QS. An Naml (Semut) – surah 27 ayat 76 [QS. 27:76]

اِنَّ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ یَقُصُّ عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَکۡثَرَ الَّذِیۡ ہُمۡ فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ
Inna hadzaal quraana yaqush-shu ‘ala banii israa-iila aktsaral-ladzii hum fiihi yakhtalifuun(a);

Sesungguhnya Al Quran ini menjelaskan kepada Bani lsrail sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya.
―QS. 27:76
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Keutamaan kalam Allah ▪ Ampunan Allah yang luas
27:76, 27 76, 27-76, An Naml 76, AnNaml 76, An-Naml 76

Tafsir surah An Naml (27) ayat 76

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Naml (27) : 76. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa identitas kesempuanaannya ada tiga perkara:

1.
Alquran berisi kisah-kisah dari Nabi-nabi dan umatnya, sesuai dengan yang diuraikan dalam kitab Taurat dan Injil, padahal Nabi Muhammad sw itu seorang ummi, yang tidak dapat membaca dan menulis, dan belum pernah bergaul dengan pemuka-pemuka ahli kitab sebelum menjadi Rasul, hal mana menjadi dalil yang nyata, bahwa Alquran itu adalah firman Allah yang diwahyukan kepadanya.

2.
Alquran mengandung dalil-dalil akal tentang ketauhidan, kebangkitan, kenabian, hukum-hukum kemasyarakatan yang sangat dibutuhkan oleh seluruh umat manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia sampai di akhirat dengan cara yang tidak terdapat dalam Taurat dan Injil, hal mana meyakinkan, bahwa Alquran itu benar-benar datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala

3.
Alquran diturunkan dalam bahasa yang indah dan kesusasteraan yang sangat tinggi dan isinya yang sangat murni, tak mungkin dibuat oleh siapapun hal mana menunjukkan, bahwa ia berada di luar kemampuan manusia, karena ia adalah semata-mata firman Allah.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa Alquran memberi kepastian kepada Bani Israil tentang soal-soal yang telah mereka perselisihkan, seperti yang bersangkutan dengan Al-Masih Isa putra Maryam, karena sebagian Ahli Kitab ada yang menganggapnya sebagai tuhan, ada pula sebagian yang memandangnya sebagai anak Allah, dan ada pula yang menganggapnya sebagai oknum ketiga dari ajaran trimurti.
Ada yang memandangnya sebagai Nabi palsu, sebagaimana Maryam pula dituduh melakukan perbuatan zina.
Dan terhadap Nabi yang diisyaratkan oleh kitab Taurat akan diutus setelah Musa, mereka mengatakan bahwa Nabi itu ialah Nabi Yusya’, atau seorang Nabi lain yang diutus di akhir zaman.
Jika orang-orang Ahli Kitab itu mempelajari isi kitabnya dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran tanpa sentimen kebangsaan atau kesukuan, niscaya mereka meyakini, bahwa Nabi yang diisyaratkan oleh Kitab Taurat yang akan diutus setelah Musa, ialah tidak lain melainkan Nabi Muhammad ﷺ.
Hanya karena Nabi Muhammad ﷺ itu dari keturunan Bani Ismail dan bukan dari Bani Israil, maka timbullah sentimen kesukuan yang sukar untuk menerima kebenaran.
Dalam kitab perjanjian lama, kitab Ulangan (Deuteronomium 18: 18) disebutkan demikian, “Bahwa Aku (Tuhan) akan menjadikan bagi mereka itu seorang Nabi antara segala saudaranya, yang seperti engkau (Musa), dan Aku akan memberi segala firman-Ku dalam mulutnya dan iapun akan mengatakan kepadanya segala yang Ku suruh akan dia.
Bahwa sesungguhnya barang siapa yang tidak mau dengan akan segala firman-Ku, yang akan dikatakan olehnya dengan nama-Ku, niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang itu.

Isyarat dari kitab Ulangan itu mengandung pengertian.
bahwa Nabi yang akan diutus Allah setelah Nabi Musa itu ialah dari saudara-saudaranya Bani Israil, yaitu Bani Ismail atau bangsa Arab, sebab Israil atau Yakub dan Ismail adalah sama-sama keturunan Nabi Ibrahim as.
Ismail putra Ibrahim dan Yakub adalah putra Ishak dan Ishak putra Ibrahim.
Dan Nabi yang akan diutus adalah seperti Musa.

Juga dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa Alquran yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan kepada Bani Israil sebagian besar dari persoalan-persoalan yang oleh mereka diperselisihkan.
Jika mereka sadar dan insaf dan menjauhkan diri dari ajakan hawa nafsu dan sentimen kesukuan, mereka akan merasakan hak dan kemurnian ajaran Alquran itu.
Hanya sayang sekali, karena terhalang oleh ketakaburan, mereka tetap menolaknya, padahal sudah jelas nampak dalil-dalil tentang kebenarannya, tidak bedanya seperti sikap orang-orang musyrikin pula.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesunggguhnya kitab suci yang diwahyukan kepada Muhammad itu memberikan penjelasan kepada Bani Israil mengenai akidah, hukum dan kisah-kisah yang benar yang termaktub dalam Tawrat, untuk mengembalikan kepada kebenaran atas persoalan-persoalan yang mereka perselisihkan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya Alquran ini menjelaskan kepada Bani Israel) yang ada di zaman Nabi ﷺ (sebagian besar dari perkara-perkara yang mereka berselisih tentangnya) dengan menjelaskan hal tersebut sesuai dengan kedudukannya, sehingga hilanglah semua perselisihan yang ada pada mereka, jika mereka mau mengambilnya dan masuk Islam.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya Al-Qur’an ini menyampaikan kebenaran kepada Bani Israil dalam kebanyakan perkara yang mereka perdebatkan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, menceritakan tentang kitab-Nya yang mulia, dan hidayah, penjelasan serta pembeda antara hak dan batil yang terkandung di dalamnya, bahwasanya Al-Qur’an menceritakan kepada kaum Bani Israil (yaitu pemegang kitab Taurat dan kitab Injil):

sebagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya.
(Q.S. An-Naml [27]: 76)

Seperti pertentangan mereka tentang Isa dan perselisihan mereka mengenai dirinya, orang-orang Yahudi membuat-buat berita bohong terhadapnya, sedangkan orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam menilainya.
Maka datanglah Al-Qur’an dengan membawa pendapat yang pertengahan, hak, lagi adil, bahwa Isa adalah salah seorang dari hamba-hamba Allah, dan merupakan salah seorang dari rasul dan nabi-Nya yang mulia, seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya:

Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya (Q.S. Maryam [19]: 34)


Informasi Surah An Naml (النمل)
Surat An Naml terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah dan diturun­kan sesudah surat Asy Syu’araa’.

Dinamai dengan “An Naml”,
karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan “An Naml” (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing­-masing, supaya jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan tentaranya yang akan lalu di tempat itu.
Mendengar perintah raja semut kepada anak buahnya itu, Nabi Sulaiman tersenyum dan ta’jub atas keteraturan kerajaan semut itu dan beliau mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan ni’mat kepadanya, berupa kerajaan, kekayaan, memahami ucapan-ucapan binatang, mempunyai tentara yang terdiri atas jin, manusia, burung dan sebagai­ nya.
Nabi Sulaiman ‘alaihis salam yang telah diberi Allah ni’mat yang besar itu tidak merasa takbur dan sombong, dan sebagai seorang hamba Allah mohon agar Allah memasukkannya ke dalam golong­an orang-orang yang saleh.
Allah subhanahu wa ta’ala menyebut binatang semut dalam surat ini agar manusia mengambil pelajaran dari kehidupan semut itu.
Semut adalah binatang yang hidup berkelompok di dalam tanah, membuat liang dan ruang yang bertingkat-tingkat sebagai rumah dan gudang tempat menyimpan makanan musim dingin.
Kerapian dan kedisiplinan yang terdapat dalam kerajaan semut ini, di­ nyatakan Allah dalam ayat ini dengan bagaimana rakyat semut mencari perlindungan segera agar jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan tentaranya, setelah menerima peringatan dari rajanya.

Secara tidak langsung Allah mengingatkan juga kepada manusia agar dalam berusaha untuk mencukupkan kebutuhan sehari-hari, mementingkan pula kemaslahatan bersama dan se­bagainya, rakyat semut mempunyai organisasi dan kerja sama yang baik pula.
Dengan mengisah­kan kisah Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dalam surat ini Allah mengisyaratkan hari depan dan kebesaran nabi Muhammad ﷺ Nabi Sulaiman ‘alaihis salam sebagai seorang nabi, rasul dan raja yang dianugerahi ke­kayaan yang melimpah ruah, begitu pula Nabi Muhammad s.a.w, sebagai seorang nabi, rasul dan seorang kepala negara yang ummi’ dan miskin akan berhasil membawa dan memimpin umatnya ke jalan Allah.

Keimanan:

Al Qur’an adalah rahmat dan petunjuk bagi orang-orang mu’min
ke Esaan dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala dan keadaan-Nya tidak memerlukan sekutu-sekutu dalam mengatur alam ini
hanya Allah-lah Yang tahu tentang yang ghaib
adanya hari berbangkit bukanlah suatu dongengan.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Nabi Sulaiman a.s. dengan semut, dengan burung hud-hud dan dengan ratu Balqis
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Luth a.s. dengan kaum­nya.

Lain-lain:

Ciri-ciri orang mu’min
Al Qur’an menjelaskan apa yang diperselisilhkan Bani Israil
hanya orang-orang mu’minlah yang dapat menerima petunjuk kejadian-kejadian sebelum datangnya kiamat dan keadaan orang-orang yang beriman dan tidak beriman waktu itu
Allah menyuruh Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya memuji dan menyembah Allah saja dan membaca Al Qur’an
Allah akan memperlihatkan kepada kaum musyrikin akan kebenaran ayat-ayat-Nya.

Ayat-ayat dalam Surah An Naml (93 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Naml (27) ayat 76 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Naml (27) ayat 76 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Naml (27) ayat 76 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Naml - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 93 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 27:76
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Naml.

Surah An-Naml (bahasa Arab:النّمل, "Semut") adalah surah ke-27 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah dan diturunkan sesudah Surah Asy-Syu’ara.
Dinamai dengan An-Naml yang berarti semut, karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan An-Naml (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing-masing, supaya jangan terlindas oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya yang akan melewati tempat itu.

Nomor Surah27
Nama SurahAn Naml
Arabالنمل
ArtiSemut
Nama lainSulaiman, Tha Sin
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu48
JuzJuz 19 (1-59) sampai juz 20 (60-93)
Jumlah ruku'7 ruku'
Jumlah ayat93
Jumlah kata1166
Jumlah huruf4795
Surah sebelumnyaSurah Asy-Syu'ara'
Surah selanjutnyaSurah Al-Qasas
4.4
Ratingmu: 4.4 (8 orang)
Sending







Pembahasan ▪ Qs 27 ayat 76

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di




Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta