Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Ar Rum (Bangsa Romawi) – surah 30 ayat 38 [QS. 30:38]

فَاٰتِ ذَاالۡقُرۡبٰی حَقَّہٗ وَ الۡمِسۡکِیۡنَ وَ ابۡنَ‌السَّبِیۡلِ ؕ ذٰلِکَ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یُرِیۡدُوۡنَ وَجۡہَ اللّٰہِ ۫ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ
Faaati dzaal qurba haqqahu wal miskiina waabnassabiili dzalika khairul(n)-lil-ladziina yuriiduuna wajhallahi wa-uula-ika humul muflihuun(a);
Maka berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan.
Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridaan Allah.
Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

―QS. Ar Rum [30]: 38

So give the relative his right, as well as the needy and the traveler.
That is best for those who desire the countenance of Allah, and it is they who will be the successful.
― Chapter 30. Surah Ar Rum [verse 38]

فَـَٔاتِ maka berikanlah

So give
ذَا memiliki

the relative *[meaning includes next or prev. word]
ٱلْقُرْبَىٰ kerabat yang dekat

the relative *[meaning includes next or prev. word]
حَقَّهُۥ haknya

his right
وَٱلْمِسْكِينَ dan orang-orang miskin

and the poor
وَٱبْنَ dan orang-orang

and the wayfarer. *[meaning includes next or prev. word]
ٱلسَّبِيلِ dijalan/dalam perjalanan

and the wayfarer. *[meaning includes next or prev. word]
ذَٰلِكَ seperti itulah

That
خَيْرٌ kebaikan

(is) best
لِّلَّذِينَ kepada orang-orang

for those who
يُرِيدُونَ (mereka) menghendaki

desire
وَجْهَ wajah/keridaan

(the) Countenance
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah.
وَأُو۟لَٰٓئِكَ dan mereka itu

And those,
هُمُ mereka

they
ٱلْمُفْلِحُونَ orang-orang yang beruntung

(are) the successful ones.

Tafsir

Alquran

Surah Ar Rum
30:38

Tafsir QS. Ar Rum (30) : 38. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini merupakan penjelasan ayat 37, yaitu bahwa mereka yang diberi Allah kelebihan rezeki harus membantu mereka yang kekurangan.
Bantuan itu dalam bentuk bantuan materi di luar zakat.

Mereka yang diprioritaskan untuk dibantu adalah keluarga dekat sendiri.
Bantuan itu dalam ayat ini bahkan dinyatakan sebagai haknya.

Dalam ayat lain dinyatakan bahwa bila kita tidak dapat membantu, maka hal itu perlu disampaikan dengan sejujurnya dengan kata-kata yang enak diterima sehingga menyejukkan:

وَاِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاۤءَ رَحْمَةٍ مِّنْ رَّبِّكَ تَرْجُوْهَا فَقُلْ لَّهُمْ قَوْلًا مَّيْسُوْرًا

Dan jika engkau berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut. (al-Isra‘ [17]: 28)


Orang yang perlu dibantu adalah orang miskin, yaitu orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya.

Dengan demikian, Allah tidak menghendaki ada makhluk-Nya yang kelaparan apalagi mati karena kelaparan.
Bila hal itu terjadi, maka mereka yang berkelebihan rezeki berdosa.

Memang dapat dirasakan bagaimana perihnya rasa lapar dan dapat dipahami bagaimana berbahayanya kelaparan.


Selanjutnya yang perlu dibantu adalah musafir yang terlantar, paling kurang untuk satu hari.

Dengan bantuan demi bantuan, ia akan dapat mencapai tempat asalnya.
Mengembalikan musafir dengan segera ke tempat asalnya akan besar manfaatnya, karena ia akan dapat bekerja kembali sebagaimana semula.

Membiarkannya terlantar di tempat asing akan mengakibatkan berbagai masalah di tempat itu.


Demikianlah kewajiban orang yang beriman.
Ia sadar bahwa harta yang ada padanya hanyalah titipan yang dipercayakan untuk dikelola dengan baik.
Pemilik harta itu adalah Allah, sehingga ketika pemiliknya meminta untuk dikeluarkan sebagian guna membantu orang lain, maka ia tidak akan menolaknya.
Allah ﷻ berfirman:

اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاَنْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَنْفَقُوْا لَهُمْ اَجْرٌ كَبِيْرٌ

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah).
Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar.
(al-hadid [57]: 7)


Orang beriman tidak akan memandang bahwa harta yang ada padanya itu semata-mata diperolehnya karena usahanya sendiri.
Semua keberuntungan yang diperoleh manusia adalah karunia Allah, sebagaimana dinyatakan dalam Alquran tentang Nabi Sulaiman:

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ

Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata,
"Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip."
Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata,
"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).
Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia."
(an-Naml [27]: 40)


Sikap yang menafikan karunia Allah dalam setiap keberuntungan adalah sikap Karun, seorang yang kaya raya tetapi durhaka pada zaman Nabi Musa `alaihis salam Sebagai akibatnya, ia dan kekayaannya ditelan oleh bumi.
Allah ﷻ berfirman:

قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْ اَوَلَمْ يَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهٖ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ اَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَّاَكْثَرُ جَمْعًا وَلَا يُسْـَٔلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ

Dia (Karun) berkata,
"Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku."
Tidakkah dia tahu bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta?
Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka.
(al-Qashash [28]: 78)


Membantu keluarga dekat, orang miskin, dan musafir yang terlantar akan membawa dampak yang baik bagi yang memberi dan yang diberi.
Orang yang memberi berarti telah memenuhi perintah Allah, sehingga ia akan disayangi-Nya.
Sedangkan orang yang diberi akan merasa terbantu, dan karena itu akan terjalinlah silaturrahim antara keluarga yang berkecukupan dan ber-kekurangan.
Dampaknya adalah keamanan dan persaudaraan yang erat.


Dampak seperti itu akan diperoleh bila yang memberi hanya karena mengharapkan rida Allah.
Dengan demikian, maksud potongan ayat ini adalah bahwa si pemberi itu memberi bukan untuk mengharapkan balasan dari yang diberi, tetapi balasan dari Allah ketika ia menghadap-Nya nanti di akhirat.
Artinya, ia memberi dengan ikhlas.
Orang beriman dilarang memberi karena ria, yaitu untuk dilihat orang atau pamer.
Salah satu bentuk ria adalah memberi tetapi pemberian itu disebut-sebut kepada orang lain sehingga menjatuhkan nama yang diberi, atau menyakiti hati yang diberi dengan menyampaikan kata-kata atau perbuatan yang melukai perasaannya.
Allah ﷻ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰى كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.
Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi.
Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan.
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.
(al-Baqarah [2]: 264)

Tafsir QS. Ar Rum (30) : 38. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Dan apabila hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang meluaskan rezeki dan menetapkan ukurannya, maka berikanlah hak kaum kerabat kepadanya, yaitu berupa kebajikan dan hubungan silaturahmi.
Dan juga berilah kepada orang yang membutuhkan dan kehabisan perbekalan di jalan berupa zakat dan sedekah.


Hal itu adalah lebih baik bagi orang-orang yang menghendaki rida Allah dan menginginkan pahala-Nya.
Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan dengan kenikmatan yang abadi.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Berikanlah (wahai Mukmin) kerabatmu haknya berupa silaturrahim, sedekah dan kebaikan-kebaikan lainnya.
Berikanlah kepada orang fakir yang tidak memiliki apa yang mencukupi dan menutupi hajatnya, dan orang yang membutuhkan yang kehabisan bekal dalam perjalanannya dari zakat dan sedekah.


Pemberian tersebut adalah lebih baik bagi orang-orang yang mengharapkan wajah Allah dari amal perbuatannya.
Dan orang-orang yang melakukan amal kebaikan ini dan lainnya, mereka adalah orang-orang yang beruntung mendapatkan pahala Allah dan selamat dari azab-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Maka berikanlah kepada kerabat) kepada famili yang terdekat


(akan haknya) yaitu dengan menyantuninya dan menghubungkan silaturahmi dengannya


(demikian pula kepada fakir miskin dan ibnu sabil) orang yang sedang musafir, yaitu dengan memberikan sedekah kepada mereka, perintah ini ditujukan kepada Nabi ﷺ dan sebagai umatnya diharuskan mengikuti jejaknya.


(Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridaan Allah) yakni pahala-Nya sebagai imbalan dari apa yang telah mereka kerjakan


(dan mereka itulah orang-orang yang beruntung) yaitu orang-orang yang memperoleh keberuntungan.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:



Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, memerintahkan (kepada kaum muslim) agar memberikan kepada kerabat terdekat mereka akan haknya, yakni berbuat baik dan menghubungkan silaturahmi, juga orang miskin.
Yang dimaksud orang miskin ialah orang yang tidak mempunyai sesuatu pun untuk ia belanjakan buat dirinya, atau memiliki sesuatu, tetapi masih belum mencukupinya.
Juga kepada ibnu sabil, yaitu seorang musafir yang memerlukan biaya dan keperluan hidupnya dalam perjalanan, karena biayanya kehabisan di tengah jalan.

Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridaan Allah.
(QS. Ar-Rum [30]: 38)

Yang dimaksud dengan wajhullah ialah Zat Allah, yakni melihat Allah kelak di hari kiamat.
Hal ini merupakan tujuan utama yang paling tinggi.

dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(QS. Ar-Rum [30]: 38)


Yakni beruntung di dunia dan akhirat.


Dalam firman selanjurnya disebutkan:

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.
(QS. Ar-Rum [30]: 39)

Artinya, barang siapa yang memberi orang lain dengan tujuan agar orang itu balas memberinya dengan lebih banyak daripada apa yang ia berikan kepadanya, maka perbuatan seperti ini tidak ada pahalanya di sisi Allah bagi orang yang bersangkutan.
Demikianlah menurut tafsir yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Ad-Dahhak, Qatadah, Ikrimah, Muhammad ibnu Ka’b, dan Asy-Sya’bi.

Perbuatan seperti itu hukumnya boleh, sekalipun tidak ada pahalanya, hanya saja larangan ini hanya ditujukan kepada Nabi ﷺ secara khusus.
Demikianlah menurut pendapat Ad-Dahhak, ia mengatakan demikian dengan berdalilkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
(QS. Al-Muddatsir [74]: 6)

Yakni janganlah kamu menghadiahkan suatu pemberian dengan tujuan untuk mendapatkan yang lebih banyak daripada itu.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa riba itu ada dua macam:

1. Riba yang tidak dibenarkan, yaitu riba jual beli:

2. Riba yang tidak berdosa, yaitu seseorang yang menghadiahkan sesuatu dengan tujuan mendapat balasan hadiah yang lebih banyak.
Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.
(QS. Ar-Rum [30]: 39)

Kata Pilihan Dalam Surah Ar Rum (30) Ayat 38

IBNUS SABIIL
ٱبْنَ ٱلسَّبِيل

Makna ibn ialah seorang anak lelaki, sedangkan as sabiil sudah diuraikan terdahulu.

Ibn Arafah berkata,
"Lafaz ini bermakna tetamu yang terputus bekalnya, diberikan bekal sekadar sampai ke negerinya’"

Ibn Manzur berkata,
"Ibnus sabiil ialah orang musafir yang banyak berjalan, dinamakan ia anak jalan karena ia melazimkan dirinya dengannya."

Ibn Sayyidah berkata,
"Ia bermakna anak jalan, dan takwilannya adalah yang banyak berjalan di atas jalan."

Ungkapan ini disebut delapan kali dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 177, 215;
An Nisaa (4), ayat 36;
Al Anfaal (8, ayat 41;
At Taubah (9, ayat 60;
-Al sraa (17, ayat 26;
Ar Rum (30, ayat 38;
Al Hasyr (59, ayat 7.

Abi Ja’far berkata,
"Ibnus sabiil adalah orang yang melintasi dari negeri ke negeri yang lain."

Mujahid dan Qatadah berkata,
"Ia adalah orang yang bermusafir"

At Tabari berkata,
"Dikatakan bagi yang bermusafir Ibnus sabiil karena ia melazimkan dirinya di jalan?"

Kesimpulannya, Ibnus Sabiil ialah orang yang banyak melakukan perjalanan jauh.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 287-289

Unsur Pokok Surah Ar Rum (الروم)

Surat Ar-Rum yang terdiri atas 60 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah diturunkan sesudah surah Al-Insyiqaq.

Dinamakan Ar Ruum karena pada permulaan surat ini, yaitu ayat 2, 3 dan 4 terdapat pemberitaan bangsa Romawi yang pada mulanya dikalahkan oleh bangsa Persia, tetapi setelah beberapa tahun kemudian kerajaan Ruum dapat menuntut balas dan mengalahkan kerajaan Persia kembali.

Ini adalah salah satu dari mukjizat Alquran, yaitu memberitakan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Dan juga suatu isyarat bahwa kaum muslimin yang demikian lemah­nya di waktu itu akan menang dan dapat menghancurkan kaum musyrikin.
Isyarat ini terbukti pertama kali pada perang Badar.

Keimanan:

▪ Bukti-bukti atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ dengan memberitahukan kepadanya hal yang ghaib seperti menangnya kembali bangsa Romawi atas kerajaan Persia.
▪ Bukti-bukti ke-Esaan Allah yang terdapat pada alam sebagai makhluk-Nya dan kejadian-kejadian pada alam itu sendiri.
▪ Bukti-bukti atas kebenaran adanya hari berbangkit.
▪ Contoh-contoh dan perumpamaan yang menjelaskan bahwa berhalaberhala dan sembahan-sembahan itu tidak dapat menolong dan memberi manfa’at kepada penyembah-penyembahnya sedikitpun.

Hukum:

▪ Kewajiban menyembah Allah dan mengakui ke-EsaanNya karena hal itu sesuai dengan fitrah manusia.
▪ Kewajiban berdakwah.
▪ Kewajiban memberikan nafkah (sedekah) kepada kaum kerabat, fakir miskin, musafir dan sebagainya.
▪ Larangan mengikuti orang musyrik.
Hukum riba.

Kisah:

▪ Pemberitaan tentang bangsa Romawi sebagai suatu umat yang beragama walaupun dikalahkan pada mulanya oleh kerajaan Persia yang menyembah api akhirnya dapat menang kembali.

Lain-lain:

▪ Manusia umumnya bersifat gembira dan bangga apabila mendapat nikmat dan berputus asa apabila ditimpa musibah, kecuali orang-orang yang beriman.
▪ Kewajiban rasul hanya menyampaikan dakwah.
▪ Kejadian-kejadian yang dialami oleh umat-umat yang terdahulu patut menjadi iktibar dan pelajaran bagi umat yang kemudian.

Audio

QS. Ar-Rum (30) : 1-60 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 60 + Terjemahan Indonesia

QS. Ar-Rum (30) : 1-60 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 60

Gambar Kutipan Ayat

Surah Ar Rum ayat 38 - Gambar 1 Surah Ar Rum ayat 38 - Gambar 2
Statistik QS. 30:38
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Ar Rum.

Surah Ar-Rum (bahasa Arab: الرّوم) adalah surah ke-30 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 60 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sesudah surah Al-Insyiqaq.
Dinamakan Ar-Rum yang berarti Bangsa Romawi (Bizantium), karena pada permulaan surat ini, yakni ayat 2, 3 dan 4 (30:2-30:4) terdapat ramalan Alquran tentang kekalahan yang berlanjut dengan kebangkitan bangsa Romawi.

Nomor Surah30
Nama SurahAr Rum
Arabالروم
ArtiBangsa Romawi
Nama lain
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu84
JuzJuz 21
Jumlah ruku’6 ruku’
Jumlah ayat60
Jumlah kata820
Jumlah huruf3472
Surah sebelumnyaSurah Al-‘Ankabut
Surah selanjutnyaSurah Luqman
Sending
User Review
4.8 (10 votes)
Tags:

30:38, 30 38, 30-38, Surah Ar Rum 38, Tafsir surat ArRum 38, Quran Ar-Rum 38, Surah Ar Rum ayat 38

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 63 [QS. 2:63]

Pada ayat yang lalu dijelaskan tentang pahala bagi orang yang beriman. Selanjutnya pada ayat-ayat ini diterangkan tentang pelanggaran Bani Israil terhadap perjanjian yang diikrarkan dengan Tuhan. Kare … 2:63, 2 63, 2-63, Surah Al Baqarah 63, Tafsir surat AlBaqarah 63, Quran Al-Baqarah 63, Surah Al Baqarah ayat 63

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Allah Subhanahu Wa Ta`ala tidak akan merubah nasib suatu kaum , sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya, arti ayat tersebut terdapat dalam Alquran surah ar-Rad ayat ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
'Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.'
--QS. Ar Ra'd [13] : 11

Setiap bencana dan musibah yang menimpa manusia di bumi sudah tertulis dalam kitab ...

Benar! Kurang tepat!

Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini ... Allah Subhanahu Wa Ta`ala.

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pembukuan Alquran dilakukan pada masa khalifah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #21
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #21 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #21 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #15

Tujuan utama diturunkannya Alquran kepada umat manusia adalah … agar manusia mau membacanya tiap hari agar manusia selamat dunia dan

Pendidikan Agama Islam #3

Berikut ini yang bukan termasuk orang-orang pertama yang menyambut ajakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah … Khalid bin Walid

Pendidikan Agama Islam #28

Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu? Enam Lima Dua Tujuh Tiga Benar! Kurang tepat! Penjelasan:Enam Syarat Meraih Ilmu Menurut Sayyidina

Instagram