Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Naml

An Naml (Semut) surah 27 ayat 80


اِنَّکَ لَا تُسۡمِعُ الۡمَوۡتٰی وَ لَا تُسۡمِعُ الصُّمَّ الدُّعَآءَ اِذَا وَلَّوۡا مُدۡبِرِیۡنَ
Innaka laa tusmi’ul mauta walaa tusmi’ush-shummaddu’aa-a idzaa wallau mudbiriin(a);

Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang.
―QS. 27:80
Topik ▪ Menyeru pada ketakwaan
27:80, 27 80, 27-80, An Naml 80, AnNaml 80, An-Naml 80
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Naml (27) : 80. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan kepada Nabi Muhammad beliau tidak dibebani menjadikan orang-orang musyrik itu beriman, beliau ditugaskan hanya sekadar menyampaikan seruan atau risalah dari Allah subhanahu wa ta'ala dan tidak termasuk wewenang beliau untuk merubah orang kafir menjadi seorang muslim.
Hal tersebut berada dalam tangan kekuasaan Allah dan Nabi tidak mampu untuk memasukkan petunjuk ke dalam hati orang yang sudah terkunci mati, karena itu Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat ini menjelaskan bahwa Muhammad tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati itu mendengar dan tidak pula menjadikan orang-orang tuli mendengar paggilan, terlebih-lebih lagi bila mereka telah berpaling membelakang.
Sebabnya, mereka diserupakan dengan orang yang telah mati, karena semua ayat yang dibacakan di hadapannya sama sekali tidak berbekas, sama juga seperti memanggil orang yang tuli, tidak ada harapan untuk dapat memenuhi panggilan itu karena tidak didengar sama sekali.
Ayat ini walaupun pada umumnya menerangkan bahwa orang yang telah mati tidak dapat dijadikan oleh seseorang hingga dapat mendengar seruan orang yang masih hidup, ada beberapa hadis yang sahih yang menerangkan seperti yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah berkata pada mayat-mayat kaum musyrikin yang terbunuh waktu perang Badar dan dikubur bersama-sama dalam sebuah sumur (qalib) di Badar.
Lalu beliau ditanya oleh beberapa orang sahabat: "Ya Rasulullah, mengapa engkau berbicara dengan orang yang tak bernyawa lagi?"
Beliau menjawab: "Demi Allah, Yang jiwa saya berada dalam tangan kekuasaan Nya, kamu tidak lebih mendengar kepada ucapanku dari pada mereka.
Artinya kamu dan mayat-mayat itu sama dapat mendengar ucapanku, hanya bedanya kamu dapat menjawab, sedang mereka tidak.
Dalam beberapa hadis yang sahih diterangkan pula oleh Nabi ﷺ, bahwa bila seorang mayat telah selesai dimasukkan kekuburnya ia dapat mendengar suara sepatu atau terompah orang-orang yang mengantarnya.
Pengertian umum ayat ini ditakhsiskan oleh hadis ini.
Di antara ayat-ayat Alquran ada yang sepintas lalu kelihatannya seperti berlawanan, padahal sebenarnya tidak, hanya harus berhati-hati cara menafsirkannya, yaitu seperti firman Allah:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
(Q.S.
Al Qasas: 56)

Dari firman-Nya:

Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
(Q.S.
Asy Syu'ara: 52)

Nabi Muhammad ﷺ tidak diberi kemampuan untuk memberikan petunjuk (taufik untuk beriman) walaupun kepada orang yang dikasihinya seperti pamannya sendiri Abu Tatib, tetapi Muhammad ﷺ benar-henar dapat memberi petunjuk (menunjukkan) kepada jalan yang lurus atas izin Allah subhanahu wa ta'ala

An Naml (27) ayat 80 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Naml (27) ayat 80 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Naml (27) ayat 80 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sungguh kamu, Muhammad, tidak akan dapat mendatangkan hidayah kepada orang-orang kafir.
Mereka tidak sadar, bagaikan orang mati.
Mereka juga tidak dapat mendengar bagaikan orang yang kehilangan indera pendengarnya.
Mereka tidak memiliki kesiapan mendengarkan dakwahmu, karena mereka telah terlanjur larut dalam sikap berpaling darimu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

("Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan tidak pula menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila) dapat dibaca Tahqiq dan Tas-hil (mereka telah berpaling membelakang).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya kamu (wahai Rasul) tidak kuasa memperdengarkan kebenaran kepada orang yang hatinya telah ditutup oleh Allah lalu Dia mematikannya.
Dakwahmu juga tidak akan terdengar oleh siapa yang Allah tulikan pendengarannya dari mendengarkan kebenaran saat mereka berpaling menjauh darimu.
Orang yang tuli tidak akan mendengar panggilan sekalipun di datang menghadap, lalu bagaimana bila dia berpaling dan menjauh??

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar.
(An-Naml: 80)

Maksudnya, kamu tidak dapat memperdengarkan kepada mereka sesuatu pun yang bermanfaat bagi mereka.
Demikian pula halnya orang-orang kafir (di masamu) pada hati mereka terdapat penutup dan pada telinga mereka terdapat penutup kekafiran.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling kebelakang.
Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesalan mereka.
Kamu tidak dapat menjadikan (seorang pun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri.
(An-Naml: 80-81)

Sesungguhnya yang mau mendengarkanmu hanyalah orang yang mempunyai pendengaran dan pandangan hati yang bermanfaat bagi dirinya, lagi tunduk kepada Allah dan taat kepada apa yang disampaikan oleh para rasul dari Allah subhanahu wa ta'ala

Informasi Surah An Naml (النمل)
Surat An Naml terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah dan diturun­kan sesudah surat Asy Syu'araa'.

Dinamai dengan "An Naml",
karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan "An Naml" (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing­-masing, supaya jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman 'alaihis salam dan tentaranya yang akan lalu di tempat itu.
Mendengar perintah raja semut kepada anak buahnya itu, Nabi Sulaiman tersenyum dan ta'jub atas keteraturan kerajaan semut itu dan beliau mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan ni'mat kepadanya, berupa kerajaan, kekayaan, memahami ucapan-ucapan binatang, mempunyai tentara yang terdiri atas jin, manusia, burung dan sebagai­ nya.
Nabi Sulaiman 'alaihis salam yang telah diberi Allah ni'mat yang besar itu tidak merasa takbur dan sombong, dan sebagai seorang hamba Allah mohon agar Allah memasukkannya ke dalam golong­an orang-orang yang saleh.
Allah subhanahu wa ta'ala menyebut binatang semut dalam surat ini agar manusia mengambil pelajaran dari kehidupan semut itu.
Semut adalah binatang yang hidup berkelompok di dalam tanah, membuat liang dan ruang yang bertingkat-tingkat sebagai rumah dan gudang tempat menyimpan makanan musim dingin.
Kerapian dan kedisiplinan yang terdapat dalam kerajaan semut ini, di­ nyatakan Allah dalam ayat ini dengan bagaimana rakyat semut mencari perlindungan segera agar jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman 'alaihis salam dan tentaranya, setelah menerima peringatan dari rajanya.

Secara tidak langsung Allah mengingatkan juga kepada manusia agar dalam berusaha untuk mencukupkan kebutuhan sehari-hari, mementingkan pula kemaslahatan bersama dan se­bagainya, rakyat semut mempunyai organisasi dan kerja sama yang baik pula.
Dengan mengisah­kan kisah Nabi Sulaiman 'alaihis salam dalam surat ini Allah mengisyaratkan hari depan dan kebesaran nabi Muhammad ﷺ Nabi Sulaiman 'alaihis salam sebagai seorang nabi, rasul dan raja yang dianugerahi ke­kayaan yang melimpah ruah, begitu pula Nabi Muhammad s.a.w, sebagai seorang nabi, rasul dan seorang kepala negara yang ummi' dan miskin akan berhasil membawa dan memimpin umatnya ke jalan Allah.

Keimanan:

Al Qur'an adalah rahmat dan petunjuk bagi orang-orang mu'min
ke Esaan dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala dan keadaan-Nya tidak memerlukan sekutu-sekutu dalam mengatur alam ini
hanya Allah-lah Yang tahu tentang yang ghaib
adanya hari berbangkit bukanlah suatu dongengan.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Nabi Sulaiman a.s. dengan semut, dengan burung hud-hud dan dengan ratu Balqis
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Luth a.s. dengan kaum­nya.

Lain-lain:

Ciri-ciri orang mu'min
Al Qur'an menjelaskan apa yang diperselisilhkan Bani Israil
hanya orang-orang mu'minlah yang dapat menerima petunjuk kejadian-kejadian sebelum datangnya kiamat dan keadaan orang-orang yang beriman dan tidak beriman waktu itu
Allah menyuruh Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya memuji dan menyembah Allah saja dan membaca Al Qur'an
Allah akan memperlihatkan kepada kaum musyrikin akan kebenaran ayat-ayat-Nya.


Gambar Kutipan Surah An Naml Ayat 80 *beta

Surah An Naml Ayat 80



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Naml

Surah An-Naml (bahasa Arab:النّمل, "Semut") adalah surah ke-27 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah dan diturunkan sesudah Surah Asy-Syu’ara.
Dinamai dengan An-Naml yang berarti semut, karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan An-Naml (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing-masing, supaya jangan terlindas oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya yang akan melewati tempat itu.

Nomor Surah 27
Nama Surah An Naml
Arab النمل
Arti Semut
Nama lain Sulaiman, Tha Sin
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 48
Juz Juz 19 (1-59) sampai juz 20 (60-93)
Jumlah ruku' 7 ruku'
Jumlah ayat 93
Jumlah kata 1166
Jumlah huruf 4795
Surah sebelumnya Surah Asy-Syu'ara'
Surah selanjutnya Surah Al-Qasas
4.8
Rating Pembaca: 4.8 (12 votes)
Sending








[apsl-login-lite login_text='❤ Bookmark ayat ini?'] [bookmark] 📖 Lihat Semua Bookmark-ku