Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 128 [QS. 4:128]

وَ اِنِ امۡرَاَۃٌ خَافَتۡ مِنۡۢ بَعۡلِہَا نُشُوۡزًا اَوۡ اِعۡرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَیۡہِمَاۤ اَنۡ یُّصۡلِحَا بَیۡنَہُمَا صُلۡحًا ؕ وَ الصُّلۡحُ خَیۡرٌ ؕ وَ اُحۡضِرَتِ الۡاَنۡفُسُ الشُّحَّ ؕ وَ اِنۡ تُحۡسِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ کَانَ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرًا
Wa-iniimraatun khaafat min ba’lihaa nusyuuzan au i’raadhan falaa junaaha ‘alaihimaa an yushlihaa bainahumaa shulhan wash-shulhu khairun wauhdhiratil anfususyyuhha wa-in tuhsinuu watattaquu fa-innallaha kaana bimaa ta’maluuna khabiiran;
Dan jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz atau bersikap tidak acuh, maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir.
Dan jika kamu memperbaiki (pergaulan dengan istrimu) dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap acuh tak acuh), maka sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
―QS. An Nisaa’ [4]: 128

Daftar isi

And if a woman fears from her husband contempt or evasion, there is no sin upon them if they make terms of settlement between them – and settlement is best.
And present in (human) souls is stinginess.
But if you do good and fear Allah – then indeed Allah is ever, with what you do, Acquainted.
― Chapter 4. Surah An Nisaa‘ [verse 128]

وَإِنِ dan jika

And if
ٱمْرَأَةٌ seorang wanita

a woman
خَافَتْ takut/khawatir

fears
مِنۢ dari

from
بَعْلِهَا suaminya

her husband
نُشُوزًا nusyuz/membuat kesalahan

ill-conduct
أَوْ atau

or
إِعْرَاضًا pergi meninggalkan/tidak acuh

desertion
فَلَا maka tidak

then (there is) no
جُنَاحَ mengapa

sin
عَلَيْهِمَآ atas keduanya

on both of them
أَن akan

that
يُصْلِحَا berdamai keduanya

they make terms of peace
بَيْنَهُمَا antara keduanya

between themselves –
صُلْحًا perdamaian

a reconciliation
وَٱلصُّلْحُ dan perdamaian itu

and [the] reconciliation
خَيْرٌ lebih baik

(is) best.
وَأُحْضِرَتِ dan kebiasaan

And are swayed
ٱلْأَنفُسُ jiwa/manusia

the souls
ٱلشُّحَّ kikir

(by) greed.
وَإِن dan jika

But if
تُحْسِنُوا۟ kamu berbuat kebaikan

you do good
وَتَتَّقُوا۟ dan kamu memelihara diri

and fear (Allah),
فَإِنَّ maka sesungguhnya

then indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
كَانَ adalah Dia

is
بِمَا dengan/terhadap apa

of what
تَعْمَلُونَ kamu kerjakan

you do
خَبِيرًا Maha Mengetahui

All-Aware.

Tafsir

Alquran

Surah An Nisaa’
4:128

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 128. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menerangkan sikap yang harus diambil oleh seorang istri bila ia melihat sikap nusyuz dari suaminya, seperti tidak melaksanakan kewajibannya terhadap dirinya sebagaimana mestinya, tidak memberi nafkah, tidak menggauli dengan baik, berkurang rasa cinta dan kasih sayangnya dan sebagainya.
Hal ini mungkin ditimbulkan oleh kedua belah pihak atau disebabkan oleh salah satu pihak saja.


Jika demikian halnya, maka hendaklah istri mengadakan musyawarah dengan suaminya, mengadakan pendekatan, perdamaian di samping berusaha mengembalikan cinta dan kasih sayang suaminya yang telah mulai pudar.
Dalam hal ini tidak berdosa jika istri bersikap mengalah kepada suaminya, seperti bersedia beberapa haknya dikurangi dan sebagainya.


Usaha mengadakan perdamaian yang dilakukan istri, bukanlah berarti bahwa istri harus bersedia merelakan sebagian haknya yang tidak dipenuhi oleh suaminya, tetapi untuk memperlihatkan kepada suaminya keikhlasan hatinya, sehingga dengan demikian suami ingat kembali kepada kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan Allah.
Allah ﷻ berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

.
..

Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.
Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka.

(al-Baqarah [2]: 228).


Damai dalam kehidupan keluarga menjadi tujuan agama dalam mensyariatkan pernikahan.

Karena itu hendaklah Muslimin menjauhkan segala macam kemungkinan yang dapat menghilangkan suasana damai dalam keluarga.
Hilangnya suasana damai dalam keluarga membuka kemungkinan terjadinya perceraian yang dibenci Allah.


Kikir termasuk tabiat manusia.
Sikap kikir timbul karena manusia mementingkan dirinya sendiri, kurang memperhatikan orang lain, walaupun orang lain itu adalah istrinya sendiri atau suaminya.
Karena itu waspadalah terhadap sikap kikir.
Hendaklah masing-masing pihak baik suami atau istri bersedia beberapa haknya dikurangi untuk menciptakan suasana damai di dalam keluarga.
Jika suami berbuat kebaikan dengan menggauli istrinya dengan baik kembali, memupuk rasa cinta dan kasih sayang, melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap istrinya.
Maka Allah mengetahuinya dan memberi balasan yang berlipat ganda.

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 128. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Jika seorang istri khawatir akan sikap ketidakpedulian suaminya terhadap urusan keluarga atau sikap tak acuh terhadap dirinya, maka mereka boleh mengadakan perbaikan dan pendekatan secara baik-baik.
Suami atau istri yang mengerti adalah yang memulai upaya damai itu.


Dan cara damai itu selalu baik.
Sebenarnya yang menghalangi terciptanya kedamaian di antara suami istri adalah sikap keras masing- masing pihak dalam mempertahankan haknya secara utuh karena dikuasai oleh sikap kikir.


Tidak ada jalan untuk mengembalikan cinta kasih mereka kecuali jika salah satu pihak bersedia melepas sebagian haknya.
Ia, yang bersedia melepas sebagian haknya itu, adalah orang yang berbuat baik dan bertakwa.


Barangsiapa mengerjakan kebaikan dan bertakwa kepada Allah, maka Allah Maha Mengetahui segala amal perbuatan dan akan memberi balasannya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Bila seorang istri mengetahui suaminya merasa lebih tinggi darinya atau berpaling darinya, maka tidak ada dosa atas mereka berdua untuk berdamai dengan dasar kerelaan keduanya terkait dengan pembagian jatah bermalam dan nafkah.
Berdamai itu lebih baik dan lebih utama.


Jiwa manusia ditabiatkan di atas kekikiran dan kebakhilan, seolah-olah kebakhilan melingkupinya dan tidak bisa terpisah darinya.
Bila kalian memperlakukan istri-istri kalian dengan baik dan kalian takut kepada Allah terhadap mereka, maka Allah mengetahui apa yang kamu lakukan terkait dengan hal itu dan hal lainnya, tidak ada sesuatu yang samar bagi Allah dan Dia akan membalas kalian atasnya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan jika seorang wanita) imra-atun marfu‘ oleh fi’il yang menafsirkannya


(takut) atau khawatir


(dari suaminya nusyuz) artinya sikap tak acuh hingga berpisah ranjang daripadanya dan melalaikan pemberian nafkahnya, adakalanya karena marah atau karena matanya telah terpikat kepada wanita yang lebih cantik dari istrinya itu


(atau memalingkan muka) daripadanya


(maka tak ada salahnya bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenarnya).
Ta yang terdapat pada asal kata diidgamkan pada shad, sedang menurut qiraat lain dibaca yushliha dari ashlaha.
Maksud perdamaian itu ialah dalam bergilir dan pemberian nafkah, misalnya dengan sedikit mengalah dari pihak istri demi mempertahankan kerukunan.
Jika si istri bersedia, maka dapatlah dilangsungkan perdamaian itu, tetapi jika tidak, maka pihak suami harus memenuhi kewajibannya atau menceraikan istrinya itu.


(Dan perdamaian itu lebih baik) daripada berpisah atau dari nusyuz atau sikap tak acuh.
Hanya dalam menjelaskan tabiattabiat manusia, Allah berfirman:


(tetapi manusia itu bertabiat kikir) artinya bakhil, seolah-olah sifat ini selalu dan tak pernah lenyap daripadanya.
Maksud kalimat bahwa wanita itu jarang bersedia menyerahkan haknya terhadap suaminya kepada madunya, sebaliknya pihak laki-laki jarang pula yang memberikan haknya kepada istri bila ia mencintai istri lain.


(Dan jika kamu berlaku baik) dalam pergaulan istri-istrimu


(dan menjaga diri) dari berlaku lalim atau aniaya kepada mereka


(maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu lakukan) hingga akan memberikan balasannya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala, memberitahukan serta mensyariatkan ketetapan hukumhukum-Nya menyangkut berbagai kondisi yang dialami oleh sepasang suami istri.
Adakalanya pihak suami bersikap tidak senang kepada istrinya, adakalanya pihak suami serasi dengan istrinya, dan adakalanya pihak suami ingin bercerai dengan istrinya.

Keadaan pertama terjadi bilamana pihak istri merasa khawatir terhadap suaminya, bila si suami merasa tidak senang kepadanya dan bersikap tidak acuh kepada dirinya.
Maka dalam keadaan seperti ini pihak istri boleh menggugurkan dari kewajiban suaminya seluruh hak atau sebagian haknya yang menjadi tanggungan suami, seperti sandang, pangan, dan tempat tinggal serta lain-lainnya yang termasuk hak istri atas suaminya.
Pihak suami boleh menerima hal tersebut dari pihak istrinya, tiada dosa bagi pihak istri memberikan hal itu kepada suaminya, tidak (pula) penerimaan pihak suami dari pihak istrinya akan hal itu.
Untuk itulah disebutkan di dalam firman-Nya:


maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya.

Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:


dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).

Yakni daripada perceraian.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir.

Maksudnya, perdamaian di saat saling bertolak belakang adalah lebih baik daripada perceraian.
Karena itulah ketika usia Saudah binti Zam’ah sudah lanjut, Rasulullah ﷺ berniat akan menceraikannya, tetapi Saudah berdamai dengan Rasulullah ﷺ dengan syarat ia tetap menjadi istrinya dan dengan suka rela ia memberikan hari gilirannya kepada Siti Aisyah.
Maka Nabi ﷺ menerima persyaratan tersebut yang diajukan oleh Saudah, dengan imbalan Saudah tetap berstatus sebagai istri Nabi ﷺ

Imam Syafii mengatakan, telah menceritakan kepadanya Ibnu Juraij, dari Ata, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ wafat dalam keadaan meninggalkan sembilan orang istri, sebelum itu beliau ﷺ memberikan hari gilirannya kepada delapan orang istrinya.

Di dalam kitab Sahihain disebut melalui hadis Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah r.a. yang menceritakan,
"Ketika usia Saudah binti Zam’ah sudah lanjut, ia menghadiahkan hari gilirannya kepada Aisyah.
Sejak saat itu Nabi ﷺ menggilir Siti Aisyah selama dua hari, satu hari milik Siti Aisyah, sedangkan hari yang lain hadiah dari Saudah."

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebut melalui hadis Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah dengan Sa’id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari Hisyam, dari ayahnya (yaitu Urwah) yang menceritakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala, telah menurunkan firman berikut berkenaan dengan Saudah dan wanita-wanita lainnya yang serupa, yaitu:
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 128)
Salah seorang istri Rasulullah ﷺ (yaitu Saudah) telah berusia lanjut, ia merasa khawatir bila diceraikan oleh Rasulullah ﷺ, sedangkan dalam waktu yang sama ia tidak mau dilepaskan dari statusnya sebagai istri Rasulullah ﷺ Tetapi ia mengetahui benar kecintaan Rasulullah ﷺ kepada Siti Aisyah dan kedudukan Siti Aisyah di sisi Rasulullah ﷺ Maka ia menghadiahkan hari gilirannya dari Rasulullah ﷺ untuk Siti Aisyah r.a., dan Rasulullah ﷺ menerima hal tersebut.

Imam Baihaqi mengatakan bahwa Imam Ahmad ibnu Yunus telah meriwayatkannya dari Al-Hasan ibnu Abuz Zanad secara mausul.


Jalur ini diriwayatkan oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya.
Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Ishaq Al-Faqih (seorang ahli fiqih), telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Ali ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah, bahwa ia pernah mengatakan kepadanya,
"Hai anak saudara perempuanku, Rasulullah ﷺ dahulu tidak pernah memprioritaskan salah seorang di antara kami atas yang lainnya dalam hal gilirannya kepada kami.
Jarang sekali Rasulullah ﷺ dalam setiap harinya tidak berkeliling mengunjungi kami semua.
Setiap hari beliau selalu mendekati setiap istrinya tanpa menggaulinya, kecuali bila telah sampai pada giliran istri yang harus ia gilir pada saatnya, barulah beliau menginap padanya.
Sesungguhnya Saudah binti Zam’ah, ketika usianya telah lanjut dan merasa khawatir akan diceraikan oleh Rasulullah ﷺ, ia mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, giliranku aku hadiahkan kepada Siti Aisyah.’ Maka Rasulullah ﷺ menerima hal tersebut."
Siti Aisyah r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa berkenaan dengan peristiwa inilah Allah subhanahu wa ta’ala, menurunkan firman-Nya, yaitu:
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh suaminya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 128), hingga akhir ayat.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dari Ahmad ibnu Yunus dengan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya, selanjutnya Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadis sahih, tetapi keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya.

Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui jalur Abu Muhammad Ad-Darawardi, dari Hisyam ibnu Urwah dengan Abul Abbas (yaitu Muhammad ibnu Abdur Rahman Ad-Da’uli) dalam permulaan kitab Mu’jam-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hisyam Ad-Dustuwai’, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnu Abu Barrah yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ mengirimkan utusannya kepada Saudah binti Zam’ah dengan tujuan untuk menceraikannya.
Ketika Rasul ﷺ datang, maka Saudah duduk untuk menyambutnya sebagaimana Siti Aisyah.
Ketika Saudah melihat beliau, maka ia berkata kepadanya,
"Demi Tuhan yang menurunkan Kalam-Nya kepadamu dan yang telah memilihmu dari semua makhluk-Nya.
Aku memohon kepadamu, sudilah engkau merujuk diriku.
Karena sesungguhnya aku adalah seorang wanita yang kini telah berusia lanjut, dan memang aku tidak memerlukan lelaki lagi, tetapi aku ingin agar kelak di hari kiamat dibangkitkan bersama istri-istrimu."
Maka Nabi ﷺ merujuknya.
Siti Saudah berkata,
"Aku berikan siang hari dan malam hari giliranku buat kekasih Rasulullah ﷺ (yakni Siti Aisyah)."

Hadis ini berpredikat garib lagi mursal.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Muqatil, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya:
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 128), Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki yang mempunyai istri yang telah lanjut usia, sedangkan dia tidak begitu memerlukannya lagi, lalu ia bermaksud menceraikannya.
Tetapi si istri mengatakan kepadanya,
"Aku halalkan kamu sehubungan dengan perkara diriku."
Maka turunlah ayat ini.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah mengenai firman-Nya:
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).
(QS. An-Nisa’ [4]: 128), Siti Aisyah r.a. mengatakan bahwa ayat ini berkenaan dengan seorang wanita yang menjadi istri seseorang lelaki, sedangkan pihak suaminya tidak memerlukannya lagi dan si istri tidak mempunyai anak, tetapi si istri masih tetap ingin berstatus sebagai istrinya, lalu ia mengatakan kepada suaminya,
"Janganlah engkau ceraikan aku, dan aku halalkan engkau dari urusanku."

Telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Hajaj ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Hisyam, dari Urwah, dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya:
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 128), Ayat ini berkenaan dengan seorang lelaki yang mempunyai dua orang istri, salah satu di antaranya berusia tua, sedangkan yang lain tidak cantik rupanya dan dia tidak mengingininya lagi, lalu si istri mengatakan,
"Janganlah engkau menceraikan diriku, dan sebagai imbalannya engkau bebas dari urusanku."

Hadis ini disebutkan di dalam kitab sahihain melalui berbagai jalur, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah dengan hadis di atas.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid dan Ibnu Waki’, keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Asy’as, dari Ibnu Sirin yang menceritakan bahwa seorang lelaki datang kepada Khalifah Umar ibnul Khattab, lalu bertanya kepadanya mengenai makna suatu ayat, dan Umar tidak suka dengan pertanyaan tersebut, kemudian Umar memukul lelaki itu dengan cemeti.
Lalu ada lelaki lain datang menanyakan tentang makna ayat ini, yaitu firman-Nya:
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 128), Kemudian Umar berbuat hal yang sama dengan orang yang pertama tadi.
Akhirnya mereka yang ada menanyakannya, kemudian barulah Umar r.a. menjawab bahwa wanita yang dimaksud adalah istri seseorang yang telah dilupakannya, lalu suaminya kawin lagi dengan wanita muda dengan maksud ingin mempunyai anak.
Maka sesuatu yang disepakati oleh kedua belah pihak melalui perdamaian merupakan hal yang diperbolehkan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain Al-Hasanjani, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Sammak ibnu Harb, dari Khalid ibnu Ur’urah yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Ali ibnu Abu Talib, lalu bertanya kepadanya mengenai makna firman-Nya:
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 128), hingga akhir ayat.
Maka Ali ibnu Abu Talib menjawab bahwa hal ini berkenaan dengan seorang lelaki yang mempunyai seorang istri, lalu ia tidak menyukainya lagi karena rupanya yang tidak cantik, usianya telah tua, akhlaknya jahat, atau ada cacatnya, tetapi si istri tidak suka diceraikan oleh suaminya.
Maka jika si istri menghapuskan sebagian dari mas kawinnya (dengan syarat tidak diceraikan), maka hal itu halal bagi suaminya.
Jika si istri merelakan hari-hari gilirannya, tidak mengapa hal itu dilakukan.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Abu Daud At-Tayalisi, dari Syu’bah, dari Hammad ibnu Salamah dan Abul Ahwas.

Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Israil, semuanya bersumber dari Sammak.

Hal yang sama ditafsirkan oleh Ibnu Abbas, Ubaidah As-Salmani, Mujahid ibnu Jubair, Asy-Sya’bi, Sa’id ibnu Jubair, Ata, Atiy-yah Al-Aufi, Makhul, Al-Hasan, Al-Hakam ibnu Atabah, dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan para imam.
Menurutku, aku belum mengetahui ada seseorang yang berpendapat berbeda dengan penafsiran ayat ini.

Imam Syafii mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyaynah dari Az-Zuhri, dari Ibnul Musayyab, bahwa anak perempuan Muhammad ibnu Muslim menjadi istri Rafi’ ibnu Khadij.
Maka Rafi’ ibnu Khadij tidak menyukainya lagi karena usianya telah lanjut atau faktor yang lain, lalu Rafi’ bermaksud menceraikannya.
Kemudian si istri berkata,
"Janganlah engkau ceraikan aku, dan gilirlah aku menurut kemauanmu."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala, menurunkan ayat ini, yaitu firman-Nya:
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 128), hingga akhir ayat.

Imam Hakim meriwayatkan di dalam kitab Mustadrak-nya melalui jalur Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Sa’id ibnul Musayyab dan Sulaiman ibnu Yasar dengan konteks yang lebih panjang dari ini.

Al Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Ahmad ibnu Abdullah Al-Muzani, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepadaku Syu’aib ibnu Abu Hamzah, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Sa’id ibnul Musayyab dan Sulaiman ibnu Yasar, menurut ketentuan sunnah sehubungan dengan kedua ayat yang di dalamnya menceritakan perihal seorang lelaki dan sikap tidak acuh terhadap istrinya, yaitu firman-Nya:
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 128), hingga akhir ayat berikutnya.
berkenaan dengan seorang lelaki bila nusyuz (tidak suka lagi) terhadap istrinya dan tidak lagi memperhatikannya.
Maka sebagai jalan keluarnya si suami adakalanya menceraikannya atau tetap memegangnya sebagai istri dengan memperoleh hak sepenuhnya berupa hak giliran, juga sebagian dari harta, hal ini boleh dilakukan oleh pihak suami.
Begitu pula sebaliknya jika pihak istri mengadakan perdamaian kepada pihak suami dengan merelakan hak-hak tersebut, pihak istri boleh melakukannya.
Menurut Sa’id ibnul Musayyab dan Sulaiman, perdamaian inilah yang dimaksud oleh firman-Nya:
maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).
(QS. An-Nisa’ [4]: 128)

Diriwayatkan kepadaku bahwa Rafi’ ibnu Khadij Al-Ansari (salah seorang sahabat Nabi ﷺ) mempunyai seorang istri, ketika istrinya telah tua, lalu ia kawin lagi dengan gadis yang masih muda hingga hatinya lebih cenderung kepada istri mudanya.
Maka istri tuanya meminta diceraikan, lalu Rafi’ menceraikannya dengan satu talak dan menangguhkannya.
Tetapi bila masa idah-nya akan habis, maka Rafi’ merujuknya kembali.
Kemudian Rafi’ tetap bersikap lebih memperhatikan istri mudanya.
Maka istri tuanya meminta cerai lagi, dan Rafi’ berkata kepadanya,
"Saya hanya menuruti kemauanmu, sesungguhnya talakmu padaku hanya tinggal sekali lagi.
Jika kamu mau tetap menjadi istriku dengan perlakuan seperti yang kamu alami sekarang, kamu boleh tetap menjadi istriku, atau jika kamu lebih suka kuceraikan, maka kamu aku ceraikan."
Maka istri tua Rafi’ berkata,
"Tidak, bahkan aku ingin tetap menjadi istrimu, sekalipun harus berkorban."
Maka Rafi’ tetap memegangnya sebagai istri dengan persyaratan tersebut, demikianlah perdamaian yang dilakukan oleh keduanya, dan Rafi’ tidak memandang hal ini sebagai perbuatan yang berdosa karena pihak istri rela tetap berstatus sebagai istrinya, sekalipun hari gilirannya diberikan kepada istri mudanya.

Hal yang sama secara lengkap diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari ayahnya, dari Abul Yaman, dari Syu’aib, dari Az-Zuhri, dari Sa’id ibnul Musayyab dan Sulaiman ibnu Yasar, lalu Ibnu Abu Hatim mengetengahkannya dengan panjang lebar.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah takhyir, yaitu pihak suami memberikan hak pilih kepada istrinya antara tetap menjadi istri atau diceraikan.
Hal ini lebih baik daripada ia merelakan haknya kepada madunya dan membiarkan suaminya berkepanjangan memberlakukannya demikian.

Menurut makna lahiriah ayat, perdamaian yang dilakukan keduanya ialah pihak istri memberikan sebagian dari haknya kepada suaminya dan pihak suami menerima syarat tersebut, hal ini lebih baik bagi pihak istri daripada diceraikan sama sekali.
Sebagaimana Nabi ﷺ tetap memegang Siti Saudah binti Zam’ah sebagai istrinya dengan merelakan hari gilirannya kepada Siti Aisyah r.a. dan Nabi ﷺ tidak menceraikannya, melainkan membiarkannya termasuk salah seorang dari istri-istrinya.

Nabi ﷺ sengaja melakukan demikian agar umatnya mengikuti jejaknya dalam masalah ini, bahwa hal tersebut disyariatkan dan diperbolehkan.
Hal ini lebih baik bagi Nabi ﷺ, mengingat keserasian itu lebih disukai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, daripada perceraian.
Demikianlah makna firman-Nya:
dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).
(QS. An-Nisa’ [4]: 128)

Bahkan talak itu dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta’ala,

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Ibnu Majah, keduanya dari Kasir ibnu Ubaid, dari Muhammad ibnu Khalid, dari Ma’ruf ibnu Wasil, dari Muharib ibnu Disar, dari Abdullah ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Perkara halal yang paling dimurkai oleh Allah ialah talak.

Kemudian Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Ahmad ibnu Yunus, dari Ma’ruf, dari Muharib yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, lalu ia mengetengahkan hadis tersebut dengan hadis di atas secara mursal.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Dan jika kalian menggauli istri kalian dengan baik dan memelihara diri kalian (dari nusyuz dan sikap tak acuh terhadap istri), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Jika kalian sabar menahan apa yang tidak kalian sukai dari mereka dan kalian tetap membagi giliran kepada mereka sama dengan istri kalian yang lainnya, maka sesungguhnya Allah Mengetahui hal tersebut, dan kelak Dia akan memberikan kepada kalian balasan pahala yang berlimpah atas sikap kalian yang bijak itu.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 128

Abu Dawud dan al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Saudah khawatir Rasulullah meninggalkannya di saat dia telah berumur lanjut, lantas ia berkata : Hari giliranku akan aku berikan untuk Aisyah.
Maka Allah menurunkan ayat 128 ini.
Hadits yang senada juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas.

Said bin Mansur meriwayatkan dari Said bin al-Musayyib bahwa anak perempuan Muhammad bin Maslamah bersuamikan Rafi bin Khudaij.
Rafi membenci sesuatu dari istrinya, mungkin karena dia sudah tua atau karena hal lainnya.
Sehingga dia ingin mentalaknya, maka istrinya berkata : Janganlah mentalakku, berikanlah giliranku sesukamu.
Maka Allah menurunkan ayat 128 ini.

Al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Ayat ini turun : Dan perdamaian itu baik.
Kepada seorang laki-laki yang beristri yang telah memberinya beberapa orang anak.
Ketika sang suami ingin menggantinya dengan yang baru maka sang istri merayu suaminya agar jangan menceraikannya dan dia boleh tidak memberinya giliran.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Said bin Jubair berkata : Pada saat ayat 128 ini turun, seorang wanita datang seraya berkata : Aku ingin agar kamu membagi nafkahmu kepadaku.
Dai rela jika suaminya membiarkannya, tidak mentalaknya namun juga tidak mendatanginya, maka Allah menurunkan : Walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir.
(Ayat 128)

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nisaa’ (4) ayat 128

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Telah mengabarkan kepada kami Abdullah Telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah radliallahu anha mengenai firman Allah: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya. (An Nisa: 128). Aisyah berkata,
ayat ini mengenai seorang laki-laki yang mempunyai istri namun dia tidak terlalu mencintainya dan memberikan hak wanita itu, hingga ia ingin berpisah darinya tanpa mentalaknya. Lalu dia berkata,
Kamu akan tetap halal bersamaku. Maka turunlah ayat ini.

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4235

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa’ (4) Ayat 128

ANFUS
أَنفُس

jamak, mufradnya adalah an nafs yang mengandung beberapa makna.
Diantaranya darah.
Oleh itu, al haidh dinamakan an nufasa karena darahnya keluar, an nifas adalah kelahiran atau persalinan, dan apabila sudah melahirkan dinamakan nufasa.
la juga bermakna roh, mata, dan di sisi.
la juga bermakna jasad.

Dikatakan huwa aztm an nafs berarti dia mempunyai jasad yang besar.
Apabila disandarkan kepada al amr atau nafs al amr bermaksud hakikat perkara itu atau perintah yang sama.
Apabila disandarkan kepada sesuatu atau nafs asy syai’ bermaksud sesuatu itu sendiri.

Al Baqarah (2), ayat 9, 44, 54, 54, 57, 84, 85, 87, 90, 102, 109, 110, 155, 187, 223, 228, 234, 234, 240, 235, 235, 265, 284;
Ali Imran (3), ayat 61, 61, 69, 117, 135, 154, 154, 164,165, 168, 178, 186;
An Nisaa (4), ayat 29, 49, 63, 64, 65, 66, 95, 95, 97, 107, 113, 128, 135;
• Al Maa’idah (5), ayat 52, 70, 80, 105;
• Al An’aam (6), ayat 12, 20, 24, 26, 93, 123, 130, 130;
• Al A’raaf (7), ayat 9, 23, 37, 53, 160, 172, 177, 192, 197;
Al Anfaal (8), ayat 53, 72;
At Taubah (9), ayat 17, 20, 35, 36, 41, 42, 44, 55, 70, 81, 85, 88, 111, 118, 120, 128;
Yunus (10), ayat 23, 44;
Hud (11), ayat 21, 31, 101;
Yusuf (12), ayat 18, 83;
• Ar Ra’d (13), ayat 11, 16;
Ibrahim (14), ayat 22, 45;
An Nahl (16), ayat 7, 28, 33, 72, 89, 118;
Al Israa (17), ayat 7;
Al Kahfi (18), ayat 51;
• Al Anbiyaa (21), ayat 43, 64, 102;
• Al Mu’minun (23), ayat 103;
An Nuur (24), ayat 6, 12, 61, 61;
Al Furqaan (25), ayat 3, 21;
An Naml (27), ayat: 14;
Al Ankabut (29), ayat 40;
Ar Rum (3), ayat 8, 9, 21, 28, 44;
As Sajadah (32), ayat 27;
Al Ahzab (33), ayat 6;
Saba‘ (34), ayat 19;
Az Zumar (39), ayat 15, 42, 53;
• Al Mu’min (40), ayat 10;
Fushshilat (41), ayat 31, 53;
Asy Syuura (42), ayat 11, 45;
Az-Zukhruf (43), ayat 71;
Al Hujurat (49), ayat 11, 15;
• Adz Dhariyat (51), ayat 21;
An Najm (53), ayat 23, 32;
Al Hadid (57), ayat 14, 22;
• Al Mujadalah (58), ayat 8;
Al Hasyr (59), ayat 9, 19;
Ash Shaff (61), ayat 11;
• At Taghaabun (64), ayat 16;
At Tahrim (66), ayat 6;
Al Muzzammil (73), ayat 20.

Al Baqarah, ayat 155, At Tibrisi berkata,
”Allah menguji dengan segala cobaan, antaranya diuji dengan naqs al-anfus yaitu dengan kematian diri."

Dalam surah Ali Imran, ayat 165 As Sabuni menafsirkan, "Katakanlah kepada mereka wahai Muhammad, sesungguhnya sebab datangnya musibah ialah dari diri mereka dan keingkaran mereka pada suruhan rasul serta tamak pada harta rampasan."

Dalam surah An Nisaa, ayat 128, anfus dikaitkan dengan as syuhh (bakhil).
Dalam Tafsir Al Jalalain memiliki makna sangat bakhil yaitu diri seorang isteri hampir tidak dapat bertolak-ansur dengan suaminya dan diri seorang suami hampir tidak dapat bertolak-ansur dengan isterinya apabila dia mencintai wanita lain.

Sedangkan dalam surah An Nahl, ayat 7, al anfus dikaitkan dengan asy syiqq (bi syiqqil anfus).
Asy Syawkani berkata,
"Kamu tidak sampai kepada suatu negeri melainkan dengan kehilangan separuh diri karena susah payah atau penat."

Makna anfus yang memiliki pengertian diri atau jiwa juga diisyaratkan dalam surah surah yang lain berdasarkan sandarannya.
Diantaranya :

dalam surah Az Zumar ayat 42, al anfus dikaitkan dengan tawaffa (mematikan),

dalam surah Az Zukhruf ayat 71, al anfus dikaitkan dengan tasytahi (mau),

dalam surah An Najm ayat 23, al anfus dikaitkan dengan tahwi, yaitu tahwi al anfus yang bermakna dihiasi dan dibisikkan oleh syaitan kepada diri mereka apa yang mereka sembah selain Allah memberi syafaat kepada mereka di sisi Allah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:53-54

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)

Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa‘ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa‘ dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Al Kubraa" (surat An Nisaa‘ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Ash Shughraa" (surat An Nisaa‘ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para wali.
Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
Hukum suaka.
Hukum membunuh seorang Islam.
Shalat khauf‘.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
Normanorma bergaul dengan isteri.
▪ Hak seseorang sesuai dengan kewajibannya.
▪ Perlakuan ahli kitab terhadap kitabkitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
Norma dan munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Audio

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan Indonesia



QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 176

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nisaa' ayat 128 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 128 - Gambar 2
Statistik QS. 4:128
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah 4
Nama Surah An Nisaa’
Arab النّساء
Arti Wanita
Nama lain Al-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 92
Juz Juz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 176
Jumlah kata 3764
Jumlah huruf 16327
Surah sebelumnya Surah Ali ‘Imran
Surah selanjutnya Surah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.6 (12 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

4:128, 4 128, 4-128, Surah An Nisaa' 128, Tafsir surat AnNisaa 128, Quran AnNisa 128, An-Nisa’ 128, Surah An Nisa ayat 128

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah An Nisaa’

۞ QS. 4:1 Ar Rabb (Tuhan) • Al Raqib (Maha Pengawas) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 4:6 Al Hasib (Maha Penghitung amal) • Perbuatan dan niat

۞ QS. 4:10 • Dosa-dosa besar • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:11 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:12 Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:13 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 4:14 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:16 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Dosa-dosa besar • Pelebur dosa besar •

۞ QS. 4:17 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:18 • Pintu taubat terbuka hingga ruh sampai di kerongkongan • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:19 • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 4:22 • Penghapus pahala kebaikan • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah

۞ QS. 4:23 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 4:24 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:25 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 4:26 Sifat Iradah (berkeinginan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 4:27 Sifat Iradah (berkeinginan)

۞ QS. 4:28 • Kasih sayang Allah yang luas • Sifat Iradah (berkeinginan) • Keistimewaan Islam • Toleransi Islam

۞ QS. 4:29 Al Rahim (Maha Penyayang) • Dosa-dosa besar

۞ QS. 4:30 • Kekuasaan Allah • Dosa-dosa besar • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:31 Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Memasuki surga • Pelebur dosa kecil • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat •

۞ QS. 4:32 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:33 Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 4:34 Al ‘Aliyy (Maha Tinggi) • Al Kabir (Maha Besar)

۞ QS. 4:35 Al Khabir (Maha Waspada) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Taufiq dari Allah

۞ QS. 4:36 Tauhid UluhiyyahSyirik adalah dosa terbesar • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 4:37 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:38 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat • Mengingkari hari kebangkitan • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia

۞ QS. 4:39 • Pahala iman • Tauhid UluhiyyahAl ‘Alim (Maha megetahui) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat

۞ QS. 4:40 Al Karim (Maha Mulia) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 4:41 • Setiap umat mengikuti nabi-nabi mereka • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 4:42 • Kebenaran hari penghimpunan • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:43 • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam

۞ QS. 4:45 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Keluasan ilmu Allah • Al Wali (Maha Pelindung)

۞ QS. 4:47 • Allah menepati janji • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:48 • Mendustai Allah • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Syirik adalah dosa terbesar • Siksa orang kafir • Pelebur dosa kecil

۞ QS. 4:49 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 4:50 • Mendustai Allah

۞ QS. 4:51 Hukum sihir

۞ QS. 4:52 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:53 • Segala sesuatu milik Allah

۞ QS. 4:54 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 4:55 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:56 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka

۞ QS. 4:57 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat ahli surga • Sifat wanita penghuni surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 4:58 Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 4:59 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Sikap orang mukmin terhadap fitnah

۞ QS. 4:60 • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:61 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:62 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 4:63 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 4:64 • Ampunan Allah yang luas • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat •

۞ QS. 4:65 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat orang munafik

۞ QS. 4:66 • Toleransi Islam • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:67 • Pahala iman • Keutamaan iman • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:68 • Pahala iman • Keutamaan iman • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 4:69 • Derajat para nabi, shiddiqin dan syuhada’ • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman • Cinta Allah pada hamba yang shaleh

۞ QS. 4:70 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:71 • Melihat sebab akibat

۞ QS. 4:72 • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:73 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:74 • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:75 Ar Rabb (Tuhan) • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong)

۞ QS. 4:76 • Sifat iblis dan pembantunya • Wali Allah dan wali syetan

۞ QS. 4:77 Ar Rabb (Tuhan) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Kebaikan yang ada di alam akhirat

۞ QS. 4:78 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Ketakutan pada kematian • Kebenaran dan hakikat takdir • Segala sesuatu ada takdirnya • Ketentuan Allah tak dapat dihindari

۞ QS. 4:79 Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 4:80 • Kewajiban patuh kepada Rasul • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 4:81 Al Wakil (Maha Penolong) • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:83 • Kasih sayang Allah yang luas • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Sifat orang munafik

۞ QS. 4:84 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Kekuasaan Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:85 Al Muqit (Maha Penentu waktu) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya •

۞ QS. 4:86 Al Hasib (Maha Penghitung amal)

۞ QS. 4:87 Tauhid Uluhiyyah • Allah menepati janji • Nama-nama hari kiamat • Kebenaran hari penghimpunan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:88 • Allah menggerakkan hati manusia • Azab orang kafirHidayah (petunjuk) dari Allah • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 4:89 • Bersikap keras terhadap orang kafir • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik • Kapan boleh membunuh orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:90 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaSifat Masyi’ah (berkehendak) • Kapan boleh membunuh orang munafik

۞ QS. 4:91 • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik • Kapan boleh membunuh orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:92 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Pelebur dosa besar

۞ QS. 4:93 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Dosa-dosa besar • Menyiksa pelaku maksiat • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah

۞ QS. 4:94 Al Khabir (Maha Waspada) • Islamnya orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat • Dua kalimat syahadat, bukti lahiriah keimanan seseorang • Beriman berarti menjaga harta dan darah •

۞ QS. 4:95 • Nama-nama surga • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:96 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbedaan derajat di surga

۞ QS. 4:97 • Tugas-tugas malaikat • Sikap orang mukmin terhadap fitnah • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 4:98 • Toleransi Islam

۞ QS. 4:99 • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam

۞ QS. 4:100 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbuatan dan niat •

۞ QS. 4:101 • Keistimewaan Islam • Toleransi Islam • Permusuhan orang kafir terhadap orang Islam

۞ QS. 4:102 • Toleransi Islam • Azab orang kafir • Melihat sebab akibat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:104 • Memohon hanya kepada Allah • Keluasan ilmu Allah • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) •

۞ QS. 4:105 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 4:106 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 4:107 • Sifat orang munafik

۞ QS. 4:108 • Keluasan ilmu Allah • Al Muhith (Maha Mengetahui) • Sifat orang munafik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:109 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:110 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 4:111 • Keluasan ilmu Allah • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:112 • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:113 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:114 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Perbuatan dan niat • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Balasan dan pahala dari Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 4:115 • Siksaan Allah sangat pedih • Perintah untuk selalu bersatu • Akibat terpisah dari umat Islam • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 4:116 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Syirik adalah dosa terbesar • Siksa orang kafir

۞ QS. 4:117 • Sifat iblis dan pembantunya • Syirik adalah dosa terbesar • Dosa terbesar

۞ QS. 4:119 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan • Wali Allah dan wali syetan • Siksa orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:120 • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia

۞ QS. 4:121 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Siksa orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:122 • Pahala iman • Allah menepati janji • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 4:123 • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 4:124 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Memasuki surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 4:125 Islam agama para nabi

۞ QS. 4:126 • Segala sesuatu milik Allah • Keluasan ilmu Allah • Al Muhith (Maha Mengetahui)

۞ QS. 4:127 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 4:128 Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 4:129 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 4:130 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 4:131 • Segala sesuatu milik Allah • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Al Hamid (Maha Terpuji) • Al Ghaniy (Maha Kaya) •

۞ QS. 4:132 • Segala sesuatu milik Allah • Al Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 4:133 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:134 • Sifat Sama’ (mendengar) • Sifat Bashar (melihat) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 4:135 Al Khabir (Maha Waspada) • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:136 • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat

۞ QS. 4:137 • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Siksa orang munafikHidayah (petunjuk) dari Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:138 • Siksaan Allah sangat pedih • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:139 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:140 Al Jami’ (Yang mengumpulkan manusia di akhirat) • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 4:141 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:142 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik

۞ QS. 4:143 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:144 • Kewajiban saling setia antar sesama muslim • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir

۞ QS. 4:145 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:146 • Pahala iman • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Keutamaan iman • Perbuatan dan niat • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:147 • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Al Syakur (Maha Penerima syukur) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:148 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) •

۞ QS. 4:149 Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 4:150 • Kewajiban beriman pada para rasul • Tiada pengutamaan antara para nabi

۞ QS. 4:151 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Penghinaan orang kafir terhadap Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah

۞ QS. 4:152 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 4:153 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 4:155 • Azab orang kafir • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:158 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 4:159 • Turunnya nabi Isa sebelum kiamat

۞ QS. 4:160 • Menyiksa pelaku maksiat • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:161 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:162 • Pahala iman • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat • Keutamaan iman • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:164 • Sifat Kalam (berfirman)

۞ QS. 4:165 Dalil Allah atas hambaNya • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 4:166 Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 4:167 • Azab orang kafir

۞ QS. 4:168 • Azab orang kafirHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 4:169 • Siksaan Allah sangat pedih • Kekuasaan Allah • Nama-nama neraka • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 4:170 • Pahala iman • Segala sesuatu milik Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:171 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah • Al Wahid (Maha Esa)

۞ QS. 4:172 • Kebenaran hari penghimpunan • Azab orang kafir

۞ QS. 4:173 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pahala iman • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat

۞ QS. 4:174 Ar Rabb (Tuhan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 4:175 • Pahala iman • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Memasuki surga • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 4:176 Al ‘Alim (Maha megetahui)

Ayat Pilihan

Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki & Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.
Di tangan Engkaulah segala kebajikan.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
QS. Ali ‘Imran [3]: 26

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba,
sedang kamu tidak menyadarinya,
QS. Az-Zumar [39]: 55

Pada hari yang amat sulit & orang kafir diseru sujud lalu mereka tak mampu, pandangan mereka kabur dipenuhi kehinaan.
Sesungguhnya dulu ketika di dunia mereka pernah diseru bersujud, tapi mereka menolak padahal mereka mampu.
QS. Al-Qalam [68]: 42

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di ...

Benar! Kurang tepat!

Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam terkandung dalam surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.'
--QS. al-Alaq [96] ayat 1-5.

Sejak wahyu di Surah Al Muddasir [74]: 1-7, Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #10
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #10 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #10 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #1

Arti fana adalah … Tuhan memiliki sifat Al Karim, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala merupakan zat Yang ..Allah memiliki sifat Al Kariim yang tercantum dalam Alquran surah … Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang … Dalam Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al Matiin yang tercantum dalam Alquran surah …

Pendidikan Agama Islam #29

Sebagai perumpamaan orang yang mengajak berbuat baik, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan adalah … Berikut kedudukan orang yang menuntut ilmu, kecuali … وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ, potongan ayat di atas terdapat pada Alquran surah … Ilmuan muslim yang dalam bidang kedokteran yang berasal dari Persia yaitu … Siapakah nabi yang lebih memilih ilmu daripada harta?

Kuis Agama Islam #31

Umat Islam yang mengajarkan ilmunya dengan ikhlas akan memperoleh pahala amal jariyah. Amal jariyah artinya …Ilmu yang bermanfaat adalah …Menyampaikan ajaran Alquran dan sunnah Nabi Muhammad kepada orang lain yang belum mengetahui disebut dengan …Berikut ulama yang berasal dari Indonesia adalah …Sesuatu yang dipercaya dan diyakini kebenaranya oleh hati nurani manusia dinamakan …

Kamus

ibadah badaniah

Apa itu ibadah badaniah? ibadah yang dilakukan secara fisik, seperti salat … •

Abu Thufail Amru bin Watsilah al-Kinani

Siapa itu Abu Thufail Amru bin Watsilah al-Kinani? Abu Thufail Amru bin Watsilah bin Abdullah bin Amru al-Laitsi al-Kinani al-Qurasyi (أبو طفيل عامر بن واثلة بن عبدالله بن...

billahi

Apa itu billahi? bil.la.hi demi Allah; dengan nama Allah (bersaksi kepada Allah) … •