Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nuur

An Nuur (Cahaya) surah 24 ayat 27


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَدۡخُلُوۡا بُیُوۡتًا غَیۡرَ بُیُوۡتِکُمۡ حَتّٰی تَسۡتَاۡنِسُوۡا وَ تُسَلِّمُوۡا عَلٰۤی اَہۡلِہَا ؕ ذٰلِکُمۡ خَیۡرٌ لَّکُمۡ لَعَلَّکُمۡ تَذَکَّرُوۡنَ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu laa tadkhuluu buyuutan ghaira buyuutikum hatta tasta’nisuu watusallimuu ‘ala ahlihaa dzalikum khairun lakum la’allakum tadzakkaruun(a);

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.
Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.
―QS. 24:27
Topik ▪ Orang mukmin kelompok minoritas
24:27, 24 27, 24-27, An Nuur 27, AnNuur 27, An Nur 27, An-Nur 27
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nuur (24) : 27. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala mengajarkan kepada orang-orang mukmin tata cara bergaul yang berguna sekali untuk memelihara dan memupuk cinta dan kasih sayang serta pergaulan yang baik di antara mereka, yaitu janganlah hendaknya memasuki rumah orang lain kecuali sesudah diberi izin dan memberi salam, agar tidak sampai melihat aib orang lain, melihat hal-hal yang tidak pantas orang lain melihatnya, tidak menyaksikan hal-hal yang biasanya disembunyikan orang dan dijaga betul untuk tidak dilihat orang lain.
Seseorang yang meminta izin untuk memasuki rumah orang, yang ditandai dengan memberi salam, dan jika tidak segera mendapat jawaban sebaiknya dilakukan sampai tiga kali.
Kalau sudah ada izin, barulah masuk dan kalau belum, pulanglah kembali.

Diriwayatkan dalam satu hadis sahih bahwa "Abu Musa Al Asy'ari' ketika minta izin kepada Umar untuk masuk ke dalam rumahnya sebanyak tiga kali tetapi belum juga ada izin, iapun pulang.
Kemudian Umar berkata, "Seakan-akan saya mendengar suara Abdullah bin Qais (Abu Musa) minta izin, izinkanlah dia.
Setelah mereka lihat ternyata Abu Musa telah pergi.
Ketika Abu Musa datang lagi sesudah itu, Umar berkata, "Kenapa engkau kembali tempo hari?"
Abu Musa menjawab, "Sesungguhnya saya telah minta izin tiga kali untuk masuk, tetapi belum juga ada izin, jadi saya kembali.
Saya mendengar Rasulullah bersabda, "Apabila telah minta izin salah seorang dari kamu tiga kali, dan belum juga diberi izin, hendaklah pergi pulang".

Cara yang demikian itulah yang lebih baik, yaitu apabila akan memasuki rumah orang lain, harus lebih dahulu minta izin, memberi salam dan menunggu sampai ada izin, kalau tidak, lebih baik pulang saja dan tidak jadi masuk.
Demikianlah supaya cara itu selalu diingat untuk diamalkan.

An Nuur (24) ayat 27 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nuur (24) ayat 27 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nuur (24) ayat 27 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan milik kalian kecuali setelah meminta izin kepada penghuninya untuk memperkenankan kalian masuk setelah memberi salam.
Permintaan izin dan pemberian salam itu lebih baik bagi kalian ketimbang masuk begitu saja, tanpa izin dan salam.
Allah menentukan demikian agar kalian dapat mengambil pelajaran dan melaksanakannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin) maksudnya sebelum kalian meminta izin kepada empunya (dan memberi salam kepada penghuninya).
Seseorang jika mau memasuki rumah orang lain hendaknya ia mengucapkan, "Assalaamu Alaikum, bolehkah aku masuk?"
demikianlah menurut tuntunan hadis.
(Yang demikian itu lebih baik bagi kalian) daripada masuk tanpa izin (agar kalian selalu ingat) lafal Tadzakkaruuna dengan mengidgamkan huruf Ta kedua kepada huruf Dzal, maksudnya supaya kalian mengerti akan kebaikan meminta izin itu, kemudian kalian mengerjakannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang menjalankan syariat-Nya!! Janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin untuk masuk dan memberi salam kepada penghuninya.
Dengan kalimat yang diajarkan oleh sunnah :
Assalamu’alaikum!! Apakah saya boleh masuk??
Ini adalah cara meminta izin yang baik buat kalian agar dengan perbuatan itu, kalian selalu ingat dengan perintah-perintah-Nya kemudian kalian menaati-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Inilah etika-etika syariat yang diajarkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, yaitu etika dalam meminta izin masuk kedalam rumah orang lain untuk keperluan.
Allah menandaskan bahwa mereka tidak boleh memasuki rumah orang lain sebelum meminta izin kepada para penghuninya dan memberikan ucapan salam kepada mereka.

Seseorang yang hendak memasuki rumah orang lain dianjurkan meminta izin sebanyak tiga kali.
Bila diizinkan, maka ia boleh masuk, dan bila tidak diizinkan, hendaknya ia pergi.

Di dalam kitab sahih telah disebutkan bahwa Abu Musa pernah meminta izin untuk masuk ke dalam rumah Umar sebanyak tiga kali, tetapi tidak diizinkan baginya, maka ia kembali.
Sesudah itu Umar berkata, "Tidakkah tadi saya mendengar suara Abdullah ibnu Qais (nama asli Abu Musa) meminta izin untuk masuk?"
Maka Umar berkata, "Berilah izin dia untuk masuk." Mereka mencarinya, tetapi dia telah pergi.
Sesudah itu Abu Musa kembali dan Umar berkata, "Mengapa kamu tadi pulang?"
Abu Musa menjawab, "Saya telah meminta izin masuk untuk menemuimu sebanyak tiga kali, tetapi masih belum juga diizinkan bagiku.
Dan sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

'Apabila seseorang di antara kalian meminta izin sebanyak tiga kali, lalu masih juga belum diizinkan baginya, maka hendaklah ia kembali'."

Maka Umar berkata, "Sungguh kamu harus mendatangkan saksi yang membenarkan hadis ini ke hadapanku.
Jika tidak, maka aku akan menyakitimu dengan pukulan." Maka Abu Musa pergi menemui segolongan orang-orang Ansar, lalu menceritakan kepada mereka apa yang telah dikatakan oleh Khalifah Umar.
Mereka menjawab, "Tiada yang dapat menjadi saksimu kecuali hanya orang yang kecil di antara kami." Maka pergilah Abu Musa dengan ditemani oleh Abu Sa'id Al-Khudri (ke tempat Umar), lalu ia menceritakan hal tersebut kepada Umar.
Maka Umar berkata, "Hadis itu terlupakan olehku karena kesibukanku dengan transaksi dagang di pasar-pasar."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Umar, dari Sabit, dari Anas atau lainnya, bahwa Nabi ﷺ meminta izin untuk menemui Sa'd ibnu Ubadah.
Maka Nabi ﷺ mengucapkan, "Assalamu 'alaika warahmatullah, " Sa'd menjawab, "Wa'alaikas salam warahmatullah, " tetapi jawabannya itu tidak terdengar oleh Nabi ﷺ sehingga Nabi ﷺ mengucapkan salamnya sebanyak tiga kali, dan Sa'd membalasnya pula sebanyak tiga kali, tetapi tidak sampai terdengar oleh Rasulullah ﷺ Maka Nabi ﷺ kembali.
Sa'd mengejarnya lalu berkata, "Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu, tidak sekali-kali engkau mengucapkan salam melainkan terdengar oleh kedua telingaku ini, dan sungguh aku telah menjawab setiap salammu, tetapi sengaja aku tidak memperdengar­kannya kepadamu karena aku menginginkan agar mendapat banyak salam dan berkah darimu." Kemudian Nabi ﷺ dipersilakan masuk ke dalam rumah, dan Sa'd menyuguhkan makanan buah anggur yang telah disale kepada Nabi ﷺ lalu beliau menyantap hidangan tersebut.
Setelah selesai makan, Rasulullah ﷺ bersabda:

Orang-orang yang baik telah makan makanan kalian, dan para malaikat mendoakan kalian, serta orang-orang yang puasa telah berbuka di rumah kalian.

Abu Daud dan Imam Nasai telah meriwayatkan melalui hadis Abu Amr Al-Auza'i.
Ia pernah mendengar Yahya ibnu Abu Kasir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdur Rahman ibnu Sa'd ibnu Zurarah, dari Qais ibnu Sa'd ibnu Ubadah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ berkunjung ke rumah mereka.
Beliau ﷺ mengucapkan "Assalamu 'alaikum warahmatullah.” Maka Sa'd membalasnya dengan suara yang pelan.
Qais bertanya, "Mengapa tidak engkau izinkan Rasulullah ﷺ masuk?"
Sa'd menjawab, "Sengaja saya biarkan beliau agar banyak mengucapkan salam kepada kita." Rasulullah ﷺ kembali mengucapkan salamnya, "Assalamu 'alaikum warahmatullah.” Sa'd menjawab dengan suara yang lirih (pelan).
Kemudian Rasulullah ﷺ mengulangi lagi salamnya, "Assalamu 'alaikum warahmatullah.” Setelah itu Rasulullah ﷺ kembali, dan Sa'd mengejarnya, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar salammu dan menjawab setiap salammu dengan suara pelan, agar engkau banyak mendoakan keselamatan bagi kami." Maka Rasulullah ﷺ kembali bersama Sa'd, dan Sa'd memerintah­kan agar disediakan air untuk mandi, lalu Sa'd menyediakan baju Khamisah yang dicelup dengan minyak Za'faran atau minyak al-waras, kemudian baju itu dipakai oleh Rasulullah ﷺ Sesudah itu Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya seraya berdoa:

Ya Allah limpahkanlah ampunan dan rahmat-Mu kepada keluarga Sa 'd ibnu Ubadah.

Kemudian Rasulullah ﷺ menyantap sebagian dari makanan yang dihidangkan.
Ketika beliau hendak pulang, Sa'd menyiapkan seekor keledai Untuk kendaraan Nabi ﷺ yang telah diberi pelana dengan kain qatifah.
Maka Rasulullah ﷺ mengendarainya, Lalu Sa'd berkata, "Hai Qais, temanilah Rasulullah ﷺ".
Qais menceritakan, "Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda (kepadaku), 'Naiklah,' tetapi aku menolak.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, 'Jika kamu tidak mau naik bersamaku, maka pergilah kamu (yakni jangan kawal aku seperti raja),' Qais berkata, "Lalu aku pergi." Hadis yang semisal telah diriwayatkan melalui berbagai jalur.
Dengan demikian, berarti hadis mvjayid lagi kuat.

Kemudian perlu diketahui bahwa orang yang meminta izin untuk masuk ke dalam rumah seseorang dianjurkan agar jangan berdiri persis di tengah-tengah pintu sehingga berhadap-hadapan dengan pintu.
Akan tetapi, hendaklah ia berdiri agak menyamping baik ke arah kanan pintu atau ke sebelah kirinya.

Demikian itu berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud.
Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Mu'ammal ibnul Fadl Al-Harrani, lalu disebutkan perawi-perawi lainnya.
Mereka mengatakan, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahman, dari Abdullah ibnu Bisyr yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ apabila mendatangi pintu rumah suatu kaum, beliau tidak pernah menghadapkan dirinya ke arah pintu, tetapi dari sebelah kanan atau sebelah kirinya, lalu mengucapkan, "Assalamu 'alaikum.” Demikian itu karena di masa itu pintu-pintu rumah tidak memakai kain penutup (gordin).
Hadis diriwayatkan oleh Imam Abu Daud secara tunggal.

Abu Daud mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir.

Dalam waktu yang sama Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Hafs, dari Al-A'masy, dari Talhah, dari Hazil yang menceritakan bahwa seorang lelaki datang, Usman mengatakan bahwa dia adalah Sa'd.
lalu Sa'd berdiri di depan pintu rumah Nabi ﷺ seraya meminta izin untuk masuk.
Usman (perawi) mengatakan bahwa Sa'd berdiri menghadap ke arah pintu, maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya seraya berisyarat, "Beginilah caranya, minggirlah dari pintu, sesungguhnya meminta izin itu tiada lain untuk diperbolehkan melihat."

Abu Daud At-Tayalisi meriwayatkannya melalui Sufyan As-Sauri, dari Al-A'masy, dari Talhah ibnu Masraf, dari seorang lelaki, dari Nabi ﷺ Abu Daud meriwayatkannya melalui hadis dia.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Seandainya ada seseorang mengintipmu tanpa seizinmu, lalu kamu lempar dengan batu kerikil hingga membutakan matanya, maka tiada dosa bagimu.

Jama'ah mengetengahkannya melalui hadis Syu'bah, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir yang mengatakan bahwa ia datang kepada Nabi ﷺ untuk membayar utang ayahnya, lalu ia mengetuk pintu.
Maka Nabi ﷺ bertanya.
”Siapakah kamu?"
Aku (Jabir) berkata, "Saya." Nabi ﷺ bersabda, "Saya, saya," seakan-akan beliau tidak suka dengan jawaban tersebut.

Sesungguhnya Nabi ﷺ tidak suka dengan jawaban tersebut karena jawaban itu masih belum memperkenalkan pelakunya sebelum menyebutkan namanya atau julukannya yang menjadi nama panggi lannya.
Jika tidak demikian, maka setiap orang bisa saja menyebutkan dirinya dengan kata 'saya'.
Hal ini tidak dapat memenuhi maksud yang dituju dari memperkenalkan diri agar diberi izin untuk masuk, seperti yang dianjurkan oleh ayat ini.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa isti-nas artinya meminta izin.
Hal yang sama dikatakan oleh selain Ibnu Abbas.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Abu Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu firman-Nya: janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam.
(An Nuur:27) Ibnu Abbas mengatakan, sesungguhnya telah terjadi kekeliruan yang dilakukan oleh para penyalin, sebenarnya hatta tasta-zinu watusallimu.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Hasyim, dari Abu Bisyr (yaitu Ja'far ibnu Iyas), dari Sa'id, dari Ibnu Abbas dengan lafaz yang semisal.
Ditambahkan pula di dalam riwayat ini bahwa Ibnu Abbas membacanya dengan bacaan tasta-zinu.
Dia membacanya berdasarkan qiraat Ubay ibnu Ka'b r.a.
Akan tetapi, riwayat ini berpredikat garib sekali bila bersumber dari Ibnu Abbas.

Hasyim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mugirah, dari Ibrahim yang mengatakan bahwa di dalam mushaf Ibnu Mas'ud disebutkan hatta tusallimu 'ala ahliha watasta-zinii (hingga kalian mengucapkan salam kepada penghuninya dan meminta izin kepada mereka).
Hal seperti inipun disebutkan di dalam suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas, lalu dipilih oleh Ibnu Jarir.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Abu Sufyan, Amr ibnu Abu Safwan pernah menceritakan kepadanya bahwa Kaidah ibnul Hambal pernah menceritakan kepadanya, "Safwan ibnu Umayyah menyuruhku pergi ke Laba', Jidayah, dan Dagabis di masa penaklukan kota Mekah, sedangkan Nabi ﷺ berada di puncak lembah.
Lalu aku masuk untuk menemui Nabi ﷺ tanpa bersalam dan tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Maka Nabi ﷺ bersabda:

'Kembalilah kamu dan ucapkanlah: Assalamu 'alaikum, bolehkah saya masuk?'

Demikian itu terjadi setelah Safwan ibnu Umayyah masuk Islam."

Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Ibnu Juraij dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib, kami tidak mengenalnya kecuali hanya melalui jalur Ibnu Juraij.

Imam Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Mansur, dari Rib'i yang mengatakan bahwa seorang lelaki dari kalangan Bani' Amir meminta izin untuk menemui Rasulullah ﷺ yang ada di dalam rumahnya, lalu lelaki itu berkata, "Bolehkah saya masuk?"
Maka Nabi ﷺ bersabda kepada pelayannya, "Keluarlah, dan temui orang itu, ajarilah dia cara meminta izin.
Katakanlah kepadanya agar terlebih dahulu mengucapkan, 'Assalamu 'alaikum, bolehkah saya masuk?'." Perkataan Nabi ﷺ rupanya terdengar oleh lelaki itu, maka ia mengucapkan, "Assalamu 'alaikum, bolehkah saya masuk?"
Kemudian Nabi ﷺ mengizinkannya untuk masuk.

Hasyim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mansur dari Ibnu Sirin, dan telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Ubaid, dari Amr ibnu Sa'id As-Saqafi, bahwa seorang lelaki meminta izin untuk bertemu dengan Nabi ﷺ Untuk itu ia mengatakan, "Bolehkah saya masuk?"
Atau, "Bolehkah kami masuk?"
Maka Nabi ﷺ bersabda kepada budak perempuannya yang dikenal dengan nama Raudah, "Pergilah kamu dan temuilah orang itu.
Ajarilah dia cara meminta izin, dia masih, belum mengerti cara meminta izin.
Katakanlah kepadanya agar mengucapkan, 'Assalamu 'alaikum, bolehkah saya masuk?'." Ternyata lelaki itu mendengar ucapan Nabi ﷺ Maka ia berkata, "Assala mu'alaikum, bolehkah saya masuk?"
Lalu Nabi ﷺ bersabda, "Masuklah."

Imam Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Zakaria, dari Anbasah ibnu Abdur Rahman, dari Muhammad ibnu Zazan, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Salam itu sebelum bicara.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis Anbasah lemah lagi tak terpakai, dan Muhammad ibnu Zazan di dalam sanadnya terdapat nakarah dan kelemahan.

Hasyim mengatakan, Mugirah pernah mengatakan bahwa Mujahid pernah menceritakan bahwa Ibnu Umar datang dari suatu keperluan dalam keadaan lusuh karena panasnya matahari padang pasir yang menyengat.
Lalu ia mendatangi kemah seorang wanita Quraisy.
Ibnu Umar mengucapkan, "Assalamu 'alaikum, bolehkah saya masuk?"
Wanita itu menjawab, "Masuklah dengan selamat." Ibnu Umar mengulangi lagi salamnya, dan wanita itu menjawabnya seperti jawaban semula, sedangkan Ibnu Umar masih tetap tidak beranjak dari tempatnya, lalu ia berkata (kepada wanita itu), "Jawablah, 'Masuklah!'." Lalu wanita itu menuruti apa yang diajarkannya dan mengucapkan, "Masuklah." Setelah itu barulah Ibnu Umar masuk.

Ibnu Abu Hatim menyebutkan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im Al-Ahwal, telah menceritakan kepadaku Khalid ibnu Iyas, telah menceritakan kepadaku nenekku Ummu Iyas yang mengatakan bahwa ia bersama tiga orang wanita lainnya yang jumlah seluruhnya empat orang meminta izin untuk menemui Siti Aisyah.
Maka mereka mengucapkan, "Bolehkah kami masuk?"
Siti Aisyah menjawab, "Jangan, ajarkanlah kepada teman kalian cara meminta izin!" Maka nenekku mengatakan, "Assalamu 'alaikum, bolehkah kami masuk?"
Siti Aisyah menjawab, "Masuklah kalian." Kemudian Siti Aisyah membaca firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.
(An Nuur:27)

Hasyim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Asy'a.s ibnu Siwar, dari Kardus, dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan, "Kalian harus meminta izin pula kepada ibu dan saudara perempuan kalian."

Asy'as mengatakah dari Addi ibnu Sabit, bahwa seorang wanita Ansar berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku di dalam rumahku dalam keadaan penampilan yang tidak aku sukai bila ada seseorang melihatku dalam keadaan demikian, baik dia orang tuaku ataupun anakku.
Dan sesungguhnya sampai sekarang masih saja ada laki-laki dari kalangan keluargaku yang memasuki rumahku dalam keadaan aku seperti itu." Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa lalu turunlah firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah (An Nuur:27), hingga akhir ayat.

Ibnu Juraij mengatakan bahwa aku mendengar Ata ibnu Abu Rabah meriwayatkan asar berikut dari Ibnu Abbas.
Ibnu Abbas mengatakan, bahwa ada tiga ayat yang berbeda dengan apa yang berlaku di kalangan manusia.
Allah telah berfirman:

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.
(Al Hujuraat:13)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa manusia mengatakan, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara mereka di sisi Allah ialah orang yang paling besar rumahnya."

Ibnu Abbas mengatakan bahwa etika seluruhnya tidak disukai oleh manusia.
Lalu Ata bertanya, "Apakah saya harus meminta izin masuk pula kepada saudara-saudara perempuanku, mereka adalah anak-anak yatim yang berada dalam pemeliharaanku, hidup bersamaku dalam satu rumah?"
Ibnu Abbas menjawab, "Ya." Maka aku mengulangi lagi pertanyaanku dengan maksud agar diberi dispensasi buatku dalam masalah ini, tetapi Ibnu Abbas tetap menolak dan balik bertanya, "Apakah kamu ingin melihatnya dalam keadaan telanjang?"
Aku menjawab, "Tidak." Ibnu Abbas berkata, "Kalau demikian, minta izinlah sebelum kamu masuk menemuinya."

Ata kembali bertanya mengenai masalah itu, maka Ibnu Abbas balik bertanya, "Sukakah kamu berbuat ketaatan kepada Allah?"
Aku menjawab, "Ya." Ibnu Abbas berkata, "Kalau demikian, minta izinlah."

Ibnu Juraij mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Ibnu Tawus dari ayahnya yang telah mengatakan: "Tiada seorang wanita pun yang lebih aku benci dari seorang wanita muhrim yang aku lihat auratnya," yakni memperlihatkan auratnya, dan adalah beliau orang yang sangat keras dalam masalah ini.
Ata mengatakan bahwa Ibnu Abbas sangat memperketat masalah ini.

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Az-Zuhri, bahwa ia pernah mendengar Hazil ibnu Syurahbil Al-Audi yang tuna netra menceritakan apa yang pernah ia dengar dari Ibnu Mas'ud saat mengatakan, "Kalian harus meminta izin pula kepada ibu-ibu kalian (jika kalian hendak masuk menemui mereka)."

Ibnu Juraij bertanya kepada Ata, "Apakah seorang lelaki diharuskan meminta izin kepada ibunya?"
Ata menjawab, "Tidak." Fatwa dari Ata ini ditakwilkan mengandung hukum bahwa hal tersebut tidak wajib, melainkan hanya dianjurkan.
Karena sesungguhnya hal yang paling utama ialah memberitahukan kepada si ibu bahwa si anak akan masuk menemuinya, dan jangan masuk begitu saja sehingga mengejutkan si ibu karena barangkali si ibu berada dalam keadaan yang tidak suka bila ada orang lain melihatnya dalam keadaan seperti itu.

Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Hazim, dari Al-A'masy, dari Amr ibnu Murrah, dari Yahya Al-Jazzar, dari anak lelaki saudara lelaki Zainab, istri sahabat Abdullah ibnu Mas'ud, dari Zainab r.a.
yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Mas'ud apabila pulang dari suatu keperluannya, dan langkahnya sampai ke depan pintu, maka terlebih dahulu ia mendehem dan meludah, sebab ia tidak suka bila masuk ketika kami dalam keadaan yang tidak disukai olehnya.
Sanad asar ini sahih.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Namir, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Amr ibnu Murrah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Abdullah apabila masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu meminta izin dengan suara yang keras.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sebelum meminta izin.
(An Nuur:27) Yaitu memberitahu dengan cara berdehem atau berdahak.

Imam Ahmad ibnu Hambal rahimahullah mengatakan bahwa apabila seseorang memasuki rumahnya, ia suka bila orang tersebut mendehem terlebih dahulu atau menggerakkan kedua terompahnya.
Karena itulah disebutkan di dalam kitab sahih bersumber dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau ﷺ melarang seorang lelaki datang ke rumah istrinya di malam hari.
Menurut riwayat lain, datang di malam hari mengejutkan mereka.

Di dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ tiba di Madinah pada siang hari, maka terlebih dahulu beliau memberhentikan kendaraannya untuk istirahat di tanah lapang Madinah, lalu beliau bersabda:

Tunggulah sebelum kita masuk di petang hari, sehingga wanita yang tadinya kusut rambutnya bersisir dahulu dan wanita yang ditinggal suaminya berpergian berseka terlebih dahulu.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Sulaiman, dari Wasil ibnus Sa-ib, telah menceritakan kepadaku Abu Saurah anak saudara Abu Ayyub, dari Abu Ayyub, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ”Wahai Rasulullah, mengenai salam saya sudah mengerti, tetapi apakah yang dimaksud dengan istinas?
Rasulullah ﷺ bersabda: Hendaknyalah seseorang mengucapkan tasbih, takbir, atau tahmid, dan mendehem, lalu meminta izin kepada penghuni rumah.

Hadis ini berpredikat garib.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sebelum meminta izin.
(An Nuur:27) Yang dimaksud ialah meminta izin sebanyak tiga kali, dan barang siapa yang tidak diberi izin masuk oleh penghuni rumah yang didatanginya, hendaknya ia kembali.
Izin yang pertama sebagai pemberitahuan kedatangan, izin yang kedua agar mereka bersiap sedia, dan izin yang ketiga sebagai keputusan, diizinkan masuk atau tidak, terserah kepada penghuni rumah.
Mereka boleh mengizinkan dan boleh menolak kedatangannya.
Tetapi janganlah kamu berdiri di depan pintu suatu kaum yang menolak kedatanganmu, karena sesungguhnya manusia mempunyai banyak keperluan dan kesibukan, dan Allah lebih utama untuk diperhatikan.

Muqatil ibnu Hayyan telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.
(An Nuur:27) Bahwa dahulu di masa Jahiliah seorang lelaki bila bersua dengan temannya tidak mengucapkan salam kepadanya, melainkan hanya mengatakan kepadanya, "Selamat pagi," atau, "Selamat sore." Dan itulah salam penghormatan yang berlaku di antara mereka.
Apabila seseorang dari mereka pergi menemui temannya, maka ia tidak meminta izin lagi untuk masuk, melainkan langsung masuk ke dalam rumah seraya berkata, "Saya masuk," atau perkataan lainnya yang semakna, sehingga hal itu dirasakan tidak enak bagi yang didatangi karena barangkali ia sedang bersama istrinya.
Setelah Islam datang, maka Allah subhanahu wa ta'ala mengubah secara total tradisi itu dengan etika yang sopan, bersih, dan suci dari perbuatan yang kotor dan tidak baik.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.
(An Nuur:27), hingga akhir ayat.

Apa yang dikemukakan oleh Muqatil ini cukup baik.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Yang demikian itu lebih baik bagi kalian.
(An Nuur:27)

Maksudnya, meminta izin itu baik bagi kalian, yakni baik bagi kedua belah pihak yang bersangkutan, baik pihak tamu maupun pihak penghuni rumah.

Informasi Surah An Nuur (النور)
Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Dinamai "An Nuur" yang berarti "Cahaya",
diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat 35.
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan tentang Nuur Ilahi, ya'ni Al Qur'an yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam se­mesta.

Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan de­ngan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Keimanan:

Kesaksian lidah dan anggota-anggota tubuh atas segala perbuatan manusia pada hari kiamat
hanya Allah yang menguasai langit dan bumi
kewajiban rasul hanya­lah menyampaikan agama Allah
iman rnerupakan dasar daripada diterimanya amal ibadah.

Hukum:

Hukum-hukum sekitar masalah zina, li'an dan adab-adab pergaulan diluar dan di dalam rumah tangga.

Kisah:

Cerita tentang berita bohong terhadap Ummul Mu'minin 'Aisyah r.a. (Qishshatul lfki).

Lain-lain:

Semua jenis hewan diciptakan Allah dari air
janji Allah kepada kaum muslimin yang beramal saleh.


Gambar Kutipan Surah An Nuur Ayat 27 *beta

Surah An Nuur Ayat 27



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nuur

Surah An-Nur (Arab: النّور‎) adalah surah ke-24 dari al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Dinamai An-Nur yang berarti Cahaya yang diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35.
Dalam ayat ini, Allah s.w.t.
menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Al-Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta.
Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Nomor Surah 24
Nama Surah An Nuur
Arab النور
Arti Cahaya
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 102
Juz Juz 18
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 64
Jumlah kata 1381
Jumlah huruf 5755
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’minun
Surah selanjutnya Surah Al-Furqan
4.7
Rating Pembaca: 4.3 (11 votes)
Sending







✔ dzalikum khairun lakum in, QS AN NUR 27

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku