QS. An Naml (Semut) – surah 27 ayat 29 [QS. 27:29]

قَالَتۡ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اِنِّیۡۤ اُلۡقِیَ اِلَیَّ کِتٰبٌ کَرِیۡمٌ
Qaalat yaa ai-yuhaal malaa innii ulqiya ilai-ya kitaabun kariimun;

Berkata ia (Balqis):
“Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.
―QS. 27:29
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Kisah nabi Sulaiman as. dengan Ratu Balqis ▪ Manusia keras kepala
27:29, 27 29, 27-29, An Naml 29, AnNaml 29, An-Naml 29

Tafsir surah An Naml (27) ayat 29

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Naml (27) : 29. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah ratu Balqis membawa surat Nabi Sulaiman as yang dicampakkan burung Hud-hud itu, iapun mengumpulkan pemuka-pemuka kaumnya dan mengadakan persidangan.
Dalam persidangan itu ratu Balqis menyampaikan isi surat tersebut dan meminta pertimbangan kepada yang hadir: “Wahai pemimpin kaumku, bahwasanya aku telah menerima surat yang mulia yang dikirimkan oleh seseorang yang mulia pula.”

Dalam ayat ini diterangkan bahwa ratu Balqis merundingkan dan memusyawarahkan isi surat Sulaiman dengan pemuka-pemuka kaumnya.
Sekalipun yang melakukan permusyawaratan itu adalah ratu Balqis dan pemuka-pemuka kaumnya yang belum beriman, tetapi tindakan ratu Balqis itu disebut Allah dalam firman Nya.
Ratu ini menunjukkan bahwa prinsip musyawarah itu adalah prinsip yang diajarkan Allah kepada manusia dalam menghadapi persoalan-persoalan yang mereka alami dalam kehidupan mereka.
Karena itu siapapun yang melakukannya, maka tindakan itu adalah tindakan yang dipuji Allah.

Dalam ayat ini disebutkan bahwa surat Sulaiman yang dikirimkan kepada ratu Balqis itu disebut “Kitabun karim” (surat yang berharga).
Biasanya perkataan “karim” itu digandengkan dengan perkataan “Alquran”,
atau perkataan-perkataan yang lain berarti Alquran seperti “Alquranul karim”.
Hal ini menunjukkan bahwa surat Nabi Sulaiman itu adalah surat yang mulia dan berharga karena:

1.
Surah itu ditulis dalam bahasa yang baik, dan pakai stempel.

2.
Surah itu berasal dari Sulaiman, sebagai seorang raja dan sebagai seorang Nabi.

3.
Dimulai dengan “Bismillahir Rahmanir Rahim”.

Menurut suatu riwayat: Surah Sulaiman ini adalah surat yang pertama kali dimulai dengan “Bismillahirrahmiirrahim”.

Cara membuat surat seperti cara yang dilakukan Nabi Sulaiman ini adalah cara yang baik dicontoh oleh setiap kaum Muslimin pada setiap mereka membuat surat, yaitu memulainya dengan “Bismillahirrahmanirrahim”.

Dalam surat itu ada beberapa hari yang merupakan keistimewaan surat Sulaiman itu, di antaranya ialah:

1.
Surah itu dapat disampaikan burung Hud-hud dalam waktu yang singkat kepada ratu Balqis.

2.
Kesanggupan burung Hud-hud menerima pesan menangkap pembicaraan dalam perundingan ratu Balqis dengan pembesar-pembesarnya.

3.
Surah itu dapat pula dimengerti dan dipahami oleh penduduk negeri Saba’.

4.
Para utusan pemuka kaum Balqis dapat menyatakan pendapat mereka dengan bebas, tidak ada sesuatupun yang menghalangi mereka mengemukakan pendapat masing-masing sehingga hasil perundingan itu adalah hasil yang sesuai dengan pikiran dan pendapat rakyat negeri Saba’.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ketika surat itu sampai ke pangkuan sang ratu, Balqis segera mengumpulkan pemuka-pemuka kaum dan para penasihatnya, lalu berkata, “Aku baru saja menerima surat penting.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Selanjutnya (Ia berkata) yakni ratu Balqis kepada pemuka pemuka kaumnya, (“Hai pembesar-pembesar! Sesungguhnya aku) dapat dibaca Al Mala-u Inni dan Al Mala-u winni, yakni bacaan secara Tahqiq dan Tas-hil (telah dijatuhkan kepadaku sebuah surah yang mulia) yakni surah yang berstempel.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hudhud pergi dan melemparkan surat kepada sang ratu dan diapun membacanya, lalu dia mengumpulkan para pembesar kaumnya.
Hudhud mendengar sang ratu berkata kepada mereka :
Sesungguhnya aku telah menerima surat yang sangat penting dari orang yang sangat agung.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Maka Ratu Balqis mengumpulkan semua menteri dan pembesar kerajaannya, lalu berkatalah ia kepada mereka.

Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.
(Q.S. An-Naml [27]: 29)

Yakni mulia karena ia telah melihat keajaiban perkara surat itu, sebab burunglah yang mengantarkan surat itu kepadanya, lalu burung tersebut surut mundur darinya sebagai etika terhadap raja.
Hal seperti itu tidak akan mampu dilakukan oleh sembarang raja.
Kemudian Balqis membacakan surat itu kepada mereka.

Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. An-Naml [27]: 30-31)

Maka mereka mengetahui bahwa surat tersebut berasal dari Nabi Allah Sulaiman ‘alaihis salam Dan bahwa mereka belum pernah menerima surat seperti itu, memakai gaya bahasa yang berpacamasastra tinggi, ringkas, dan padat, tetapi fasih, karena pengertiannya telah dapat ditangkap hanya dengan sedikit kalimat, tetapi indah.

Para ulama mengatakan bahwa tiada seorang pun yang menulis Bismillahir Rahmanir Rahim sebelum Sulaiman ‘alaihis salam dalam suratnya.

Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan hal ini telah meriwayatkan sebuah hadis di dalam kitab tafsirnya:

bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Harun ibnul Fadl Abu Ya’la Al-Khayyat, telah menceritakan kepada kami Abu Yusuf, dari Salamah ibnu Saleh, dari Abdul Karim Abu Umayyah, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya yang telah menceritakan bahwa ketika ia sedang berjalan bersama Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui suatu ayat yang belum pernah diturunkan kepada seorang nabi pun sebelumku setelah Sulaiman ibnu Daud.” Saya bertanya, “Wahai Nabi Allah, ayat apakah itu?”
Nabi ﷺ menjawab, “Aku akan memberitahukannya kepadamu sebelum aku keluar dari masjid.” Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa Nabi ﷺ langsung menuju ke pintu masjid dan melangkahkan sebelah kakinya ke luar masjid, sehingga perawi menduganya lupa.
Ternyata Nabi ﷺ berpaling ke arahnya, lalu membaca firman-Nya: Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An-Naml [27]: 30)

Hadis berpredikat garib dan sanadnya daif (lemah).

Maimun ibnu Mihran mengatakan bahwa dahulu Rasulullah ﷺ dalam suratnya selalu mengawalinya dengan kalimat, “Dengan menyebut nama-Mu, ya Allah”,
sebelum ayat ini diturunkan.
Setelah ayat ini diturunkan, beliau mengawalinya dengan kalimat “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang “.


Informasi Surah An Naml (النمل)
Surat An Naml terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah dan diturun­kan sesudah surat Asy Syu’araa’.

Dinamai dengan “An Naml”,
karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan “An Naml” (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing­-masing, supaya jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan tentaranya yang akan lalu di tempat itu.
Mendengar perintah raja semut kepada anak buahnya itu, Nabi Sulaiman tersenyum dan ta’jub atas keteraturan kerajaan semut itu dan beliau mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan ni’mat kepadanya, berupa kerajaan, kekayaan, memahami ucapan-ucapan binatang, mempunyai tentara yang terdiri atas jin, manusia, burung dan sebagai­ nya.
Nabi Sulaiman ‘alaihis salam yang telah diberi Allah ni’mat yang besar itu tidak merasa takbur dan sombong, dan sebagai seorang hamba Allah mohon agar Allah memasukkannya ke dalam golong­an orang-orang yang saleh.
Allah subhanahu wa ta’ala menyebut binatang semut dalam surat ini agar manusia mengambil pelajaran dari kehidupan semut itu.
Semut adalah binatang yang hidup berkelompok di dalam tanah, membuat liang dan ruang yang bertingkat-tingkat sebagai rumah dan gudang tempat menyimpan makanan musim dingin.
Kerapian dan kedisiplinan yang terdapat dalam kerajaan semut ini, di­ nyatakan Allah dalam ayat ini dengan bagaimana rakyat semut mencari perlindungan segera agar jangan terpijak oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan tentaranya, setelah menerima peringatan dari rajanya.

Secara tidak langsung Allah mengingatkan juga kepada manusia agar dalam berusaha untuk mencukupkan kebutuhan sehari-hari, mementingkan pula kemaslahatan bersama dan se­bagainya, rakyat semut mempunyai organisasi dan kerja sama yang baik pula.
Dengan mengisah­kan kisah Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dalam surat ini Allah mengisyaratkan hari depan dan kebesaran nabi Muhammad ﷺ Nabi Sulaiman ‘alaihis salam sebagai seorang nabi, rasul dan raja yang dianugerahi ke­kayaan yang melimpah ruah, begitu pula Nabi Muhammad s.a.w, sebagai seorang nabi, rasul dan seorang kepala negara yang ummi’ dan miskin akan berhasil membawa dan memimpin umatnya ke jalan Allah.

Keimanan:

Al Qur’an adalah rahmat dan petunjuk bagi orang-orang mu’min
ke Esaan dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala dan keadaan-Nya tidak memerlukan sekutu-sekutu dalam mengatur alam ini
hanya Allah-lah Yang tahu tentang yang ghaib
adanya hari berbangkit bukanlah suatu dongengan.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Nabi Sulaiman a.s. dengan semut, dengan burung hud-hud dan dengan ratu Balqis
kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya
kisah Nabi Luth a.s. dengan kaum­nya.

Lain-lain:

Ciri-ciri orang mu’min
Al Qur’an menjelaskan apa yang diperselisilhkan Bani Israil
hanya orang-orang mu’minlah yang dapat menerima petunjuk kejadian-kejadian sebelum datangnya kiamat dan keadaan orang-orang yang beriman dan tidak beriman waktu itu
Allah menyuruh Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya memuji dan menyembah Allah saja dan membaca Al Qur’an
Allah akan memperlihatkan kepada kaum musyrikin akan kebenaran ayat-ayat-Nya.

Ayat-ayat dalam Surah An Naml (93 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Naml (27) ayat 29 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Naml (27) ayat 29 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Naml (27) ayat 29 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Naml - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 93 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 27:29
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Naml.

Surah An-Naml (bahasa Arab:النّمل, "Semut") adalah surah ke-27 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 93 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah dan diturunkan sesudah Surah Asy-Syu’ara.
Dinamai dengan An-Naml yang berarti semut, karena pada ayat 18 dan 19 terdapat perkataan An-Naml (semut), di mana raja semut mengatakan kepada anak buahnya agar masuk sarangnya masing-masing, supaya jangan terlindas oleh Nabi Sulaiman dan tentaranya yang akan melewati tempat itu.

Nomor Surah 27
Nama Surah An Naml
Arab النمل
Arti Semut
Nama lain Sulaiman, Tha Sin
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 48
Juz Juz 19 (1-59) sampai juz 20 (60-93)
Jumlah ruku' 7 ruku'
Jumlah ayat 93
Jumlah kata 1166
Jumlah huruf 4795
Surah sebelumnya Surah Asy-Syu'ara'
Surah selanjutnya Surah Al-Qasas
4.5
Ratingmu: 4.5 (27 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta