QS. Ash Shaffaat (Barisan-barisan) – surah 37 ayat 10 [QS. 37:10]

اِلَّا مَنۡ خَطِفَ الۡخَطۡفَۃَ فَاَتۡبَعَہٗ شِہَابٌ ثَاقِبٌ
Ilaa man khathifal khathfata fa-atba’ahu syihaabun tsaaqibun;

akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan), maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.
―QS. 37:10
Topik ▪ Jin ▪ Pahala jin dan balasannya ▪ Tauhid Rububiyyah
37:10, 37 10, 37-10, Ash Shaffaat 10, AshShaffaat 10, Al-Shaffat 10, AshShaffat 10, Ash Shafat 10, Ash Shaffat 10

Tafsir surah Ash Shaffaat (37) ayat 10

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ash Shaffaat (37) : 10. Oleh Kementrian Agama RI

Akan tetapi, bila ada di antara setan-setan yang sengaja mendengar-dengarkan pembicaraan para malaikat, ia segera diburu dengan suluh api yang menyala-nyala.
Ini menunjukkan betapa terkutuknya setan-setan itu, sehingga mereka merupakan makhluk yang paling dibenci dan diusir di mana-mana.
Oleh sebab itu, manusia tidak patut takluk kepada rayuan dan godaan mereka.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kecuali beberapa di antara mereka yang mencuri pembicaraan tentang berita-berita langit.
Sesungguhnya Kami akan terus mengikutinya dengan suluh api yang menyinari udara untuk kemudian membakarnya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Terkecuali setan yang mencuri-curi -pembicaraan malaikat- dengan sekali curi) lafal Al-Khathfah adalah Mashdar Marrah dan yang diistitsnakan atau yang dikecualikan adalah dhamir yang terkandung di dalam lafal Laa Yasma’uuna.

Maksudnya, tiada yang dapat mendengarkan pembicaraan para malaikat kecuali hanya setan yang dapat mencuri-curinya dengan cepat (maka ia dikejar oleh meteor) yakni bintang yang bercahaya (yang melubanginya) yang menembus tubuh setan-setan itu, atau membakarnya, atau membuatnya cacat.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kecuali setan yang mencuri pendengaran terhadap satu kata yang dia dengar dari langit secara cepat, lalu dia menyampaikannya kepada setan di bawahnya, lalu yang dibawahnya tersebut menyampaikan kepada yang di bawahnya. Dan mungkin dia sudah terkena lemparan bola api sebelum dia menyampaikannya. Dan mungkin pula dia telah berhasil menyampaikannya dengan takdir Allah sebelum dia terkena lemparan bola api yang membakarnya, lalu yang setan yang lain membawanya kepada dukun-dukun dan mereka membuat seratus kedustaan bersamanya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

tetapi barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan).
(Q.S. As-Saffat [37]: 10)

Yaitu kecuali setan-setan yang hendak mencuri-curi dengar dari pembicaraan para malaikat, kemudian setan itu menyampaikannya kepada setan lain yang ada di bawahnya, lalu disampaikan lagi kepada yang di bawahnya lagi, hingga seterusnya.
Dan adakalanya setan yang telah berhasil mencuri dengar itu keburu dihantam oleh bintang yang menyala-nyala sebelum ia sempat menyampaikannya kepada setan yang ada di bawahnya.
Adakalanya dia sempat menyampaikan apa yang telah dicuri dengarnya itu berkat takdir Allah, sebelum ia dikejar oleh bintang yang menyala dan yang membakarnya.
Maka tugasnya dipegang oleh setan lain yang ada di bawahnya hingga sampailah kepada tukang tenung, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis.
Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

tetapi barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan), maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.
(Q.S. As-Saffat [37]: 10)

Makna saqib ialah terang benderang.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Waqi’, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa dahulu setan-setan mempunyai pos-pos pengintaian di langit untuk mencuri-curi dengar wahyu, dan dahulu bintang-bintang tidak beredar dan setan tidak dilempari.
Apabila mereka mendengar wahyu, lalu mereka turun ke bumi dan menambah-nambahinya dengan kedustaan yang banyak.
Ketika Rasulullah ﷺ telah diutus, maka bila setan duduk di posnya di langit, maka ada bintang menyala-nyala yang mengejarnya.
Bintang-bintang itu tidak pernah meleset dan mengenainya serta membakarnya.
Lalu setan-setan melaporkan hal tersebut kepada pemimpin mereka, yaitu iblis la natullah.
Iblis berkata, “Hal itu tidak lain terjadi karena ada suatu peristiwa yang baru terjadi.” Lalu iblis mengirimkan bala tentaranya (untuk menyelidiki hal yang baru itu), maka utusan iblis menjumpai Rasulullah ﷺ sedang berdiri mengerjakan salatnya di antara dua Bukit Nakhlah.
Waki’ mengatakan bahwa, yang dimaksud ialah lembah Nakhlah.
Utusan iblis itu kembali kepada pemimpinnya, lalu menceritakan hal itu kepadanya.
Maka iblis berkata, “Memang orang inilah yang mengubah keadaan.”

Dan nanti insya Allah akan diketengahkan hadis-hadis berikut asar-asar yang berkaitan dengan makna firman-Nya ini, yaitu pada tafsir firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menceritakan perihal jin, bahwa mereka mengatakan:

Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya).
Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk menembaknya).
Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka mengkehendaki kebaikan bagi mereka.
(Q.S. Al-Jinn [72]: 8-10)


Kata Pilihan Dalam Surah Ash Shaffaat (37) Ayat 10

TSAAQIB
لثَّاقِب

Lafaz tsaaqib dalam bentuk ism fa’il berasal dari kata tsaqaba-yatsqubu.

Diceritakan oleh Al Kisa’i, ia berasal dari tsaqabat an naar yang bermakna apabila api menyala.

Zaid bin Aslam berkata,
ats-tsaaqib bermakna yang dinyalakan.

Dalam Kamus Al Mu’jam Al ‘Arabi Al­ Asaasi, ats-tsaaqib bermakna bintang, pen­dapat dan yang menyala. Kata tsaaqib ar ra’y berarti pendapat yang tepat.

Disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Ash­ Shaffaat (37), ayat 10;
-Ath Thaariq (86), ayat 3.

Allah berfirman:

إِلَّا مَنْ خَطِفَ ٱلْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُۥ شِهَابٌ ثَاقِبٌ

Dan Allah berfirman:

ٱلنَّجْمُ ٱلثَّاقِبُ

Al-Yazidi berpendapat, tsaaqib ber­makna mudii’ yaitu yang bersinar atau yang menyala.

Qatadah berpendapat, tsaaqib min naar bermasna sinaran apinya.

Ibn Zaid ber­kata, ats tsaaqib adalah al mustayqid yaitu yang dinyalakan. Seorang lelaki berkata,
atsqib naraka atau istatsqib naraka kedua-duanya bermakna istawqid naraka yaitu nyalakanlah apimu.

Menurut pendapat Hamka, tsaaqib memiliki makna yang menembus, maknanya di alam cakrawala itu ada satu bintang yang meluncur dengan keras dan cepat seperti me­ngetuk pintu yang terkunci sehingga orang yang lelap tidur terbangun dari tidurnya. Sifatnya adalah menembus dan yang di­ tembusinya adalah kegelapan malam. Apabila bintang yang bergerak cepat itu lalu di dalam gelap gelita, tembuslah kegelapan itu dan timbullah cahaya di sekelilingnya.

Kesimpulannya, lafaz tsaaqib memiliki maksna yang menyala atau bersinar. Makna syihaabu tsaaqib dan an najmu tsaaqib yang terdapat pada kedua ayat di atas adalah bintang meteor atau bintang komet yang menyala dan bersinar.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:120-121

Informasi Surah Ash Shaffaat (الصافات)
Surat Ash Shaaffaat terdiri atas 182 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah diturunkan se­ sudah surat Al An’aam.

Dinamai dengan “Ash Shaaffaat” (yang bershaf-shaf) ada hubungannya dengan perkataan “AshShaaffaat” yang terletak pada ayat permulaan surat ini yang mengemukakan bagaimana para malaikat yang berbaris di hadapan Tuhannya yang bersih jiwanya, tidak dapat digoda oleh syai­tan.
Hal ini hendaklah menjadi i’tibar bagi manusia dalarn menghambakan dirinya kepada Allah.

Keimanan:

Dalil-dalil tentang ke-Esaan Allah
adanya hari berbangkit
adanya padang mahsyar dan adanya hari kiamat
malaikat-malaikat selalu bertasbih kepada Allah.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Nuh a.s.
kisah Ibrahim a.s.
kisah Ismail a.s.
kisah Musa a.s. dan Harun a.s.
kisah Dyas a.s.
kisah Luth a.s.
kisah Yunus a.s.

Lain-lain:

Sikap orang-orang kafir terhadap Al Qur’an
tuduh menuduh antara orang-orang kafir dengan pengikut-pengikutnya di hari Kiamat keni’matan di surga
tentang pohon zaqqum
celaan terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa Allah ber­anak
seorang yang baik belum tentu menurunkan keturunan yang baik pula.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ash-Shaffaat (37) ayat 10 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ash-Shaffaat (37) ayat 10 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ash-Shaffaat (37) ayat 10 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ash-Shaffaat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 182 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 37:10
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ash Shaffaat.

Surah As-Saffat (bahasa Arab:الصّافات, "Yang Bersaf-Saf") adalah surah ke-37 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 182 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Al-An'am.
Dinamai dengan As-Saffat (Yang Bersaf-Saf) diambil dari kata serupa yang terletak pada ayat permulaan surah ini yang menceritakan bagaimana para malaikat yang bersih jiwanya berbaris di hadapan Tuhannya di mana mereka tidak dapat digoda oleh setan.

Nomor Surah37
Nama SurahAsh Shaffaat
Arabالصافات
ArtiBarisan-barisan
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu56
JuzJuz 23
Jumlah ruku'5 ruku'
Jumlah ayat182
Jumlah kata866
Jumlah huruf3903
Surah sebelumnyaSurah Ya Sin
Surah selanjutnyaSurah Sad
4.9
Ratingmu: 4.7 (11 orang)
Sending









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di




Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta