QS. Ar Rum (Bangsa Romawi) – surah 30 ayat 28 [QS. 30:28]

ضَرَبَ لَکُمۡ مَّثَلًا مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ ؕ ہَلۡ لَّکُمۡ مِّنۡ مَّا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُکُمۡ مِّنۡ شُرَکَآءَ فِیۡ مَا رَزَقۡنٰکُمۡ فَاَنۡتُمۡ فِیۡہِ سَوَآءٌ تَخَافُوۡنَہُمۡ کَخِیۡفَتِکُمۡ اَنۡفُسَکُمۡ ؕ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یَّعۡقِلُوۡنَ
Dharaba lakum matsalaa min anfusikum hal lakum min maa malakat aimaanukum min syurakaa-a fii maa razaqnaakum fa-antum fiihi sawaa-un takhaafuunahum kakhiifatikum anfusakum kadzalika nufash-shiluaayaati liqaumin ya’qiluun(a);

Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri.
Apakah ada diantara hamba-sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu, maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri?
Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal.
―QS. 30:28
Topik ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
30:28, 30 28, 30-28, Ar Rum 28, ArRum 28, Ar-Rum 28

Tafsir surah Ar Rum (30) ayat 28

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ar Rum (30) : 28. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan perumpamaan yang lain yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala Perumpamaan itu masih berkisar pada fakta kehidupan manusia itu sendiri sesuai pula dengan tingkatan akal pikiran mereka.
sehingga mereka dapat mengambil pelajaran dari perumpamaan itu.
serta menyifati Allah dengan segala sifat-sifat kesempurnaan yang pantas bagi-Nya.

Dalam ayat ini adalah suatu misal bagi orang-orang yang menyembah di samping Allah, beberapa tuban yang lain, serta menjadikan tuhan-tuhan itu sebagai sembahan yang mereka sembah.
Bahkan mereka mengutamakan kesetiaan kepada tuhan-tuhan itu sendiri pada diri mereka sendiri.

Dalam misal itu kaum musyrik Mekah di suruh memperhatikan diri mereka sendiri dan kedudukan yang ada antara mereka dan budak-budak mereka sendiri dan kedudukan yang ada antara mereka dengan budak-budak mereka.
Apakah mereka, sebagai tuan mau menyerahkan kepada budak-budak yang mereka miliki itu semua milik mereka.
dan mengikut sertakan budak-budak itu dalam urusan harta benda dan kesenangan yang telah diberikan Allah kepada mereka, sehingga budak-budak itu merupakan saingan dan serikat mereka dan dapat pula mengendalikan harta benda dan kesenangan itu?.
Apakah para tuan-tuan pemilik budak dapat menerima ketentuan bahwa bagi budak-budak mereka itu ada kekuasaan atas apa yang mereka miliki.
sehingga mereka tidak dapat bertindak atas milik mereka sebelum mendapat kerelaan dan persetujuan dari budak mereka?.
Hal itu tentu tidak akan diterima dan disukai oleh tuan mereka.
Andaikata hal itu dapat diterimanya.
tentu mereka tidak mempunyai kekuasaan lagi.

Persoalan itu terjadi dua macam makhluk Allah yaitu antara tuan-tuan dan budak-budak mereka dalam mengurus dan menikmati rezeki, harta dan nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka.
Tuan tidak mau mengalah sedikitpun kepada budaknya dalam menguasai hartanya.

Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pemilik segala sesuatu, Maha Kuasa lagi Maha Perkasa dan tidak akan mau dijadikan oleh orang-orang musyrik berserikat dengan makhluk yang diciptakan-Nya yang berupa patung-patung itu sebagaimana mereka sendiri tidak akan mau berserikat dengan budak-budaknya dalam mengurus dan menguasai milik-Nya.
Setiap orang yang menggunakan akal dan pikirannya yang sehat akan memahami perumpamaan itu.
Tindakan orang-orang musyrik itu merupakan penghinaan bagi Allah subhanahu wa ta’ala

Perumpamaan itu ditujukan Allah subhanahu wa ta’ala kepada kaum yang mempersekutukan Nya, yang menyembah selain dari-Nya, dan menjadikan bagi-Nya saingan-saingan.
Padahal mereka mengakui bahwa sekutu-Nya itu terdiri dari patung-patung dan berhala-berhala adalah hamba dan milik Tuhan.
Hal ini jelas ada perkataan mereka di waktu mengucapkan talbiah dan doa ketika mereka melakukan haji:

“Aku menjawab panggilan-Mu hai Tuhan, aku menjawab panggilan Mu.
Tak ada serikat bagi Mu, kecuali serikat yang menjadi milik-Mu yang Engkau miliki dan apa yang dimiliki berhala itu.

Apakah kaum musyrikin itu tetap pada pendirian mereka bahwa bagi Allah itu ada sekutu, sedang mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya, setelah adanya keterangan yang jelas beserta argumentasi yang sangat kuat itu?.
Mereka akan menerima dalil itu dan ada pula yang tidak.
Kebanyakan kaum musyrik itu buta mata mereka dan jiwanya berpenyakit sehingga mereka tidak melihat keterangan yang jelas dan dalil yang kuat itu.

Ayat ini ditutup dengan kalimat “Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal”.
Hanya orang-orang yang mempergunakan akalnya yang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat suci Alquran, serta mendapat petunjuk dan pelajaran daripadanya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah menjelaskan suatu permisalan yang diambil dari diri kalian.
Dia memberikan permisalan itu bagi orang yang menjadikan makhluk-Nya sebagai sekutu bagi-Nya.
Apakah ada di antara hamba sahaya kalian yang menjadi sekutu bagi kalian dalam hal harta benda dan lainnya yang telah Kami karuniakan kepada kalian, sehingga kalian dan mereka memiliki hak yang sama atas harta itu?
Kalian akan takut kepada hamba sahaya itu, sehingga tidak akan melakukan sesuatu atas apa yang kalian miliki tanpa seizinnya, sebagaimana orang-orang merdeka takut terhadap sesama mereka?
Apabila kalian tidak menganggapnya sebagai hal yang masuk akal dan tidak akan melakukan hal itu, lalu mengapa kalian menjadikan makhluk- makhluk Allah sebagai sekutu-sekutu bagi-Nya?
Dengan perincian seperti inilah, Kami menjelaskan ayat- ayat bagi kaum yang merenungkan permisalan-permisalan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dia membuat) menjadikan (bagi kalian) hai orang-orang musyrik (perumpamaan) yang terdapat (di dalam diri kalian sendiri) yaitu (apakah ada di antara hamba-hamba sahaya yang dimiliki oleh tangan kanan kalian) semua hamba sahaya kalian (sekutu) bagi kalian (dalam memiliki rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian) yaitu berupa harta benda dan lain-lainnya (maka kalian) dan mereka (sama dalam hak mempergunakan rezeki itu, kalian takut kepada mereka sebagaimana kalian takut kepada diri kalian sendiri?) yakni takut terhadap sesama orang-orang merdeka kalian.

Kata istifham atau kata tanya mengandung arti nafi atau kata negatif.

Makna yang dimaksud ialah, bukanlah hamba sahaya kalian itu adalah sekutu-sekutu bagi kalian di dalam memiliki rezeki dan harta benda yang ada pada sisi kalian, maka mengapa kalian menjadikan hamba-hamba Allah sebagai sekutu-sekutu-Nya?
(Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat) Kami menerangkannya dengan cara penjelasan dan rincian seperti itu (bagi kaum yang berakal) bagi orang-orang yang menggunakan akal pikirannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang musyrikin, Allah membuat perumpamaan bagi kalian dari diri kalian sendiri.
Adakah di antara hamba-hamba sahayamu, yang laki-laki maupun perempuan yang bersekutu dengan kalian dalam rizki kalian, dan kalian melihat bahwa diri kalian dengan mereka adalah sama padanya.
Kalian takut kepada mereka sebagaimana kalian takut kepada orang-orang merdeka yang bersekutu dalam berbagi harta kalian??
Sesungguhnya kalian tidak akan menerima hal itu.
Lalu bagaimana kalian meridhainya untuk Allah dengan mwnjadikan sekutu bagi-Nya dari makhluk-Nya??Kami menjelaskan bukti-bukti dan hujjah-hujjah dengan sejelas-jelasnya bagi orang-orang yang berakal lurus yang bisa memanfaatkannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah untuk kaum musyrik yang menyembah selain Dia bersama-Nya dan yang menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya, padahal mereka mengakui bahwa sekutu-sekutu yang terdiri dari berhala dan tandingan-tandingan itu juga hamba-hamba Allah dan milik-Nya, seperti yang tersirat dari ucapan mereka saat bertalbiyah, “Kupenuhi seruan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu yang menjadi milik-Mu, sedangkan sekutu itu tidak memiliki.” Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri.
(Ar Ruum:28)

yang kalian saksikan sendiri dan kalian mengerti dari diri kalian sendiri.

Apakah ada di antara hamba sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu, maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu.
(Ar Ruum:28)

Yakni seseorang di antara kalian rela bila mempunyai sekutu bagi hartanya.
Dia dan sekutunya sama-sama mempunyai hak mem­pergunakan harta itu.

kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri?
(Ar Ruum:28)

Artinya, kalian merasa takut bila mereka berbagi harta dengan kalian.

Abu Mijlaz mengatakan bahwa sesungguhnya budakmu tidak merasa takut bila berbagi harta denganmu dalam hartamu, lain halnya dengan dia dalam hartanya.
Begitu pula Allah subhanahu wa ta’ala, tiada sekutu bagi-Nya.
Makna yang dimaksud ialah seseorang dari kalian pasti tidak mau bila hartanya digunakan sama-sama dengan orang lain, maka mengapa kalian men­jadikan bagi Allah sekutu-sekutu dari kalangan makhluk-Nya.
Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka sendiri membencinya.
(An Nahl:62)

Yaitu anak-anak perempuan, karena mereka menganggap malaikat-malaikat yang merupakan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah berjenis perempuan, lalu mereka menganggapnya sebagai anak-anak perempuan Allah.
Padahal seseorang dari mereka bila mendapat anak perempuan, wajahnya langsung tampak hitam dan sedih, ia bersembunyi dari pandangan kaumnya karena memperoleh berita yang dianggapnya buruk (mendapat anak perempuan).
Kemudian ia berpikir apakah ia harus tetap memeliharanya dengan menanggung kehinaan, ataukah ia harus menguburkan anaknya itu ke dalam tanah.
Jelasnya mereka menolak anak perempuan, tetapi mereka menganggap para malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah.
Mereka menisbatkan kepada Allah apa yang mereka sendiri tidak menyukainya.
Ini merupakan tingkatan kekafiran yang paling berat.

Begitu pula dalam kedudukan ini, mereka menganggap Allah mempunyai sekutu-sekutu dari kalangan hamba-hamba-Nya juga merupakan makhluk-Nya.
Padahal seseorang dari mereka menolak dengan tolakan yang keras bila hal seperti itu terjadi pada diri mereka, yaitu bila budak miliknya ikut bersekutu dengannya secara sama rata dalam menggunakan hartanya.
Seandainya dia suka, tentulah dia berbagi harta dengan budaknya itu.
dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.
(Al Israa’:43)

ImamTabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mahmud ibnul Farj Al-Asbahani, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Amr Al-Bajali, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Syu’aib, dari Habib ibnu Abu Sabit, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu orang-orang musyrik mengucapkan talbiyah mereka sebagai berikut, ‘Ya Allah, kupenuhi seruan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu, sedangkan dia tidak memiliki.” Maka Allah menurunkan firman-Nya: Apakah ada di antara hamba sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu, maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri?
(Ar Ruum:28)

Mengingat peringatan melalui perumpamaan ini sudah jelas membuktikan kebersihan dan kesucian Allah subhanahu wa ta’ala dari hal tersebut, maka terlebih lagi bila hal seperti itu dinisbatkan kepada-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal.
(Ar Ruum:28)


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ar Rum (30) Ayat 28

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Diriwayatkan oleh Juwaibir dari Dawud bin Abi Hind, dari Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali, yang bersumber dari bapaknya, bahwa ahli syirik bertalbiyah dengan ucapan, “Allaahumma labbaika lbbaika laa syariika laka illaa syriikan huwa laka tamlikuhu wa maa malak (Ya Allah , aku menyambut panggilan-MU, aku menyambut panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kecuali satu sekutu yang dimiliki oleh-Mu dan oleh sekutu itu).
Maka turunlah ayat ini sebagai teguran atas kemusyrikan mereka.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Ar Rum (الروم)
Surat Ar Ruum yang terdiri atas 60 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah diturun­kan sesudah ayat Al Insyiqaaq.

Dinamakan Ar Ruum karena pada permulaan surat ini, yaitu ayat 2, 3 dan 4 terdapat pemberitaan bangsa Rumawi yang pada mulanya dikalahkan oleh bangsa Persia, tetapi setelah beberapa tahun kemudian kerajaan Ruum dapat menuntut balas dan mengalahkan kerajaan Persia kembali.

Ini adalah salah satu dari mu’jizat Al Qur’an, yaitu memberitakan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Dan juga suatu isyarat bahwa kaum muslimin yang demikian lemah­nya di waktu itu akan menang dan dapat menghancurkan kaum musyrikin.
Isyarat ini terbukti pertama kali pada perang Badar.

Keimanan:

Bukti-bukti atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ dengan memberitahukan kepada­nya hal yang ghaib seperti menangnya kembali bangsa Rumawi atas kerajaan Persia
bukti-bukti ke-Esaan Allah yang terdapat pada alam sebagai makhluk-Nya dan kejadian-kejadian pada alam itu sendiri
bukti-bukti atas kebenaran adanya hari berbangkit
contoh-contoh dan perumpamaanyang menjelaskan bahwa berhala­ berhala dan sembahan-sembahan itu tidak dapat menolong dan memberi manfa’at kepada penyembah-penyembahnya sedikitpun.

Hukum:

Kewajiban menyembah Allah dan mengakui ke-EsaanNya karena hal itu sesuai dengan fitrah manusia
kewajiban berda’wah
kewajiban memberikan nafkah (sedekah) kepada kaum kerabat, fakir miskin, rnusafir dan sebagainya
larangan mengikuti orang musyrik
hukum riba.

Kisah:

Pemberitaan tentang bangsa Rumawi sebagai suatu umat yang beragama walaupun dikalahkan pada mulanya oleh kerajaan Persia yang menyembah api akhirnya dapat menang kembali.

Lain-lain:

Manusia umumnya bersifat gembira dan bangga apabila mendapat nikmat dan ber­putus asa apabila ditimpa musibah, kecuali orang-orang yang beriman
kewajiban rasul hanya menyampaikan da’wah
kejadian-kejadian yang dialami oleh umat­ umat yang terdahulu patut menjadi i’tibar dan pelajaran bagi umat yang kemudian.

Ayat-ayat dalam Surah Ar Rum (60 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ar-Rum (30) ayat 28 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ar-Rum (30) ayat 28 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ar-Rum (30) ayat 28 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ar-Rum - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 60 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 30:28
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ar Rum.

Surah Ar-Rum (bahasa Arab: الرّوم) adalah surah ke-30 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 60 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sesudah surah Al-Insyiqaq.
Dinamakan Ar-Rum yang berarti Bangsa Romawi (Bizantium), karena pada permulaan surat ini, yakni ayat 2, 3 dan 4 (30:2-30:4) terdapat ramalan Al-Qur'an tentang kekalahan yang berlanjut dengan kebangkitan bangsa Romawi.

Nomor Surah30
Nama SurahAr Rum
Arabالروم
ArtiBangsa Romawi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu84
JuzJuz 21
Jumlah ruku'6 ruku'
Jumlah ayat60
Jumlah kata820
Jumlah huruf3472
Surah sebelumnyaSurah Al-'Ankabut
Surah selanjutnyaSurah Luqman
4.8
Ratingmu: 4.6 (14 orang)
Sending









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta