QS. An Naml (Semut) – surah 27 ayat 48 [QS. 27:48]

وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ تِسۡعَۃُ رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ
Wakaana fiil madiinati tis’atu rahthin yufsiduuna fiil ardhi walaa yushlihuun(a);

Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.
―QS. 27:48
Topik ▪ Keluasan ilmu Allah
27:48, 27 48, 27-48, An Naml 48, AnNaml 48, An-Naml 48

Tafsir surah An Naml (27) ayat 48

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Naml (27) : 48. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan sebab-sebab banyaknya timbul kebinasaan di dalam negeri mereka, yaitu di dalam kota Hijr itu terdapat sembilan orang yang suka berbuat kekacauan dalam masyarakat.
Mereka yang sembilan orang itu berasal dari anak-anak orang bangsawan yang berkuasa di negeri itu.
Segala perbuatan apapun baik atau buruk dapat mereka lakukan dengan leluasa, tidak seorangpun dapat menghalanginya, karena perbuatan-perbuatan jahat yang mereka lakukan itu selalu dilindungi dan dibela oleh orang-orang tua mereka yang berkuasa di negeri itu, sehingga orang yang sembilan itu menjadi sumber perbuatan buruk dan angkara murka.

Ada beberapa riwayat yang menerangkan nama-nama dari orang yang sembilan itu, seperti yang diterangkan oleh Al Gaznawi, Ibnu Ishaq, Zamakhsyari, Mawardi dan sebagainya; masing-masing mereka mengemukakan nama-nama yang berbeda-beda.
Tetapi yang penting dari semuanya itu ialah bahwa kerusakan dan perbuatan dosa yang dilakukan oleh penjahat-penjahat yang sembilan itu di negeri Tsamud diketahui dan direstui oleh pembesar-pembesar negeri itu.

Orang yang sembilan ini, oleh karena mereka berasal dari kaum bangsawan yang berkuasa di negeri itu, maka pengaruh mereka amat besar kepada kaum Tsamud.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ada sembilan tokoh kaum Tsamud yang memelopori tindakan perusakan di muka bumi, melalui pendapat dan propaganda-propagandanya.
Mereka tak pernah sekali pun berbuat kebajikan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan adalah di kota itu) yakni kota kaum Tsamud itu (sembilan orang laki-laki) dari kalangan kaum laki-laki (yang gemar membuat kerusakan di muka bumi) dengan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat antara lain mereka merentenkan uang-uang Dirham (dan mereka tidak berbuat kebaikan) tidak pernah melakukan ketaatan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Di negeri Shalih, yaitu al-Hijr yang terletak di barat laut Jazirah Arab terdapat Sembilan orang yang selalu membuat kerusakan di bumi, tidak memiliki sedikit pun perbuatan baik.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan kejahatan kaum Samud yang diwakili oleh para pemimpin mereka yang merupakan penggerak kaumnya ke jalan kesesatan dan kekufuran serta mendustakan Saleh.
Akhirnya mendorong mereka untuk berani menyembelih unta Nabi Saleh, dan hampir saja mereka akan membunuh Nabi Saleh juga.
Mereka merencanakan akan menyerang dia di rumah keluarganya di malam hari, lalu mereka membunuhnya dengan diam-diam, kemudian mereka mengatakan kepada ahli warisnya bahwa mereka tidak mengetahui kejadian tersebut dan tidak terlibat.
Maka sesungguhnya keluarga Nabi Saleh akan membenarkan berita yang mereka sampaikan itu.
jaahwa mereka tidak mengetahui apa-apa tentang peristiwa pembunuhan itu.
Hal ini dikisahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya:

Dan adalah di kota itu terdapat sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.
(An Naml:48)

Yaitu di kota kaum Samud terdapat sembilan orang laki-laki.
Sesungguhnya disebutkan hanya sembilan orang yang mewakili kaum Samud semuanya, karena mereka adalah para pemimpin dan para pembesar kaum Samud.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa merekalah yang menyembelih unta tersebut, yakni merekalah yang menyarankan agar unta itu disembelih —semoga Allah melaknat mereka— dan ternyata usulan mereka itu dilaksanakan.

As-Saddi telah meriwayatkan dari Abu Malik, dari Ibnu Abbas, bahwa nama kesembilan orang tersebut ialah Da’ma, Da’im, Harma, Harim, Da-ab, Sawab, Riyab, Mista’, dan Qaddar ibnu Salif, penyembelih unta.
Dialah yang melakukan penyembelihan terhadap unta Nabi Saleh dengan tangannya sendiri.
Disebutkan oleh firman-Nya:

Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan menyembelihnya.
(Al Qamar:29)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.
(Asy-Syams: 12)

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar ibnu Rabi’ah As-San’ani, bahwa ia pernah mendengar Ata ibnu Abu Rabah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan adalah di kota itu terdapat sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.
(An Naml:48) Bahwa kebiasaan mereka ialah mengurangi kadar mata uang dirham.
Hal ini menunjukkan bahwa seakan-akan mereka biasa bermuamalah dengan mata uang dirham dan dinar seperti yang dilakukan oleh orang-orang Arab di masa silam.

Imam Malik telah meriwayatkan dari Yahya ibnu Sa’id, dari Sa’id ibnul Musayyab yang telah mengatakan bahwa mengurangi kadar mata uang emas dan perak termasuk perbuatan yang menimbulkan kerusakan di muka bumi.

Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan lain-lainnya disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ melarang memotong mata uang kaum muslim, yakni mata uang yang berlaku di kalangan mereka terkecuali karena alasan yang diperbolehkan.

Pada garis besarnya orang-orang kafir lagi pendurhaka itu mem­punyai ciri khas yaitu gemar menimbulkan kerusakan di muka bumi dengan berbagai macam cara yang mereka kuasai.
Antara lain ialah melakukan perbuatan, seperti yang telah disebutkan oleh para imam di atas dan perbuatan-perbuatan lainnya yang merusak.


Informasi Surah An Naml (النمل)
Surat An Naml terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah dan diturun­kan sesudah surat Asy Syu’araa’.

Dinamai dengan “An Naml”,
karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan “An Naml” (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing­-masing, supaya jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan tentaranya yang akan lalu di tempat itu.
Mendengar perintah raja semut kepada anak buahnya itu, Nabi Sulaiman tersenyum dan ta’jub atas keteraturan kerajaan semut itu dan beliau mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan ni’mat kepadanya, berupa kerajaan, kekayaan, memahami ucapan-ucapan binatang, mempunyai tentara yang terdiri atas jin, manusia, burung dan sebagai­ nya.
Nabi Sulaiman ‘alaihis salam yang telah diberi Allah ni’mat yang besar itu tidak merasa takbur dan sombong, dan sebagai seorang hamba Allah mohon agar Allah memasukkannya ke dalam golong­an orang-orang yang saleh.
Allah subhanahu wa ta’ala menyebut binatang semut dalam surat ini agar manusia mengambil pelajaran dari kehidupan semut itu.
Semut adalah binatang yang hidup berkelompok di dalam tanah, membuat liang dan ruang yang bertingkat-tingkat sebagai rumah dan gudang tempat menyimpan makanan musim dingin.
Kerapian dan kedisiplinan yang terdapat dalam kerajaan semut ini, di­ nyatakan Allah dalam ayat ini dengan bagaimana rakyat semut mencari perlindungan segera agar jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan tentaranya, setelah menerima peringatan dari rajanya.

Secara tidak langsung Allah mengingatkan juga kepada manusia agar dalam berusaha untuk mencukupkan kebutuhan sehari-hari, mementingkan pula kemaslahatan bersama dan se­bagainya, rakyat semut mempunyai organisasi dan kerja sama yang baik pula.
Dengan mengisah­kan kisah Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dalam surat ini Allah mengisyaratkan hari depan dan kebesaran nabi Muhammad ﷺ Nabi Sulaiman ‘alaihis salam sebagai seorang nabi, rasul dan raja yang dianugerahi ke­kayaan yang melimpah ruah, begitu pula Nabi Muhammad s.a.w, sebagai seorang nabi, rasul dan seorang kepala negara yang ummi’ dan miskin akan berhasil membawa dan memimpin umatnya ke jalan Allah.

Keimanan:

Al Qur’an adalah rahmat dan petunjuk bagi orang-orang mu’min
ke Esaan dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala dan keadaan-Nya tidak memerlukan sekutu-sekutu dalam mengatur alam ini
hanya Allah-lah Yang tahu tentang yang ghaib
adanya hari berbangkit bukanlah suatu dongengan.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Nabi Sulaiman a.s. dengan semut, dengan burung hud-hud dan dengan ratu Balqis
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Luth a.s. dengan kaum­nya.

Lain-lain:

Ciri-ciri orang mu’min
Al Qur’an menjelaskan apa yang diperselisilhkan Bani Israil
hanya orang-orang mu’minlah yang dapat menerima petunjuk kejadian-kejadian sebelum datangnya kiamat dan keadaan orang-orang yang beriman dan tidak beriman waktu itu
Allah menyuruh Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya memuji dan menyembah Allah saja dan membaca Al Qur’an
Allah akan memperlihatkan kepada kaum musyrikin akan kebenaran ayat-ayat-Nya.

Ayat-ayat dalam Surah An Naml (93 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Naml (27) ayat 48 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Naml (27) ayat 48 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Naml (27) ayat 48 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Naml - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 93 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 27:48
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Naml.

Surah An-Naml (bahasa Arab:النّمل, "Semut") adalah surah ke-27 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah dan diturunkan sesudah Surah Asy-Syu’ara.
Dinamai dengan An-Naml yang berarti semut, karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan An-Naml (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing-masing, supaya jangan terlindas oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya yang akan melewati tempat itu.

Nomor Surah27
Nama SurahAn Naml
Arabالنمل
ArtiSemut
Nama lainSulaiman, Tha Sin
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu48
JuzJuz 19 (1-59) sampai juz 20 (60-93)
Jumlah ruku'7 ruku'
Jumlah ayat93
Jumlah kata1166
Jumlah huruf4795
Surah sebelumnyaSurah Asy-Syu'ara'
Surah selanjutnyaSurah Al-Qasas
4.6
Ratingmu: 4.8 (8 orang)
Sending









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta