Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 128


وَ اِنِ امۡرَاَۃٌ خَافَتۡ مِنۡۢ بَعۡلِہَا نُشُوۡزًا اَوۡ اِعۡرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَیۡہِمَاۤ اَنۡ یُّصۡلِحَا بَیۡنَہُمَا صُلۡحًا ؕ وَ الصُّلۡحُ خَیۡرٌ ؕ وَ اُحۡضِرَتِ الۡاَنۡفُسُ الشُّحَّ ؕ وَ اِنۡ تُحۡسِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ کَانَ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرًا
Wa-iniimraatun khaafat min ba’lihaa nusyuuzan au i’raadhan falaa junaaha ‘alaihimaa an yushlihaa bainahumaa shulhan wash-shulhu khairun wauhdhiratil anfususyyuhha wa-in tuhsinuu watattaquu fa-innallaha kaana bimaa ta’maluuna khabiiran;

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir.
Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
―QS. 4:128
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Kelebihan yang diberikan Allah untuk bangsa Yahudi
4:128, 4 128, 4-128, An Nisaa’ 128, AnNisaa 128, AnNisa 128, An-Nisa’ 128
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa' (4) : 128. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan sikap yang harus diambil oleh seorang istri bila ia melihat sikap nusyuz dari suaminya, seperti tidak melaksanakan kewajibannya terhadap dirinya sebagaimana mestinya, tidak memberi nafkah, tidak menggauli dengan baik, berkurang rasa cinta dan kasih sayangnya dan sebagainya.
Hal ini mungkin ditimbulkan oleh kedua belah pihak atau disebabkan oleh salah satu pihak saja.

Jika demikian halnya, maka hendaklah istri mengadakan musyawarah dengan suaminya, mengadakan pendekatan, perdamaian di samping berusaha mengembalikan cinta dan kasih sayang suaminya yang telah mulai pudar.
Dalam hal ini tidak berdosa jika istri bersikap mengalah kepada suaminya, seperti bersedia beberapa haknya dikurangi dan sebagainya.

Usaha mengadakan perdamaian yang dilakukan istri itu, bukanlah berarti bahwa istri harus bersedia merelakan sebahagian haknya yang tidak dipenuhi oleh suaminya, tetapi untuk memperlihatkan kepada suaminya keikhlasan hatinya, sehingga dengan demikian suami ingat kembali kepada kewajiban kewajiban yang telah ditentukan Allah subhanahu wa ta'ala

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.
Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya...

(Q.S.
Al-Baqarah: 228)

Damai dalam kehidupan keluarga menjadi tujuan agama dalam mensyariatkan pernikahan.
Karena itu hendaklah kaum Muslimin menyingkirkan segala macam kemungkinan Yang dapat menghilangkan suasana damai itu dalam keluarga.
Hilangnya suasana damai dalam keluarga membuka kemungkinan terjadinya perceraian yang dibenci Allah subhanahu wa ta'ala

Allah subhanahu wa ta'ala mengingatkan bahwa kikir itu termasuk tabiat manusia.
Sikap kikir timbul karena manusia mementingkan dirinya sendiri, kurang memperhatikan orang lain, walaupun orang lain itu adalah istrinya sendiri atau suaminya.
Karena itu waspadalah terhadap sikap kikir itu.
Hendaklah masing-masing pihak dari suami atau istri bersedia beberapa hak dikurangi untuk menciptakan suasana damai di dalam keluarga.
Jika suami berbuat kebaikan dengan menggauli istrinya dengan baik kembali, memupuk rasa cinta dan kasih sayang melaksanakan kewajiban kewajibannya terhadap istrinya maka Allah subhanahu wa ta'ala mengetahuinya dan memberi balasan yang berlipat ganda.

An Nisaa' (4) ayat 128 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 128 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 128 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Jika seorang istri khawatir akan sikap ketidakpedulian suaminya terhadap urusan keluarga atau sikap tak acuh terhadap dirinya, maka mereka boleh mengadakan perbaikan dan pendekatan secara baik-baik.
Suami atau istri yang mengerti adalah yang memulai upaya damai itu.
Dan cara damai itu selalu baik.
Sebenarnya yang menghalangi terciptanya kedamaian di antara suami istri adalah sikap keras masing- masing pihak dalam mempertahankan haknya secara utuh karena dikuasai oleh sikap kikir.
Tidak ada jalan untuk mengembalikan cinta kasih mereka kecuali jika salah satu pihak bersedia melepas sebagian haknya.
Ia, yang bersedia melepas sebagian haknya itu, adalah orang yang berbuat baik dan bertakwa.
Barangsiapa mengerjakan kebaikan dan bertakwa kepada Allah, maka Allah Maha Mengetahui segala amal perbuatan dan akan memberi balasannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan jika seorang wanita) imra-atun marfu' oleh fi'il yang menafsirkannya (takut) atau khawatir (dari suaminya nusyuz) artinya sikap tak acuh hingga berpisah ranjang daripadanya dan melalaikan pemberian nafkahnya, adakalanya karena marah atau karena matanya telah terpikat kepada wanita yang lebih cantik dari istrinya itu (atau memalingkan muka) daripadanya (maka tak ada salahnya bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenarnya).
Ta yang terdapat pada asal kata diidgamkan pada shad, sedang menurut qiraat lain dibaca yushliha dari ashlaha.
Maksud perdamaian itu ialah dalam bergilir dan pemberian nafkah, misalnya dengan sedikit mengalah dari pihak istri demi mempertahankan kerukunan.
Jika si istri bersedia, maka dapatlah dilangsungkan perdamaian itu, tetapi jika tidak, maka pihak suami harus memenuhi kewajibannya atau menceraikan istrinya itu.
(Dan perdamaian itu lebih baik) daripada berpisah atau dari nusyuz atau sikap tak acuh.
Hanya dalam menjelaskan tabiat-tabiat manusia, Allah berfirman:
(tetapi manusia itu bertabiat kikir) artinya bakhil, seolah-olah sifat ini selalu dan tak pernah lenyap daripadanya.
Maksud kalimat bahwa wanita itu jarang bersedia menyerahkan haknya terhadap suaminya kepada madunya, sebaliknya pihak laki-laki jarang pula yang memberikan haknya kepada istri bila ia mencintai istri lain.
(Dan jika kamu berlaku baik) dalam pergaulan istri-istrimu (dan menjaga diri) dari berlaku lalim atau aniaya kepada mereka (maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu lakukan) hingga akan memberikan balasannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Bila seorang istri mengetahui suaminya merasa lebih tinggi darinya atau berpaling darinya, maka tidak ada dosa atas mereka berdua untuk berdamai dengan dasar kerelaan keduanya terkait dengan pembagian jatah bermalam dan nafkah.
Berdamai itu lebih baik dan lebih utama.
Jiwa manusia ditabiatkan di atas kekikiran dan kebakhilan, seolah-olah kebakhilan melingkupinya dan tidak bisa terpisah darinya.
Bila kalian memperlakukan istri-istri kalian dengan baik dan kalian takut kepada Allah terhadap mereka, maka Allah mengetahui apa yang kamu lakukan terkait dengan hal itu dan hal lainnya, tidak ada sesuatu yang samar bagi Allah dan Dia akan membalas kalian atasnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
memberitahukan serta mensyariatkan ketetapan hukum-hukum-Nya menyangkut berbagai kondisi yang dialami oleh sepasang suami istri.
Adakalanya pihak suami bersikap tidak senang kepada istrinya, adakalanya pihak suami serasi dengan istrinya, dan adakalanya pihak suami ingin bercerai dengan istrinya.

Keadaan pertama terjadi bilamana pihak istri merasa khawatir terhadap suaminya, bila si suami merasa tidak senang kepadanya dan bersikap tidak acuh kepada dirinya.
Maka dalam keadaan seperti ini pihak istri boleh menggugurkan dari kewajiban suaminya seluruh hak atau sebagian haknya yang menjadi tanggungan suami, seperti sandang, pangan, dan tempat tinggal serta lain-lainnya yang termasuk hak istri atas suaminya.
Pihak suami boleh menerima hal tersebut dari pihak istrinya, tiada dosa bagi pihak istri memberikan hal itu kepada suaminya, tidak (pula) penerimaan pihak suami dari pihak istrinya akan hal itu.
Untuk itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya.

Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).

Yakni daripada perceraian.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir.

Maksudnya, perdamaian di saat saling bertolak belakang adalah lebih baik daripada perceraian.
Karena itulah ketika usia Saudah binti Zam'ah sudah lanjut, Rasulullah ﷺ berniat akan menceraikannya, tetapi Saudah berdamai dengan Rasulullah ﷺ dengan syarat ia tetap menjadi istrinya dan dengan suka rela ia memberikan hari gilirannya kepada Siti Aisyah.
Maka Nabi ﷺ menerima persyaratan tersebut yang diajukan oleh Saudah, dengan imbalan Saudah tetap berstatus sebagai istri Nabi ﷺ

Imam Syafii mengatakan, telah menceritakan kepadanya Ibnu Juraij, dari Ata, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ wafat dalam keadaan meninggalkan sembilan orang istri, sebelum itu beliau ﷺ memberikan hari gilirannya kepada delapan orang istrinya.

Di dalam kitab Sahihain disebut melalui hadis Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah r.a.
yang menceritakan, "Ketika usia Saudah binti Zam'ah sudah lanjut, ia menghadiahkan hari gilirannya kepada Aisyah.
Sejak saat itu Nabi ﷺ menggilir Siti Aisyah selama dua hari, satu hari milik Siti Aisyah, sedangkan hari yang lain hadiah dari Saudah."

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebut melalui hadis Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah dengan lafaz yang semisal.

Sa'id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari Hisyam, dari ayahnya (yaitu Urwah) yang menceritakan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala.
telah menurunkan firman berikut berkenaan dengan Saudah dan wanita-wanita lainnya yang serupa, yaitu: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya.
(An Nisaa:128) Salah seorang istri Rasulullah ﷺ (yaitu Saudah) telah berusia lanjut, ia merasa khawatir bila diceraikan oleh Rasulullah ﷺ, sedangkan dalam waktu yang sama ia tidak mau dilepaskan dari statusnya sebagai istri Rasulullah ﷺ Tetapi ia mengetahui benar kecintaan Rasulullah ﷺ kepada Siti Aisyah dan kedudukan Siti Aisyah di sisi Rasulullah ﷺ Maka ia menghadiahkan hari gilirannya dari Rasulullah ﷺ untuk Siti Aisyah r.a., dan Rasulullah ﷺ menerima hal tersebut.

Imam Baihaqi mengatakan bahwa Imam Ahmad ibnu Yunus telah meriwayatkannya dari Al-Hasan ibnu Abuz Zanad secara mausul.

Jalur ini diriwayatkan oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya.
Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Ishaq Al-Faqih (seorang ahli fiqih), telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Ali ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah, bahwa ia pernah mengatakan kepadanya, "Hai anak saudara perempuanku, Rasulullah ﷺ dahulu tidak pernah memprioritaskan salah seorang di antara kami atas yang lainnya dalam hal gilirannya kepada kami.
Jarang sekali Rasulullah ﷺ dalam setiap harinya tidak berkeliling mengunjungi kami semua.
Setiap hari beliau selalu mendekati setiap istrinya tanpa menggaulinya, kecuali bila telah sampai pada giliran istri yang harus ia gilir pada saatnya, barulah beliau menginap padanya.
Sesungguhnya Saudah binti Zam'ah, ketika usianya telah lanjut dan merasa khawatir akan diceraikan oleh Rasulullah ﷺ, ia mengatakan, 'Wahai Rasulullah, giliranku aku hadiahkan kepada Siti Aisyah.' Maka Rasulullah ﷺ menerima hal tersebut." Siti Aisyah r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa berkenaan dengan peristiwa inilah Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya, yaitu: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh suaminya.
(An Nisaa:128), hingga akhir ayat.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dari Ahmad ibnu Yunus dengan lafaz yang sama, juga Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya, selanjutnya Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadis sahih, tetapi keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya.

Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui jalur Abu Hilal Al-Asy'ari, dari Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad dengan lafaz yang semisal.
Juga melalui riwayat Abdul Aziz, dari Muhammad Ad-Darawardi, dari Hisyam ibnu Urwah dengan lafaz yang semisal secara singkat.

Abul Abbas (yaitu Muhammad ibnu Abdur Rahman Ad-Da'uli) dalam permulaan kitab Mu'jam-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hisyam Ad-Dustuwai', telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnu Abu Barrah yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ mengirimkan utusannya kepada Saudah binti Zam'ah dengan tujuan untuk menceraikannya.
Ketika Rasul ﷺ datang, maka Saudah duduk untuk menyambutnya sebagaimana Siti Aisyah.
Ketika Saudah melihat beliau, maka ia berkata kepadanya, "Demi Tuhan yang menurunkan Kalam-Nya kepadamu dan yang telah memilihmu dari semua makhluk-Nya.
Aku memohon kepadamu, sudilah engkau merujuk diriku.
Karena sesungguhnya aku adalah seorang wanita yang kini telah berusia lanjut, dan memang aku tidak memerlukan lelaki lagi, tetapi aku ingin agar kelak di hari kiamat dibangkitkan bersama istri-istrimu." Maka Nabi ﷺ merujuknya.
Siti Saudah berkata, "Aku berikan siang hari dan malam hari giliranku buat kekasih Rasulullah ﷺ (yakni Siti Aisyah)."

Hadis ini berpredikat garib lagi mursal.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Muqatil, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya.
(An Nisaa:128), Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki yang mempunyai istri yang telah lanjut usia, sedangkan dia tidak begitu memerlukannya lagi, lalu ia bermaksud menceraikannya.
Tetapi si istri mengatakan kepadanya, "Aku halalkan kamu sehubungan dengan perkara diriku." Maka turunlah ayat ini.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah mengenai firman-Nya: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).
(An Nisaa:128), Siti Aisyah r.a.
mengatakan bahwa ayat ini berkenaan dengan seorang wanita yang menjadi istri seseorang lelaki, sedangkan pihak suaminya tidak memerlukannya lagi dan si istri tidak mempunyai anak, tetapi si istri masih tetap ingin berstatus sebagai istrinya, lalu ia mengatakan kepada suaminya, "Janganlah engkau ceraikan aku, dan aku halalkan engkau dari urusanku."

Telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Hajaj ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Hisyam, dari Urwah, dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya.
(An Nisaa:128), Ayat ini berkenaan dengan seorang lelaki yang mempunyai dua orang istri, salah satu di antaranya berusia tua, sedangkan yang lain tidak cantik rupanya dan dia tidak mengingininya lagi, lalu si istri mengatakan, "Janganlah engkau menceraikan diriku, dan sebagai imbalannya engkau bebas dari urusanku."

Hadis ini disebutkan di dalam kitab sahihain melalui berbagai jalur, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah dengan lafaz yang semisal dengan hadis di atas.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid dan Ibnu Waki', keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Asy'as, dari Ibnu Sirin yang menceritakan bahwa seorang lelaki datang kepada Khalifah Umar ibnul Khattab, lalu bertanya kepadanya mengenai makna suatu ayat, dan Umar tidak suka dengan pertanyaan tersebut, kemudian Umar memukul lelaki itu dengan cemeti.
Lalu ada lelaki lain datang menanyakan tentang makna ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya.
(An Nisaa:128), Kemudian Umar berbuat hal yang sama dengan orang yang pertama tadi.
Akhirnya mereka yang ada menanyakannya, kemudian barulah Umar r.a.
menjawab bahwa wanita yang dimaksud adalah istri seseorang yang telah dilupakannya, lalu suaminya kawin lagi dengan wanita muda dengan maksud ingin mempunyai anak.
Maka sesuatu yang disepakati oleh kedua belah pihak melalui perdamaian merupakan hal yang diperbolehkan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain Al-Hasanjani, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Sammak ibnu Harb, dari Khalid ibnu Ur'urah yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Ali ibnu Abu Talib, lalu bertanya kepadanya mengenai makna firman-Nya: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya.
(An Nisaa:128), hingga akhir ayat.
Maka Ali ibnu Abu Talib menjawab bahwa hal ini berkenaan dengan seorang lelaki yang mempunyai seorang istri, lalu ia tidak menyukainya lagi karena rupanya yang tidak cantik, usianya telah tua, akhlaknya jahat, atau ada cacatnya, tetapi si istri tidak suka diceraikan oleh suaminya.
Maka jika si istri menghapuskan sebagian dari mas kawinnya (dengan syarat tidak diceraikan), maka hal itu halal bagi suaminya.
Jika si istri merelakan hari-hari gilirannya, tidak mengapa hal itu dilakukan.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Abu Daud At-Tayalisi, dari Syu'bah, dari Hammad ibnu Salamah dan Abul Ahwas.

Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Israil, semuanya bersumber dari Sammak.

Hal yang sama ditafsirkan oleh Ibnu Abbas, Ubaidah As-Salmani, Mujahid ibnu Jubair, Asy-Sya'bi, Sa'id ibnu Jubair, Ata, Atiy-yah Al-Aufi, Makhul, Al-Hasan, Al-Hakam ibnu Atabah, dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan para imam.
Menurutku, aku belum mengetahui ada seseorang yang berpendapat berbeda dengan penafsiran ayat ini.

Imam Syafii mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyaynah dari Az-Zuhri, dari Ibnul Musayyab, bahwa anak perempuan Muhammad ibnu Muslim menjadi istri Rafi' ibnu Khadij.
Maka Rafi' ibnu Khadij tidak menyukainya lagi karena usianya telah lanjut atau faktor yang lain, lalu Rafi' bermaksud menceraikannya.
Kemudian si istri berkata, "Janganlah engkau ceraikan aku, dan gilirlah aku menurut kemauanmu." Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya.
(An Nisaa:128), hingga akhir ayat.

Imam Hakim meriwayatkan di dalam kitab Mustadrak-nya melalui jalur Abdur Razzaq, dari Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Sa'id ibnul Musayyab dan Sulaiman ibnu Yasar dengan konteks yang lebih panjang dari ini.

Al Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Abu Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Ahmad ibnu Abdullah Al-Muzani, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepadaku Syu'aib ibnu Abu Hamzah, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Sa'id ibnul Musayyab dan Sulaiman ibnu Yasar, menurut ketentuan sunnah sehubungan dengan kedua ayat yang di dalamnya menceritakan perihal seorang lelaki dan sikap tidak acuh terhadap istrinya, yaitu firman-Nya: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya.
(An Nisaa:128), hingga akhir ayat berikutnya.
berkenaan dengan seorang lelaki bila nusyuz (tidak suka lagi) terhadap istrinya dan tidak lagi memperhatikannya.
Maka sebagai jalan keluarnya si suami adakalanya menceraikannya atau tetap memegangnya sebagai istri dengan memperoleh hak sepenuhnya berupa hak giliran, juga sebagian dari harta, hal ini boleh dilakukan oleh pihak suami.
Begitu pula sebaliknya jika pihak istri mengadakan perdamaian kepada pihak suami dengan merelakan hak-hak tersebut, pihak istri boleh melakukannya.
Menurut Sa'id ibnul Musayyab dan Sulaiman, perdamaian inilah yang dimaksud oleh firman-Nya: maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).
(An Nisaa:128)

Diriwayatkan kepadaku bahwa Rafi' ibnu Khadij Al-Ansari (salah seorang sahabat Nabi ﷺ) mempunyai seorang istri, ketika istrinya telah tua, lalu ia kawin lagi dengan gadis yang masih muda hingga hatinya lebih cenderung kepada istri mudanya.
Maka istri tuanya meminta diceraikan, lalu Rafi' menceraikannya dengan satu talak dan menangguhkannya.
Tetapi bila masa idah-nya akan habis, maka Rafi' merujuknya kembali.
Kemudian Rafi' tetap bersikap lebih memperhatikan istri mudanya.
Maka istri tuanya meminta cerai lagi, dan Rafi' berkata kepadanya, "Saya hanya menuruti kemauanmu, sesungguhnya talakmu padaku hanya tinggal sekali lagi.
Jika kamu mau tetap menjadi istriku dengan perlakuan seperti yang kamu alami sekarang, kamu boleh tetap menjadi istriku, atau jika kamu lebih suka kuceraikan, maka kamu aku ceraikan." Maka istri tua Rafi' berkata, "Tidak, bahkan aku ingin tetap menjadi istrimu, sekalipun harus berkorban." Maka Rafi' tetap memegangnya sebagai istri dengan persyaratan tersebut, demikianlah perdamaian yang dilakukan oleh keduanya, dan Rafi' tidak memandang hal ini sebagai perbuatan yang berdosa karena pihak istri rela tetap berstatus sebagai istrinya, sekalipun hari gilirannya diberikan kepada istri mudanya.

Hal yang sama secara lengkap diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari ayahnya, dari Abul Yaman, dari Syu'aib, dari Az-Zuhri, dari Sa'id ibnul Musayyab dan Sulaiman ibnu Yasar, lalu Ibnu Abu Hatim mengetengahkannya dengan panjang lebar.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah takhyir, yaitu pihak suami memberikan hak pilih kepada istrinya antara tetap menjadi istri atau diceraikan.
Hal ini lebih baik daripada ia merelakan haknya kepada madunya dan membiarkan suaminya berkepanjangan memberlakukannya demikian.

Menurut makna lahiriah ayat, perdamaian yang dilakukan keduanya ialah pihak istri memberikan sebagian dari haknya kepada suaminya dan pihak suami menerima syarat tersebut, hal ini lebih baik bagi pihak istri daripada diceraikan sama sekali.
Sebagaimana Nabi ﷺ tetap memegang Siti Saudah binti Zam'ah sebagai istrinya dengan merelakan hari gilirannya kepada Siti Aisyah r.a.
dan Nabi ﷺ tidak menceraikannya, melainkan membiarkannya termasuk salah seorang dari istri-istrinya.

Nabi ﷺ sengaja melakukan demikian agar umatnya mengikuti jejaknya dalam masalah ini, bahwa hal tersebut disyariatkan dan diperbolehkan.
Hal ini lebih baik bagi Nabi ﷺ, mengingat keserasian itu lebih disukai oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
daripada perceraian.
Demikianlah makna firman-Nya: dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).
(An Nisaa:128)

Bahkan talak itu dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Ibnu Majah, keduanya dari Kasir ibnu Ubaid, dari Muhammad ibnu Khalid, dari Ma’ruf ibnu Wasil, dari Muharib ibnu Disar, dari Abdullah ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Perkara halal yang paling dimurkai oleh Allah ialah talak.

Kemudian Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Ahmad ibnu Yunus, dari Ma'ruf, dari Muharib yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, lalu ia mengetengahkan hadis tersebut dengan lafaz yang semakna dengan hadis di atas secara mursal.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan jika kalian menggauli istri kalian dengan baik dan memelihara diri kalian (dari nusyuz dan sikap tak acuh terhadap istri), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Jika kalian sabar menahan apa yang tidak kalian sukai dari mereka dan kalian tetap membagi giliran kepada mereka sama dengan istri kalian yang lainnya, maka sesungguhnya Allah Mengetahui hal tersebut, dan kelak Dia akan memberikan kepada kalian balasan pahala yang berlimpah atas sikap kalian yang bijak itu.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nisaa' (4) ayat 128
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Telah mengabarkan kepada kami Abdullah Telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah radliallahu anha mengenai firman Allah: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya. (An Nisa: 128). Aisyah berkata,
ayat ini mengenai seorang laki-laki yang mempunyai istri namun dia tidak terlalu mencintainya dan memberikan hak wanita itu, hingga ia ingin berpisah darinya tanpa mentalaknya. Lalu dia berkata,
Kamu akan tetap halal bersamaku. Maka turunlah ayat ini.

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur'an - Nomor Hadits: 4235

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa' (4) Ayat 128

Abu Dawud dan al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Saudah khawatir Rasulullah meninggalkannya di saat dia telah berumur lanjut, lantas ia berkata : Hari giliranku akan aku berikan untuk Aisyah.
Maka Allah menurunkan ayat 128 ini.
Hadits yang senada juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas.

Said bin Mansur meriwayatkan dari Said bin al-Musayyib bahwa anak perempuan Muhammad bin Maslamah bersuamikan Rafi bin Khudaij.
Rafi membenci sesuatu dari istrinya, mungkin karena dia sudah tua atau karena hal lainnya.
Sehingga dia ingin mentalaknya, maka istrinya berkata : Janganlah mentalakku, berikanlah giliranku sesukamu.
Maka Allah menurunkan ayat 128 ini.

Al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Ayat ini turun : Dan perdamaian itu baik.
Kepada seorang laki-laki yang beristri yang telah memberinya beberapa orang anak.
Ketika sang suami ingin menggantinya dengan yang baru maka sang istri merayu suaminya agar jangan menceraikannya dan dia boleh tidak memberinya giliran.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Said bin Jubair berkata : Pada saat ayat 128 ini turun, seorang wanita datang seraya berkata : Aku ingin agar kamu membagi nafkahmu kepadaku.
Dai rela jika suaminya membiarkannya, tidak mentalaknya namun juga tidak mendatanginya, maka Allah menurunkan : Walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir.
(Ayat 128)

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 128

ANFUS
أَنفُس

Lafaz ini dalam bentuk jamak, mufradnya adalah an nafs yang mengandung beberapa makna. Diantaranya darah. Oleh itu, al haidh dinamakan an nufasa karena darahnya keluar, an nifas adalah kelahiran atau persalinan, dan apabila sudah melahirkan dinamakan nufasa. la juga bermakna roh, mata, dan di sisi. la juga bermakna jasad.

Dikatakan huwa aztm an nafs berarti dia mempunyai jasad yang besar. Apabila disandarkan kepada al amr atau nafs al amr bermaksud hakikat perkara itu atau perintah yang sama. Apabila disandarkan kepada sesuatu atau nafs asy syai' bermaksud sesuatu itu sendiri.

Lafaz anfus disebut sebanyak 153 kali dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 9, 44, 54, 54, 57, 84, 85, 87, 90, 102, 109, 110, 155, 187, 223, 228, 234, 234, 240, 235, 235, 265, 284;
-Ali Imran (3), ayat 61, 61, 69, 117, 135, 154, 154, 164,165, 168, 178, 186;
-An Nisaa (4), ayat 29, 49, 63, 64, 65, 66, 95, 95, 97, 107, 113, 128, 135;
-Al Maa'idah (5), ayat 52, 70, 80, 105;
-Al An'aam (6), ayat 12, 20, 24, 26, 93, 123, 130, 130;
-Al A'raaf (7), ayat 9, 23, 37, 53, 160, 172, 177, 192, 197;
-Al Anfaal (8), ayat 53, 72;
-At Taubah (9), ayat 17, 20, 35, 36, 41, 42, 44, 55, 70, 81, 85, 88, 111, 118, 120, 128;
-Yunus (10), ayat 23, 44;
-Hud (11), ayat 21, 31, 101;
-Yusuf (12), ayat 18, 83;
-Ar Ra'd (13), ayat 11, 16;
-Ibrahim (14), ayat 22, 45;
-An ­Nahl (16), ayat 7, 28, 33, 72, 89, 118;
-Al Israa (17), ayat 7;
-Al Kahfi (18), ayat 51;
-Al Anbiyaa (21), ayat 43, 64, 102;
-Al Mu'minun (23), ayat 103;
-An Nuur (24), ayat 6, 12, 61, 61;
-Al Furqaan (25), ayat 3, 21;
-An Naml (27), ayat: 14;
-Al­ Ankabut (29), ayat 40;
-Ar Rum (3), ayat 8, 9, 21, 28, 44;
-As Sajadah (32), ayat 27;
-Al Ahzab (33), ayat 6;
-Saba' (34), ayat 19;
-Az Zumar (39), ayat 15, 42, 53;
-Al Mu'min (40), ayat 10;
-Fushshilat (41), ayat 31, 53;
-Asy ­Syuura (42), ayat 11, 45;
-Az-Zukhruf (43), ayat 71;
-Al Hujurat (49), ayat 11, 15;
-Adz Dhariyat (51), ayat 21;
-An Najm (53), ayat 23, 32;
-Al­ Hadid (57), ayat 14, 22;
-Al Mujadalah (58), ayat 8;
-Al Hasyr (59), ayat 9, 19;
-Ash Shaff (61), ayat 11;
-At Taghaabun (64), ayat 16;
-At Tahrim (66), ayat 6;
-Al Muzzammil (73), ayat 20.

Lafaz anfus di dalam Al Qur'an bermakna jiwa atau diri.

Dalam surah Al Baqarah, ayat 155, At Tibrisi berkata,
''Allah menguji dengan segala cobaan, antaranya diuji dengan naqs al-anfus yaitu dengan kematian diri."

Dalam surah Ali Imran, ayat 165 As Sabuni menafsirkan, "Katakanlah kepada mereka wahai Muhammad, sesungguhnya sebab datangnya musibah ialah dari diri mereka dan keingkaran mereka pada suruhan rasul serta tamak pada harta rampasan."

Dalam surah An Nisaa, ayat 128, anfus dikaitkan dengan as syuhh (bakhil).

Dalam Tafsir Al Jalalain memiliki makna sangat bakhil yaitu diri seorang isteri hampir tidak dapat bertolak-ansur dengan suaminya dan diri seorang suami hampir tidak dapat bertolak-ansur dengan isterinya apabila dia mencintai wanita lain.

Sedangkan dalam surah An Nahl, ayat 7, al anfus dikaitkan dengan asy syiqq (bi syiqqil anfus).

Asy Syawkani berkata,
"Kamu tidak sampai kepada suatu negeri melainkan dengan kehilangan separuh diri karena susah payah atau penat."

Makna anfus yang memiliki pengertian diri atau jiwa juga diisyaratkan dalam surah­ surah yang lain berdasarkan sandarannya. Diantaranya :

dalam surah Az Zumar ayat 42, al­ anfus dikaitkan dengan tawaffa (mematikan),

dalam surah Az Zukhruf ayat 71, al anfus dikaitkan dengan tasytahi (mau),

dalam surah An Najm ayat 23, al anfus dikaitkan dengan tahwi, yaitu tahwi al anfus yang bermakna dihiasi dan dibisikkan oleh syaitan kepada diri mereka apa yang mereka sembah selain Allah memberi syafaat kepada mereka di sisi Allah.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:53-54

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa', yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa' dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Al Kubraa" (surat An Nisaa' yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Ash Shughraa" (surat An Nisaa' yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf'
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 128 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 128



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.6
Rating Pembaca: 4.6 (12 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ Tafsir ahkam Qs An-Nisa Ayat 128, an nisa 34 35 dengan fenomena sekarang, Tafsir an nisa 128