QS. Ar Rum (Bangsa Romawi) – surah 30 ayat 18 [QS. 30:18]

وَ لَہُ الۡحَمۡدُ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ عَشِیًّا وَّ حِیۡنَ تُظۡہِرُوۡنَ
Walahul hamdu fiis-samaawaati wal ardhi wa’asyii-yan wahiina tuzhhiruun(a);

dan bagi-Nya-lah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur.
―QS. 30:18
Topik ▪ Tugas-tugas malaikat
30:18, 30 18, 30-18, Ar Rum 18, ArRum 18, Ar-Rum 18

Tafsir surah Ar Rum (30) ayat 18

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ar Rum (30) : 18. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam kedua ayat ini Allah memberi petunjuk kepada kaum mukmin untuk melepaskan mereka dari azab neraka dan memasukkau mereka ke dalam surga, yaitu dengan mensucikan-Nya dari segala sifat yang tidak layak.
bagi-Nya, memuji dan memuja-Nya serta menyebut nama-Nya dengan segala sifat-sifat yang baik dan terpuji.
Seakan-akan Allah subhanahu wa ta’ala berkata: Jika kamu telah mengetahui dengan pasti nasib kedua golongan itu, maka sucikanlah Dia di waktu malam dan siang, di waktu petang dan pagi.
Puji dan sucikanlah Tuhanmu dalam setiap waktu itu dengan hal-hal yang sesuai bagi-Nya.

Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tasbih (mensucikan Tuhan) di sini, ialah salat lima waktu diwajibkan kepada kaum Muslimin.
Lalu orang bertanya: “Dan lafaz apakah dipahamkan salat yang lima waktu itu?.
Jawabnya ialah perkataan: “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di malam hari, maksudnya ialah salat Magrib dan Isyak”.
Perkataan: “dan di waktu kamu berada di waktu Subuh”,
maksudnya salat subuh.
Perkataan: “dan di waktu kamu berada pada petang hari”,
maksudnya ialah salat Asar.
Dan perkataan: “dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur”.
yaitu salat Zuhur.

Tetapi Pahhak, Said bin Jabir, Ibnu Abbas dan Qatadah berpendapat bahwa kedua ayat tersebut di atas hanya merupakan isyarat akan empat salat yaitu salat mahrib, subuh.
asar dan zuhur.
Sedangkan salat isya’ (yang terakhir) tersebut pada ayat yang lain, Allah berfirman:

Dan pada bagian permulaan dari pada malam.
(Q.S.
Hud: 114)

Dan waktu mendirikan salat Isya’ ini juga terdapat dalam ayat lain, yang menyebutkan waktu-waktu terlarang (waktu-waktu salat), Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan sesudah salat Isya.
(Q.S.
An Nur: 58)

An-Nahhas seorang ahli tafsir juga berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut di atas berkenaan dengan salat-salat yang lima.
Beliau menunjang pendapat Ali bin Sulaiman yang berkata bahwa ayat itu ialah bertasbih kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam salat, sebab tasbih itu ada dalam salat-salat tersebut.

Marudi juga berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tasbih ialah salat.
Adapun mengenai penamaan salat dengan tasbih berasal dari dua segi.
Pertama karena dalam salat disebutkan tasbih itu berasal dari kata “sabhah” yang berarti salat.

Nabi bersabda:

Bagi mereka ada salat pada hari kiamat.
(Tafsir Qurtubi Jilid 14 hal.
15)

Iman Razi berpendapat bahwa tasbih itu berarti “penyucian”.
Arti yang diberikan beliau ini adalah lebih kuat dan lebih utama, sebab dalam penyucian itu termasuk salat.
Penyucian yang disuruh ialah:

1.
Pensucian hati, yaitu iktikad yang teguh.

2.
Penyucian lidah beserta hati, yaitu mengatakan yang baik-baik.

3.
Penyucian anggota tubuh beserta hati dan lidah , yaitu mengerjakan yang baik-baik (amal saleh).

Penyucian pertama di atas ialah pokok, sedang yang kedua adalah hasil yang pertama, dan ketiga adalah hasil dari yang kedua.
Sebab seorang manusia mempunyai iktikad yang baik yang timbul dari hatinya, hal itu tercermin dari tutur yang baik yang timbul dari hatinya, hal itu tercermin dari tutur katanya.
Apabila dia berkata maka kebenaran perkataannya itu akan jelas dalam tingkah laku dan segala perbuatannya.
Lidah adalah terjemahan dari hati.
dan perbuatan anggota tubuh terjemahan pula dari hati, dan perbuatan anggota tubuh merupakan terjemahan pula dari apa yang telah dikatakan lisan.
Tetapi salat adalah perbuatan anggota tubuh yang paling baik, termasuk dalamnya menyebut Tuhan dengan lisan, dan niat dengan hati, dan itulah pembersihan yang sebetulnya.
Apabila Tuhan berkata agar Dia disucikan (atau dibersihkan) maka wajib bagi kaum Muslimin untuk melaksanakan segala yang dianggap pantas untuk membersihkannya.

Suruhan menyucikan Allah subhanahu wa ta’ala itu tak lain dari pada suruhan melaksanakan salat.

Pendapat ini sesuai dengan tafsir ayat 15 di atas.
Sebab Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa kedudukan yang tinggi dan pahala yang paling sempurna akan diperoleh orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira.
(Q.S.
Ar Rum: 15)

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala berkata: Apabila telah diketahui bahwa surga itu suatu temapt bagi orang-orang yang beramal saleh, maka sucikanlah Tuhan itu dengan iman yang baik dalam hati dan Esakanlah Dia dengan lisan dan beramal salehlah dengan mempergunakan anggota tubuh.
Semuanya itu merupakan penyucian dan pemujian.
Bertasbihlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar kegembiraan di surga dan kesenangan yang dicita-citakan itu dapat tercapai.

Ayat “Dan bagi-Nya lah segala puji di langit dan di bumi”,
adalah kalimat sisipan.
Sedangkan sambungan ayat ini merupakan kalanjutan ayat 17 tersebut di atas.
Kalimat sisipan itu terletak di antara suruhan agar manusia bertasbih kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada waktu-waktu yang ditentukan itu adalah sebagai penegasan bagi manusia bahwa mereka bukan satu-satunya makhluk yang bertasbih kepada Allah, tetapi semua makhluk yang ada di langit dan di bumi juga bertasbih dengan memuji-Nya.

Hal ini jelas kelihatan dari ayat berikut ini:

Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.
(Q.S.
Al Isra’: 44)

Lagi pula dengan adanya kalimat sisipan seakan-akan Tuhan berkata kepada manusia: “Terangkanlah kepada mereka bahwa tasbih mereka itu kepada Allah adalah untuk kemanfaatan mereka seadiri, bukan untuk Allah kemanfaatannya.
Karena itu wajiblah atas mereka memuji Allah subhanahu wa ta’ala di kala mereka bertasbih kepada-Nya”.
Hat ini telah difirmankan Allah seperti tersebut dalam ayat berikut ini:

Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka.
Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan”.
(Q.S.
Al Hujurat: 17)

Para ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa maksud kalimat “Bagi-Nya segala puji “lahul hamd” ialah salat bagi-Nya Allah subhanahu wa ta’ala Dan ada pula yang berpendapat bahwa pujian-pujian bagi Allah itu adalah satu cara untuk meng Agungkan Allah subhanahu wa ta’ala dan mendorong manusia untuk beribadat kepada-Nya, karena abadinya nikmat-Nya kepada manusia.

Dalam kedua ayat ini, diutamakan menyebut waktu-waktu yang demikian ialah karena timbul tanda-tanda kekuasaan, keagungan dan rahmat Allah pada waktu-waktu tersebut itu.
Kemudian malam didahulukan menyebutnya dari pagi, karena menurut kalender Qamariah, malam dan kegelapan itu lebih dahulu dari pagi.
Permulaan tanggal itu dimulai setelah terbenam matahari.
Demikian pula halnya berkenaan dengan petang dan zuhur, yakni petang lebih dahulu terjadinya dari zuhur menurut kalender Qamariyah itu.

Selanjutnya soal kebaikan dalam ayat-ayat tersebut di atas, ada beberapa hadis yang mengatakan tentang kelebihan yang terkandung dalam kedua ayat tersebut.

Pertama ialah:

Rasulullah ﷺ telah bersabda.
“Inginkah kamu aku beritakan kepadamu: “Kenapa Allah subhanahu wa ta’ala menamakan Ibrahim as sebagai Khalil-Nya (teman-NYa) yang setia?.
Ialah karena ia membaca di waktu pagi dan petang, bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari di waktu subuh.
Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur”.
(H.R.
Imam Ahmad dan Ibnu Jarir)

Seterusnya Nabi bersabda:

Siapa yang mengatakan di waktu pagi:

hingga firman Tuhan

maka dia akan mendapatkan pahala dari apa yang tidak dapat dikerjakannya pada siang hari itu.
Dan siapa yang mengatakan di waktu petang, maka ia akan mendapatkan pahala dari yang tidak dapat dikerjakan di waktu malamnya.
(H.R.
Abu Daud dan Tabrani)

Dari kedua hadis tersebut di atas dapat diambil kesimpulan betapa pentingnya ayat-ayat 17 -18 di atas untuk dicamkan dan diamalkan oleh kaum Muslimin.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah semata yang berhak atas pujian dan ucapan syukur dari penghuni langit dan bumi.
Maka sembahlah Dia di malam hari, dan ketika kalian memasuki waktu siang.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi) kalimat ayat ini merupakan jumlah i’tiradh, maksudnya Dia dipuji oleh penduduk langit dan bumi (dan di waktu kalian berada pada petang hari) diathafkan kepada lafal hiina yang ada pada ayat sebelumnya, di dalam waktu ini terdapat salat Isyak (dan sewaktu kalian berada di waktu Zuhur) yakni di waktu kalian memasuki tengah hari, yang pada waktu itu terdapat salat Zuhur.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

di waktu petang dan siang hari, Bagi-Nya sanjungan dan pujian di lagit dan di bumi, siang dan malam.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah itu Allah menyinggung masalah tahmid yang erat kaitannya dengan tasbih, untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi.
(Ar Ruum:18)

Artinya, Dialah yang patut dipuji karena Dialah yang menciptakan langit dan bumi ini.
Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:

dan di waktu kamu berada di petang hari dan di waktu kamu berada di waktu lohor.
(Ar Ruum:18)

Al-‘isya artinya gelap yang pekat, dan iz-har artinya terangnya cahaya.
Mahasuci Allah yang telah menciptakan malam dan siang hari, Yang menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk istirahat, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya.
(Asy-Syams: 3-4)

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) dan siang apabila terang benderang.
(Al-Lail: 1-2)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi malam apabila telah sunyi.
(Ad-Duha: 1-2)

Ayat-ayat yang menerangkan hal ini cukup banyak.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Ziad ibnu Fayid, dari Sahl ibnu Mu’az ibnu Anas Al-Juhani, dari ayahnya, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Maukah aku ceritakan kepada kalian, mengapa Allah menamakan Ibrahim dengan sebutan kekasih-Nya yang selalu menyempurnakan janji?
(Dia disebut demikian) karena setiap pagi dan petang ia selalu mengucapkan, “Bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu lohor.”

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mutallib ibnu Syu’aib Al-Azdi, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh Al-Lais ibnu Sa’d, dari Sa’id ibnu Basyir, dari Muhammad ibnu Abdur Rahman ibnul Bailamani, dari ayahnya, dari Abdullah ibnu Abbas, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda, “Barang siapa di saat pagi hari mengucapkan doa berikut: ‘Bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu lohor’ (Ar Ruum:17-18) Maka dia dapat menutupi amal yang ia lewatkan di hari itu.
Dan barang siapa yang membacanya di petang hari, maka ia dapat menutupi apa yang ia lewatkan di malam harinya.”

Sanad hadis ini jayyid (baik), dan diriwayatkan juga oleh Imam Abu Daud di dalam kitab sunannya.


Informasi Surah Ar Rum (الروم)
Surat Ar Ruum yang terdiri atas 60 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah diturun­kan sesudah ayat Al Insyiqaaq.

Dinamakan Ar Ruum karena pada permulaan surat ini, yaitu ayat 2, 3 dan 4 terdapat pemberitaan bangsa Rumawi yang pada mulanya dikalahkan oleh bangsa Persia, tetapi setelah beberapa tahun kemudian kerajaan Ruum dapat menuntut balas dan mengalahkan kerajaan Persia kembali.

Ini adalah salah satu dari mu’jizat Al Qur’an, yaitu memberitakan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Dan juga suatu isyarat bahwa kaum muslimin yang demikian lemah­nya di waktu itu akan menang dan dapat menghancurkan kaum musyrikin.
Isyarat ini terbukti pertama kali pada perang Badar.

Keimanan:

Bukti-bukti atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ dengan memberitahukan kepada­nya hal yang ghaib seperti menangnya kembali bangsa Rumawi atas kerajaan Persia
bukti-bukti ke-Esaan Allah yang terdapat pada alam sebagai makhluk-Nya dan kejadian-kejadian pada alam itu sendiri
bukti-bukti atas kebenaran adanya hari berbangkit
contoh-contoh dan perumpamaanyang menjelaskan bahwa berhala­ berhala dan sembahan-sembahan itu tidak dapat menolong dan memberi manfa’at kepada penyembah-penyembahnya sedikitpun.

Hukum:

Kewajiban menyembah Allah dan mengakui ke-EsaanNya karena hal itu sesuai dengan fitrah manusia
kewajiban berda’wah
kewajiban memberikan nafkah (sedekah) kepada kaum kerabat, fakir miskin, rnusafir dan sebagainya
larangan mengikuti orang musyrik
hukum riba.

Kisah:

Pemberitaan tentang bangsa Rumawi sebagai suatu umat yang beragama walaupun dikalahkan pada mulanya oleh kerajaan Persia yang menyembah api akhirnya dapat menang kembali.

Lain-lain:

Manusia umumnya bersifat gembira dan bangga apabila mendapat nikmat dan ber­putus asa apabila ditimpa musibah, kecuali orang-orang yang beriman
kewajiban rasul hanya menyampaikan da’wah
kejadian-kejadian yang dialami oleh umat­ umat yang terdahulu patut menjadi i’tibar dan pelajaran bagi umat yang kemudian.

Ayat-ayat dalam Surah Ar Rum (60 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ar-Rum (30) ayat 18 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ar-Rum (30) ayat 18 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ar-Rum (30) ayat 18 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ar-Rum - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 60 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 30:18
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ar Rum.

Surah Ar-Rum (bahasa Arab: الرّوم) adalah surah ke-30 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 60 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini diturunkan sesudah surah Al-Insyiqaq.
Dinamakan Ar-Rum yang berarti Bangsa Romawi (Bizantium), karena pada permulaan surat ini, yakni ayat 2, 3 dan 4 (30:2-30:4) terdapat ramalan Al-Qur'an tentang kekalahan yang berlanjut dengan kebangkitan bangsa Romawi.

Nomor Surah30
Nama SurahAr Rum
Arabالروم
ArtiBangsa Romawi
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu84
JuzJuz 21
Jumlah ruku'6 ruku'
Jumlah ayat60
Jumlah kata820
Jumlah huruf3472
Surah sebelumnyaSurah Al-'Ankabut
Surah selanjutnyaSurah Luqman
4.4
Ratingmu: 4.4 (28 orang)
Sending









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  





Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta