QS. Ash Shaff (Satu barisan) – surah 61 ayat 6 [QS. 61:6]

وَ اِذۡ قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اِنِّیۡ رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیَّ مِنَ التَّوۡرٰىۃِ وَ مُبَشِّرًۢا بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ مِنۡۢ بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ اَحۡمَدُ ؕ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ قَالُوۡا ہٰذَا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ
Wa-idz qaala ‘iisaabnu maryama yaa banii israa-iila innii rasuulullahi ilaikum mushaddiqan limaa baina yadai-ya minattauraati wamubasy-syiran birasuulin ya’tii min ba’diiismuhu ahmadu falammaa jaa-ahum bil bai-yinaati qaaluuu hadzaa sihrun mubiinun;

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata:
“Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”.
Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:
“Ini adalah sihir yang nyata”.
―QS. 61:6
Topik ▪ Azab orang kafir
61:6, 61 6, 61-6, Ash Shaff 6, AshShaff 6, AshShaff 6, As-Saff 6, As Saff 6

Tafsir surah Ash Shaff (61) ayat 6

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ash Shaff (61) : 6. Oleh Kementrian Agama RI

Allah memerintahkan Nabi Muhammad menyampaikan kepada kaum Muslimin dan Ahli Kitab, kisah keingkaran kaum Isa ketika ia mengatakan kepada kaumnya bahwa ia adalah rasul Allah yang diutus kepada mereka.
Ia juga membenarkan kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa, demikian pula kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada para nabi sebelumnya.
Ia menyeru kaumnya agar beriman pula kepada rasul yang datang kemudian yang bernama Ahmad (Muhammad ﷺ).
Dalam ayat yang lain ditegaskan pula bahwa berita tentang kedatangan Muhammad sebagai nabi dan rasul Allah terakhir terdapat pula dalam Kitab Taurat dan Injil.
Allah berfirman:

(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka.
(Q.S. Al-A’raf [7]: 157)

Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ bersabda:

Sesungguhnya aku adalah hamba Allah sebagai penutup para nabi.
Sesungguhnya Nabi Adam bagaikan batu permata.
Aku akan mengabarkan kepadamu tentang penakwilan ayat tersebut, yaitu doa bapakku Nabi Ibrahim dan kabar gembira dari Nabi Isa mengenai kedatanganku, dan mimpi yang dilihat oleh ibuku dan sekalian ibu para nabi.
(Riwayat Ahmad dari ‘Irbadh bin Sariyah)

Dalam kitab Taurat banyak disebutkan isyarat-isyarat kedatangan Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir, seperti Kitab Kejadian 21: 13.
“Maka anak sahayamu itu pun akan terjadikan suatu bangsa, karena itu ia dari benihmu.” Maksudnya ialah keturunan Hajar, ibu dari Ismail yang kemudian menjadi orang-orang Arab yang mendiami Semenanjung Arabia.
Waktu Nabi Ibrahim pergi ke Mesir bersama istrinya, Sarah, beliau dianugerahi oleh Raja Mesir seorang hamba sahaya perempuan, yang bernama Hajar, yang kemudian dijadikannya sebagai istri.
Sewaktu Hajar telah melahirkan putranya Ismail, ia diantarkan Ibrahim ke Mekah atas perintah Allah.
Di Mekahlah Ismail menjadi besar dan berketurunan.
Di antara keturunannya itu bernama Muhammad yang kemudian menjadi nabi dan rasul terakhir.

Kitab Kejadian 21: 18 memerintahkan agar Bani Israil mengikuti dan menyokong Nabi Muhammad, yang akan datang kemudian.
“Bangunlah engkau, angkatlah budak itu, sokonglah dia, karena Aku hendak menjadikan dia suatu bangsa yang besar.” Demikian pula dengan Kitab Kejadian 17: 20 menyebutkan: “Maka akan hal Ismail itu pun telah Kululuskan permintaanmu, bahwa sesungguhnya Aku telah memberkati akan dia dan memberikan dia dan memperbanyak dia amat sangat dua belas orang raja-raja akan berpencar daripadanya dan Aku akan menjadikan dia suatu bangsa yang besar.” Kitab Habakuk 3: 3 menyebutkan: “Bahwa Allah datang dari teman dan Yang Mahasuci dari pegunungan Paran-Selah.
Maka kemuliaan-Nya menudungilah segala langit dan bumi pun adalah penuh dengan pujinya.” Di sini diterangkan tentang teman dan orang-orang suci dari pegunungan Paran.
Yang dimaksud dengan teman di sini adalah Nabi Muhammad, dan Paran adalah Mekah.
Demikian pula Nabi Musa dalam Kitab Ulangan 18: 17-22 telah menyatakan kedatangan Nabi Muhammad ﷺ itu: “Maka pada masa itu berfirmanlah Tuhan kepadaku (Musa), “Benarlah kata mereka itu (Bani Israil).” Bahwa Aku (Allah) akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya (yaitu Nabi dan Bani Israil) yang seperti engkau (Nabi Musa) dan aku akan memberi segala firmanku dalam mulutnya dan dia pun akan mengatakan kepadanya segala yang kusuruh akan dia.
Bahwa sesungguhnya barang siapa yang tiada mau dengar segala firman-Ku yang akan dikatakan olehnya dengan nama-Ku, niscaya Aku menuntutnya kelak pada orang itu.
Tetapi adanya Nabi yang melakukan dirinya dengan sombong dan mengatakan firman dengan nama-Ku, yang tiada Ku-suruh katakan, atau yang berkata dengan nama dewa-dewa, niscaya orang Nabi itu akan mati dibunuh hukumnya.
Maka jikalau kiranya kamu berkata dalam hatimu demikian, “Dengan apakah boleh kami ketahui akan perkataan itu bukannya firman Tuhan adanya?”
Bahwa jikalau Nabi itu berkata demi nama Tuhan, lalu barang yang dikatakannya tidak jadi atau tidak datang, yaitu perkataan yang bukan firman Tuhan adanya, maka Nabi itu pun berkata dengan sembarangan, janganlah kamu takut akan dia.” Dalam ayat-ayat Taurat di atas terdapat petunjuk-petunjuk nubuwwah Nabi Muhammad ﷺ sebagai berikut, “Seorang Nabi di antara segala saudaranya.” Hal ini menunjukkan bahwa yang akan menjadi nabi itu akan muncul dari saudara-saudara Bani Israil, tetapi bukan dari Bani Israil sendiri, karena Bani Israil itu keturunan Yakub dan ia adalah anak Ishak.
Sedangkan Ishak adalah saudara Ismail.
Saudara-saudara Bani Israil itu ialah Bani Ismail, dan Nabi Muhammad sudah jelas adalah keturunan Bani Ismail.
Kemudian kalimat “yang seperti engkau” memberi pengertian bahwa nabi yang akan datang itu haruslah seperti Nabi Musa, maksudnya nabi yang membawa agama seperti yang dibawa Nabi Musa.
Seperti dituliskan bahwa Nabi Muhammad itulah satu-satunya nabi yang membawa syariat yang berlaku juga bagi Bani Israil.
Kemudian dikatakan bahwa Nabi itu “tidak sombong”,
“dan tidak akan mati dibunuh.” Muhammad ﷺ seperti dimaklumi bukanlah orang yang sombong, baik sebelum menjadi nabi apalagi setelah menjadi nabi.
Sebelum menjadi nabi, ternyata beliau telah disenangi oleh khalayak umum, dan dipercaya oleh orang-orang Quraisy.
Hal ini terbukti dengan panggilan beliau al-Amin (kepercayaan).
Kalau beliau sombong, tentulah beliau tidak diberi gelar yang sangat terpuji itu dan Nabi Muhammad tidak mati di bunuh.
Umat Nasrani menerapkan kenabian itu kepada Isa, padahal mereka percaya bahwa Isa mati disalib.
Hal ini jelas bertentangan dengan ayat kenabian itu sendiri.
Sebab nabi itu haruslah tidak mati dibunuh (disalib dan sebagainya).
Banyak lagi petunjuk di dalam Taurat yang menerangkan kenabian Muhammad ﷺ seperti yang diberikan Nabi Yesaya 42: 1-2; Nabi Yermin 31: 31-32, Nabi Daniel 2: 38-45; dan masih banyak lagi yang tidak perlu disebutkan di sini.
Demikian pula dalam kitab Injil di mana tentang Muhammad banyak disebut dalam kitab Yahya.
Kemudian diterangkan bahwa nabi dan rasul yang bernama Ahmad itu lahir dengan membawa dalil-dalil yang kuat serta mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah.
Akan tetapi, mereka pun mengingkarinya dan mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang tukang sihir.

Tentang Nabi Muhammad itu disampaikan oleh semua nabi, dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?”
Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, “Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu.”

(Q.S. Ali ‘Imran [3]: 81)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ingatlah ketika ‘Isa putra Maryam berkata, “Wahai Banu Isra’il, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan Tawrat yang telah diturunkan sebelum aku, memberi kabar gembira berupa kedatangan seorang rasul sesudahku yang bernama Ahmad.” Tatkala rasul yang dikabarkannya tadi datang dengan membawa ayat-ayat yang jelas, mereka berkata, “Yang kamu bawa kepada kami ini adalah sihir yang nyata.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah (ketika Isa putra Maryam berkata, “Hai Bani Israel!) di sini Nabi Isa tidak mengatakan hai kaumku, karena sesungguhnya dia tidak mempunyai kerabat di kalangan mereka (Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab sebelumku) kitab yang diturunkan sebelumku (yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan datangnya seorang rasul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad.”) Allah berfirman:

(Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka) yakni Ahmad alias Muhammad kepada orang-orang kafir (dengan membawa bukti-bukti yang nyata) yakni ayat-ayat dan tanda-tanda (mereka berkata, “Ini) maksudnya, apa yang didatangkannya itu (adalah sihir) menurut suatu qiraat lafal sihrun dibaca saahirun artinya orang yang datang ini adalah penyihir (yang nyata”) yang jelas.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (Q.S. Ash-Shaff [61]: 6)

Yakni kitab Taurat telah menyampaikan berita gembira kedatanganku, dan akulah orangnya yang diberitakan oleh Taurat itu, dan aku menyampaikan berita gembira akan kedatangan rasul yang sesudahku, dia adalah Rasul yang Ummy Arabiy Makki bernama Ahmad alias Muhammad.
Isa ‘alaihis salam adalah penutup nabi-nabi Bani Israil, dia berada di tengah-tengah kaum Bani Israil menyampaikan berita gembira akan kedatangan Muhammad, yaitu Ahmad sebagai penutup para nabi dan para rasul.
Tiada rasul dan nabi lagi sesudahnya.
Alangkah baiknya apa yang diketengahkan oleh Imam Bukhari, yaitu bahwa:

telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhri yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Jubair ibnu Mut’im, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya aku mempunyai banyak nama, akulah Muhammad, akulah Ahmad, akulah Penghapus yang melaluiku A llah menghapus kekufuran, dan akulah Penggiring yang semua umat manusia digiring di atas kakiku, dan akulah Penggiring.

Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Az-Zuhri dengan sanad dan lafaz yang semisal.

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Mas’udi, dari Amr ibnu Murrah, dari Abu Ubaidah, dari Abu Musa yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ menyebutkan nama-nama lain bagi dirinya.
Di antaranya ada yang kami hafal, yaitu: Akulah Muhammad, akulah Ahmad, akulah orang yang menggiring, akulah yang diikuti, nabi rahmat, nabi tobat, dan nabi Malhamah (peperangan).

Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Al-A’masy;dari Amr ibnu Murrah dengan sanad yang sama.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummiyang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.
(Q.S. Al-A’raf [7]: 157), hingga akhir ayat.

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.”Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami mengakui.” Allah berfirman, “Kalau begitu, saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 81)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa tidak sekali-kali Allah mengutus seorang nabi melainkan mengambil janji darinya, bahwa sesungguhnya jika Muhammad diutus sedang dia masih hidup, maka dia benar-benar akan mengikutinya.
Dan mengambil janji pula bahwa hendaknya dia mengambil janji dari umatnya, bahwajika Muhammad diutus, sedangkan mereka masih hidup, benar-benar mereka akan mengikutinya dan menolongnya.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Saur ibnu Yazid, dari Khalid ibnu Ma’dan, dari sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ, bahwa mereka pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepada kami tentang dirimu.” Rasulullah ﷺ menjawab: Aku adalah doa ayahku Ibrahim, dan berita gembira yang disampaikan Isa.
Ibuku ketika mengandungku melihat seakan-akan dari tubuhnya keluar nur (cahaya) yang dapat menerangi semua gedung kota Basrah yang ada di negeri Syam.

Sanad hadis ini jayyid (baik), dan telah diriwayatkan pula hal yang sama melalui jalur-jalur lain yang menguatkannya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnuSaleh, dari Sa’id ibnu Suwaid Al-Kalbi, dari Abdul A’la ibnu Hilal As-Sulami, dari Al-Irbad ibnu Sariyah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya aku di sisi Allah (telah tercatat) benar-benar sebagai penutup para nabi, dan sesungguhnya Adam masih benar-benar berupa tanah liatnya (saat itu).
Dan aku akan menceritakan kepada kalian permulaan dari hal tersebut yaitu doa ayahku Ibrahim, berita gembira Isa mengenai kedatanganku, dan mimpi yang dilihat oleh ibuku, dan hal yang sama dialami pula oleh para ibu nabi-nabi lain.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Al-Farj ibnu Fudalah, telah menceritakan kepada kami Luqman ibnu Amir yang mengatakan bahwa aku mendengar Abu Umamah mengatakan bahwa ia pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah mula-mulanya perkaramu?”Nabi ﷺ menjawab: Doa ayahku Ibrahim, berita gembira Isa, dan ibuku melihat dalam mimpinya bahwa keluar dari tubuhnya cahaya yang menerangi gedung-gedung negeri Syam.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, ia pernah mendengar Khadij saudara lelaki Zuhair ibnu Mu’awiyah menceritakan hadis berikut dari Abu Ishaq, dari Abdullah ibnu Atabah, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ mengirimkan kami kepada Raja Najasyi (Negus).
Jumlah kami waktu itu kurang lebih delapan puluh orang, di antaranya Abdullah ibnu Mas’ud, Ja’far, Abdullah ibnu Rawwahah, Usman ibnu Maz’un, dan Abu Musa.
Maka kami datang menghadap kepada Raja Najasyi.

Kemudian orang-orang Quraisy mengirimkan Amr ibnul As dan Imarah ibnul Walid dengan membawa hadiah untuk Raja Najasyi.
Ketika keduanya telah masuk ke istana Raja Najasyi, lalu keduanya bersujud kepadanya dan segera mengambil tempat di sebelah kanan dan sebelah kirinya.
Kemudian keduanya mengatakan kepada Raja Najasyi, “Sesungguhnya ada serombongan orang dari kalangan anak-anak paman kami yang tinggal di negerimu, mereka membenci kami dan juga membenci agama kami.” Raja Najasyi bertanya, “Di manakah mereka?”
Keduanya menjawab, “Mereka telah berada di negerimu, maka undanglah mereka,” lalu Raja Najasyi mengundang mereka.
Ja’far berkata, “Akulah yang akan menjadi juru bicara kalian pada hari ini,” mereka mengikutinya, dan Ja’far hanya mengucapkan salam kepada Raja Najasyi, ia tidak bersujud.
Maka mereka bertanya kepadanya, “Mengapa kamu tidak bersujud kepada sang raja?”
Ja’far menjawab, “Sesungguhnya kami tidak akan sujud selain kepada Allah subhanahu wa ta’ala”

Raja Najasyi bertanya, “Bagaimanakah ajaran agamamu?”
Ja’far menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada kami, maka dia memerintahkan kepada kami untuk tidak bersujud kepada seorang pun kecuali kepada Allah subhanahu wa ta’ala Dan dia memerintahkan kepada kami untuk salat dan menunaikan zakat.” Maka Amr ibnul As berkata, “Sesungguhnya mereka mempunyai pandangan yang berbeda dengan engkau tentang Isa putra Maryam.” Raja Najasyi bertanya, “Bagaimanakah menurut kalian tentang Isa putra Maryam dan ibunya?”
Ja’far menjawab, “Kami akan mengatakan seperti apa yang difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala bahwa dia adalah (yang diciptakan oleh) kalimah Allah (perintah-Nya) dan (dengan tiupan) roh dari-Nya yang disampaikan-Nya kepada seorang perawan yang suci yang belum pernah disentuh oleh seorang manusia pun dan belum pernah beranak.”

Maka Raja Najasyi memungut sebuah kayu dari tanah, kemudian berkata, “Hai orang-orang Habsyah dan para pendeta serta para rahib, demi Allah, apa yang dikatakan oleh mereka tidaklah melampaui apa yang dikatakan oleh kita mengenainya.
Selamat datang untukmu dan orang-orang yang datang bersamamu dari sisinya.
Aku bersaksi bahwa dia (Nabi ﷺ) adalah utusan Allah, dan bahwa dialah orang yang kami jumpai beritanya dalam kitab Injil, dan dialah orangnya yang diberitakan oleh Isa putra Maryam.
Sekarang tinggallah kalian di mana pun kalian sukai di negeri ini.
Demi Allah, seandainya aku bukan dalam keadaan seperti sekarang sebagai raja, niscaya aku akan datang kepadanya dan aku rela menjadi pelayannya yang membawa terompahnya dan mengambilkan air wudunya.”

Kemudian Raja Najasyi memerintahkan agar hadiah yang dibawa oleh kedua utusan Quraisy itu dikembalikan, maka hadiah itu dikembalikan kepada keduanya.
Selanjutnya Ibnu Mas’ud bersegera menyusul Rasulullah ﷺ ke Madinah untuk ikut dalam Perang Badar.
Dan Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Nabi ﷺ memohonkan ampunan bagi Raja Najasyi ketika beliau mendengar berita kewafatannya.

Kisah ini telah diriwayatkan oleh Ja’far r.a.
dan Ummu Salamah r.a., dan pembahasannya didapat di dalam kitab Sirah.
Tujuan pengetengahan kisah ini ialah bahwa para nabi itu terus-menerus menyebutkan sifat Nabi Muhammad ﷺ dan menceritakannya kepada umatnya masing-masing yang dituangkan dalam kitab-kitab mereka, lalu memerintahkan kepada umatnya masing-masing agar mengikutinya, menolongnya, dan mendukungnya jika Nabi Muhammad diutus.
Dan permulaan dari tenarnya hal ini di kalangan penduduk bumi diutarakan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kekasih Allah dan bapak para nabi, ketika ia berdoa untuk penduduk Mekah, bahwasanya semoga Allah mengutus seorang rasul di kalangan mereka dari kalangan mereka sendiri.

Hal yang sama diberitakan pula melalui lisan Isa Putra Maryam.
Untuk itulah ketika para sahabat bertanya, “Ceritakanlah kepada kami permulaan perkaramu, yakni di bumi ini.” Maka Nabi ﷺ menjawab:

Doa ayahku Nabi Ibrahim, dan berita gembira yang disampaikan oleh Isa Putra Maryam, serta mimpi yang pernah dilihat oleh ibuku (saat mengandungku).

Yakni seorang rasul yang akan muncul dari kalangan penduduk Mekah sesudah masa Ibrahim ‘alaihis salam yang kemunculannya diawali dengan tanda-tanda kenabian.
Oleh karena itulah maka Nabi ﷺ menyebutkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.” (Q.S. Ash-Shaff [61]: 6)

Ibnu Juraij dan Ibnu Jarir mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka tatkala datang kepada mereka rasul itu.
(Q.S. Ash-Shaff [61]: 6) Yaitu Ahmad (Muhammad) yang telah diberitakan sejak masa-masa terdahulu dan telah dikenal sebutannya di kalangan umat-umat terdahulu.
Maka ketika dia telah diangkat menjadi rasul dan datang dengan membawa bukti-bukti yang nyata, berkatalah orang-orang kafir dan orang-orang yang menentangnya: Ini adalah sihir yang nyata.
(Q.S. Ash-Shaff [61]: 6)


Informasi Surah Ash Shaff (الصف)
Surat Ash Shaff terdiri atas 14 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Dinamai dengan “Ash Shaff”,
karena pada ayat 4 surat ini terdapat kata “Shaffan” yang berarti “satu barisan”.
Ayat ini menerangkan apayang diridhai Allah sesudah menerangkan apa yang dimurkai-Nya.
Pada ayat 3 diterangkan bahwa Allah murka kepada orang yang hanya pandai berkata saja tetapi tidak melaksanakan apa yang diucapkannya.
Dan pada ayat 4 diterangkan bahwa Allah menyukai orang yang mempraktekkan apa yang diucapkannya yaitu orang-orang yang berperang pada jalan Allah dalam satu barisan.

Keimanan:

Semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya
anjuran berjihad pada jalan Allah
Pengikut-pengikut nabi Musa dan Isa a.s. pernah mengingkari ajaran­ajaran nabi mereka. Demikian pula kaum musyrikin Mekah ingin hendak memadamkan cahaya Allah (agama Islam
Ampunan Allah dan Syurga dapat dicapai dengan iman dan berjuang menegakkan kalimah Allah dengan harta dan jiwa.

Ayat-ayat dalam Surah Ash Shaff (14 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ash-Shaff (61) ayat 6 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ash-Shaff (61) ayat 6 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ash-Shaff (61) ayat 6 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ash-Shaff - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 14 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 61:6
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ash Shaff.

Surah As-Saff (bahasa Arab:الصّفّ, "Barisan") adalah surah ke-61 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 14 ayat.
Dinamakan Ash Shaff, karena pada ayat 4 surat ini terdapat kata Shaffan yang berarti satu barisan.
Ayat ini menerangkan apa yang diridhai Allah sesudah menerangkan apa yang dimurkai-Nya.
Pada ayat 3 diterangkan bahwa Allah murka kepada orang yang hanya pandai berkata saja tetapi tidak melaksanakan apa yang diucapkannya.
Dan pada ayat 4 diterangkan bahwa Allah menyukai orang yang mempraktikkan apa yang diucapkannya yaitu orang-orang yang berperang pada jalan Allah dalam satu barisan.

Nomor Surah 61
Nama Surah Ash Shaff
Arab الصف
Arti Satu barisan
Nama lain Hawariyun, Isa
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 109
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 14
Jumlah kata 226
Jumlah huruf 966
Surah sebelumnya Surah Al-Mumtahanah
Surah selanjutnya Surah Al-Jumu’ah
4.6
Ratingmu: 4.2 (10 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/61-6







Pembahasan ▪ as shaf 6

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta