Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Naml

An Naml (Semut) surah 27 ayat 8


فَلَمَّا جَآءَہَا نُوۡدِیَ اَنۡۢ بُوۡرِکَ مَنۡ فِی النَّارِ وَ مَنۡ حَوۡلَہَا ؕ وَ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ
Falammaa jaa-ahaa nuudiya an buurika man fiinnaari waman haulahaa wasubhaanallahi rabbil ‘aalamiin(a);

Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia:
“Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”.
―QS. 27:8
Topik ▪ Asal terciptanya manusia
27:8, 27 8, 27-8, An Naml 8, AnNaml 8, An-Naml 8
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Naml (27) : 8. Oleh Kementrian Agama RI

Ketika Musa datang mendekati api itu ternyata yang disangkanya api itu bukan api seperti yang dilihatnya, tetapi cahaya yang memancar dari "Ullaiq",
yaitu sejenis tumbuh-tumbuhan rambut berwarna hijau yang melilit pada sebuah dahan kayu dan terkulai dari dahan itu.

Cahaya yang terpancar dari pohon itu bersinar cemerlang, sedang dahan pohon itu tetap hijau dan segar, tidak terbakar atau layu.
Di tempat itu Musa as tidak menemukan seorangpun, karena itu ia heran dan tercengang melihat keadaan yang demikian.
Ia bermaksud hendak memetik sebagian dari nyala api itu dari dahan yang condong kepadanya itu.
Waktu itu mencoba menyulut nyala api, ia merasa takut dan mundur.
Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba ia diseru oleh suatu suara yang datangnya dari arah pohon itu.
Suara yang menyeru itu menyatakan bahwa telah diberkati siapa yang berada di dekat api itu yaitu Musa dan para malaikat.

Ucapan pernyataan telah diberkati ini , merupakan salam dan kehormatan dari Allah subhanahu wa ta'ala kepada Nabi Musa sebagaimana salam para malaikat kepada Nabi Ibrahim as dalam firman-Nya:

Rahmat Allah dan berkat-Nya, dicurahkan atas kamu wahai ahlulbait.

Abdulah Ibnu Abbas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan "diberkati" siapa yang berada di dekat api ialah disucikan Allah.

Menurut Ibnu Abbas bahwa yang kelihatan sebagai api oleh Nabi Musa itu bukanlah api, melainkan cahaya yang menyala-nyala seperti api.

Menurut Ibnu Abbas juga, bahwa itu adalah cahaya Tuhan Semesta alam".
Hal ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan Abu Ubaidah dari Abu Musa Al-Asy'ary, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi Allah itu tidur, Dia menurunkan dan menaikkan timbangan, amal malam hari diangkat ke hadapan-Nya sebelum siang, dan amal siang sebelum malam, dan tabir Nya adalah cahaya.
Andaikata Ia membuka tabir-Nya, pasti kesucian cahaya wajah-Nya membakar segala sesuatu yang tercapai oleh pandangan-Nya di antara ciptaan-Nya (H.R.
Muslim)
Kemudian Abu Ubaidah membaca ayat ini.
Peristiwa itu terjadi sewaktu Musa sampai di suatu tempat yang diberkati, yaitu lembah suci yang bernama lembah Thuwa, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

Diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkati, dari sebatang pohon kayu.
(Q.S.
Al Qasas: 30)

Dan firman Allah yang berbunyi:

Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Tuwa.
(Q.S.
An Naziat: 16)

Seruan Allah yang didengar Musa di lembah suci Thuwa ini merupakan wahyu pengangkatan Nabi Musa as sebagai Rasul yang diutus Allah menyampaikan risalah kepada Firaun di Mesir, dengan dibekali bermacam-macam mukjizat.

Musa berhadapan langsung dengan Allah dalam menerima wahyu ini , tetapi Musa tidak dapat melihatnya, karena terhalang oleh satu tabir yang berupa cahaya.

Penerimaan wahyu semacam ini , dari balik tabir merupakan salah satu macam cara penyampaian wahyu Allah kepada para Nabi-Nya.
Hal ini disebut Allah dalam firman-Nya:

Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perkataan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.
(Q.S.
Asy Syu'ara: 51)

Maha suci Allah, Tuhan semesta alam yang berbuat apa yang dikehendaki-Nya, tidak ada sesuatupun makhluk-makhluk-Nya yang menyamai-Nya, Dia Maha Agung dan Maha Tinggi dari seluruh makhluk-Nya.

Yang didengar Musa itu ialah suara firman Allah.
Hal ini dinyatakan Allah dalam ayat 9 bahwa yang menyeru dan memanggilnya ialah Allah, bukan suara makhluk.

Allah Yang Maha Perkasa atas segala sesuatu, Maha bijaksana dalam firman-firman-dan perbuatan-perbuatan-Nya.

An Naml (27) ayat 8 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Naml (27) ayat 8 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Naml (27) ayat 8 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tatkala Musa sampai ke tempat api itu, ia diseru, "Mereka yang berada di dekat atau di sekitar perapian, yaitu malaikat dan Musa sendiri, akan mendapatkan berkah.
Allah Mahasuci dari segala sifat yang tidak layak disandangkan kepada-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka tatkala ia tiba di tempat api itu, diserulah dia, "Bahwa telah diberkati) yakni semoga Allah memberkati (orang yang berada di dekat api itu) yaitu Nabi Musa (dan orang-orang yang berada di sekitarnya) yang terdiri dari para Malaikat.
Atau maknanya terbalik, yakni malaikat dahulu kemudian Nabi Musa.
Lafal Baraka ini bermuta'addi dengan sendirinya sebagaimana dapat bermuta'addi dengan huruf.
Kemudian setelah lafal Fi diperkirakan adanya lafal Makani, maksudnya Fi Makanin Nari, yaitu orang-orang yang ada di sekitar api.
(Dan Maha Suci Allah, Rabb semesta alam) dari semua apa yang diserukan-Nya, maksudnya Maha Suci Allah dari keburukan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Manakala Musa datang kepada api, Allah memanggilnya dan mengabarkan kepadanya bahwa tempat ini adalah tempat suci, Allah memberkahinya dan menjadikannya sebagai tempat untuk berbicara kepada Musa dan mengangkatnya sebagai utusan.
Dan bahwa Allah memberkahi malaikat yang ada pada api itu dan yang ada di sekitarnya, sebagai ungkapan penyucian bagi Allah Rabb seluruh makhluk dari apa yang tidak layak bagi-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Yakni setelah Musa sampai ke tempat api itu, ia melihat pemandangan yang sangat menakjubkan lagi sangat hebat.
Api itu menyala di sebuah pohon yang hijau, semakin besar api itu menyala, maka semakin hijau pula pohon tersebut.
Kemudian Musa mengangkat pandangannya ke atas, dan ternyata ia melihat bahwa cahaya api itu menembus langit.

Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa cahaya itu bukanlah nyala api, melainkan cahaya yang berkilauan.
Menurut riwayat lain dari Ibnu Abbas, itu adalah nur (cahaya) Tuhan semesta alam.
Maka Musa terpana melihat pemandangan yang disaksikannya itu.

diserulah dia, "Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu.” (An Naml:8)

Menurut Ibnu Abbas, makna yang dimaksud ialah disucikan, sedangkan yang dimaksud dengan {وَمَنْ حَوْلَهَا} 'dan orang-orang yang berada di sekitarnya' ialah para malaikat.
Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Al-Hasan, dan Qatadah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Habib, telah menceritakan kepada kami Daud At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dan Al-Mas'udi, dari Amr ibnu Murrah, bahwa ia pernah mendengar Abu Ubaidah menceritakan hadis berikut dari Abu Musa yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya Allah tidak tidur, dan tidaklah pantas bagi-Nya tidur, Dia merendahkan dan meninggikan neraca, dilaporkan kepada-Nya amal malam hari sebelum siang hari, dan amal siang hari sebelum malam hari.
Menurut riwayat Al-Mas'udi ditambahkan seperti berikut: Hijab Allah adalah nur atau api.
Seandainya Dia membukanya, niscaya kesucian Zat-Nya akan membakar segala sesuatu yang dicapai oleh penglihatan-Nya.
Kemudian Abu Ubaidah membacakan firman-Nya: Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya.
(An Naml:8)

Asal hadis ini diketengahkan di dalam kitab Sahih Muslim melalui riwayat Amr ibnu Murrah.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.
(An Naml:8)

Yakni Yang memperbuat segala sesuatu yang dikehendaki-Nya, tiada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya, dan tiada yang dapat meliputi-Nya sesuatu pun dari makhluk-Nya.
Dia Mahatinggi, Mahabesar, lagi Maha Membeda dari semua makhluk.
Bumi dan langit tidak dapat memuat-Nya, bahkan Dialah Yang Maha Esa, bergantung kepada-Nya segala sesuatu lagi Mahasuci dari kemiripan dengan makhluk-makhluk-Nya.

Informasi Surah An Naml (النمل)
Surat An Naml terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah dan diturun­kan sesudah surat Asy Syu'araa'.

Dinamai dengan "An Naml",
karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan "An Naml" (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing­-masing, supaya jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman 'alaihis salam dan tentaranya yang akan lalu di tempat itu.
Mendengar perintah raja semut kepada anak buahnya itu, Nabi Sulaiman tersenyum dan ta'jub atas keteraturan kerajaan semut itu dan beliau mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan ni'mat kepadanya, berupa kerajaan, kekayaan, memahami ucapan-ucapan binatang, mempunyai tentara yang terdiri atas jin, manusia, burung dan sebagai­ nya.
Nabi Sulaiman 'alaihis salam yang telah diberi Allah ni'mat yang besar itu tidak merasa takbur dan sombong, dan sebagai seorang hamba Allah mohon agar Allah memasukkannya ke dalam golong­an orang-orang yang saleh.
Allah subhanahu wa ta'ala menyebut binatang semut dalam surat ini agar manusia mengambil pelajaran dari kehidupan semut itu.
Semut adalah binatang yang hidup berkelompok di dalam tanah, membuat liang dan ruang yang bertingkat-tingkat sebagai rumah dan gudang tempat menyimpan makanan musim dingin.
Kerapian dan kedisiplinan yang terdapat dalam kerajaan semut ini, di­ nyatakan Allah dalam ayat ini dengan bagaimana rakyat semut mencari perlindungan segera agar jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman 'alaihis salam dan tentaranya, setelah menerima peringatan dari rajanya.

Secara tidak langsung Allah mengingatkan juga kepada manusia agar dalam berusaha untuk mencukupkan kebutuhan sehari-hari, mementingkan pula kemaslahatan bersama dan se­bagainya, rakyat semut mempunyai organisasi dan kerja sama yang baik pula.
Dengan mengisah­kan kisah Nabi Sulaiman 'alaihis salam dalam surat ini Allah mengisyaratkan hari depan dan kebesaran nabi Muhammad ﷺ Nabi Sulaiman 'alaihis salam sebagai seorang nabi, rasul dan raja yang dianugerahi ke­kayaan yang melimpah ruah, begitu pula Nabi Muhammad s.a.w, sebagai seorang nabi, rasul dan seorang kepala negara yang ummi' dan miskin akan berhasil membawa dan memimpin umatnya ke jalan Allah.

Keimanan:

Al Qur'an adalah rahmat dan petunjuk bagi orang-orang mu'min
ke Esaan dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala dan keadaan-Nya tidak memerlukan sekutu-sekutu dalam mengatur alam ini
hanya Allah-lah Yang tahu tentang yang ghaib
adanya hari berbangkit bukanlah suatu dongengan.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Nabi Sulaiman a.s. dengan semut, dengan burung hud-hud dan dengan ratu Balqis
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Luth a.s. dengan kaum­nya.

Lain-lain:

Ciri-ciri orang mu'min
Al Qur'an menjelaskan apa yang diperselisilhkan Bani Israil
hanya orang-orang mu'minlah yang dapat menerima petunjuk kejadian-kejadian sebelum datangnya kiamat dan keadaan orang-orang yang beriman dan tidak beriman waktu itu
Allah menyuruh Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya memuji dan menyembah Allah saja dan membaca Al Qur'an
Allah akan memperlihatkan kepada kaum musyrikin akan kebenaran ayat-ayat-Nya.


Gambar Kutipan Surah An Naml Ayat 8 *beta

Surah An Naml Ayat 8



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Naml

Surah An-Naml (bahasa Arab:النّمل, "Semut") adalah surah ke-27 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah dan diturunkan sesudah Surah Asy-Syu’ara.
Dinamai dengan An-Naml yang berarti semut, karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan An-Naml (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing-masing, supaya jangan terlindas oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya yang akan melewati tempat itu.

Nomor Surah 27
Nama Surah An Naml
Arab النمل
Arti Semut
Nama lain Sulaiman, Tha Sin
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 48
Juz Juz 19 (1-59) sampai juz 20 (60-93)
Jumlah ruku' 7 ruku'
Jumlah ayat 93
Jumlah kata 1166
Jumlah huruf 4795
Surah sebelumnya Surah Asy-Syu'ara'
Surah selanjutnya Surah Al-Qasas
4.8
Rating Pembaca: 4.8 (10 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku