Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ar Rum

Ar Rum (Bangsa Romawi) surah 30 ayat 2


غُلِبَتِ الرُّوۡمُ ۙ
Ghulibatirruum(u);

Telah dikalahkan bangsa Rumawi,
―QS. 30:2
Topik ▪ Allah memiliki Sifat Masyi’ah (berkehendak)
30:2, 30 2, 30-2, Ar Rum 2, ArRum 2, Ar-Rum 2
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ar Rum (30) : 2. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa bangsa Romawi telah dikalahkan oleh bangsa Persia di negeri yang dekat dengan kota Mekah, yaitu negeri Syiria.
Beberapa tahun kemudian setelah mereka dikalahkan, maka bangsa Romawi akan mengalahkan bangsa Persia sebagai balasan atas kekalahan itu.

Yang dimaksud dengan bangsa Romawi dalam ayat ini ialah Kerajaan Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel, bukan kerajaan Romawi Barat yang berpusat di Roma.
Kerajaan Romawi Barat, jauh sebelum peristiwa yang diceritakan dalam ayat ini terjadi, sudah roboh, yaitu pada tahun 476 Masehi.
Bangsa Romawi beragama Nasrani (Ahli Kitab), sedang bangsa Persia beragama Majusi (musyrik).

Ayat ini merupakan sebagian dari ayat-ayat yang memberitakan hal-hal yang gaib yang menunjukkan kemukjizatan Alquran.
Dalam ayat ini diterangkan sesuatu peristiwa yang terjadi pada bangsa Romawi.
Pada saat ketika bangsa Romawi dikalahkan bangsa Persia, maka turunlah ayat ini yang menerangkan bahwa pada saat ini bangsa Romawi dikalahkan, tetapi kekalahan itu tidak akan lama dideritanya.
Tidak lama lagi, hanya dalam beberapa tahun saja, orang-orang Persia pasti dikalahkan oleh orang Romawi.
Kekalahan bangsa Romawi ini terjadi sebelum Nabi Muhammad ﷺ berhijrah ke Madinah.
Mendengar berita kekalahan bangsa Romawi ini orang-orang musyrik Mekah bergembira, sedang orang-orang yang beriman beserta Nabi bersedih hati.
Sebagaimana diketahui bahwa bangsa Persia beragama Majusi, menyembah api, jadi mereka memperserikatkan Tuhan.
Orang-orang Mekah juga mempersekutukan Tuhan (musyrik) dengan menyembah berhala.
Oleh karena itu mereka merasa agama mereka dekat dengan agama bangsa Persia, karena sama-sama mempersekutukan Tuhan.
Kaum Muslimin merasa agama mereka dekat dengan agama Nasrani, karena mereka sama-sama menganut agama Samawi.
Karena itu kaum musyrik Mekah bergembira atas kemenangan itu, sebagai kemenangan agama politheisme yang mempercayai "banyak Tuhan",
atas agama Samawi yang menganut agama Tauhid.
Sebaliknya kaum Muslimin waktu itu bersedih hati karena sikap menentang dari kaum musyrik Mekah semakin bertambah, mereka mencemoohkan kaum Muslimin dengan mengatakan bahwa dalam waktu dekat mereka akan hancur pula, sebagaimana hancurnya bangsa Romawi yang menganut agama Nasrani itu.
Kemudian turunlah ayat ini yang menerangkan bahwa bangsa Romawi yang kalah itu, akan mengalahkan bangsa Persia yang baru saja menang itu dalam waktu yang tidak lama, hanya dalam beberapa tahun lagi.

Diriwayatkan bahwa tatkala sampai berita kekalahan bangsa Romawi oleh bangsa Persia itu kepada Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya di Mekah, maka merekapun merasa sedih, karena kekalahan itu berarti kekalahan bangsa Romawi yang menganut agama Nasrani yang termasuk agama Samawi dan kemenangan bangsa Persia yang beragama Majusi yang termasuk agama syirik.
Orang-orang musyrik Mekah yang dalam keadaan bergembira itu menemui para sahabat Nabi dan berkata: "Sesungguhnya kamu adalah ahli kitab dan orang Nasrani juga ahli kitab, sesungguhnya saudara kami bangsa Persia yang bersama-sama menyembah berhala dengan kami telah mengalahkan saudara kamu itu.
Sesungguhnya jika kamu memerangi kami tentu kami akan mengalahkan kamu juga.
Maka turunlah ayat.
Maka keluarlah Abu Bakar menemui orang-orang musyrik, ia berkata: "Bergembirakah kamu karena kemenangan saudara-saudara kamu atas saudara saudara kami?
Janganlah kamu terlalu bergembira, demi Allah bangsa Romawi benar-benar akan mengalahkan bangsa Persia, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi kami".
Maka berdirilah Ubay bin Khalaf menghadap Abu Bakar dan ia berkata: "Engkau berdusta".
Abu Bakar menjawab: "Engkaulah yang paling berdusta hai musuh Allah.
Maukah kamu bertaruh (Bertaruh semacam judi.
Waktu Abu Bakar mengajak Ubay bin Khalaf bertaruh itu, judi belum diharamkan, judi diharamkan setelah Rasulullah hijrah ke Madinah) denganku sepuluh ekor unta muda.
Jika bangsa Romawi menang dalam waktu tiga tahun yang akan datang, engkau berutang kepadaku sepuluh ekor unta muda, sebaliknya jika bangsa Romawi kalah, maka aku berutang kepadamu sebanyak itu pula".
Tantangan bertaruh itu diterima oleh Ubay.
Kemudian Abu Bakar menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ Rasulullah ﷺ menjawab : "Tambahlah jumlah taruhan itu dan perpanjanglah waktu menunggu".
Maka Abu Bakarpun pergi, lalu bertemu dengan Ubay.
Maka Ubay berkata kepadanya: "Barangkali engkau menyesal dengan taruhan itu".
Abu Bakar menjawab: "Aku tidak menyesal sedikitpun, marilah kita tambah jumlahnya dan diperpanjang waktunya sehingga menjadi seratus ekor unta muda, dan waktunya sampai sembilan tahun".
Ubay menerima tantangan Abu Bakar, sesuai dengan anjuran Rasulullah kepada Abu Bakar.
Tatkala Abu Bakar akan hijrah ke Madinah, Ubay minta jaminan atas taruhan itu, seandainya bangsa Romawi dikalahkan nanti.
Maka Abdurrahman putra Abu Bakar menjaminnya.
Tatkala Ubay akan berangkat ke perang Uhud, Abdurrahman minta jaminan kepadanya, seandainya bangsa Persia dikalahkan nanti, maka Abdullah putra Ubay menjaminnya.
Tujuh tahun setelah pertaruhan itu bangsa Romawi mengalahkan bangsa Persia dan Abu Bakar menerima kemenangan taruhannya dari ahli warisnya Ubay karena dia mati dalam peperangan Uhud tersebut.
Kemudian beliau pergi menyampaikan hal itu kepada Rasulullah ﷺ".
(H.R.
Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Baihaqi)

Sejarah mencatat bahwa tahun 622 Masehi, yaitu setelah tujuh atau delapan tahun kekalahan bangsa Romawi dari bangsa Persia itu, mulailah peperangan baru antara kedua bangsa itu untuk kedua kalinya.
Pada permulaan terjadinya peperangan itu telah nampak tanda-tamda kemenangan bangsa Romawi.
Sekalipun demikian, ketika sampai kepada kaum musyrik Mekah berita peperangan itu, mereka masih mengharapkan kemenangan berada di pihak Persia.
Karena itu Ubay bin Khalaf ketika mengetahui hijrahnya Abu Bakar ke Madinah, ia minta agar putra Abu Bakar, yaitu Abdurrahman menjamin taruhan ayahnya, jika Persia pasti menang.
Hal ini diterima oleh Abdurrahman.

Pada tahun 624 Masehi, terjadilah perang Uhud.
Ketika Ubay bin Khalaf hendak pergi berperang memerangi kaum Muslimin.
Abdurrahman melarangnya, kecuali jika putranya menjamin membayar taruhannya, jika bangsa Romawi menang, maka Abdullah bin Ubay putranya menerima untuk menjaminnya.

Jika melihat berita di atas, maka ada kemungkinannya sebagai berikut Kemungkinan pertama ialah pada tahun 622 Masehi perang antara Romawi dan Persia itu telah berakhir dengan kemenangan Romawi, karena hubungan yang sukar waktu itu, maka berita itu baru sampai ke Mekah setahun kemudian, sehingga Ubay minta jaminan waktu Abu Bakar hijrah, sebaliknya Abdurrahman minta jaminan pula waktu Ubay akan pergi ke peperangan Uhud.
Kemungkinan yang kedua ialah peperangan itu berlangsung dari tahun 622-624 Masehi, dan berakhir dengan kemenangan bangsa Romawi.

Dari peristiwa di atas dapat dikemukakan beberapa hal dan pelajaran yang perlu direnungkan dan diamalkan.

Pertama: Ada hubungan antara kemusyrikan dan kekafiran terhadap dakwah dan iman kepada Allah subhanahu wa ta'ala, sebagai sumber agama yang benar di segala tempat dan waktu.
Sekalipun negara-negara dahulu belum mempunyai sistem komunikasi yang rapi dan bangsanyapun belum mempunyai hubungan yang kuat seperti sekarang ini, namun antar bangsa-bangsa itu telah mempunyai hubungan batin antara bangsa-bangsa yang menganut agama yang bersumber dari Tuhan di satu pihak dengan bangsa-bangsa yang menganut agama yang tidak bersumber dari Tuhan pada pihak yang lain.
Orang-orang musyrik Mekah politheisme menganggap kemenangan bangsa Persia (politheisme) atas bangsa Romawi (Nasrani), sebagai kemenangan mereka juga, sedang kaum Muslimin merasakan kekalahan bangsa Romawi yang beragama Nasrani (samawi) sebagai kekalahan mereka pula, karena mereka masih merasakan agama mereka berasal dari sumber yang satu.
Hal ini merupakan suatu faktor yang nyata yang perlu diperhatikan kaum Muslimin dalam menyusun taktik dan strategi dalam berdakwah.

Kedua: Kepercayaan yang mutlak kepada janji dan ketetapan Allah.
Hal ini nampak pada ucapan-ucapan Abu Bakar yang penuh keyakinan tanpa ragu-ragu di waktu menetapkan jumlah taruhan dengan Ubay bin Khalaf.
Harga unta seratus ekor adalah sangat tinggi waktu itu, kalau tidak karena keyakinan akan kebenaran-kebenaran ayat-ayat Alquran yang ada di dalam hati Abu Bakar, tentulah beliau tidak akan berani mengadakan taruhan sebanyak itu, apalagi jika dibaca sejarah bangsa Romawi, mereka di saat kekalahannya itu dalam keadaan kucar-kacir.
Amat sukar diramalkan mereka sanggup mengalahkan bangsa Persia yang dalam keadaan kuat, hanya dalam tiga sampai sembilan tahun mendatang.
Keyakinan yang kuat seperti keyakinan Abu Bakar itu merupakan keyakinan kaum Muslimin, yang tidak dapat digoyahkan oleh apapun, sekalipun dalam bentuk siksaan, ujian, penderitaan, pemboikotan dan sebagainya.
Hal ini merupakan modal utama bagi kaum Muslimin menghadapi jihad yang memerlukan waktu yang lama di masa yang akan datang.
Jika kaum Muslimin mempunyai keyakinan berusaha seperti kaum Muslimin di masa Rasulullah, pasti pula Allah mendatangkan kemenangan kepada mereka.

Ketiga: Urusan sebelum dan sesudah terjadinya suatu peristiwa adalah urusan Allah, tidak seorangpun yang dapat mencampurinya.
Allah-lah yang menentukan segalanya sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan-Nya.
Hal ini berarti bahwa kaum Muslimin harus mengembalikan segala urusan kepada Allah saja, baik dalam kejadian seperti di atas, maupun pada kejadian dan peristiwa yang merupakan keseimbangan antara situasi dan keadaan.
Kemenangan dan kekalahan, kemajuan dan kemunduran suatu bangsa, demikian pula kelemahan dan kekuatannya yang terjadi di bumi ini, semuanya kembali kepada Allah.
Dia berbuat menurut kehendak-Nya.
Semua yang terjadi bertitik tolak kepada kehendak Zat yang mutlak itu.
Jadi berserah diri dan menerima semua yang telah ditentukan Allah adalah sifat yang harus dipunyai oleh seorang mukmin.
Hal ini bukanlah berarti bahwa usaha manusia, tidak ada harganya sedikitpun, tetapi usaha manusia merupakan syarat berhasilnya suatu pekerjaan.
Dalam suatu hadis diriwayatkan bahwa seorang Arab Badui melepaskan untanya di muka pintu mesjid Rasulullah, kemudian ia masuk ke mesjid, sambil berkata: "Aku bertawakkal kepada Allah, lalu Nabi bersabda:

Ikatkanlah unta itu sesudah itu baru engkau bertawakkal.
(H.R.
Tirmizi dari Anas bin Malik)

Berdasarkan hadis ini, seorang muslim disuruh berusaha sekuat tenaga, kemudian ia berserah diri kepada Allah tentang hasil usahanya itu.

Akhir ayat ini menerangkan bahwa kaum Muslimin bergembira ketika mendengar berita kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia itu.
Mereka bergembira itu adalah karena:

1.
Mereka telah dapat membuktikan kepada kaum musyrikin Mekah atas kebenaran berita-berita yang ada dalam ayat Alquran.

2.
Kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia itu, merupakan kemenangan agama Samawi atas agama ciptaan manusia (agama yang dianut oleh kaum Muslimin termasuk bangsa Romawi).

3.
Kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia ini mengisyaratkan kemenangan kaum Muslimin atas orang-orang kafir Mekah dalam waktu yang tidak lama lagi.
5) karena pertolongan Allah.
Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang

Ar Rum (30) ayat 2 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ar Rum (30) ayat 2 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ar Rum (30) ayat 2 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Persia mengalahkan Romawi pada tempat terdekat dengan orang-orang Arab, yaitu perbatasan Syam.
Setelah kekalahan ini, mereka akan mengalahkan Persia.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Telah dikalahkan bangsa Romawi) mereka adalah ahli kitab yang dikalahkan oleh kerajaan Persia yang bukan ahli kitab, bahkan orang-orang Persia itu penyembah berhala.
Dengan adanya berita ini bergembiralah orang-orang kafir Mekah, kemudian mereka mengatakan kepada kaum Muslimin, "Kami pasti akan mengalahkan kalian, sebagaimana kerajaan Persia telah mengalahkan kerajaan Romawi."

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Persia mengalahkan romawi di bagian negeri Syam yang paling dekat kepada Persia,

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ayat-ayat ini diturunkan ketika Sabur (Raja Persia) berhasil mengalahkan tentara Romawi dan berhasil merebut negeri-negeri Syam serta bagian lainnya yang termasuk ke dalam wilayah kerajaan Romawi dari tanah Jazirah Arabia, juga sebagian besar wilayah kerajaan Romawi, sehingga Kaisar Romawi Heraklius terpaksa mundur dan mengungsi ke kota Konstantinopel.
Ia dikepung oleh Raja Sabur dan bala tentaranya di kota Konstantinopel dalam waktu yang cukup lama, tetapi pada akhirnya kawasan kerajaan Romawi berhasil direbut kembali oleh Heraklius dari tangan orang-orang Persia, sebagaimana yang akan dijelaskan berikutnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muawiyah ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, dari Sufyan As-Sauri, dari Habib ibnu Abu Umrah, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
yang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Alif Lam Mim.
Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat.
(Ar Ruum:1-3) Yakni dikalahkan dan dikalahkan.
Ibnu Abbas menceritakan bahwa dahulu orang-orang musyrik merasa suka bila orang-orang Persia beroleh kemenangan atas orang-orang Romawi, karena orang-orang Persia adalah penyembah berhala sama dengan mereka.
Sedangkan kaum muslim merasa suka bila orang-orang Romawi beroleh kemenangan atas orang-orang Persia, karena orang-orang Romawi adalah Ahli Kitab sama dengan mereka.
Kemudian Abu Bakar menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ Maka beliau ﷺ bersabda: Ingatlah, sesungguhnya mereka (orang-orang Romawi) akan beroleh kemenangan.
Lalu Abu Bakar menceritakan hal tersebut kepada orang-orang Musyrik.
Maka mereka berkata, "Marilah kita menentukan batas waktunya antara kami dan kamu.
Jika tebakan kami tepat, maka kami mendapat anu dan anu, dan jika tebakanmu tepat, kamu beroleh anu dan anu." Maka masa yang ditentukan oleh Abu Bakar adalah lima tahun, dan ternyata pasukan Romawi tidak mengalami kemenangan.
Lalu Abu Bakar menceritakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Mengapa tidak engkau jadikan masa itu di bawah sepuluh tahun (di atas lima tahun)?"
Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa masa itu di bawah sepuluh tahun, kemudian barulah orang-orang Romawi beroleh kemenangan.
Sa'id ibnu Jubair mengatakan, bahwa itulah yang dimaksud oleh firman-Nya: Alif Lam Mim.
Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang.
(Ar Ruum:1-3) sampai dengan firman-Nya: Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
(Ar Ruum:5)

Hadis lain, Sulaiman ibnu Marhan Al-A'masy telah meriwayatkan dari Muslim, dari Masruq yang telah menceritakan bahwa Abdullah pernah berkata, "Ada lima perkara yang telah berlalu, yaitu asap, azab, pem­balasan, rembulan, dan Romawi." Diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', telah menceritakan kepada kami Al-Muharibi, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Amir Asy-Sya'bi, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a.
yang telah mengatakan bahwa dahulu bangsa Persia beroleh kemenangan atas bangsa Romawi, dan orang-orang musyrik merasa senang bila bangsa Persia menang atas bangsa Romawi.
Sedangkan kaum muslim merasa senang bila bangsa Romawi beroleh kemenangan atas bangsa Persia, karena bangsa Romawi adalah Ahli Kitab yang kaum muslim lebih dekat kepada mereka dalam hal agama daripada bangsa Persia yang Wasani.
Ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya: Alif Lam Mim.
Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun lagi.
(Ar Ruum:1-4) Mereka (kaum musyrik) mengatakan, "Hai Abu Bakar, sesungguhnya temanmu telah mengatakan bahwa bangsa Romawi akan beroleh kemenangan atas bangsa Persia dalam masa beberapa tahun mendatang." Abu Bakar menjawab, "Benar." Mereka berkata, "Maukah kamu bertaruh dengan kami?"
Maka mereka sepakat dengan Abu Bakar menjadikan taruhannya empat ekor unta dengan jarak masa tujuh tahun.
Ternyata setelah berlalu masa tujuh tahun tidak terjadi sesuatu apa pun, maka orang-orang musyrik pun bergembira dengan hal tersebut, sehingga kaum muslim merasa berat atas kekalahannya.
Kemudian hal tersebut diceritakan kepada Nabi ﷺ Maka Nabi ﷺ bersabda: "Apakah pengertian beberapa tahun di kalangan kalian?” Mereka menjawab, "Di bawah sepuluh tahun.” Nabi ﷺ bersabda, "Pergilah dan tantanglah mereka untuk bertaruh lagi dan tambahlah masanya dua tahun lagi.” Abdullah ibnu Mas'ud melanjutkan kisahnya, bahwa belum lagi masa dua tahun habis, datanglah kafilah yang membawa berita tentang kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia.
Maka kaum mukmin bergembira dengan berita tersebut, dan Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya: Alif Lam Mim.
Telah dikalahkan bangsa Romawi.
(Ar Ruum:1-2) sampai dengan firman-Nya: (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah.
Allah tidak akan menyalahi janji-Nya.
(Ar Ruum:6)

Berikutnya kita akan membahas tentang ayat-ayat yang mulia ini.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Alif Lam Mim.
Telah dikalahkan bangsa Romawi.
(Ar Ruum:1-2)

Dalam pembahasan terdahulu telah dijelaskan huruf-huruf hijaiyah yang mengawali kebanyakan surat-surat Al-Qur'an di dalam tafsir surat Al-Baqarah.

Bangsa Romawi berasal dari keturunan Al-Isa ibnu Ishaq ibnu Ibrahim 'alaihis salam, mereka adalah anak-anak paman Bani Israil, dan dikenal dengan nama "orang-orang yang berkulit kuning (putih)." Mereka pada mulanya berpegang kepada agama orang-orang Yunani.
Bangsa Yunani berasal dari keturunan Yafis ibnu Nuh, anak-anak paman nenek moyang bangsa Turki.
Mereka menyembah bintang-bintang yang beredar yang jumlahnya ada tujuh buah, dikenal pula dengan sebutan “al-mutahayyirah." Salat mereka menghadap ke arah utara, merekalah orang-orang yang membangun kota Dimasyq dan membangun kuil-kuilnya, yang di dalamnya terdapat mihrab-mihrab yang menghadap ke arah utara.
Orang-orang Romawi pada mulanya memeluk agama mereka sampai dengan masa diutus-Nya Al-Masih, yakni tiga ratus tahun kemudian.

Raja dari kalangan mereka yang berhasil menguasai seluruh kawasan negeri Syam bersama Jazirah Arabia disebut dengan julukan kaisar.
Raja pertama yang memeluk agama Nasrani dari kalangan raja-raja Romawi adalah Konstantin ibnu Qastus.
Ibunya bernama Maryam Al-Hailaniyah Al-Gandaqiyah dari tanah Haran.
Pada mulanya dialah yang lebih dahulu masuk agama Nasrani, lalu mengajak anaknya untuk memeluk agama Nasrani.
Semula Kaisar Romawi adalah seorang ahli filsafat, akhirnya ia mengikuti ajakan ibunya.

Menurut suatu pendapat, ia mau masuk Nasrani hanya semata-mata karena alasan diplomatis, dan akhirnya orang-orang Nasrani tunduk patuh kepadanya serta sepakat mendukungnya.
Di masa pemerintahannya mereka berdebat dengan Abdullah ibnu Arius, lalu mereka berselisih pendapat dengan perselisihan yang banyak.
Pendapat mereka bermacam-macam, dan berpecah belahlah mereka menjadi banyak golongan dan aliran.

Hanya ada sebagian dari mereka yang terdiri dari 318 orang uskup bersatu dan sepakat di antara sesama mereka.
Selanjutnya mereka membuat-buat akidah untuk diserahkan kepada Kaisar Konstantin.
Hal ini mereka sebut dengan istilah "Amanat yang besar," padahal sesungguhnya hal tersebut tiada lain merupakan pengkhianatan yang rendah.

Mereka membuat undang-undang buat Konstantin berupa hukum-hukum yang menyangkut masalah halal dan haram serta hal-hal lainnya yang diperlukan oleh golongan mereka.
Akhirnya mereka mengubah agama Al-Masih Isa 'alaihis salam dan melakukan penambahan serta pengurangan padanya.
Mereka salat menghadap ke arah timur dan mengganti hari Sabtu dengan hari Ahad.
Mereka menyembah salib, menghalalkan babi, dan membuat-buat hari perayaan yang mereka ada-adakan —seperti hari raya salib, hari raya kudus, dan lain sebagainya—yang merupakan buat-buatan mereka sendiri.

Kemudian mereka mengangkat buat Konstantin seorang paulus yang merupakan pemimpin agama mereka, lalu patrik, lalu kardinal, lalu uskup dan pendeta.
Mereka membuat-buat ruhbaniyah (kerahiban).

Sedangkan kaisar sendiri membangun untuk mereka gereja-gereja dan tempat-tempat peribadatan, lalu membangun sebuah kota yang namanya dinisbatkan kepada namanya sendiri, yaitu Konstantinopel.
Menurut suatu pendapat, di masa pemerintahannya dia membangun sepuluh ribu gereja dan membangun Baitul Lahm dengan memiliki tiga mihrab, sedangkan ibunya membangun Al-Qumamah.

Mereka yang telah disebutkan di atas menamakan dirinya dengan sebutan Mulkiyah, yakni orang-orang yang sealiran dengan agama raja.

Setelah itu muncul sekte baru yang disebut dengan Ya'qubiyah, yaitu pengikut Ya'qub seorang uskup, kemudian muncul pula sekte Nustur pengikut Nustur.
Mereka menjadi beberapa sekte dan golongan yang banyak jumlahnya, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ:

Sesungguhnya mereka berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan.

Kesimpulannya ialah mereka tetap berpegang pada agama Nasrani.
Setiap kali Kaisar meninggal dunia, kedudukannya diganti oleh penggantinya hingga kaisar yang terakhir bernama Heraklius.
Dia adalah seorang cendekiawan, raja yang berwibawa, paling luas wawasannya, serta paling jitu pendapatnya.
Di bawah kepemimpinannya kekaisaran Romawi mencapai masa keemasannya sehingga sebanding dengan kerajaan Persia.
.

Kisra (Raja Persia) menguasai banyak negeri yang luas, seperti Irak, Khurrasan, Ray, dan negeri-negeri lainnya yang bukan bangsa Arab penduduknya.
Nama Raja Persia saat itu adalah Sabur yang dijuluki dengan nama Zul Aktaf.
Kerajaan Persia jauh lebih besar daripada kerajaan Romawi, tampuk kepemimpinan orang-orang 'Ajam dan bangsa Persia berada di tangan kekuasaannya, mereka adalah penyembah api.

Dalam riwayat yang bersumber dari Ikrimah telah disebutkan bahwa Kisra mengirimkan para pembantunya dan pasukannya untuk memerangi Kaisar Romawi.
Tetapi menurut pendapat yang terkenal, Kisra sendirilah yang memerangi Kaisar Romawi dan negerinya sehingga berhasil mengalahkan kaisar dan memukul mundur pasukannya, dan kaisar terpaksa berlindung di dalam benteng ibu kota negerinya, yaitu Konstantinopel.

Kisra mengepung kota Konstantinopel dalam waktu yang cukup lama sehingga membosankannya.
Orang-orang Nasrani sangat mengagungkan kota Konstantinopel, sedangkan Kisra tidak mampu menaklukkan kota tersebut karena bentengnya yang sangat kuat dan letaknya sangat strategis.

Demikian itu karena bagian muka benteng Konstantinopel menghadap ke daratan, sedangkan bagian belakangnya menghadap ke laut.
Semua perbekalan dan bahan makanan datang ke Konstantinopel dari arah laut.

Setelah pengepungan itu berlangsung cukup lama, Kisra me­rencanakan tipu muslihat yang telah ia pikirkan dengan masak-masak sebelumnya.
Untuk itu ia meminta kepada Kisra agar pergi dari negerinya dengan imbalan sejumlah harta yang disetujui oleh Kisra dengan syarat bahwa pihak kaisar diperbolehkan mengajukan persyaratan menurut apa yang disukainya.
Permintaan kaisar disetujui oleh Kisra, lalu Kisra meminta harta yang banyak sekali jumlahnya kepada kaisar sehingga tiada seorang raja pun di dunia ini yang mampu memenuhinya.
Harta tersebut berupa emas, perhiasan, pakaian, pelayan-pelayan wanita dan pria, serta berbagai macam permintaan lainnya.
Semuanya itu disetujui oleh kaisar, dan kaisar memberikan jaminan dengan pura-pura bahwa semua yang diminta oleh Kisra itu dimilikinya.
Sedangkan kenyataannya ketika Kisra mengajukan apa yang dia minta itu, dalam benak kaisar terbayangkan bahwa seandainya dia dan Kisra mengumpulkan semua harta kekayaannya, tentulah tidak akan mencapai sepersepuluh dari apa yang diminta oleh Kisra.

Kaisar meminta kepada Kisra untuk memberinya kesempatan keluar dari benteng menuju negeri Syam dan kawasan-kawasan kerajaan Romawi lainnya dengan alasan akan menghimpun dana tersebut dari harta simpanannya yang terdapat di daerah-daerah tersebut.

Kisra memberinya izin untuk keluar dari benteng.
Ketika kaisar telah siap untuk keluar dari benteng Konstantinopel, terlebih dahulu ia mengumpulkan semua orang yang seagama dengannya, lalu berkata, "Sesungguhnya aku akan keluar untuk melakukan apa yang telah kurencanakan sebelumnya dengan membawa sejumlah pasukan yang telah terlatih.
Jika aku dapat kembali kepada kalian sebelum masa satu tahun, berarti aku masih tetap menjadi raja kalian.
Tetapi jika aku tidak kembali kepada kalian sesudahnya, maka kalian boleh memilih: Jika kalian suka, boleh tetap menjadikanku sebagai raja kalian, dan jika kalian lebih suka memilih selainku, aku persilakan." Maka mereka menjawab bahwa mereka tetap berbaiat kepada Konstantin sebagai raja mereka seumur hidup, sekalipun ia pergi meninggalkan mereka selama sepuluh tahun.

Ketika Kaisar Konstantin keluar dari bentengnya, ia diiringi oleh sejumlah pasukannya.
Sedangkan Kisra saat itu berkemah di Konstantinopel bersama pasukannya menunggu kedatangan kaisar kembali ke Konstantinopel.

Setelah mendapat kesempatan itu kaisar segera membawa pasukannya bergerak cepat menuju negeri Persia.
Sesampainya di negeri Persia, ia dan pasukannya membuat kerusakan padanya dan membunuhi para penduduknya yang laki-laki dan bala tentara Persia yang tertinggal.
Dia terus melakukan pembunuhan sepanjang jalan yang dilaluinya hingga sampailah di ibu kota kerajaan Persia.
Lalu ia membunuh semua orang yang ada padanya, merampas semua penghasilan serta harta bendanya, dan menahan kaum wanitanya, bahkan juga permaisuri Kisra.
Kemudian kaisar mencukur gundul anak Kisra dan menaikkannya di atas keledai, lalu mengirimkannya bersama sejumlah tawanan lainnya dalam keadaan sangat hina dan direndahkan ke Kisra dengan membawa pesan darinya, "Inilah yang kamu minta, silakan ambil."

Ketika berita tersebut sampai kepada Kisra, tiada yang dapat menggambarkan kesedihannya selain hanya Allah subhanahu wa ta'ala, dan amarahnya makin bertambah meluap terhadap ibu kota kerajaan Romawi.
Lalu ia melancarkan serangannya dengan semua kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, tetapi usahanya itu kandas dan sia-sia.

Setelah tidak mampu menjatuhkan benteng Konstantinopel, maka ia berangkat bersama pasukannya untuk mencegat kaisar dan pasukannya di celah Jaihun yang merupakan satu-satunya jalan bagi kaisar untuk mencapai Konstantinopel.

Kaisar mengetahui siasat itu, maka ia membuat tipu muslihat yang sangat hebat, belum pernah siasat itu dilakukan oleh seorang panglima perang pun.
Untuk itu ia menempatkan pasukannya dan semua perbekalan yang berhasil mereka peroleh dari rampasan perang di mulut celah Jaihun.
Kemudian ia memerintahkan kepada sebagian pasukannya untuk membawa makanan hewan kendaraan, kotoran serta isi perut hewan ternak.
Kemudian ia membawa pasukannya itu melalui jalan atas yang mendaki hingga sampai di tempat yang dekat dengan celah Jaihun kurang lebih jarak perjalanan satu hari.
Sesampainya di atas, ia memerintahkan kepada pasukannya untuk melemparkan semua beban yang mereka bawa ke dalam sungai (yang melalui celah Jaihun).

Ketika kotoran dan makanan ternak itu terbawa hanyut oleh arus Sungai Sam sampai di tempat Kisra, maka Kisra menduga bahwa pasukan yang dibawa kaisar melalui jalan atas.
Maka dengan segera ia memerintah­kan seluruh pasukannya bergerak mengejar mereka sehingga celah Jaihun kosong, tidak dijaga oleh pasukan Persia.

Kaisar kembali kepada induk pasukannya, lalu memerintahkan mereka untuk bergerak dan memasuki celah Jaihun dengan langkah yang cepat.
Akhirnya selamatlah kaisar dari kejaran Kisra dan pasukannya, lalu sampai di benteng Konstantinopel dengan selamat.

Kemudian hari itu dijadikan oleh orang-orang Nasrani sebagai hari raya.
Sedangkan Kisra dan pasukannya kebingungan, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Negeri-negeri kaisar tidak dapat mereka taklukkan, sementara negeri mereka sendiri telah dihancur-berantakkan oleh pasukan Romawi, semua kekayaan mereka telah diboyong ke kerajaan Romawi dan anak-anak mereka serta kaum wanita mereka telah dijadikan tawanan.

Demikianlah kisah kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia, dan peristiwa ini terjadi setelah berlalu masa sembilan tahun sejak kemenangan bangsa Persia atas bangsa Romawi.

Perang besar antara pasukan Romawi dan pasukan Persia —di mana pasukan Romawi mengalami kekalahan— terjadi di antara Azri'at dan Basra.
Demikianlah menurut apa yang disebutkan oleh Ibnu Abbas dan Ikrimah serta selain keduanya.
Tempat tersebut merupakan pinggiran negeri Syam yang berdekatan letaknya dengan negeri Hijaz.

Mujahid mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi di Jazirah, yaitu bagian kerajaan Romawi yang letaknya paling berdekatan dengan perbatasan negeri Persia.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia terjadi setelah sembilan tahun dari kekalahannya.
Hal ini diungkapkan oleh Al-Qur'an dengan kata-kata "beberapa tahun," yang menurut bahasa Arab pengertiannya menunjukkan antara tiga sampai sembilan.

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Ibnu Jarir serta selain keduanya melalui riwayat Abdullah ibnu Abdur Rahman Al-Jumahi, dari Az-Zuhri, dari Ubaidillah ibnu Abdullah Muhammad ibnu Abbas disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Bakar sehubungan dengan makna firman-Nya: Alif Lam Mim.
Telah dikalahkan bangsa Romawi.
(Ar Ruum:1-2), hingga beberapa ayat berikutnya.

"Hai Abu Bakar, mengapa engkau tidak hati-hati dalam mengambil keputusan?
Sesungguhnya pengertian beberapa tahun itu antara tiga sampai sembilan tahun."

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib bila ditinjau dari segi jalurnya.
Ibnu Jarir telah meriwayatkan hal yang semisal melalui Abdullah ibnu Amr, kemudian ia mengatakan hal yang semisal dengan apa yang dikatakan oleh Imam Turmuzi.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ar Rum (30) Ayat 2

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Abu Sa’id.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Mas’ud, bahwa bersamaan dengan terjadinya perang Badr, bangsa Romawi (Nasrani) berhasil mengalahkan Persia (Majusi).
Kaum Muslimin merasa kagum dan gembira akan kemenangan tersebut.
Maka turunlah ayat ini (ar-Ruum: 1-5) berkenaan dengan peristiwa tersebut –dengan catatan, kata ghulibat (artinya: dikalahkan) dibaca ghalabat (mengalahkan/menang).

Menurut at-Tarmidzi, hadits ini gharib.
Hadits ini menunjukkan bahwa ayat tersebut (ar-Ruum: 1-5) adalah Madaniyah.
Bandingkan dengan hadits selanjutnya, yang menunjukkan bahwa ayat tersebut adalah Makiyyah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Syihab.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah, Yahya bin Ya’mar, dan Qatadah, bahwa ketika kaum Muslimin belum hijrah ke Madinah, kaum musyrikin berkata dengan berapi-api: “Kami tahu bahwa orang-orang Romawi (ahli kitab yang percaya kepada Nabi Isa a.s) telah dikalahkan oleh kaum Majusi (penyembah api).
Dan kalian menganggap akan mengalahkan kami dengan alasan kalian beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Nabi kalian.
Bagaimana pandangan kalian sekarang, setelah kaum Majusi mengalahkan Romawi, padahal mereka itu (Romawi) itu ahli kitab.
Karenanya kamipun pasti dapat mengalahkan kalian sebagaimana Persia mengalahkan Romawi.” Maka turunlah ayat ini (ar-Ruum: 1-5) yang menegaskan bahwa setelah kekalahan itu, bangsa Romawi akan menang.

Ket: riwayat pertama, yang menyebutkan bacaan ghalabat (dengan fathah, artnya: mengalahkan/ menang) menegaskan bahwa ayat tersebut turun pada saat negara Romawi unggul bersama dengan unggulnya kaum Muslimin pada perang Badr.
Sedangkan riwayat kedua, yang menyebutkan bahwa bacaan ghulibat (dengan domah, artinya: dikalahkan), menegaskan bahwa ayat tersebut mengandung arti: “Persia menang atas Romawi, dan akan dikalahkan oleh kaum Muslimin.”

Berdasarkan hal di atas, kedua riwayat itu dapat dibenarkan.
Namun kalau tidak diartikan demikian, maka kedua riwayat itu tidak mempunyai arti yang penting.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Ar Rum (الروم)
Surat Ar Ruum yang terdiri atas 60 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah diturun­kan sesudah ayat Al Insyiqaaq.

Dinamakan Ar Ruum karena pada permulaan surat ini, yaitu ayat 2, 3 dan 4 terdapat pemberitaan bangsa Rumawi yang pada mulanya dikalahkan oleh bangsa Persia, tetapi setelah beberapa tahun kemudian kerajaan Ruum dapat menuntut balas dan mengalahkan kerajaan Persia kembali.

Ini adalah salah satu dari mu'jizat Al Qur'an, yaitu memberitakan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Dan juga suatu isyarat bahwa kaum muslimin yang demikian lemah­nya di waktu itu akan menang dan dapat menghancurkan kaum musyrikin.
Isyarat ini terbukti pertama kali pada perang Badar.

Keimanan:

Bukti-bukti atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ dengan memberitahukan kepada­nya hal yang ghaib seperti menangnya kembali bangsa Rumawi atas kerajaan Persia
bukti-bukti ke-Esaan Allah yang terdapat pada alam sebagai makhluk-Nya dan kejadian-kejadian pada alam itu sendiri
bukti-bukti atas kebenaran adanya hari berbangkit
contoh-contoh dan perumpamaanyang menjelaskan bahwa berhala­ berhala dan sembahan-sembahan itu tidak dapat menolong dan memberi manfa'at kepada penyembah-penyembahnya sedikitpun.

Hukum:

Kewajiban menyembah Allah dan mengakui ke-EsaanNya karena hal itu sesuai dengan fitrah manusia
kewajiban berda'wah
kewajiban memberikan nafkah (sedekah) kepada kaum kerabat, fakir miskin, rnusafir dan sebagainya
larangan mengikuti orang musyrik
hukum riba.

Kisah:

Pemberitaan tentang bangsa Rumawi sebagai suatu umat yang beragama walaupun dikalahkan pada mulanya oleh kerajaan Persia yang menyembah api akhirnya dapat menang kembali.

Lain-lain:

Manusia umumnya bersifat gembira dan bangga apabila mendapat nikmat dan ber­putus asa apabila ditimpa musibah, kecuali orang-orang yang beriman
kewajiban rasul hanya menyampaikan da'wah
kejadian-kejadian yang dialami oleh umat­ umat yang terdahulu patut menjadi i'tibar dan pelajaran bagi umat yang kemudian.


Gambar Kutipan Surah Ar Rum Ayat 2 *beta

Surah Ar Rum Ayat 2



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ar Rum

Surah Ar-Rum (bahasa Arab: الرّوم) adalah surah ke-30 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 60 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sesudah surah Al-Insyiqaq.
Dinamakan Ar-Rum yang berarti Bangsa Romawi (Bizantium), karena pada permulaan surat ini, yakni ayat 2, 3 dan 4 (30:2-30:4) terdapat ramalan Al-Qur'an tentang kekalahan yang berlanjut dengan kebangkitan bangsa Romawi.

Nomor Surah30
Nama SurahAr Rum
Arabالروم
ArtiBangsa Romawi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu84
JuzJuz 21
Jumlah ruku'6 ruku'
Jumlah ayat60
Jumlah kata820
Jumlah huruf3472
Surah sebelumnyaSurah Al-'Ankabut
Surah selanjutnyaSurah Luqman
4.6
Rating Pembaca: 4.4 (16 votes)
Sending








[apsl-login-lite login_text='❤ Bookmark ayat ini?'] [bookmark]📖 Lihat Semua Bookmark-ku