QS. Ash Shaff (Satu barisan) – surah 61 ayat 3 [QS. 61:3]

کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ
Kabura maqtan ‘indallahi an taquuluu maa laa taf’aluun(a);

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
―QS. 61:3
Topik ▪ Keadilan Allah dalam menghakimi
61:3, 61 3, 61-3, Ash Shaff 3, AshShaff 3, AshShaff 3, As-Saff 3, As Saff 3

Tafsir surah Ash Shaff (61) ayat 3

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ash Shaff (61) : 3. Oleh Kementrian Agama RI

Allah memperingatkan bahwa sangat besar dosanya orang mengatakan sesuatu, tetapi ia sendiri tidak melaksanakannya.
Hal ini berlaku baik dalam pandangan Allah maupun dalam pandangan masyarakat.
Menepati janji merupakan perwujudan iman yang kuat.
Budi pekerti yang agung, dan sikap yang berperikemanusiaan pada seseorang, menimbulkan kepercayaan dan penghormatan masyarakat.
Sebaliknya, perbuatan menyalahi janji tanda iman yang lemah, serta tingkah laku yang jelek dan sikap yang tidak berperikemanusiaan, akan menimbulkan saling mencurigai dan dendam di dalam masyarakat.
Oleh karena itulah, agama Islam sangat mencela orang yang suka berdusta dan menyalahi janjinya.
Agar sifat tercela itu tidak dipunyai oleh orang-orang beriman, alangkah baiknya jika menepati janji dan berkata benar itu dijadikan tujuan pendidikan yang utama yang diajarkan kepada anak-anak di samping beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan melatih diri mengerjakan berbagai bentuk ibadah yang diwajibkan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah sungguh sangat benci kalau kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Amat besar) yakni besar sekali (kebencian) lafal maqtan berfungsi menjadi tamyiz (di sisi Allah bahwa kalian mengatakan) lafal an taquuluu menjadi fa’il dari lafal kabura (apa-apa yang tiada kalian kerjakan).

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Untuk itulah maka Allah mengukuhkan pengingkaran-Nya terhadap sikap mereka yang demikian itu melalui firman berikutnya:

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.
(Q.S. Ash-Shaff [61]: 3)

Imam Ahmad dan Imam Abu Daud telah meriwayatkan melalui Abdullah ibnu Amir ibnu Rabi’ah, yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ datang kepada keluarganya yang saat itu ia masih anak-anak.
Lalu ia pergi untuk bermain-main, tetapi ibunya memanggilnya, “Hai Abdullah, kemarilah, aku akan memberimu sesuatu.” Rasulullah ﷺ bertanya kepada ibunya, “Apakah yang hendak engkau berikan kepadanya?”
Ibunya menjawab, “Kurma,” Rasulullah ﷺ bersabda:

Ketahuilah, sesungguhnya andaikata engkau tidak memberinya, tentulah akan dicatat atas dirimu sebagai suatu kedustaan.

Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa apabila janji itu berkaitan dengan kewajiban terhadap yang dijanjikan, maka sudah menjadi keharusan penunaiannya.
Misalnya ialah seperti seseorang berkata kepada lelaki lain, “Kawinlah kamu, maka aku akan memberikan nafkah sebanyak anu padamu setiap harinya!” Kemudian lelaki yang diperintahnya itu kawin, maka orang yang berjanji demikian kepadanya diwajibkan memberinya apa yang telah ia janjikan kepadanya selama lelaki itu dalam ikatan perkawinannya.
Mengingat masalah ini berkaitan dengan hak Adami dan berlandaskan pada prinsip mudayaqah.

Jumhur ulama berpendapat bahwa masalah tersebut di atas penunaiannya bersifat tidak wajib secara mutlak.
Dan mereka menakwilkan makna ayat dengan pengertian bahwa ayat ini diturunkan ketika mereka mengharapkan jihad difardukan atas diri mereka.
Tetapi setelah jihad diwajibkan atas mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka berpaling darinya, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, “Tahanlah tanganmu (dari berperang), laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat!” Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut dari itu.
Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami?
Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?”
Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.” Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 77-78)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala lainnya yang menyebutkan:

Dan orang-orang yang beriman berkata, “Mengapa tiada diturunkan suatu surat?” Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati.
(Q.S. Muhammad [47]: 20), hingga akhir ayat.
.

Demikian pula artinya ayat ini menurut apa yang diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan.
(Q.S. Ash-Shaff [61]: 2) Dahulu sebelum jihad difardukan, ada segolongan kaum mukmin yang mengatakan bahwa kami sangat menginginkan sekiranya Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan kepada kami amal perbuatan yang paling disukai-Nya, maka kami akan mengerjakannya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan kepada Nabi-Nya, bahwa amal perbuatan yang paling disukai ialah beriman kepada-Nya tanpa keraguan, dan berjihad melawan orang-orang yang mendurhakai-Nya, yaitu mereka yang menentang keimanan dan tidak mau mengakuinya.
Ketika diturunkan perintah berjihad, sebagian dari kaum mukmin tidak senang dengan perintah ini dan terasa berat olehnya.
Untuk itulah maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan?
(Q.S. Ash-Shaff [61]: 2) Demikianlah menurut apa yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa orang-orang mukmin mengatakan, “Seandainya kami mengetahui amal yang paling disukai Allah, tentulah kami akan mengerjakannya.” Maka Allah memberikan petunjuk kepada mereka tentang amal yang paling disukai oleh-Nya melalui firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan­-Nya dalam barisan yang teratur.
(Q.S. Ash-Shaff [61]: 4) Maka Allah menjelaskan kepada mereka amal tersebut, lalu mereka diuji dalam Perang Uhud dengan hal tersebut, dan ternyata pada akhirnya mereka lari ke belakang meninggalkan Nabi ﷺ Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?
(Q.S. Ash-Shaff [61]: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman bahwa orang yang paling Aku sukai di antara kamu adalah orang yang berperang di jalan Allah.

Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan masalah perang; seseorang lelaki mengatakan, “Aku telah berperang,” padahal ia tidak ikut perang, dan ia mengatakan, “Aku telah menusukkan tombakku,” padahal ia tidak menggunakannya.
Dan ia mengatakan, “Aku telah memukulkan pedangku,” padahal ia tidak menggunakannya.
Dan ia mengatakan, “Aku tetap bertahan dalam medan perang,” padahal ia tidak bertahan alias melarikan diri.

Qatadah dan Ad-Dahhak mengatakan, ayat ini diturunkan untuk mencemoohkan suatu kaum yang mengatakan bahwa diri mereka telah berperang, memukulkan pedang mereka dan menusukkan tombak mereka, serta melakukan hal-hal lainnya, padahal kenyataannya mereka tidak melakukan sesuatu pun dari apa yang telah dikatakannya itu.

Ibnu Zaid mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan suatu kaum dari orang-orang munafik.
Mereka menjanjikan kepada kaum muslim bahwa mereka akan membantunya, tetapi ternyata mereka tidak memenuhi apa yang mereka janjikan.

Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?
(Q.S. Ash-Shaff [61]: 2) Bahwa yang dimaksud ialah berjihad.

Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?'(Q.S. Ash-Shaff [61]: 2) sampai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala: seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
(Q.S. Ash-Shaff [61]: 4) Ayat-ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan segolongan orang-orang Ansar yang antara lain ialah Abdullah ibnu Rawwahah.
Mereka mengatakan dalam suatu majelis, “Seandainya kita mengetahui amal yang paling disukai oleh Allah, niscaya kita akan mengerjakannya, hingga kita mati,” maka Allah menurunkan ayat-ayat tersebut berkenaan dengan mereka.
Akhirnya Abdullah ibnu Rawwahah berkata, “Aku akan terus-menerus berjihad di jalan Allah hingga titik darah penghabisan.” Pada akhirnya ia gugur mati syahid dalam medan pertempuran.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Farwah ibnu Abul Migra, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Misar, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Abu Harb ibnu Abul Aswad Ad-Daili, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Abu Musa mengundang ahli qurra kota Basrah, maka datanglah kepadanya sebagian dari mereka sebanyak tiga ratus orang, semuanya hafal Al-Qur’an.
Abu Musa berkata, “Kalian adalah ahli qurra kota Basrah dan orang-orang pilihan mereka.” Dan Abu Musa mengatakan bahwa dahulu kami sering membaca suatu surat yang kami kelompokkan ke dalam surat-surat yang diawali dengan tasbih, lalu kami ditakdirkan lupa ter­hadapnya, hanya aku masih hafal salah satu dari ayatnya yang menyebutkan: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?
(Q.S. Ash-Shaff [61]: 2) Maka dibebankanlah ke atas pundak kalian persaksian dan kelak di hari kiamat kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.


Informasi Surah Ash Shaff (الصف)
Surat Ash Shaff terdiri atas 14 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Dinamai dengan “Ash Shaff”,
karena pada ayat 4 surat ini terdapat kata “Shaffan” yang berarti “satu barisan”.
Ayat ini menerangkan apayang diridhai Allah sesudah menerangkan apa yang dimurkai-Nya.
Pada ayat 3 diterangkan bahwa Allah murka kepada orang yang hanya pandai berkata saja tetapi tidak melaksanakan apa yang diucapkannya.
Dan pada ayat 4 diterangkan bahwa Allah menyukai orang yang mempraktekkan apa yang diucapkannya yaitu orang-orang yang berperang pada jalan Allah dalam satu barisan.

Keimanan:

Semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya
anjuran berjihad pada jalan Allah
Pengikut-pengikut nabi Musa dan Isa a.s. pernah mengingkari ajaran­ajaran nabi mereka. Demikian pula kaum musyrikin Mekah ingin hendak memadamkan cahaya Allah (agama Islam
Ampunan Allah dan Syurga dapat dicapai dengan iman dan berjuang menegakkan kalimah Allah dengan harta dan jiwa.

Ayat-ayat dalam Surah Ash Shaff (14 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ash-Shaff (61) ayat 3 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ash-Shaff (61) ayat 3 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ash-Shaff (61) ayat 3 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ash-Shaff - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 14 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 61:3
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ash Shaff.

Surah As-Saff (bahasa Arab:الصّفّ, "Barisan") adalah surah ke-61 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 14 ayat.
Dinamakan Ash Shaff, karena pada ayat 4 surat ini terdapat kata Shaffan yang berarti satu barisan.
Ayat ini menerangkan apa yang diridhai Allah sesudah menerangkan apa yang dimurkai-Nya.
Pada ayat 3 diterangkan bahwa Allah murka kepada orang yang hanya pandai berkata saja tetapi tidak melaksanakan apa yang diucapkannya.
Dan pada ayat 4 diterangkan bahwa Allah menyukai orang yang mempraktikkan apa yang diucapkannya yaitu orang-orang yang berperang pada jalan Allah dalam satu barisan.

Nomor Surah 61
Nama Surah Ash Shaff
Arab الصف
Arti Satu barisan
Nama lain Hawariyun, Isa
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 109
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 14
Jumlah kata 226
Jumlah huruf 966
Surah sebelumnya Surah Al-Mumtahanah
Surah selanjutnya Surah Al-Jumu’ah
4.9
Ratingmu: 4.7 (21 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/61-3









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta