Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. As Sajdah (Sajdah) – surah 32 ayat 17 [QS. 32:17]

فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ
Falaa ta’lamu nafsun maa ukhfiya lahum min qurrati a’yunin jazaa-an bimaa kaanuu ya’maluun(a);
Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.
―QS. As Sajdah [32]: 17

Daftar isi

And no soul knows what has been hidden for them of comfort for eyes as reward for what they used to do.
― Chapter 32. Surah As Sajdah [verse 17]

فَلَا maka tidak
And not
تَعْلَمُ mengetahui
knows
نَفْسٌ seseorang
a soul
مَّآ apa yang
what
أُخْفِىَ disembunyikan
is hidden
لَهُم untuk mereka
for them
مِّن dari
of
قُرَّةِ menyejukkan
(the) comfort
أَعْيُنٍ pandangan mata
(for) the eyes
جَزَآءًۢ pembalasan
(as) a reward
بِمَا terhadap apa
for what
كَانُوا۟ adalah mereka
they used (to)
يَعْمَلُونَ mereka kerjakan
do.

Tafsir Al-Quran

Surah As Sajdah
32:17

Tafsir QS. As Sajdah (32) : 17. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menerangkan bahwa seseorang tidak dapat mengetahui betapa besar kebahagiaan dan kesenangan yang akan diberikan Allah kepadanya di akhirat nanti, dan betapa enak dan nyamannya tinggal di dalam surga itu.
Semua itu adalah balasan perbuatan baik yang telah dikerjakan selama hidup di dunia.


Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan imam-imam hadis yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:



Allah ﷻ berfirman,
"Aku telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya dan belum pernah tergores di dalam hati manusia, kecuali apa yang telah Aku kemukakan kepadamu.
Bacalah, jika kamu menghendakinya
"Fala talamu nafs .

.
.

sampai akhir."


Diriwayatkan oleh al-Firyabi, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Jarir ath-thabari, ath-thabrani, al-hakim dan dinyatakan sebagai hadis sahih dari Ibnu Mas’ud, ia berkata,
"Sesungguhnya termaktub dalam Taurat bahwa Allah menjanjikan kepada orang-orang yang jauh lambung mereka dari tempat tidurnya, apa yang belum dilihat mata, belum didengar telinga, belum tergores dalam hati manusia.

Malaikat yang dekat kepada Tuhan tidak mengetahuinya demikian pula para rasul yang diutusnya.
Sesungguhnya itu terdapat pula di dalam Alquran, sebagaimana tersebut dalam ayat ini.
"

Tafsir QS. As Sajdah (32) : 17. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Seseorang tidak akan dapat mengetahui banyaknya nikmat besar yang Allah sediakan dan simpan untuk mereka, yang dapat menyedapkan pandangan mereka, sebagai balasan atas ketaatan dan perbuatan yang mereka lakukan.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Jiwa tidak mengetahui apa yang disediakan oleh Allah untuk orang-orang beriman itu, yang menenangkan mereka dan melapangkan dada mereka, sebagai balasan atas amal perbuatan mereka yang shalih.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan) apa yang tersembunyi


(bagi mereka yaitu berupa bermacam-macam nikmat yang menyedapkan pandangan mata) yakni nikmat-nikmat surga yang menyenangkan hati mereka.
Menurut suatu qiraat lafal ukhfiya dibaca ukhfii, artinya apa yang Aku sembunyikan


(sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:



Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikannya untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedap­kan pandangan mata.
(QS. As-Sajdah [32]: 17), hingga akhir ayat.

Al Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abuz Zanad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah r.a. yang telah menceritakan hadis berikut dari Rasulullah ﷺ:
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (dalam hadis Qudsi),
"Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terdelik dalam hati seorang manusia pun."
Abu Hurairah mengatakan,
"Bacalah oleh kalian jika kalian suka firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut, yaitu:
‘Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata.’ (QS. As-Sajdah [32]: 17)

Al Bukhari mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abuz Zanad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah yang menyebutkan hadis yang semisal.


Dan dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa dikatakan kepada Sufyan,
"Nikmat apakah itu?"


Imam Muslim dan Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Kemudian Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Nasr, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Al-A’masy, telah menceritakan kepada kami Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (dalam hadis Qudsi),
"Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh pahala simpanan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terdetik dalam hati seorang manusia pun, karena semua yang pernah diperlihatkan kepada kalian adalah kecil (tiada artinya)."
Kemudian Nabi ﷺ membacakan firman-Nya:
Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk nya, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. As-Sajdah [32]: 17)

Abu Mu’awiyah telah meriwayatkan dari Al-A’masy, dari Abu Saleh, bahwa Abu Hurairah membaca firman-Nya dengan bacaan berikut,
"Qurratu a’yunin (dengan lafaz jamak pada lafaz qurrat), yang artinya berbagai macam nikmat yang menyedapkan pandangan mata.


Ditinjau dari segi jalurnya hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara tunggal.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Hamman ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa berikut ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ, yaitu:
Sesungguhnya Allah berfirman,
"Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh pahala yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terdetik di hati seorang manusia pun."

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya masing-masing, melalui riwayat Abdur Razzaq.


Imam Ahmad mengatakan bahwa Imam Turmuzi di dalam kitab tafsirnya dan Ibnu Jarir telah meriwayatkannya melalui hadis Abdur Rahim ibnu Sulaiman, dari Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah ﷺ dengan lafaz yang semisal.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Hammad ibnu Salamah telah meriwayatkan dari Sabit ibnu Abu Rafi’, dari Abu Hurairah r.a. yang menurut Hammad Abu Hurairah menerima hadis ini dari Nabi ﷺ, bahwa Nabi ﷺ telah bersabda:
Barang siapa yang masuk surga akan hidup senang dan tidak akan sengsara, pakaiannya tidak akan rusak, dan usia mudanya tidak akan lenyap.
Di dalam surga terdapat nikmat yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terdetik dalam hati seorang manusia pun.

Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Hammad ibnu Salamah dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Harun, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Abu Sakhr, Abu Hazim pernah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah mendengar Sahl ibnu Sa’d As Sa’idi r.a. mengatakan bahwa ia pernah menyaksikan Rasulullah ﷺ berada di suatu majelis sedang menggambarkan tentang nikmat surga, hingga selesai.
Pada penghujung hadisnya disebutkan:
Di dalam surga terdapat nikmat yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terdetik oleh hati seorang manusia pun.
Kemudian Nabi ﷺ membaca firman-Nya:
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya.
(QS. As-Sajdah [32]: 16)
sampai dengan firman-Nya:
sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. As-Sajdah [32]: 17)

Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab sahihnya melalui Harun ibnu Ma’ruf dan Harun ibnu Sa’id, keduanya dari Ibnu Wahb dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Abbas ibnu AbuTalib, telah menceritakan kepada kami Ma’la ibnu Asad, telah menceritakan kepada kami Salam ibnu Abu Muti’, dari Qatadah, dari Aqabah ibnu Abdul Gafir, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dari Rasulullah ﷺ yang menceritakan hadis ini dari Tuhannya:
Allah berfirman,
"Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh pahala (nikmat) yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terdetik dalam hati seorang manusia pun."

Mereka tidak mengetengahkannya.


Imam Muslim telah meriwayatkan pula di dalam kitab sahihnya, bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar dan lain-lainnya, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Mutarrif ibnu Tarif dan Abdul Malik ibnu Sa’id, keduanya mendengar Asy-Sya’bi menceritakan hadis berikut dari Al-Mugirah ibnu Syu’bah.
Asy-Sya’bi mengatakan, ia mendengar Al-Mugirah mengucapkan hadis ini di atas mimbar, bahwa ia me-rafa’-kannya sampai kepada Nabi ﷺ yang telah bersabda:
bahwa Musaalaihis salam pernah bertanya kepada Tuhannya,
"Ya Tuhanku, bagaimanakah ahli surga yang paling rendah kedudukannya?"
Allah subhanahu wa ta’ala menjawab,
"Seorang lelaki yang datang sesudah ahli surga dimasukkan ke dalam surga.
Lalu dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga!’ Lelaki itu bertanya, ‘Bagaimanakah, ya Tuhanku, sedangkan semua orang telah menempati kedudukannya dan telah mengambil bagiannya masing-masing?’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Relakah kamu bila kamu mendapat bagian sebagaimana salah seorang raja dari raja-raja dunia?’ Lelaki itu menjawab, ‘Saya rela, ya Tuhanku.’ Maka dikatakan, ‘Engkau mendapat hal itu dan yang semisal dengannya sebanyak tiga kali.’ Dan pada yang kelima kalinya lelaki itu berkata, ‘Saya puas, ya Tuhanku.’ Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Engkau mendapatkan hal itu dan sepuluh kali lipatnya sebagai tambahannya, selain itu kamu mendapat segala sesuatu yang diinginkan oleh dirimu dan yang menyedapkan pandangan matamu.’ Lelaki itu berkata, ‘Saya puas, ya Tuhanku’."
Musa bertanya lagi,
"Ya Tuhanku, bagaimanakah dengan ahli surga yang paling tinggi kedudukannya?"
Allah subhanahu wa ta’ala menjawab,
"Mereka adalah orang-orang yang Aku kehendaki, Aku menanam kemuliaan mereka dengan tangan-Ku sendiri, lalu Aku lak padanya.
Maka tiada mata yang melihatnya, tiada telinga yang mendengarnya, dan tiada hati seorang manusia pun yang memikirkannya."
Al-Mugirah ibnu Syu’bah mengatakan bahwa hal yang membenarkan hadis ini di dalam Kitabullah ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata.
(QS. As-Sajdah [32]: 17), hingga akhir ayat.

Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui Ibnu Umar, dan ia mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.
Imam Turmuzi mengatakan, sebagian dari mereka ada yang meriwayatkannya dari Asy-Sya’bi, dari Al-Mugirah, tetapi Al-Mugirah tidak me-rafa’-kannya.
Dan pendapat yang mengatakan Al-Mugirah me-rafa’-kannya adalah lebih sahih.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnul Mada’ini, telah menceritakan kepada kami Abu Badr ibnu Syuja’ ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Ziad ibnu Khaisamah, dari Muhammad ibnu Jahadah, dari Amir ibnu Abdul Wahid yang mengatakan bahwa telah sampai kepadanya suatu hadis yang menceritakan bahwa seorang lelaki dari ahli surga tinggal di tempatnya (di dalam surga) selama tujuh puluh tahun.
Kemudian ia menoleh, tiba-tiba ia menjumpai seorang wanita yang paling cantik di antara semua wanita yang ada, lalu wanita (bidadari) itu berkata kepadanya,
"Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan tujuan agar aku mendapat bagian darimu."
Lelaki itu bertanya,
"Siapakah engkau?"
Wanita itu menjawab,
"Aku termasuk nikmat tambahan."
Maka lelaki itu tinggal bersamanya selama tujuh puluh tahun.
Kemudian ia menoleh lagi, tiba-tiba bersua dengan seorang wanita yang jauh lebih cantik daripada yang sebelumnya.
Wanita itu berkata kepadanya,
"Sesungguhnya aku datang kepadamu agar mendapat bagian darimu."
Lelaki itu bertanya,
"Siapakah kamu?"
Maka wanita itu menjawab bahwa dirinya adalah apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata.
(QS. As-Sajdah [32]: 17)

Ibnu Lahi’ah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ata ibnu Dinar, dari Sa’id ibnu Jubair yang telah menceritakan bahwa para malaikat mengunjungi ahli surga setiap hari menurut kadar waktu hari dunia sebanyak tiga kali.
Mereka datang dengan membawa hadiah-hadiah dari Allah, yaitu dari surga ‘ Adn yang tidak terdapat di dalam surga mereka.
Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya:
Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata.
(QS. As-Sajdah [32]: 17)
Dan para malaikat itu memberitahukan kepada mereka bahwa Allah rida kepada mereka.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syahl ibnu Musa Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, dari Safwan ibnu Amr, dari Abul Yaman Al-Hauzani atau lainnya yang telah mengatakan bahwa surga itu terdiri dari seratus derajat (tingkatan).
Derajat yang pertama ialah perak, buminya dari perak, rumah-rumah (gedung-gedungnya) dari perak, wadah-wadahannya dari perak, dan tanahnya dari misik.
Derajat yang kedua adalah emas, buminya dari emas, gedung-gedung tempat tinggalnya dari emas, wadah-wadahannya dari emas, dan tanahnya dari minyak kesturi (misik).
Derajat yang ketiga ialah dari mutiara, buminya dari mutiara, gedung-gedungnya dari mutiara, wadah-wadahannya dari mutiara, dan tanahnya dari mutiara.
Sedangkan derajat yang sembilan puluh tujuhnya belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terdetik oleh hati seorang manusia pun.
Kemudian ia membaca firman-Nya:
Seorang pun tidak mengetahui apa yahg disembunyikan untuk mereka.
(QS. As-Sajdah [32]: 17), hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir ibnu Sulaiman, dari Al-Hakam ibnu Aban, dari Gatrif, dari Jabir ibnu Zaid, dari Ibnu Abbas, dari Nabi ﷺ, dari Malaikat Jibrilalaihis salam yang telah menceritakan bahwa kelak didatangkan amal-amal kebaikan seseorang hamba dan juga amal-amal buruknya, sebagian darinya dikurangi oleh sebagian yang lain.
Dan apabila masih tersisa suatu amal kebaikan, maka Allah meluaskan baginya tempat di surga.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ia menemui Bazdad, dan ternyata dia menceritakan hadis yang semisal.
Ibnu Jarir melanjutkan kisahnya, bahwa ia bertanya,
"Maka dikemanakankah kebaikan itu?"
Ia menjawab dengan membacakan firman-Nya:
Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka.
(Al Ahqaaf:
16), hingga akhir ayat.
Aku (Ibnu Jarir) bertanya,
"Bagaimanakah dengan firman-Nya:
‘Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata’ (QS. As-Sajdah [32]: 17)
Bazdad menjawab,
"Seorang hamba yang beramal kebaikan secara sembunyi-sembunyi demi karena Allah, tiada seorang manusia pun yang mengetahuinya, maka Allah menyimpan baginya kelak di hari kiamat bermacam-macam nikmat yang menyedapkan pandangan mata (bidadari-bidadari)."

Kata Pilihan Dalam Surah As Sajdah (32) Ayat 17

A’YUN
أَعْيُن

Lafaz ini dalam bentuk jamak, mufradnya adalah ‘ain. Menurut Ibnu Asy Sukayt, ‘ain bermakna "sesuatu yang dengannya seseorang dapat melihat dan memandang."

Ibnu Saydah berkata,
"‘Ain adalah orang yang dikirim untuk mencari berita dan ia dinamakan dzii al ‘ainain"

Sedangkan Ar Razi berkata,
makna ‘ain ialah indera penglihatan.

Ia juga bermakna "kekuatan penglihatan.
Makna lafaz ini juga berbeda-beda dari sudut penggunaannya.
Apabila ia disandarkan kepada al-maa’ atau ‘ainul maa’ artinya adalah "mata air." Apabila disandarkan kepada rumah maa bid daari ‘ain artinya "tiada siapapun di rumah itu’" Apabila disandarkan pula kepada an nafis bermakna "yang amat berharga." Ia juga bermakna mata-mata, ilmu, matahari, kemuliaan dan sebagainya.

Lafaz a’yun disebut 22 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah :
• Al Maa’idah (5), ayat 83;
• Al A’raaf (7), ayat 116, 179, 195;
Al Anfaal (8), ayat 44;
At Taubah (9), ayat 92,
Hud (11), ayat 31, 37;
Al Kahfi (18), ayat 101;
• Al Anbiyaa (21), ayat 61;
• Al Mu’minuun (23), ayat 27;
Al Furqaan (25), ayat 74;
As Sajadah (32), ayat 17;
Al Ahzab (33), ayat 19, 51;
Yaa Siin (36), ayat 66;
• Al Mu’min (40), ayat 19;
Az Zukhruf (43), ayat 71;
Ath Thuur (52), ayat 48;
Al Qamar (54), ayat 14, 37.
Dalam surah Al Furqaan, lafaz a’yun dikaitkan dengan dzurriyyatinaa qurrah.

Ibnu Katsir menafsirkannya dengan "anak-anak yang menyembah Engkau dan membaguskan ibadah mereka kepadamu serta tidak durhaka kepada kami" Beliau menukilkan pandangan ‘Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam, yang berpendapat maksudnya ialah "memohon kepada Allah bagi isteri isteri dan anak-anak mereka supaya diberi petunjuk Islam."

Dalam surah As Sajadah, beliau menafsirkannya dengan "kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata" sebagaimana yang dinukilkan dari Al Hasan Al Basri."

Imam Asy Syawkani menafsirkan kata a’yun yang terdapat pada kisah Nabi Nuh (dalam surah Hud, ayat 37) yang dikaitkan dengan lafaz tajri dan wasna’ al fulk dengan "mata-mata malaikat yang selalu melidungi mereka," karena kata a’yun bermakna alat penglihatan yang mayoritasnya digunakan untuk menjaga dan memperhatikan serta mengawasi sesuatu.
A’yun yang dikaitkan dengan wasna’ al jul itu bermakna "dengan pandangan kami dan kasih sayang kami kepadamu."

Dalam surah Al Kahfi, ayat 101, lafaz a’yun dikaitkan dengan kata ghitaa’, maksudnya ialah mereka yang di dunia ini buta akan dalildalil kekuasaan Allah dan keesaan Nya bahkan mereka tidak melihat dan memikirkannya.

Lafaz ini juga dikaitkan dengan ad dam sebagaimana yang terdapat dalam surah At• Taubah, ayat 92 dan Al Maa’idah, ayat 83.
At Tabari menafsirkan maksudnya "mata yang darinya keluar air mata" dan ayat ini diturunkan kepada Raja Najasyi dan para pengikutnya yang menangis karena melihat kebenaran Al Qur’an yang dibacakan kepada mereka.

Sedangkan dalam surah At Taubah, yang dimaksudkan adalah kabilah Muzaynah yang menangis karena sedih disebabkan tiada sesuatu yang mereka dapat nafkahkan dan sumbangkan untuk berjihad di jalan Allah.

Kesimpulannya, makna dan maksud lafaz a’yun yang terdapat di dalam Al Qur’an dapat dilihat dari dua sisi.

Pertama, sudut zahir di mana ia adalah alat penglihatan.

Kedua, sudut maknawi yang tersirat, ia bermakna penjagaan, kasih sayang, diri yang mendapat petunjuk atau kesesatan dan sebagainya.
Semua itu berdasarkan kepada konteks sandaran lafaz a’yun itu dan hubungannya dengan kalimat lain dalam suatu ayat.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:11

Unsur Pokok Surah As Sajdah (السجدة)

Surat As Sajdah terdiri atas 30 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al mukminuun.

Dinamakan "As Sajdah" berhubung pada surat ini terdapat ayat sajdah, yaitu ayat yang kelima belas.

Keimanan:

▪ Menyatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ itu benar-benar seorang rasul dan menjelaskan bahwa kepada musyrikin Mekah belum pernah diutus seorang rasul pun sebelumnya.
▪ Menegaskan bahwa Allah Maha Esa, bahwa Dia-lah yang menguasai alam semesta dan Dialah yang mengaturnya dengan aturan yang paling sempurna.
▪ Menyatakan bahwa hari berbangkit benar-benar akan terjadi.

Hukum:

▪ Anjuran melakukan shalat malam (shalat tahajud dan shalat witir).

Lain-lain:

▪ Keterangan mengenai kejadian manusia di dalam rahim dan fase-fase yang dilaluinya sampai ia menjadi manusia.
▪ Penjelasan bagaimana keadaan orang-orang mukmin di dunia dan nikmat serta pahala-pahala yang disediakan Allah bagi mereka di akhirat.
▪ Kehinaan yang menimpa orang-orang kafir di akhirat dan mereka pada waktu itu meminta supaya dikembalikan saja ke dunia untuk bertobat dan berbuat kebaikan, tetapi keinginan ini ditolak.
▪ Keingkaran kaum musyrikin terhadap hari berbangkit dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah mustahil.

Ayat-ayat dalam Surah As Sajdah (30 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. As-Sajdah (32) : 1-30 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy Ayat 1 sampai 30 + Terjemahan Indonesia
QS. As-Sajdah (32) : 1-30 ⊸ Nabil ar-Rifa’i Ayat 1 sampai 30

Gambar Kutipan Ayat

Surah As Sajdah ayat 17 - Gambar 1 Surah As Sajdah ayat 17 - Gambar 2
Statistik QS. 32:17
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah As Sajdah.

Surah As-Sajdah (bahasa Arab :السّجدة) adalah surah ke-32 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 30 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Al-Mu’minun.
Dinamakan As-Sajdah berhubung pada surah ini terdapat ayat Sajdah (sujud), yaitu ayat yang kelima belas.

Nomor Surah 32
Nama Surah As Sajdah
Arab السجدة
Arti Sajdah
Nama lain Al-Madhāji’, Alif Lam Mim As-Sajdah
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 75
Juz Juz 21
Jumlah ruku’ 3 ruku’
Jumlah ayat 30
Jumlah kata 375
Jumlah huruf 1564
Surah sebelumnya Surah Luqman
Surah selanjutnya Surah Al-Ahzab
Sending
User Review
4.9 (13 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:
32:17, 32 17, 32-17, Surah As Sajdah 17, Tafsir surat AsSajdah 17, Quran As-Sajdah 17, Surah As Sajdah ayat 17
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video Surah 32:17

More Videos

Kandungan Surah As Sajdah

۞ QS. 32:2 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 32:3 • Mendustai Allah • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Sikap manusia terhadap kitab samawi

۞ QS. 32:4 ArsySyafaat hak Allah semata • Al Wali (Maha Pelindung)

۞ QS. 32:5 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Segala sesuatu ada takdirnya

۞ QS. 32:6 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) •

۞ QS. 32:7 • Kekuasaan Allah

۞ QS. 32:10 Ar Rabb (Tuhan) • Mengingkari hari kebangkitan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 32:11 Ar Rabb (Tuhan) • Tugas-tugas malaikat • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Manusia dibangkitkan dari kubur •

۞ QS. 32:12 Ar Rabb (Tuhan) • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 32:13 • Nama-nama neraka • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 32:14 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mengingkari hari kebangkitan • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 32:15 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 32:16 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 32:17 • Pahala iman • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 32:18 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Perbedaan derajat manusia sesuai dengan amalnya • Keutamaan iman

۞ QS. 32:19 • Pahala iman • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman •

۞ QS. 32:20 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 32:21 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 32:22 Ar Rabb (Tuhan) • Al Muntaqim (Maha Pembalas dosa) • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 32:23 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 32:25 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat hari penghitungan • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 32:26 • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 32:28 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 32:29 • Beriman ketika datang hari kiamat • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Maksiat dan dosa

۞ QS. 32:30 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Maksiat dan dosa

Ayat Pilihan

Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya.
Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
QS. Al-Hajj [22]: 18

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat & tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah,
sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu,
maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim
QS. Yunus [10]: 106

Aku beritakan kepadamu,
kepada siapa syaitan-syaitan itu turun?
Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta yang banyak dosa.
mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu,
dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.
QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 221-223

Adam Alaihis Salam dan istrinya berkata:
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami & memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”
QS. Al-A’raf [7]: 23

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki kebiasaan buruk, juga memiliki kebiasaan baik. Di bawah ini yang tidak termasuk kebiasaan baik masyarakat Arab sebelum Islam adalah ...

Correct! Wrong!

Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan adalah ...

Correct! Wrong!

Dalam QS. Al-Muddassir ayat 1-7 adalah menjadi dasar bagi Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melakukan dakwah di Mekkah secara ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
QS. Al Mudatsir adalah surah ke 74 dalam Alquran yang tergolong ke dalam surah Makkiyyah.

Pembahasan:

Ayat 1

u064au064eu0627 u0623u064eu064au0651u064fu0647u064eu0627 u0627u0644u0652u0645u064fu062fu0651u064eu062bu0651u0650u0631u064f

yaa ayyuhaal muddatstsir

Hai orang yang berkemul (berselimut)


Ayat 2

u0642u064fu0645u0652 u0641u064eu0623u064eu0646u0652u0630u0650u0631u0652

Qum faandzir

bangunlah, lalu berilah peringatan


Ayat 3

u0648u064eu0631u064eu0628u0651u064eu0643u064e u0641u064eu0643u064eu0628u0651u0650u0631u0652

warabbaka fakabbir

dan Tuhanmu agungkanlah


Ayat 4

u0648u064eu062bu0650u064au064eu0627u0628u064eu0643u064e u0641u064eu0637u064eu0647u0651u0650u0631u0652

wa shiyabaqa fathahhir

dan pakaianmu bersihkanlah


Ayat 5

u0648u064eu0627u0644u0631u0651u064fu062cu0652u0632u064e u0641u064eu0627u0647u0652u062cu064fu0631u0652

warrujja fahjur

dan perbuatan dosa tinggalkanlah


Ayat 6

u0648u064eu0644u064eu0627 u062au064eu0645u0652u0646u064fu0646u0652 u062au064eu0633u0652u062au064eu0643u0652u062bu0650u0631u064f

wa laa tamnun tastakstir

dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.


Ayat 7

u0648u064eu0644u0650u0631u064eu0628u0651u0650u0643u064e u0641u064eu0627u0635u0652u0628u0650u0631u0652

walirabbaka fashbir

Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

+

Array

Dari proses dakwah secara diam-diam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah, maka terdapat beberapa sahabat yang masuk Islam pertama kali. Mereka dikenal dengan sebutan ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Assabiqunal awwalun adalah sebutan untuk sahabat-sahabat nabi Muhammad yang pertama kali memeluk islam.

Contohnya: Abu Bakar Ash Shiddiq, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Khadijah ra. Assabiqunal awwalun artinya adalah orang-orang yang awal masuk atau memeluk agama islam.

Berikut ini yang bukan merupakan substansi dakwah Rasulullah di Mekkah adalah ...

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #11
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #11 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #11 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Surah yang tidak diawali basmalah adalah … Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun.Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah …

Pendidikan Agama Islam #23

Qada dan qadar termasuk rukun iman yang ke … Al Falaq artinya … Ayat ke 5 dari surah al-Falaq yaitu … … Percaya kepada Allah dan Rasulnya termasuk rukun … Meja, kursi, manusia, hewan dan tumbuhan adalah merupakan salah satu cara mengenal Allah Subhanahu Wa Ta`ala melalui …

Pendidikan Agama Islam #9

Arti hadits maudhu’ adalah … Pengertian ijtihad menurut istilah adalah … Orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya disebut dengan … Berdasarkan bahasa, ijma artinya adalah … Era ketidaktahuan juga disebut zaman …

Kamus Istilah Islam

Hafiz

Apa itu Hafiz? Hafiz adalah sebuah panggilan bagi seseorang yang dapat menghafal Al-Qur’an. Istilah ini diberikan kepada seseorang yang menghafal Al-Qur’an, tetapi pada masa dahulu, hafiz ...

Ibnu Abbas

Siapa itu Ibnu Abbas? Abdullah bin Abbas (عبد الله بن عباس, kr. 619 – Thaif, kr. 687 (78 H)) adalah seorang sahabat Nabi Muhammad sekaligus saudara sepupunya.
Nama Ibnu Abbas (اب...

Al-Mursalat

Apa itu Al-Mursalat? Surah Al-Mursalat (المرسلات) adalah surah ke-77 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Makkiyah, terdiri atas 50 ayat. Dinamakan Al Mursalaat yang berarti (Malaikat-mala...