Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 100


وَ مَنۡ یُّہَاجِرۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ یَجِدۡ فِی الۡاَرۡضِ مُرٰغَمًا کَثِیۡرًا وَّ سَعَۃً ؕ وَ مَنۡ یَّخۡرُجۡ مِنۡۢ بَیۡتِہٖ مُہَاجِرًا اِلَی اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ثُمَّ یُدۡرِکۡہُ الۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ اَجۡرُہٗ عَلَی اللّٰہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا
Waman yuhaajir fii sabiilillahi yajid fiil ardhi muraaghaman katsiiran wasa’atan waman yakhruj min baitihi muhaajiran ilallahi warasuulihi tsumma yudrikhul mautu faqad waqa’a ajruhu ‘alallahi wakaanallahu ghafuuran rahiiman;

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.
Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.
Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
―QS. 4:100
Topik ▪ Takwa ▪ Perbuatan dan niat ▪ Keadilan Allah dalam menghakimi
4:100, 4 100, 4-100, An Nisaa’ 100, AnNisaa 100, AnNisa 100, An-Nisa’ 100
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa' (4) : 100. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian Allah menjanjikan kepada orang-orang yang berpindah meninggalkan kampung halamannya karena menaati perintah Allah dan mengharapkan keridaan Nya bahwa mereka akan memperoleh tempat pindah yang lebih makmur, lebih tenteram dan aman dan lebih mudah menunaikan kewajiban-kewajiban agama di daerah yang baru itu, yaitu Madinah.
Janji yang demikian itu sangat besar pengaruhnya bagi mereka yang hijrah itu.
Sebab umumnya orang-orang Islam di Mekah yang tidak ikut hijrah itu menyangka bahwa hijrah itu penuh dengan penderitaan dan daerah yang dituju itu tidak memberikan kelapangan hidup bagi mereka.

Sesudah Allah menjanjikan kelapangan hidup di dunia Allah menyatakan pula bahwa Dialah yang akan memberikan pahala yang sempurna di akhirat kepada orang-orang yang hijrah yang karena meninggal dunia mereka tidak sempat sampai ke Madinah.
Amatlah jelas janji Allah kepada orang-orang yang hijrah dibandingkan dengan janji-Nya kepada mereka yang tidak hijrah karena kekhawatiran, sebab bagi golongan yang akhir ini pengampunan Allah tidak disebut secara pasti.

Pengampunan dan kasih sayang Allah sangatlah besar terhadap kaum Muhajirin yang dengan ikhlas meninggalkan kampung halaman mereka untuk menegakkan kalimat Allah subhanahu wa ta'ala

Diriwayatkan oleh-Ibnu Abi Hatim dan Abu Ya'la dengan sanad yang baik dial Ibnu Abbas beliau berkata: "Damrah bin Jundub pergi dari rumahnya "Bawalah aku dan keluarkanlah aku dari bumi orang-orang musyrik ini (Mekah) untuk menemui Rasulullah ﷺ Maka pergilah dia dan meninggal dalam perjalanan sebelum berjumpa dengan Nabi Muhammad ﷺ lalu turunlah ayat ini.

Sebab-sebab Islam mensyariatkan hijrah pada zaman permulaan:

a.
Untuk menghindarkan dari dial tekanan dan penindasan orang kafir Mekah terhadap orang Islam, sehingga mereka memiliki kebebasan dalam menjalankan perintah-perintah agama dan menegakkan syiar-syiarnya.
b.
Untuk menerima ajaran agama dari Nabi Muhammad ﷺ, kemudian menyebarkannya ke seluruh dunia.
c.
Untuk membina negara Islam yang kuat yang dapat menyebarkan Islam, menegakkan hukum-hukumnya, menjaga rakyat dari musuh dan melindungi dakwah Islamiah.

Ketiga sebab inilah yang menjadikan hijrah dari Mekah satu kewajiban umat Islam.
Sesudah umat Islam menaklukkan Mekah tidak ada lagi kewajiban hijrah.
karena ketiga sebab ini tidak ada lagi.
Diriwayatkan diri Ibnu Abbas bahwa Nabi bersabda:

Tidak ada hijrah sesudah penaklukan Mekah, akan tetapi yang ada ialah jihad dan niat.
Jika kamu diperintahkan berperang, maka penuhilah perintah itu"
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

An Nisaa' (4) ayat 100 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 100 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 100 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang yang berhijrah dengan tujuan membela kebenaran, akan menemukan banyak tempat di muka bumi ini dan terhindar dari tekanan dan kekerasan orang-orang yang memusuhi kebenaran.
Mereka juga akan mendapatkan kebebasaan dan tempat tinggal yang mulia, di samping disediakan pahala yang besar.
Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah ke tempat yang mulia, yaitu negeri Allah dan rasul-Nya, kemudian mati sebelum sampai pada tempat tujuan, pahalanya telah ditetapkan.
Allah berkuasa untuk memberikan pahala, ampunan dan rahmat-Nya, karena Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Pemberi rahmat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan siapa yang berhijrah di jalan Allah, maka mereka akan menemukan di muka bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan) dalam rezeki.
(Dan siapa yang keluar dari rumahnya dengan tujuan berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya lalu ia ditimpa oleh kematian) di tengah jalan seperti terjadi atas Junda bin Dhamrah Al-Laitsi (maka sungguh, telah tetaplah pahalanya di sisi Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Barangsiapa yang meninggalkan negeri syirik ke negeri Islam demi menyelamatkan agamanya, berharap karunia Rabb-nya dan bermaksud membantu agama-Nya, niscaya dia akan mendapatkan suatu tempat dimuka bumi ini dimana dia mendapatkan kenikmatan padanya yang akan menjadi sebab bagi kekuatannya dan kerendahan bagi musuhnya, ditambah dengan kelapangan rizki dan kehidupannya.
Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud membantu agama Allah dan Rasul-Nya, meninggikan kalimat Allah, kemudian maut menjemputnya sebelum ia tiba di tempat tujuannya, maka pahala amalnya sudah ditetapkan disisi Allah sebagai sebuah kebaikan dan kemurahan dari-Nya.
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.

Ayat ini menganjurkan untuk berhijrah dan memberikan semangat untuk memisahkan diri dari orang-orang musyrik, bahwa ke mana pun orang mukmin pergi, niscaya ia dapat menemui tempat berlindung dan penghidupan yang menaunginya.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa al-muragam ialah berpindah dari suatu tempat ke tempat lain.
Hal yang sama dikatakan pula oleh riwayat yang bersumber dari Ad-Dahhak, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan As-Sauri.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: tempat hijrah yang banyak.
(An Nisaa:100) Yaitu tempat untuk menyingkir dari hal-hal yang tidak disukai.

Sufyan ibnu Uyaynah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: tempat hijrah yang luas.
(An Nisaa:100) Yakni benteng-benteng perlindungan.

Makna lahiriah muragam, hanya Allah yang lebih mengetahui, ialah tempat yang kokoh untuk menyelamatkan diri dan membuat musuh-musuh tidak dapat berkutik.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan rezeki yang banyak.

Yaitu rezeki yang berlimpah.

Banyak ulama —antara lain ialah Qatadah— mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.
Yang menyelamatkannya dari kesesatan menuju jalan hidayah, dan menyelamatkannya dari kemiskinan kepada kecukupan.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.

Dengan kata lain, barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan niat untuk berhijrah, lalu di tengah jalan ia meninggal dunia, maka ia telah memperoleh pahalanya di sisi Allah, yaitu pahala orang yang berhijrah.

Seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahihain dan lain-lainnya —baik kitab sahih ataupun kitab musnad atau kitab sunnah— melalui jalur Yahya ibnu Sa'id Al-Ansari, dari Muhammad ibnu Ibrahim At-Taimi dari Alqamah ibnu Abu Waqqas Al-Laisi, dari Umar ibnul Khattab yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Sesungguhnya semua amal perbuatan itu berdasarkan niat masing-masing, dan sesungguhnya masing-masing orang itu hanya mendapatkan apa yang diniatkannya.
Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dan barang siapa yang hijrahnya kepada dunia, niscaya dia memperolehnya, atau kepada wanita, niscaya ia menikahinya.
Maka hijrah seseorang itu hanyalah kepada apa yang diniatkannya sejak semula.

Hadis ini umum pengertiannya menyangkut masalah hijrah dan semua amal perbuatan.

Hadis lainnya ialah yang disebut di dalam kitab Sahihain, menceritakan seorang lelaki (dari kaum Bani Israil) yang membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian melengkapi pembunuhannya dengan orang yang keseratus, yaitu seorang ahli ibadah (karena ketika ia bertanya tentang jalan tobat, maka si ahli ibadah mengatakan bahwa pintu tobat telah tertutup baginya).
Kemudian ia bertanya kepada seorang yang alim, "Apakah masih ada tobat bagiku?"
Orang alim menjawab, "Tiada yang menghalang-halangi antara kamu dan tobat," hal ini diungkapkannya dengan nada balik bertanya.
Kemudian orang alim itu menyarankan agar ia berpindah tempat dari negerinya menuju negeri lain yang di negeri tersebut penduduknya menyembah Allah.
Ketika lelaki itu berangkat meninggalkan negerinya untuk berhijrah ke negeri lain tersebut, di tengah jalan kematian menimpanya.
Maka berselisih pendapatlah malaikat rahmat dan malaikat azab.
Para malaikat rahmat mengatakan bahwa lelaki ini datang untuk bertobat, sedangkan para malaikat azab mengatakan bahwa ia masih belum sampai ke negeri yang dituju.
Akhirnya mereka diperintahkan untuk mengukur jarak di antara kedua tempat tersebut, mana yang lebih dekat dari lelaki itu, maka ia termasuk penghuninya.
Maka Allah memerintahkan kepada bumi yang menuju ke negeri yang saleh agar mendekat, dan memerintahkan kepada bumi yang jahat (penduduknya) agar menjauh dari jenazah lelaki itu.
Akhirnya para malaikat menjumpai bahwa jenazah lelaki itu lebih dekat satu jengkal ke negeri yang menjadi tujuan hijrahnya, kemudian ia dibawa oleh malaikat rahmat.

Menurut riwayat yang lain, ketika maut datang menjemputnya, ia sempat membalikkan badannya ke arah negeri yang menjadi tujuan hijrahnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, dari Muhammad ibnu Ibrahim, dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Atik, dari ayahnya (yaitu Abdullah ibnu Atiq) yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa yang keluar untuk berjihad di jalan Allah, kemudian ia bertanya, "Di manakah orang-orang yang berjihad di jalan Allah?”, dan ternyata ia terjungkal dari kendaraannya.
lalu meninggal dunia, maka sungguh pahalanya ialah ditetapkan Allah, atau ia disengat hewan berbisa, lalu mati, maka sungguh telah tetap pahalanya pada Allah, atau ia mati dengan sendirinya, maka sungguh telah tetap pahalanya pada Allah.
Yang dimaksud dengan hatfa anfihi ialah meninggal dunia di atas peraduannya.
Abdullah ibnu Atik mengatakan, "Demi Allah, sesungguhnya ini benar-benar suatu kalimat yang pernah aku dengar dari seseorang Badui sebelum Rasulullah ﷺ mengatakan, 'Barang siapa yang mati secara cepat, maka sungguh surga ditetapkan baginya."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Daud maula Abdullah ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Usman, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Asy'as (yaitu Ibnu Siwar), dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa Damrah ibnu Jundub keluar dengan maksud berhijrah kepada Rasulullah ﷺ, tetapi ia meninggal dunia di tengah jalan sebelum sampai kepada Rasulullah ﷺ Maka turunlah firman-Nya: Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya., hingga akhir ayat.

Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Raja, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Salim, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Damrah ibnul Ais Az-Zurqi yang sedang sakit matanya, ketika itu ia masih di Mekah.
Ketika turun ayat berikut, yakni firman-Nya: kecuali mereka yang tertindas, baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya.
(An Nisaa:98) Maka ia berkata, "Aku adalah orang yang kaya, dan sesungguhnya aku mampu melakukan daya upaya." Lalu ia bersiap-siap dengan maksud hendak pergi berhijrah kepada Nabi ﷺ Tetapi baru saja sampai di Tan'im, ia meninggal dunia.
Maka turunlah firman-Nya: Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dimaksud)., hingga akhir ayat.

Imam Tabrani mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arubah Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Haiwah ibnu Syuraih Al-Himsy, telah menceritakaa kepada kami Baqiyyah ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Sauban, dari ayahnya, telah menceritakan kepada kami Makhul, dari Abdur Rahman ibnu Ganam Al-Asy'ari, telah menceritakan kepada kami Abu Malik yang mengatakan, "Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya Allah telah berfirman bahwa barang siapa berangkat untuk berjuang di jalan-Ku, berperang untuk memperoleh rida-Ku, dan membenarkan janji-Ku serta iman kepada rasul-rasul-Ku, maka dia berada di dalam jaminan Allah.
Adakalanya Allah mewafatkannya di dalam pasukan itu, maka Allah memasukkannya ke dalam surga.
Dan adakalanya dia kembali dalam jaminan Allah, sekalipun ia mencari budak, maka Kami memberinya, hingga Allah mengembalikannya kepada keluarganya bersama dengan apa yang diperolehnya berupa pahala atau ganimah.
Dan ia telah memperoleh sebagian dari karunia Allah, lalu mati, atau terbunuh, atau ditendang oleh kudanya atau oleh untanya atau disengat oleh serangga atau mati di atas peraduannya dengan kematian apa pun yang dikehendaki oleh Allah, maka dia adalah orang yang mati syahid'."Imam Abu Daud meriwayatkannya melalui hadis Baqiyyah mulai dari "sebagian dari karunia Allah" hingga akhir hadis, dan ia menambahkan sesudah kalimat, fahuwa syahidun (maka dia adalah mati syahid), yaitu: "Dan sesungguhnya dia dimasukkan ke dalam surga."

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa' (4) Ayat 100

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu Ya’la dengan sanad yang jayyid (baik), yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Dlamrah bin Jundab keluar dari rumahnya untuk berhijrah.
Dia berkata pada keluarganya:”Gotonglah saya dan hijrahkanlah saya dari tanah musyrikin ini ke tempat Rasulullah ﷺ.” Di tengah perjalanan, sebelum sampai kepada Nabi, ia wafat.
Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) sebagai janji Allah kepada orang-orang yang gugur di saat melaksanakan tugas agama Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa Abu Dlamrah az-Zurqi termasuk orang yang ada di Mekah (belum berhijrah).
Ketika menerima berita tentang turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 98) ia berkata: “Aku cukup berada dan mampu.” Ia pun bersiap-siap untuk hijrah menuju ke tempat Nabi ﷺ di kampung Tan’im.
Di perjalanan ia meninggal dunia.
Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) yang menjelaskan keduduukan orang yang gugur di saat melaksanakan Panggilan Rabb-nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, seperti hadits di atas, yang bersumber dari Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Qatadah, as-Suddi, adl-Dlahhak, dan lain-lain.
Bahwa orang yang wafat dalam hijrah itu, ada yang mengatakan Dlamrah bin al-‘Aish atau al-‘Aish bin Dlamrah; Jundab din Dlamrah; al-Junda’i; adl-Dlammari; seorang laki-laki dari Bani Dlamrah; seorang laki-laki dari suku Khuza’ah; seorang laki-laki dari Bani Laits; seorang laki-laki dari bani Kinanah; dan ada pula yang mengatakan seorang dari bani Bakr.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam kitab ath-Thabaqaat, yang bersumber dari Yazid bin ‘Abdillah bin Qisth.
Bahwa Jundab bin Dlamrah al-Dlamari sedang sakit di Mekah.
Ia berkata pada anaknya: “Bawalah aku keluar dari Mekah.
Aku bisa mati akibat situasi kalut di tempat ini.” Mereka berkata: “Kemana kami bawa?” Ia memberi isyarat dengan tangannya ke arah Madinah dengan maksud hijrah.
Kemudian mereka membawanya ke Madinah.
Akan tetapi baru sampai di kampung Bani Ghifar, ia meninggal dunia.
Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mandah, dan al-Baudi, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari az-Zubair bin al-‘Awwam.
Bahwa ketika Khalid bin Haram hijrah ke Habsyah, di perjalanan, ia digigit ular dan wafat.
Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh al-Umawi dalam kitab Maghaazi-nya, yang bersumber dari ‘Abdulmalik bin ‘Umar.
Hadits ini mursal dan sanadnya daif.
Bahwa ketika sampai berita tentang kerasulan Nabi ﷺ kepada Aktsam bin Syaifi, ia bermaksud mengunjungi Nabi, akan tetapi dihalangi oleh kaumnya.
Maka ia meminta seseorang untuk diutus menyampaikan maksudnya, minta keterangan tentang Rasulullah.
Maka dipilihlah dua orang utusan untuk menghadap Nabi ﷺ.
Kedua utusan itu berkata: “Kami utusan dari Aktsam bin Shaifi yang ingin tahu siapa nama tuan, apakah kedudukan tuan, dan apakah yang tuan bawa?” Nabi ﷺ menjawab:
“Saya Muhammad anak ‘Abdullah, hamba Allah dari Rasul-Nya.” Kemudian Nabi membacakan ayat, innallaaha ya’muru bil ‘ad-li wal ihsaan…(sesungguhnya Allah menyuruh [kamu] berlaku adil dan berbuat kebajikan…) sampai akhir ayat (an-Nahl: 90).
Sesampainya utusan itu kepada Aktsam dan menyampaikan apa yang diterangkan Nabi ﷺ, berkatalah Aktsam: “Hai kaumku, ia menyuruh berbudi tinggi dan melarang berakhlak rendah, jadilah kalian pelopor untuk berbudi luhur, dan jangan menjadi pengekor.” Kemudian ia berangkat menuju Madinah, tapi di perjalanan ia meninggal.
Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam kitab al-Mu’ammirin, dari dua jalan, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Ibnu ‘Abbas ditanya tentang ayat ini (an-Nisaa’: 100), ia menjawab:
“Ayat tersebut turun berkenaan dengan peristiwa Aktsam bin Shaifi.” Ketika itu ada yang bertanya lagi: “Bukankah ayat tersebut berkenaan dengan peristiwa al-Laits?” Ia menjawab:
“Ini terjadi beberapa masa sebelum peristiwa al-Laits.” Ayat tersebut bisa khusus berkenaan dengan peristiwa Aktsam dan juga peristiwa lain.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa', yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa' dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Al Kubraa" (surat An Nisaa' yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Ash Shughraa" (surat An Nisaa' yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf'
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 100 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 100



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.8
Rating Pembaca: 5 (1 vote)
Sending







✔ download lagu surat an nisa 4 ayat 100, lagu rendah Surah Annisa, AlQur an surat ke 4 aya ke 100, an nisa 4 :180, awal QS 4 ayat 100, qs 4:100, surat an nisa ayat 100