Mu'awiyah r.a.
Lalu kaum yang hadir membicarakan tentang Ismail ataukah Ishaq anak yang disembelih itu, kemudian disebutkan hal yang semisal.
Demikianlah yang saya tulis dari kitab salinan yang kacau.

Dan sesungguh­nya Ibnu Jarir melakukan suatu kekeliruan dengan memilih pendapat yang mengatakan Zabih adalah Ishaq terhadap firman Allah subhanahu wa ta'ala: Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
(Ash Shaaffat:101).
Ia menakwilkan bahwa kabar gembira ini adalah yang menyangkut kelahiran Ishaq, padahal yang sebenarnya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala: dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq).
(Az-Zariyat: 28)

Dan ia menjawab tentang berita gembira akan kelahiran Ya'qub dari Ishaq, bahwa hal itu terjadi setelah dia sampai pada usia sanggup berusaha (bekerja).
Dan merupakan suatu hal yang tidak mustahil bila Ishaq mempunyai anak lain selain Ya'qub.
Ibnu Jarir mengatakan, 'Adapun mengenai sepasang tanduk yang digantungkan di Ka'bah, bisa saja keduanya (Ibrahim dan Ishaq) memindahkannya dari negeri Kan'an (ke Mekah).'" Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa di antara ulama ada yang berpendapat bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq, dan penyembelihannya dilakukan di Kan'an.
'

Apa yang dijadikan pegangan oleh Ibnu Jarir di dalam kitab tafsirnya ini bukan merupakan suatu pendapat yang benar, bukan pula merupakan hal yang pasti.
Bahkan jauh sekali dari kebenaran, mengingat apa yang telah disimpulkan oleh Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi yang mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ismail, merupakan pendapat yang lebih kuat dan lebih sahih serta lebih terbukti kebenarannya, hanya Allah jualah Yang Maha Mengetahui.

Kata Pilihan Dalam Surah Ash Shaffaat (37) Ayat 107

DZIBH
ذِبْح

Lafaz ini ism bagi sesuatu berasal dari kata dzabaha - yadzbahu yang berarti menyembelih. Dzabaha sadiqahu bermakna dia memuji temannya. Oleh karena itu, dalam perumpamaan, al madz adz dzabh yang bermakna "pujian adalah penyembelihan"

Dalam Kamus Al Munjid, adz dzibh adalah sesuatu yang disembelih ataupun al qatil bermakna yang dibunuh.

Makna adz dzibh, adz dzabih atau adz dzaabihah adalah sinonim yaitu hewan yang disembelih.

Adz dzibhah, adz dzubahah, adz dzibahah, adz dzubhaah, adz dzibah, adz dzubbah dan adz dzubah dalam ilmu kedokteran bermakna kesakitan di leher seperti ia menyembelih.

Lafaz adz dzibh disebut sekali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Ash Saffaat (37), ayat 107.
Allah berfirman:

وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Terdapat beberapa pendapat mengenai makna adz dzibh yaitu:

1. Imam Ali, Ibn Abbas, Mujahid, Ibn Zayd, Ad Dahhak berpendapat, makna adz dzibh adalah al kibasy yaitu biri-biri jantan.

Dalam Kamus Dewan ditulis dengan kibas, yaitu kambing biri-biri di negeri Arab.

Menurut riwayat Imam Ali ia berwarna putih, tanduknya terikat di sebuah pohon Samurah di salah satu Bukit Thabiir.

2. Berdasarkan riwayat Ibn Abbas, biri­-biri itu adalah biri-biri yang dijadikan kurban oleh anak Adam sebagai tanda ketaatan dan diterima oleh Allah."

Sa'id bin Jubair meriwayatkan biri-biri itu di­ pelihara selama 40 di dalam syurga, ber­warna putih yang bercampur dengan hitam dan bulunya seperti bulu keledai.

Hasan Al Basri meriwatkan nama biri­ biri Nabi Ibrahim adalah Jurair.

3. Salah satu pendapat Mujahid, adz dzibh adalah syaah yaitu kambing.

4. Diriwayatkan oleh Abu Salih dari Ibn Abbas, adz dzibh adalah kambing hutan atau wa'il.

Ibn Katsir berkata,
kesimpulannya mayoritas ulama men­afsirkan lafaz dzibh ialah kibasy atau biri-biri.

Sedangkan sifatnya menurut Ibn Jarir adalah umum dan Allah tidak mengkhususkan sifatnya.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:242-243

Informasi Surah Ash Shaffaat (الصافات)
Surat Ash Shaaffaat terdiri atas 182 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah diturunkan se­ sudah surat Al An'aam.

Dinamai dengan "Ash Shaaffaat" (yang bershaf-shaf) ada hubungannya dengan perkataan "AshShaaffaat" yang terletak pada ayat permulaan surat ini yang mengemukakan bagaimana para malaikat yang berbaris di hadapan Tuhannya yang bersih jiwanya, tidak dapat digoda oleh syai­tan.
Hal ini hendaklah menjadi i'tibar bagi manusia dalarn menghambakan dirinya kepada Allah.

Keimanan:

Dalil-dalil tentang ke-Esaan Allah
adanya hari berbangkit
adanya padang mahsyar dan adanya hari kiamat
malaikat-malaikat selalu bertasbih kepada Allah.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Nuh a.s.
kisah Ibrahim a.s.
kisah Ismail a.s.
kisah Musa a.s. dan Harun a.s.
kisah Dyas a.s.
kisah Luth a.s.
kisah Yunus a.s.

Lain-lain:

Sikap orang-orang kafir terhadap Al Qur'an
tuduh menuduh antara orang-orang kafir dengan pengikut-pengikutnya di hari Kiamat keni'matan di surga
tentang pohon zaqqum
celaan terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa Allah ber­anak
seorang yang baik belum tentu menurunkan keturunan yang baik pula.


Gambar Kutipan Surah Ash Shaffaat Ayat 107 *beta

Surah Ash Shaffaat Ayat 107



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ash Shaffaat

Surah As-Saffat (bahasa Arab:الصّافات, "Yang Bersaf-Saf") adalah surah ke-37 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 182 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Al-An'am.
Dinamai dengan As-Saffat (Yang Bersaf-Saf) diambil dari kata serupa yang terletak pada ayat permulaan surah ini yang menceritakan bagaimana para malaikat yang bersih jiwanya berbaris di hadapan Tuhannya di mana mereka tidak dapat digoda oleh setan.

Nomor Surah 37
Nama Surah Ash Shaffaat
Arab الصافات
Arti Barisan-barisan
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 56
Juz Juz 23
Jumlah ruku' 5 ruku'
Jumlah ayat 182
Jumlah kata 866
Jumlah huruf 3903
Surah sebelumnya Surah Ya Sin
Surah selanjutnya Surah Sad
4.4
Rating Pembaca: 4.8 (10 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku