Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

An Naml

An Naml (Semut) surah 27 ayat 60


اَمَّنۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ اَنۡزَلَ لَکُمۡ مِّنَ السَّمَآءِ مَآءً ۚ فَاَنۡۢبَتۡنَا بِہٖ حَدَآئِقَ ذَاتَ بَہۡجَۃٍ ۚ مَا کَانَ لَکُمۡ اَنۡ تُنۡۢبِتُوۡا شَجَرَہَا ؕ ءَ اِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ یَّعۡدِلُوۡنَ
Amman khalaqas-samaawaati wal ardha wa-anzala lakum minassamaa-i maa-an fa-anbatnaa bihi hadaa-iqa dzaata bahjatin maa kaana lakum an tunbituu syajarahaa ailahun ma’allahi bal hum qaumun ya’diluun(a);

Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya?
Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)?
Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).
―QS. 27:60
Topik ▪ Penciptaan ▪ Penciptaan langit dan bumi ▪ Siksaan sesuai dengan tingkat perbuatannya
27:60, 27 60, 27-60, An Naml 60, AnNaml 60, An-Naml 60
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Naml (27) : 60. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menanyakan, yang maksudnya, "Atau siapakah yang menciptakan langit, bumi dan isi yang berada di dalamnya, dan yang menurunkan air hujan dari langit untukmu lalu dengan sebab air hujan ia menumbuhkan kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sendiri sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya?"
Ayat ini perlu menjadikan perhatian terutama bagi mereka yang sering mengadakan perjalanan keliling sebagai wisatawan atau lainnya, ketika mereka melihat pemandangan yang indah, seperti kebun raya, kebun binatang, aquarium, berbagai pameran hasil industri pertanian, pertekstilan dan sebagainya mereka harus memandang keindahan alam yang berada di depan dan di sekelilingnya itu sebagai cermin yang terlihat di dalamnya segala keindahan, keagungan dan kesempurnaan Allah Maha Penciptanya.
Melihat keindahan alam dengan mata kepalanya dan 'ainulbasirah.
Dengan mengamalkan cara yang demikian itu, maka tidak akan putus-putus ingatannya kepada Allah subhanahu wa ta'ala, karena ia setiap melihat makhluk ia melihat Khaliknya, dan bila hal demikian itu telah menjadi kebiasaan dan kebudayaan, maka ia akan merasakan ketauhidan yang murni, bersih dari segala unsur kemusyrikan.
Maka patutlah pertanyaan tersebut disambung lagi dengan pertanyaan kedua, yaitu: "Apakah di samping Allah ada tuhan yang lain?"
Jawabnya: "Tidak, sebab hanya Allahlah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
"Hanya sebenarnya orang-orang yang menyembah berhala itu adalah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran.
Kenapa mereka dikatakan menyimpang?
Sebab, jika mereka ditanya: "Siapakah yang menurunkan air kemudian menghidupkan dengan air itu bumi yang tadinya menjawab: "Allah" sesuai dengan firman-Nya:

Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dan langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi, bumi sesudah matinya?"
Tentu mereka akan menjawab, "Allah",

(Q.S.
Al Ankabut: 63)

Orang-orang penyembah berhala itu mengakui bahwa berhala mereka tidak dapat menurunkan air hujan yang jadi sebab kemakmuran bumi; mengapa mereka tetap juga menyembahnya?.
Karena mereka hanya mengikuti kebiasaan nenek moyangnya saja, walaupun kebiasaan itu tidak sejalan dengan alam pikiran yang sehat.

An Naml (27) ayat 60 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Naml (27) ayat 60 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Naml (27) ayat 60 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Muhammad, tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit, bumi dan apa yang ada di antara keduanya?
Siapa pula yang menurunkan hujan dari langit yang sangat bermanfaat bagi kepentingan kalian?
Dengan air hujan itu, Dia lalu menumbuhkan kebun-kebun yang bagus dan indah.
Sungguh kalian tidak akan mampu menumbuhkan pepohonan yang beraneka ragam dengan warna dan buah yang berlainan! Keharmonisan dalam ciptaan semacam itu sungguh menyatakan dengan jelas bahwa tidak ada tuhan lain yang menyertai Allah.
Akan tetapi orang-orang kafir adalah kaum yang berpaling dari kebenaran dan keimanan, condong kepada kepalsuan dan kesyirikan."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit buat kalian, lalu Kami tumbuhkan) di dalam ungkapan ini terdapat Iltifat yakni sindiran dari Ghaibah kepada Mutakallim (dengan air itu kebun-kebun) lafal Hada-iq bentuk jamak dari lafal Hadiqatun artinya kebun yang dipagari (yang berpemandangan indah) tampak indah (yang kalian sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya?) karena kalian tidak akan mempunyai kemampuan dan kekuasaan untuk itu.
(Apakah ada tuhan) a-ilahun dapat dibaca Tahqiq dan Tas-hil (di samping Allah) yang membantu-Nya untuk melakukan hal-hal tersebut?
Maksudnya tidak ada tuhan lain di samping Dia.
(Bahkan sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang) yakni menyekutukan Allah dengan selain-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tanyakan kepada mereka :
Siapa yang menciptakan langit dan bumi, dan yang menurunkan hujan dari langit lalu dengannya Dia menumbuhkan kebun-kebun dengan pemandangannya yang indah??
Kalian tidak kuasa menumbuhkan pohon-pohonnya kalau Allah tidak menurunkan kepada kalian hujan dari langit.
Sesungguhnya penyembahan kepada Allah adalah haq sedangkan penyembahan kepada selain-Nya adalah batil.
Adakah sesembahan lain bersama Allah yang bisa melakukan perbuatan-perbuatan ini, sehingga dia layak disembah dan dipersekutukan dengan-Nya??
Sebaliknya orang-orang musyrikin itu adalah kaum yang menyimpang dari jalan kebenaran dan iman.
Lalu mereka pun menyamakan Allah dengan selain-Nya dalam ibadah pengagungan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa hanya Dialah Yang Menciptakan, Yang Memberi Rezeki, dan Yang Mengatur, bukan selain Dia.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi.
(An Naml:60)

Yakni yang menciptakan semua langit yang sangat tinggi lagi sangat jernih itu dan segala sesuatu yang ada padanya berupa bintang-bintang yang bercahaya, bintang-bintang yang berkilauan, dan semua benda angkasa lainnya.
Dia pulalah yang menciptakan bumi ini dan segala sesuatu yang ada padanya berupa gunung-gunung, bukit-bukit, lembah-lembah, tanah-tanah yang terjal, padang sahara, tanah-tanah yang tandus, semua tanaman dan pepohonan, semua buah-buahan, lautan serta semua hewan dengan berbagai macam jenis, bentuk dan warnanya, juga makhluk lainnya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan yang menurunkan air untukmu dari langit.
(An Naml:60)

Artinya Allah menjadikannya sebagai penyebab rezeki bagi hamba-hamba-Nya.

lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah.
(An Naml:60)

Yaitu kebun-kebun yang indah pemandangan dan bentuknya.

yang kamu sekalian tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya.
(An Naml:60)

Kalian tidak mampu menumbuhkan pohon-pohon, dan sesungguhnya yang mampu menumbuhkannya hanyalah Tuhan Yang Maha Pencipta lagi Maha Pemberi rezeki.
Hanya Dialah yang dapat melakukannya, bukan selain-Nya.
Hal ini diakui pula oleh orang-orang musyrik, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat lain menceritakan jawaban mereka:

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, 'Allah'." (Az Zukhruf:87).

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menurunkan air dari langit, lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab, "Allah".
(Al-'Ankabut: 63)

Dengan kata lain, orang-orang musyrik pun mengakui bahwa hanya Allah sematalah yang melakukan itu semuanya, tiada sekutu bagi-Nya, namun mereka menyembah selain Allah bersama-Nya, padahal mereka mengakui bahwa selain-Nya itu tidak dapat menciptakan dan tidak dapat pula memberi rezeki.
Karena sesungguhnya yang berhak disembah hanyalah Tuhan Yang Maha Pencipta dan Maha Pemberi rezeki.
Karena itulah disebutkan dalam firman-Nya:

Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?
(An Naml:60)

Yakni apakah ada tuhan lain yang disembah selain Allah?
Padahal telah jelas bagi kalian dan juga bagi setiap orang yang berakal, bahwa hanya Allah­lah Yang Menciptakan dan Yang Memberi rezeki (yang patut disembah).

Di antara mufassirin ada yang mengatakan bahwa makna firman-Nya: Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?
(An Naml:60) Yang menciptakan semuanya ini.

Pengertian pendapat ini ada kaitannya dengan makna yang pertama, karena hipotesis jawaban mereka ialah bahwa tiada seorang pun yang melakukan ini bersama-Nya, bahkan Dia sendirilah yang melakukannya.
Lalu dikatakan kepada mereka, "Mengapa kalian menyembah selain Dia bersama-Nya, padahal hanya Dialah Yang Menciptakan, Yang Memberi rezeki dan Yang Mengatur semuanya?"
Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?
(An Nahl:17)

Lafaz amman dalam ayat-ayat ini semuanya mengandung takwil, 'Apakah Tuhan yang mengerjakan semuanya ini sama dengan yang tidak dapat mengerjakan sesuatu pun darinya?".
Demikianlah makna konteks secara keseluruhan, sekalipun sebagian darinya tidak disebutkan, mengingat ada indikasi kuat yang menunjuk ke arah tersebut.
Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman dalam ayat sebelumnya:

Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?
(An Naml:59)

Kemudian dalam akhir ayat berikutnya disebutkan oleh firman-Nya:

Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).
(An Naml:60)

Yaitu mereka menjadikan bagi Allah tandingan dan persamaannya.

Istifham atau kata tanya yang mempunyai pengertian sama dengan ayat ini disebutkan pula dalam ayat lain melalui firman-Nya:

(Apakah kalian, hai orang-orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?
(Az Zumar:9)

Maksudnya, apakah orang yang berperilaku seperti ini sama dengan orang yang tidak berperilaku demikian?
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Katakanlah, "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang menerima pelajaran.
(Az Zumar:9)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?
Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah.
Mereka itu dalam kesesalan yang nyata.
(Az Zumar:22)

Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?
(Ar Ra'du:33)

Apakah Tuhan Yang Menyaksikan semua perbuatan makhluk-Nya, semua gerakan dan diam mereka, lagi mengetahui semua yang gaib —baik yang besar maupun yang terkecilnya— sama dengan yang tidak mengetahui, tidak mendengar dan tidak melihat, yakni berhala-berhala yang mereka sembah-sembah selain Allah itu?
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah.
Katakanlah, "Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu!".
(Ar Ra'du:33)

Demikian pula ayat-ayat ini semuanya mengandung makna yang sama, yakni perbandingan.

Kata Pilihan Dalam Surah An Naml (27) Ayat 60

BAHJAH
بَهْجَة

Ia dalam bentuk masdar berasal dari kata "bahija-yabhaju. Ia memiliki makna kegembiraan, kesenangan,baik dan menawan. Isim fa'il nya adalah bahiij.

Dalam kamus Al Mujam Al 'Arabi wajhun bahiij bermakna wajahnya kelihatan gembira dan mundzar bahiij bermakna pemandangan yang indah lagi menawan.

Kata bahjah disebut sekali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah An Naml (27) ayat 60.
Allah berfirman:

أَنۢبَتْنَا بِهِۦ حَدَآئِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ

Sedangkan kata bahiij disebut dua kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Hajj (22), ayat 5
-Qaf (50), ayat 7.

Allah berfirman dalam surah Al Hajj:

وَأَنۢبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍۭ بَهِيجٍ

Asy Syawkani mengatakan, al bahjah ada­lah yang baik dan menarik bagi yang melihat­nya. Makna ayat dalam surah An Naml,

"Dan Kami menumbuhkan taman-taman yang baik dan menawan yang tertarik bagi yang memandangnya."

Sedangkan makna ayat dalam surah Al Hajj,

"Allah menumbuhkan berbagai macam tumbuhan dengan yang baik dengan berlainan warna yang indah lagi menawan."

Kesimpulannya, lafaz bahjah ataupun bahiij memiliki makna yang indah lagi menawan.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:99

Informasi Surah An Naml (النمل)
Surat An Naml terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah dan diturun­kan sesudah surat Asy Syu'araa'.

Dinamai dengan "An Naml",
karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan "An Naml" (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing­-masing, supaya jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman 'alaihis salam dan tentaranya yang akan lalu di tempat itu.
Mendengar perintah raja semut kepada anak buahnya itu, Nabi Sulaiman tersenyum dan ta'jub atas keteraturan kerajaan semut itu dan beliau mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan ni'mat kepadanya, berupa kerajaan, kekayaan, memahami ucapan-ucapan binatang, mempunyai tentara yang terdiri atas jin, manusia, burung dan sebagai­ nya.
Nabi Sulaiman 'alaihis salam yang telah diberi Allah ni'mat yang besar itu tidak merasa takbur dan sombong, dan sebagai seorang hamba Allah mohon agar Allah memasukkannya ke dalam golong­an orang-orang yang saleh.
Allah subhanahu wa ta'ala menyebut binatang semut dalam surat ini agar manusia mengambil pelajaran dari kehidupan semut itu.
Semut adalah binatang yang hidup berkelompok di dalam tanah, membuat liang dan ruang yang bertingkat-tingkat sebagai rumah dan gudang tempat menyimpan makanan musim dingin.
Kerapian dan kedisiplinan yang terdapat dalam kerajaan semut ini, di­ nyatakan Allah dalam ayat ini dengan bagaimana rakyat semut mencari perlindungan segera agar jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman 'alaihis salam dan tentaranya, setelah menerima peringatan dari rajanya.

Secara tidak langsung Allah mengingatkan juga kepada manusia agar dalam berusaha untuk mencukupkan kebutuhan sehari-hari, mementingkan pula kemaslahatan bersama dan se­bagainya, rakyat semut mempunyai organisasi dan kerja sama yang baik pula.
Dengan mengisah­kan kisah Nabi Sulaiman 'alaihis salam dalam surat ini Allah mengisyaratkan hari depan dan kebesaran nabi Muhammad ﷺ Nabi Sulaiman 'alaihis salam sebagai seorang nabi, rasul dan raja yang dianugerahi ke­kayaan yang melimpah ruah, begitu pula Nabi Muhammad s.a.w, sebagai seorang nabi, rasul dan seorang kepala negara yang ummi' dan miskin akan berhasil membawa dan memimpin umatnya ke jalan Allah.

Keimanan:

Al Qur'an adalah rahmat dan petunjuk bagi orang-orang mu'min
ke Esaan dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala dan keadaan-Nya tidak memerlukan sekutu-sekutu dalam mengatur alam ini
hanya Allah-lah Yang tahu tentang yang ghaib
adanya hari berbangkit bukanlah suatu dongengan.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Nabi Sulaiman a.s. dengan semut, dengan burung hud-hud dan dengan ratu Balqis
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Luth a.s. dengan kaum­nya.

Lain-lain:

Ciri-ciri orang mu'min
Al Qur'an menjelaskan apa yang diperselisilhkan Bani Israil
hanya orang-orang mu'minlah yang dapat menerima petunjuk kejadian-kejadian sebelum datangnya kiamat dan keadaan orang-orang yang beriman dan tidak beriman waktu itu
Allah menyuruh Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya memuji dan menyembah Allah saja dan membaca Al Qur'an
Allah akan memperlihatkan kepada kaum musyrikin akan kebenaran ayat-ayat-Nya.


Gambar Kutipan Surah An Naml Ayat 60 *beta

Surah An Naml Ayat 60



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Naml

Surah An-Naml (bahasa Arab:النّمل, "Semut") adalah surah ke-27 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah dan diturunkan sesudah Surah Asy-Syu’ara.
Dinamai dengan An-Naml yang berarti semut, karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan An-Naml (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing-masing, supaya jangan terlindas oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya yang akan melewati tempat itu.

Nomor Surah27
Nama SurahAn Naml
Arabالنمل
ArtiSemut
Nama lainSulaiman, Tha Sin
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu48
JuzJuz 19 (1-59) sampai juz 20 (60-93)
Jumlah ruku'7 ruku'
Jumlah ayat93
Jumlah kata1166
Jumlah huruf4795
Surah sebelumnyaSurah Asy-Syu'ara'
Surah selanjutnyaSurah Al-Qasas
4.6
Rating Pembaca: 4.4 (20 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ tafsir surat an naml ayat 60