An Naml (Semut) – surah 27 ayat 88 [QS. 27:88]

وَ تَرَی الۡجِبَالَ تَحۡسَبُہَا جَامِدَۃً وَّ ہِیَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ ؕ صُنۡعَ اللّٰہِ الَّذِیۡۤ اَتۡقَنَ کُلَّ شَیۡءٍ ؕ اِنَّہٗ خَبِیۡرٌۢ بِمَا تَفۡعَلُوۡنَ
Wataral jibaala tahsabuhaa jaamidatan wahiya tamurru marrassahaabi shun’allahil-ladzii atqana kulla syai-in innahu khabiirun bimaa taf’aluun(a);

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.
(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
―QS. 27:88
Topik ▪ Hari Kiamat ▪ Kedahsyatan hari kiamat ▪ Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka
27:88, 27 88, 27-88, An Naml 88, AnNaml 88, An-Naml 88

Tafsir surah An Naml (27) ayat 88

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Naml (27) : 88. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan, bahwa gunung-gunung yang sekarang kelihatannya tetap di tempatnya, nanti pada hari kiamat gunung-gunung itu akan dicabut dari dasarnya kemudian diterbangkan seperti bulu di udara sebagai jalannya awan, seperti tersebut dalam firman-Nya:

Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang berterbangkan).
(Q.S.
Al Ma’arij: 9)

(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat kokoh tiap-tiap sesuatu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Mengenai tafsir ayat ini, yang menerangkan bahwa gunung-gunung akan diterbangkan di udara seperti jalannya awan, atau dalam ayat lain seperti bulu ditiup oleh angin, ulama tafsir mempunyai dua pendapat.
Pendapat pertama, yang merupakan pendapat sebagian besar mufassir mengemukakan bahwa ayat ini berhubungan dengan peristiwa hari kiamat, seperti dalam firman Allah:

Pada hari ketika langit benar-benar berguncang, dan gunung benar-benar berjalan.
(Q.S.
At Tur: 9-10)

Dan firman-Nya:

Dan dijalankan gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.
(Q.S.
An Naba: 20)

Dan firman-Nya:

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit; dan mereka semuanya (di padang mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.
(Q.S.
Ibrahim: 48)

Kejadian-kejadian yang amat dahsyat ini pada Hari Kiamat terjadinya setelah tiupan sangkakala yang kedua kalinya, di mana semua manusia telah dibangkitkan dari kuburnya dan mereka menyaksikan semua macam peristiwa yang sangat dahsyat itu.
Cara menyaksikan ada macam-macam.
Ada yang tenang saja, sama sekali tidak mengalami ketakutan seperti tersebut dalam firman-Nya:

Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat.
(Malaikat berkata): “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.”

(Q.S.
Al Anbiya: 103)

Mereka itu mukanya putih berseri dan bersinar dengan tanda-tanda kebahagiaan.
Ada pula, bahkan sebagian besar di antara orang-orang di padang mahsyar itu yang mukanya kelam hitam dan penuh dengan ketakutan, penyasalan dan kegelisahan, terutama ketika menyaksikan malapetaka dan bencana pada Hari Kiamat itu, dan kepada mereka diucapkan: “Rasakanlah azab itu disebabkan kekafiran”.

Pendapat yang kedua mengenai tafsir ayat 88 ini, yaitu pendapat ulama ahli falak, yang menyatakan bahwa ayat ini hubungannya bukan dengan peristiwa Hari Kiamat akan tetapi dengan suasana sekarang.
Kamu sangka bahwa gunung-gunung yang berada di atas permukaan bumi ini tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan, karena mengikuti peredaran bumi.
Jadi ayat ini dijadikan dalil bahwa bumi berputar seperti planet-planet yang lain pada sumbunya, hanya kita manusia sebagai penghuni bumi tidak merasakannya.
Begitulah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Alasan ulama falak, bahwa ayat 88 ini berhubungan dengan peristiwa sekarang dan bukan dengan peristiwa Hari Kiamat.

1.
Ayat ini tidak dapat/patut dimasukkan dalam kategori ancaman atau menakuti-nakuti dengan kedahsyatan Hari Kiamat, sebab di belakangnya disambung dengan kata-kata : (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu.
Yang cocok ialah bila ayat ini dihubungkan dengan masa sekarang, di mana kita manusia sebagai penghuni bumi menyangka bahwa bumi ini diam saja, demikianlah pula gunung-gunung yang berada di atas permukaannya, padahal bumi bersama gunung-gunung itu berjalan, beredar sebagai jalannya awan.

2.
Diterbangkannya gunung-gunung itu untuk dihancurkan pada Hari Kiamat terjadinya bersamaan dengan hancurnya alam semesta, termasuk matinya seluruh manusia.
Yang tinggal hidup hanya beberapa malaikat saja.
Jadi jika pada hari setelah tiupan pertama dari sangkakala itu tidak ada lagi manusia yang hidup, bagaimana dapat dikatakan bahwa nanti kamu akan melihat gunung-gunung yang disangka diam saja, padahal ia itu berjalan sebagai jalannya awan.
Di situlah letaknya kejanggalan.

3.
Orang-orang di padang Mahsyar yang menyaksikan gunung-gunung itu berjalan sebagai jalannya awan, tentu mereka sadar, melihat dengan mata kepala sendiri dan tidak pantas dikatakan bahwa mereka menyangka gunung-gunung itu berdiam saja di tempatnya.
Berlainan sekali jika dihubungkan dengan masa sekarang, karena memang manusia tidak dapat merasakan bahwa gunung-gunung itu bergerak dan berjalan di angkasa sebagai jalannya awan, karena gunung-gunung itu ikut bergerak bersama buminya, dan udara yang ada di sekitarnya.
Dengan memandang demikian, maka barulah cocok dengan kata-kata (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu, dan kata-kata yang indah ini tidak patut dikemukakan pada Hari Kiamat yang penuh dengan ancaman dan ketakutan terhadap kehancuran seluruh alam semesta pada Hari Kiamat itu tidak patut dikatakan: “Begitulah perbuatan Allah membuat kokoh tiap sesuatu”.
Demikianlah kedua pendapat tentang tafsir ayat 88 ini , sebagian besar dari mufassir menerangkan bahwa ayat itu berhubungan dengan peristiwa Hari Kiamat, dan sebagian lagi yang terdiri dari ulama falak menerangkan bahwa ayat itu berhubungan dengan peristiwa sekarang, dan dijadikan dalil bahwa sekalian yang ada di atasnya termasuk gunung-gunung semuanya bergerak, berjalan di angkasa sebagai jalannya awan.
Perbedaan tafsiran itu tidak mengenai artinya, hanya di sekitar waktu terjadinya, dan oleh karena termasuk kejadian dalam alam gaib, maka yang lebih baik, perhatian manusia dititik beratkan kepada perbaikan amalnya, dan oleh karena itu pada akhir ayat itu dinyatakan: sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Muhammad, kamu pasti menyangka bahwa gunung-gunung itu diam tak bergerak.
Padahal sebenarnya tidak demikian.
Gunung-gunung itu bergerak cepat bagai awan.
Itulah sebagian dari ciptaan Allah, Pencipta segala sesuatu dengan sempurna.
Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui secara terperinci apa yang diperbuat oleh manusia berupa ketaatan dan kemaksiatan.
Dan Allah akan memberikan balasan pada amal perbuatan itu[1].

[1] Ayat ini memberikan penjelasan bahwa segala benda yang tunduk pada hukum gravitasi bumi, termasuk lautan, daratan, gunung- gunung, atmosfer dan benda-benda lainnya, berotasi bersama-sama bumi dan berputar pula mengelilingi matahari.
Proses pergerakan itu akan mengakibatkan separo belahan bumi akan mengalami kegelapan selama enam bulan, sedang paroan lain akan mengalami siang yang terang benderang selama masa yang sama.
Tetapi kita, sebagai penduduk bumi, tidak merasakan gerak perputaran itu.
Persis saat kita menyaksikan gerak awan di udara yang tidak menimbulkan bunyi.
Dan Allah Maha Kuasa untuk menjadikan bumi berhenti, tidak berotasi pada porosnya atau menjadikan masa rotasinya sama dengan masa yang dipergunakan bumi mengelilingi matahari (evolusi).
Dengan begitu separo permukaan bumi akan mengalami malam yang gelap gulita dan separo yang lain mengalami siang terang benderang sepanjang tahun.
Hal itu tentu dapat berakibat hilangnya keseimbangan temperatur bumi secara keseluruhan.
Pada gilirannya, hal terakhir ini akan mengakibatkan musnahnya semua makhluk yang ada di bumi.
Allah subhanahu wa ta’ala membuat semua aturan dengan sangat teliti itu, sebagai wujud kasih sayang kepada hamba-Nya.
Meskipun Aristarkhos (310-230 S.
M), seorang ahli falak Yunani telah menulis tentang rotasi bumi, tulisannya itu belum sampai kepada kalangan Arab pada masa Muhammad ﷺ.
atau sebelumnya.
Orang pertama di kalangan Arab yang menyinggung masalah ini adalah Al-Biruni sekitar tahun 1000 M., mengiring gerakan terjemah yang terjadi pada masa dinasti Abbasiah.
Penyampaian fakta ilmiah ini melalui Muhammad ﷺ.
sebelum ia sendiri tahu tentang hal itu, adalah bukti bahwa Al Quran benar-benar wahyu yang difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan kamu lihat gunung-gunung itu) yakni kamu saksikan gunung-gunung itu sewaktu terjadinya tiupan malaikat Israfil (kamu sangka dia) (tetap) diam di tempatnya karena besarnya (padahal ia berjalan sebagai jalannya awan) bagaikan hujan yang tertiup angin, maksudnya gunung-gunung itu tampak seolah-olah tetap, padahal berjalan lambat saking besarnya, kemudian jatuh ke bumi lalu hancur lebur kemudian menjadi abu bagaikan bulu-bulu yang beterbangan.
(Begitulah perbuatan Allah) lafal Shun’a merupakan Mashdar yang mengukuhkan jumlah sebelumnya yang kemudian di-mudhaf-kan kepada Fa’il-nya Sesudah ‘Amil-nya dibuang, bentuk asalnya ialah Shana’allahu Dzalika Shun’an.
Selanjutnya hanya disebutkan lafal Shun’a yang kemudian dimudhaf-kan kepada Fa’il-nya yaitu lafal Allah, sehingga jadilah Shun’allahi, artinya begitulah perbuatan Allah (yang membuat dengan kokoh) rapih dan kokoh (tiap-tiap sesuatu) yang dibuat-Nya (sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan) lafal Taf’aluna dapat dibaca Yaf’aluna, yakni perbuatan maksiat yang dilakukan oleh musuh-musuh-Nya dan perbuatan taat yang dilakukan oleh kekasih-kekasih-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan kamu melihat gunung-gunung, kamu mengira berdiri tegak namun ia berjalan dengan cepat layaknya gerakan awan yang dihembuskan angin.
Dan ini adalah ciptaan Allah yang menciptakan segala sesuatu yang sangat bagus dan canggih.
Sesungguhnya Allah Maha Mengenal apa yang kalian lakukan wahai manusia, baik berupa kebaikan maupun keburukan dan Dia akan membalas kalian atas itu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu.
(An Naml:88)

Artinya, Dia melakukannya dengan kekuasaan-Nya Yang Mahabesar.
yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu.
(An Naml:88) Yaitu yang membuat semua ciptaan-Nya dengan serapi-rapinya dan membekalinya dengan kebijakan yang diperlukan oleh masing-masingnya.

sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (An Naml:88)

Yakni Dia Maha Mengetahui semua yang diperbuat oleh hamba-hamba-Nya amal baik dan amal buruk mereka, dan kelak Dia akan memberikan balasan amal perbuatan mereka itu dengan sempurna.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan perihal orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang celaka di hari kiamat itu.
Maka Dia berfirman:

Barang siapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya.
(An Naml:89)

Qatadah mengatakan bahwa dengan syarat ikhlas.
Zainul Abidin mengatakan, yang dimaksud dengan kebaikan ialah kalimah “Tidak ada Tuhan selain Allah.” Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan pada ayat lain bahwa pahala suatu amal kebaikan itu adalah sepuluh kali lipatnya.


Kata Pilihan Dalam Surah An Naml (27) Ayat 88

SAHAAB
لسَّحَاب

Lafaz ini menunjukkan makna menarik sesuatu dan memanjangkannya. Maknanya awan, baik yang mengandung air maupun tidak. Dinamakan awan karena ia berjalan dan saling tarik-menarik di udara sehingga berkumpul menjadi satu dengan kehendak Allah. Jamaknya ialah suhub. Ia bisa digunakan untuk mudzakkar dan mu’annats, contohnya sahaab tsaqiil atau tsaqiilah,

Ia disebut sembilan kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 164;
-Al A’raaf (7), ayat 57;
-Ar Ra’d (13), ayat 12;
-An Nuur (24), ayat 40, 43;
-An Naml (27), ayat 88
-Ar Rum (30), ayat 48;
-Faathir (35), ayat 9;
-Ath Thur (52), ayat 44.

Sahaab ialah awan yang tunduk dengan kekuasaan Allah, berjalan berdasarkan kehendak Allah, membawa air yang lebat, lalu membasahi bumi sedikit demi sedikit.

Ka’ab Al Ahbar berkata,
“Awan adalah tapisan hujan, sekiranya tidak ada awan, pasti hujan itu akan membinasakan apa yang terdapat di bumi.”

Dalam surah An Nuur, ayat 43, Allah menjalankan awan dengan kekuasaan Nya dan ia masih lemah, lalu dia mengumpulkannya selepas terpisah-pisah, dan menjadikannya bertindih-tindih sehingga menjadi tebal, kemudian turunlah hujan dari celah-celahnya ke bumi yang mati yang dibawa oleh angin.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:292

Informasi Surah An Naml (النمل)
Surat An Naml terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah dan diturun­kan sesudah surat Asy Syu’araa’.

Dinamai dengan “An Naml”,
karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan “An Naml” (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing­-masing, supaya jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan tentaranya yang akan lalu di tempat itu.
Mendengar perintah raja semut kepada anak buahnya itu, Nabi Sulaiman tersenyum dan ta’jub atas keteraturan kerajaan semut itu dan beliau mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan ni’mat kepadanya, berupa kerajaan, kekayaan, memahami ucapan-ucapan binatang, mempunyai tentara yang terdiri atas jin, manusia, burung dan sebagai­ nya.
Nabi Sulaiman ‘alaihis salam yang telah diberi Allah ni’mat yang besar itu tidak merasa takbur dan sombong, dan sebagai seorang hamba Allah mohon agar Allah memasukkannya ke dalam golong­an orang-orang yang saleh.
Allah subhanahu wa ta’ala menyebut binatang semut dalam surat ini agar manusia mengambil pelajaran dari kehidupan semut itu.
Semut adalah binatang yang hidup berkelompok di dalam tanah, membuat liang dan ruang yang bertingkat-tingkat sebagai rumah dan gudang tempat menyimpan makanan musim dingin.
Kerapian dan kedisiplinan yang terdapat dalam kerajaan semut ini, di­ nyatakan Allah dalam ayat ini dengan bagaimana rakyat semut mencari perlindungan segera agar jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan tentaranya, setelah menerima peringatan dari rajanya.

Secara tidak langsung Allah mengingatkan juga kepada manusia agar dalam berusaha untuk mencukupkan kebutuhan sehari-hari, mementingkan pula kemaslahatan bersama dan se­bagainya, rakyat semut mempunyai organisasi dan kerja sama yang baik pula.
Dengan mengisah­kan kisah Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dalam surat ini Allah mengisyaratkan hari depan dan kebesaran nabi Muhammad ﷺ Nabi Sulaiman ‘alaihis salam sebagai seorang nabi, rasul dan raja yang dianugerahi ke­kayaan yang melimpah ruah, begitu pula Nabi Muhammad s.a.w, sebagai seorang nabi, rasul dan seorang kepala negara yang ummi’ dan miskin akan berhasil membawa dan memimpin umatnya ke jalan Allah.

Keimanan:

Al Qur’an adalah rahmat dan petunjuk bagi orang-orang mu’min
ke Esaan dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala dan keadaan-Nya tidak memerlukan sekutu-sekutu dalam mengatur alam ini
hanya Allah-lah Yang tahu tentang yang ghaib
adanya hari berbangkit bukanlah suatu dongengan.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Nabi Sulaiman a.s. dengan semut, dengan burung hud-hud dan dengan ratu Balqis
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Luth a.s. dengan kaum­nya.

Lain-lain:

Ciri-ciri orang mu’min
Al Qur’an menjelaskan apa yang diperselisilhkan Bani Israil
hanya orang-orang mu’minlah yang dapat menerima petunjuk kejadian-kejadian sebelum datangnya kiamat dan keadaan orang-orang yang beriman dan tidak beriman waktu itu
Allah menyuruh Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya memuji dan menyembah Allah saja dan membaca Al Qur’an
Allah akan memperlihatkan kepada kaum musyrikin akan kebenaran ayat-ayat-Nya.

Ayat-ayat dalam Surah An Naml (93 ayat)

Audio

Qari Internasional

An Naml (27) ayat 88 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
An Naml (27) ayat 88 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
An Naml (27) ayat 88 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An Naml - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full 93 Ayat & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah An-Naml (bahasa Arab:النّمل, "Semut") adalah surah ke-27 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah dan diturunkan sesudah Surah Asy-Syu’ara.
Dinamai dengan An-Naml yang berarti semut, karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan An-Naml (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing-masing, supaya jangan terlindas oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya yang akan melewati tempat itu.

Nomor Surah27
Nama SurahAn Naml
Arabالنمل
ArtiSemut
Nama lainSulaiman, Tha Sin
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu48
JuzJuz 19 (1-59) sampai juz 20 (60-93)
Jumlah ruku'7 ruku'
Jumlah ayat93
Jumlah kata1166
Jumlah huruf4795
Surah sebelumnyaSurah Asy-Syu'ara'
Surah selanjutnyaSurah Al-Qasas
4.4
Ratingmu: 4.8 (20 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/27-88







Pembahasan ▪ an naml 88 ▪ an naml ayat 88 ▪ arti an-naml ayat 88 ▪ isi surat an-naml ayat 88 ▪ qs al naml ayat 88 ▪ QS An naml 88 Mp3 ▪ surat an naml tentang gunung

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta