QS. An Nuur (Cahaya) – surah 24 ayat 15 [QS. 24:15]

اِذۡ تَلَقَّوۡنَہٗ بِاَلۡسِنَتِکُمۡ وَ تَقُوۡلُوۡنَ بِاَفۡوَاہِکُمۡ مَّا لَیۡسَ لَکُمۡ بِہٖ عِلۡمٌ وَّ تَحۡسَبُوۡنَہٗ ہَیِّنًا ٭ۖ وَّ ہُوَ عِنۡدَ اللّٰہِ عَظِیۡمٌ
Idz talaqqaunahu bialsinatikum wataquuluuna biafwaahikum maa laisa lakum bihi ‘ilmun watahsabuunahu hai-yinan wahuwa ‘indallahi ‘azhiimun;

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja.
Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.
―QS. 24:15
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Dosa-dosa besar ▪ Para rasul diutus untuk memberi petunjuk
24:15, 24 15, 24-15, An Nuur 15, AnNuur 15, An Nur 15, An-Nur 15

Tafsir surah An Nuur (24) ayat 15

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nuur (24) : 15. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa andai kata bukan karena karunia dun rahmat-Nya, pasti mereka penyebar berita bohong itu akan ditimpa azab; pertama karena mereka itu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut lalu berbincang-bincang tentang hal itu, kemudian turut menyebar luaskannya sehingga tidak satu rumah atau suatu tempat pertemuan yang luput dari berita bohong itu; kedua karena mereka turut mempercakapkan suatu berita bohong yang mereka tidak tahu sama sekali seluk beluknya, ketiga karena mereka menganggap enteng saja berita bohong itu, seakan-akan tidak berarti, pada hal berita bohong itu adalah suatu hal yang sangat buruk akibatnya dan dosa besar di sisi Allah subhanahu wa ta’ala

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kalian telah menyebarkan berita bohong di kalangan kalian, padahal kalian tidak mengetahui kebenaran berita itu.
Kalian menyangka bahwa hal itu adalah remeh dan tidak akan dibalas hukuman oleh Allah, atau dibalas dengan hukuman yang ringan.
Padahal, itu adalah dosa besar dan akan dibalas oleh Allah dengan hukuman yang berat pula.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut) yaitu sebagian di antara kalian menceritakannya kepada sebagian yang lain.

Lafal Talaqqaunahu berasal dari lafal Tatalaqqaunahu, kemudian salah satu dari huruf Ta dibuang sehingga jadilah Talaqqaunahu.

Lafal Idz tadi dinashabkan oleh lafal Massakum atau oleh lafal Afadhtum (dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikit jua, dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja) sebagai sesuatu hal yang tidak berdosa.

(Padahal dia pada sisi Allah adalah besar) dosanya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Pada saat kalian menerima berita bohong itu dan memindah dari mulut ke mulut padahal perkataan itu merupakan perkataan yang batil dan kalian juga tidak memiliki ilmu tentang perkataan tersebut.
Dan kedua hal itu berbahaya, yakni berbicara dengan batil dan berbicara tanpa ilmu.
Kalian mengira hal itu remeh padahal di sisi Allah sangat besar.
Di dalam ayat ini menjelaskan larangan keras dari menganggap sepele terhadap penyebaran kebatilan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(Ingatlah) di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut.
(Q.S. An-Nuur [24]: 15)

Mujahid dan Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah sebagian kalian membicarakannya dari sebagian yang lain, seseorang mengatakan bahwa berita itu ia terima dari si Fulan, kemudian si pendengar menceritakannya lagi kepada orang lain hingga seterusnya, sampai berita itu menyebar.

Sebagai ulama membaca ayat ini dengan bacaan berikut, yaitu: “Tulqunahu.”

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan melalui Aisyah bahwa ia membaca ayat ini dengan bacaan tersebut.
Ia mengatakan pula bahwa tilqunahu berasal dari walaqa yang artinya membuat-buat perkataan dusta dan pelakunya tetap berpegang kepada kedustaannya itu.
Orang-orang Arab mengatakan, “Walaqa Fulanun fis sairi” artinya ia meneruskan perjalanannya.
Akan tetapi, qiraat yang pertama lebih terkenal dan dianut oleh jumhur ulama.
Qiraat yang kedua diriwayatkan melalui Ummul Mu’minin Siti Aisyah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Aisyah, bahwa ia membacanya dengan bacaan iz tulqilnahu, berasal dari walaqa.
Ibnu Abu Mulaikah mengatakan bahwa Siti Aisyah lebih mengetahui hal ini daripada yang lainnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui.
(Q.S. An-Nuur [24]: 15)

Yakni kalian mengatakan apa yang tidak kalian ketahui.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam ayat selanjutnya:

dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja.
Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.
(Q.S. An-Nuur [24]: 15)

Yaitu kalian mengatakan apa yang telah kalian katakan itu tentang Ummul Mu’minin, sedangkan kalian menganggapnya sebagai sesuatu hal yang ringan dan tidak berarti.
Seandainya yang dijadikan bahan pergunjingan kalian itu bukan istri Nabi ﷺ, maka hal tersebut tetap bukanlah merupakan hal yang ringan, terlebih lagi subyeknya adalah istri Nabi.
Maka alangkah besar dosanya di sisi Allah bila ada sesuatu hal yang menyangkut diri istri Nabi dan Rasul-Nya dijadikan bahan pergunjingan.
Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala cemburu dengan terjadinya hal tersebut, sangat jauh dari kemungkinan bila ada istri seorang nabi yang melakukan hal tersebut.
Mengingat hal tersebut, terlebih lagi yang dijadikan pergunjingan itu adalah penghulu istri-istri para nabi, yaitu istri penghulu anak Adam semuanya, baik di dunia maupun di akhirat.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya: dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja.
Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.
(Q.S. An-Nuur [24]: 15)

Di dalam kitab Sahihain disebutkan hadis berikut:

Sesungguhnya seorang lelaki benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang dimurkai oleh Allah tanpa disadarinya yang menyebabkan dirinya tercampakkan ke neraka lebih dalam daripada jarak antara bumi dan langit.

Menurut riwayat yang lain disebutkan:

sedangkan dia tidak menyadarinya.


Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nuur (24) ayat 15
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Yusuf bahwa Ibnu Juraij Telah mengabarkan kepada mereka. Ibnu Abu Mulaikah dia berkata,
Aku mendengar Aisyah membaca ayat: Ingatlah, di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut. (An Nuur: 15).

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4383

Kata Pilihan Dalam Surah An Nuur (24) Ayat 15

AFWAAH
أَفْوَٰه

Lafaz afwaah adalah bentuk jamak dari al faah. Ia berarti terbukanya sesuatu, mu’annats-nya adalah yang bermakna mulut. Kata terbitan dari adalah al fawaah yang bermakna mulut yang luas.

Menurut ahli tatabahasa Arab, asal kata al jam adalah faah.

Kata afwaah disebut 12 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 118, 167;
-Al Maa’idah (5), ayat 41;
-At Taubah (9), ayat 8, 30, 32;
-Ibrahim (14), ayat 9;
-Al Kahfi (18), ayat 5;
-An Nuur (24), ayat 15;
-Al Ahzab (33), ayat 4;
-Yaa Siin (36), ayat 65;
-Ash Shaff (61), ayat 8.

Dalam ayat 118, surah Ali Imran, makna kata afwaah adalah alsinah yaitu lisan atau mulut, di mana penafsiran ayat itu adalah “nampak tanda-tanda permusuhan pada kamu melalui afwaah (lisan-lisan) mereka dan mereka tidak cukup memusuhi kamu dengan hati mereka saja, sehingga mereka berterus terang dengan mulut mereka.”

Begitu juga makna afwaah dalam ayat 167, apabila orang munafik seperti Ubai bin Salul dan pengikutnya pergi bersama Rasulullah pada Perang Uhud, namun mereka balik dan mengatakan, “Sekiranya kami tahu, pasti kami berperang bersama kamu,” sedangkan mereka sebenarnya mengatakan dengan lisan mereka ucapan yang bertentangan dengan hati mereka.

Sedangkan kata afwaah dalam surah Al Maa’idah ayat 41, penafsirannya adalah mereka menampakkan keimanan dengan afwaah (lidah atau mulut) mereka sedangkan hati mereka rusak dan kosong daripadanya, mereka itu adalah orang munafik.

Kesimpulannya, makna dan maksud dari kata afwaah pada keseluruhan ayat Al Qur’an ialah lisan atau mulut.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:24

Informasi Surah An Nuur (النور)
Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Dinamai “An Nuur” yang berarti “Cahaya”,
diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat 35.
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan tentang Nuur Ilahi, ya’ni Al Qur’an yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam se­mesta.

Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan de­ngan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Keimanan:

Kesaksian lidah dan anggota-anggota tubuh atas segala perbuatan manusia pada hari kiamat
hanya Allah yang menguasai langit dan bumi
kewajiban rasul hanya­lah menyampaikan agama Allah
iman rnerupakan dasar daripada diterimanya amal ibadah.

Hukum:

Hukum-hukum sekitar masalah zina, li’an dan adab-adab pergaulan diluar dan di dalam rumah tangga.

Kisah:

Cerita tentang berita bohong terhadap Ummul Mu’minin ‘Aisyah r.a. (Qishshatul lfki).

Lain-lain:

Semua jenis hewan diciptakan Allah dari air
janji Allah kepada kaum muslimin yang beramal saleh.

Ayat-ayat dalam Surah An Nuur (64 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nuur (24) ayat 15 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nuur (24) ayat 15 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nuur (24) ayat 15 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nuur - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 64 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 24:15
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nuur.

Surah An-Nur (Arab: النّور‎) adalah surah ke-24 dari al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Dinamai An-Nur yang berarti Cahaya yang diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35.
Dalam ayat ini, Allah s.w.t.
menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Al-Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta.
Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Nomor Surah 24
Nama Surah An Nuur
Arab النور
Arti Cahaya
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 102
Juz Juz 18
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 64
Jumlah kata 1381
Jumlah huruf 5755
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’minun
Surah selanjutnya Surah Al-Furqan
4.7
Ratingmu: 4.7 (13 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta