Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nuur (Cahaya) – surah 24 ayat 58 [QS. 24:58]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِیَسۡتَاۡذِنۡکُمُ الَّذِیۡنَ مَلَکَتۡ اَیۡمَانُکُمۡ وَ الَّذِیۡنَ لَمۡ یَبۡلُغُوا الۡحُلُمَ مِنۡکُمۡ ثَلٰثَ مَرّٰتٍ ؕ مِنۡ قَبۡلِ صَلٰوۃِ الۡفَجۡرِ وَ حِیۡنَ تَضَعُوۡنَ ثِیَابَکُمۡ مِّنَ الظَّہِیۡرَۃِ وَ مِنۡۢ بَعۡدِ صَلٰوۃِ الۡعِشَآءِ ۟ؕ ثَلٰثُ عَوۡرٰتٍ لَّکُمۡ ؕ لَیۡسَ عَلَیۡکُمۡ وَ لَا عَلَیۡہِمۡ جُنَاحٌۢ بَعۡدَہُنَّ ؕ طَوّٰفُوۡنَ عَلَیۡکُمۡ بَعۡضُکُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمُ الۡاٰیٰتِ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu liyasta’dzinkumul-ladziina malakat aimaanukum waal-ladziina lam yablughuul huluma minkum tsalaatsa marraatin min qabli shalaatil fajri wahiina tadha’uuna tsiyaabakum minazh-zhahiirati wamin ba’di shalaatil ‘isyaa-i tsalaatsu ‘auraatin lakum laisa ‘alaikum walaa ‘alaihim junaahun ba’dahunna thau-waafuuna ‘alaikum ba’dhukum ‘ala ba’dhin kadzalika yubai-yinullahu lakumuaayaati wallahu ‘aliimun hakiimun;
Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba sahaya (laki-laki dan perempuan) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig (dewasa) di antara kamu, meminta izin kepada kamu pada tiga kali (kesempatan) yaitu, sebelum salat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan setelah salat Isya.
(Itulah) tiga aurat (waktu) bagi kamu.
Tidak ada dosa bagimu dan tidak (pula) bagi mereka selain dari (tiga waktu) itu;
mereka keluar masuk melayani kamu, sebagian kamu atas sebagian yang lain.
Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat itu kepadamu.
Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.
―QS. An Nuur [24]: 58

Daftar isi

O you who have believed, let those whom your right hands possess and those who have not (yet) reached puberty among you ask permission of you (before entering) at three times:
before the dawn prayer and when you put aside your clothing (for rest) at noon and after the night prayer.
(These are) three times of privacy for you.
There is no blame upon you nor upon them beyond these (periods), for they continually circulate among you – some of you, among others.
Thus does Allah make clear to you the verses;
and Allah is Knowing and Wise.
― Chapter 24. Surah An Nuur [verse 58]

يَٰٓأَيُّهَا wahai

O you who believe! *[meaning includes next or prev. word]
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

O you who believe! *[meaning includes next or prev. word]
ءَامَنُوا۟ beriman

O you who believe! *[meaning includes next or prev. word]
لِيَسْتَـْٔذِنكُمُ hendaklah meminta izin kepadamu

Let ask your permission
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those whom
مَلَكَتْ memiliki

possess
أَيْمَٰنُكُمْ tangan kananmu

your right hands
وَٱلَّذِينَ dan orang-orang yang

and those who
لَمْ (mereka) belum

(have) not
يَبْلُغُوا۟ sampai

reached
ٱلْحُلُمَ mimpi

puberty
مِنكُمْ diantara kamu

among you
ثَلَٰثَ tiga

(at) three
مَرَّٰتٍ kali

times,
مِّن dari

before *[meaning includes next or prev. word]
قَبْلِ sebelum

before *[meaning includes next or prev. word]
صَلَوٰةِ sholat

(the) prayer
ٱلْفَجْرِ fajar/subuh

(of) dawn,
وَحِينَ dan ketika

and when
تَضَعُونَ kamu menanggalkan

you put aside
ثِيَابَكُم pakaian kamu

your garments
مِّنَ dari

at
ٱلظَّهِيرَةِ yang tampak (luar)

noon
وَمِنۢ dan dari

and after *[meaning includes next or prev. word]
بَعْدِ sesudah

and after *[meaning includes next or prev. word]
صَلَوٰةِ sholat

(the) prayer
ٱلْعِشَآءِ (of) night.
ثَلَٰثُ tiga

(These) three
عَوْرَٰتٍ aurat

(are) times of privacy
لَّكُمْ bagi kalian

for you.

Tafsir

Alquran

Surah An Nuur
24:58

Tafsir QS. An Nuur (24) : 58. Oleh Kementrian Agama RI


Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim dari Muqatil Ibnu hayyan, bahwasannya seorang laki-laki dari kaum Ansar bersama istrinya Asma’ binti Musyidah membuat makanan untuk Nabi ﷺ, kemudian Asma’ berkata,
"Wahai Rasulullah, alangkah jeleknya ini.
Sesungguhnya masuk pada (kamar) isteri dan suaminya sedang keduanya berada dalam satu sarung masing-masing dari keduanya tanpa izin, lalu turunlah ayat ini.



Sebagaimana kita ketahui, pada masa kini sebuah rumah biasanya terdiri atas beberapa kamar, dan tiap-tiap kamar ditempati oleh anggota keluarga dan orang lain yang ada di rumah itu.
Ada kamar untuk kepala keluarga dan istrinya, ada kamar untuk anak-anak dan kamar untuk pembantu dan lain sebagainya.

Biasanya masing-masing anggota keluarga dapat masuk ke kamar yang bukan kamarnya itu bila ada keperluan dan tidak perlu minta izin kepada penghuni kamar itu.
Akan tetapi, Islam memberikan batas-batas waktu untuk kebebasan memasuki kamar orang lain.

Maka para hamba sahaya, dan anak-anak yang belum balig tidak dibenarkan memasuki kamar orang tua atau kamar anggota keluarga yang sudah dewasa dan berkeluarga pada waktu-waktu yang ditentukan kecuali meminta izin lebih dahulu, seperti dengan mengetuk pintu dan sebagainya.
Bila ada jawaban dari dalam
"Silahkan masuk",
barulah mereka boleh masuk.

Waktu-waktu yang ditentukan itu ialah pertama pada waktu pagi hari sebelum salat Subuh, kedua pada waktu sesudah Zuhur, dan ketiga pada waktu sesudah salat aurat",
karena pada waktu-waktu itu biasanya orang belum mengenakan pakaiannya dan aurat mereka belum ditutupi semua dengan pakaian.

Pada pagi hari sebelum bangun untuk salat subuh biasanya orang masih memakai pakaian tidur.
Demikian pula halnya pada waktu istirahat sesudah zuhur dan istirahat panjang sesudah
Adapun di luar tiga waktu yang telah ditentukan itu maka amat berat rasanya kalau diwajibkan meminta izin dahulu sebelum memasuki kamar-kamar itu, karena para pembantu dan anak-anak sudah sewajarnya bergerak bebas dalam rumah karena banyak yang akan diurus dan banyak pula yang perlu diambil dari kamar-kamar tersebut.
Para pembantu biasa memasuki kamar untuk membersihkan kamar atau untuk mengambil sesuatu yang diperintahkan oleh tuan atau nyonya rumah dan demikian pula halnya dengan anak-anak.


Allah menjelaskan
hikmah

Tafsir QS. An Nuur (24) : 58. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Hai orang-orang beriman, perintahkanlah hamba sahaya dan anak-anak kalian yang belum balig agar tidak masuk keruangan kalian–kecuali setelah meminta izin–pada tiga waktu.
Pertama, sebelum subuh.


Kedua, waktu kalian menggunakan pakaian santai saat tidur siang.
Dan ketiga, setelah salat Ketiga waktu itu adalah saat-saat kalian mengganti pakaian dari pakaian tidur ke pakaian waktu bangun, sehingga aurat (bagian tubuh) yang tidak pantas dapat terlihat.
Selain waktu-waktu tersebut, tidak berdosa bagi kalian dan mereka untuk masuk tanpa izin.


Karena biasanya pada selain waktu-waktu itu kalian keluar-masuk untuk memenuhi beberapa keperluan.
Dengan penjelasan semacam ini, Allah menerangkan hukumhukum.


Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Dia mengetahui apa yang bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya, memberikan ketentuan hukum yang sesuai dengan keadaan mereka dan akan memperhitungkan semua itu[1].



[1] Ayat ini merupakan salah satu ayat yang mengarahkan manusia pada norma sosial dalam lingkungan keluarga.
Keberadaan hamba sahaya (pembantu) dan anak-anak kecil di rumah, membuat mereka acapkali berkumpul dan bercampur baur.


Terkadang, ada di antara mereka yang masuk ke ruangan yang lain tanpa izin pada waktu-waktu yang disebutkan dalam ayat di atas.
Mengingat bahwa waktu-waktu tersebut adalah waktu-waktu untuk menyendiri, bebas sendirian dan melepas pakaian rutin yang digunakan ketika berkumpul, maka ayat ini mengharuskan orang-orang yang disebutkan dalam ayat untuk meminta izin masuk pada waktu-waktu tersebut, agar mereka tidak melihat apa yang dianggap rahasia dan tidak pantas dilihat.
Karena hal itu merupakan aurat yang harus ditutup.
Selain itu, ayat ini juga mengandung anjuran kepada anggota keluarga agar memakai pakaian yang pantas ketika bertemu satu sama lain, sehingga kehormatan, kebebasan, dan etika mereka terjaga.
Demikianlah, Alquran sangatlah pantas mengatur hal-hal yang mengangkat harkat moral ke tingkat yang tinggi semacam ini.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya.
Perintahkanlah kepada para budak kalian, yang perempuan maupun lelaki dan kepada anak-anak yang belum baligh untuk meminta izin ketika masuk ke tempat kalian pada tiga waktu, yaitu saat kalian sedang membuka aurat kalian.


Yakni, sebelum shalat Shubuh, karena waktu itu adalah waktu untuk mengganti pakaian tidur dengan pakaian biasa, dan pada waktu kalian membuka pakaian untuk istirahat sebelum Zhuhur, kemudian sesudah waktu aurat, dan hanya sedikit sekali yang menutupnya.


Adapun di selain waktu tersebut, mereka dibolehkan masuk tanpa izin terlebih dahulu.
Karena kebutuhan masuk untuk menemui kalian, mereka selalu mondar-mandir untuk melayani keperluan kalian, karena kebiasaan kalian mondar-mandir untuk menunaikan kemaslahatan.


Sebagaimana Allah menjelaskan kepada kalian tentang hukumhukum meminta izin, Dia juga menjelaskan tentang ayat-ayat-Nya, hukumhukum-Nya, dalildalil-Nya dan syariat agama-Nya.
Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui sesuatu yang terbaik untuk hamba-Nya, Maha Bijaksana di dalam mengatur urusan mereka.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai orang-orang yang beriman, hendaklah meminta izin kepada kalian budak-budak yang kalian miliki) baik yang laki-laki maupun yang perempuan


(dan orang-orang yang belum balig di antara kalian) maksudnya dari kalangan orang-orang yang merdeka dan belum mengetahui perihal kaum wanita


(sebanyak tiga kali) yaitu dalam tiga waktu untuk seharinya


(yaitu sebelum salat subuh dan ketika kalian menanggalkan pakaian luar kalian di tengah hari) yakni waktu salat Zuhur


(dan sesudah salat Isyak.
Itulah tiga aurat bagi kalian) kalau dibaca Rafa’ menjadi Tsalaatsu ‘Auraatin, berarti menjadi Khabar dari Mubtada yang diperkirakan keberadaannya, dan sebelum Khabar terdapat Mudhaf, kemudian kedudukan Mudhaf yang diperkirakan itu diganti oleh Mudhaf ilaih yaitu lafal Tsalaatsun itu sendiri.
Makna selengkapnya ialah, Ketentuan tersebut adalah tiga waktu yang ketiga-tiganya merupakan aurat bagi kalian.
Jika dibaca Nashab menjadi Tsalaatsa Auraatin Lakum, dengan memperkirakan adanya lafal Auraatin yang dinashabkan, juga karena menjadi Badal secara Mahal dari lafal sebelumnya, kemudian Mudhaf ilaih menggantikan kedudukannya.
Dikatakan demikian karena pada saat-saat tersebut, yaitu ketiga waktu itu, orang-orang membuka pakaian luar mereka untuk istirahat sehingga auratnya kelihatan.


(Tidak ada atas kalian dan tidak pula atas mereka) atas budak-budak yang kalian miliki dan anak-anak kecil


(dosa) untuk masuk menemui kalian tanpa izin


(selain dari tiga waktu itu) yakni sesudah ketiga waktu tadi, sedangkan mereka


(melayani kalian) meladeni kalian


(sebagian kalian) yakni pelayan itu mempunyai keperluan


(kepada sebagian yang lain) kalimat ini berkedudukan mengukuhkan makna sebelumnya.


(Demikianlah) sebagaimana apa yang telah disebutkan tadi


(Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kalian) yakni menjelaskan hukumhukum-Nya.


(Dan Allah Maha Mengetahui) tentang semua urusan makhluk-Nya


(lagi Maha Bijaksana) di dalam mengatur kepentingan mereka.
Ayat yang menyangkut masalah meminta izin ini menurut suatu pendapat telah dinasakh.
Akan tetapi menurut pendapat yang lain tidak dinasakh, hanya saja orang-orang meremehkan masalah meminta izin ini, sehingga banyak dari mereka yang tidak memakainya lagi.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Ayat-ayat yang mulia ini mengandung etika meminta izin masuk untuk menemui kaum kerabat, sebagian dari mereka kepada sebagian yang lain.
Sedangkan apa yang telah disebutkan pada permulaan surat ini menyangkut meminta izin untuk menemui orang lain, sebagian dari mereka kepada sebagian yang lain.
Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kaum mukmin agar para pelayan mereka yang terdiri atas budak-budak yang mereka miliki dan anak-anak mereka yang belum berusia balig meminta izin kepada mereka bila hendak menemui mereka dalam tiga keadaan, yaitu sebelum menunaikan salat Subuh, karena pada saat itu orang-orang masih dalam keadaan tidur di peraduannya masing-masing.

ketika kalian menanggalkan pakaian (luar) kalian di tengah hari.
(QS. An-Nuur [24]: 58)

Karena orang-orang biasanya berkumpul bersama keluarganya pada waktu itu dengan menanggalkan pakaian luar mereka.

dari sesudah salat An-Nuur [24]: 58)

Karena waktu itu adalah waktunya tidur, maka para pelayan dan anak-anak diperintahkan agar jangan mendatangi suatu ahli bait dalam waktu tersebut, sebab dikhawatirkan seseorang sedang bersama istrinya atau sedang melakukan pekerjaan lainnya.
Karena itulah disebutkan oleh firman berikutnya:

(Itulah) tiga aurat bagi kalian.
Tidak ada dosa atas kalian dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.
(QS. An-Nuur [24]: 58)

Yakni apabila mereka masuk di lain ketiga waktu tersebut, maka tidak ada dosa bagi kalian mempersilakan mereka masuk.
Tidak ada dosa pula bagi mereka jika mereka mempunyai sesuatu keperluan untuk masuk di saat selain ketiga waktu itu, karena mereka mendapat izin untuk masuk, juga karena mereka adalah orang-orang yang sering keluar masuk kepada kalian, untuk keperluan pelayanan dan keperluan lainnya.
Telah dimaafkan pula bagi orang-orang yang bertugas menjadi pelayan banyak hal yang tidak dimaafkan bagi selain mereka.

Imam Malik dan Imam Ahmad ibnu Hambal serta Ahlus Sunan telah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda sehubungan dengan kucing:

Sesungguhnya kucing itu tidak najis, sesungguhnya kucing itu termasuk yang banyak keluar masuk kepada kalian, atau hewan yang jinak (dengan kalian).

Mengingat ayat ini muhkam dan tiada yang me-nasakh-nya, sedangkan orang-orang sedikit yang mengamalkannya, maka Abdullah ibnu Abbas mengingkari sikap mereka yang demikian itu.
Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar‘ah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Luhai’ah, telah menceritakan kepadaku Ata ibnu Dinar, dari Sa’id ibnu Jubair yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas telah berkata,
"Orang-orang meninggalkan tiga ayat, mereka tidak mau mengamalkannya,"
yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kalian miliki meminta izin kepada kalian.
(QS. An-Nuur [24]: 58), hingga akhir ayat.
Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat An-Nisa, yaitu:
Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat.
(QS. An-Nisa’ [4]: 8), hingga akhir ayat.
Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala di dalam surat Al-Hujurat, yaitu:
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.
(QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Menurut lafaz lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, juga melalui hadis Isma’il ibnu Muslim yang berpredikat daif, dari Amr ibnu Dinar, dari Ata ibnu Abu Rabah, dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan,
"Setan telah mengalahkan manusia terhadap tiga ayat, sehingga mereka tidak mengamalkannya, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:
‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kalian miliki meminta izin kepada kalian.
(QS. An-Nuur [24]: 58), hingga akhir ayat."

Abu Daud telah meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Ibnus Sabbah dan Ibnu Sufyan serta Ibnu Abdah seperti berikut ini:
Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ubaidillah ibnu Abu Yazid yang pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan bahwa kebanyakan orang tiada yang mengamalkan ayat meminta izin, dan sesungguhnya aku benar-benar memerintahkan kepada budak wanitaku ini agar selalu meminta izin kepadaku (bila ingin bersua denganku).

Abu Daud mengatakan bahwa demikian pula hal yang diriwayatkan oleh Ata, dari Ibnu Abbas, bahwa Ibnu Abbas menganjurkan hal ini.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Musa ibnu Abu Aisyah yang bertanya kepada Asy-Sya’bi tentang makna firman-Nya:
hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kalian miliki meminta izin kepada kalian.
(QS. An-Nuur [24]: 58)
Bahwa ayat ini tidak di-mansukh.
Maka aku berkata,
"Akan tetapi, orang-orang tidak mengamalkannya."
Maka Asy-Sya’bi berkata,
"Hanya kepada Allah-lah meminta pertolongan."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi’ ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Bilal, dari Amr ibnu Abu Umar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa pernah ada dua orang lelaki menanyakan kepadanya tentang masalah meminta izin pada tiga aurat yang telah diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Alquran.
Maka Ibnu Abbas menjawab,
"Sesungguhnya Allah itu suka menutupi diri-Nya Dia menyukai penutup.
Dahulu orang-orang tidak memakai kain penutup pada pintu-pintu rumah mereka, tidak pula memakai kain gordin pada rumah-rumah mereka.
Adakalanya seseorang dikejutkan oleh kedatangan pelayannya, atau anaknya, atau anak yatim yang ada dalam pengasuhannya sedangkan dia dalam keadaan bersama istrinya.
Maka Allah memerintah­kan kepada mereka untuk meminta izin terlebih dahulu pada ketiga waktu tersebut yang telah dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya."

Kemudian sesudah itu Allah meluaskan rezeki mereka.
Akhirnya mereka membuat kain-kain penutup dan kain-kain gordin pada rumah-rumah mereka.
Maka orang-orang memandang bahwa hal tersebut sudah cukup bagi mereka tanpa memakai izin yang diperintahkan kepada mereka untuk menggalakkannya.
Sanad asar ini sahih sampai kepada Ibnu Abbas.
Abu Daud meriwayatkannya dari Al-Qa’nabi, dari Ad-Darawardi, dari Amr ibnu Abu Umar dengan sanad yang sama.

As-Saddi mengatakan bahwa dahulu ada segolongan orang dari kalangan para sahabat suka menyetubuhi istrinya di waktu-waktu ter­sebut, sekalian mereka mandi, lalu keluar untuk melakukan salat berjamaah.

Maka Allah memerintahkan kepada mereka agar menganjurkan kepada budak-budak mereka dan anak-anak kecil mereka jangan masuk menemui mereka di saat-saat tersebut, kecuali dengan izin mereka.

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan, telah sampai kepada kami suatu hadis —hanya Allah Yang Maha Mengetahui kebenarannya— yang menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki dari kalangan Ansar dan istrinya yang bernama Asma binti Marsad membuat jamuan makanan untuk Nabi ﷺ Maka orang-orang masuk tanpa izin.
Lalu Asma binti Marsad berkata,
"Wahai Rasulullah, alangkah buruknya hal ini, sesungguhnya masuk menemui sepasang suami istri yang sedang berada dalam satu pakaian, anak-anak keduanya tanpa izin terlebih dahulu."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kalian miliki meminta izin kepada kalian.
(QS. An-Nuur [24]: 58), hingga akhir ayat.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nuur (24) Ayat 58

DZHAHIRAH
لظَّهِيرَة

Arti lafaz dzhahirah adalah masa siang yaitu tengah hari.
Lafaz ini hanya disebut sekali saja dalam Al Qur’an yaitu dalam surah An Nuur (24), ayat 58.

Ayat ini menerangkan tentang waktu di mana kerabat, anak-anak yang belum baligh, hamba sahaya dan pembantu perlu meminta izin ketika masuk kekamar orang tua, tuan atau kerabat yang lain.
Waktu itu adalah:

(1) Sebelum shalat Subuh karena pada waktu ini biasanya orang tidur;
(2) Pada waktu tengah hari (dzhahirah), yaitu waktu tidur qailulah karena biasanya orang melepaskan bajunya pada saat itu untuk istirahat
(3) Pada waktu ba’da Isyak karena waktu ini adalah waktu tidur.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:359

Unsur Pokok Surah An Nuur (النور)

Surat An-Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Dinamai "An Nuur" yang berarti "Cahaya",
diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat 35.
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan tentang Nuur Ilahi, yakni Alquran yang mengandung petunjuk-petunjuk.

Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta.

Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Keimanan:

▪ Kesaksian lidah dan anggota-anggota tubuh atas segala perbuatan manusia pada hari kiamat.
▪ Hanya Allah yang menguasai langit dan bumi.
▪ Kewajiban rasul hanyalah menyampaikan agama Allah.
▪ Iman rnerupakan dasar daripada diterimanya amal ibadah.

Hukum:

Hukumhukum sekitar masalah zina, li’an dan Ummul mukmininAisyah r.a. (Qishshatul lfki).

Lain-lain:

▪ Semua jenis hewan diciptakan Allah dari air.
▪ Janji Allah kepada kaum muslimin yang beramal saleh.

Audio

QS. An-Nuur (24) : 1-64 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 64 + Terjemahan Indonesia

QS. An-Nuur (24) : 1-64 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 64

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nuur ayat 58 - Gambar 1 Surah An Nuur ayat 58 - Gambar 2
Statistik QS. 24:58
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah An Nuur.

Surah An-Nur (Arab: النّور‎) adalah surah ke-24 dari Alquran.
Surah ini terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Dinamai An-Nur yang berarti Cahaya yang diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35.
Dalam ayat ini, Allah ﷻ menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Alquran yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta.
Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Nomor Surah 24
Nama Surah An Nuur
Arab النور
Arti Cahaya
Nama lain
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 102
Juz Juz 18
Jumlah ruku’ 9 ruku’
Jumlah ayat 64
Jumlah kata 1381
Jumlah huruf 5755
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’minun
Surah selanjutnya Surah Al-Furqan
Sending
User Review
4.2 (14 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

24:58, 24 58, 24-58, Surah An Nuur 58, Tafsir surat AnNuur 58, Quran An Nur 58, An-Nur 58, Surah An Nur ayat 58

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah An Nuur

۞ QS. 24:1 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 24:2 • Dosa-dosa besar

۞ QS. 24:4 • Dosa-dosa besar

۞ QS. 24:5 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar •

۞ QS. 24:9 • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah

۞ QS. 24:10 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 24:11 • Siksa orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Menyiksa pelaku maksiat • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 24:14 • Maksiat dan dosa

۞ QS. 24:15 • Dosa-dosa besar

۞ QS. 24:18 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 24:19 • Keluasan ilmu Allah • Maksiat dan dosa

۞ QS. 24:20 Al Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 24:21 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 24:22 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 24:23 • Dosa-dosa besar • Maksiat dan dosa

۞ QS. 24:24 • Manusia bersaksi atas dirinya • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 24:25 • Al Haq (Maha Benar) • Al Mubin (Maha Penjelas) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 24:26 • Ampunan Allah yang luas

۞ QS. 24:28 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 24:29 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 24:30 Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 24:32 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 24:33 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Keistimewaan Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 24:34 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 24:35 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • An Nur (Cahaya) • Allah menggerakkan hati manusia

۞ QS. 24:36 Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 24:37 • Kedahsyatan hari kiamat

۞ QS. 24:38 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Razzaq (Maha Pemberi rezeki) • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 24:39 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Perbuatan orang kafir sia-sia

۞ QS. 24:41 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 24:42 • Segala sesuatu milik Allah • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 24:43 Dalil-dalil adanya Allah Ta’alaSifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 24:44 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala

۞ QS. 24:45 • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Khaliq (Maha Pencipta) • Al Qadiir (Maha Penguasa) •

۞ QS. 24:46 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Allah menggerakkan hati manusia

۞ QS. 24:47 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 24:48 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 24:49 • Sifat orang munafik

۞ QS. 24:50 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 24:52 • Pahala iman • Keutamaan iman

۞ QS. 24:53 Al Khabir (Maha Waspada) • Sifat orang munafik • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 24:54 • Sifat orang munafik • Menanggung dosa orang lain

۞ QS. 24:55 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminTauhid Uluhiyyah • Kekuatan umat Islam di dunia • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 24:57 • Sifat neraka • Azab orang kafir • Maksiat dan dosa

۞ QS. 24:58 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 24:59 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 24:60 • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 24:61 • Toleransi Islam

۞ QS. 24:62 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Iman adalah ucapan dan perbuatan •

۞ QS. 24:63 • Sifat orang munafik • Peringatan Allah terhadap hambaNya • Menyiksa pelaku maksiat • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 24:64 • Segala sesuatu milik Allah • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Kebenaran hari penghimpunan • Menghitung amal kebaikan

Ayat Pilihan

Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu & terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.
QS. Az-Zariyat [51]: 22

Pada hari yang amat sulit & orang kafir diseru sujud lalu mereka tak mampu, pandangan mereka kabur dipenuhi kehinaan.
Sesungguhnya dulu ketika di dunia mereka pernah diseru bersujud, tapi mereka menolak padahal mereka mampu.
QS. Al-Qalam [68]: 42

orang-orang yang beriman & berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta,
benda & diri mereka,
adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah,
dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
QS. At-Taubah [9]: 20

dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah,
melainkan kaum yang kafir.
QS. Yusuf [12]: 87

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Meja, kursi, manusia, hewan dan tumbuhan adalah merupakan salah satu cara mengenal Allah Subhanahu Wa Ta`ala melalui ...

Benar! Kurang tepat!

Qada dan qadar termasuk rukun iman yang ke ...

Benar! Kurang tepat!

Percaya kepada Allah dan Rasulnya termasuk rukun ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Ayat ke 5 dari surah al-Falaq yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
وَ مِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ

'dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.'
--QS. Al Falaq [113] : 5

Al Falaq artinya ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #23
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #23 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #23 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #6

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai … Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah … Alquran adalah panduan dan pedoman manusia bagi mereka yang beriman. Ini dikonfirmasikan oleh Allah dalam surah … Alquran bertindak sebagai Hudan, yang artinya adalah … Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah berfirman bahwa Alquran adalah pedoman untuk orang …

Pendidikan Agama Islam #10

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di … Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkandung dalam surah … Sejak wahyu di Surah Al Muddasir : 1-7, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada … Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu … … Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama …

Pendidikan Agama Islam #30

Yang diajarkan oleh Rasulullah adalah jika kita melihat kemungkaran untuk mencegahnya pertama kali dengan … بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً Arti dari hadist diatas adalah …Di bawah ini adalah cara untuk menjadikan semangat mengamalkan ilmu dalam kehidupan kecuali …كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا Arti dari kalimat di atas adalah …Siapakah ilmuan muslim yang pertama menjadi penemu Al-Jabar?

Kamus

sadran

Apa itu sadran? sad.ran , me.nyad.ran v mengunjungi makam atau tempat keramat pada bulan Ruwah untuk memberikan doa kepada leluhur (ayah, ibu, dan sebagainya) dengan membawa bunga atau sesajian; jika...

Fatimah az-Zahra

Siapa itu Fatimah az-Zahra? Fatimah binti Muhammad (606/614 – 632) atau lebih dikenal dengan Fatimah az-Zahra (Fatimah yang selalu berseri) (فاطمة الزهراء) putri bungsu Nabi Muhammad...

Al Awwal

Apa itu Al Awwal? Allah itu Al-Awal . Dia adalah Yang Maha Awal dari segala sesuatu. Dialah Sang Pencipta, dan tidaklah mungkin Sang Pencipta diawali oleh ciptaan-Nya. Allah adalah Dzat Yang Mengawa...