Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Ar Ra’d (Guruh (petir)) – surah 13 ayat 17 [QS. 13:17]

اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَسَالَتۡ اَوۡدِیَۃٌۢ بِقَدَرِہَا فَاحۡتَمَلَ السَّیۡلُ زَبَدًا رَّابِیًا ؕ وَ مِمَّا یُوۡقِدُوۡنَ عَلَیۡہِ فِی النَّارِ ابۡتِغَآءَ حِلۡیَۃٍ اَوۡ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثۡلُہٗ ؕ کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡحَقَّ وَ الۡبَاطِلَ ۬ؕ فَاَمَّا الزَّبَدُ فَیَذۡہَبُ جُفَآءً ۚ وَ اَمَّا مَا یَنۡفَعُ النَّاسَ فَیَمۡکُثُ فِی الۡاَرۡضِ ؕ کَذٰلِکَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ
Anzala minassamaa-i maa-an fasaalat audiyatun biqadarihaa faahtamalassailu zabadan raabiyan wamimmaa yuuqiduuna ‘alaihi fiinnaariibtighaa-a hilyatin au mataa’in zabadun mitsluhu kadzalika yadhribullahul haqqa wal baathila fa-ammaazzabadu fayadzhabu jufaa-an wa-ammaa maa yanfa’unnaasa fayamkutsu fiil ardhi kadzalika yadhribullahul amtsaal(a);
Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang.
Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu.
Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil.
Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya;
tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi.
Demikianlah Allah membuat perumpamaan.
―QS. Ar Ra’d [13]: 17

He sends down from the sky, rain, and valleys flow according to their capacity, and the torrent carries a rising foam.
And from that (ore) which they heat in the fire, desiring adornments and utensils, is a foam like it.
Thus Allah presents (the example of) truth and falsehood.
As for the foam, it vanishes, (being) cast off;
but as for that which benefits the people, it remains on the earth.
Thus does Allah present examples.
― Chapter 13. Surah Ar Ra’d [verse 17]

أَنزَلَ (Allah)telah menurunkan

He sends down
مِنَ dari

from
ٱلسَّمَآءِ langit

the sky
مَآءً air

water
فَسَالَتْ maka mengalirlah ia

and flows
أَوْدِيَةٌۢ lembah-lembah

the valleys
بِقَدَرِهَا dengan/menurut ukurannya

according to their measure,
فَٱحْتَمَلَ maka membawa

and carries
ٱلسَّيْلُ arus

the torrent
زَبَدًا buih

a foam
رَّابِيًا mengembang

rising.
وَمِمَّا dan dari apa

And from what
يُوقِدُونَ mereka bakar/lembur

they heat
عَلَيْهِ atasnya

[on] it
فِى dalam

in
ٱلنَّارِ api

the fire
ٱبْتِغَآءَ mencari/membuat

in order to make
حِلْيَةٍ perhiasan

ornaments
أَوْ atau

or
مَتَٰعٍ kesenangan/alat-alat

utensils,
زَبَدٌ buih

a foam
مِّثْلُهُۥ sepertinya(buih arus)

like it.
كَذَٰلِكَ demikianlah

Thus
يَضْرِبُ membuat

sets forth
ٱللَّهُ Allah

Allah
ٱلْحَقَّ benar

the truth
وَٱلْبَٰطِلَ dan bathil

and the falsehood.
فَأَمَّا maka adapun

Then as for
ٱلزَّبَدُ buih

the foam
فَيَذْهَبُ maka akan hilang

it passes away

Tafsir

Alquran

Surah Ar Ra’d
13:17

Tafsir QS. Ar Ra’d (13) : 17. Oleh Kementrian Agama RI


Allah menurunkan air hujan dari langit yang mengandung awan, lalu mengalirkan air hujan itu ke berbagai lembah yang lebar dan yang sempit sesuai dengan ukurannya.
Kajian saintis menjelaskan bahwa lembah-lembah umumnya terbentuk oleh gerusan air.

Air pertama-tama menggerus bagian-bagian batuan yang paling lunak dan kemudian membentuk aliran sungai.
Alur aliran sungai ini lambat laun membesar membentuk lembah-lembah sungai.

Ukuran lembah-lembah sungai umumnya selain dipengaruhi oleh besarnya aliran air yang juga ditentukan oleh besarnya curah hujan, kekerasan batuan dan umur batuan.
Dalam bidang geomorfologi dikenal besaran kerapatan sungai, yaitu jumlah panjang sungai yang terdapat pada satu luasan daerah dengan satuan km/km2. Besarnya kerapatan sungai umumnya menggambarkan besarnya curah hujan di daerah tersebut.



Arus air itu akan menimbulkan banyak buih di permukaannya yang merupakan gumpalan buih yang ikut bergerak dengan arus air, sehingga bila ada angin kencang yang bertiup, maka buih itu akan segera lenyap dari pandangan mata.

Menurut kajian saintifik, buih adalah zat mengambang di atas air yang mengandung banyak udara.
Terjadinya buih merupakan bagian dari proses pemurnian air yang terjadi secara alami dalam pengalirannya (dikenal dengan istilah self purification).

Pemurnian ini terjadi karena adanya pencampuran dengan udara yang melarut ke dalam air terutama oksigen.
Dengan adanya oksidasi, pengotor (umumya senyawa organik) yang terlarut di dalam air mengurai dan bagian yang ringan mengapung di atas permukaan air, sedangkan bagian yang berat akan tenggelam dan mengendap.

Inilah perumpamaan yang pertama yang dikemukakan oleh Allah ﷻ tentang kebenaran dan kebatilan serta tentang keimanan dan kekafiran.


Buih juga bisa terbentuk dalam proses pemurnian logam dengan pemanasan.
Bijih logam di alam umumnya ditemukan dalam bahan padat yang tidak murni.
Pada proses peleburan, bijih mencair, dan logam-logam yang berat akan tenggelam sedangkan bagian yang kurang bermanfaat atau yang dapat merusak mutu hasil biasanya berupa buih dan akan mengapung ke permukaan bersama udara yang terkandung di dalamnya.
Logam tersebut dibuat untuk perhiasan dan alat-alat keperluan rumah tangga, pertanian, pertukangan, dan perindustrian.
Inilah perumpamaan yang kedua.



Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batil.
Kebenaran dan kebatilan itu bila bercampur, seperti arus air yang bercampur dengan buih, atau seperti logam yang dibakar yang sama-sama juga mengeluarkan buih berupa kotoran karat yang semula melekat pada logam itu, kemudian terpisah karena pengaruh api yang membakarnya.
Maka sebagaimana buih yang berada di atas arus air akan lenyap setelah ada tiupan angin, dan buih yang berada di atas logam yang sedang dibakar akan hilang pula karena api, demikian pula perkara yang batil akan hilang musnah bilamana datang hak dan kebenaran yang jelas.



Buih itu akan hilang tersangkut di pinggir lembah dan pohon atau ditiup angin.
Demikian pula kotoran atau karat yang semula melekat pada logam akan habis terbakar.
Yang tinggal hanya yang memberi manfaat saja kepada manusia, yaitu air, yang dapat diminum, digunakan untuk mengairi tanaman yang bermanfaat bagi manusia dan binatang, emas yang digunakan untuk perhiasan, dan logam-logam lainnya untuk alat rumah tangga, pertanian, dan sebagainya.


Dari kedua perumpamaan itu dapat diambil pengertian bahwa Allah ﷻ telah menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad ﷺ kemudian disampaikan ke dalam hati manusia yang masing-masing tidak sama potensi dan persiapannya untuk menerima.
Masing-masing mempunyai keterbatasan dalam hal bacaan, pengertian, hafalan, dan pengamalannya.
Ayat Al-Quran menjadi unsur kehidupan kerohanian dan kebahagiaan hidup sebagaimana air menjadi sebab hidup semua makhluk.


Di antara tanah yang ditimpa hujan itu ada yang tandus, tidak dapat menumbuhkan tanam-tanaman, hanya sekedar menyimpan air saja, yang dapat dijadikan sumber penampungan air jernih.
Ada pula tanah yang subur yang setelah disiram dengan air hujan dapat menghasilkan bermacam-macam hasil bumi.
Itulah air yang bermanfaat bagi manusia dan binatang-binatang.
Di antara logam yang dilebur dalam api seperti emas, perak, tembaga, perunggu, dan timah, ada yang dijadikan alat rumah tangga, pertukangan, perindustrian dan sebagainya.
Orang mukmin diumpamakan seperti air dan logam yang bermanfaat bagi manusia dan binatang.
Buih yang semula bercampur kemudian lenyap karena tiupan angin atau habis dibakar oleh api, adalah perumpamaan bagi kekafiran dan kebatilan yang akhirnya hancur bila berhadapan dengan hak dan kebenaran, firman Allah:

وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا

Dan katakanlah,
"Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap."
Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.
(al-Isra‘ [17]: 81)


Demikianlah Allah membuat perumpamaan yang indah yang dapat menjelaskan kepada manusia apa yang masih dipandang sulit oleh mereka tentang masalah-masalah agamanya, agar jelas perbedaan antara yang hak dan yang batil, antara keimanan dan kekafiran, sehingga mereka dapat menempuh jalan petunjuk kepada kebahagiaan dan menghindari jalan yang dimurkai Allah dan menyesatkan.


Dengan memperhatikan perumpamaan-perumpamaan yang tepat dan baik itu niscaya umat Islam akan menjadi umat terbaik yang dikeluarkan di muka bumi untuk jadi teladan bagi umat yang lain.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari Abu Musa Al-Asyari:


Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutus diriku, adalah seperti air hujan yang menimpa bumi.
Di antaranya ada sebagian bumi yang menerima air itu, lalu menumbuhkan rumput dan tanam-tanaman.
Ada pula tanah yang tandus, hanya menyimpan air saja, lalu Allah memberikan manfaat air itu kepada manusia.
Maka ada yang meminumnya dan mempergunakannya untuk mengairi kebun-kebun tanamannya dan ladang-ladangnya.
Ada pula sebagian tanah yang keras, tidak dapat menyimpan dan menyerap air, sehingga tidak menumbuhkan tanaman apa-apa.
Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan Allah memberikan manfaat kepadanya dalam ajaran agama yang Allah mengutusku untuk menyampaikannya kepada manusia, sehingga ia mengetahui dan mengajarkannya (kepada orang lain), dan perumpamaan orang yang sama sekali tidak memperhatikan dan tidak menerima petunjuk Allah yang mengutusku untuk menyampaikannya.
(Riwayat Bukhari dan Muslim)


Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah:



Perumpamaanku denganmu seperti orang menyalakan api, ketika api menerangi tempat sekelilingnya, mulailah kupu-kupu dan serangga yang mendatangi berjatuhan ke dalam api, dan orang itu menghalangi, namun dikalahkan oleh serangga-serangga lalu masuklah serangga-serangga itu ke dalam api.
Itulah perumpamaanku denganmu.
Aku menghalangimu dari api, jauhilah api itu, namun kamu mengalahkanku dan menerobos masuk ke dalamnya.
(Riwayat Ahmad, Bukhari, dan Muslim dari Abu Hurairah)

Tafsir QS. Ar Ra’d (13) : 17. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Nikmat dan karunia Allah kepada kalian pun sungguh sangat jelas dan nyata, dan patung-patung kalian tidak mempunyai peran apa-apa tentang karunia-karunia itu.
Hanya Dialah yang menurunkan hujan dari awan hingga mengakibatkan sungai dan lembah dapat mengalirkan air.


Semua itu sesuai dengan ketentuan takdir yang telah ditetapkan Allah untuk dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan membuahkan pohon.
Sungai-sungai itu, ketika mengalirkan air, membawa benda-benda yang tak berguna yang mengapung di atas permukaannya, mengalir mengikuti arah air, sedangkan di dalamnya terdapat benda-benda yang dapat dimanfaatkan dan tidak lenyap.


Sementara benda yang tak berguna itu akan lenyap.
Demikian pula halnya dengan kebenaran dan kebatilan.


Yang pertama itu akan tetap, kekal dan tidak lenyap, sedangkan yang kedua akan lenyap.
Selain itu, di antara tambang yang kalian olah dengan menggunakan api, ada yang dapat kalian ambil sebagai perhiasan seperti emas dan perak, ada pula yang dapat kalian pergunakan sebagaimana peralatan seperti besi dan tembaga.


Ada juga yang tidak dapat dimanfaatkan, yang muncul di permukaan.
Nah, yang tidak dapat dimanfaatkan itu hanya akan terbuang, sedangkan yang dapat digunakan akan bertahan.


Demikian pula halnya dengan akidah dan kepercayaan.
Akidah yang sesat akan lenyap tak berarti, dan akidah yang benar akan tetap, tidak akan lenyap.


Dengan cara seperti ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan yang sebenarnya.
Allah mengumpamakan suatu dengan yang lainnya agar semuanya menjadi jelas[1].


[1] Allah menjelaskan dua hal yang mirip dengan kebenaran, yaitu air jernih dan tambang murni, yang dapat diambil kegunaannya, juga dua hal yang mirip dengan kebaikan, yaitu buih air dan buih tambang yang larut, yang tidak dapat diambil kegunaannya.
Dia menurunkan air hujan dari awan, lalu mengalirlah air lembah dan sungai dengan berbagai ukurannya, besar dan kecil.
Air yang mengalir itu menghanyutkan buih yang muncul di atas permukaan air yang disebut busa air.
Dari berbagai barang tambang yang dihasilkan orang melalui proses pembakaran seperti emas, perak, tembaga dan timah ada yang dapat dijadikan perhiasan atau peralatan seperti bejana.
Ada juga yang berupa sampah seperti sampah air yang mengapung di atas permukaan air.
Bagian barang tambang yang mengalir itu disebut khabits (limbah).
Dengan tamsil air dan limbahnya serta tambang dan limbahnya itu, Allah menerangkan kebenaran dan kebatilan.
Kebenaran diibaratkan sebagai air dan tambang yang jernih, sedangkan kebatilan diibaratkan sebagai limbah air dan limbah tambang yang tidak mungkin dapat dimanfaatkan dan akan lenyap dan terbuang.
Sedangkan air jernih dan tambang jernih yang dapat berguna untuk kepentingan manusia akan bertahan di dalam tanah agar dapat dimanfaatkan.
Dengan tamsil yang sangat jelas seperti itulah Allah selalu memperlihatkan kebaikan dan kejahatan kepada manusia.
Setelah menerangkan kebenaran dan kebatilan, Allah kemudian menerangkan orang yang mengikuti jalan yang benar dan jalan yang batil.
Orang-orang yang mengikuti jalan yang benar dengan selalu bersikap patuh akan memperoleh pahala dan kenikmatan surga di akhirat.
Sebaliknya, orang-orang yang lebih memilih jalan yang batil, meskipun mereka memiliki seluruh kekayaan dunia bahkan dua kali lebih banyak untuk menghindari siksaan Allah, tidak akan diterima.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Kemudian Allah membuat perumpamaan untuk kebenaran dan kebatilan dengan hujan yang diturunkan maka mengalirlah air itu di lembah-lembah menurut ukuran kecil dan besarnya.
Arus itu membawa buih yang mengambang diatasnya tanpa ada manfaatnya.


Dia membuat perumpamaan lainnya, yaitu logam yang mereka bakar dengan api untuk meleburnya;
untuk dijadikan perhiasan, sebagaimana dilakukan pada emas dan perak, atau untuk membuat barang-barang yang bisa mereka manfaatkan, sebagaimana yang dilakukan terhadap bahan kuningan, lalu keluarlah darinya kotorannya yang tiada faedahnya, sebagaimana halnya buih yang bersama air.
Dengan perumpamaan seperti inilah Allah membuat perumpamaan bagi kebenaran dan kebatilan.


Kebatilan itu laksana buih di atas air yang akan hilang karena tiada faedahnya, sedangkan kebenaran itu laksana air yang murni dan logam yang murni yang tetap di bumi untuk diambil manfaatnya.
Sebagaimana Dia menjelaskan perumpamaan-perumpamaan ini kepada kalian, demikian pula Dia membuat perumpamaan-perumpamaan tersebut bagi manusia, agar Nampak jelas kebenaran dari kebatilan, dan petunjuk dari kesesatan.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:


Kemudian Allah membuat suatu perumpamaan mengenai perkara yang hak dan perkara yang batil untuk itu Dia berfirman:


(Allah telah menurunkan) Maha Tinggi Allah


(air dari langit) yakni air hujan


(maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya) sesuai dengan daya tampungnya


(maka arus itu membawa buih yang mengembang) mengapung di atas air yang mengandung kotoran dan lain sebagainya.


(Dan dari apa yang mereka lebur) dapat dibaca tuuqiduuna dan yuuqiduuna


(dalam api) yaitu berupa logam yang dikeluarkan dari dalam bumi, seperti emas, perak dan tembaga


(untuk membuat) untuk dijadikan


(perhiasan) barang perhiasan


(atau alat-alat) perabot-perabot yang diperlukan, jika kesemuanya itu dilebur


(ada pula buihnya) yakni sama seperti buih arus tadi, yaitu kotorannya kemudian kotoran itu dibuang oleh orang yang mencetaknya.


(Demikianlah) hal yang telah disebutkan itu


(Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batil) perumpamaan mengenai keduanya.


(Adapun buih itu) buih arus itu dan kotoran barang logam yang dilebur


(akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya) menjadi limbah yang dibuang


(adapun yang memberi manfaat kepada manusia) yaitu air bersih dan inti logam


(maka ia tetap) terkandung


(di bumi) selama beberapa masa.
Demikianlah perumpamaan tentang hal yang batil, akan pudar dan lenyap, sekalipun dalam beberapa waktu dapat mengalahkan perkara yang hak.
Akan tetapi pada akhirnya perkara yang hak jugalah yang akan tetap tegak dan menang.


(Demikian) hal yang disebutkan itu


(Allah menjelaskan) menerangkan


(perumpamaan-perumpamaan).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Ayat yang mulia ini mengandung dua perumpamaan yang menggambarkan tentang keteguhan dan kelestarian perkara hak dan kepudaran serta kefanaan perkara batil.
Untuk itu, Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya.

Artinya, masing-masing lembah dipenuhi oleh air hujan itu sesuai dengan ukuran luasnya, ada yang luas, maka memuat banyak air, dan ada yang kecil, maka air yang dimuatnya sesuai dengan ukuran luas lahannya.
Hal ini mengisyaratkan dan menggambarkan tentang hati manusia dan perbedaan-perbedaannya.
Di antaranya ada yang dapat memuat ilmu yang banyak, di antaranya ada pula yang tidak dapat memuat ilmu yang banyak, melainkan sedikit, karena hatinya sempit.

…maka arus itu membawa buih yang mengembang.

Yakni dari permukaan air yang mengalir di lembah-lembah itu muncullah buih, hal ini merupakan suatu perumpamaan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat., hingga akhir ayat.

mengandung perumpamaan lainnya, yakni barang logam seperti emas atau perak yang dilebur di dalam api untuk membuat perhiasan, atau logam yang dilebur berupa tembaga atau besi untuk membuat peralatan.
Maka sesungguhnya dari leburan logam itu keluar pula buih seperti yang ada pada arus air di lembah.

Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil.

Yakni apabila perkara yang hak dan perkara yang batil bertemu, maka perkara yang batil tidak akan kuat dan pasti lenyap.
Perihalnya sama dengan buih, tidak akan bertahan lama dengan air, tidak pula dengan emas, perak, dan logam lainnya yang dilebur dengan api, melainkan pasti akan menyurut dan lenyap.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Adapun buih itu, akan hilang sebagai yang tak ada harganya.

Yaitu sama sekali tidak berguna, melainkan buih itu akan bercerai berai dan lenyap di kedua tepi lembah, atau bergantung pada pepohonan, lalu kering diterpa angin.
Begitu pula halnya kotoran emas, perak, besi, dan tembaga, tiada yang tersisa darinya melainkan hanya airnya saja, dan emas serta lain-lainnya itulah yang bermanfaat.
Itulah yang disebutkan oleh firman-Nya:

…adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.
Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.


Sama halnya dengan yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam ayat yang lain:

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

Sebagian ulama Salaf mengatakan,
"Apabila aku membaca suatu masal (perumpamaan) dari Alquran, lalu aku tidak memahaminya, maka aku menangisi diriku sendiri, karena Allah subhanahu wa ta’ala, telah berfirman:
‘dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.’ (QS. Al-‘Ankabut [29]: 43)."

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya., hingga akhir ayat.
Ini adalah perumpamaan yang dibuat oleh Allah, menggambarkan kandungan hati manusia menurut kadar keyakinan dan keraguannya.
Hati yang dipenuhi oleh keraguan (kepada Allah) tiada bermanfaat amal perbuatannya.
Sedangkan hati yang dipenuhi dengan keyakinan, maka Allah memberikan manfaat kepada pemiliknya berkat keyakinannya itu.
Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Adapun buih itu….
Maksudnya, keraguan itu.

…akan hilang sebagai yang tak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.
Yaitu keyakinan.
Sebagaimana perhiasan dilebur di dalam api untuk diambil kemurniannya dan dibuang kekotorannya di dalam api yang meleburnya, maka demikianlah Allah menerima hati yang yakin dan meninggalkan hati yang ragu.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang.
Arus air itu membawa kayu-kayuan dan lumpur yang ada di lembah.

Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api.
Yakni emas, perak untuk perhiasan dan perabotan, serta tembaga dan besi.
Tembaga dan besi bila dilebur ada kotorannya, Allah menjadikan perumpamaan bagi kotoran itu dengan buih air.
Adapun barang yang bermanfaat bagi manusia, ia adalah emas dan perak, dan yang bermanfaat bagi bumi ialah air yang diserap oleh bumi sehingga menjadi subur karenanya.
Hal ini dijadikan perumpamaan bagi amal saleh yang melestarikan pelakunya, sedangkan amal buruk akan menyurutkan pelakunya, sebagaimana surutnya buih itu.
Demikian pula halnya petunjuk dan perkara yang hak, keduanya datang dari sisi Allah.
Barang siapa yang mengerjakan perkara yang hak, maka ia akan memperoleh pahalanya, dan amalnya itu akan lestari sebagaimana lestarinya sesuatu yang bermanfaat bagi manusia di bumi.
Besi tidak dapat dijadikan pisau, tidak pula pedang sebelum dimasukkan ke dalam api, lalu api membakar kotorannya dan mengeluarkan intinya yang dapat dimanfaatkan.
Kotoran besi itu diumpamakan sebagai perkara batil, ia akan surut dan lenyap.

Apabila hari kiamat tiba, manusia dibangkitkan, dan semua amal perbuatan mereka dihisab, maka perkara yang batil pasti lenyap dan binasa, sedangkah orang-orang yang mengerjakan perkara hak beroleh pahala dari perkara hak yang dikerjakannya.


Hal yang sama diriwayatkan pula dalam tafsir ayat ini dari Mujahid, Al-Hasan Al-Basri, Ata, Qatadah, dan bukan hanya satu dari ulama salaf dan khalaf.
Allah subhanahu wa ta’ala, telah membuat dua perumpamaan bagi orang-orang munafik dalam permulaan surat Al-Baqarah, yaitu dengan api dan air.
Pertama adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit di­sertai gelap gulita, guruh, dankilat.
(QS. Al-Baqarah [2]: 19),hingga akhir ayat.

Hal yang sama dimisalkan pula bagi orang-orang kafir di dalam surat An-Nur, yaitu dengan dua misal (perumpamaan).
Pertama, oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala, yang mengatakan:

Dan orang-orang yang kafir amalamal mereka adalah laksana fatamorgana.
(QS. An-Nuur [24]: 39), hingga akhir ayat.

Fatamorgana hanya terjadi di saat panas sangat terik.
Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa pada hari kiamat nanti dikatakan kepada orang-orang Yahudi,
"Apakah yang kalian inginkan?"
Mereka menjawab,
"Wahai Tuhan kami, kami sangat haus, berilah kami minum."
Dikatakan,
"Mengapa kalian tidak datang sendiri ke tempat air?"
Maka mereka datang ke neraka, tiba-tiba neraka kelihatan seperti fatamorgana yang sebagian darinya memukul sebagian lainnya.

Kedua, dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam.
(QS. An-Nuur [24]: 40), hingga akhir ayat.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Abu Musa Al-Asy’ari r.a. bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diutuskan oleh Allah kepadaku (untuk menyampaikannya) sama dengan hujan yang menyirami bumi.
Sebagian di antaranya adalah lahan yang dapat menerima air, lalu ia dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak Dan sebagian di antaranya adalah lahan yang tandus dapat menampung air, sehingga melaluinya Allah memberikan manfaat kepada manusia, mereka dapat minum airnya, menggembalakan ternaknya, memberi minum ternaknya, dan bercocok tanam.
Dan hujan itu menyirami pula sebagian tanah yang tiada lain hanyalah berupa rawa, tidak dapat menerima air, dan tidak dapat menumbuhkan tetumbuhan.
Hal tersebut merupakan perumpamaan orang yang mengerti agama Allah dan mendapatkan manfaat dari Allah melalui apa yang diutuskan kepadaku serta memberikan manfaat itu (kepada orang lain), dialah orang yang mengetahui (agama Allah) dan mengajarkannya (kepada orang lain).
Dan perumpamaan tentang orang yang tidak mau mengangkat kepalanya (tidak mau) menerima hal tersebut, dan menolak hidayah Allah yang aku diutus untuk menyampaikannya.

Ini adalah perumpamaan air.
Di dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan bahwa:


telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Hammam ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa berikut ini adalah hadis yang diceritakan oleh Abu Hurairah r.a. kepada kami, dari Rasulullah ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Perumpamaanku dan kalian sama dengan seorang lelaki yang menyalakan api, setelah api menyinari sekelilingnya, maka laron dan binatang serangga lainnya berhamburan jatuh ke dalam api itu.
Sedangkan lelaki itu menghalang-halanginya agar jangan jatuh ke dalam api, tetapi mereka mengalahkannya dan menjatuhkan dirinya ke dalam api —Nabi ﷺ melanjutkan sabdanya—.
Itulah perumpamaan aku dan kalian, aku berupaya menghalang-halangi kalian dari neraka,
"Menjauhlah dari neraka!"
Tetapi kalian mengalahkanku dan kalian masuk ke dalam neraka.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan pula hadis ini.
Dan ini merupakan perumpamaan api.

Kata Pilihan Dalam Surah Ar Ra’d (13) Ayat 17

AWDIYAH
أَوْدِيَة

Lafaz ini adalah jamak dari al wadi, seperti kata sariyy jamaknya adalah asriyah (saluran) bagi sungai, lembah di antara bukit-bukit atau bukit-bukit kecil yang menjadi tempat mengalir atau saluran dan jalan.

Dalam Al Mu’jam Al Wasit, ia adalah setiap ruang di antara gunung-ganang, bukit-bukau dan anak bukit.
la dinamakan demikian disebabkan tempat mengalirnya air.

Dalam Kamus Dewan, ia bermakna sungai yang tidak berair di padang pasir (berisi air apabila turun hujan) atau lembah.

Lafaz awdiyah disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Ar Ra’d (13), ayat 17,
-Al Ahqaf (46), ayat 24.
As Sabuni berkata,
”Apabila air hujan turun, maka mengalirlah air membanjiri lembah yang bergantung pada kadar luasnya dan semuanya berdasarkan ketetapannya."

Mujahid berkata,
”Air membanjiri lembah bergantung pada kadar luasnya."

Ibn Juraij berkata,
"Membanjiri lembah bergantung pada kecil dan besarnya."

Al-Qurtubi berkata,
"Ia dinamakan wadi karena ia adalah jalan (air) keluar dan mengalir, dan lafaz wadi adalah nama untuk air yang mengalir.
Oleh karena itu, Abu Ya’la berkata,
"Menafsirkan fa salat awdiyah dengan mengalir airnya.

Diriwayatkan dari Ibn Ishaq, katanya, ”Allah menghantar awan yang hitam sebagaimana pendapat Qutail bin ‘Anz karena di dalamnya terdapat kesengsaraan dan azab kepada kaum ‘Ad sehingga mereka keluar dari lembah mereka yang dikatakan dapat menolong.
Ketika mereka melihatnya, mereka bergembira dan berkata,
"Ini ialah awan yang akan membawa hujan kepada kita," lalu Allah mengatakan, "Tidak! Bahkan itulah azab yang kamu minta disegerakan kedatangannya yaitu angin yang membawa azab siksa yang tidak terperi sakitnya."

Lafaz awdiyah dalam ayat Al Qur’an bermakna lembah-lembah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 86-87

Unsur Pokok Surah Ar Ra’d (الرعد)

Surat Ar-Ra’d ini terdiri atas 43 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Surat ini dinamakan "Ar-Ra’d" yang berarti "guruh" karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya, "Dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya",
menunjukkan sifat kesucian dan kesempumaan Allah subhanahu wa ta’ala.
Dan lagi sesuai dengan sifat Alquran yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia.

Isi yang terpenting dari surat ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dari ketaatan atau keingkaran terhadap hukum Allah.

Keimanan:

▪ Allah-lah yang menciptakan alam semesta serta mengaturnya.
▪ Ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
▪ Adanya malaikat yang selalu memelihara manusia yang datang silih berganti, yaitu malaikat Hafazhah.
▪ Hanya Allah yang menerima do’a dari hamba Nya.
▪ Memberi taufiq hanya hak Allah, sedang tugas para rasul menyampaikan agama Allah.

Hukum:

▪ Manusia dilarang mendoakan yang jelek-jelek untuk dirinya.
▪ Kewajiban mencegah perbuatan-perbuatan yang mungkar.

Kisah:

▪ Kisah pengalaman nabi-nabi zaman dahulu.

Lain-lain:

▪ Beberapa sifat yang terpuji.
▪ Perumpamaan bagi orang-orang yang menyembah berhala dan orang-orang yang menyembah Allah.
▪ Allah tidak mengubah nasib suatu bangsa sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri.

Ayat-ayat dalam Surah Ar Ra’d (43 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43

Lihat surah lainnya

Audio

QS. Ar-Ra'd (13) : 1-43 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 43 + Terjemahan Indonesia

QS. Ar-Ra'd (13) : 1-43 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 43

Gambar Kutipan Ayat

Surah Ar Ra'd ayat 17 - Gambar 1 Surah Ar Ra'd ayat 17 - Gambar 2
Statistik QS. 13:17
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Ar Ra’d.

Surah Ar-Ra’d (bahasa Arab:الرّعد, ar-Ra’d, “Guruh”) adalah surah ke-13 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 43 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan Ar-Ra’d yang berarti Guruh (Petir) karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya …dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya, menunjukkan sifat kesucian dan kesempurnaan Allah subhanahu wa ta’ala, dan lagi sesuai dengan sifat Alquran yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia.
Isi yang terpenting dari surah ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dan ketaatan atau keingkaran terhadap hukum Allah.

Nomor Surah13
Nama SurahAr Ra’d
Arabالرعد
ArtiGuruh (petir)
Nama lain
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu96
JuzJuz 13 (ayat 1-43)
Jumlah ruku’3 ruku’
Jumlah ayat43
Jumlah kata854
Jumlah huruf3541
Surah sebelumnyaSurah Yusuf
Surah selanjutnyaSurah Ibrahim
Sending
User Review
4.5 (9 votes)
Tags:

13:17, 13 17, 13-17, Surah Ar Ra'd 17, Tafsir surat ArRad 17, Quran Ar Rad 17, Ar-Ra’d 17, Surah Ar Rad ayat 17

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Asy Syu’araa (Penyair) – surah 26 ayat 193 [QS. 26:193]

193. Al-Qur’an itu dibawa turun secara berangsur-angsur oleh Ar-Ruh Al-Amin yaitu Jibril, atas izin Allah. Ruh adalah sesuatu yang dengannya raga menjadi hidup, begitu juga Al-Qur’an. … 26:193, 26 193, 26-193, Surah Asy Syu’araa 193, Tafsir surat AsySyuaraa 193, Quran Asy Syuara 193, Asy Syu’ara 193, Asy-Syu’ara 193, Surah Asy Syuara ayat 193

QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 5 [QS. 9:5]

Ayat ini memerintahkan apa yang seharusnya dilakukan oleh kaum muslim setelah habisnya masa tenggang tersebut. Apabila telah habis bulan-bulan haram, yakni masa tenggang waktu empat bulan yang diberi … 9:5, 9 5, 9-5, Surah At Taubah 5, Tafsir surat AtTaubah 5, Quran At-Taubah 5, Surah At Taubah ayat 5

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Arti fana adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang ...

Benar! Kurang tepat!

Allah memiliki sifat Al Kariim yang tercantum dalam Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Dalam Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al Matiin yang tercantum dalam Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Tuhan memiliki sifat Al Karim, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala merupakan zat Yang ..

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #1
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #1 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #1 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #10

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di … Ka’bah Gua Hira Madinah Masjid Al Haram Padang Arafat Benar!

Pendidikan Agama Islam #6

Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah … Ali Imron Al Ikhlas An-nas Al ‘Alaq Al

Pendidikan Agama Islam #5

Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan … kebenaran bahwa kita hidup di dunia hanya sementara seperti yang kamu inginkan aku

Instagram