Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. An Nuur (Cahaya) - surah 24 ayat 63 [QS. 24:63]

لَا تَجۡعَلُوۡا دُعَآءَ الرَّسُوۡلِ بَیۡنَکُمۡ کَدُعَآءِ بَعۡضِکُمۡ بَعۡضًا ؕ قَدۡ یَعۡلَمُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ یَتَسَلَّلُوۡنَ مِنۡکُمۡ لِوَاذًا ۚ فَلۡیَحۡذَرِ الَّذِیۡنَ یُخَالِفُوۡنَ عَنۡ اَمۡرِہٖۤ اَنۡ تُصِیۡبَہُمۡ فِتۡنَۃٌ اَوۡ یُصِیۡبَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ
Laa taj’aluu du’aa-arrasuuli bainakum kadu’aa-i ba’dhikum ba’dhan qad ya’lamullahul-ladziina yatasallaluuna minkum liwaadzan falyahdzaril-ladziina yukhaalifuuna ‘an amrihi an tushiibahum fitnatun au yushiibahum ‘adzaabun aliimun;
Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain).
Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.
―QS. An Nuur [24]: 63

Daftar isi

Do not make (your) calling of the Messenger among yourselves as the call of one of you to another.
Already Allah knows those of you who slip away, concealed by others.
So let those beware who dissent from the Prophet’s order, lest fitnah strike them or a painful punishment.
― Chapter 24. Surah An Nuur [verse 63]

لَّا janganlah

(Do) not
تَجْعَلُوا۟ kalian jadikan

make
دُعَآءَ seruan/panggilan

(the) calling
ٱلرَّسُولِ Rasul

(of) the Messenger
بَيْنَكُمْ diantara kamu

among you
كَدُعَآءِ seperti seruan/panggilan

as (the) call
بَعْضِكُم sebagian kamu

(of) some of you
بَعْضًا sebagian yang lain

(to) others.
قَدْ sesungguhnya

Verily,
يَعْلَمُ mengetahui

Allah knows *[meaning includes next or prev. word]
ٱللَّهُ Allah

Allah knows *[meaning includes next or prev. word]
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
يَتَسَلَّلُونَ (mereka) pergi berangsur-angsur

slip away
مِنكُمْ diantara kamu

among you
لِوَاذًا berlindung

under shelter.
فَلْيَحْذَرِ maka hendaklah takut

So let beware
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
يُخَالِفُونَ (mereka) menyalahi

oppose
عَنْ dari

[from]
أَمْرِهِۦٓ perintah-Nya

his orders
أَن akan

lest
تُصِيبَهُمْ menimpa mereka

befalls them
فِتْنَةٌ fitnah/cobaan

a trial
أَوْ atau

or
يُصِيبَهُمْ menimpa mereka

befalls them
عَذَابٌ azab

a punishment
أَلِيمٌ pedih

painful.

Tafsir Quran

Surah An Nuur
24:63

Tafsir QS. An-Nuur (24) : 63. Oleh Kementrian Agama RI

Diriwayatkan oleh Abu Daud bahwa ada di antara orang-orang munafik yang merasa tidak senang mendengarkan khutbah.
Apalagi dilihatnya ada seorang muslim meminta izin keluar dan diberi izin oleh Rasulullah, dia pun ikut saja keluar bersama orang yang telah mendapat izin itu dengan berlindung kepadanya.

Maka turunlah ayat ini.

Kemudian sebagai penghormatan kepada Rasulullah, seorang muslim dilarang oleh Allah memanggil Rasulullah dengan menyebut namanya saja seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab antara sesama mereka.

Maka tidak boleh seorang muslim memanggilnya
"hai Muhammad
"
atau
"hai ayah si Qasim."
Dan sebagai adab dan sopan santun kepada Rasulullah hendaklah beliau dipanggil sesuai dengan jabatan yang dikaruniakan Allah kepadanya yaitu Rasul Allah atau Nabi Allah.

Kemudian Allah mengancam orang-orang yang keluar dari suatu pertemuan bersama Nabi dengan cara sembunyi-sembunyi karena takut akan dilihat orang.
Perbuatan semacam ini walaupun tidak diketahui oleh Nabi, tetapi Allah mengetahuinya dan mengetahui sebab-sebab yang mendorong mereka meninggalkan pertemuan itu.



Allah memberi peringatan kepada orang-orang semacam itu yang suka melanggar perintah, bahwa mereka akan mendapat musibah atau siksa yang pedih.
Meskipun di dunia mereka tidak ditimpa musibah apapun tetapi di akhirat mereka akan masuk neraka dan itulah seburuk-buruknya kesudahan.

Tafsir QS. An Nuur (24) : 63. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Berusahalah menghormati ajakan rasul kepada kalian untuk berkumpul membicarakan persoalan- persoalan penting.
Penuhilah seruan itu.


Dan jangan kalian jadikan seruan itu seperti seruan sebagian dari kalian yang boleh diremehkan dan ditinggalkan.
Jangan kalian pergi kecuali setelah meminta izin dan mendapat perkenannya.


Itu pun dalam batas-batas yang ketat dan dalam keadaan yang sangat darurat.
Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui siapa yang pergi tanpa izin dengan sembunyi-sembunyi di antara kerumunan orang yang sulit dilihat oleh rasul.


Hendaknya orang-orang yang menyalahi perintah Allah takut akan dihukum oleh Allah–karena kemaksiatan mereka–dengan cobaan berat di dunia seperti kekeringan dan gempa bumi, atau siksa pedih yang memilukan yang telah disediakan di akhirat, yaitu neraka.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian ketika memanggil Rasulullah dengan panggilan:
Wahai Muhammad, dan juga jangan:
Wahai Muhammad bin Abdullah, sebagaimana panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain.
Namun, mulakanlah Rasulullah dan panggillah:
Wahai Nabiyullah, wahai Rasulullah.


Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang munafik yang pergi dari majelis Nabi dengan sembunyi-sembunyi dan tanpa izin.
Yang satu bergandengan dengan yang lain.


Hendaknya orang yang menyelisihi perintah Rasulullah takut akan ditimpa cobaan dan keburukan, atau akan ditimpa musibah berbentuk azab yang sangat pedih dan menyakitkan di akhirat nanti.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain) umpamanya kalian mengatakan,
"Hai Muhammad!"
Tetapi ucapkanlah,
"Hai Nabi Allah, hai Rasulullah!"
Dengan suara yang lemah lembut dan penuh rendah diri.


(Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang diam-diam pergi di antara kalian dengan sembunyi-sembunyi) mereka keluar dari mesjid pada waktu Nabi mengucapkan khutbahnya tanpa terlebih dahulu meminta izin kepadanya, secara diam-diam sambil menyembunyikan diri di balik sesuatu.
Huruf Qad di sini menunjukkan makna Tahqiq yang artinya sesungguhnya


(maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya merasa takut) menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya


(akan ditimpa cobaan) malapetaka


(atau ditimpa azab yang pedih) di akhirat kelak.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa dahulu mereka mengatakan,
"Hai Muhammad, hai Abul Qasim!"
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala melarang mereka melakukan hal tersebut sebagai penghormatan kepada Nabi-Nya.
Nabi ﷺ bersabda,
"Ucapkanlah oleh kalian,
"Hai Nabi Allah, hai Rasulullah‘."
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Sa’id ibnu Jubair.

Qatadah mengatakan bahwa Allah memerintahkan demikian agar Nabi-Nya disegani, dihormati, dimuliakan, dan dianggap sebagai pemimpin (mereka).

Muqatil telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian (yang lain).
(QS. An-Nuur [24]: 63)
Yakni janganlah kalian menyebutnya ‘hai Muhammad‘ bila kalian, memanggilnya, janganlah pula kalian menyebutnya ‘hai anak Abdullah’, tetapi muliakanlah dia dengan sebutan ‘hai Nabi Allah, hai Utusan Allah’.

Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam sehubungan dengan makna firman-Nya:
Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian (yang lain).
(QS. An-Nuur [24]: 63)
Allah memerintahkan kepada mereka agar memuliakannya.
Ini merupakan suatu pendapat yang pengertiannya sesuai dengan makna lahiriah ayat.
Makna ayat ini semisal dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian katakan (kepada Muhammad) raina (QS. Al-Baqarah [2]: 104), hingga akhir ayat.

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian lebih dari suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalan kalian, sedangkan kalian tidak menyadari.
(QS. Al-Hujurat [49]: 2)

sampai dengan firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar-(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.
Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka.
(QS. Al-Hujurat [49]: 5), hingga akhir ayat.

Semuanya ini termasuk ke dalam Bab
"Etika dan Sopan Santun dalam Berbicara kepada Nabi ﷺ dan Mengobrol di Hadapannya,"
sebagaimana mereka diperintahkan pula untuk mendahulukan bersedekah sebelum berbicara dengan beliau ﷺ

Menurut pendapat yang kedua mengenai makna ayat ini, bahwa firman-Nya:
Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian (yang lain), (QS. An-Nuur [24]: 63)
Yaitu janganlah kalian mengira bahwa doa Nabi kepada orang lain sama dengan doa orang lain kepada sesamanya, karena sesungguhnya doa Nabi itu dikabulkan.
Karena itu, hati-hatilah kalian, jangan sampai Nabi ﷺ mendoakan untuk kemudaratan kalian yang akhirnya kalian pasti akan binasa.
Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim melalui Ibnu Abbas, Al-Hasan Al-Basri, dan Atiyyah Al-Aufi.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kalian dengan berlindung (kepada kawannya).
(QS. An-Nuur [24]: 63)

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan, mereka yang berbuat demikian itu adalah orang-orang munafik.
Mereka merasa enggan dan keberatan mengikuti pembicaraan di hari Jumat, yang dimaksud ialah khotbah Jumat.
Maka mereka pergi secara berangsur-angsur (surut) dengan berlindung kepada sebagian sahabat Nabi ﷺ hingga keluar dari masjid (lalu kabur).
Padahal tidaklah pantas bagi seseorang keluar dari masjid melainkan setelah mendapat izin dari Nabi ﷺ pada hari Jumat sesudah Nabi ﷺ memulai khotbahnya.
Dan bilamana seseorang dari kaum muslim hendak keluar, ia berisyarat dengan tangannya kepada Nabi ﷺ, maka Nabi ﷺ memberikan izin kepadanya.
Semuanya itu dilakukan olehnya hanya dengan isyarat, tanpa bicara, karena bila ia berbicara, sedangkan Nabi ﷺ dalam keadaan berkhotbah, maka batallah salat Jumatnya.

As-Saddi mengatakan bahwa orang-orang munafik itu apabila ada bersama Nabi ﷺ dalam suatu jamaah, maka sebagian dari mereka pergi dengan berangsur-angsur seraya berlindung kepada sebagian lainnya hingga pergi meninggalkan Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ tidak melihat kepergian mereka.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kalian dengan berlindung (kepada kawannya).
(QS. An-Nuur [24]: 63)
Maksudnya, pergi secara berangsur-angsur dari Nabi ﷺ dan dari Kitabullah (yakni tidak mengamalkannya).

Sufyan telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kalian dengan berlindung (kepada kawannya).
(QS. An-Nuur [24]: 63)
Yaitu dari saf salat.

Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna liwazan, bahwa makna yang dimaksud ialah menentang.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut.
(QS. An-Nuur [24]: 63)

Yakni menyalahi perintah Rasulullah ﷺ, yaitu menentang jalannya, metodanya, jalurnya, sunnah, dan syariatnya.
Maka semua ucapan dan amal perbuatannya ditimbang dengan semua ucapan dan amal perbuatan Nabi ﷺ Mana yang sesuai, dapat diterima, dan mana yang bertentangan, ditolak dan dikembalikan kepada pelakunya, siapa pun dia adanya.


Seperti yang telah disebutkan di dalam kitab Sahihain dan kitabkitab hadis lainnya dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang mengerjakan suatu amal perbuatan yang bukan termasuk urusan kami, maka hal itu ditolak.

Dengan kata lain, hendaklah orang-orang yang menyalahi syariat Rasulullah ﷺ berhati-hati dan takut lahir dan batinnya.

akan ditimpa cobaan.
(QS. An-Nuur [24]: 63)


dalam hati mereka berupa kekafiran, kemunafikan, atau perkara bid’ah.

atau ditimpa azab yang pedih.
(QS. An-Nuur [24]: 63)

Yakni azab di dunia, seperti dihukum mati, atau dihukum had, atau dipenjara, dan lain sebagainya.


Seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad:


telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Hammam ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa inilah apa yang telah diceritakan kepada kami oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Perumpamaan aku dan kalian sama dengan seorang lelaki yang menyalakan api.
Setelah apinya menyala, maka kupu-kupu dan serangga-serangga lainnya berjatuhan ke dalam apinya, sedangkan dia berusaha menghalang-halanginya, tetapi mereka dapat mengalahkannya dan menceburkan diri mereka ke dalam api itu.
(Nabi ﷺ melanjutkan sabdanya) Yang demikian itulah perumpamaan aku dan kalian, aku menahan kalian agar kalian jangan terjerumus ke dalam neraka,
"Menjauhlah dari neraka!"
Tetapi kalian dapat mengalahkan aku dan kalian menceburkan diri ke dalam neraka.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Abdur Razzaq.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nuur (24) Ayat 63

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Kitab ad-Dalaa-il, dari adl-Dlahhak yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa pada waktu itu, apabila orang-orang memanggil Rasulullah, mereka suka mengucapkan: “Ya Muhammad! Ya Abal Qasim!” Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 63) yang melarang kaum Muslimin memanggil nama pada Nabi Muhammad ﷺ.
Setelah ayat ini turun, kaum Muslimin pun memanggil Nabi dengan panggilan “Yaa Nabiyyallaah, yaa Rasulullah.”

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nuur (24) Ayat 63

FITNAH
فِتْنَة

Arti asal kata fitnah adalah memasukkan emas ke dalam api untuk menguji kualitasnya.
Kata ini biasa diartikan dengan ujian dan cobaan.
Kadang-kadang fitnah ini datangnya dari Allah dan kadang-kadang pula dari manusia, seperti sakit, musibah, kematian, azab dan kejadian-kejadian yang tidak disukai lainnya.

Kata fitnah dalam Al Qur’an diulang tiga puluh empat kali, yaitu dalam surah:
• Al Baqarah (2), ayat 191, 217, 102, 193;
• Ali Imran (3), ayat 7;
An Nisaa (4), ayat 91;
• Al Maa’idah (5), ayat 41, 71;
• Al An’aam (6), ayat 23;
• Al A’raaf (7), ayat 155;
• Al Anfaal (8), ayat 25, 28, 38, 73;
• At Taubah (9), ayat 47, 48, 49;
Yunus (10), ayat 85;
• Al Israa’ (17), ayat 60;
• Al Anbiyaa’ (21), ayat 35, 111;
• Al Hajj (22), ayat 11, 53;
An Nuur (24), ayat 63;
• Al Furqaan (25), ayat 20;
• Al Ankabut (29), ayat 10;
Al Ahzab (33), ayat 14;
• Ash Shaffaat (37), ayat 63;
• Az Zumar (39), ayat 49;
• Adz Dzaariyaat (51), ayat 14;
• Al Qamar (54), ayat 27;
• Al Mumtahanah (60), ayat 5;
• At Taghaabuun (64), ayat 15;
• Al Muddatstsir (74), ayat 31.

Sedangkan kata futunyang merupakan jamak dari fitnah diulang sekali surah Tha Ha (20), ayat 40. Begitu juga dengan kata faatiniin diulang sekali surah Ash Shaffaat (37), ayat 162. Dan kata maftuun juga diulang sekali surah Al Qalam (68), ayat 6.
Menurut Al Husayn bin Muhammad Ad Daamaghani, kata fitnah dan juga kata-kata yang seakar dengannya dalam Al Qur’an digunakan untuk sebelas pemakaian, yaitu:
(1). Kemusyrikan;
(2). Kekafiran;
(3). Azab; (4);
(4).Ujian dan cobaan;
(5). Dibakar dengan api;
(6). Pembunuhan;
(7). Dihalang-halangi dari jalan yang benar;
(8). Kesesatan dan kebingungan;
(9). Uzur;
(10). Kesukaran;
(11). Gila.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:439-440

Unsur Pokok Surah An Nuur (النور)

Surat An-Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Dinamai "An Nuur" yang berarti "Cahaya",
diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat 35.
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan tentang Nuur Ilahi, yakni Alquran yang mengandung petunjuk-petunjuk.

Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta.

Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Keimanan:

▪ Kesaksian lidah dan anggota-anggota tubuh atas segala perbuatan manusia pada hari kiamat.
▪ Hanya Allah yang menguasai langit dan bumi.
▪ Kewajiban rasul hanyalah menyampaikan agama Allah.
▪ Iman rnerupakan dasar daripada diterimanya amal ibadah.

Hukum:

▪ Hukum-hukum sekitar masalah zina, li’an dan adabadab pergaulan diluar dan di dalam rumah tangga.

Kisah:

▪ Cerita tentang berita bohong terhadap Ummul mukmininAisyah r.a. (Qishshatul lfki).

Lain-lain:

▪ Semua jenis hewan diciptakan Allah dari air.
▪ Janji Allah kepada kaum muslimin yang beramal saleh.

Audio Murottal

QS. An-Nuur (24) : 1-64 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 64 + Terjemahan Indonesia



QS. An-Nuur (24) : 1-64 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 64

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nuur ayat 63 - Gambar 1 Surah An Nuur ayat 63 - Gambar 2
Statistik QS. 24:63
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah An Nuur.

Surah An-Nur (Arab: النّور‎) adalah surah ke-24 dari Alquran.
Surah ini terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Dinamai An-Nur yang berarti Cahaya yang diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35.
Dalam ayat ini, Allah ﷻ menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Alquran yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta.
Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Nomor Surah 24
Nama Surah An Nuur
Arab النور
Arti Cahaya
Nama lain
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 102
Juz Juz 18
Jumlah ruku’ 9 ruku’
Jumlah ayat 64
Jumlah kata 1381
Jumlah huruf 5755
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’minun
Surah selanjutnya Surah Al-Furqan
Sending
User Review
4.7 (29 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

24:63, 24 63, 24-63, Surah An Nuur 63, Tafsir surat AnNuur 63, Quran An Nur 63, An-Nur 63, Surah An Nur ayat 63

Video Surah

24:63


More Videos

Kandungan Surah An Nuur

۞ QS. 24:1 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 24:2 • Dosa-dosa besar

۞ QS. 24:4 • Dosa-dosa besar

۞ QS. 24:5 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar •

۞ QS. 24:9 • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah

۞ QS. 24:10 • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 24:11 • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Menyiksa pelaku maksiat • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 24:14 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 24:15 • Dosa-dosa besar

۞ QS. 24:18 • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 24:19 • Keluasan ilmu Allah • Maksiat dan dosa

۞ QS. 24:20 • Al Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 24:21 • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 24:22 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 24:23 • Dosa-dosa besar • Maksiat dan dosa

۞ QS. 24:24 • Manusia bersaksi atas dirinya • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 24:25 • Al Haq (Maha Benar) • Al Mubin (Maha Penjelas) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 24:26 • Ampunan Allah yang luas

۞ QS. 24:28 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 24:29 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 24:30 • Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 24:32 • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 24:33 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Keistimewaan Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 24:34 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 24:35 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • An Nur (Cahaya) • Allah menggerakkan hati manusia

۞ QS. 24:36 Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 24:37 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 24:38 • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Razzaq (Maha Pemberi rezeki) • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 24:39 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Perbuatan orang kafir sia-sia

۞ QS. 24:41 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 24:42 • Segala sesuatu milik Allah • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 24:43 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 24:44 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala

۞ QS. 24:45 • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Khaliq (Maha Pencipta) • Al Qadiir (Maha Penguasa) •

۞ QS. 24:46 • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Allah menggerakkan hati manusia

۞ QS. 24:47 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 24:48 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 24:49 • Sifat orang munafik

۞ QS. 24:50 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 24:52 • Pahala iman • Keutamaan iman

۞ QS. 24:53 • Al Khabir (Maha Waspada) • Sifat orang munafik • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 24:54 • Sifat orang munafik • Menanggung dosa orang lain

۞ QS. 24:55 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminTauhid Uluhiyyah • Kekuatan umat Islam di dunia • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 24:57 • Sifat neraka • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 24:58 • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 24:59 • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 24:60 • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 24:61 • Toleransi Islam

۞ QS. 24:62 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Iman adalah ucapan dan perbuatan •

۞ QS. 24:63 • Sifat orang munafik • Peringatan Allah terhadap hambaNya • Menyiksa pelaku maksiat • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 24:64 • Segala sesuatu milik Allah • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Kebenaran hari penghimpunan • Menghitung amal kebaikan

Ayat Pilihan

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Yang menguasai di Hari Pembalasan.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah,
dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
QS. Al-Fatihah [1]: 4-5

Katakanlah:
“Dialah Yang menciptakan kamu & menjadikan bagi kamu pendengaran,
penglihatan & hati”.
(Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.

QS. Al-Mulk [67]: 23

Mereka itu tidak sama,
di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus,
mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari,
sedang mereka juga bersujud (sembahyang).
QS. Ali ‘Imran [3]: 113

Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan,
niscaya Allah mengetahuinya.
Berbekallah,
dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa & bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal
QS. Al-Baqarah [2]: 197

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Berdasarkan bahasa, ijma artinya adalah ...

Correct! Wrong!

Orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya disebut dengan ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Mujtahid (bahasa Arab: u0627u0644u0645u062cu062au0647u062f) atau fakih (u0627u0644u0641u0642u064au0647) adalah seseorang yang dalam ilmu fikih sudah mencapai derajat ijtihad dan memiliki kemampuan istinbath (inferensi) hukum-hukum syariat dari sumber-sumber muktabar dan diandalkan.

Era ketidaktahuan juga disebut zaman ...

Correct! Wrong!

+

Array

Arti hadits maudhu' adalah ...

Correct! Wrong!

Pengertian ijtihad menurut istilah adalah ...

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #9
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #9 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #9 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #7

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah … Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum … Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum … Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Pendidikan Agama Islam #11

Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki kebiasaan buruk, juga memiliki kebiasaan baik. Di bawah ini yang tidak termasuk kebiasaan baik masyarakat Arab sebelum Islam adalah … Berikut ini yang bukan merupakan substansi dakwah Rasulullah di Mekkah adalah … Dalam QS. Al-Muddassir ayat 1-7 adalah menjadi dasar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan dakwah di Mekkah secara … Dari proses dakwah secara diam-diam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah, maka terdapat beberapa sahabat yang masuk Islam pertama kali. Mereka dikenal dengan sebutan … Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan adalah …

Pendidikan Agama Islam #6

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai … Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah … Alquran adalah panduan dan pedoman manusia bagi mereka yang beriman. Ini dikonfirmasikan oleh Allah dalam surah … Alquran bertindak sebagai Hudan, yang artinya adalah … Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah berfirman bahwa Alquran adalah pedoman untuk orang …

Kamus Istilah Islam

Mukadimah

Apa itu Mukadimah? mu.ka.di.mah pendahuluan; kata pengantar; mukadimah Undang-Undang Dasar 1945 … •

khawasulkhawas

Apa itu khawasulkhawas? kha.wa.sul.kha.was ] martabat tertinggi di sisi Allah yang dimiliki oleh para sufi tertentu … •

iktikaf

Apa itu iktikaf? ik.ti.kaf diam beberapa waktu di dalam masjid sebagai suatu ibadah dengan syarat-syarat tertentu … •