Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nuur

An Nuur (Cahaya) surah 24 ayat 63


لَا تَجۡعَلُوۡا دُعَآءَ الرَّسُوۡلِ بَیۡنَکُمۡ کَدُعَآءِ بَعۡضِکُمۡ بَعۡضًا ؕ قَدۡ یَعۡلَمُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ یَتَسَلَّلُوۡنَ مِنۡکُمۡ لِوَاذًا ۚ فَلۡیَحۡذَرِ الَّذِیۡنَ یُخَالِفُوۡنَ عَنۡ اَمۡرِہٖۤ اَنۡ تُصِیۡبَہُمۡ فِتۡنَۃٌ اَوۡ یُصِیۡبَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ
Laa taj’aluu du’aa-arrasuuli bainakum kadu’aa-i ba’dhikum ba’dhan qad ya’lamullahul-ladziina yatasallaluuna minkum liwaadzan falyahdzaril-ladziina yukhaalifuuna ‘an amrihi an tushiibahum fitnatun au yushiibahum ‘adzaabun aliimun;

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).
Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.
―QS. 24:63
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan
24:63, 24 63, 24-63, An Nuur 63, AnNuur 63, An Nur 63, An-Nur 63
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nuur (24) : 63. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian sebagai penghormatan kepada Rasulullah, seorang muslim dilarang Allah memanggilnya dengan menyebut namanya saja seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab antara sesama mereka.
Maka tidak boleh seorang muslim memanggilnya hai Muhammad atau hai ayah si Kasim.
Dan sebagai adab dan Sopan santun kepada beliau hendaklah beliau dipanggil sesuai dengan jabatan yang dikaruniakan Allah kepadanya yaitu Rasul Allah atau Nabi Allah.
Kemudian Allah mengancam orang-orang yang keluar dari suatu pertemuan bersama Nabi dengan cara sembunyi-sembunyi karena takut akan dilihat orang.
Perbuatan semacam ini walaupun tidak diketahui oleh Nabi, tetapi Allah mengetahuinya dan mengetahui sebab-sebab yang mendorong mereka meninggalkan pertemuan itu.
Diriwayatkan oleh Abu Daud bahwa ada di antara orang-orang munafik yang merasa tidak senang mendengarkan khutbah.
Apalagi dilihatnya ada seorang muslim meminta izin keluar dan diberi izin olah Rasulullah, dia pun ikut saja keluar bersama orang yang telah mendapat izin itu dengan berlindung kepadanya.
Maka turunlah ayat ini.
Allah memberi peringatan kepada orang-orang semacam itu yang suka melanggar perintah, bahwa mereka akan mendapat musibah atau siksa yang pedih.
Meskipun di dunia mereka tidak ditimpa musibah apapun tetapi di akhirat mereka akan masuk neraka dan itulah seburuk-buruknya kesudahan.

An Nuur (24) ayat 63 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nuur (24) ayat 63 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nuur (24) ayat 63 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Berusahalah menghormati ajakan rasul kepada kalian untuk berkumpul membicarakan persoalan- persoalan penting.
Penuhilah seruan itu.
Dan jangan kalian jadikan seruan itu seperti seruan sebagian dari kalian yang boleh diremehkan dan ditinggalkan.
Jangan kalian pergi kecuali setelah meminta izin dan mendapat perkenannya.
Itu pun dalam batas-batas yang ketat dan dalam keadaan yang sangat darurat.
Allah subhanahu wa ta'ala mengetahui siapa yang pergi tanpa izin dengan sembunyi-sembunyi di antara kerumunan orang yang sulit dilihat oleh rasul.
Hendaknya orang-orang yang menyalahi perintah Allah takut akan dihukum oleh Allah--karena kemaksiatan mereka--dengan cobaan berat di dunia seperti kekeringan dan gempa bumi, atau siksa pedih yang memilukan yang telah disediakan di akhirat, yaitu neraka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain) umpamanya kalian mengatakan, "Hai Muhammad!" Tetapi ucapkanlah, "Hai Nabi Allah, hai Rasulullah!" Dengan suara yang lemah lembut dan penuh rendah diri.
(Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang diam-diam pergi di antara kalian dengan sembunyi-sembunyi) mereka keluar dari mesjid pada waktu Nabi mengucapkan khutbahnya tanpa terlebih dahulu meminta izin kepadanya, secara diam-diam sambil menyembunyikan diri di balik sesuatu.
Huruf Qad di sini menunjukkan makna Tahqiq yang artinya sesungguhnya (maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya merasa takut) menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya (akan ditimpa cobaan) malapetaka (atau ditimpa azab yang pedih) di akhirat kelak.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang beriman!! Janganlah kalian ketika memanggil Rasulullah dengan panggilan :
Wahai Muhammad, dan juga jangan :
Wahai Muhammad bin Abdullah, sebagaimana panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain.
Namun, mulakanlah Rasulullah dan panggillah :
Wahai Nabiyullah, wahai Rasulullah.
Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang munafik yang pergi dari majelis Nabi dengan sembunyi-sembunyi dan tanpa izin.
Yang satu bergandengan dengan yang lain.
Hendaknya orang yang menyelisihi perintah Rasulullah takut akan ditimpa cobaan dan keburukan, atau akan ditimpa musibah berbentuk adzab yang sangat pedih dan menyakitkan di akhirat nanti.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa dahulu mereka mengatakan, "Hai Muhammad, hai Abul Qasim!" Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala melarang mereka melakukan hal tersebut sebagai penghormatan kepada Nabi-Nya.
Nabi ﷺ bersabda, "Ucapkanlah oleh kalian, "Hai Nabi Allah, hai Rasulullah'." Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Sa'id ibnu Jubair.

Qatadah mengatakan bahwa Allah memerintahkan demikian agar Nabi-Nya disegani, dihormati, dimuliakan, dan dianggap sebagai pemimpin (mereka).

Muqatil telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian (yang lain).
(An Nuur:63) Yakni janganlah kalian menyebutnya 'hai Muhammad' bila kalian, memanggilnya, janganlah pula kalian menyebutnya 'hai anak Abdullah', tetapi muliakanlah dia dengan sebutan 'hai Nabi Allah, hai Utusan Allah'.

Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam sehubungan dengan makna firman-Nya: Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian (yang lain).
(An Nuur:63) Allah memerintahkan kepada mereka agar memuliakannya.
Ini merupakan suatu pendapat yang pengertiannya sesuai dengan makna lahiriah ayat.
Makna ayat ini semisal dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian katakan (kepada Muhammad) raina (Al Baqarah:104), hingga akhir ayat.

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian lebih dari suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepada­nya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalan kalian, sedangkan kalian tidak menyadari.
(Al Hujuraat:2)

sampai dengan firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar-(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.
Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka.
(Al Hujuraat:5), hingga akhir ayat.

Semuanya ini termasuk ke dalam Bab "Etika dan Sopan Santun dalam Berbicara kepada Nabi ﷺ dan Mengobrol di Hadapannya," sebagaimana mereka diperintahkan pula untuk mendahulukan bersedekah sebelum berbicara dengan beliau ﷺ

Menurut pendapat yang kedua mengenai makna ayat ini, bahwa firman-Nya: Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian (yang lain), (An Nuur:63) Yaitu janganlah kalian mengira bahwa doa Nabi kepada orang lain sama dengan doa orang lain kepada sesamanya, karena sesungguhnya doa Nabi itu dikabulkan.
Karena itu, hati-hatilah kalian, jangan sampai Nabi ﷺ mendoakan untuk kemudaratan kalian yang akhirnya kalian pasti akan binasa.
Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim melalui Ibnu Abbas, Al-Hasan Al-Basri, dan Atiyyah Al-Aufi.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kalian dengan berlindung (kepada kawannya).
(An Nuur:63)

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan, mereka yang berbuat demikian itu adalah orang-orang munafik.
Mereka merasa enggan dan keberatan mengikuti pembicaraan di hari Jumat, yang dimaksud ialah khotbah Jumat.
Maka mereka pergi secara berangsur-angsur (surut) dengan berlindung kepada sebagian sahabat Nabi ﷺ hingga keluar dari masjid (lalu kabur).
Padahal tidaklah pantas bagi seseorang keluar dari masjid melainkan setelah mendapat izin dari Nabi ﷺ pada hari Jumat sesudah Nabi ﷺ memulai khotbahnya.
Dan bilamana seseorang dari kaum muslim hendak keluar, ia berisyarat dengan tangannya kepada Nabi ﷺ, maka Nabi ﷺ memberikan izin kepadanya.
Semuanya itu dilakukan olehnya hanya dengan isyarat, tanpa bicara, karena bila ia berbicara, sedangkan Nabi ﷺ dalam keadaan berkhotbah, maka batallah salat Jumatnya.

As-Saddi mengatakan bahwa orang-orang munafik itu apabila ada bersama Nabi ﷺ dalam suatu jamaah, maka sebagian dari mereka pergi dengan berangsur-angsur seraya berlindung kepada sebagian lainnya hingga pergi meninggalkan Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ tidak melihat kepergian mereka.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kalian dengan berlindung (kepada kawannya).
(An Nuur:63) Maksudnya, pergi secara berangsur-angsur dari Nabi ﷺ dan dari Kitabullah (yakni tidak mengamalkannya).

Sufyan telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kalian dengan berlindung (kepada kawannya).
(An Nuur:63) Yaitu dari saf salat.

Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna liwazan, bahwa makna yang dimaksud ialah menentang.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut.
(An Nuur:63)

Yakni menyalahi perintah Rasulullah ﷺ, yaitu menentang jalannya, metodanya, jalurnya, sunnah, dan syariatnya.
Maka semua ucapan dan amal perbuatannya ditimbang dengan semua ucapan dan amal perbuatan Nabi ﷺ Mana yang sesuai, dapat diterima, dan mana yang bertentangan, ditolak dan dikembalikan kepada pelakunya, siapa pun dia adanya.

Seperti yang telah disebutkan di dalam kitab Sahihain dan kitab-kitab hadis lainnya dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang mengerjakan suatu amal perbuatan yang bukan termasuk urusan kami, maka hal itu ditolak.

Dengan kata lain, hendaklah orang-orang yang menyalahi syariat Rasulullah ﷺ berhati-hati dan takut lahir dan batinnya.

akan ditimpa cobaan.
(An Nuur:63)

dalam hati mereka berupa kekafiran, kemunafikan, atau perkara bid'ah.

atau ditimpa azab yang pedih.
(An Nuur:63)

Yakni azab di dunia, seperti dihukum mati, atau dihukum had, atau dipenjara, dan lain sebagainya.

Seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Hammam ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa inilah apa yang telah diceritakan kepada kami oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Perumpamaan aku dan kalian sama dengan seorang lelaki yang menyalakan api.
Setelah apinya menyala, maka kupu-kupu dan serangga-serangga lainnya berjatuhan ke dalam apinya, sedangkan dia berusaha menghalang-halanginya, tetapi mereka dapat mengalahkannya dan menceburkan diri mereka ke dalam api itu.
(Nabi ﷺ melanjutkan sabdanya) Yang demikian itulah perumpamaan aku dan kalian, aku menahan kalian agar kalian jangan terjerumus ke dalam neraka, "Menjauhlah dari neraka!" Tetapi kalian dapat mengalahkan aku dan kalian menceburkan diri ke dalam neraka.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Abdur Razzaq.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nuur (24) Ayat 63

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Kitab ad-Dalaa-il, dari adl-Dlahhak yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa pada waktu itu, apabila orang-orang memanggil Rasulullah, mereka suka mengucapkan: “Ya Muhammad! Ya Abal Qasim!” Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 63) yang melarang kaum Muslimin memanggil nama pada Nabi Muhammad ﷺ.
Setelah ayat ini turun, kaum Muslimin pun memanggil Nabi dengan panggilan “Yaa Nabiyyallaah, yaa Rasulullah.”

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nuur (24) Ayat 63

FITNAH
فِتْنَة

Arti asal kata fitnah adalah memasukkan emas ke dalam api untuk menguji kualitasnya. Kata ini biasa diartikan dengan ujian dan cobaan. Kadang-kadang fitnah ini datangnya dari Allah dan kadang-kadang pula dari manusia, seperti sakit, musibah, kematian, azab dan kejadian-kejadian yang tidak disukai lainnya.

Kata fitnah dalam Al Qur'an diulang tiga puluh empat kali, yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 191, 217, 102, 193;
-Ali Imran (3), ayat 7;
-An Nisaa (4), ayat 91;
-Al Maa'idah (5), ayat 41, 71;
-Al An'aam (6), ayat 23;
-Al A'raaf (7), ayat 155;
-Al Anfaal (8), ayat 25, 28, 38, 73;
-At Taubah (9), ayat 47, 48, 49;
-Yunus (10), ayat 85;
-Al Israa' (17), ayat 60;
-Al Anbiyaa' (21), ayat 35, 111;
-Al Hajj (22), ayat 11, 53;
-An Nuur (24), ayat 63;
-Al Furqaan (25), ayat 20;
-Al Ankabut (29), ayat 10;
-Al Ahzab (33), ayat 14;
-Ash Shaffaat (37), ayat 63;
-Az Zumar (39), ayat 49;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 14;
-Al Qamar (54), ayat 27;
-Al Mumtahanah (60), ayat 5;
-At Taghaabuun (64), ayat 15;
-Al Muddatstsir (74), ayat 31.

Sedangkan kata futunyang merupakan jamak dari fitnah diulang sekali surah Tha Ha (20), ayat 40. Begitu juga dengan kata faatiniin diulang sekali surah Ash Shaffaat (37), ayat 162. Dan kata maftuun juga diulang sekali surah Al Qalam (68), ayat 6.

Menurut Al Husayn bin Muhammad Ad Daamaghani, kata fitnah dan juga kata-kata yang seakar dengannya dalam Al Qur'an digunakan untuk sebelas pemakaian, yaitu:
(1). Kemusyrikan;
(2). Kekafiran;
(3). Azab; (4);
(4).Ujian dan cobaan;
(5). Dibakar dengan api;
(6). Pembunuhan;
(7). Dihalang-halangi dari jalan yang benar;
(8). Kesesatan dan kebingungan;
(9). Uzur;
(10). Kesukaran;
(11). Gila.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:439-440

Informasi Surah An Nuur (النور)
Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Dinamai "An Nuur" yang berarti "Cahaya",
diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat 35.
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan tentang Nuur Ilahi, ya'ni Al Qur'an yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam se­mesta.

Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan de­ngan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Keimanan:

Kesaksian lidah dan anggota-anggota tubuh atas segala perbuatan manusia pada hari kiamat
hanya Allah yang menguasai langit dan bumi
kewajiban rasul hanya­lah menyampaikan agama Allah
iman rnerupakan dasar daripada diterimanya amal ibadah.

Hukum:

Hukum-hukum sekitar masalah zina, li'an dan adab-adab pergaulan diluar dan di dalam rumah tangga.

Kisah:

Cerita tentang berita bohong terhadap Ummul Mu'minin 'Aisyah r.a. (Qishshatul lfki).

Lain-lain:

Semua jenis hewan diciptakan Allah dari air
janji Allah kepada kaum muslimin yang beramal saleh.


Gambar Kutipan Surah An Nuur Ayat 63 *beta

Surah An Nuur Ayat 63



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nuur

Surah An-Nur (Arab: النّور‎) adalah surah ke-24 dari al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Dinamai An-Nur yang berarti Cahaya yang diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35.
Dalam ayat ini, Allah s.w.t.
menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Al-Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta.
Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Nomor Surah24
Nama SurahAn Nuur
Arabالنور
ArtiCahaya
Nama lain-
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu102
JuzJuz 18
Jumlah ruku'9 ruku'
Jumlah ayat64
Jumlah kata1381
Jumlah huruf5755
Surah sebelumnyaSurah Al-Mu’minun
Surah selanjutnyaSurah Al-Furqan
4.7
Rating Pembaca: 4.7 (29 votes)
Sending