Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ar Ra'd

Ar Ra’d (Guruh (petir)) surah 13 ayat 17


اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَسَالَتۡ اَوۡدِیَۃٌۢ بِقَدَرِہَا فَاحۡتَمَلَ السَّیۡلُ زَبَدًا رَّابِیًا ؕ وَ مِمَّا یُوۡقِدُوۡنَ عَلَیۡہِ فِی النَّارِ ابۡتِغَآءَ حِلۡیَۃٍ اَوۡ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثۡلُہٗ ؕ کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡحَقَّ وَ الۡبَاطِلَ ۬ؕ فَاَمَّا الزَّبَدُ فَیَذۡہَبُ جُفَآءً ۚ وَ اَمَّا مَا یَنۡفَعُ النَّاسَ فَیَمۡکُثُ فِی الۡاَرۡضِ ؕ کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ
Anzala minassamaa-i maa-an fasaalat audiyatun biqadarihaa faahtamalassailu zabadan raabiyan wamimmaa yuuqiduuna ‘alaihi fiinnaariibtighaa-a hilyatin au mataa’in zabadun mitsluhu kadzalika yadhribullahul haqqa wal baathila fa-ammaazzabadu fayadzhabu jufaa-an wa-ammaa maa yanfa’unnaasa fayamkutsu fiil ardhi kadzalika yadhribullahul amtsaal(a);

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang.
Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu.
Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil.
Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.
Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.
―QS. 13:17
Topik ▪ Tugas-tugas malaikat
13:17, 13 17, 13-17, Ar Ra’d 17, ArRad 17, Ar Rad 17, Ar-Ra’d 17
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ar Ra'd (13) : 17. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menurunkan air hujan dari langit yang mengandung awan, lalu mengalirkan air hujan itu di berbagai lembah yang lebar dan yang sempit sesuai dengan ukurannya.
Arus itu akan menimbulkan banyak buih di permukaannya yang merupakan gumpalan buih yang ikut bergerak dengan arus air dan banyak pula yang berserak-serak di sampingnya, sehingga bila ada angin kencang yang meniup, maka buih itu akan segera lenyap dari pandangan mata.
Itulah perumpamaan yang pertama yang dikemukakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala tentang kebenaran dan kebatilan dan tentang keimanan dan kekafiran.

Ar Ra'd (13) ayat 17 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ar Ra'd (13) ayat 17 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ar Ra'd (13) ayat 17 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Nikmat dan karunia Allah kepada kalian pun sungguh sangat jelas dan nyata, dan patung-patung kalian tidak mempunyai peran apa-apa tentang karunia-karunia itu.
Hanya Dialah yang menurunkan hujan dari awan hingga mengakibatkan sungai dan lembah dapat mengalirkan air.
Semua itu sesuai dengan ketentuan takdir yang telah ditetapkan Allah untuk dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan membuahkan pohon.
Sungai-sungai itu, ketika mengalirkan air, membawa benda-benda yang tak berguna yang mengapung di atas permukaannya, mengalir mengikuti arah air, sedangkan di dalamnya terdapat benda-benda yang dapat dimanfaatkan dan tidak lenyap.
Sementara benda yang tak berguna itu akan lenyap.
Demikian pula halnya dengan kebenaran dan kebatilan.
Yang pertama itu akan tetap, kekal dan tidak lenyap, sedangkan yang kedua akan lenyap.
Selain itu, di antara tambang yang kalian olah dengan menggunakan api, ada yang dapat kalian ambil sebagai perhiasan seperti emas dan perak, ada pula yang dapat kalian pergunakan sebagaimana peralatan seperti besi dan tembaga.
Ada juga yang tidak dapat dimanfaatkan, yang muncul di permukaan.
Nah, yang tidak dapat dimanfaatkan itu hanya akan terbuang, sedangkan yang dapat digunakan akan bertahan.
Demikian pula halnya dengan akidah dan kepercayaan.
Akidah yang sesat akan lenyap tak berarti, dan akidah yang benar akan tetap, tidak akan lenyap.
Dengan cara seperti ini Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan yang sebenarnya.
Allah mengumpamakan suatu dengan yang lainnya agar semuanya menjadi jelas[1].

[1] Allah menjelaskan dua hal yang mirip dengan kebenaran, yaitu air jernih dan tambang murni, yang dapat diambil kegunaannya, juga dua hal yang mirip dengan kebaikan, yaitu buih air dan buih tambang yang larut, yang tidak dapat diambil kegunaannya.
Dia menurunkan air hujan dari awan, lalu mengalirlah air lembah dan sungai dengan berbagai ukurannya, besar dan kecil.
Air yang mengalir itu menghanyutkan buih yang muncul di atas permukaan air yang disebut busa air.
Dari berbagai barang tambang yang dihasilkan orang melalui proses pembakaran seperti emas, perak, tembaga dan timah ada yang dapat dijadikan perhiasan atau peralatan seperti bejana.
Ada juga yang berupa sampah seperti sampah air yang mengapung di atas permukaan air.
Bagian barang tambang yang mengalir itu disebut khabits (limbah).
Dengan tamsil air dan limbahnya serta tambang dan limbahnya itu, Allah menerangkan kebenaran dan kebatilan.
Kebenaran diibaratkan sebagai air dan tambang yang jernih, sedangkan kebatilan diibaratkan sebagai limbah air dan limbah tambang yang tidak mungkin dapat dimanfaatkan dan akan lenyap dan terbuang.
Sedangkan air jernih dan tambang jernih yang dapat berguna untuk kepentingan manusia akan bertahan di dalam tanah agar dapat dimanfaatkan.
Dengan tamsil yang sangat jelas seperti itulah Allah selalu memperlihatkan kebaikan dan kejahatan kepada manusia.
Setelah menerangkan kebenaran dan kebatilan, Allah kemudian menerangkan orang yang mengikuti jalan yang benar dan jalan yang batil.
Orang-orang yang mengikuti jalan yang benar dengan selalu bersikap patuh akan memperoleh pahala dan kenikmatan surga di akhirat.
Sebaliknya, orang-orang yang lebih memilih jalan yang batil, meskipun mereka memiliki seluruh kekayaan dunia bahkan dua kali lebih banyak untuk menghindari siksaan Allah, tidak akan diterima.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Kemudian Allah membuat suatu perumpamaan mengenai perkara yang hak dan perkara yang batil untuk itu Dia berfirman:
(Allah telah menurunkan) Maha Tinggi Allah (air dari langit) yakni air hujan (maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya) sesuai dengan daya tampungnya (maka arus itu membawa buih yang mengembang) mengapung di atas air yang mengandung kotoran dan lain sebagainya.
(Dan dari apa yang mereka lebur) dapat dibaca tuuqiduuna dan yuuqiduuna (dalam api) yaitu berupa logam yang dikeluarkan dari dalam bumi, seperti emas, perak dan tembaga (untuk membuat) untuk dijadikan (perhiasan) barang perhiasan (atau alat-alat) perabot-perabot yang diperlukan, jika kesemuanya itu dilebur (ada pula buihnya) yakni sama seperti buih arus tadi, yaitu kotorannya kemudian kotoran itu dibuang oleh orang yang mencetaknya.
(Demikianlah) hal yang telah disebutkan itu (Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batil) perumpamaan mengenai keduanya.
(Adapun buih itu) buih arus itu dan kotoran barang logam yang dilebur (akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya) menjadi limbah yang dibuang (adapun yang memberi manfaat kepada manusia) yaitu air bersih dan inti logam (maka ia tetap) terkandung (di bumi) selama beberapa masa.
Demikianlah perumpamaan tentang hal yang batil, akan pudar dan lenyap, sekalipun dalam beberapa waktu dapat mengalahkan perkara yang hak.
Akan tetapi pada akhirnya perkara yang hak jugalah yang akan tetap tegak dan menang.
(Demikian) hal yang disebutkan itu (Allah menjelaskan) menerangkan (perumpamaan-perumpamaan).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kemudian Allah membuat perumpamaan untuk kebenaran dan kebatilan dengan hujan yang diturunkan maka mengalirlah air itu di lembah-lembah menurut ukuran kecil dan besarnya.
Arus itu membawa buih yang mengambang diatasnya tanpa ada manfaatnya.
Dia membuat perumpamaan lainnya, yaitu logam yang mereka bakar dengan api untuk meleburnya; untuk dijadikan perhiasan, sebagaimana dilakukan pada emas dan perak, atau untuk membuat barang-barang yang bisa mereka manfaatkan, sebagaimana yang dilakukan terhadap bahan kuningan, lalu keluarlah darinya kotorannya yang tiada faidahnya, sebagaimana halnya buih yang bersama air.
Dengan perumpamaan seperti inilah Allah membuat perumpamaan bagi kebenaran dan kebatilan :
Kebatilan itu laksana buih di atas air yang akan hilang karena tiada faidahnya, sedangkan kebenaran itu laksana air yang murni dan logam yang murni yang tetap di bumi untuk diambil manfaatnya.
Sebagaimana Dia menjelaskan perumpamaan-perumpamaan ini kepada kalian, demikian pula Dia membuat perumpamaan-perumpamaan tersebut bagi manusia, agar Nampak jelas kebenaran dari kebatilan, dan petunjuk dari kesesatan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ayat yang mulia ini mengandung dua perumpamaan yang menggambarkan tentang keteguhan dan kelestarian perkara hak dan kepudaran serta kefanaan perkara batil.
Untuk itu, Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya.

Artinya, masing-masing lembah dipenuhi oleh air hujan itu sesuai dengan ukuran luasnya, ada yang luas, maka memuat banyak air, dan ada yang kecil, maka air yang dimuatnya sesuai dengan ukuran luas lahannya.
Hal ini mengisyaratkan dan menggambarkan tentang hati manusia dan perbedaan-perbedaannya.
Di antaranya ada yang dapat memuat ilmu yang banyak, di antaranya ada pula yang tidak dapat memuat ilmu yang banyak, melainkan sedikit, karena hatinya sempit.

...maka arus itu membawa buih yang mengembang.

Yakni dari permukaan air yang mengalir di lembah-lembah itu muncullah buih, hal ini merupakan suatu perumpamaan.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat., hingga akhir ayat.

mengandung perumpamaan lainnya, yakni barang logam seperti emas atau perak yang dilebur di dalam api untuk membuat perhiasan, atau logam yang dilebur berupa tembaga atau besi untuk membuat peralatan.
Maka sesungguhnya dari leburan logam itu keluar pula buih seperti yang ada pada arus air di lembah.

Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil.

Yakni apabila perkara yang hak dan perkara yang batil bertemu, maka perkara yang batil tidak akan kuat dan pasti lenyap.
Perihalnya sama dengan buih, tidak akan bertahan lama dengan air, tidak pula dengan emas, perak, dan logam lainnya yang dilebur dengan api, melainkan pasti akan menyurut dan lenyap.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Adapun buih itu, akan hilang sebagai yang tak ada harganya.

Yaitu sama sekali tidak berguna, melainkan buih itu akan bercerai berai dan lenyap di kedua tepi lembah, atau bergantung pada pepohonan, lalu kering diterpa angin.
Begitu pula halnya kotoran emas, perak, besi, dan tembaga, tiada yang tersisa darinya melainkan hanya airnya saja, dan emas serta lain-lainnya itulah yang bermanfaat.
Itulah yang disebutkan oleh firman-Nya:

...adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.
Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.

Sama halnya dengan yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam ayat yang lain:

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

Sebagian ulama Salaf mengatakan, "Apabila aku membaca suatu masal (perumpamaan) dari Al-Qur'an, lalu aku tidak memahaminya, maka aku menangisi diriku sendiri, karena Allah subhanahu wa ta'ala.
telah berfirman: 'dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.' (Al 'Ankabut:43)."

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya., hingga akhir ayat.
Ini adalah perumpamaan yang dibuat oleh Allah, menggambarkan kandungan hati manusia menurut kadar keyakinan dan keraguannya.
Hati yang dipenuhi oleh keraguan (kepada Allah) tiada bermanfaat amal perbuatannya.
Sedangkan hati yang dipenuhi dengan keyakinan, maka Allah memberikan manfaat kepada pemiliknya berkat keyakinannya itu.
Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Adapun buih itu....
Maksudnya, keraguan itu.

...akan hilang sebagai yang tak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.
Yaitu keyakinan.
Sebagaimana perhiasan dilebur di dalam api untuk diambil kemurniannya dan dibuang kekotorannya di dalam api yang meleburnya, maka demikianlah Allah menerima hati yang yakin dan meninggalkan hati yang ragu.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang.
Arus air itu membawa kayu-kayuan dan lumpur yang ada di lembah.

Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api.
Yakni emas, perak untuk perhiasan dan perabotan, serta tembaga dan besi.
Tembaga dan besi bila dilebur ada kotorannya, Allah menjadikan perumpamaan bagi kotoran itu dengan buih air.
Adapun barang yang bermanfaat bagi manusia, ia adalah emas dan perak, dan yang bermanfaat bagi bumi ialah air yang diserap oleh bumi sehingga menjadi subur karenanya.
Hal ini dijadikan perumpamaan bagi amal saleh yang melestarikan pelakunya, sedangkan amal buruk akan menyurutkan pelakunya, sebagaimana surutnya buih itu.
Demikian pula halnya petunjuk dan perkara yang hak, keduanya datang dari sisi Allah.
Barang siapa yang mengerjakan perkara yang hak, maka ia akan memperoleh pahalanya, dan amalnya itu akan lestari sebagaimana lestarinya sesuatu yang bermanfaat bagi manusia di bumi.
Besi tidak dapat dijadikan pisau, tidak pula pedang sebelum dimasukkan ke dalam api, lalu api membakar kotorannya dan mengeluarkan intinya yang dapat dimanfaatkan.
Kotoran besi itu diumpamakan sebagai perkara batil, ia akan surut dan lenyap.

Apabila hari kiamat tiba, manusia dibangkitkan, dan semua amal perbuatan mereka dihisab, maka perkara yang batil pasti lenyap dan binasa, sedangkah orang-orang yang mengerjakan perkara hak beroleh pahala dari perkara hak yang dikerjakannya.

Hal yang sama diriwayatkan pula dalam tafsir ayat ini dari Mujahid, Al-Hasan Al-Basri, Ata, Qatadah, dan bukan hanya satu dari ulama salaf dan khalaf.
Allah subhanahu wa ta'ala.
telah membuat dua perumpamaan bagi orang-orang munafik dalam permulaan surat Al-Baqarah, yaitu dengan api dan air.
Pertama adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit di­sertai gelap gulita, guruh, dankilat.
(Al Baqarah:19),hingga akhir ayat.

Hal yang sama dimisalkan pula bagi orang-orang kafir di dalam surat An-Nur, yaitu dengan dua misal (perumpamaan).
Pertama, oleh firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan:

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana.
(An Nuur:39), hingga akhir ayat.

Fatamorgana hanya terjadi di saat panas sangat terik.
Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti dikatakan kepada orang-orang Yahudi, "Apakah yang kalian inginkan?"
Mereka menjawab, "Wahai Tuhan kami, kami sangat haus, berilah kami minum." Dikatakan, "Mengapa kalian tidak datang sendiri ke tempat air?"
Maka mereka datang ke neraka, tiba-tiba neraka kelihatan seperti fatamorgana yang sebagian darinya memukul sebagian lainnya.

Kedua, dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam.
(An Nuur:40), hingga akhir ayat.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Abu Musa Al-Asy'ari r.a.
bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diutuskan oleh Allah kepadaku (untuk menyampaikannya) sama dengan hujan yang menyirami bumi.
Sebagian di antaranya adalah lahan yang dapat menerima air, lalu ia dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak Dan sebagian di antaranya adalah lahan yang tandus dapat menampung air, sehingga melaluinya Allah memberikan manfaat kepada manusia, mereka dapat minum airnya, menggembalakan ternaknya, memberi minum ternaknya, dan bercocok tanam.
Dan hujan itu menyirami pula sebagian tanah yang tiada lain hanyalah berupa rawa, tidak dapat menerima air, dan tidak dapat menumbuhkan tetumbuhan.
Hal tersebut merupakan perumpamaan orang yang mengerti agama Allah dan mendapatkan manfaat dari Allah melalui apa yang diutuskan kepadaku serta memberikan manfaat itu (kepada orang lain), dialah orang yang mengetahui (agama Allah) dan mengajarkannya (kepada orang lain).
Dan perumpamaan tentang orang yang tidak mau mengangkat kepalanya (tidak mau) menerima hal tersebut, dan menolak hidayah Allah yang aku diutus untuk menyampaikannya.

Ini adalah perumpamaan air.
Di dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Hammam ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa berikut ini adalah hadis yang diceritakan oleh Abu Hurairah r.a.
kepada kami, dari Rasulullah ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Perumpamaanku dan kalian sama dengan seorang lelaki yang menyalakan api, setelah api menyinari sekelilingnya, maka laron dan binatang serangga lainnya berhamburan jatuh ke dalam api itu.
Sedangkan lelaki itu menghalang-halanginya agar jangan jatuh ke dalam api, tetapi mereka mengalahkannya dan menjatuhkan dirinya ke dalam api —Nabi ﷺ melanjutkan sabdanya—.
Itulah perumpamaan aku dan kalian, aku berupaya menghalang-halangi kalian dari neraka, "Menjauhlah dari neraka!" Tetapi kalian mengalahkanku dan kalian masuk ke dalam neraka.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan pula hadis ini.
Dan ini merupakan perumpamaan api.

Kata Pilihan Dalam Surah Ar Ra'd (13) Ayat 17

AWDIYAH
أَوْدِيَة

Lafaz ini adalah jamak dari al wadi, seperti kata sariyy jamaknya adalah asriyah (saluran) bagi sungai, lembah di antara bukit-bukit atau bukit-bukit kecil yang menjadi tempat mengalir atau saluran dan jalan.

Dalam Al Mu'jam Al Wasit, ia adalah setiap ruang di antara gunung-ganang, bukit-bukau dan anak bukit. la dinamakan demikian disebabkan tempat mengalirnya air.

Dalam Kamus Dewan, ia bermakna sungai yang tidak berair di padang pasir (berisi air apabila turun hujan) atau lembah.

Lafaz awdiyah disebut dua kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Ar Ra'd (13), ayat 17,
-Al Ahqaf (46), ayat 24.

As Sabuni berkata,
''Apabila air hujan turun, maka mengalirlah air membanjiri lembah yang bergantung pada kadar luasnya dan semuanya berdasarkan ketetapannya."

Mujahid berkata,
''Air membanjiri lembah bergantung pada kadar luasnya."

Ibn Juraij berkata,
"Membanjiri lembah bergantung pada kecil dan besarnya."

Al-Qurtubi berkata,
"Ia dinamakan wadi karena ia adalah jalan (air) keluar dan mengalir, dan lafaz wadi adalah nama untuk air yang mengalir. Oleh karena itu, Abu Ya'la berkata,
"Menafsirkan fa salat awdiyah dengan mengalir airnya.

Diriwayatkan dari Ibn Ishaq, katanya, ''Allah menghantar awan yang hitam sebagaimana pendapat Qutail bin 'Anz karena di dalamnya terdapat kesengsaraan dan azab kepada kaum 'Ad sehingga mereka keluar dari lembah mereka yang dikatakan dapat menolong. Ketika mereka melihatnya, mereka bergembira dan berkata,
"Ini ialah awan yang akan membawa hujan kepada kita," lalu Allah mengatakan, "Tidak! Bahkan itulah azab yang kamu minta disegerakan kedatangannya yaitu angin yang membawa azab siksa yang tidak terperi sakitnya."

Lafaz awdiyah dalam ayat Al Qur'an bermakna lembah-lembah.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:86-87

Informasi Surah Ar Ra'd (الرعد)
Surat Ar Ra'd ini terdiri atas 43 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Surat ini dinamakan "Ar Ra'd" yang berarti "guruh" karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya "Dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya",
menunjukkan sifat kesucian dan kesempumaan Allah subhanahu wa ta'ala Dan lagi sesuai dengan sifat Al Qur'an yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan ha­rapan kepada manusia.

Isi yang terpenting dari surat ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta'ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dari ketaatan atau ke­ ingkaran terhadap hukum Allah.

Keimanan:

Allah-lah yang menciptakan alam semesta serta mengaturnya
ilmu Allah meliputi segala sesuatu
adanya malaikat yang selalu memelihara manusia yang datang silih berganti, yaitu malaikat Hafazhah
hanya Allah yang menerima do'a dari hamba­ Nya
memberi taufiq hanya hak Allah, sedang tugas para rasul menyampaikan agama Allah.

Hukum:

Manusia dilarang mendo'akan yang jelek-jelek untuk dirinya
kewajiban mencegah perbuatan-perbuatan yang mungkar.

Kisah:

Kisah pengalaman nabi-nabi zaman dahulu.

Lain-lain:

Beberapa sifat yang terpuji
perumpamaan bagi orang-orang yang menyembah ber­hala dan orang-orang yang menyembah Allah
Allah tidak merobah nasib sesuatu bangsa sehingga mereka merobah keadaan mereka sendiri.


Gambar Kutipan Surah Ar Ra’d Ayat 17 *beta

Surah Ar Ra'd Ayat 17



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ar Ra'd

Surah Ar-Ra'd (bahasa Arab:الرّعد, ar-Ra'd, "Guruh") adalah surah ke-13 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 43 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan Ar-Ra'd yang berarti Guruh (Petir) karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya ...dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya, menunjukkan sifat kesucian dan kesempurnaan Allah subhanahu wa ta'ala, dan lagi sesuai dengan sifat Al-Quran yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia.
Isi yang terpenting dari surah ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta'ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dan ketaatan atau keingkaran terhadap hukum Allah.

Nomor Surah13
Nama SurahAr Ra'd
Arabالرعد
ArtiGuruh (petir)
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu96
JuzJuz 13 (ayat 1-43)
Jumlah ruku'3 ruku'
Jumlah ayat43
Jumlah kata854
Jumlah huruf3541
Surah sebelumnyaSurah Yusuf
Surah selanjutnyaSurah Ibrahim
4.5
Rating Pembaca: 4.5 (9 votes)
Sending







✔ makna surah Ar-rad ayat 17 yang berkaitan dengan sumber daya manusia, arTi dari surat ar\Rad 113 ayaT 17