Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ar Rum

Ar Rum (Bangsa Romawi) surah 30 ayat 30


فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ اللّٰہِ الَّتِیۡ فَطَرَ النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ
Fa-aqim wajhaka li-ddiini haniifan fithratal-lahillatii fatharannaasa ‘alaihaa laa tabdiila likhalqillahi dzalikaddiinul qai-yimu walakinna aktsarannaasi laa ya’lamuun(a);

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Tidak ada peubahan pada fitrah Allah.
(Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
―QS. 30:30
Topik ▪ Iman ▪ Keutamaan Iman ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
30:30, 30 30, 30-30, Ar Rum 30, ArRum 30, Ar-Rum 30
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ar Rum (30) : 30. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menyuruh Nabi Muhammad ﷺ meneruskan tugasnya dalam memberikan dakwah, dengan membiarkan kaum musyrikin yang keras kepala itu dalam kesesatannya.
Dalam kalimat ini, maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; fitrah Allah.
Tuhan menyuruh agar Nabi ﷺ mengikuti agama yang lurus yaitu agama Islam, dan mengikuti fitrah Allah.
Ada yang berpendapat bahwa kalimat itu berarti bahwa Allah memerintahkan agar kaum Muslimin mengikuti agama Allah yang telah di jadikan-Nya bagi manusia.
Di sini "fitrah" dinamakan "agama" karena manusia dijadikan untuk melaksanakan agama itu.
Hal ini dikuatkan oleh firman Allah dalam surat yang lain:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku.
(Q.S.
Az Zariyat: 56)

Menghadapkan muka artinya meluruskan tujuan dengan segala kesungguhan tanpa menoleh kepada yang lain.
Dan "muka" dikhususkan menyebutkan di sini, karena muka itu tempat berkumpulnya semua pancaindera kecuali alat perasa.
Dan muka itu adalah bagian tubuh yang paling terhormat.
Sehubungan dengan kata fitrah yang tersebut dalam ayat ini ada sebuah hadis sahih dari Abu Hurairah yang berbunyi:

Tidak ada seorang anakpun kecuali ia dilahirkan menurut fitrah.
Kedua orang ibu bapaknyalah yang akan meyahudikan, menasranikan dan memajusikannya, sebagaimana binatang melahirkan binatang dalam keadaan sempurna.
Adakah kamu merasa kekurangan padanya".
Kemudian Abu Hurairah berkata: "Bacalah ayat ini yang artinya: "Fitrah Allah di mana manusia telah diciptakan atasnya.
Tak ada perubahan pada fitrah Allah itu".
Dalam riwayat lain, "sehingga kamu merusakkannya (binatang itu)".
Para sahabat bertanya: "Hai Rasulullah, apakah engkau tahu keadaan orang yang meninggal di waktu kecil?
Rasul menjawab: "Allah lebih tahu dengan apa yang mereka perbuat".
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

Para ulama berbeda pendapat mengenai arti fitrah yang tersebut dalam kitab suci Alquran dan hadis Nabi ﷺ.
Mereka ada yang berpendapat bahwa fitrah itu artinya "Islam".
Hal ini dikatakan oleh Abu Hurairah dan Ibnu Syihab dan lain-lain.
Mereka mengatakan bahwa pendapat itu terkenal di kalangan ulama salaf yang berpegang kepada takwil.
Alasan mereka adalah ayat 30 tersebut di atas dan hadis Abu Hurairah yang baru saja disalinkan di atas.
Mereka juga berhujah dengan hadis Iyad bin Himar Al Mujassyi'i bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada manusia pada suatu hari:

Apakah kamu suka aku menceritakan kepadamu apa yang telah diceritakan Allah kepadaku dalam Kitab-Nya.
Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam dan anak cucunya cenderung kepada kebenaran dan patuh kepada Allah.
Allah memberi mereka harta yang halal tidak yang haram.
Lalu mereka menjadikan harta yang diberikan kepada mereka itu menjadi halal dan haram.

(H.R.
Iyad bin Himar)

Sebagian ulama menafsirkan hadis ini bahwa anak kecil itu diciptakan tidak berdosa dan selamat dan kekafiran sesuai dengan janji yang telah ditetapkan Allah bagi anak cucu Adam di kala mereka dikeluarkan dari tulang sulbinya.
Mereka apabila meninggal dunia masuk surga baik anak-anak kaum Muslimin maupun anak-anak kaum kafir.

Sebagian ahli fikih dan ulama yang berpandangan luas mengartikan "fitrah" dengan "kejadian" yang dengannya Allah menjadikan anak mengetahui Tuhannya.
Seakan-akan dia berkata: "Tiap-tiap anak dilahirkan atas kejadiannya".
Dengan kejadian itu Si anak akan mengetahui Tuhannya apabila dia telah berakal dan berpengetahuan.
Kejadian di sini berbeda dengan kejadian binatang yang tak sampai dengan kejadian itu kepada pengetahuan tentang Tuhannya.
Mereka berhujah bahwa "fitrah" itu berarti kejadian dan "fatir" berarti "yang menjadikan" dengan firman Allah:

Katakanlah: "Ya Allah, Pencipta langit dan bumi".
(Q.S.
Az Zumar: 46)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku.
(Q.S.
Yasin: 22)

Dan firman Allah lagi:

Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya.
(Q.S.
Al anbiya: 56)

Dari ayat-ayat tersebut di atas mereka mengambil kesimpulan bahwa "fitrah" berarti kejadian dan "fatir" berarti yang menjadikan.
Mereka tak setuju bahwa anak itu dijadikan (difitrahkan) atas kekafiran atau iman atau berpengetahuan atau durhaka.
Mereka berpendapat bahwa anak itu umumnya selamat, baik dari segi kehidupan dan kejadiannya, tabiatnya, maupun bentuk tubuhnya.
Baginya tidak ada iman, tak ada kafir, tak ada durhaka dan tak ada juga pengetahuan.
Mereka berkeyakinan bahwa kafir dan iman itu datang setelah anak itu berakal.
Mereka juga berhujah dengan hadis Nabi dari Abu Hurairah tersebut di atas.

Binatang itu melahirkan binatang dalam keadaan utuh, apakah mereka merasa pada kejadian itu kekurangan?.

Dalam hadis ini hati Bani Adam diumpamakan dengan binatang, sebab dia dilahirkan dalam kejadian yang sempurna, tak ada kekurangan, sesudah itu telinganya terputus, begitu pula hidungnya.
Lalu dikatakan ini adalah unta yang dirusak hidungnya dan ini adalah unta yang digunakan untuk nazar dan sebagainya.

Begitu pula keadaan hati anak-anak waktu dilahirkan.
Mereka tidak kafir, tidak juga iman, tidak berpengetahuan dan tidak durhaka, tak ubahnya seperti binatang ternak.
Tatkala mereka sampai umur setan memperdayakan mereka, maka kebanyakan mereka mengafirkan Tuhan, dan sedikit yang tidak berdosa.

Mereka berpendapat, andaikata anak-anak itu difitrahkan sebagai kafir dan beriman pada permulaannya, tentu mereka tak akan berpindah selama-lamanya dari hal itu.
Anak-anak itu adakalanya beriman, kemudian menjadi kafir.
Selanjutnya para ahli itu berpendapat bahwa adalah mustahil dan masuk akal seseorang anak di waktu dilahirkan telah tahu iman dan kafir, sebab Allah telah mengeluarkan dari perut ibunya dalam keadaan tak mengetahui sedikitpun.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun.
(Q.S.
An Nahl: 78)

Siapa yang tak mengetahui sesuatu mustahillah dia akan menjadi kafir.
beriman, berpengetahuan atau durhaka.

Abu Umar bin Abdil Barr berkata bahwa pendapat ini adalah arti fitrah yang lebih tepat di mana manusia dilahirkan atasnya.
Hujah mereka yang lain ialah firman Allah:

Kami diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.
(Q.S.
At Tur: 16)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.
(Q.S.
Al Mudassir: 38)

Orang yang belum sampai masanya untuk bekerja tidak akan dihisab.

Dari hal tersebut di atas mustahillah fitrah itu berarti Islam.
Seperti yang dikatakan Ibnu Syihab.
Sebab Islam dan iman itu ialah perkataan dengan lisan, iktikad dengan hati dan perbuatan dengan anggota tubuh.
Hal ini tak ada pada anak kecil.
Dan orang yang berakal mengetahui keadaan ini.

Kebanyakan para penyelidik di antaranya Ibnu Atiyah dalam buku tafsirnya di waktu mengartikan fitrah, dan begitu Syekh Abdul Abbas berpendapat sesuai dengan pendapat Umar di atas, lbnu Atiyah dalam tafsirnya berkata bahwa yang dapat dipegangi pada kata "fitrah" ini ialah berarti "kejadian" dan kesediaan untuk menerima sesuatu yang ada dalam jiwa anak itu.
Dengan keadaan itu seseorang dapat dibedakan dengan ciptaan-ciptaan Allah subhanahu wa ta'ala yang lain.
Dengan fitrah itu seorang anak akan mendapat petunjuk dan percaya kepada Tuhannya.

Seakan-akan Tuhan berfirman:
"Hadapkanlah mukamu kepada agama yang lurus yaitu fitrah Allah yang disediakan bagi kejadian manusia, tetapi karena banyak hal yang menghalangi mereka, maka mereka tidak mencapai fitrah itu.
Dalam sabda Nabi yang artinya: "Tiap anak dilahirkan menurut fitrah.
Bapaknya yang akan menjadikan ia seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi".
Disebutkan dua orang ibu bapak sebagai contoh dari halangan-halangan yang banyak itu.

Dalam ibadat lain Syekh Abdul Abbas berkata: "Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan hati anak Adam bersedia menerima kebenaran, sebagaimana mata dan telinga mereka bersedia menerima penglihatan dan pendengaran.
Selama menerima itu tetap ada pada hati mereka, tentu mereka akan memperoleh kebenaran dan agama Islam yakni agama yang benar.

Kebanyakan pendapat ini dikuatkan dengan sabda Nabi yang artinya: "Sebagaimana menghasilkan binatang yang utuh.
Adakah mereka menghasilkan yang lain?
Adakah mereka merasakan kekurangan pendapat padanya?".
Maksudnya ialah, binatang itu melahirkan anaknya sempurna kejadiannya tak ada kekurangan.
Andaikata dia dibiarkan menurut dasar kejadiannya itu tentu dia akan tetap sempurna, tak ada aibnya.
Tetapi dia di atur menurut kehendak manusia, maka rusaklah telinga dan hidungnya dilubangi tempat mengikatkan tali sehingga timbullah padanya keburukan dan kekurangan, lalu tidak sesuai lagi dengan keasliannya.
Demikian pulalah keadaannya dengan manusia.
Hal itu adalah perumpamaan dari fakta kehidupan.

Pendapat tersebut di atas dianut oleh kebanyakan ahli tafsir.
Adapun maksud sabda Nabi ﷺ tatkala beliau ditanya tentang keadaan anak-anak kaum musyrik.
beliau menjawab: "Allah lebih tahu dengan apa yang mereka ketahui".
yaitu apabila mereka berakal.
Takwil ini dikuatkan oleh hadis Bukhari dan Samurah bin Jundab dari Nabi ﷺ.
yaitu hadis yang panjang.
Sebagian dari hadis itu berbunyi sebagai berikut:

Adapun orang yang tinggi itu yang ada di surga adalah Ibrahim as.
Adapun anak-anak yang ada di sekitarnya semuanya adalah anak yang dilahirkan menurut fitrah.
Samurah berkata.
"Maka Rasulullah ditanya: Ya Rasulullah, tentang anak-anak musyrik?
"Rasulullah menjawab: "Dan anak-anak musyrik".

Diriwayatkan dari Anas, katanya: "Ditanya Rasulullah ﷺ tentang anak-anak musyrik, beliau bersabda:

Mereka tak mempunyai kebaikan, untuk diberikan ganjaran, lalu akan menjadi raja-raja surga.
Mereka tak mempunyai kejelekan untuk dihisab (disiksa) lalu mereka akan berada di antara penduduk neraka.
Mereka adalah pelayan-pelayan bagi ahli surga.

Demikianlah beberapa pendapat mengenai kata fitrah dan hubungannya dengan anak kecil yang belum sampai umur.
Diduga bahwa pendapat yang agak kuat ialah pendapat terakhir ini, yaitu pendapat Ibnu Atiyah yang disokong oleh Syekh Abdul Abbas.

Kemudian kalimat dalam ayat (30) ini dilanjutkan dengan ungkapan bahwa pada fitrah Allah itu tak ada perubahannya.
Allah tak akan merubah fitrah-Nya itu.
Tak ada sesuatupun yang menyalahi peraturan itu, maksudnya ialah tidak akan merana orang yang dijadikan Allah berbahagia, dan sebaliknya tidak akan berbahagia orang-orang yang dijadikan-Nya sengsara.
Menurut mujahid artinya ialah: "tak ada perubahan bagi agama Allah".
Pendapat ini disokong Qatadah, Ibnu Jubair, Dahhak, Ibnu Zaid dan Nakha'i.
Mereka berpendapat bahwa ungkapan tersebut di atas berkenaan dengan keyakinan.
Ikrimah berkata; diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Umar bin Khatab berkata yang artinya ialah tak ada perubahan bagi makhluk Allah dari binatang yang dimandulkan.
Perkataan ini maksudnya ialah larangan memandulkan binatang.

Itulah agama yang lurus, maksudnya Ibnu Abbas: "Itulah keputusan yang lurus".
Muqatil mengatakan itulah perhitungan yang nyata.
Ada yang mengatakan bahwa "agama yang lurus" itu ialah agama Islam.

Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Mereka tak mau memikirkan bahwa agama Islam itu adalah agama yang benar.
Karena itu mereka tak mau menghambakan diri kepada Pencipta mereka, dan Tuhan yang lebih terdahulu (qadim) memutuskan sesuatu dan melaksanakan keputusannya.

Ar Rum (30) ayat 30 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ar Rum (30) ayat 30 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ar Rum (30) ayat 30 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dari itu, luruskanlah wajahmu dan menghadaplah kepada agama, jauh dari kesesatan mereka.
Tetaplah pada fitrah yang Allah telah ciptakan manusia atas fitrah itu.
Yaitu fitrah bahwa mereka dapat menerima tauhid dan tidak mengingkarinya.
Fitrah itu tidak akan berubah.
Fitrah untuk menerima ajaran tauhid itu adalah agama yang lurus.
Tetapi orang-orang musyrik tidak mengetahui hakikat hal itu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka hadapkanlah) hai Muhammad (wajahmu dengan lurus kepada agama Allah) maksudnya cenderungkanlah dirimu kepada agama Allah, yaitu dengan cara mengikhlaskan dirimu dan orang-orang yang mengikutimu di dalam menjalankan agama-Nya (fitrah Allah) ciptaan-Nya (yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu) yakni agama-Nya.
Makna yang dimaksud ialah, tetaplah atas fitrah atau agama Allah.
(Tidak ada perubahan pada fitrah Allah) pada agama-Nya.
Maksudnya janganlah kalian menggantinya, misalnya menyekutukan-Nya.
(Itulah agama yang lurus) agama tauhid itulah agama yang lurus (tetapi kebanyakan manusia) yakni orang-orang kafir Mekah (tidak mengetahui) ketauhidan atau keesaan Allah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tegakkanlah wajahmu (wahai Rasul, engkau dan orang-orang yang mengikutimu), dan berjalanlah terus di atas agama yang Allah syariatkan untukmu, yaitu Islam di mana Allah telah memfitrahkan manusia di atasnya.
Keberadaan kalian diatasnya dan berpegangnya kalian kepadanya adalah berpegang kepada fitrah Allah dalam bentuk iman hanya kepada-Nya semata.
Tiada pergantian bagi ciptaan dan agama Allah.
Inilah jalan lurus yang menyampaikan kepada ridha Allah Rabb semesta alam dan surga-Nya.
Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui bahwa apa yang di perintahkan kepadamu (Wahai Rasul), adalah agama yang haq bukan selainnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Abbas mengatakan bahwa ia menemui langsung lelaki yang menceritakan hadis ini, lalu lelaki itu memberitahukan kepadanya hadis ini.
Maka sejak saat itu ia tidak lagi memakai pendapatnya.

Di antara mereka adalah Iyad ibnu Himar Al-Mujasyi'i.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Qatadah, dari Mutarrif, dari Iyad ibnu Himar, bahwa Rasulullah ﷺ di suatu hari berkhotbah.
Isi khotbahnya antara lain: Sesungguhnya Tuhanku telah memerintahkan kepadaku untuk memberitahukan kepada kalian apa yang tidak kalian ketahui dari apa yang telah diberitahukan oleh-Nya kepadaku hari ini.
(Dia telah berfirman), "Semua yang telah Kuberikan kepada hamba-hamba-Ku halal, dan sesungguhnya Aku telah men­ciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung kepada perkara yang hak dan benci kepada perkara yang batil) semuanya.
Dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan, lalu setan menyesatkan mereka dari agamanya, dan setan meng­haramkan atas mereka apa yang telah Kuhalalkan bagi mereka, dan setan memerintahkan kepada mereka untuk mempersekutu­kan Aku (dengan sesuatu) yang Aku tidak pernah menurunkan keterangan tentangnya.
Nabi ﷺ melanjutkan sabdanya, bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala memandang kepada penduduk bumi, maka Dia murka terhadap mereka semua —yang Arab maupun non Arab— kecuali sisa-sisa dari kaum Ahli Kitab.
Dan Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Aku mengutusmu hanya untuk mengujimu dan menjadikanmu sebagai batu ujian (bagi yang lain), dan Aku turunkan kepadamu sebuah Al-Kitab yang tidak terhapuskan oleh air (karena kandungannya dihafal di dalam dada, bukan berupa tulisan), kamu dapat membacanya sambil tiduran dan sambil bangun." Kemudian sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala telah memerintahkan kepadaku untuk membakar orang-orang Quraisy, maka aku berkata, "Wahai Tuhanku, kalau begitu tentu mereka akan menguliti kepalaku dan membiarkannya menjadi seperti roti." Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Usirlah mereka sebagaimana mereka mengusirmu, dan perangilah mereka, Kami akan membantumu, dan berinfaklah, maka Kami akan menggantimu, dan kirimkanlah pasukan, maka Kami akan membantumu dengan pasukan yang jumlahnya lima kali lipat dari pasukanmu, dan berperanglah bersama orang yang taat kepadamu untuk menghadapi orang-orang yang durhaka kepadamu." Ahli surga itu ada tiga macam orang, yaitu: Penguasa yang berlaku adil, pemberi sedekah yang sukses dan seorang lelaki yang penyayang dan berhati lembut terhadap kaum kerabatnya dan setiap orang muslim, dan seorang lelaki yang memelihara kehormatan dirinya lagi tidak mau meminta-minta lagi banyak mempunyai anak.
Ahli neraka itu ada lima macam orang, yaitu: Orang lemah yang tidak punya prinsip, yakni mereka yang menjadi pengikut di kalangan kalian, mereka tidak pernah menginginkan punya keluarga dan tidak pula harta, pengkhianat yang tiada suatu keinginan sekecil apa pun melainkan dia pasti berkhianat kepadanya, dan seorang lelaki yang tidak pernah melewati waktu pagi dan tidak pula waktu sore melainkan dia selalu menipumu terhadap keluarga dan harta bendamu.
Nabi ﷺ menyebutkan pula pendusta, buruk perangai, dan orang yang bermulut kotor.

Imam Muslim mengetengahkan hadis ini secara tunggal, dan dia meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Qatadah dengan sanad yang sama.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

(Itulah) agama yang lurus.
(Ar Ruum:30)

Yakni berpegang kepada syariat dan fitrah yang utuh merupakan agama yang tegak dan lurus.

tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(Ar Ruum:30)

Karena itulah maka kebanyakan orang tidak mengetahuinya, dan mereka berpaling darinya, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.
(Yusuf:103)

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.
(Al An'am:116), hingga akhir ayat.

Informasi Surah Ar Rum (الروم)
Surat Ar Ruum yang terdiri atas 60 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah diturun­kan sesudah ayat Al Insyiqaaq.

Dinamakan Ar Ruum karena pada permulaan surat ini, yaitu ayat 2, 3 dan 4 terdapat pemberitaan bangsa Rumawi yang pada mulanya dikalahkan oleh bangsa Persia, tetapi setelah beberapa tahun kemudian kerajaan Ruum dapat menuntut balas dan mengalahkan kerajaan Persia kembali.

Ini adalah salah satu dari mu'jizat Al Qur'an, yaitu memberitakan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Dan juga suatu isyarat bahwa kaum muslimin yang demikian lemah­nya di waktu itu akan menang dan dapat menghancurkan kaum musyrikin.
Isyarat ini terbukti pertama kali pada perang Badar.

Keimanan:

Bukti-bukti atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ dengan memberitahukan kepada­nya hal yang ghaib seperti menangnya kembali bangsa Rumawi atas kerajaan Persia
bukti-bukti ke-Esaan Allah yang terdapat pada alam sebagai makhluk-Nya dan kejadian-kejadian pada alam itu sendiri
bukti-bukti atas kebenaran adanya hari berbangkit
contoh-contoh dan perumpamaanyang menjelaskan bahwa berhala­ berhala dan sembahan-sembahan itu tidak dapat menolong dan memberi manfa'at kepada penyembah-penyembahnya sedikitpun.

Hukum:

Kewajiban menyembah Allah dan mengakui ke-EsaanNya karena hal itu sesuai dengan fitrah manusia
kewajiban berda'wah
kewajiban memberikan nafkah (sedekah) kepada kaum kerabat, fakir miskin, rnusafir dan sebagainya
larangan mengikuti orang musyrik
hukum riba.

Kisah:

Pemberitaan tentang bangsa Rumawi sebagai suatu umat yang beragama walaupun dikalahkan pada mulanya oleh kerajaan Persia yang menyembah api akhirnya dapat menang kembali.

Lain-lain:

Manusia umumnya bersifat gembira dan bangga apabila mendapat nikmat dan ber­putus asa apabila ditimpa musibah, kecuali orang-orang yang beriman
kewajiban rasul hanya menyampaikan da'wah
kejadian-kejadian yang dialami oleh umat­ umat yang terdahulu patut menjadi i'tibar dan pelajaran bagi umat yang kemudian.


Gambar Kutipan Surah Ar Rum Ayat 30 *beta

Surah Ar Rum Ayat 30



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ar Rum

Surah Ar-Rum (bahasa Arab: الرّوم) adalah surah ke-30 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 60 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sesudah surah Al-Insyiqaq.
Dinamakan Ar-Rum yang berarti Bangsa Romawi (Bizantium), karena pada permulaan surat ini, yakni ayat 2, 3 dan 4 (30:2-30:4) terdapat ramalan Al-Qur'an tentang kekalahan yang berlanjut dengan kebangkitan bangsa Romawi.

Nomor Surah 30
Nama Surah Ar Rum
Arab الروم
Arti Bangsa Romawi
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 84
Juz Juz 21
Jumlah ruku' 6 ruku'
Jumlah ayat 60
Jumlah kata 820
Jumlah huruf 3472
Surah sebelumnya Surah Al-'Ankabut
Surah selanjutnya Surah Luqman
4.4
Rating Pembaca: 4.8 (16 votes)
Sending







✔ tafsir surat ar rum ayat 30, al-Quran surah Ar-rum ayat 30, ar rum ayat 30, arti dan kandungan ar rum ayat 30, QS Ar-Rum ayat 30, quran surah ar rum 30 30, surat alrum ayat 30, tafsir ar rum ayat 30

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku