Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nuur

An Nuur (Cahaya) surah 24 ayat 37


رِجَالٌ ۙ لَّا تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ وَّ لَا بَیۡعٌ عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ اِقَامِ الصَّلٰوۃِ وَ اِیۡتَآءِ الزَّکٰوۃِ ۪ۙ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ الۡقُلُوۡبُ وَ الۡاَبۡصَارُ
Rijaalun laa tulhiihim tijaaratun walaa bai’un ‘an dzikrillahi wa-iqaamish-shalaati wa-iitaa-izzakaati yakhaafuuna yauman tataqallabu fiihil quluubu wal abshaar(u);

laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat.
Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.
―QS. 24:37
Topik ▪ Hari Kiamat ▪ Kedahsyatan hari kiamat ▪ Hari kiamat datang tiba-tiba
24:37, 24 37, 24-37, An Nuur 37, AnNuur 37, An Nur 37, An-Nur 37
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nuur (24) : 37. Oleh Kementrian Agama RI

Di antara orang-orang yang akan diberi Allah pancaran Nur Ilahi itu ialah orang-orang yang selalu menyebut nama Allah di mesjid-mesjid pada pagi dun petang dun bertasbih menyucikan Nya mereka tidak lalai mengingat Allah dan mengerjakan salat walaupun melakukan urusan perniagaan dan jual beli, mereka tidak terganggu mengeluarkan zakat karena tamak mengumpulkan harta kekayaan, mereka selalu ingat akan hari akhirat yang karena dahsyatnya banyak hati menjadi guncang dan mata menjadi terbelalak.
Ini bukan berarti mereka mengabaikan sama sekali urusan dunia dan menghabiskan waktu dan tenaganya untuk berzikir dan bertasbih, karena hal demikian tidak disukai oleh Nabi Muhammad dan bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda:

Berusahalah untuk kehidupanmu di dunia seakan-akan engkau akan hidup selamanya.
dan berusahalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.

(H.R.
Ibnu Asakir)

Urusan duniawi dun urusan ukhrawi kedua-duanya dipentingkan oleh Islam.
Seorang muslim harus pandai menciptakan keseimbangan antara kedua urusan itu, jangan sampai salah satu di antara keduanya dikalahkan oleh yang lain.
Melalaikan urusan akhirat karena mementingkan urusan dunia adalah terlarang sebagaimana tersebut dalam firman Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.
Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yanag rugi.

(Q.S.
Al Munafiqun: 9)

Dan Firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat maka bergegaslah kamu kepada mengingat Allah, dan tinggalkan jual beli.
Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

(Q.S.
Al Jumu'ah: 9)

Tetapi apabila kewajiban-kewajiban terhadap agama telah ditunaikan dengan sebaik-baiknya maka seorang muslim diperintahkan untuk kembali mengurus urusan dunianya dengan ketentuan tidak lupa mengingat Allah agar dia jangan melanggar perintah Nya atau mengerjakan larangan Nya sebagai tersebut dalam firman Nya:

Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
(Q.S.
Al Jumu'ah: 10)

Sebaliknya melalaikan urusan dunia dan sangat mementingkan urusan akhirat adalah tercela pula, karena orang muslim diperintahkan Allah supaya berusaha mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhannya, dan kebutuhan keluarganya.
Orang-orang yang berusaha menyeimbangkan antara urusan duniawi dan urusan ukhrawi itulah orang-orang yang diridai oleh Allah subhanahu wa ta'ala Dia bekerja untuk dunianya karena taat dan patuh kepada perintah dan petunjuk Nya.
Dia bekerja untuk akhirat karena taat dan patuh pula kepada perintah dan petunjuk Nya dun karena bersiap-siap untuk mengadapi hari akhirai yang amat dahsyat dan penuh kesulitan.
Sebagaimana tersebut dalam firman Nya:

Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan.
Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.
Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra.

(Q.S.
Al Insan: 10-12)

An Nuur (24) ayat 37 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nuur (24) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nuur (24) ayat 37 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Mereka tidak disibukkan oleh urusan dunia, seperti--untuk menyebut di antaranya--jual beli, yang dapat membuat seseorang lupa kepada Allah.
Mereka selalu melaksanakan salat dan menunaikan zakat.
Mereka pun selalu mewaspadai datangnya hari kiamat sehingga membuat hati mereka menjadi goncang karena gelisah, kesulitan dan menanti nasib.
Pada hari itu, pandangan pun menjadi bimbang dan terkejut melihat pemandangan yang aneh dan bencana yang dahsyat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Laki-laki) menjadi Fa'il atau subyek daripada Fi'il Yusabbihu, jika dibaca Yusabbahu berkedudukan menjadi Naibul Fa'il.
Lafal Rijaalun adalah Fa'il dari Fi'il atau kata kerja yang diperkirakan keberadaannya sebagai jawab dari soal yang diperkirakan pula.
Jadi seolah-olah dikatakan, siapakah yang melakukan tasbih kepada-Nya itu, jawabnya adalah laki-laki (yang tidak dilalaikan oleh perniagaan) perdagangan (dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah dan dari mendirikan salat) huruf Ha lafal Iqaamatish Shalaati dibuang demi untuk meringankan bacaan sehingga jadilah Iqaamish Shalaati (dan dari membayar zakat.
Mereka takut kepada suatu hari yang di hari itu menjadi guncang) yakni panik (hati dan penglihatan) karena merasa khawatir, apakah dirinya selamat atau binasa, dan penglihatan jelalatan ke kanan dan ke kiri karena ngeri melihat pemandangan azab pada saat itu, yaitu hari kiamat.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Para lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, membayarkan zakat kepada orang-orang yang berhak.
Mereka takut kepada satu hari yang mana saat itu hati akan bergoncang antara harapan selamat dan takut celaka, dan penglihatan pun bergoncang karena melihat kemanakah tempat kembalinya??

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Adapun mengenai firman-Nya:

laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah.
(An Nuur:37)

seakan-akan ia menjadi tafsir dari fa'il (pelaku) yang tidak disebutkan, seperti pengertian yang terdapat di dalam perkataan seorang penyair:

Kupenuhi seruanmu, hai Yazid, seorang yang ganas dan tak pandang bulu dalam menghadapi persengketaan yang timbul dari keadaan zaman.

Seakan-akan dikatakan, "Siapakah yang membuatnya menangis?"
Maka dijawab, "Ini yang membuatnya menangis." Dan seakan-akan dikatakan, "Siapakah yang bertasbih kepada Allah di dalam masjid-masjid?"
Maka dijawab, "Laki-laki."

Adapun mengenai qiraat ulama yang membacanya yusabbihu, berarti menjadikannya sebagai fi'il dan fa'il-nya adalah rijalun.
Karena itu tidak baik melakukan waqaf melainkan hanya pada fa'il-nya, sebab fa'il' merupakan kesempurnaan kalimat yang sebelumnya.

Penyebut rijalun (yang artinya laki-laki) mengandung pengertian yang mengisyaratkan kepada tugas mereka yang luhur dan niat serta tekadnya yang tinggi, yang berkat itu semua mereka menjadi pemakmur masjid-masjid yang merupakan rumah-rumah Allah di bumi-Nya, sebagai tempat untuk beribadah kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya, meng­esakan dan menyucikan-Nya.
Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.
(Al Ahzab:23), hingga akhir ayat

Adapun mengenai kaum wanita, maka salat mereka di dalam rumahnya lebih utama bagi mereka, karena berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Daud melalui sahabat Abdullah ibnu Mas'ud r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Salat wanita di dalam rumahnya lebih utama daripada salatnya di dalam ruangan tamunya, dan salatnya di dalam kamarnya lebih utama daripada salatnya di dalam rumahnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Gailan, telah menceritakan kepada kami Rasyidin, telah menceritakan kepadaku Amr dari Abu Assamh, dari Assaib mau la Ummu Salamah, dari Ummu Salamah r.a., dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Sebaik-baik masjid kaum wanita ialah bagian dalam rumah mereka.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Harun, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Qais, dari Abdullah ibnu Suwaid Al-Ansari, dari bibinya (yaitu Ummu Humaid, istri Abu Humaid As-Sa'idi), bahwa ia datang kepada Nabi ﷺ, lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku suka mengerjakan salat bersamamu (Yakni berjamaah di masjid Rasulullah ﷺ)." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Saya telah mengetahui bahwa engkau menyukai salat bersamaku.
Salat kamu di dalam rumahmu lebih baik daripada salatmu di dalam ruangan tamumu, dan salatmu di dalam ruangan tamumu lebih baik daripada salatmu di dalam pekarangan rumahmu, dan salatmu di dalam pekarangan rumahmu lebih baik daripada salatmu di dalam masjid kaummu, dan salatmu di dalam masjid kaummu lebih baik daripada salatmu di dalam masjidku.

Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Ummu Humaid memerintahkan agar dibangunkan sebuah surau khusus buatnya di salah satu bagian rumahnya.
Maka ia selalu mengerjakan salatnya di dalam surau itu hingga meninggal dunia.

Mereka (para ahli hadis) tidak ada yang mengetengahkan hadis ini.

Perlu diingat bahwa seorang wanita diperbolehkan mengikuti salat jamaah bersama kaum laki-laki, tetapi dengan syarat hendaknya ia tidak mengganggu seseorang pun dari jamaah kaum laki-laki yang ada dengan menampakkan perhiasannya atau menebarkan bau wewangiannya.
Seperti yang disebutkan di dalam kitab sahih melalui Abdullah ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Janganlah kalian mencegah hamba-hamba wanita Allah dari masjid-masjid Allah.

Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Menurut riwayat Imam Ahmad dan Imam Abu Daud disebutkan:

dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi (salat) mereka.

Menurut riwayat lain disebutkan:

dan hendaklah mereka (kaum wanita) keluar dalam keadaan tidak memakai wewangian.

Di dalam kitab Sahih Muslim telah disebutkan melalui Zainab (istri Abdullah ibnu Mas'ud) yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada kami (kaum wanita):

Apabila seseorang di antara kalian mendatangi masjid (untuk salat berjamaah), janganlah ia memakai wewangian.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui Siti Aisyah r.a.
yang menceritakan bahwa dahulu kaum wanita mukmin mengikuti salat subuh bersama Rasulullah ﷺ, kemudian mereka pulang dengan menutupi kepala mereka dengan kain kerudungnya, mereka tidak dikenal karena cuaca masih gelap.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan pula dari Siti Aisyah r.a.
yang telah mengatakan, "Seandainya Rasulullah ﷺ menjumpai masa timbulnya bid'ah yang dilakukan oleh kaum wanita (sekarang), tentulah beliau melarang mereka mendatangi masjid-masjid, sebagaimana kaum wanita Bani Israil dilarang (mendatangi tempat peribadatan mereka di masa lalu)."

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah.
(An Nuur:37)

Sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.
(Al Munafiqun:9), hingga akhir ayat.

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.
(Al Jumuah:9), hingga akhir ayat.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman bahwa tidak dapat menyibukkan mereka dunia dan kegemerlapannya serta perhiasannya, juga kesenangan melakukan jual beli, dari mengingati Tuhan mereka Yang telah menciptakan mereka dan Yang memberi mereka rezeki.
Mereka mengetahui bahwa pahala yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih bermanfaat bagi mereka dari­pada harta benda yang ada di tangan mereka, karena harta benda yang ada pada mereka pasti habis, sedangkan pahala yang ada di sisi Allah kekal.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan salat, dan (dari) membayarkan zakat.
(An Nuur:37)

Yakni mereka lebih mendahulukan ketaatan kepada Allah dan perintah Allah serta apa yang disukai oleh-Nya:

Hasyim telah meriwayatkan dari Syaiban, ia menceritakan sebuah hadis dari Ibnu Mas'ud, bahwa ia melihat suatu kaum dari kalangan ahli pasar saat dikumandangkan seruan untuk menunaikan salat fardu.
Maka mereka meninggalkan jual beli mereka, lalu bangkit menuju tempat salat untuk menunaikan salat.
Maka Abdullah ibnu Mas'ud berkata bahwa mereka termasuk orang-orang yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala melalui firman-Nya: laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah.
(An Nuur:37), hingga akhir ayat.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Amr ibnu Dinar Al-Qahramani, dari Salim, dari Abdullah ibnu Umar r.a., bahwa ketika ia berada di sebuah pasar dan seruan untuk salat dikumandangkan, maka mereka menutup kios-kios mereka, lalu masuk ke dalam masjid (untuk menunaikan salat).
Maka Ibnu Umar berkata sehubungan dengan sikap mereka itu, bahwa berkenaan dengan orang-orang seperti merekalah ayat ini diturunkan, yaitu firman Allah subhanahu wa ta'ala: laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah.
(An Nuur:37)

Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Bukair As-San'ani, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id maula Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Bujair, telah menceritakan kepada kami Abu Abdu Rabbihi, bahwa Abu Darda pernah mengatakan bahwa sesungguhnya ia mangkal di tangga ini untuk menjajakan barang dagangan, setiap hari ia beroleh keuntungan tiga ratus dinar, dan setiap hari ia dapat melakukan salat berjamaah di masjid.
Kemudian ia menegaskan bahwa sesungguhnya ia tidak mengatakan bahwa perbuatannya itu tidak halal, tetapi ia suka bila termasuk orang-orang yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala di dalam firman-Nya: laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah.
(An Nuur:37)

Amr ibnu Dinar Al-A'war mengatakan bahwa pada suatu hari ia bersama Salim ibnu Abdullah menuju ke masjid.
Mereka melalui pasar kota Madinah, sedangkan saat itu mereka sedang bangkit menuju ke tempat salat mereka dan barang dagangan mereka telah mereka tutupi dengan kain.
Salim melihat ke arah barang dagangan mereka, dan ternyata tiada seorang pun yang menjaganya.
Maka Salim membacakan ayat ini, yaitu firman-Nya: laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah.
(An Nuur:37) Kemudian Salim mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah orang-orang seperti mereka itu.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Sa'id ibnu Abul Hasan dan Ad-Dahhak, bahwa perniagaan dan jual beli tidak melalaikan mereka untuk mengerjakan salat tepat pada waktunya masing-masing.

Matar Al-Waraq mengatakan, dahulu mereka biasa melakukan jual beli, tetapi jika seseorang dari mereka mendengar seruan azan sedang timbangannya berada di tangannya, maka mereka meletakkan timbangannya dan pergi untuk mengerjakan salat.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah.
(An Nuur:37) Yakni dari mengerjakan salat fardu.

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan, bahwa kesibukan mereka dalam berbisnis tidak melalaikan mereka untuk menghadiri salat jamaah dan menunaikannya seperti yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, dan mereka memelihara waktu salat lima waktu berikut semua hal yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala agar dipelihara oleh mereka dalam mengerjakan salat lima waktu tersebut.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.
(An Nuur:37)

Yaitu hari kiamat, yang di hari itu semua hati dan penglihatan guncang karena kedahsyatannya yang sangat dan kengerian-kengerian yang terjadi padanya.
Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Berilah mereka peringatan dengan hari peristiwa yang dekat (hari kiamat).
(Al-Mu’min: 18)

Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.
(Ibrahim:42)

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.
Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
Sesungguhnya kami takut akan azab suatu hari yang (di hari itu orang-orang bermuka) masam, penuh kesulitan (yang datang) dari Tuhan kami.
Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.
Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.
(Al Insaan:8-12)

Kata Pilihan Dalam Surah An Nuur (24) Ayat 37

TIJAARAH
تِجَٰرَة

Lafaz tijaarah adalah dalam bentuk masdar, berasal dari kata tajara-yatjuru. Mengandung makna mata pen­carian penjual, amalan jual beli, barang yang diniagakan dan perniagaan.

Lafaz tijaarah disebut sembilan kali (di dalam Al Qur'an) yaitu dalam surah
-Al Baqarah (2), ayat 16 dan 282;
-An Nisaa' (4), ayat 29;
-At Taubah (9), ayat 24;
-An Nuur (24), ayat 37;
-Faathir (35), ayat 29;
-Ash Shaff (61), ayat 10;
-Al Jumu'ah (62), ayat 11.

Lafaz tijaarah di dalam Al Qur'an memiliki beberapa makna yaitu :

- Tijaarah bermakna amalan jual beli sebagaimana kebanyakan maksud ayat- ayat di atas.

- Tijaarah bermakna kiasan bagi orang yang membeli petunjuk dengan kesesatan, sebagaimana yang terdapat dalam surah Al­ Baqarah ayat 16. Allah berfirman:

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشْتَرَوُا۟ ٱلضَّلَٰلَةَ بِٱلْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَٰرَتُهُمْ وَمَا كَانُوا۟ مُهْتَدِينَ

Quraisy Shihab berkata,
penukaran petunjuk dengan kesesatan diibaratkan dengan jual beli untuk mengisyaratkan apa yang dilakukannya itu terlaksana dengan kerelaan sebagaimana layak­nya jual beli. Beliau menuturkan lagi ayat ini menggambarkan mereka tidak memperoleh keuntungan dalam perniagaan, malah mereka rugi dan hilang modal. Modal yang dimiliki setiap orang adalah fitrah kesucian. Ini diabaikan sedangkan sepatutnya modal itu dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan berupa amal-amal yang baik. Tetapi mereka bukan sekadar tidak memperoleh keuntungan, modal mereka juga lenyap karena iman tidak menghiasi jiwa mereka.

- Tijaarah bermakna kiasan bagi per­niagaan yang tidak pernah rugi.

Ibn Katsir mengatakan perniagaan itu ditafsirkan dengan ayat berikut­nya yaitu dengan beriman kepada Allah dan rasul Nya, berjihad di jalan Allah dengan diri dan harta benda. Sebagaimana terdapat dalam surah Ash­ Shaff ayat 10 dan 11,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَٰرَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Kesimpulannya, lafaz tijaarah secara umum­ di dalam Al Qur'an memiliki maksud jual beli atau perniagaan.

Perniagaan itu terdiri dari tiga bentuk.

Pertama, perniagaan yang diketahui umum bisa memperoleh keuntungan atau­ pun kerugian.

Kedua, perniagaan yang tidak pernah menguntungkan yaitu perniagaan yang membeli petunjuk dengan kesesatan.

Ketiga, perniagaan yang tidak pernah rugi dan se­lamanya memperoleh keuntungan yaitu per­niagaan orang yang beriman dan berjihad.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.

Informasi Surah An Nuur (النور)
Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Dinamai "An Nuur" yang berarti "Cahaya",
diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat 35.
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan tentang Nuur Ilahi, ya'ni Al Qur'an yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam se­mesta.

Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan de­ngan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Keimanan:

Kesaksian lidah dan anggota-anggota tubuh atas segala perbuatan manusia pada hari kiamat
hanya Allah yang menguasai langit dan bumi
kewajiban rasul hanya­lah menyampaikan agama Allah
iman rnerupakan dasar daripada diterimanya amal ibadah.

Hukum:

Hukum-hukum sekitar masalah zina, li'an dan adab-adab pergaulan diluar dan di dalam rumah tangga.

Kisah:

Cerita tentang berita bohong terhadap Ummul Mu'minin 'Aisyah r.a. (Qishshatul lfki).

Lain-lain:

Semua jenis hewan diciptakan Allah dari air
janji Allah kepada kaum muslimin yang beramal saleh.

QS 24 An-Nur (35-38) - Indonesian - Chacha Frederica
QS 24 An-Nur (35-38) - Arabic - Chacha Frederica


Gambar Kutipan Surah An Nuur Ayat 37 *beta

Surah An Nuur Ayat 37



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nuur

Surah An-Nur (Arab: النّور‎) adalah surah ke-24 dari al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Dinamai An-Nur yang berarti Cahaya yang diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35.
Dalam ayat ini, Allah s.w.t.
menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Al-Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta.
Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Nomor Surah 24
Nama Surah An Nuur
Arab النور
Arti Cahaya
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 102
Juz Juz 18
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 64
Jumlah kata 1381
Jumlah huruf 5755
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’minun
Surah selanjutnya Surah Al-Furqan
4.5
Rating Pembaca: 4.5 (21 votes)
Sending







✔ konsep jual beli surat annur ayat 37

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku