Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nuur

An Nuur (Cahaya) surah 24 ayat 11


اِنَّ الَّذِیۡنَ جَآءُوۡ بِالۡاِفۡکِ عُصۡبَۃٌ مِّنۡکُمۡ ؕ لَا تَحۡسَبُوۡہُ شَرًّا لَّکُمۡ ؕ بَلۡ ہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ ؕ لِکُلِّ امۡرِیًٔ مِّنۡہُمۡ مَّا اکۡتَسَبَ مِنَ الۡاِثۡمِ ۚ وَ الَّذِیۡ تَوَلّٰی کِبۡرَہٗ مِنۡہُمۡ لَہٗ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ
Innal-ladziina jaa-uu bil-ifki ‘ushbatun minkum laa tahsabuuhu syarran lakum bal huwa khairun lakum likulliimri-in minhum maaaktasaba mina-itsmi waal-ladzii tawalla kibrahu minhum lahu ‘adzaabun ‘azhiimun;

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.
Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.
Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya.
Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.
―QS. 24:11
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Azab orang kafir
24:11, 24 11, 24-11, An Nuur 11, AnNuur 11, An Nur 11, An-Nur 11
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nuur (24) : 11. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa orang-orang yang menyiarkan berita bohong yang dilancarkan ke rumah tangga Rasulullah ﷺ itu, sebenarnya dari golongan kaum Muslimin sendiri, sebagaimana diketahui bahwa setelah junjungan kita Nabi Besar Muhammad ﷺ.
kembali dari gazwah Muraizik bersama pasukannya pada bulan Sya'ban tahun ke lima hijrah, tersiarlah suatu berita bohong yang unik sekali yang ditujukan kepada rumah tangga Rasulullah ﷺ yang dikenal dengan "Hadisul ifki".
Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah ﷺ 'Aisyah r.a.
Ummul Mukminin, sehabis perang dengan Bani Mustaliq bulan Syakban 5 H.
Peperangan itu, diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula 'Aisyah dengan Nabi ﷺ berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau.
Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan mereka berhenti pada suatu tempat.
'Aisyah keluar dari sekedup (tempat duduk di atas unta) untuk suatu keperluan, kemudian kembali.
Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya.
Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa 'Aisyah masih ada dalam sekedup.
Setelah 'Aisyah mengetahui sekedupnya sudah berangkat, dia duduk di tempatnya dan mengharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya, dalam keadaan demikian diapun tertidur kebetulan lewat di tempat itu seorang sahabat Nabi Sofwan bin Mu'attal diketemukannya seseorang yang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un, istri Rasul! " Aisyah terbangun lalu dipersilahkan oleh Sofwan mengendarai untanya.
Sofwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah.
Orang-orang yang melihat mereka membicarakan menurut pendapat masing-masing.
Mulailah timbul desas-desus.
Kemudian kaum munafik membesar-besarkannya, maka fitnahan atas `Aisyah r.a.
itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum Muslimin.

Allah subhanahu wa ta'ala, menghibur hati mereka, agar mereka jangan menyangka bahwa peristiwa itu buruk dan merupakan bencana bagi mereka, tetapi hakikatnya pada kejadian itu adalah suatu hal yang baik bagi mereka karena dengan kejadian itu, mereka akan memperoleh pahala besar dan kehormatan dari Allah subhanahu wa ta'ala dengan diturunkannya Alquran yang menyatakan kebersihan mereka dari berita bohong itu, suatu bukti autentik yang dapat dibaca sepanjang masa.
Setiap orang yang menyebarkan berita bohong itu akan mendapat balasan, sesuai dengan usaha dan kegiatannya tentang tersiar luasnya berita bohong itu.
Sedang orang yang menjadi sumber pertama dan menyebar luaskan berita bohong ini, ialah Abdullah bin Ubay bin Salul, sebagai seorang tokoh munafik yang tidak jujur, sedang di akhirat kelak akan diazab dengan azab yang pedih.
Dosa semua orang yang turut dan ikut menyebar luaskan berita bohong itu akan terpikul juga di atas pundaknya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ.:

Barangsiapa yang mengadukan perbuatan yang buruk dan ada yang mengikutinya, maka dosa perbuatannya itu akan dipikulnya bersama dosa orang-orang yang melakukan perbuatan buruk itu tanpa dikurangi sedikitpun.
(H.R.
Abdullah bin Jaris)

An Nuur (24) ayat 11 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nuur (24) ayat 11 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nuur (24) ayat 11 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya orang-orang yang membuat-buat kebohongan--yang jauh dari petunjuk Allah--terhadap 'A'isyah r.
a., istri Rasulullah ﷺ., ketika menyebarkan isu negatif tentang dirinya, adalah sekelompok orang yang hidup bersama kalian.
Jangan berprasangka bahwa peristiwa itu berarti jelek buat kalian.
Sebaliknya, peristiwa itu justru mengandung arti sangat baik bagi kalian, karena dapat membedakan siapa di antara kalian yang bersifat munafik dan siapa yang benar-benar beriman.
Di samping itu, peristiwa itu juga menunjukkan kesucian orang-orang yang tak bersalah yang disakiti.
Masing-masing anggota kelompok itu akan mendapatkan balasannya sendiri-sendiri sesuai kadar keikutsertaannya dalam tuduhan itu.
Dan pemimpin kelompok itu akan mendapat siksa amat kejam karena dosanya yang besar.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong) kedustaan yang paling buruk yang dilancarkan terhadap Siti Aisyah r.a.
Umulmukminin, ia dituduh melakukan zina (adalah dari golongan kalian juga) yakni segolongan dari kaum Mukmin.
Siti Aisyah mengatakan, bahwa mereka adalah Hissan bin Tsabit, Abdullah bin Ubay, Misthah dan Hamnah binti Jahsy.
(Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu) hai orang-orang Mukmin selain dari mereka yang melancarkan tuduhan itu (buruk bagi kalian, tetapi hal itu mengandung kebaikan bagi kalian) dan Allah akan memberikan pahalanya kepada kalian.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menampakkan kebersihan Siti Aisyah r.a.
Dan orang yang telah menolongnya yaitu Shofwan.
Sehubungan dengan peristiwa ini Siti Aisyah r.a.
telah menceritakan, sebagai berikut, "Aku ikut bersama Nabi ﷺ dalam suatu peperangan, yaitu sesudah diturunkannya ayat mengenai hijab bagi kaum wanita.
Setelah Nabi ﷺ menunaikan tugasnya, lalu ia kembali dan kota Madinah sudah dekat.
Pada suatu malam setelah istirahat Nabi ﷺ menyerukan supaya rombongan melanjutkan perjalanan kembali.
Aku pergi dari rombongan untuk membuang hajat besarku.
Setelah selesai, aku kembali ke rombongan yang sedang bersiap-siap untuk berangkat, akan tetapi ternyata kalungku putus/jatuh, lalu aku kembali lagi ke tempat buang hajat tadi untuk mencarinya.
Mereka mengangkat sekedupku ke atas unta kendaraanku, karena mereka menduga bahwa aku telah berada di dalamnya.
Karena kaum wanita pada saat itu beratnya ringan sekali, disebabkan mereka hanya makan sedikit.
Aku menemukan kembali kalungku yang hilang itu, lalu aku datang ke tempat rombongan, ternyata mereka telah berlalu.
Lalu aku duduk di tempat semula, dengan harapan bahwa rombongan akan merasa kehilangan aku, lalu mereka kembali ke tempatku.
Mataku mengantuk sekali, sehingga aku tertidur, sedangkan Shofwan pada waktu itu berada jauh dari rombongan pasukan karena beristirahat sendirian.
Kemudian dari tempat istirahatnya itu ia melanjutkan kembali perjalanannya menyusul pasukan.
Ketika ia sampai ke tempat pasukan, ia melihat ada seseorang sedang tidur, lalu ia langsung mengenaliku, karena ia pernah melihatku sebelum ayat hijab diturunkan.
Aku terbangun ketika dia mengucapkan Istirja', 'yaitu kalimat Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilaihi RaaJi'uuna'.
Aku segera menutup wajahku dengan kain jilbab.
Demi Allah, sepatah kata pun ia tidak berbicara denganku, terkecuali hanya kalimat Istirja'nya sewaktu ia merundukkan hewan hendaraannya kemudian ia turun dengan berpijak kepada kaki depan untanya.
Selanjutnya aku menaiki unta kendaraannya dan ia langsung menuntun kendaraannya yang kunaiki, hingga kami dapat menyusul rombongan pasukan, yaitu sesudah mereka beristirahat pada siang hari yang panasnya terik.
Akhirnya tersiarlah berita bohong yang keji itu, semoga binasalah mereka yang membuat-buatnya.
Sumber pertama yang menyiarkannya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul." Hanya sampai di sinilah kisah siti Aisyah menurut riwayat yang dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Selanjutnya Allah berfirman, ("Tiap-tiap seseorang dari mereka) akan dibalas kepadanya (dari dosa yang dikerjakannya) mengenai berita bohong ini.
(Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu) maksudnya orang yang menjadi biang keladi dan berperanan penting dalam penyiaran berita bohong ini, yang dimaksud adalah Abdullah bin Ubay (baginya azab yang besar") yakni neraka kelak di akhirat

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita terbohong, yakni tuduhan terhadap Ummul Mukminin Aisyah dengan perbuatan zina, mereka adalah dari golongan yang dinisbatkan kepada kalian (wahai kaum muslimin).
Janganlah kalian mengira bahwa perkataan mereka itu buruk bagi kalian, bahkan ia adalah baik bagi kalian.
Karena dalam peristiwa itu terdapat penetapan tentang bebasnya Ummul Mukminin dari tuduhan tersebut, kesuciannya, diagungkan penyebutannya, mengangkat derajatnya, dan menghapus keburukannya.
Setiap orang dari mereka yang mengabarkan kabar dusta tersebut akan mendapat balasan dari dosa yang mereka kerjakan.
Yang paling besar tanggungannya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, mudah-mudahan Allah melaknatnya.
Ia merupakan pembesar kaum munafik.
Dia akan mendapatkan adzab yang sangat pedih nanti di akhirat.
Yaitu berada di kerak neraka yang paling dalam selama-lamanya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ayat ini hingga sembilan ayat berikutnya yang jumlah seluruhnya adalah sepuluh ayat diturunkan berkenaan dengan Siti Aisyah Ummul Mukminin r.a.
ketika ia dituduh berbuat serong oleh sejumlah orang yang menyiarkan berita bohong dari kalangan orang-orang munafik, padahal berita yang mereka siarkan itu bohong dan dusta belaka serta buat-buatan mereka sendiri.
Peristiwa tersebut membuat Allah cemburu (murka) demi Siti Aisyah dan Nabi-Nya.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan wahyu yang membersihkan kehormatan Siti Aisyah demi memelihara kehormatan Rasulullah ﷺ Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari segolongan kalian juga,

Yakni sejumlah orang dari kalangan kalian sendiri, bukan satu atau dua orang, melainkan segolongan orang.
Orang yang pertama menyebar isu keji ini adalah Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, pemimpin kaum munafik.
Dialah orang yang mempunyai prakarsa menyebarkan isu dusta itu sehingga ada sebagian dari kalangan kaum muslim yang termakan dan terhasut oleh isu yang disebarkannya, yang akhirnya menjadi bahan pergunjingan mereka.
Sedangkan sebagian kaum muslim lainnya tidak mempunyai tanggapan apa pun terhadap peristiwa itu.
Keadaan ini berlanjut sampai hampir satu bulan lamanya.
Akhirnya turunlah ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
Keterangan mengenai kisah ini secara rinci didapat di dalam hadis-hadis sahih.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Abu Usamah telah meriwayatkan dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah r.a.
yang mengatakan, "Setelah perihal diriku menjadi buah bibir, sedangkan aku sendiri masih belum mengetahuinya, Rasulullah ﷺ berdiri di kalangan para sahabatnya seraya berkhotbah.
Mula-mula beliau membaca syahadat, lalu diiringi dengan puji dan sanjungan kepada Allah, setelah itu baru bersabda:

'Amma ba'du.
Hai kalian semua, berilah saya saran tentang orang-orang yang telah menuduh tidak baik terhadap keluarga (istri)ku.
Demi Allah, tiada yang kuketahui tentang keluargaku melainkan yang baik-baik saja, dan tiada suatu keburukan pun yang kuketahui ada pada keluargaku, lalu dengan siapakah mereka menuduhnya berbuat tidak baik?
Demi Allah, tiada suatu keburukan pun yang kuketahui darinya, dia tidak pernah masuk ke dalam rumahku melainkan aku selalu ada.
Dan tidak pernah ia pergi dalam suatu perjalanan melainkan selalu bersamaku.'

Maka berdirilah Sa'd ibnu Mu'az Al-Ansari, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, berilah kami izin untuk memenggal kepala mereka.' Kemudian berdiri pulalah seorang lelaki dari kabilah Khazraj, suatu kabilah yang berasal darinya ibu sahabat Hassan ibnu Sabit, lalu lelaki itu berkata, 'Kamu dusta.
Demi Allah, seandainya mereka dari kalangan kabilah Aus, aku tidak suka bila kamu memenggal kepala mereka'."

Siti Aisyah mengatakan, "Situasi menghangat sehingga hampir saja terjadi keributan di antara kabilah Aus dan kabilah Khazraj di dalam masjid, sedangkan aku tidak merasakan adanya peristiwa tersebut.

Pada petang harinya aku keluar untuk menunaikan hajatku bersama Ummu Mistah yang menemaniku.
Di tengah jalan Ummu Mistah ter­sandung, lalu berkata, 'Celakalah Mistah!'

Maka aku bertanya kepadanya, 'Hai Ummu Mistah, mengapa engkau mencaci anakmu sendiri?' Ummu Mistah diam, dan tersandung lagi, maka ia mengatakan, 'Celakalah Mistah!* Aku beranya, 'Hai Ummu Mistah, mengapa engkau mencaci maki anakmu sendiri?' Kemudian tersandung lagi untuk yang ketiga kalinya dan mengatakan, 'Celakalah, si Mistah!'

Maka aku menghardiknya supaya jangan mencaci lagi, tetapi Ummu Mistah menjawab, 'Demi Allah, aku tidak memakinya melainkan demi membela kamu.' Aku bertanya, 'Mengapa engkau membelaku, apakah yang telah kulakukan?' Ummu Mistah menceritakan kisah tersebut dengan panjang lebar kepadaku, dan aku bertanya menegaskan, 'Apakah memang betul?' Ummu Mistah menjawab, 'Ya, demi Allah'

Maka aku pulang ke rumah dengan perasaan yang tidak menentu, lalu aku jatuh sakit, dan aku berkata kepada Rasulullah, 'Pulangkanlah aku ke rumah ayahku.' Maka Nabi ﷺ mengirimkan aku bersama seorang budak sebagai temanku.
Ketika aku masuk, kujumpai Ummu Ruman (ibuku) berada di lantai bawah, sedangkan Abu Bakar berada di lantai atas sedang membaca Al-Qur'an.

Ummu Ruman bertanya, 'Ada keperluan apakah, hai anak perempuanku hingga kamu datang ke sini?' Maka kuceritakan kepadanya kisah tersebut.
Ternyata kisah tersebut belum sampai kepadanya seperti yang telah sampai kepadaku.
Maka Ummu Ruman berkata, 'Tenangkanlah dirimu, hai anakku.
Demi Allah, jarang sekali ada seorang wanita cantik istri seorang lelaki yang mencintainya, sedangkan lelaki itu mempunyai istri-istri yang lain, melainkan mereka iri terhadapnya dan selalu mempergunjingkannya.'

Maka aku bertanya, 'Apakah ayahku telah mengetahui kisah ini?' Ummu Ruman menjawab, 'Ya.' Aku bertanya, 'Begitu pula Rasulullah?' Ummu Ruman menjawab, 'Ya, Rasulullah pun telah mengetahuinya.'

Maka air mataku berkaca-kaca, lalu aku menangis, dan Abu Bakar mendengar suara tangisanku, sedangkan ia berada di lantai atas sedang membaca Al-Qur'an, lalu ia turun.
Abu Bakar bertanya kepada ibuku (Ummu Ruman), 'Mengapa dia menangis?' Ummu Ruman menjawab, 'Dia telah mendengar kisah dirinya yang menjadi buah bibir orang-orang banyak.' Maka Abu Bakar menangis dan berkata, 'Saya mohon kepadamu, hai anak perempuanku, agar kembali ke rumahmu' Maka aku pulang ke rumahku, sedangkan Rasulullah ﷺ telah berada di rumah, lalu beliau bertanya kepada pelayan perempuanku tentang diriku, maka pelayan perempuanku menjawab, 'Wahai Rasulullah, tidak.
Demi Allah, saya tidak mengetahui adanya suatu aib pun pada dirinya.
Hanya, ketika ia sedang tertidur, datanglah kambing, lalu kambing itu memakan adonan rotinya.' Salah seorang sahabat Nabi ﷺ menghardiknya seraya berkata, 'Berkatajujurlah kamu kepada Rasulullah!', hingga pelayan perempuanku itu takut karenanya.
Maka berkatalah ia sekali lagi, 'Mahasuci Allah, demi Allah tiadalah yang kuketahui tentangnya melainkan seperti apa yang diketahui oleh seorang tukang kemasan tentang emas batangan merah (yang ada di hadapannya).'

Kemudian kisah tersebut sampai kepada lelaki yang dituduh terlibat dalam kejadian itu.
Ia berkata, 'Mahasuci Allah.
Demi Allah, aku tidak pernah membuka kemaluan seorang wanita pun.'

Siti Aisyah mengatakan bahwa lelaki itu gugur mati syahid dalam medan perang sebagai syuhada.

"Sejak itu kedua orang tuaku tetap berada denganku menemaniku, hingga datanglah Rasulullah ﷺ dan masuk menemuiku.
Seusai salat Asar beliau masuk menemuiku, sedangkan kedua orang tuaku mengapit diriku dari sisi kanan dan sisi kiriku.

Nabi ﷺ mengucapkan puja dan puji kepada Allah subhanahu wa ta'ala, lalu bersabda: 'Amma ba'du.
Hai Aisyah, jika engkau melakukan suatu keburukan atau berbuat aniaya, maka bertobatlah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah menerima tobat hamba-hamba-Nya'.”

Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, "Datanglah seorang wanita dari kalangan Ansar, lalu ia duduk di dekat pintu.
Maka aku berkata, Tidakkah engkau malu terhadap wanita ini bila engkau menyebutkan sesuatu (yang terdengar olehnya)?' Maka Rasulullah ﷺ mengalihkan pembicaraannya kepada nasihat-nasihat.

Aku menoleh kepada ayahku dan kukatakan kepadanya, 'Jawablah Rasulullah ﷺ sebagai ganti dariku' Ayahku menjawab, 'Apakah yang harus kukatakan kepadanya?'

Aku menoleh kepada ibuku dan berkata kepadanya, 'Jawablah Rasulullah sebagai ganti dariku.' Ibuku menjawab, 'Apakah yang harus kukatakan kepadanya?' Keduanya tidak mau menjawab.

Maka aku membaca syahadat dan memuji kepada Allah serta menyanjung-Nya dengan puja dan puji yang layak bagi-Nya, kemudian kukatakan, 'Amma ba'du.
Demi Allah, jika kukatakan kepada kalian bahwa diriku tidak melakukannya, dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah orang benar, tentulah hal tersebut tidak berguna bagiku dalam tanggapan kalian, karena kalian telah membicarakannya dan isu tersebut telah meresap ke dalam hati kalian.
Dan j ika aku katakan kepada kalian bahwa sesungguhnya aku melakukannya, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku tidak melakukannya, tentulah kalian mengatakan bahwa itu memang salah dan dosaku.
Sesungguhnya, demi Allah, aku tidak menemukan suatu perumpamaan pun bagi diriku dan kalian selain dari apa yang telah dialami oleh Nabi Ya'qub ayah Yusuf.' Ketika ia mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya: 'maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).
Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan' (Yusuf:18)

Pada saat itu Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Rasulullah ﷺ, maka kami diam.
Setelah wahyu selesai darinya, tampak jelas tanda kegembiraan mewarnai wajah Rasulullah ﷺ Lalu beliau bersabda seraya mengusap keringat dari dahinya: 'Bergembiralah engkau, hai Aisyah, sesungguhnya Allah telah menurunkan wahyu yang membersihkan namamu'.”

Siti Aisyah mengatakan bahwa saat itu ia dalam keadaan sangat marah, maka ayah dan ibunya berkata kepadanya, "Mendekatlah kamu kepadanya!" Maka aku menjawab, "Tidak, demi Allah, aku tidak mau mendekat kepadanya, dan aku tidak mau memujinya, serta aku tidak mau memuji kamu berdua, melainkan hanya memuji kepada Allah yang telah menurunkan wahyu tentang pembersihan namaku.
Sesungguhnya kalian telah mendengar berita bohong itu, tetapi kalian tidak mengingkarinya dan tidak pula berupaya untuk mengubahnya."

Siti Aisyah mengatakan, "Adapun Zainab binti Jahsy, ia adalah seorang yang dipelihara oleh Allah berkat agamanya, karena itu ia tidak mengatakan kecuali kebaikan.
Sedangkan saudara perempuannya (yaitu Hamnah binti Jahsy), ia binasa bersama orang-orang yang binasa.
Dan orang yang gencar membicarakan berita bohong itu adalah Mistah, Hassan ibnu Sabit, dan seorang munafik (yaitu Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul).
Dialah yang membubuhi asam dan garam berita bohong ini dan yang mempunyai peran penting dalam menyiarkan berita bohong ini.
Yang lainnya adalah Hamnah."

Siti Aisyah r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa Abu Bakar bersumpah tidak akan memberikan nafkahnya lagi kepada Mistah selama-lamanya.
Maka Allah menurunkan firman-Nya: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya), orang-orang miskin.
(An Nuur:22)

Yang dimaksud dengan seseorang di antara kalian adalah sahabat Abu Bakar, sedangkan yang dimaksud dengan kerabat dan orang miskin adalah Mistah.
Sampai dengan firman-Nya: Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian?
Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(An Nuur:22)

Maka Abu Bakar berkata, "Tidak, demi Allah, wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami benar-benar menginginkan agar Engkau memberikan ampunan bagi kami," lalu ia kembali memberikan nafkahnya kepada Mistah seperti semula.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Abu Salamah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah r.a.
yang berkata, "Ketika diturunkan ayat yang membebaskan diriku dari langit, Nabi ﷺ datang kepadaku dan menyampaikannya kepadaku.
Maka aku berkata, 'Saya memuji kepada Allah dan tidak memuji kepadamu'."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Abdullah ibnu Abu Bakar, dari Amrah, dari Siti Aisyah yang mengatakan, "Setelah diturunkan wahyu yang membersihkan diriku, Rasulullah ﷺ berdiri, lalu menceritakan hal tersebut dan beliau membacakannya.
Setelah turun (dari mimbarnya) beliau memerintahkan agar menangkap dua orang laki-laki dan seorang wanita, kemudian mereka dijatuhi hukuman dera sebagai had mereka."

Para pemilik kitab sunan yang empat orang telah meriwayatkan hadis ini, selanjutnya Imam Turmuzi (salah seorang dari mereka) menilai bahwa hadis ini hasan.
Dalam teks hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud disebutkan nama mereka yang dihukum dera itu, yaitu Hassan ibnu Sabit, Mistah ibnu Asasah, dan Hamnah binti Jahsy.

Demikianlah jalur-jalur yang meriwayatkan hadis ini melalui berbagai sumber dari Siti Aisyah Ummul Mu’minin r.a.
yang terdapat di dalam kitab-kitab musnad, kitab-kitab sahih, kitab-kitab sunan, dan kitab-kitab hadis lainnya.

Telah diriwayatkan pula melalui hadis ibunya, yaitu Ummu Ruman r.a.
Untuk itu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami, Ali ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Husain, dari Abu Wa-il, dari Masruq, dari Ummu Ruman yang mengatakan bahwa ketika kami berada di dalam rumah Aisyah, tiba-tiba masuklah kepada Aisyah seorang wanita dari kalangan Ansar, lalu wanita itu berkata, "Semoga Allah membalas putranya (keponakannya) dengan pembalasan yang setimpal."

Maka Aisyah bertanya, "Mengapa?"
Wanita itu berkata, "Sesungguh­nya dia termasuk orang yang mempergunjingkan berita dusta tersebut." Siti Aisyah bertanya, "Cerita tentang apa?"
Wanita itu menerangkan segala sesuatunya kepada Aisyah.
Lalu Aisyah bertanya, "Apakah berita itu telah sampai juga kepada Rasulullah?"
Wanita Ansar itu menjawab, "Ya." Aisyah bertanya lagi, "Dan sampai pula kepada Abu Bakar?"
Wanita itu menjawab, "Ya." Maka Aisyah jatuh terjungkal dalam keadaan pingsan, dan tidaklah ia sadar dari pingsannya kecuali badannya dalam keadaan demam dan menggigil.

Ummu Ruman melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia bangkit dan menyelimuti tubuh putrinya itu.
Kemudian datanglah Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ bertanya, "Ada apa dengan dia?"
Ummu Ruman menjawab, "Wahai Rasulullah, dia terkena demam dan badannya menggigil." Nabi ﷺ bersabda, "Barangkali setelah dia mendengar berita yang dipergunjingkan mengenai dirinya."

Ummu Ruman melanjutkan kisahnya, bahwa Siti Aisyah bangkit duduk, lalu berkata "Demi Allah, seandainya aku bersumpah kepada kalian (untuk membela diriku), kalian tidak akan percaya kepadaku.
Dan seandainya aku meminta maaf kepada kalian, maka kalian tidak akan memaafkanku.
Maka perumpamaanku dan perumpamaan kalian adalah sama dengan Ya'qub dan anak-anaknya saat dia mengatakan kepada mereka seperti yang disitir oleh firman-Nya: 'maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).
Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan' (Yusuf:18)."

Ummu Ruman kembali melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah ﷺ keluar dan Allah menurunkan wahyu yang membersihkan kehormatan Aisyah.
Kemudian Rasulullah ﷺ kembali dengan ditemani oleh Abu Bakar, maka Rasulullah ﷺ masuk (menemui Aisyah) dan bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menurunkan wahyu yang membersihkan kehormatanmu, hai Aisyah."

Aisyah berkata, "Saya akan memuji kepada Allah dan tidak akan memujimu." Maka Abu Bakar berkata, "Beraninya kamu katakan demikian kepada Rasulullah ﷺ?"
Siti Aisyah menjawab, "Ya."

Tersebutlah bahwa di antara mereka yang membicarakan berita bohong itu adalah seorang lelaki yang penghidupannya dijamin oleh Abu Bakar, maka Abu Bakar bersumpah tidak akan bersilaturahmi lagi kepadanya.
Maka Allah menurunkan firman-Nya: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah.
(An Nuur:22), hingga akhir ayat.

Lalu Abu Bakar berkata, "Benar." Maka Abu Bakar kembali ber­silaturahmi kepada lelaki itu.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara tunggal tanpa Imam Muslim melalui jalur Husain.

Imam Bukhari telah meriwayatkannya pula melalui Musa ibnu Isma'il, dari Abu Uwanah dan dari Muhammad ibnu Salam, dari Muhammad ibnu Fudail, keduanya dari Husain dengan sanad yang sama.
Di dalam teks hadis yang diriwayatkan oleh Abu Uwanah disebutkan bahwa Ummu Ruman telah menceritakan kepadaku.
Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa Masruq mendengar hadis ini langsung darinya.
Akan tetapi, hal ini disangkal oleh sejumlah huffaz (ahli hadis yang hafal) yang antara lain ialah Al-Khatib Al-Bagdadi.
Demikian itu karena pernyataan yang dikatakan oleh ahli tarikh (sejarah) bahwa Ummu Ruman meninggal dunia di masa Nabi ﷺ (sedangkan Masruq adalah seorang tabi'in yang ada sesudah Nabi ﷺ wafat).

Al-Khatib mengatakan bahwa Masruq adalah orang yang me-mursal-kan hadis ini, dia mengatakan bahwa Ummu Ruman pernah ditanya, lalu ia menyebutkan hadis ini hingga selesai.
Barangkali seseorang dari mereka menulis suilat (ditanya) dengan memakai alif sehingga menjadi sa-altu (aku bertanya).
Lalu orang yang menerima hadis ini menduga bahwa lafaz tersebut adalah sa-altu (aku bertanya) sehingga ia menduganya berpredikat muttasil.

Al-Khatib mengatakan juga bahwa Imam Bukhari telah meriwayat­kannya pula seperti itu dan dia tidak menyadari kealpaannya.
Demikianlah apa yang dikutip dari perkataan Al-Khatib, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Sebagian dari mereka meriwayatkan hadis ini melalui Masruq, dari Abdullah ibnu Mas'ud, dari Ummu Ruman.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu.

Yakni kedustaan, kebohongan, dan berita buat-buatan itu.

segolongan orang.

Maksudnya sejumlah orang dari kalian.

Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian.

Hai keluarga Abu Bakar.

Bahkan ia adalah baik bagi kalian.

Yaitu mengandung kebaikan bagi kalian di dunia dan akhirat, di dunia membuktikan kejujuran lisan kalian, dan di akhirat kalian akan memperoleh kedudukan yang tinggi.
Sekaligus menonjolkan kehormatan mereka karena Aisyah memperoleh perhatian dari Allah subhanahu wa ta'ala saat Allah menurun­kan wahyu yang membersihkan dirinya di dalam Al-Qur'an yang mulia.

Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur'an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya.
(Al Fushilat:42), hingga akhir ayat.

Karena itulah ketika Siti Aisyah sedang menjelang ajalnya, kemudian Ibnu Abbas masuk menjenguknya, maka Ibnu Abbas berkata menghibur hatinya, "Bergembiralah kamu, sesungguhnya kamu adalah istri Rasulullah ﷺ dan beliau sangat mencintaimu.
Beliau belum pernah kawin dengan seorang perawan selain engkau, dan pembersihan namamu diturunkan dari langit."

Ibnu Jarir mengatakan di dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Usman Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Aun, dari Al-Ma'la ibnu Irfan, dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Jahsy yang mengatakan bahwa Aisyah dan Zainab saling membanggakan diri.
Zainab berkata, "Aku adalah wanita yang perintah perkawinanku diturunkan dari langit." Aisyah berkata, "Aku adalah wanita yang pembersihan namaku termaktub di dalam Kitabullah saat Safwan ibnul Mu'attal membawaku di atas kendaraannya." Zainab berkata, "Hai Aisyah, apakah yang kamu katakan ketika kamu menaiki unta kendaraannya?"
Siti Aisyah menjawab, "Aku ucapkan, 'Cukuplah Allah bagiku, Dia adalah sebaik-baik Pelindung'." Zainab berkata, "Engkau telah mengucapkan kalimat orang-orang mukmin"

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya., hingga akhir ayat.

Yakni bagi tiap-tiap orang di antara mereka yang membicarakan peristiwa itu dan menuduh Ummul Mu’minin Siti Aisyah r.a.
berbuat keji (zina) akan mendapat bagian dari azabnya yang besar.

Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu.

Menurut suatu pendapat, makna ayat ialah orang yang mulai mencetuskan berita bohong.
Menurut pendapat yang lainnya lagi ialah orang yang menghimpunnya, membubuhi asam garamnya, dan menyiarkan serta menenarkannya.

baginya azab yang besar.

sebagai pembalasan dari perbuatannya itu.

Menurut kebanyakan ulama, yang dimaksud oleh ayat ini tiada lain adalah Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, semoga Allah menghukum dan melaknatnya.
Dialah orang yang disebutkan di dalam teks hadis yang telah disebutkan di atas.
Pendapat ini dikatakan oleh Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Seandainya tidak disebutkan di dalam kitab Sahih Bukhari sesuatu yang menunjukkan ke arah itu, tentulah penyebutannya di antara orang-orang yang terlibat dalam peristiwa ini tidak mengandung faedah yang besar.
Karena sesungguhnya dia adalah seorang sahabat yang memiliki banyak keutamaan di antara sahabat-sahabat lainnya yang mempunyai keutamaan, sepak terjang yang terpuji, dan jejak-jejak peninggalan yang baik.
Dia adalah seorang yang membela Rasulullah ﷺ melalui syairnya, dan dialah orang yang Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

Balaslah cacian mereka, dan Jibril mendukungmu.

Al-A'masy telah meriwayatkan dari Abud Duha, dari Masruq yang mengatakan bahwa ketika ia sedang berada di rumah Siti Aisyah r.a., tiba-tiba masuklah Hassan ibnu Sabit.
Lalu Siti Aisyah memerintahkan agar disediakan bantal duduk untuknya.
Setelah Hassan keluar, aku berkata kepada Aisyah, "Mengapa engkau bersikap demikian?"
Yakni membiar­kan dia masuk menemuimu.
Menurut riwayat lain dikatakan kepada Aisyah, "Apakah engkau mengizinkan orang ini (Hassan) masuk menemuimu?
Padahal Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:
'Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.'

Siti Aisyah menjawab, "Azab apa lagi yang lebih berat daripada kebutaan?"
Sedangkan saat itu kedua mata Hassan ibnu Sabit telah buta, barangkali hal itulah yang dijadikan azab yang hebat baginya oleh Allah subhanahu wa ta'ala Kemudian Siti Aisyah berkata," Sesungguhnya dia pernah membela Rasulullah ﷺ melalui syairnya."

Menurut riwayat yang lain, ketika Hassan hendak masuk menemuinya, ia mendendangkan sebuah bait syair yang memuji Siti Aisyah, yaitu:

Wanita yang anggun yang tidak patut dicurigai, tetapi pada pagi harinya haus dengan mempergunjingkan wanita-wanita yang terhormat lagi dalam keadaan lalai.

Selanjutnya Hassan mengatakan, "Adapun engkau tidak demikian." Menurut riwayat lain Hassan berkata, "Tetapi engkau tidaklah demikian."

Engkau telah mengejek Muhammad, maka aku menjawabmu sebagai ganti darinya, dan hanya berharap pahala dari sisi Allah sajalah aku lakukan ini.
Dan sesungguhnya ayahku dan anaknya serta kehormatanku kukorbankan demi membela kehormatan Muhammad dari ejekanmu.
Apakah engkau mencacinya, sedangkan engkau tidak sepadan dengannya?
Sebenarnya orang yang terburuk di antara kamu berdua menjadi tebusan bagi orang yang terbaik di antara kamu.
Lisanku cukup tajam, tidak pernah tercela, dan lautku tidak akan kering oleh banyaknya timba (yang mengambili airnya).

Ketika dikatakan kepada Siti Aisyah, "Hai Ummul Mu’minin, bukankah ini namanya perkataan yang tidak berguna?"
Siti Aisyah menjawab, "Tidak, sesungguhnya yang dikatakan perkataan yang tidak berguna ialah syair-syair yang membicarakan tentang wanita."

Ketika dikatakan kepadanya bahwa bukankah Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman:

Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.

Siti Aisyah menjawab, "Bukankah kedua matanya telah buta dan dilukai oleh pukulan pedang?"
Ia bermaksud pukulan pedang yang dilakukan oleh Safwan ibnul Mu'attal As-Sulami terhadapnya saat Safwan mendengar berita bahwa Hassan ibnu Sabit membicarakan tentang berita bohong mengenai dirinya itu.
Lalu Safwan memukulnya dengan pedang dan hampir membunuhnya.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nuur (24) ayat 11
Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Umar An Numairi telah menceritakan kepada kami Yunus bin Yazid Al Aili mengatakan, aku mendengar Azzuhri berkata,
Aku mendengar Urwah bin Zubair dan Sa'id bin Musayyab dan Alqamah bin Waqqash dan Ubaidullah bin Abdullah dari hadis Aisyah isteri Nabi shallallahu alaihi wasallam, ketika penyebar-penyebar kebohongan menyebarluaskan kebohongan terhadapnya. Kemudian Allah menyucikannya dari kebohongan yang mereka katakan, dan kesemuanya menceritakan kepadaku sekumpulan hadis yang masing-masing mereka riwayatkan dari Aisyah, Aisyah berkata,
Akan tetapi demi Allah, aku sama sekali tak punya perkiraan Allah akan menurunkan wahyu terhadap berita kesucianku, sungguh urusanku terhadap diriku lebih remeh daripada Allah berbicara tentangku dengan wahyu yang dibacakan, yang kuharap ketika itu hanyalah sekiranya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bermimpi dalam tidurnya, yang menceritakan berita kesucianku dari ghosip yang disebarkan orang-orang. Lantas Allah menurunkan ayat: sesungguhnya orang-orang yang datang dengan membawa berita bohong, (Qs. An Nuur: 11), dan seterusnya hingga sepuluh ayat.

Shahih Bukhari, Kitab Tauhid - Nomor Hadits: 6946

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nuur (24) Ayat 11

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dll, yang bersumber dari ‘Aisyah.
Diriwayatkan pula oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Abul Yasar.
Bahwa apabila Rasulullah hendak bepergian, beliau mengundi dulu siapa di antara istrinya yang akan ikut serta dalam perjalanan itu.
Demikian pula beliau akan mengundi istri-istrinya siapa yang akan diajak berperang.
Pada suatu hari –kejadiannya setelah turun ayat hijab- kebetulan ‘Aisyah terundi untuk dibawa.
‘Aisyah digotong di atas tandu, dan tandu itu ditaruh di atas unta untuk kemudian berangkat.
Setelah peperangan selesai, waktu pulang hampir mendekati Madinah, Rasulullah memberi izin untuk berhenti sebentar pada waktu malam.
‘Aisyah turun dan pergi buang air.
Ketika kembali ke tempatnya, ‘Aisyah meraba dadanya, ternyata kalungnya hilang, sehingga ia kembali ke tempat tadi untuk mencari kalung itu.
Lama ia mencarinya.
Orang-orang yang memikul tandunya mengangkat kembali tandu itu ke atas unta yang dinaikinya.
Mereka mengira bahwa ‘Aisyah ada di dalamnya, karena wanita-wanita pada waktu itu badannya enteng dan langsing-langsing, sehingga tidak begitu terasa bedannya tandu kosong dengan yang berisi.

Kalung itu ditemukannya kembali setelah pasukan Rasulullah berangkat, dan tak seorangpun yang masih ada di situ.
‘Aisyah duduk kembali di tempat berhenti tadi, dengan harapan orang-orang akan menjemputnya atau mencarinya.
Ketika duduk di tempat istirahat tadi, ‘Aisyah mengantuk dan tertidur.
Kebetulah Shafwan bin al-Mu’aththal, yang tertinggal oleh pasukan karena suatu halangan, pada pagi itu sampai di tempat pemberhentian ‘Aisyah.
Shafwan melihat ada baying-bayang hitam manusia.
Ia dapat mengenali ‘Aisyah karena pernah melihatnya sebelum turun ayat hijab.
‘Aisyah terbangun karena mendengan Shafwan mengucapkan “innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (sesungguhnya kita semua milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali) ketika ia mendapatkannya.
‘Aisyah segera menutup muka dengan kerudungnya.
Tidak sepatah katapun yang diucapkan oleh ‘Aisyah.
Iapun tidak mendengar ucapan dari Shafwan selain ucapan “innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun” tadi.
Ketika itu untanya disuruh berlutut agar ‘Aisyah dapat naik ke atasnya.
Kemudian Shafwan menuntun unta tersebut sehingga sampai ke tempat pasukan yang sedang berteduh di siang hari.
Hal itulah yang terjadi pada diri ‘Aisyah.
Maka celakalah orang yang menuduhnya dengan fitnah yang dilancarkan oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Salul.

Ketika sampai ke Madinah, ‘Aisyah menderita sakit selam satu bulan.
Sementara orang-orang menyebarkan fitnah yang dibuat oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, tetapi ‘Aisyah sendiri tidak mengetahuinya.
Setelah ‘Aisyah merasa sudah agak sembuh, ia memaksakan diri pergi buang air dibimbing Ummu Misthah.
Ummu Misthah tergelincir dan dengan latah mengucapkan: “Celaka anakku si Misthah!” ‘Aisyah bertanya: “Mengapa engkau berkata demikian?
Mencaci maki orang yang ikut dalam perang Badr?” Ummu Misthah berkata: “Wahai junjunganku.
Tidakkah engkau mendengar apa yang ia katakan?” ‘Aisyah berkata: “Apa yang ia katakan?” Lalu Ummu Misthah menceritakan fitnah yang sudah tersebar luas itu, sehingga bertambahlah penyakit ‘Aisyah.

Pada suatu hari Rasulullah datang kepadanya (beliau tidak seperti biasanya memperlakukan ‘Aisyah), dan karenannya ‘Aisyah meminta izin untuk pergi kepada ibu-bapaknya untuk meyakinkan kabar yang tersebar itu.
Rasulullah mengizinkannya.
Dan ketika sampai di rumah orang tuanya, ‘Aisyah berkata kepada ibunya: “Wahai ibuku, apa yang mereka katakan tentang diriku?” Ibunya menjawab:
“Wahai anakku, tabahkanlah dirimu.
Demi Allah, sangat sedikit wanita cantik yang dicintai suaminya serta dimadu, melainkan akan banyak yang menghasutnya.” ‘Aisyah berkata: “Subhaanallaah (Maha Suci Allah), apakah sampai sejauh itu orang-orang menggunjingkan aku.
Dan apakah hal ini juga sudah sampai kepada Rasulullah?” Ibunya mengiyakannya.
‘Aisyahpun menangis pada malam itu, sehingga pada pagi harinya air matanya tak henti-hentinya mengalir.
Pada suatu hari Rasulullah memanggil ‘Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk membicarakan perceraian dengan istrinya, karena wahyu tidak kunjung turun.
Usamah mengemukakan pendapatnya bahwa sepanjang pengetahuannya, keluarga Rasul itu adalah orang baik-baik.
Ia berkata: “Ya Rasulullah, mereka itu adalah keluarga tuan dan kami mengetahui bahwa mereka itubaik.” Sedangkan ‘Ali berkata: “Allah tidak akan menyempitkan tuan.
Di samping itu masih banyak wanita selainnya.
Untuk itu sebaiknya tuan bertanya kepada Barirah (pembantu rumah tangga ‘Aisyah), pasti ia akan menerangkan yang benar.”

Kemudian Rasulullah memanggil Barirah, dan bertanya: “Hai Barirah, apakah engkau melihat hal-hal yang meragukan dirimu tentang ‘Aisyah?” Ia menjawab:
“Demi Allah yang telah mengutus tuan dengan hak, jika aku melihat darinya suatu hal, tentu tak akan aku sembunyikan.
‘Aisyah itu hanyalah seorang yang masih sangat muda, masih suka tertidur di samping tepung yang sedang diadoni, dan membiarkan ternaknya memakan tepung itu karena tertidur.”
Maka berdirilah Rasulullah di atas mimbar meminta bukti dari ‘Abdullah bin Ubay bin Salul dengan berkata: “Wahai kaum Muslimin, siapakah yang dapat menunjukkan orang yang telah menyakiti keluargaku.
Demi Allah aku tidak mengetahui tentang istriku kecuali kebaikan.” Pada waktu itu ‘Aisyah sedang menangis seharian tidak henti-hentinya.
Demikian pula pada malam harinya, air matanya mengalir dan tidak sekejappun dapat tidur, sampai-sampai ibu bapaknya mengira bahwa tangisnya akan membelah jantungnya.
Ketika kedua orang tuanya menunggui ‘Aisyah menangis, datanglah seorang wanita Anshar meminta izin masuk.
‘Aisyah mengizinkannya.
Wanita itupun duduk seraya menangis bersamanya.
Ketika itu datanglah Rasulullah ﷺ memberi salam, lalu duduk serta bersyahadat dan berkata: “Ammaa ba’du (apapun sesudah itu), hai ‘Aisyah.
Sesungguhnya sudah sampai ke telingaku hal-hal mengenai dirimu.
Sekiranya engkau bersih, maka Allah akan membersihkan dirimu, dan jika engkau melakukan dosa, maka mintalah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya seseorang yang mengakui dosanya kemudian bertobat, Allah akan menerima tobatnya.” Setelah beliau selesai bicara, berkatalah ‘Aisyah kepada ayahnya: “Coba jawabkan untukku wahai ayahku.” Ayahnya berkata: “Apa yang mesti aku katakana?” Lalu ‘Aisyah berkata kepada ibunya: “Coba jawab perkataan Rasulullah untukku, wahai ibuku.” Ibunya pun menjawab:
“Demi Allah apa yang harus aku katakan?” Akhirnya ‘Aisyah menjawab:
“Aku ini seorang wanita yang masih sangat muda.
Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui bahwa tuan telah mendengar persoalan ini sehingga mempengaruhi hati tuan, bahkan tuan mempercayainya.
Sekiranya aku berkata bahwa aku bersih-dan Allah mengetahuinya bahwa aku bersih- , tuan tidak akan mempercayainya.” Hal ini terjadi setelah sebulan lamanya tidak turun wahyu berkenaan dengan peristiwa ‘Aisyah.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ‘Aisyah berkata: “Sekiranya aku mengakui bahwa aku melakukan suatu perbuatan, padahal Allah mengetahui bahwa aku suci dari perbuatan itu, pasti tuan akan mempercayai aku.
Demi Allah, aku tidak mendapatkan sesuatu perumpamaan yang sejalan dengan peristiwa kita ini, kecuali yang diucapkan oleh ayah Nabi Yusuf: fa shabrun jamiiluw wallaahu musta’aanu ‘alaa tshifuun.
(..maka kesabaran yang baik itulah [kesabaranku].
Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang yang kamu ceritakan)” (Yusu: 18).
Setelah itu iapun pindah dan berbaring di tempat tidurnya.

Belum juga Rasulullah meninggalkan tempat duduknya dan tak seorangpun penghuni rumah yang keluar, Allah menurunkan wahyu kepada beliau.
Tampak sekali Rasulullah kepayahan, sebagaimana biasa apabila beliau menerima wahyu.
Setelah selesai menerima wahyu, kalimat pertama kali yang beliau ucapkan adalah: “Bergembiralah wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkanmu.” Maka berkatalah ibunya kepada ‘Aisyah: “Bangunlah dan menghadap beliau.
‘Aisyah berkata: “Demi Allah, aku tidak akan bangun menghadap kepadanya, dan tidak akan memuji syukur kecuali kepada Allah yang telah menurunkan ayat yang menyatakan kesucianku.”, yaitu ayat innal ladziina jaa-uu bil ifki ‘ushbatum mingkum..(sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga..) hingga sepuluh ayat (an-Nuur: 11-20).

Setelah kejadian ini, Abu Bakr yang biasanya memberi nafkah kepada Misthah karena kekerabatan dan kefakirannya, berkata: “Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah lagi kepada Misthah karena ucapannya tentang ‘Aisyah.” Maka turunlah ayat selanjutnya (an-Nuur: 22) sebagai teguran kepada orang-orang yang bersumpah tidak akan memberi nafkah kepada kerabat, fakir, dan lain-lain, karena merasa disakiti hatinya oleh mereka.
Berkatalah Abu Bakr: “Demi Allah, sesungguhnya aku mengharapkan ampunan dari Allah.” Iapun terus menafkahi Misthah sebagaimana biasa.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nuur (النور)
Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Dinamai "An Nuur" yang berarti "Cahaya",
diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat 35.
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan tentang Nuur Ilahi, ya'ni Al Qur'an yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam se­mesta.

Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan de­ngan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Keimanan:

Kesaksian lidah dan anggota-anggota tubuh atas segala perbuatan manusia pada hari kiamat
hanya Allah yang menguasai langit dan bumi
kewajiban rasul hanya­lah menyampaikan agama Allah
iman rnerupakan dasar daripada diterimanya amal ibadah.

Hukum:

Hukum-hukum sekitar masalah zina, li'an dan adab-adab pergaulan diluar dan di dalam rumah tangga.

Kisah:

Cerita tentang berita bohong terhadap Ummul Mu'minin 'Aisyah r.a. (Qishshatul lfki).

Lain-lain:

Semua jenis hewan diciptakan Allah dari air
janji Allah kepada kaum muslimin yang beramal saleh.


Gambar Kutipan Surah An Nuur Ayat 11 *beta

Surah An Nuur Ayat 11



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nuur

Surah An-Nur (Arab: النّور‎) adalah surah ke-24 dari al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Dinamai An-Nur yang berarti Cahaya yang diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35.
Dalam ayat ini, Allah s.w.t.
menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Al-Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta.
Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Nomor Surah 24
Nama Surah An Nuur
Arab النور
Arti Cahaya
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 102
Juz Juz 18
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 64
Jumlah kata 1381
Jumlah huruf 5755
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’minun
Surah selanjutnya Surah Al-Furqan
4.9
Rating Pembaca: 4.3 (9 votes)
Sending







✔ Qs an nuur 24:11, QS An-Nuur 24:11

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku