Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Naml

An Naml (Semut) surah 27 ayat 87


وَ یَوۡمَ یُنۡفَخُ فِی الصُّوۡرِ فَفَزِعَ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ اِلَّا مَنۡ شَآءَ اللّٰہُ ؕ وَ کُلٌّ اَتَوۡہُ دٰخِرِیۡنَ
Wayauma yunfakhu fiish-shuuri fafazi’a man fiis-samaawaati waman fiil ardhi ilaa man syaa-allahu wakullun atauhu da-aakhiriin(a);

Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.
Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.
―QS. 27:87
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Manusia dibangkitkan dari kubur ▪ Allah memiliki kunci alam ghaib
27:87, 27 87, 27-87, An Naml 87, AnNaml 87, An-Naml 87
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Naml (27) : 87. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala setelah membentangkan peristiwa kiamat secara khusus, menjelaskan secara umum, yaitu pada hari ditiup sangkakala oleh malaikat Israfil, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali beberapa makhluk yang tertentu seperti Jibril, Mikail, Israfil, Izrail dan lain-lain.
Tiupan sangkakala itu terjadi dua kali, dengan tiupan pertama ini yang diberi nama "nafkhatus-Sa'iq" akan matilah semua makhluk selain mereka yang dikecualikan, kemudian dengan tiupan kedua mereka semuanya akan dibangkitkan dari kubur mereka masing-masing, sebagaimana dalam firman-Nya:

Dan ditiuplah sangkakala maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah.
Kemudian ditiup sangkakala sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).

(Q.S.
Az Zumar: 68)

Tiupan yang kedua ini diberi nama "nafkhatul Ba'is" artinya tiupan kebangkitan, seperti dalam firman-Nya:

Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.
(Q.S.
Yasin: 51)

Peristiwa ini disebutkan pula dalam firman Allah:

(Yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan.
Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka".

(Q.S.
Al Ma'arij: 43-44)

An Naml (27) ayat 87 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Naml (27) ayat 87 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Naml (27) ayat 87 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Muhammad, ingatlah suatu saat ketika malaikat Israfil membunyikan terompet atas izin Allah.
Saat itu seluruh penghuni langit dan bumi akan sangat terkejut oleh dahsyatnya bunyi terompet itu, kecuali orang-orang yang diberi ketenangan oleh Allah dan diamankan dari kepanikan.
Seluruh makhluk akan menghadap Allah dalam keadaan hina.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan hari ketika ditiup sangkakala) tiupan sangkakala malaikat Israfil yang pertama (maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi) mereka ketakutan, sehingga ketakutan itu mematikan mereka, sebagaimana yang diungkapkan oleh ayat lainnya, yaitu dengan ungkapan Sha'iqa, yakni terkejut yang mematikan.
Dan ungkapan dalam ayat ini dipakai Fi'il Madhi untuk menggambarkan kepastian terjadinya hal ini (kecuali siapa yang dikehendaki Allah) yaitu malaikat Jibril, malaikat Mikail, malaikat Israfil dan malaikat Maut.
Tetapi menurut suatu riwayat yang bersumber dari sahabat Ibnu Abbas disebutkan, bahwa mereka yang tidak terkejut adalah para Syuhada, karena mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan diberi rezeki.
(Dan semua mereka) lafal Kullun ini harakat Tanwinnya merupakan pergantian daripada Mudhaf Ilaih, artinya mereka semua sesudah dihidupkan kembali di hari kiamat (datang menghadap kepada-Nya) dapat dibaca Atauhu dan Atuhu (dengan merendahkan diri) artinya merasa rendah diri.
Dan ungkapan lafal Atauhu dengan memakai Fi'il Madhi untuk menunjukkan, bahwa hal itu pasti terjadi.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ingatlah wahai Rasul saat malaikat meniup sangkakala lalu penghuni langit dan bumi terkejut bukan kepalang karena dahsyatnya tiupan, kecuali siapa yang dikecualikan oleh Allah dari kalangan orang-orang yang Dia muliakan dan jaga dari keterkejutan.
Semua makhluk akan datang kepada Rabb mereka dalam keadaan tunduk dan patuh.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala menceritakan tentang dahsyatnya hari sangkakala ditiup pada tiupan yang pertama, yaitu tiupan yang membuat semua makhluk terkejut karena kedahsyatannya.
Di dalam hadis disebutkan bahwa sur adalah sangkakala yang ditiup.
Di dalam hadis sangkakala ini disebutkan bahwa Malaikat Israfil-lah yang melakukan tiupan padanya atas perintah dari Allah subhanahu wa ta'ala Tiupan yang pertama, yaitu tiupan yang mematikan semua makhluk, dilakukan sangat lama.
Hal ini terjadi di saat usia dunia habis, yaitu pada hari kiamat terjadi yang hanya menimpa orang-orang yang jahat saja yang ada saat itu, maka terkejutlah (matilah) semua makhluk yang ada di langit dan yang ada di bumi.

kecuali siapa yang dikehendaki Allah.
(An Naml:87)

Mereka adalah para syuhada, karena sesungguhnya mereka hidup di sisi Tuhannya dengan diberi rezeki.

Imam Muslim ibnul Hajjaj mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Mu'az Al-Anbari, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari An-Nu'man ibnu Salim, ia pernah mendengar Ya'qub ibnu Asim ibnu Urwah ibnu Mas'ud As-Saqafi mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amr saat didatangi oleh seorang lelaki yang bertanya kepadanya, "Apakah ada hadis yang menyebutkan bahwa hari kiamat itu terjadinya sampai anu dan anu?"
Ibnu Amr menjawab dengan mengucapkan kalimat Subhanallah (Mahasuci Allah) atau La Ilaha Illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah) atau kalimat yang semisal dengan keduanya.
Selanjutnya ia mengatakan, sesungguhnya ia hampir saja tidak akan menceritakan kepada seorang pun sesuatu hal yang mengenainya selamanya.
Sesungguhnya yang pernah kukatakan ialah kelak kalian akan menyaksikan suatu peristiwa yang besar yang merusak Baitullah dalam waktu yang tidak lama.
Lalu disebutkan bahwa akan terjadi anu dan anu.
Kemudian ia melanjutkan kisahnya, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Kelak akan muncul Dajjal di kalangan umatku dan tinggal selama empat puluh —perawi mengatakan bahwa ia tidak mengetahui apakah yang dimaksud adalah empat puluh hari atau bulan atau tahun—.
Lalu Allah mengirimkan Isa ibnu Maryam yang rupanya seperti Urwah ibnu Mas'ud.
Maka Isa mengejar Dajjal dan membiasakannya.
Kemudian manusia tinggal selama tujuh tahun tanpa ada persengketaan pun di antara dua orang.
Setelah itu Allah mengirimkan angin sejuk dari arah negeri Syam, maka tiada seorang pun di muka bumi ini yang di dalam hatinya masih terdapat kebaikan atau iman sebesar zarrah, melainkan angin itu mencabut 'nyawanya.
Sehingga andaikata seseorang dari kalian (yang beriman) bersembunyi di dalam gunung, niscaya angin itu memasukinya hingga mencabut nyawanya.
Abdullah ibnu Amr melanjutkan, bahwa dia mendengarnya dari Rasulullah ﷺ: Maka yang tertinggal hanyalah orang-orang yang jahat saja (di muka bumi ini), mereka sangat kurang akalnya dan mempunyai naluri hewan pemangsa, mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari perbuatan mungkar.
Lalu muncullah setan kepada mereka seraya berkata "Maukah kalian taat kepadaku?"
Mereka bertanya, "Apakah yang akan engkau perintahkan kepada kami?"
Setan memerintahkan kepada mereka menyembah berhala (mereka menurutinya), dan sekalipun demikian rezeki mereka berlimpah dan penghidupan mereka baik.
Kemudian ditiuplah sangkakala, maka tidak sekali-kali seseorang mendengarnya melainkan ia buka lebar-lebar telinganya mendengarkan­nya.
Orang yang mula-mula mendengarnya ialah seorang lelaki yang sedang berada di dalam kolam ternak untanya (membersihkannya).
Lalu matilah ia, dan semua manusia pun mati.
Sesudah itu Allah mengirimkan atau menurunkan hujan yang sangat deras seperti pekatnya naungan (awan).
Maka tumbuhlah jasad-jasad karenanya (dari bumi).
Kemudian ditiup lagi sangkakala untuk kedua kalinya, maka dengan serta merta mereka bangkit dan menunggu.
Lalu dikatakan, "Hai manusia, menghadaplah kalian kepada Tuhan kalian!" (Dikatakan kepada para malaikat), "Berdirikanlah mereka, sesungguhnya mereka akan dimintai pertanggungjawabannya." Kemudian dikatakan, "Keluarkanlah orang-orang yang akan dikirim ke neraka!" Ditanyakan, "Berapakah jumlahnya?"
Dijawab, "Dari tiap seribu orang sebanyak sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang." Abdullah ibnu Amr mengatakan bahwa yang demikian itu terjadi di hari (yang pada hari itu) anak-anak menjadi beruban (karena kesusahan yang sangat di hari itu), dan hari itu adalah hari disingkapkannya betis-betis.

Yang dimaksud dengan kata اللِّيتُ ialah leher, maksudnya memiringkan lehernya untuk mendengarkannya dengan baik suara dari langit itu.
Hal inilah yang dimaksud dengan tiupan yang mengejutkan, lalu tiupan yang berikutnya adalah yang mematikan semua makhluk.
Dan tiupan yang ketiga adalah tiupan yang membangkitkan semua makhluk untuk menghadap kepada Tuhan semesta alam.
Inilah yang dimaksud dengan hari berbangkit bagi semua makhluk dari kuburnya masing-masing.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.
(An Naml:87)

Yakni dalam keadaan rendah lagi tunduk, tiada seorang pun yang menentang perintah-Nya.
Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya.
(Al Israa':52)

Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).
(Ar Ruum:25)

Di dalam hadis mengenai sangkakala disebutkan bahwa dalam tiupan yang ketiga Allah memerintahkan (para malaikat) untuk meletakkan semua roh pada lubang-lubang sangkakala.
Kemudian Malaikat Israfil melakukan tiupan padanya setelah semua jasad dan tubuh muncul dari kuburnya masing-masing dan dari tempat-tempatnya.
Apabila tiupan dilakukan, maka beterbanganlah roh-roh itu, roh orang-orang mukmin berkilauan mengeluarkan cahaya terang, sedangkan roh orang-orang kafir gelap (hitam).
Lalu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Demi kebesaran dan Keagungan-Ku, sungguh setiap roh harus kembali ke jasadnya masing-masing." Maka roh-roh itu datang kepada jasadnya masing-masing dan merasuk ke dalam tubuhnya sebagaimana racun yang menjalar di tubuh orang yang terkena patukan hewan beracun.
Kemudian mereka bangkit berdiri seraya menepiskan debu yang berasal dari kuburan mereka.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman menggambarkan kejadian ini:

(yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia).
(Al Ma'aarij:43)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.
(An Naml:88)

Maksudnya, kamu lihat gunung-gunung itu seakan-akan tetap di tempatnya seperti semula, padahal ia berjalan seperti jalannya awan, yakni bergerak meninggalkan tempat-tempatnya.
Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

pada hari ketika langit benar-benar berguncang, dan gunung-gunung benar-benar berjalan.
(At-Tur: 9-10)

Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, "Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.
(Taha: 105­-107)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar.
(Al Kahfi:47)

Kata Pilihan Dalam Surah An Naml (27) Ayat 87

DAAKHIRUUN
دَٰخِرُون

Lafaz ini adalah ism fa'il dari lafaz dakhara maksudnya yang kecil, yang hina, yang rendah orang yang melakukan apa yang diperintahkan, atau enggan se­hingga menjadikannya rendah dan hina.

Lafaz ini disebut empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-An Nahl (16), ayat 48;
-Ash Shaffaat (37), ayat 18;
-An Naml (27), ayat 87;
-Al Mu'min (40), ayat 60.

Mujahid, Qatadah, dan As Suddi berkata,
"Lafaz daakhiruun bermakna shaaghiruun yaitu merendah diri."

Ibnu Qutaibah juga berpendapat, "Daakhiruun dalam surah Al Nahl bermakna shaaghiruun yaitu yang rendah dan patuh dan ini berkaitan dengan makhluk yang taat dan sujud pada Allah"

Muhammad Ali As Sabuni menafsirkan segala sesuatu seperti gunung-gunung, pohon, batu dan sebagainya tunduk dan patuh pada kekuasaan Allah dan pentadbirannya serta sujud dihadapan Allah dan tidak keluar dari kehendak Nya serta kemauan Nya.

Dalam Tafsir Al Azhar, ia bermakna alam beredar. Segala sesuatu berjalan tidak berhenti semuanya melaksanakan tugas apa yang ditentukan oleh Allah, semua patuh dan sujud tidak menyimpang menurut kemaan sendiri dan tidak ada yang menyombong­kan diri dan membantah apa yang ditentukan oleh Allah.

Dalam surah Al Mu'min menggambarkan ke­adaan orang yang sombong dan angkuh, tidak taat kepada Allah dimana mereka memasuki neraka dalam keadaan hina. Dari semua lafaz daakhiruun atau daakhiriin yang disebut di dalam Al Qur'an mengandung tiga makna dalam dua keadaan.

Pertama, lafaz daakhiruun atau daakhiriin bermaksud patuh dan taat seperti dalam surah al-Nahl. Kepatuhan di sini datang dari seluruh makhluk ciptaannya di langit dan di bumi seperti pentafsiran di atas dan ini ke­ adaan yang pertama.

Kedua, ia bermakna merendahkan diri seperti dalam surah Ash Shaffaat dan An Naml. Ini adalah keadaan yang kedua di mana seluruh makhluk pada hari kiamat nanti kepada Allah dalam keadaan merendahkan diri.

Ketiga, ia bermakna hina atau dalam keadaan hina seperti maksud dari surah Al Mu'min. Ini adalah keadaan yang kedua, menceritakan hinanya orang sombong ketika memasuki neraka karena keangkuhan dan tidak patuh kepada Allah.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:220-221

Informasi Surah An Naml (النمل)
Surat An Naml terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah dan diturun­kan sesudah surat Asy Syu'araa'.

Dinamai dengan "An Naml",
karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan "An Naml" (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing­-masing, supaya jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman 'alaihis salam dan tentaranya yang akan lalu di tempat itu.
Mendengar perintah raja semut kepada anak buahnya itu, Nabi Sulaiman tersenyum dan ta'jub atas keteraturan kerajaan semut itu dan beliau mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan ni'mat kepadanya, berupa kerajaan, kekayaan, memahami ucapan-ucapan binatang, mempunyai tentara yang terdiri atas jin, manusia, burung dan sebagai­ nya.
Nabi Sulaiman 'alaihis salam yang telah diberi Allah ni'mat yang besar itu tidak merasa takbur dan sombong, dan sebagai seorang hamba Allah mohon agar Allah memasukkannya ke dalam golong­an orang-orang yang saleh.
Allah subhanahu wa ta'ala menyebut binatang semut dalam surat ini agar manusia mengambil pelajaran dari kehidupan semut itu.
Semut adalah binatang yang hidup berkelompok di dalam tanah, membuat liang dan ruang yang bertingkat-tingkat sebagai rumah dan gudang tempat menyimpan makanan musim dingin.
Kerapian dan kedisiplinan yang terdapat dalam kerajaan semut ini, di­ nyatakan Allah dalam ayat ini dengan bagaimana rakyat semut mencari perlindungan segera agar jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman 'alaihis salam dan tentaranya, setelah menerima peringatan dari rajanya.

Secara tidak langsung Allah mengingatkan juga kepada manusia agar dalam berusaha untuk mencukupkan kebutuhan sehari-hari, mementingkan pula kemaslahatan bersama dan se­bagainya, rakyat semut mempunyai organisasi dan kerja sama yang baik pula.
Dengan mengisah­kan kisah Nabi Sulaiman 'alaihis salam dalam surat ini Allah mengisyaratkan hari depan dan kebesaran nabi Muhammad ﷺ Nabi Sulaiman 'alaihis salam sebagai seorang nabi, rasul dan raja yang dianugerahi ke­kayaan yang melimpah ruah, begitu pula Nabi Muhammad s.a.w, sebagai seorang nabi, rasul dan seorang kepala negara yang ummi' dan miskin akan berhasil membawa dan memimpin umatnya ke jalan Allah.

Keimanan:

Al Qur'an adalah rahmat dan petunjuk bagi orang-orang mu'min
ke Esaan dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala dan keadaan-Nya tidak memerlukan sekutu-sekutu dalam mengatur alam ini
hanya Allah-lah Yang tahu tentang yang ghaib
adanya hari berbangkit bukanlah suatu dongengan.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Nabi Sulaiman a.s. dengan semut, dengan burung hud-hud dan dengan ratu Balqis
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Luth a.s. dengan kaum­nya.

Lain-lain:

Ciri-ciri orang mu'min
Al Qur'an menjelaskan apa yang diperselisilhkan Bani Israil
hanya orang-orang mu'minlah yang dapat menerima petunjuk kejadian-kejadian sebelum datangnya kiamat dan keadaan orang-orang yang beriman dan tidak beriman waktu itu
Allah menyuruh Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya memuji dan menyembah Allah saja dan membaca Al Qur'an
Allah akan memperlihatkan kepada kaum musyrikin akan kebenaran ayat-ayat-Nya.


Gambar Kutipan Surah An Naml Ayat 87 *beta

Surah An Naml Ayat 87



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Naml

Surah An-Naml (bahasa Arab:النّمل, "Semut") adalah surah ke-27 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah dan diturunkan sesudah Surah Asy-Syu’ara.
Dinamai dengan An-Naml yang berarti semut, karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan An-Naml (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing-masing, supaya jangan terlindas oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya yang akan melewati tempat itu.

Nomor Surah 27
Nama Surah An Naml
Arab النمل
Arti Semut
Nama lain Sulaiman, Tha Sin
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 48
Juz Juz 19 (1-59) sampai juz 20 (60-93)
Jumlah ruku' 7 ruku'
Jumlah ayat 93
Jumlah kata 1166
Jumlah huruf 4795
Surah sebelumnya Surah Asy-Syu'ara'
Surah selanjutnya Surah Al-Qasas
4.9
Rating Pembaca: 4.7 (29 votes)
Sending







✔ hukum bacaan yg ada pada ayat ke 87 dari surat an naml, kandungan surah an naml ayat 87

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku