Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nuur

An Nuur (Cahaya) surah 24 ayat 6


وَ الَّذِیۡنَ یَرۡمُوۡنَ اَزۡوَاجَہُمۡ وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ شُہَدَآءُ اِلَّاۤ اَنۡفُسُہُمۡ فَشَہَادَۃُ اَحَدِہِمۡ اَرۡبَعُ شَہٰدٰتٍۭ بِاللّٰہِ ۙ اِنَّہٗ لَمِنَ الصّٰدِقِیۡنَ
Waal-ladziina yarmuuna azwaajahum walam yakun lahum syuhadaa-u ilaa anfusuhum fasyahaadatu ahadihim arba’u syahaadaatin billahi innahu laminash-shaadiqiin(a);

Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.
―QS. 24:6
Topik ▪ Keburukan kaum Luth
24:6, 24 6, 24-6, An Nuur 6, AnNuur 6, An Nur 6, An-Nur 6
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nuur (24) : 6. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa suami yang menuduh istrinya berzina, oleh karena tidak dapat mendatangkan empat orang saksi yang melihat sendiri perbuatan zina yang dituduhkan itu.
maka ia hanya diwajibkan memberikan kesaksian sendiri dengan ucapan tertentu yang diulang empat kali sebagai pengganti dari empat orang saksi yang diperlukan bagi setiap orang yang menuduh perempuan berzina.

Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Abbas bahwa Hilal bin Umaiyah menuduh istrinya di hadapan Nabi ﷺ berzina dengan Syarik bin Syahma' Nabi ﷺ berkata, "Engkau harus mengadakan bukti; atau engkau akan didera!" Berkata Hilal, "Wahai Rasulullah! Kalau seseorang melihat seorang laki-laki di atas perut istrinya, apa dia masih harus mencari pembuktian lagi?
Nabi ﷺ masih mengatakan, "Pembuktian atau had atas dirimu?".
Berkata lagi Hilal: "Demi Yang mengutusmu dengan hak, sesungguhnya tuduhanku ini adalah benar".
Kiranya Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan wahyu mengenai kasusku ini, yang membebaskan saya dari had (hukuman), maka turunlah ayat ini.
Seorang suami menuduh istrinya berzina adakalanya karena ia melihal sendiri istrinya berbuat mesum dengan laki-laki lain, atau karena istrinya hamil, atau melahirkan, padahal ia yakin bahwa janin yang ada di dalam perut istrinya atau anak yang dilahirkan istrinya itu bukanlah dari hasil senggama bersama istrinya.

Untuk menyelesaikan kasus semacam ini, suami membawa istrinya ke hadapan yang berwenang dun di sanalah dinyatakan tuduhan kepada istrinya.
Maka yang berwenang menyuruh suaminya memberikan kesaksian sendiri empat kali, sebagai pengganti dari empat orang saksi yang diperlukan bagi setiap penuduh berzina, bahwa ia adalah benar dalam tuduhannya.
Suami harus mengucapkan:

(Demi Allah Yang Maha Agung, saya bersaksi bahwa sesungguhnya saya benar di dalam tuduhanku terhadap istriku "si Anu" bahwa dia berzina)
Sumpah ini diulang empat kali.

An Nuur (24) ayat 6 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nuur (24) ayat 6 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nuur (24) ayat 6 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang yang menuduh istrinya melakukan zina tanpa ada sejumlah saksi yang menguatkan tuduhannya, dituntut melakukan sumpah sebanyak empat kali bahwa ia benar dalam tuduhan itu, untuk membela dirinya dari sanksi hudud dan hukuman lainnya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan orang-orang yang menuduh istrinya) berbuat zina (padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi) atas perbuatan itu (selain diri mereka sendiri) kasus ini telah terjadi pada segolongan para Sahabat (maka persaksian orang itu) lafal ayat ini menjadi Mubtada (ialah empat kali bersumpah) lafal ayat ini dapat dinashabkan karena dianggap sebagai Mashdar (dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar) dalam tuduhan yang ia lancarkan kepada istrinya itu, yakni tuduhan berbuat zina.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang yang menuduh istrinya berzina, padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah dengan empat kali bersumpah di depan hakim dengan mengucapkan :
Saya bersumpah demi Allah!! Sesungguhnya aku jujur di dalam tuduhanku kepadanya dengan perbuatan zina.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Di dalam ayat-ayat ini terkandung jalan keluar bagi para suami dan hukum yang mempermudah pemecahan masalah bila seseorang dari mereka menuduh istrinya berbuat zina, sedangkan ia sulit menegakkan pem­buktiannya, yaitu hendaknya dia melakukan li’an terhadap istrinya, seperti yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala Yaitu dengan menghadapkan istrinya kepada hakim, lalu ia melancarkan tuduhannya terhadap istrinya di hadapan hakim.
Maka imam akan menyumpahnya sebanyak empat kali dengan nama Allah, sebagai ganti dari empat orang saksi yang diperlukannya, bahwa sesungguhnya dia benar dalam tuduhan yang dilancarkannya terhadap istrinya.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nuur (24) ayat 6
Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad dari Shalih dari Ibnu Syihabia berkata,
telah menceritakan kepadaku Urwah bin Az Zubair dan Sa'id bin Al Musayyab dan Alqamah bin Waqash Al Laitsi dan Ubaidullah bin Abdullah bin Uqbah bin Mas'ud dari Aisyah radliallahu anha istri Nabi shallallahu alaihi wasallam, yaitu ketika orang-orang penuduh berkata kepadanya seperti apa yang telah mereka katakan. Mereka semuanya bercerita kepadaku, sekelompok orang becerita berdasarkan apa yang disampaikan Aisyah dan sebagian lagi hanya perkiraan mereka, lalu aku menetapkan hadits dari kisah-kisah yang berkenaan dengan peristiwa ini dan aku juga memasukkan hadits-hadits dari mereka yang diceritakan kepadaku dari Aisyah dan sebagian lagi hadits saling menguatkan satu sama lain, dimana mereka menduga kepada sebagian yang lain, mereka berkata Aisyah berkata:
Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hendak mengadakan suatu perjalanan, beliau biasa mengundi diantara istri-istri beliau, jika nama seorang dari mereka keluar, berarti dia ikut bepergian bersama beliau. Pada suatu hari beliau mengundi nama-nama kami untuk suatu peperangan yang beliau lakukan, maka keluar namaku hingga aku turut serta bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setelah turun ayat hijab. Aku dibawa didalam sekedup dan ditempatkan didalamnya. Kami lalu berangkat, ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selesai dari peperangan tersebut, kamipun kembali pulang. Tatkala kami dekat dengan Madinah, beliau mengumumkan untuk beristirahat malam. Maka aku keluar dari sekedup saat beliau dan rombongan berhenti, lalu aku berjalan hingga meninggalkan pasukan. Setelah aku selesai menunaikan keperluanku, aku kembali menuju rombongan, betapa terkejutnya aku, ketika aku meraba dadaku ternyata kalungku yang terbuat dari negeri Zhafar terjatuh. Maka aku kembali untuk mencari kalungku. Aisyah melanjutkan, Kemudian orang-orang yang membawaku datang dan membawa sekedupku, dan menaikkannya di atas unta yang aku tunggangi. Mereka menduga aku sudah berada didalam sekedup itu. Memang masa itu para wanita berbadan ringan, tidak terlalu berat, dan mereka tidak banyak daging, mereka hanya makan sesuap makanan. Oleh karena itu orang-orang yang membawa sekedupku tidak curiga dengan ringannya sekedupku ketika mereka mengangkatnya. Saat itu aku adalah wanita yang masih muda. Lalu mereka menggiring unta dan berjalan. Sementara aku baru mendapatkan kembali kalungku setelah pasukan telah berlalu. Aku lalu mendatangi tempat rombongan berhenti, namun tidak ada seorangpun yang tertinggal. Setelah itu aku kembali ke tempatku semula dengan harapan mereka merasa kehilangan aku lalu kembali ke tempatku. Ketika aku duduk, aku terserang rasa kantuk hingga akhirnya aku tertidur. Shafwan bin Al Mu'aththal As Sulami Adz Dzakwan datang menyusuk dari belakang pauskan, kemudian dia menghampiri tempatku dan dia melihat ada bayangan hitam seperti orang yang sedang tidur. Dia mengenaliku saat melihat aku. Dia memang pernah melihat aku sebelum turun ayat hijab. Aku langsung terbangun ketika mendengar kalimat istirja'nya, (ucapan innaa lillahi wa inanaa ilaihi raji'un), saat dia mengenali aku. Aku langsung menutup mukaku dengan jilbabku. Demi Allah, tidaklah kami berbicara sepatah katapun dan aku juga tidak mendengar sepatah katapun darinya kecuali kalimat istirja'nya, dia lalu menghentikan hewan tunggangannya dan merundukkannya hingga berlutut. Maka aku menghampiri tunggangannya itu lalu aku menaikinya. Dia kemudian berjalan sambil menuntun tunggangannya itu hingga kami dapat menyusul pasukan setelah mereka berhenti di tepian sungai Azh Zhahirah untuk singgah di tengah panasnya siang. Aisyah berkata,
Maka binasalah orang yang binasa. Dan orang yang berperan besar menyebarkan berita bohong ini adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. - Urwah berkata,
Dikabarkan kepadaku bahwa Abdullah bin Ubay menyebarkan berita bohong itu, menceritakannya, membenarkannya dan menyampaikannya kepada orang-orang sambil menambah-nambahinya- 'Urwah juga berkata,
Tidak disebutkan orang-orang yang juga terlibat menyebarkan berita bohong itu selain Hasaan bin Tsabit, Misthah bin Utsatsah dan Hamnah binti Jahsyi. Aku tidak tahu tentang mereka melainkan mereka adalah sekelompk orang sebagaimana Allah Ta'ala firmankan. Dan yang paling berperan diantara mereka adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Urwah berkata,
Aisyah tidak suka mencela Hassan, dia berkata bahwa Hassan adalah orang yang pernah bersya'ir: Sesungguhnya ayahku, dan ayahnya serta kehormatanku adalah untuk kehormatan Muhammad sebagai tameng dari kalian. Selanjutnya Aisyah berkata,
Setibanya kami di Madinah, aku menderita sakit selama satu bulan sejak kedatanganku, sementara orang-orang sibuk dengan berita bohong yang diucapankan oleh orang-orang yang membawa berita bohong. Sementara aku sama sekali tidak menyadari sedikitpun adanya berita tersebut. Namun aku curiga, bila beliau shallallahu 'alaihi wasallam hanya menjengukku saat sakitku dan aku tidak merasakan kelembutan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti yang biasa aku dapatkan dari beliau ketika aku sedang sakit. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanya masuk menemuiku dan memberi salam lalu bertanya: Bagaimana keadaanmu, lantas pergi. Inilah yang membuat aku gelisah, namun aku tidak menyadari adanya keburukan yang sedang terjadi. Pada suatu hari, aku keluar (dari rumahku) saat aku merasa sudah sembuh. Aku keluar bersama Ummu Misthah menuju Al Manashi', tempat kami biasa membuang hajat dan kami tidak keluar kesana kecuali di malam hari, Hal itu sebelum kami membuat tempat buang hajat di dekat rumah kami. 'Aisyah berkata,
Dan kebiasaan kami sama seperti kebiasaan orang-orang Arab dahulu, bila buang hajat diluar rumah (atau di lapangan terbuka). Kami merasa tidak nyaman bila membuat tempat buang hajat dekat dengan rumah-rumah kami. Aisyah melanjutkan, Maka aku dan Ummu Misthah, -dia adalah anak Abu Ruhum bin Al Muthallib bin Abdu Manaf, sementara ibunya adalah anak dari Shakhar bin Amir, bibi dari ibu Abu Bakr Ash Shiddiq, sedangkan anaknya bernama Misthah bin Utsatsah bin Abbad bin Al Mutahllib- setelah selesai dari urusan kami, aku dan Ummu Misthah kembali menuju rumahku. Tiba-tiba Ummu Misthah tersandung kainnya seraya berkata,
Celakalah Misthah. Aku katakan kepadanya, Sungguh buruk apa yang kamu ucapkan tadi. Apakah kamu mencela seorang laki-laki yang pernah ikut perang Badar? Dia berkata,
Wahai putri, apakah anda belum mendengar apa yang dia ucapkan?. Aku bertanya,
Apa yang telah diucapkannya? Ummu Misthah menceritakan kepadaku tentang ucapan orang-orang yang membawa berita bohong (tuduhan keji). Kejadian ini semakin menambah sakitku diatas sakit yang sudah aku rasakan. Ketika aku kembali ke rumahku, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masuk menemuiku lalu memberi salam dan bersabda:
Bagaimana keadaanmu?. Aku bertanya kepada beliau, Apakah engkau mengizinkanku untuk pulang ke rumah kedua orangtuaku. Aisyah berkata:
Saat itu aku ingin mencari kepastian berita dari pihak kedua orang tuaku. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberiku izin, lalu aku bertanya kepada ibuku, Wahai ibu, apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang? Ibuku menjawab:
Wahai putriku, tenanglah. Demi Allah, sangat sedikit seorang wanita yang tinggal bersama seorang laki-laki yang dia mencintainya serta memiliki para madu melainkan mereka akan mengganggunya. Aisyah berkata,
aku berkata,
Subhanallah, apakah benar orang-orang tengah memperbincangkan masalah ini. Aisyah berkata,
Maka aku menangis sepanjang malam hingga pagi hari dengan penuh linangan air mata dan aku tidak dapat tidur dan tidak bercelak karena terus menangis, hingga pagi hari aku masih menangis. Aisyah melanjutkan, Rasulullah shallallahu laihi wasallam memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid ketika wahyu belum turun, beliau bertanya kepada keduanya dan meminta pandangan perihal rencana untuk berpisah dengan istri beliau. Aisyah melanjutkan, Usamah memberi isyarat kepada beliau tentang apa yang diketahuinya berupa kebersihan keluarga beliau dan apa yang dia ketahui tentang mereka pada dirinya. Usamah berkata:
Keluarga anda, tidaklah kami mengenalnya melainkan kebaikan. Sedangkan 'Ali bin Abi Thalib berkata,
Wahai Rasulullah, Allah tidak akan menyusahkan anda, sebab masih banyak wanita-wanita lain. Tanyakanlah kepada sahaya wanitanya yang akan membenarkan anda. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memanggil Barirah dan bersabda:
Wahai Barirah, apakah kamu pernah melihat sesuatu yang meragukan pada diri Aisyah?. Barirah menjawab:
Demi Dzat Yang mengutus anda dengan benar, aku tidak pernah melihatnya sesuatu yang meragukan. Kalaupun aku melihat sesuatu padanya tidak lebih dari sekedar perkara kecil, dia juga masih sangat muda, dia pernah tidur di atas adonan milik keluargaya lalu dia memakan adonan tersebut. Aisyah melanjutkan, Suatu hari, di saat beliau berdiri di atas mimbar, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri untuk mengingatkan Abdullah bin Ubay bin Salul. Beliau bersabda:
Wahai sekalian kaum Muslimin, siapa orang yang dapat membebaskan aku dari orang yang aku dengar telah menyakiti keluargaku. Demi Allah, aku tidak mengetahui keluargaku melainkan kebaikan. Sungguh mereka telah menyebut-nyebut seseorang (maksudnya Shafwan) yang aku tidak mengenalnya melainkan kebaikan, tidaklah dia mendatangi keluargaku melainkan selalu bersamaku. Aisyah berkata,
Maka Sa'ad bin Mu'adz, saudara dari Bani Abdul Ashal berdiri seraya berkata:
Aku wahai Rasulullah, aku akan membalaskan penghinaan ini buat anda. Seandainya orang itu dari kalangan suku Aus, aku akan memenggal batang lehernya dan seandainya dari saudara kami dari suku Khazraj, maka perintahkanlah kepada kami, pasti kami akan melaksanakan apa yang anda perintahkan. Aisyah melanjutkan, Lalu beridirilah seorang laki-laki dari suku Khazraj -Ibunya Hassan adalah anak dari pamannya- dia adalah Sa'ad bin Ubadah, pimpinan suku Khazraj. 'Aisyah melanjutkan, Dia adalah orang yang shalih, namun hari itu terbawa oleh sikap kesukuan sehingga berkata kepada Sa'ad bin Mu'adz, Dusta kamu, demi Allah yang mengetahui umur hamba-Nya, kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan dapat membunuhnya. Seandainya dia dari sukumu, kamu tentu tidak akan mau membunuhnya. Kemudian Usaid bin Hudlair, anak pamannya Sa'ad bin Mu'adz, berdiri seraya berkata,
Justru kamu yang dusta, demi Allah yang mengetahui umur hamba-Nya, kami pasti akan membunuhnya. Sungguh kamu telah menjadi seorang munafiq karena membela orang-orang munafiq. Maka suasana pertemuan menjadi semakin memanas, antara dua suku, Aus dan Khazraj hingga mereka hendak saling membunuh, padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masih berdiri di atas mimbar. Aisyah melanjutkan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terus menenangkan mereka hingga akhirnya mereka terdiam dan beliau pun diam. Aisyah berkata,
Maka aku menangis sepanjang hariku, air mataku terus berlinang dan aku tidak bisa tidur tenang karenanya hingga akhirnya kedua orangtuaku berada di sisiku, sementara aku telah menangis selama dua malam satu hari, hingga aku menyangka air mataku telah kering. Ketika kedua orangtuaku sedang duduk di dekatku, dan aku terus saja menangis, tiba-tiba seorang wanita Anshar datang meminta izin menemuiku, lalu aku mengizinkannya. Kemudian dia duduk sambil menangis bersamaku. Ketika kami seperti itu, tiba-tiba Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang lalu duduk. Aisyah berkata,
Namun beliau tidak duduk di dekatku sejak berita bohong ini tersiar. Sudah satu bulan lamanya peristiwa ini berlangsung sedangkan wahyu belum juga turun untuk menjelaskan perkara yang menimpaku ini. Aisyah berkata,
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu membaca syahadat ketika duduk, kemudian bersabda:
Wahai Aisyah, sungguh telah sampai kepadaku berita tentang dirimu begini dan begini. Jika kamu bersih, tidak bersalah pasti Allah akan membersihkanmu. Namun jika kamu telah melakukan dosa, maka mohonlah ampun kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya, karena seorang hamba bila dia mengakui telah berbuat dosa lalu bertaubat, Allah pasti akan menerima taubatnya.Setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyelesaikan kalimat yang disampaikan, aku membersihkan air mataku agar tidak nampak tersisa setetespun, lalu aku katakan kepada ayahku, Belalah aku terhadap apa yang di katakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang diriku.Ayahku berkata,
Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lalu aku katakan kepada ibuku: Belalah aku terhadap apa yang di katakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang diriku. Ibuku pun menjawab,
Demi Allah, aku tidak mengetahui apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Aisyah berkata,
Aku hanyalah seorang wanita yang masih muda belia, memang aku belum banyak membaca Al Qur'an. Demi Allah, sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa kalian telah mendengar apa yang diperbincangkan oleh orang-orang, hingga kalian pun telah memasukkannya dalam hati kalian lalu membenarkan berita tersebut. Seandainya aku katakan kepada kalian bahwa aku bersih dan demi Allah, Dia Maha Mengetahui bahwa aku bersih, kalian pasti tidak akan membenarkan aku. Seandainya aku mengakui (dan membenarkan fitnah tersebut) kepada kalian, padahal Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih, kalian pasti membenarkannya. Demi Allah, aku tidak menemukan antara aku dan kalian suatu perumpamaan melainkan seperti ayahnya Nabi Yusuf as. ketika dia berkata:
(Bershabarlah dengan shabar yang baik karena Allah akan mengungkap apa yang kalian) QS Yusuf ayat 18. Setelah itu aku pergi menuju tempat tidurku dan Allah mengetahui hari itu aku memang benar-benar bersih dan Allah-lah yang akan membebaskanku dari tuduhan itu. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak menduga kalau Allah akan menurunkan wahyu yang menerangkan tentang urusan yang menimpaku. Karena menurutku tidak pantas bila wahyu turun lalu dibaca orang hanya karena menceritakan masalah peribadiku ini. Aku terlalu rendah bila Allah membicarakan masalahku ini. Tetapi aku hanya berharap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendapatkan wahyu lewat mimpi bahwa Allah membersihkan diriku. Dan demi Allah, sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak ingin beranjak dari tempat duduknya dan tidak pula seorang pun dari keluarganya yang keluar melainkan telah turun wahyu kepada beliau. Beliau menerima wahyu tersebut sebagaimana beliau biasa menerimanya dalam keadaan yang sangat berat dengan bercucuran keringat seperti butiran mutiara, padahal hari itu adalah musim dingin. Ini karena beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau. Aisyah berkata,
Setelah itu nampak muka beliau berseri dan dalam keadaan tertawa. Kalimat pertama yang beliau ucapkan adalah: Wahai Aisyah, sungguh Allah telah membersihkan dirimu. Aisyah berkata,
Lalu ibuku berkata kepadaku: Bangkitlah untuk menemui beliau. Aku berkata:
Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepadanya dan aku tidak akan memuji siapapun selain Allah azza wajalla. Maka Allah menurunkan ayat Sesungguhnya orang-orang yang menyebarkan berita bohong diantata kalian adalah masih golongan kalian juga… QS An Nuur, 11 dan seterusnya sebanyak sepuluh ayat. Selanjutnya turun ayat yang menjelaskan terlepasnya diriku dari segala tuduhan. Abu Bakar Ash Shiddiq yang selalu menanggung hidup Misthah bin Utsatsah karena memang masih kerabatnya berkata:
Demi Allah, setelah ini aku tidak akan lagi memberi nafkah kepada Misthah untuk selamanya, karena dia telah ikut menyebarkan berita bohong tentang Aisyah. Kemudian Allah menurunkan ayat, Dan janganlah orang-orang yang memiliki kelebihan dan kelapangan diantara kalian bersumpah untuk tidak lagi memberikan kepada …..hingga ayat…. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS An Nuur, 22. Lantas Abu Bakar berkata,
Ya, demi Allah, sungguh aku lebih mencintai bila Allah mengampuniku. Maka dia kembali memberi nafkah kepada Misthah sebagaimana sebelumnya dan berkata,
Aku tidak akan mencabut nafkah kepadanya untuk selama-lamanya. 'Aisyah berkata,
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bertanya kepada Za

Shahih Bukhari, Kitab Peperangan - Nomor Hadits: 3826

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nuur (24) Ayat 6

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalan ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Hilal bin Umayyah mengadu kepada Nabi ﷺ bahwa istrinya berzina.
Nabi ﷺ meminta bukti kepadanya, dan kalau tidak, ia sendiri yang akan dicambuk.
Hilal berkata: “Ya Rasulullah sekiranya salah seorang dari kami melihat laki-laki lain bersama istrinya, apakah ia mesti mencari saksi lebih dahulu?” Nabi ﷺ tetap meminta bukti atau ia sendiri yang akan dicambuk.
Berkatalah Hilal : “Demi Allah, Dzat yang mengutus engkau dengan hak, sesungguhnya akulah yang benar.
Mudah-mudahan Allah menurunkan sesuatu yang akan melepaskanku dari hukuman cambuk.” Maka turunlah Jibril membawa ayat ini (an-Nuur: 6) sebagai petunjuk bagaimana seharusnya menyelesaikan masalah ini.

Diriwayatkan oleh Ahmad.
Diriwayatkan pula oleh Abu Ya’la yang bersumber dari Anas bahwa Hilal bin Umayyah mengadu kepada Rasulullah ﷺ bahwa istrinya berzina.
Nabi ﷺ meminta bukti kepadanya, dan kalau tidak dia sendiri yang akan dicambuk.
Hilal berkata: “Ya Rasulullah, sekiranya salah seorang dari kami melihat laki-laki lain beserta istrinya, apakah ia mesti mencari saksi terlebih dahulu?” Nabi ﷺ tetap meminta bukti atau ia sendiri yang akan dicambuk.
Berkatalah Hilal: “Demi Allah, yang mengutus engkau dengan hak, sesungguhnya akulah yang benar.
Mudah-mudahan Allah menurunkan sesuatu yang melepaskanku dari hukuman cambuk.” Maka turunlah Jibril membawa ayat ini (an-Nuur: 6) sebagai petunjuk bagaimana seharusnya menyelesaikan masalah seperti ini.

Diriwayatkan oleh Ahmad, diriwayatkan pula oleh Abu Ya’la yang bersumber dari Anas bahwa ketika turun ayat, wal ladziina yarmuunal muhshanaat… (dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik [berbuat zina]..) sampai..syahaadatan abadaa..(…kesaksian mereka buat selama-lamanya..) (an-Nuur: 4), berkatalah Sa’ad bin ‘Ubadah, seorang pemimpin kaum Anshar: “Apakah demikian lafal ayat itu, ya Rasulullah?” Bersabdalah Rasulullah: “Hai kaum Anshar, tidakkah kalian dengan ucapan pemimpin kalian itu?” Berkatalah kaum Anshar: “Ya Rasulullah janganlah tuan mencelanya.
Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat pencemburu.
Demi Allah karena sangat pencemburunya, tidak ada seorangpun yang berani mengawini wanita yang disukai Sa’d.” Berkatalah Sa’d: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku tahu ayat tersebut (an-Nuur: 4) adalah hak dan ayat tersebut dari Allah.
Akan tetapi aku merasa aneh apabila aku dapatkan wanita jahat yang beradu paha dengan seorang laki-laki, aku tidak boleh memisahkannya atau mengusiknya sebelum aku membawa empat orang saksi.
Demi
Allah, aku tidak akan dapat mendatangkannya (empat orang saksi) sebelum mereka selesai memuaskan nafsunya.”
Beberapa hari kemudian terjadilah suatu peristiwa yang dialami oleh Hilal bin Umayyah (salah seorang dari tiga yang diampuni Allah karena tidak turut serta dalam perang Tabuk).
Ia mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang kejadian yang dialaminya pada malam hari, ketika ia pulang dari kebunnya.
Ia melihat dengan mata kepala sendiri, istrinya sedang ditiduri oleh seorang laki-laki.
Namun ia dapat menahan diri hingga mengadukannya kepada Rasulullah ﷺ Pengaduan Hilal ini menyebabkan Rasulullah tidak merasa senang dan bahkan menyulitkannya.
Maka berkumpullah kaum Anshar membicarakan peristiwa Hilal ini.
Mereka berkata: “Kita benar-benar diuji dengan apa yang dikatakan oleh Sa’d bin ‘Ubadah.
Sekarang Rasulullah pasti membatalkan kesaksian Hilal dan akan menjilidnya (menghukum dengan pukulan).”
Berkatalah Hilal: “Demi Allah, sesungguhnya aku berharap agar Allah memberikan jalan keluar bagiku.” Kaum Anshar berkata: “Pasti Rasulullah memerintahkan untuk menghukum Hilal.
Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 6) sehingga mereka menangguhkan hukuman terhadap Hilal ini.
Ayat ini menegaskan bahwa seseorang yang menuduh istrinya berzina dapat diterima pengaduannya apabila ia bersumpah empat kali.

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dll, yang bersumber dari Sahl bin Sa’d bahwa ‘Uwaimir datang kepada ‘Ashim bin ‘Adi sambil meminta bantuannya: “Tolong tanyakan kepada Rasulullah, bagaimana pendapat beliau jika seorang laki-laki mendapati istrinya ditiduri orang lain, apakah ia boleh membunuhnya, kemudian si pembunuh itu dihukum bunuh.
Atau hukuman apa yang harus dikenakan kepada si pezina tadi?” ‘Ashim menanyakan hal ini kepada Rasulullah ﷺ, tapi Rasulullah mencela pertanyaan tersebut.
Ketika bertemu kembali dengan ‘Uwaimir, ‘Ashim berkata bahwa masalah yang diajukan itu tidak membawa kebaikan kepadanya, malah ia dicelah oleh Rasulullah ﷺ.
Berkatalah ‘Uwaimir: “Aku akan datang sendiri untuk menanyakan kepada Rasulullah ﷺ…” Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya telah turun ayat yang berkenaan denganmu dan istrimu (an-Nuur: 6)”

Keterangan: dari hadits ini dapat diambil kesimpulan bahwa pertanyaan ‘Uwaimir ditu dijawab Rasulullah ﷺ dengan menunjukkan surah an-Nuur ayat 6, yaitu agar berhati-hati dalam menuduh istrinya berzina dengan orang lain.
Dalam kitab tafsir ath-Thabari dikemukakan hadits lain yang bersumber dari Sahl bin Sa’d sebagai berikut: “Bagaimana pendapat tuan apabila seorang laki-laki mendapatkan istrinya (tidur) bersama laki-laki lain.
Apakah laki-laki itu harus dibunuh, lalu si suami dihukum bunuh pula karena membunuhnya?
Atau apa yang harus dilakukan?” Maka turunlah surah an-Nuur ayat 6-9 berkenaan dengan kejadian ini.
Dalam hadits itu seterusnya dikemukakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada laki-laki itu: “Allah telah menetapkan hukum berkenaan dengan kamu dan istrimu.
Bersumpahlah kalian di hadapanku.”
Kemudian Rasulullah mem-fasakh-kan (menceraikan) kedua orang itu.
(sesudah kejadian itu, tiap-tiap yang bersumpah laknat-melaknati ditetapkan fasakh nikahnya).
Kebetulan istrinya hamil, akan tetapi suaminya tadi tidak mau mengakui anak itu, sehingga anak itupun dinasabkan kepada ibunya, bahkah masalah warisnya pun terputus dari ayahnya.
Berkatalah al-Hafizh Ibnu Hajar: “Para imam berbeda pendapat dalam soal ini.
Di antaranya ada yang menarjihkan bahwa ayat ini (an-Nuur: 6) turun berkenaan dengan ‘Uwaimir; ada yang menarjihkan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Hilal; dan ada pula yang menyatakan bahwa kedua peristiwa itu sebagai sebab turunnya ayat tersebut.”
Pendapat yang ketiga ini dikemukakan oleh Imam an-Nawawi, yang juga diikuti oleh al-Khatib.
Kemudian al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa turunya ayat tersebut berkenaan dengan peristiwa Hilal.
Dan ketika ‘Umair menghadap Rasulullah ﷺ, ia tidak mengetahui peristiwa Hilal, sehingga Rasulullah ﷺ memberitahukan peristiwa Hilal dengan ketetapan hukumnya.
Oleh karena itu, dalam riwayat yang mengisahkan Hilal disebutkan, “maka turunlah Jibril”, sedang dalam kisah ‘Uwaimir disebutkan “Allah telah menetapkah ayat berkenaan denganmu”.
Selanjutnya Ibnu Hajar mengartikan, “Allah telah menurunkan ayat berkenaan denganmu” ialah: “Allah telah menurunkan ayat berkenaan dengan peristiwa Hilal, sesuai dengan peristiwa ‘Uwaimir”
Sesuai dengan pendapat tersebut, Ibnush Shabbagh mengemukakan pendapatnya di dalam Kitab asy-Syamil.
Menurut Imam al-Qurthubi, ayat tersebut mungkin turun dua kali.

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dari Zaid bin Muthi’ yang bersumber dari Hudzaifah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Bakr: “Apa yang akan engkau perbuat sekiranya engkau melihat seorang laki-laki (tidur) beserta Ummu Ruman (istrimu)?” Abu Bakr menjawab:
“Tentu aku akan menghajarnya.” Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya seperti itu juga kepada ‘Umar.
‘Umar menjawab:
“Aku akan memohon kepada Allah agar melaknat orang yang tidak mampu menahan hawa nafsunya.” Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 6) sebagai ketentuan hukumnya.

Menurut Ibnu Hajar tidaklah salah apabila asbabun Nuzul ayat ini bermacam-macam.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nuur (النور)
Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Dinamai "An Nuur" yang berarti "Cahaya",
diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat 35.
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan tentang Nuur Ilahi, ya'ni Al Qur'an yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam se­mesta.

Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan de­ngan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Keimanan:

Kesaksian lidah dan anggota-anggota tubuh atas segala perbuatan manusia pada hari kiamat
hanya Allah yang menguasai langit dan bumi
kewajiban rasul hanya­lah menyampaikan agama Allah
iman rnerupakan dasar daripada diterimanya amal ibadah.

Hukum:

Hukum-hukum sekitar masalah zina, li'an dan adab-adab pergaulan diluar dan di dalam rumah tangga.

Kisah:

Cerita tentang berita bohong terhadap Ummul Mu'minin 'Aisyah r.a. (Qishshatul lfki).

Lain-lain:

Semua jenis hewan diciptakan Allah dari air
janji Allah kepada kaum muslimin yang beramal saleh.


Gambar Kutipan Surah An Nuur Ayat 6 *beta

Surah An Nuur Ayat 6



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nuur

Surah An-Nur (Arab: النّور‎) adalah surah ke-24 dari al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Dinamai An-Nur yang berarti Cahaya yang diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35.
Dalam ayat ini, Allah s.w.t.
menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Al-Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta.
Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Nomor Surah 24
Nama Surah An Nuur
Arab النور
Arti Cahaya
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 102
Juz Juz 18
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 64
Jumlah kata 1381
Jumlah huruf 5755
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’minun
Surah selanjutnya Surah Al-Furqan
4.4
Rating Pembaca: 4.6 (28 votes)
Sending







✔ Surah ke 24 ayat 6 dalam al qur\an

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku