Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. An Nashr (Pertolongan) – surah 110 ayat 3 [QS. 110:3]

فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا
Fasabbih bihamdi rabbika waastaghfirhu innahu kaana tau-waaba(n);
maka bertasbihlah dalam dengan Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya.
Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.
―QS. An Nashr [110]: 3

Daftar isi

Then exalt (Him) with praise of your Lord and ask forgiveness of Him.
Indeed, He is ever Accepting of repentance.
― Chapter 110. Surah An Nashr [verse 3]

فَسَبِّحْ maka bertasbihlah

Then glorify
بِحَمْدِ dengan memuji

with (the) praises
رَبِّكَ Tuhanmu

(of) your Lord
وَٱسْتَغْفِرْهُ dan mohonlah ampun

and ask His forgiveness.
إِنَّهُۥ sesungguhnya Dia

Indeed, He
كَانَ adalah Dia

is
تَوَّابًۢا Maha Penerima Taubat

Oft-Returning.

Tafsir Quran

Surah An Nashr
110:3

Tafsir QS. An-Nasr (110) : 3. Oleh Kementrian Agama RI

Bila yang demikian itu telah terjadi, Nabi diperintahkan untuk mengagungkan dan mensucikan Tuhannya dari hal-hal yang tidak layak bagi-Nya, seperti menganggap terlambat datangnya pertolongan dan mengira bahwa Tuhan tidak menepati janji-Nya menolong Nabi atas orang-orang kafir.

Menyucikan Allah hendaknya dengan memuji-Nya atas nikmat-nikmat yang dianugerahkan-Nya dan mensyukuri segala kebaikan-kebaikan yang telah dilimpahkan-Nya dan menyanjung-Nya dengan sepantasnya.

Bila Allah Yang Mahakuasa dan Mahabijaksana memberi kesempatan kepada orang-orang kafir, bukanlah berarti Dia telah menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beramal baik.

Kemudian Nabi Muhammad dianjurkan untuk meminta ampun kepada Allah untuk dirinya dan sahabat-sahabatnya yang telah memperlihatkan kesedihan dan keputusasaan karena merasa pertolongan Allah terlambat datangnya.

Bertobat dari keluh-kesah adalah dengan mempercayai penuh akan janji-janji Allah dan membersihkan jiwa dari pemikiran yang bukan-bukan bila menghadapi kesulitan.
Hal ini walaupun berat untuk jiwa manusia biasa, tetapi ringan untuk Nabi Muhammad sebagai insan kamil (manusia sempurna).

Oleh sebab itu, Allah menyuruh Nabi ﷺ memohon ampunan-Nya.

Keadaan ini terjadi pula pada para sahabat yang memiliki jiwa yang sempurna dan menerima tobat mereka, karena Allah selalu menerima tobat hamba-hamba-Nya.

Allah mendidik hamba-hamba-Nya melalui bermacam-macam cobaan dan bila merasa tidak sanggup menghadapinya harus memohon bantuan-Nya serta yakin akan datangnya bantuan itu.
Bila ia selalu melakukan yang demikian niscaya menjadi kuat dan sempurnalah jiwanya.

Maksudnya, bila pertolongan telah tiba dan telah mencapai kemenangan serta manusia berbondong-bondong masuk Islam, hilanglah ketakutan dan hendaklah Nabi ﷺ bertasbih menyucikan Tuhannya dan mensyukuri-Nya serta membersihkan jiwa dari pemikiran-pemikiran yang terjadi pada masa kesulitan.
Dengan demikian, keluh-kesah dan rasa kecewa tidak lagi akan mempengaruhi jiwa orang-orang yang ikhlas selagi mereka memiliki keikhlasan dan berada dalam persesuaian kata dan cinta sama cinta.

Dengan turunnya Surah An-Nasr ini, Nabi memahami bahwa tugas risalahnya telah selesai dan selanjutnya ia hanya menunggu panggilan pulang ke rahmatullah.



Ibnu ‘AbbAs berkata:
"Ketika turun ayat Idha jaa nasrullahi wAl-Fath, Rasulullah ﷺ memanggil Fatimah, lalu berkata:
"Kematian diriku sudah dekat."
Fatimah pun menangis.
Rasulullah ﷺ berkata,
"Jangan menangis, karea kamu adalah anggota pertama dari keluargaku yang akan menyusulku."
Fatimah pun tertawa bahagia (mendengarnya).
Para istri Nabi ﷺ yang melihat hal itu berkata,
"Wahai Fatimah, kami melihatmu menangis lalu tertawa."
Fatimah berkata,
"Rasulullah ﷺ memberitahuku bahwa kematian dirinya telah dekat, maka aku menangis.
Namun, beliau mengatakan,
"Jangan menangis, karena kamu adalah anggota pertama dari keluargaku yang akan menyusulku."
Maka aku pun tertawa bahagia.
(Riwayat Al- Darimi)

Ibnu ‘Umar berkata,
"Surah ini turun di Mina ketika Nabi mengerjakan Haji Wada’, sesudah itu turun firman Allah:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. (Al-Ma’idah [5]: 3)

Nabi hidup hanya delapan puluh hari setelah turun ayat ini.
Kemudian setelah itu, turun ayat Kalalah, dan Nabi hidup sesudahnya lima puluh hari.
Setelah itu turun ayat:

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ

Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. (At-Taubah [9]: 128)

Maka Nabi ﷺ hidup sesudahnya tiga puluh lima hari.
Kemudian turun firman Allah:

وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ

Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. (al Baqarah [2]: 281)

Maka Nabi ﷺ hidup sesudahnya hanya dua puluh satu hari saja.

Tafsir QS. An Nashr (110) : 3. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


maka bersyukurlah kepada Tuhanmu dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.
Mintalah ampunan untukmu dan untuk umatmu, karena Dia, memang, sunguh Maha Penerima tobat hamba-Nya[1].



[1] Surat ini menunjuk kepada peristiwa pembebasan kota Mekah.
Penyebab langsung terjadinya pembebasan kota Mekah adalah pelanggaran suku Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyah dengan melakukan penyerangan terhadap suku Khaza’ah–yang sudah berada dalam lindungan Rasulullah ﷺ.
–dan membantu Banu Ka’b dalam aksi penyerangan itu.
Ketika itu, Rasulullah melihat bahwa apa yang dilakukan oleh suku Quraisy dalam melanggar perjanjian tersebut mengharuskannya untuk melakukan pembebasan Mekah.


Beliau pun segera mengumpulkan sebuah pasukan kuat yang terdiri atas 10.
000 ribu tentara.


Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadan, tahun 8 Hijriah (Desember 630 M.).


Rasulullah mewasiatkan pasukannya untuk tidak melakukan penyerangan kecuali dalam keadaan terpaksa.
Dan, atas kehendak Allah, Rasulullah bersama pasukannya dapat memasuki kota Mekah tenpa terjadi perang.


Begitulah, Nabi Muhammad memperoleh kemenangan yang amat besar dalam sejarah penyebaran Islam tanpa terjadi perang dan pertumpahan darah.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Apabila itu sudah terjadi, maka bersiap-siaplah untuk menjumpai Tuhanmu dengan memperbanyak bertasbih dengan memuji-Nya, dan memperbanyak istigfar.
Sesungguhnya Dia banyak menerima tobat atas orang-orang yang bertasbih dan beristigfar.


Dia mengampuni mereka, merahmati mereka, dan menerima tobat mereka.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu) artinya bertasbihlah seraya memuji-Nya


(dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat) sesungguhnya Nabi ﷺ sesudah surah ini diturunkan, beliau selalu memperbanyak bacaan:
Subhaanallaah Wa Bihamdihi, Astaghfirullaaha Wa Atuubu Ilaihi, yang artinya:
"Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya."
Dengan turunnya surah ini dapat diketahui bahwa saat ajalnya telah dekat.
Peristiwa penaklukan kota Mekah itu terjadi pada bulan Ramadan tahun delapan Hijriah, dan beliau wafat pada bulan Rabiulawal, tahun sepuluh Hijriah.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

(1-3)

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Khalifah Umar memasukkan diriku ke dalam kelompok orang-orang tua yang pernah ikut dalam Perang Badar.
Maka seseorang dari mereka merasa kurang enak dengan keberadaanku bersama dengan mereka, akhirnya ia berkata,
"Mengapa orang seusia dia dimasukkan ke dalam golongan kita, padahal kita mempunyai anak-anak yang seusia dengannya."

Maka Umar menjawab,
"Sesungguhnya dia termasuk seseorang yang telah kalian ketahui."
Pada suatu hari Umar memanggil mereka, dan ia memasukkan diriku ke dalam golongan mereka.
Dan aku mengerti bahwa tidaklah dia memanggilku dan menggabungkan diriku bersama mereka di hari itu melainkan dengan tujuan hendak memperlihatkan kadar ilmuku kepada mereka.
Lalu Umar membuka pembicaraan,
"Bagaimanakah pendapat kalian tentang makna firman Allah ﷺ:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
(QS. An-Nasr [110]: 1)

Maka sebagian dari mereka menjawab."Ayat ini memerintahkan kepada kita untuk memuji Allah dan memohon ampunan kepada-Nya, apabila kita peroleh kemenangan dan pertolongan."
Dan sebagian dari mereka hanya diam, tidak mengatakan sepatah kata pun.
Maka Umar berkata kepadaku,
"Apakah demikian pula menurutmu, hai Ibnu Abbas?"
Aku menjawab,
"Tidak."
Umar berkata,
"Bagaimanakah menurutmu?"

Maka aku menjawab, bahwa itu merupakan pertanda dekatnya ajal Rasulullah ﷺ Yang diberitahukan kepadanya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
(QS. An-Nasr [110]: 1)

Maka itulah alamat dekatnya ajalmu.
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia Maha Penerima Tobat.
(QS. An-Nasr [110]: 3)

Maka Umar ibnu Khattab berkata,
"Aku pun sependapat denganmu."
Hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara munfarid.
Imam Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Humaid, dari Mahran, dari As-Sauri, dari Asim, dari Abu Razin, dari Ibnu Abbas, lalu ia menyebutkan kisah yang semisal dengan kisah di atas.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, telah menceritakan kepada kami Ata, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
(QS. An-Nasr [110]: 1)

Rasulullah ﷺ bersabda:
Ini adalah ucapan belasungkawa terhadapku.

Karena sesungguhnya beliau ﷺ wafat pada tahun itu juga;
Imam Ahmad meriwayatkan secara munfarid.

Al-Aufi telah meriwayatkan hal yang semisalnya dari Ibnu Abbas.
Hal yang sama telah dikatakan pula oleh Mujahid, Abul Aliyah, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya bahwa hal ini merupakan berita dekatnya ajal Rasulullah ﷺ

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ismail ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Isa Al-Hanafi, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abu Hazim, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ berada di Madinah, tiba-tiba beliau ﷺ bersabda:
Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, telah datang pertolongan Allaah dan kemenangan, telah datang penduduk Yaman."
Ditanyakan,
"Wahai Rasulullah, siapakah penduduk Yaman itu?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Kaum yang lembut hatinya dan lunak wataknya.
Iman adalah Yaman dan fiqih adalah Yaman, dan hikmah adalah Yaman."

Kemudian Ibnu Abdul A’la meriwayatkannya dari Ibnu Saur, dari Ma’mar, dari Ikrimah secara mursal.

Imam Tabrani mengatakan.
telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Al-Juhdari, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Hilal ibnu Kliabbab, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
(QS. An-Nasr [110]: 1)

hingga akhir surat, ini merupakan berita dekatnya ajal Rasulullah ﷺ saat surat ini diturunkan.
Maka kelihatan Rasulullah ﷺ lebih mempergiat kesungguhannya lebih dari sebelumnya dalam masalah akhirat.
Dan Rasulullah ﷺ sesudah itu bersabda:
"Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan telah datang penduduk Yaman."
Seorang lelaki bertanya,
"Wahai Rasulullah, siapakah penduduk Yaman itu?"

Rasulullah ﷺ bersabda,
"Kaum yang memiliki hati yang lembut dan watak yang lunak.
Iman adalah Yaman, dan fiqih adalah Yaman."

Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Asim ibnu Abu Razin, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
(QS. An-Nasr [110]: 1)

Nabi ﷺ mengetahui bahwa sesungguhnya ini merupakan berita dekatnya ajal dirinya ﷺ Menurut satu pendapat mengatakan bahwa ketika diturunkan surat ini (An-Nasr).

Waqi telah menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari Asim, dari Abu Razim bahwa Umar pernah bertanya kepada Ibnu Abbas r.a. tentang makna firman-Nya:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
(QS. An-Nasr [110]: 1)

Maka Ibnu Abbas menjawab, bahwa surat ini diturunkan sebagai pertanda dekatnya kewafatan Rasulullah ﷺ

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Ahmad ibnu Umar Al-Waki’i, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Aun, dari Abul Umais, dari Abu Bakar ibnu Abul Jahm, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Utbah.
dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa surat Alquran yang paling akhir penurunannya adalah yang diawali dengan firman-Nya:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
(QS. An-Nasr [110]: 1)

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Bukhturi At-Ta-i, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang mengatakan bahwa ketika diturunkan surat ini yang diawali dengan firman-Nya:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
(QS. An-Nasr [110]: 1)

Rasulullah ﷺ inembacanya hingga selesai, lalu bersabda:

Manusia itu (orang-orang mukmin) baik dan aku beserta para sahabatku baik.
Tiada hijrah sesadah kemenangan (atas kota Mekah), tetapi (yang masih ada ialah) jihad dan niat.

Maka Marwan (yang saat itu menjadi khalifah) berkata kepada Abu Sa’id, ”Kamu dusta,"
sedangkan di hadapannya terdapat Rafi’ ibnu Khadij dan Zaid ibnu Sabit sedang duduk bersamanya di atas dipan.
Maka Abu Sa’id menjawab,
"Seandainya dua orang ini menghendaki, tentulah mereka berdua menceritakan hadis ini kepadamu.
Akan tetapi, yang ini merasa takut kepadamu bila kamu cabut dia dari kepemimpinan kaumnya, dan orang ini merasa takut bila kamu tidak memberinya sedekah (zakat).

Maka Marwan mengangkat cemetinya dengan maksud akan memukul Abu Sa’id;
dan ketika kedua teman duduknya itu melihat situasi memanas, maka keduanya berkata mendukung Abu Sa’id,
"Dia benar."
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.
Dan hadis yang diingkari oleh Marwan ini terhadap orang yang mengatakannya (yaitu Abu Sa’id) bukanlah hadis yang munkar.
Karena sesungguhnya telah terbuktikan melalui riwayat Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda di hari kemenangan:

Tiada hijrah lagi (sesudah ini), tetapi jihad dan niat;dan apabila kalian diperintahkan untuk berangkat berperang, maka berangkatlah.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkannya di dalam kitab sahih masing-masing.

Dan pendapat yang dikemukakan oleh sebagian sahabat dari kalangan orang-orang yang ada di dalam majelis Umar saat itu mempunyai alasan yang benar dan baik.
Mereka mengatakan bahwa Allah telah memerintahkan kepada kita bila Dia telah memenangkan kita atas kota-kota besar dan benteng-benteng musuh, hendaknya kita memuji kepada Allah, bersyukur, dan bertasbih kepada-Nya.
Yakni mengerjakan salat dan memohon ampun kepada-Nya.

Hal ini telah terbukti kebenarannya dengan adanya salat yang dilakukan oleh Nabi ﷺ di Mekah pada hari penaklukannya, yaitu diwaktu duha sebanyak delapan rakaat.
Maka sebagian orang mengatakan bahwa salat itu adalah salat duha.
Tetapi disanggah bahwa Rasulullah ﷺ belum pernah membiasakan salat tersebut, lalu mengapa beliau melakukan salat itu, padahal beliau dalam keadaan musafir dan tidak berniat untuk mukim di Mekah?
Karena itulah maka beliau tinggal di Mekah hanya sampai akhir Ramadan, yang lamanya kurang lebih sembilan belas hari;
dan selama itu beliau mengqasar salatnya.

Lalu beliau berbuka bersama semua tentara kaum muslim.
yang saat itu jumlahnya kurang lebih sepuluh ribu personel.
Mereka yang menyanggah pendapat pertama mengatakan bahwa salat yang dilakukan oleh mereka tiada lain adalah salat Al-Fat-h.
Mereka mengatakan bahwa untuk itu maka dianjurkan bagi pemimpin pasukan apabila mendapat kemenangan atas suatu negeri, hendaknya ia melakukan salat di dalam negeri itu saat pertama kali dia memasukinya sebanyak delapan rakaat.
Hal yang semisal telah dilakukan oleh Sa’d ibnu Abu Waqqas di hari kemenangan atas kota-kota besar (negeri Persia).

Kemudian sebagian dari ulama mengatakan bahwa Nabi ﷺ mengerjakan salat yang delapan rakaat itu dengan sekali salam.
Tetapi menurut pendapat yang sahih, Nabi ﷺ melakukan salam pada setiap dua rakaatnya, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Sunan Abu Daud, bahwa Rasulullah ﷺ melakukan salat pada tiap dua rakaat di hari kemenangan atas kota Mekah.

Adapun menurut penafsiran Ibnu Abbas dan Umar r.a. yang menyatakan bahwa surat ini merupakan pemberitahuan akan dekatnya kewafatan Rasulullah ﷺ, maka seperti berikut:
Ketahuilah bahwa apabila Aku taklukkan Mekah untukmu karena ia adalah kota yang telah mengusirmu, dan manusia mulai memasuki agama Allah secara berbondong-bondong, maka sesungguhnya akan Kami selesaikan tugasmu di dunia.

Karena itu bersiap-siaplah kamu untuk datang menghadap kepada Kami, maka negeri akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia.
Dan sesungguhnya’Tuhanmu akan memberimu pahala yang membuatmu merasa puas dengannya.
Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:
maka bertasbilah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.
(QS. An-Nasr [110]: 3)

Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mahbub, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Hilal ibnu Khabbab, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika turun firman Allah subhanahu wa ta’ala:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
(QS. An-Nasr [110]: 1) sampai akhir surat.

Menurut Ibnu Abbas, ini merupakan berita tentang dekatnya masa kewafatan Rasulullah ﷺ Sesudah itu beliau ﷺ kelihatan lebih meningkatkan kesungguhannya dalam urusan akhirat.
Dan sesudah itu Rasulullah ﷺ bersabda:
"Telah datang kemenangan dan telah datang pertolongan Allah, dan telah datang penduduk Yaman."
Maka seorang lelaki bertanya,
"Wahai Rasulullah, siapakah penduduk Yaman itu?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Mereka adalah kaum yang berhati lunak dan berwatak lemah lembut.
Iman adalah Yaman, hikmah adalah Yaman, dan fiqih adalah Yaman."

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Mansur, dari Abud Duha, dari Masruq, dari Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ dalam rukuk dan sujudnya memperbanyak bacaan:
Mahasuci Engkau, ya Allah, Tuhan Kami;
dan dengan memuji kepada Engkau, ya Allah, ampunilah aku.

Nabi ﷺ melakukan demikian sebagai pengamalannya terhadap makna surat ini.

Dan Jamaah lainnya telah mengetengahkannya selain Imam Turmuzi melalui hadis Mansur dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Adiy, dari Daud, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq yang mengatakan bahwa Aisyah telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ di akhir usianya memperbanyak bacaan:
Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.
Dan beliau ﷺ bersabda:
Sesungguhnya Tuhanku telah memberitahuku bahwa aku akan melihat suatu tanda (dekatnya ajalku) di kalangan umatku, dan Dia memerintahkan kepadaku apabila telah melihatnya untuk (memperbanyak) bacaan tasbih, tahmid, dan istigfar kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.
Dan sesungguhnya aku telah melihatnya, yaitu melalu ifirman-Nya,
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.
(QS. An-Nasr [110]: 1-3)

Imam Muslim meriwayatkan melalui jalur Daud ibnu Abu Hindun dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abus Sa’ib, telah menceritakan kepada kami Hafs, telah menceritakan kepada kami Asim, dari Asy-Sya’bi, dari Ummu Salamah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ di penghujung usianya, tidak sekali-kali beliau berdiri, duduk, pergi, dan datang melainkan membaca:
Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya.
Maka aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, aku telah melihatmu memperbanyak bacaan tasbih dan tahmid kepada Allah, tidak sekali-kali engkau pergi, datang, berdiri, atau duduk melainkan engkau membaca,
"Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya."
Maka beliau ﷺ menjawab, bahwa sesungguhnya beliau diperintahkan untuk melakukannya, lalu beliau membaca firman-Nya:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.
(QS. An-Nasr [110]: 1), hingga akhir surat.

Hadis ini berpredikat garib.
Kami telah menulis hadis tentang kifarat majelis dengan berbagai macam jalur periwayatan dan lafaznya dalam suatu pembahasan yang terpisah, maka tidak perlu dikemukakan di sini.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah yang mengatakan bahwa ketika diturunkan kepada Rasulullah ﷺ firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:
Apabila telah datang per tolongan Allah dan kemenangan.
(QS. An-Nasr [110]: 1), hingga akhir surat.
Maka beliau memperbanyak bacaan berikut bila sedang rukuk, yaitu:
Mahasuci Engkau, ya Allah, Tuhan kami;dan dengan memuji kepada Engkau, ya Tuhan kami, ampunilah daku;
sesungguhnya Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Sebanyak tiga kali.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis mi secara munfarid.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari ayahnya, dari Amr ibnu Murrah, dari Syu’bah, dari Abu Ishaq dengan sanad yang sama.

Yang dimaksud dengan al-fath di sini ialah kemenangan atas kota Mekah, menurut kesepakatan semuanya.
Karena sesungguhnya kabilah-kabilah Arab pada mulanya menggantungkan keislaman mereka dengan kemenangan atas kota Mekah.
Mereka mengatakan,
"Jika dia (Nabi ﷺ) beroleh kemenangan atas kaumnya, berarti dia benar seorang nabi."
Dan ketika Allah subhanahu wa ta’ala memenangkannya atas kota Mekah, maka masuklah mereka ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong.

Belum lagi berlalu masa dua tahun, seluruh penduduk Jazirah Arabia telah beriman, dan tiada suatu kabilah Arabpun melainkan mereka menampakkan keislamannya.
Segala puji dan harapan hanyalah dipanjatkan bagi Allah subhanahu wa ta’ala

Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya telah meriwayatkan dari Amr ibnu Salamah, bahwa ketika kemenangan atas kota Mekah diraih oleh kaum muslim, maka semua kaum berlomba-lomba menyatakan keislamannya kepada Rasulullah ﷺ Dan sebelumnya semua kaum menggantungkan keislaman mereka dengan kemenangan atas kota Mekah.
Mereka mengatakan,
"Biarkanlah dia dan kaumnya;
jika dia dapat menang atas mereka, berarti dia adalah seorang nabi yang baru."

Kami telah menulis kisah tentang perang kemenangan atas kota Mekah di dalam kitab kami yang berjudul As-Sirah.
Untuk itu bagi siapa yang ingin memperoleh keterangan yang lebih detail, hendaklah ia merujuk kepada kitab tersebut;
segala puji bagi Allah atas karunia-Nya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, dari Al-Auza’i, telah menceritakan kepadaku Abu Ammar, telah menceritakan kepadaku seorang tetangga, dari Jabir ibnu Abdullah.
Dia menceritakan bahwa ketika ia baru datang dari suatu perjalanan, tiba-tiba Jabir ibnu Abdullah datang berkunjung ke rumahnya.
Jabir mengucapkan salam kepadanya, kemudian aku ceritakan kepadanya tentang terpecah belahnya manusia dan hal ikhwal kebid’ahan yang mereka buat-buat.
Maka Jabir saat itu juga menangis.
Kemudian Jabir r.a. berkata bahwa dirinya pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, dan kelak mereka akan keluar darinya secara berbondong-bondong (pula).

Demikianlah akhir tafsir surat An-Nasr, segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala atas semua karunia-Nya.

Unsur Pokok Surah An Nashr (النصر‎‎)

Surat An Nashr terdiri atas 3 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah yang diturunkan di Mekah sesudah surat At Taubah.

Dinamai "An Nashr" (pertolongan) diambil dari perkataan "Nashr" yang terdapat pada ayat pertarna surat ini.

Keimanan:

▪ Janji bahwa pertolongan Allah akan datang dan Islam akan mendapat kemenangan.
▪ Perintah dari Tuhan agar bertasbih memuji-Nya, dan minta ampun kepada-Nya di kala terjadi peristiwa yang menggembirakan.

Ayat-ayat dalam Surah An Nashr (3 ayat)

1 2 3

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. An-Nashr (110) : 1-3 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 3 + Terjemahan Indonesia



QS. An-Nashr (110) : 1-3 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 3

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nashr ayat 3 - Gambar 1 Surah An Nashr ayat 3 - Gambar 2
Statistik QS. 110:3
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah An Nashr.

Surah An-Nasr (bahasa Arab:النصر) adalah surah ke-110 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 3 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
An Nasr berarti “Pertolongan”,
nama surah ini berkaitan dengan topik surah ini yakni janji bahwa pertolongan Allah akan datang dan Islam akan memperoleh kemenangan.

Nomor Surah 110
Nama Surah An Nashr
Arab النصر‎‎
Arti Pertolongan
Nama lain Idza Ja’a • Al-Taudi’ (Perpisahan)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 114
Juz Juz 30
Jumlah ruku’ 1 ruku’
Jumlah ayat 3
Jumlah kata 19
Jumlah huruf 80
Surah sebelumnya Surah Al-Kafirun
Surah selanjutnya Surah Al-Lahab
Sending
User Review
4 (1 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

110:3, 110 3, 110-3, Surah An Nashr 3, Tafsir surat AnNashr 3, Quran AnNasr 3, An-Nasr 3, Surah An Nashr ayat 3

Video Surah

110:3


Load More

Ayat Pilihan


mintalah perlindungan kepada Allah.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
QS. Al-Mu’min [40]: 56

Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.
Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya & seorang ayah karena anaknya,
QS. Al-Baqarah [2]: 233

Jadilah engkau pemaaf & suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf,
serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.
QS. Al-A’raf [7]: 199

Allah yang ciptakanmu, memberi rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu. Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu dapat berbuat sesuatu yang demikian?
Maha Sucilah Dia & Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.
QS. Ar-Rum [30]: 40

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
u06c1u0670u0630u064eu0627 u0628u064eu06ccu064eu0627u0646u064c u0644u0651u0650u0644u0646u0651u064eu0627u0633u0650 u0648u064e u06c1u064fu062fu064bu06cc u0648u0651u064e u0645u064eu0648u06e1u0639u0650u0638u064eu06c3u064c u0644u0651u0650u0644u06e1u0645u064fu062au0651u064eu0642u0650u06ccu06e1u0646u064e

Inilah (Alquran) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
--QS. 3:138

Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Arti mubayyin itu menjelaskan, mencerahkan, menerangkan, menjernihkan.

Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta`ala, antara sesama manusia, serta manusia dengan lingkungannya. Ilmu yang mempelajarinya disebut ilmu fiqih.

+

Array

Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Hukum Khuluqiyah ini adalah hukum yang berkenaan dengan akhlak juga budi pekerti manusia. Hukum ini mencakup semua sifat-sifat terpuji yang wajib ada dalam diri manusia sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta`ala terkait hakikat dirinya sebagai makhluk sosial.

Adapun cakupan hukuk khuluqiyah ini seperti moral, adab dan sopan santun, budi pekerti dan perilaku-perilaku yang jauh dari unsur tercela lainnya.

Hukum Khuluqiyah ini adalah salah satu jenis hukum dalam Alquran, adapun jenis hukum lainnya adalah Itiqodiyah dan Amaliyah.

Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #7
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #7 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #7 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #5

Berikut ini, yang tidak mengandung moral terpuji, adalah … Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan … Lawan kata dari jujur ??adalah … Orang yang suka berbohong adalah orang … Bekerja tepat waktu adalah salah satu ciri orang yang …

Pendidikan Agama Islam #16

Selain berisi kisah-kisah umat terdahulu, dalam Alquran juga terdapat tamsil sebagai peringatan bagi manusia. Tamsil artinya … Alquran adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di bawah ini merupakan bukti bahwa Alquran adalah mukjizat yang terbesar adalah … Fungsi utama kandungan Alquran yang menjelaskan kisah umat terdahulu adalah sebagai … Yang berarti ”menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz … Al-Lihyaniy berpendapat bahwa Alquran secara etimologi memiliki arti …

Pendidikan Agama Islam #25

Surah Al-Insyirah terdiri dari … ayat.Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal … أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti …وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ Ayat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat …Surah Al-Insyirah turun sesudah surah …

Kamus Istilah Islam

mahar musama

Apa itu mahar musama? maskawin yang ditentukan jumlahnya pada waktu melakukan akad nikah … •

Bukit Shafa

Di mana itu Bukit Shafa? Shofa dan Marwah adalah dua bukit yang terletak di Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi tempat melaksanakan ibadah sa’i dalam ritual ibadah haji dan umrah. Sejarah Dalam tradisi Islam, Ibrahim diperintah Allah untuk meninggalkan isterinya Siti Hajar di gurun bersama puteranya Ismail yang masih bayi de … • Shafa, Shofa, Marwah

Al-Mumtahanah

Apa itu Al-Mumtahanah? Surah Al-Mumtahanah adalah surah ke-60 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 13 ayat. Dinamakan Al Mumtahanah yang berarti Wanita yang diuji di ambil dari kata “Famtahinuuhunna” yang berarti maka ujilah mereka, yang terdapat pada ayat 10 surat ini. … • Al-Mumtahanah, Al Mumtahanah