Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nuur

An Nuur (Cahaya) surah 24 ayat 36


فِیۡ بُیُوۡتٍ اَذِنَ اللّٰہُ اَنۡ تُرۡفَعَ وَ یُذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ ۙ یُسَبِّحُ لَہٗ فِیۡہَا بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ
Fii buyuutin adzinallahu an turfa’a wayudzkara fiihaaasmuhu yusabbihu lahu fiihaa bil ghuduu-wi wal-aashaal(i);

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,
―QS. 24:36
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Sikap manusia terhadap kitab samawi
24:36, 24 36, 24-36, An Nuur 36, AnNuur 36, An Nur 36, An-Nur 36
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nuur (24) : 36. Oleh Kementrian Agama RI

Di antara orang-orang yang akan diberi Allah pancaran Nur Ilahi itu ialah orang-orang yang selalu menyebut nama Allah di mesjid-mesjid pada pagi dun petang dun bertasbih menyucikan Nya mereka tidak lalai mengingat Allah dan mengerjakan salat walaupun melakukan urusan perniagaan dan jual beli, mereka tidak terganggu mengeluarkan zakat karena tamak mengumpulkan harta kekayaan, mereka selalu ingat akan hari akhirat yang karena dahsyatnya banyak hati menjadi guncang dan mata menjadi terbelalak.
Ini bukan berarti mereka mengabaikan sama sekali urusan dunia dan menghabiskan waktu dan tenaganya untuk berzikir dan bertasbih, karena hal demikian tidak disukai oleh Nabi Muhammad dan bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda:

Berusahalah untuk kehidupanmu di dunia seakan-akan engkau akan hidup selamanya.
dan berusahalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.

(H.R.
Ibnu Asakir)

Urusan duniawi dun urusan ukhrawi kedua-duanya dipentingkan oleh Islam.
Seorang muslim harus pandai menciptakan keseimbangan antara kedua urusan itu, jangan sampai salah satu di antara keduanya dikalahkan oleh yang lain.
Melalaikan urusan akhirat karena mementingkan urusan dunia adalah terlarang sebagaimana tersebut dalam firman Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.
Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yanag rugi.

(Q.S.
Al Munafiqun: 9)

Dan Firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat maka bergegaslah kamu kepada mengingat Allah, dan tinggalkan jual beli.
Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

(Q.S.
Al Jumu'ah: 9)

Tetapi apabila kewajiban-kewajiban terhadap agama telah ditunaikan dengan sebaik-baiknya maka seorang muslim diperintahkan untuk kembali mengurus urusan dunianya dengan ketentuan tidak lupa mengingat Allah agar dia jangan melanggar perintah Nya atau mengerjakan larangan Nya sebagai tersebut dalam firman Nya:

Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
(Q.S.
Al Jumu'ah: 10)

Sebaliknya melalaikan urusan dunia dan sangat mementingkan urusan akhirat adalah tercela pula, karena orang muslim diperintahkan Allah supaya berusaha mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhannya, dan kebutuhan keluarganya.
Orang-orang yang berusaha menyeimbangkan antara urusan duniawi dan urusan ukhrawi itulah orang-orang yang diridai oleh Allah subhanahu wa ta'ala Dia bekerja untuk dunianya karena taat dan patuh kepada perintah dan petunjuk Nya.
Dia bekerja untuk akhirat karena taat dan patuh pula kepada perintah dan petunjuk Nya dun karena bersiap-siap untuk mengadapi hari akhirai yang amat dahsyat dan penuh kesulitan.
Sebagaimana tersebut dalam firman Nya:

Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam, penuh kesulitan.
Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.
Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra.

(Q.S.
Al Insan: 10-12)

An Nuur (24) ayat 36 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nuur (24) ayat 36 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nuur (24) ayat 36 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya ada sekelompok orang yang bertasbih kepada Allah, menyembah-Nya di mesjid-mesjid yang telah diperintahkan Allah untuk dibangun, diagungkan dan disemarakkan dengan menyebut nama Allah.
Mereka selalu berada di situ pagi dan petang.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Di rumah-rumah Allah) maksudnya mesjid-mesjid, lafal Fii Buyuutin berta'alluq kepada lafal Yusabbihu yang akan disebutkan nanti.
(Yang Allah telah memerintahkan supaya dimuliakan) yakni diagungkan (dan disebut nama-Nya di dalamnya) dengan mentauhidkan-Nya (bertasbihlah) dapat dibaca Yusabbahu artinya dibacakan tasbih dalam salat.
Dapat pula dibaca Yusabbihu, artinya membaca tasbih dalam salat (kepada Allah di dalamnya, pada waktu pagi) lafal Al-Ghuduwwi adalah Mashdar yang maknanya Al-Ghadwaati, artinya pagi hari (dan waktu petang) waktu sore sesudah matahari tergelincir.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Cahaya ini bersinar di masjid-masjid yang Allah perintahkan untuk dimuliakan dan ditinggikan bangunannya.
Di dalamnya disebut nama Allah dengan bacaan al-Qur’an, tasbih, tahlil dan yang lainnya dari berbagai macam bentuk dzikir, ditunaikan shalat di dalamnya karena Allah di waktu pagi hari dan petang hari.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah membuat misal tentang kalbu orang mukmin dan menjelaskan tentang hidayah dan ilmu yang terkandung di dalamnya, yang semuanya itu diumpamakan dengan lentera yang berada di dalam kaca yang jernih, sedangkan bahan bakarnya adalah minyak yang baik.
Yang hal tersebut dapat diserupakan dengan lentera besar.
Kemudian Allah menyebutkan tentang tempatnya yang layak, yaitu masjid-masjid.
Masjid-masjid merupakan bagian dari kawasan bumi yang paling disukai oleh Allah subhanahu wa ta'ala Masjid-masjid merupakan rumah-rumah Allah yang di dalamnya Dia disembah dan diesakan.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Di dalam masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk di­muliakan.
(An Nuur:36)

Yakni telah diperintahkan oleh Allah agar dirawat dan dibersihkan dari kekotoran, omongan yang tidak ada gunanya, juga semua perbuatan yang tidak layak bagi kesuciannya.

Demikianlah menurut apa yang telah dikatakan oleh Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini: Di dalam masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan.
(An Nuur:36) Allah melarang dilakukan percakapan yang tidak ada gunanya di dalam masjid-masjid.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah, Abu Saleh, Ad-Dahhak, Nafi' ibnu Jubair, Abu Bakar ibnu Sulaiman ibnu Abu Khaisamah, dan Sufyan ibnu Husain serta lain-lainnya dari kalangan ulama tafsir.

Qatadah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan buyut (rumah-rumah) yang termaktub dalam ayat adalah masjid-masjid ini yang Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan agar dibangun, diramaikan, dimuliakan, dan disuci­kan.
Telah diriwayatkan kepada kami, Ka'b pernah mengatakan bahwa termaktub di dalam kitab Taurat, "Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi ini adalah masjid-masjid.
Dan sesungguhnya barang siapa yang berwudu dengan baik, lalu mengunjungi-Ku di rumah (masjid)-Ku, Aku akan menghormatinya, dan sudah merupakan suatu keharusan bagi orang yang dikunjungi untuk menghormati orang yang mengunjunginya." Diriwayat­kan oleh Abdur Rahman ibnu Abu Hatim di dalam kitab tafsirnya.

Mengenai masalah membangun masjid-masjid, menghormatinya, memuliakannya, dan memberinya wewangian serta dupa, banyak disebutkan oleh hadis-hadis.
Pembahasan mengenai hal ini ditulis secara terpisah, dan saya telah menulis pembahasan mengenainya dalam suatu juz secara rinci, segala puji bagi Allah dan semua karunia dari-Nya.
Dan dengan pertolongan dari Allah akan kami kemukakan beberapa petikan dari kandungan kitab tersebut, seperti yang disebutkan berikut:

Diriwayatkan dari Amirul Mu’minin Usman ibnu Affan r.a.
yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Barang siapa yang membangun masjid karena mengharapkan rida Allah, maka Allah akan membangunkan untuknya hal yang semisal di dalam surga.

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab sahih masing-masing.

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui Umar ibnul Khattab r.a.
yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Barang siapa yang membangun sebuah masjid yang di dalam­nya disebut-sebut nama Allah, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga.

Dalam kitab Imam Nasai disebutkan hal yang semisal melalui Amr ibnu Anbasah, hadis-hadis mengenai hal ini banyak sekali.

Telah diriwayatkan melalui Siti Aisyah r.a.
yang telah mengatakan:

Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kita untuk membangun masjid di perkampungan, masjid-masjid itu agar selalu dibersihkan dan diberi wewangian.

Hadis riwayat Imam Ahmad dan Ahlus Sunan kecuali Imam Nasai.
Telah diriwayatkan hal yang semisal oleh Imam Ahmad dan Imam Abu Daud melalui Samurah ibnu Jundub.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Khalifah Umar pernah berkata, "Bangunlah tempat-tempat ibadah buat manusia, dan janganlah kalian mengecatnya dengan warna merah atau kuning karena akan berakibat mengganggu kekhusyukan ibadah mereka."

Ibnu Majah telah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Tidak sekali-kali amal perbuatan suatu kaum dinilai buruk, melainkan (bila mereka) menghiasi masjid-masjid mereka.

Tetapi di dalam sanad hadis ini terkandung kelemahan.

Imam Abu Daud telah meriwayatkan melalui Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Aku tidak diperintahkan untuk menghiasi bangunan masjid.

Ibnu Abbas mengatakan yakni menghiasinya dengan hiasan-hiasan sebagaimana yang dilakukan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani terhadap tempat-tempat peribadatan mereka.

Diriwayatkan melalui sahabat Anas r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum manusia saling bermegah-megahan dengan masjid-masjid (mereka).

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlus Sunan kecuali Imam Turmuzi.

Diriwayatkan melalui Buraidah, bahwa seorang lelaki mengumum­kan maklumat kehilangan di dalam masjid.
Ia mengatakan, "Siapakah yang menemukan unta merah(ku)?"
Maka Nabi ﷺ bersabda:

Semoga kamu tidak menemukan (barang hilangmu).
Sesungguh­nya masjid-masjid itu dibangun hanyalah untuk kegunaan yang Sesuai dengan fungsinya (tempat untuk ibadah).

Hadis riwayat Imam Muslim.

Diriwayatkan dari Amr ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ melarang melakukan jual beli dan saling mendendangkan sya'ir di dalam masjid.

Hadis riwayat Imam Ahmad dan Ahlus Sunan.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.

Abu Hurairah telah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Apabila kalian melihat seseorang melakukan penjualan atau pembelian di dalam masjid, maka katakanlah oleh kalian, "Semoga Allah tidak menguntungkan perdaganganmu.” Dan apabila kalian melihat seseorang mempermaklumatkan barang yang hilang di dalam masjid, maka katakanlah oleh kalian, "Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.”

Hadis riwayat Imam Turmuzi.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib.

Ibnu Majah dan lain-lainnya telah meriwayatkan melalui hadis Ibnu Umar secara marfu'.
Ibnu Umar mengatakah bahwa ada beberapa hal yang tidak layak dilakukan di dalam masjid, yaitu tidak boleh dijadikan jalan, tidak boleh menghunus senjata di dalam masjid, tidak boleh merentangkan busur di dalamnya, tidak boleh menebarkan anak panah di dalamnya, tidak boleh lewat di dalam masjid dengan membawa daging mentah, tidak boleh melakukan pukulan had di dalam masjid, tidak boleh melakukan hukum qisas di dalam masjid, dan tidak boleh menjadikannya sebagai pasar.

Diriwayatkan dari Wasilah ibnul Asqa', dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda:

Jauhkanlah masjid-masjid dari anak-anak kecil kalian, orang-orang gila kalian, jual beli kalian, persengketaan kalian, bersuara keras, menegakkan hukuman-hukuman had, dan menghunus pedang (senjata di dalamnya).
Dan buatkanlah tempat bersucidi dekat pintu-pintunya, dan berilah dupa di dalamnya di hari-hari jumat.

Hadis diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah, tetapi hadis ini dan hadis yang sebelumnya berpredikat lemah.

Adapun mengenai masalah menjadikan masjid sebagai jalan untuk lewat, menurut sebagian ulama hukumnya makruh, terkecuali jika ada keperluan penting yang tidak terelakkan lagi melainkan harus melalui masjid.
Di dalam sebuah asar disebutkan bahwa para malaikat benar-benar merasa heran dengan seseorang yang melalui masjid tanpa melakukan salat di dalamnya.

Adapun mengenai masalah tidak boleh menghunus senjata di dalam masjid, tidak boleh merentangkan busur, dan menebarkan anak panah, penyebabnya ialah karena dikhawatirkan mengenai diri orang lain, mengingat banyaknya orang yang melakukan salat di dalamnya.
Karena itulah maka Rasulullah ﷺ memerintahkan, apabila seseorang melalui masjid dengan membawa anak panah, hendaknya ia memegang bagian ujungnya agar tidak mengenai orang lain, seperti yang telah disebutkan di dalam hadis sahih.

Adapun mengenai larangan melalui masjid sambil membawa daging mentah, penyebabnya ialah karena dikhawatirkan adanya darah yang menetes dari daging mentah itu sehingga mengotori masjid.
Sebagaimana wanita yang berhaid dilarang melalui masjid bila dikhawatirkan darahnya akan mengotori masjid yang dilaluinya.

Mengenai masalah tidak boleh melakukan eksekusi hukuman had pukulan, juga had qisas di dalam masjid, karena dikhawatirkan akan keluarnya najis dari si terhukum atau siterpotong.

Masalah tidak boleh menjadikan masjid sebagai pasar (untuk melakukan transaksi jual beli) karena adanya larangan melakukan hal tersebut, seperti yang telah diterangkan sebelum ini dalam sebuah hadis yang menerangkannya.
Karena sesungguhnya masjid itu dibangun hanya untuk menyebut nama Allah dan salat di dalamnya, sebagaimana yang disebutkan oleh sebuah hadis yang menceritakan tentang sabda Nabi ﷺ kepada seorang Badui yang kencing di suatu sudut masjid, yaitu:

Sesungguhnya masjid itu tidak dibangun untuk tujuan seperti itu, melainkan masjid dibangun untuk menyebut nama Allah dan melakukan salat di dalamnya.

Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan agar bekas air kencing orang Badui itu disiram dengan setimba air.

Dalam hadis yang kedua disebutkan:

Hindarkanlah masjid-masjid kalian dari anak-anak kalian!

Demikian itu karena kesukaan anak-anak bermain-main.
Meraka tidak dapat membedakan antara masjid dan yang lainnya, sedangkan masjid itu bukanlah tempat untuk bermain-main.
Dahulu Khalifah Umar ibnul Khattab r.a.
apabila melihat anak-anak bermain-main di dalam masjid, ia memukuli mereka dengan cemeti.
Dan ia selalu memeriksa masjid sesudah isya, maka tidak dibiarkannya ada seseorang di dalamnya.

Dalam teks hadis selanjutnya disebutkan, "(Hindarkanlah pula masj id-masjid kalian dari) orang-orang gila kalian," yakni mengingat lemahnya akal mereka dan akan menjadi bahan olok-olokkan orang lain, sehingga berakibat terjadinya main-main di dalam masjid.
Juga karena dikhawatir­kan orang-orang gila tersebut akan mengotori masjid serta melakukan perbuatan-perbuatan lain yang tidak sesuai dengan kesucian masjid.

Dalam teks berikutnya disebutkan, "Dan (hindarkanlah masjid-masjid kalian dari) jual beli kalian," seperti yang telah disebutkan di atas yang melarang melakukan jual beli di dalam masjid.

Yang dimaksud dengan khusumatukum ialah peradilan kalian.
Karena itu, kebanyakan ulama me-was-kan bahwa seorang hakim (kadi) tidak boleh melakukan suatu proses peradilan di dalam masjid, melainkan harus di tempat lain.
Demikian itu karena dalam suatu peradilan akan banyak terjadi pertengkaran dan kata-kata yang tidak pantas bagi kesucian masjid.
Karena itulah dalam teks hadis berikutnya disebutkan, "Dan (hindarkanlah masjid kalian dari) suara keras kalian."

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu-Sa'id, telah menceritakan kepada kami Al-Ja'd ibnu Abdur Rahman yang mengatakan, telah menceritakan kepadanya Yazid ibnu Khasifah, dari As-Sa-ib ibnu Yazid Al-Kindi yang mengatakan, "Ketika aku sedang berdiri di dalam masjid, maka ada seorang lelaki yang melempar dengan batu kerikil, lalu aku menoleh dan ternyata orang itu adalah Umar Ibnul Khattab." Lalu Umar berkata, 'Pergilah dan bawalah ke hadapanku kedua orang itu (yang sedang bertengkar).' Maka aku membawa kedua orang itu ke hadapannya.
Umar r.a.
bertanya, 'Siapakah kamu berdua?' Atau Umar bertanya, 'Dari manakah kamu berdua?' Keduanya menjawab, 'Kami dari penduduk Ta'if.' Umar berkata, 'Seandainya kamu berdua berasal dari kota ini (Madinah), tentulah aku akan membuat kamu berdua kesakitan.
Kamu berdua mengangkat suaramu keras-keras di dalam masjid Rasulullah ﷺ'."

Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Suwaid ibnu Nasr, dari Abdullah ibnul Mubarak, dari Syu'bah, dari Sa,id ibnu Ibrahim, dari ayahnya (yaitu Ibrahim ibnu Abdur Rahman ibnu Auf) yang mengatakan bahwa Umar mendengar suara keras seorang lelaki di dalam masjid, maka ia berkata, "Tahukah kamu di manakah kamu berada?"
Asar ini pun berpredikat sahih.

Dalam teks berikutnya disebutkan, "Dan (janganlah kalian) melakukan hukuman-hukuman had kalian, jangan pula kalian menghunus pedang-pedang kalian (di dalam masjid)." Penjelasan mengenai makna teks ini telah disebutkan di atas.

Teks hadis yang menyebutkan, "Dan buatkanlah di dekat pintu-pintunya tempat untuk bersuci." Makna yang dimaksud ialah kamar-kamar kecil yang dapat digunakan untuk berwudu, juga sebagai tempat buang air besar dan buang air kecil.
Dahulu di dekat masjid Rasulullah terdapat gentong-gentong besar berisikan air yang mereka gunakan untuk memberi minum hewan kendaraan mereka, untuk minum mereka, untuk bersuci, berwudu, serta kegunaan lainnya.

Teks hadis yang mengatakan, "Dan berilah dupa di setiap hari Jumat," yakni berilah masjid bau-bauan yang harum —seperti dupa— pada setiap hari Jumat, karena banyaknya orang yang datang ke masjid.
Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Abdullah ibnu Umar, dari Nafi', dari Ibnu Umar, bahwa Khalifah Umar selalu memberi dupa masjid Rasulullah ﷺ setiap hari Jumat.
Sanad asar ini hasan dan tidak mengandung cela.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Salat seseorang dalam jamaah, pahalanya berkali lipat salat di dalam rumahnya, dan di dalam pasarnya sebanyak dua puluh lima kali lipat.

Demikian itu karena apabila ia berwudu dengan baik, lalu berangkat ke masjid tanpa niat lain kecuali hanya melakukan salat di masjid, maka tidaklah ia melangkah satu kali langkah melainkan ditinggikan baginya pahala satu derajat dan dihapuskan darinya satu buah dosa.
Apabila ia telah menunaikan salatnya, para malaikat terus-menerus memohonkan ampun baginya selama ia masih berada di tempat salatnya, "Ya Allah, ampunilah dia dan rahmatilah dia." Dia telah berada dalam salatnya selagi ia menunggu kedatangan waktu salat itu.

Dalam hadis Imam Daruqutni disebutkan sebuah hadis marfu' yang mengatakan:

Tiada salat (yang sempurna) bagi tetangga masjid kecuali di dalam masjid.

Di dalam kitab-kitab sunan disebutkan hadis berikut:

Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan kaki menuju ke masjid di kegelapan (malam) dengan nur (cahaya) yang sempurna kelak di hari kiamat.

Orang yang hendak memasuki masjid disunatkan melangkahkan kaki kanannya terlebih dahulu saat memasukinya, lalu mengucapkan doa berikut yang disebutkan di dalam kitab Sahih Bukhari, melalui Abdullah ibnu Umar r.a., dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau ﷺ apabila memasuki masjid mengucapkan doa berikut:

Aku berlindung kepada Allah Yang Mahaagung dan kepada Zat-Nya Yang Mahamulia, dan kepada Kekuasaan-Nya Yang Mahadahulu dari godaan setan yang terkutuk.

Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa manakala Ibnu Umar mengucapkan doa ini, ia mengatakan, "Setan tidak dapat menggodaku sepanjang hari.

Imam Muslim telah meriwayatkan berikut sanadnya melalui Abu Humaid atau Abu Usaid yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Apabila seseorang diantara kalian memasuki masjid, hendaklah ia mengucapkan, "Ya Allah, bukakanlah untukku semua pintu rahmat-Mu.” Dan apabila keluar (dari masjid), hendaklah mengucapkan, "Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu karunia-Mu.”

Imam Nasai telah meriwayatkannya melalui keduanya (Abu Humaid dari Abu Usaid) dari Nabi ﷺ

Abu Hurairah r.a.
telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Apabila seseorang di antara kalian memasuki masjid, hendak­lah mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ, lalu mengucapkan, "Ya Allah, bukakanlah bagi semua pintu rahmat-Mu.” Dan apabila keluar darinya, hendaklah mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ, lalu mengucapkan, "Ya Allah, peliharalah diriku dari godaan setan yang terkutuk.”

Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah serta Ibnu Hibban telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya masing-masing.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Lais ibnu Abu Sulaim, dari Abdullah ibnu Husain, dari ibunya (yaitu Fatimah binti Husain), dari neneknya (yaitu Fatimah binti Rasulullah) yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bila memasuki masjid terlebih dahulu membaca salawat dan salam buat dirinya, kemudian mengucapkan doa berikut: Ya Allah, ampunilah semua dosaku dan bukakanlah untukku semua pintu rahmat-Mu.
Apabila beliau keluar dari masjid, terlebih dahulu mengucapkan salawat dan salam untuk dirinya, lalu mengucapkan doa berikut:, Ya Allah, ampunilah semua dosaku dan bukakanlah bagiku semua pintu kemurahan-Mu.

Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkan pula hadis ini.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa predikat hadis ini hasan, sanadnya tidak muttasil karena Fatimah binti Husain As-Sugra tidak menjumpai masa Fatimah Al-Kubra binti Rasulullah ﷺ

Semua hadis yang telah kami ketengahkan di atas sengaja kami sajikan dengan singkat agar tidak bertele-tele, kesemuanya itu termasuk ke dalam pengertian firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan:

Di dalam masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan.
(An Nuur:36)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan disebut nama-Nya di dalamnya.
(An Nuur:36)

Semisal dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid.
(Al A'raf:31)

Dan (katakanlah), "Luruskanlah muka (diri) kalian di setiap salat dan sembahlah Allah dengari mengikhlaskan ketaatan kalian kepada-Nya.
(Al A'raf:29)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah.
(Al Jin:18), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala: dan disebut nama-Nya di dalamnya.
(An Nuur:36) Ibnu Abbas mengatakan, makna yang dimaksud ialah dibaca kitabnya (Al-Qur'an) di dalamnya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

bertasbih kepada Allah di dalam masjid-masjid itu, pada waktu pagi dan waktu petang.
(An Nuur:36)

Yakni di waktu-waktu pagi hari dan waktu-waktu petang hari.
Al-A'sal bentuk jamak dari asil yang artinya penghujung siang hari.

Sa'id ibnu Jubair telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa setiap lafaz tasbih yang terdapat di dalam Al-Qur'an artinya salat.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan al-guduwwi ialah salat subuh, dan yang dimaksud dengan a sal ialah salat asar.
Kedua salat ini merupakan salat yang mula-mula difardukan oleh Allah subhanahu wa ta'ala Karena itulah maka Allah subhanahu wa ta'ala suka menyebutkan keduanya dan menceritakan keutamaan keduanya kepada hamba-hamba-Nya.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan dan Ad-Dahhak.
bertasbih kepada Allah di dalam masjid-masjid itu, pada waktu pagi dan waktu petang.
(An Nuur:36) Yaitu salat.

Sebagian ulama ahli qiraat membacanya yusabbahu dengan mem-fathah-kan huruf ba-nya, yakni di-mabni maf'ul-kans dan di-waqaf-kan dengan waqaf tam pada firman-Nya, "Walasal" Sedangkan firman berikutnya merupakan kalimat baru, sehingga artinya menjadi seperti berikut: "Disucikan nama Allah di dalam masjid-masjid pada waktu pagi dan waktu petang."

Kata Pilihan Dalam Surah An Nuur (24) Ayat 36

AASHAAL
ءَاصَال

Lafaz ini adalah jamak bagi ashal atau ashil bermakna waktu matahari menjadi kekuningan yang tenggelam ke arah barat, atau waktu tenggelamnya matahari, yaitu waktu antara shalat Asar hingga Maghrib atau akhir waktu tengah hari.

Lafaz ini disebut tiga kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al A'raaf (7), ayat 205;
-Ar Ra'd (13), ayat 15;
-An Nuur (24), ayat 36.

Ibn Abbas berkata,
"Ia adalah waktu Maghrib dan Isyak"

Az Zamakhsyari berkata,
"Ia bermaksud yang masuk pada waktu al ashil yaitu seperti aqsar (waktu petang) dan a'tam (waktu malam).

Ibn Katsir berkata,
"Makna ayat ini seperti maksud ayat 130 surah Tha Ha:

Artinya, "Maka bertasbihlah memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum tenggelamnya."

Maksudnya, Allah menyeru hamba-Nya supaya banyak mengingatnya pada awal tengah hari dan pada akhirnya sehingga tidak menjadi orang yang lalai. Oleh karena itu, malaikat memuji orang yang bertasbih pada waktu malam dan tengah hari.

Begitu juga maksud yang terdapat dalam Tafsir Al Jalalain yaitu akhir tengah hari atau pada waktu petang.

Kesimpulannya, maksud lafaz aashal ialah waktu petang.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:67-68

Informasi Surah An Nuur (النور)
Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Dinamai "An Nuur" yang berarti "Cahaya",
diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat 35.
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan tentang Nuur Ilahi, ya'ni Al Qur'an yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam se­mesta.

Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan de­ngan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Keimanan:

Kesaksian lidah dan anggota-anggota tubuh atas segala perbuatan manusia pada hari kiamat
hanya Allah yang menguasai langit dan bumi
kewajiban rasul hanya­lah menyampaikan agama Allah
iman rnerupakan dasar daripada diterimanya amal ibadah.

Hukum:

Hukum-hukum sekitar masalah zina, li'an dan adab-adab pergaulan diluar dan di dalam rumah tangga.

Kisah:

Cerita tentang berita bohong terhadap Ummul Mu'minin 'Aisyah r.a. (Qishshatul lfki).

Lain-lain:

Semua jenis hewan diciptakan Allah dari air
janji Allah kepada kaum muslimin yang beramal saleh.

QS 24 An-Nur (35-38) - Indonesian - Chacha Frederica
QS 24 An-Nur (35-38) - Arabic - Chacha Frederica


Gambar Kutipan Surah An Nuur Ayat 36 *beta

Surah An Nuur Ayat 36



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nuur

Surah An-Nur (Arab: النّور‎) adalah surah ke-24 dari al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Dinamai An-Nur yang berarti Cahaya yang diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35.
Dalam ayat ini, Allah s.w.t.
menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Al-Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta.
Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Nomor Surah 24
Nama Surah An Nuur
Arab النور
Arti Cahaya
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 102
Juz Juz 18
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 64
Jumlah kata 1381
Jumlah huruf 5755
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’minun
Surah selanjutnya Surah Al-Furqan
4.4
Rating Pembaca: 4.4 (20 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku