QS. An Najm (Bintang) – surah 53 ayat 8 [QS. 53:8]

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ
Tsumma danaa fatadall(a);

Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.
―QS. 53:8
Topik ▪ Allah memiliki kunci alam ghaib
53:8, 53 8, 53-8, An Najm 8, AnNajm 8, An-Najm 8

Tafsir surah An Najm (53) ayat 8

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Najm (53) : 8. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah itu Muhammad ﷺ melihat Jibril di tempat yang tinggi.
Kemudian Jibril memenuhi angkasa itu, lalu mendekati Muhammad ﷺ dan Jibril semakin mendekat lagi kepada Muhammad ﷺ hingga jaraknya hampir, kira-kira dua ujung busur panah lagi atau lebih dekat lagi.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kemudian Jibril mendekat lalu mendekat lagi hingga jaraknya mencapai jarak dua busur bahkan lebih.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kemudian dia mendekat) kepadanya (lalu bertambah dekat) semakin dekat dengannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

sedangkan dia berada di ufuk yang tinggi.
(Q.S. An-Najm [53]: 7)

Yakni Jibril bertengger di ufuk yang tinggi, menurut Ikrimah dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Ikrimah mengatakan bahwa ufuk atau cakrawala yang tertinggi adalah tempat yang datang darinya cahaya subuh.

Mujahid mengatakan tempat terbitnya matahari.

Qatadah mengatakan tempat yang darinya siang datang.
Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Zaid dan lain-lainnya

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Masraf ibnu Amr Al-Yami Abul Qasim, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Muhammad ibnu Talhah ibnu Masraf, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Al-Walid ibnu Qais, dari Ishaq ibnu Abul Kahtalah, yang tiada diragukan lagi ia menerimanya dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah ﷺ tidak melihat rupa asli Malaikat Jibril kecuali sebanyak dua kali.
Dan pertama kalinya beliau ﷺ meminta Jibril untuk memperlihatkan rupa aslinya kepada beliau, maka ternyata rupa asli Jibril ‘alaihis salam menutupi semua cakrawala.
Dan yang kedua kalinya di saat beliau ﷺ naik bersamanya, hal inilah yang disebutkan oleh firman-Nya: sedangkan dia berada di ufuk yang tinggi.
(Q.S. An-Najm [53]: 7)

Ibnu Jarir sehubungan dengan ayat ini mengemukakan suatu pendapat yang tidak pernah dikatakan oleh seorang pun selain dia, yang kesimpulannya menyebutkan bahwa malaikat yang sangat kuat lagi mempunyai akal yang cerdas ini, dia bersama-sama dengan Nabi Muhammad ﷺ bertengger di ufuk cakrawala bersama-sama, yaitu dalam malam Isra.
Demikianlah bunyi teks pendapat Ibnu Jarir, tetapi tiada seorang ulama pun yang setuju dengan pendapatnya ini.
Selanjutnya Ibnu Jarir mengemukakan alasan pendapatnya ditinjau dari segi bahasa Arab.
Dia mengatakan bahwa ayat ini mempunyai makna yang sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Apakah setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) bapak-bapak kita.
(Q.S. An-Naml [27]: 67)

Lafaz al-aba di-ataf-kan kepada damir yang terkandung di dalam kunna tanpa menampakkan nahnu.
Begitu pula halnya dengan ayat ini disebutkan oleh firman-Nya, “Fastawa, wahuwa,” maka Jibril dan dia bertengger di cakrawala yang tertinggi.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa Imam Al-Farra telah meriwayatkan dari sebagian orang Arab Badui yang telah mengatakan dalam suatu bait syairnya:

Tidakkah kamu lihat bahwa kayu naba’ (untuk busur) kuat lagi liat batangnya, tetapi tidak sama dengan kayu khuru’ yang mudah patah.

Alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir dari segi bahasa cukup membantunya, tetapi tidak dapat membantunya bila ditinjau dari segi konteksnya.
Karena sesungguhnya penglihatan Nabi ﷺ terhadap bentuk asli Malaikat Jibril bukan terjadi di malam Isra, melainkan sebelumnya.
Yaitu saat Rasulullah ﷺ sedang berada di bumi (bukan di langit), lalu Jibril turun menemuinya, lalu mendekatinya hingga berada dekat sekali dengannya, sedangkan ia dalam rupa aslinya seperti pada saat diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu mempunyai enam ratus sayap.
Kemudian Nabi ﷺ melihatnya lagi di lain waktu di dekat Sidratil Muntaha, yaitu di malam Isra.

Penglihatan pertama terjadi, pada masa permulaan beliau ﷺ diangkat menjadi utusan, yaitu pada saat pertama kalinya Malaikat Jibril datang menemuinya, lalu Allah subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepadanya permulaan surat Al-‘Alaq, setelah itu wahyu mengalami fatrah (kesenjangan), yang di masa-masa itu acapkali Nabi ﷺ pergi ke puncak bukit untuk menjatuhkan diri dari atas.
Tetapi setiap kali beliau ﷺ hendak menjatuhkan dirinya, Jibril memanggilnya dari angkasa, “Hai Muhammad, engkau adalah utusan Allah, dan aku Malaikat Jibril!”

Maka tenanglah hati beliau ﷺ, tidak gelisah lagi.
Tetapi ketika masa itu cukup lama, maka Nabi ﷺ kembali hendak melakukan tindakan tersebut, hingga pada akhirnya Jibril ‘alaihis salam menampakkan dirinya kepada beliau, yang saat itu beliau sedang berada di Abtah.
Jibril menampakkan rupa aslinya sejak ia diciptakan oleh Allah, yaitu mempunyai enam ratus buah sayap.
Rupa aslinya itu menutupi semua cakrawala langit karena besarnya yang tak terperikan.
Lalu Jibril mendekatinya dan mewahyukan kepadanya apa yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya.
Maka sejak saat itu Nabi ﷺ mengetahui besarnya malaikat yang membawakan wahyu kepadanya, juga mengetahui tentang keagungan dan ketinggian kedudukan malaikat itu di sisi Penciptanya yang telah mengangkat dia sebagai rasul.

Adapun mengenai hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar di dalam kitab musnadnya yang menyebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Salamah ibnu Syabib, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Ubaid, dari Abu Imran Al-Juni, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Ketika aku sedang duduk, tiba-tiba Jibril ‘alaihis salam datang dan mencolek punggungku, maka aku berdiri dan menuju ke sebuah pohon yang padanya terdapat sesuatu seperti dua buah sarang burung.
Maka Jibril duduk pada salah satunya dan aku duduk pada yang lainnya.
Lalu pohon itu meninggi dan menjulang ke langit hingga menutupi kedua ufuk (timur dan barat), sedangkan aku membolak-balikkan pandanganku (ke atas dan ke bawah).
Dan seandainya aku mau memegang langit, tentulah hal itu bisa kulakukan jika kuinginkan.
Dan aku menoleh ke arah Malaikat Jibril, ternyata dia menjadi seakan-akan seperti selembar kain yang terjuntai, maka aku mengetahui keutamaan pengetahuannya tentang Allah yang melebihiku.
Lalu Jibril membukakan untukku salah satu dari pintu langit, dan aku melihat nur yang terbesar.
Tiba-tiba di balik hijab terdapat atap mutiara dan yaqut.
Dan Allah mewahyukan kepadaku apa yang dikehendaki-Nya untuk diwahyukan kepadaku.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa tiada yang meriwayatkannya selain Al-Haris ibnu Ubaid, dia adalah seorang lelaki yang terkenal dari kalangan ulama Basrah.

Menurut hemat kami, nama julukan Al-Haris ibnu Ubaid adalah Abu Qudamah Al-Iyadi.
Imam Muslim telah mengetengahkan hadisnya di dalam kitab sahihnya, hanya saja Ibnu Mu’in menilainya lemah; ia mengatakan bahwa Al-Haris ibnu Ubaid bukanlah seorang perawi yang dapat dipakai (yakni lemah).
Sedangkan Imam Ahmad mengatakan, hadisnya berpredikat mudtarib.
Abu Hatim Ar-Razi mengatakan, hadis ini boleh dicatat tetapi tidak boleh dijadikan hujan.
Ibnu Hibban mengatakan bahwa wahm-nya (kelemahannya) terlalu banyak, karena itu hadisnya tidak boleh dipakai sebagai hujah bila sendirian.
Hadis ini merupakan salah satu dari hadis-hadis garib yang diriwayatkannya; karena di dalamnya terdapat hal yang mungkar dan lafaz yang garib serta konteks yang aneh.
Barangkali hadis ini termasuk hadis yang menceritakan mimpi Nabi ﷺ, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Asim, dari Abu Wa-il, dari Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah melihat Malaikat Jibril dalam rupa aslinya, yang memiliki enam ratus sayap.
Tiap-tiap sayap darinya memenuhi ufuk; dari sayapnya berjatuhan beraneka warna permata-permata dan yaqut yang hanya Allah sendirilah Yang Mengetahui keindahan dan banyaknya.
imam Ahmad meriwayatkan asar ini secara tunggal.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Iyasy, dari Idris ibnu Munabbih, dari Wahb ibnu Munabbih, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah meminta kepada Jibril agar menampakkan rupa aslinya kepada beliau.
Maka Jibril berkata, “Berdoalah kepada Allah.” Maka Nabi ﷺ berdoa memohon hal tersebut kepada Allah, lalu kelihatan oleh Nabi ﷺ bayangan hitam dari arah timur, ternyata itu adalah ujud asli Malaikat Jibril yang kian lama kian menaik dan menyebar (menutupi ufuk langit).
Ketika Nabi ﷺ melihat ujud aslinya secara penuh, maka beliau ﷺ pingsan, lalu Jibril mendatanginya dan menghapus busa (air ludah) yang ada pada mulut beliau ﷺ Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini secara munfarid.

Ibnu Asakir di dalam biografi Atabah ibnu Abu Lahab telah menceritakan hadis ini melalui jalur Muhammad ibnu Ishaq, dari Us’man ibnu Urwah ibriuz Zubair, dari ayahnya Hannad ibnul Aswad yang mengatakan bahwa Abu Lahab dan anaknya telah bersiap-siap untuk berangkat ke negeri Syam, aku pun (perawi) bersiap-siap pula untuk pergi bersama keduanya.
Anak Abu Lahab (yaitu Atabah) berkata, “Demi Allah, aku benar-benar akan pergi menemui Muhammad dan aku akan membuat dia merasa sakit hati karena aku akan menghina Tuhannya.” Atabah pergi hingga sampai kepada Nabi ﷺ, lalu berkata, “Hai Muhammad, dia kafir terhadap malaikat yang mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).” Maka Nabi ﷺ berdoa: Ya Allah, serahkanlah dia kepada salah seekor dari anjing-anjing (singa-singa)-Mu.
Kemudian Atabah pergi meninggalkan Nabi ﷺ dan menemui ayahnya (Abu Lahab).
Abu Lahab bertanya, “Hai anakku, apakah yang telah engkau katakan kepadanya?”
Atabah menceritakan apa yang telah dia katakan kepada Nabi ﷺ Abu Lahab bertanya, “Lalu apakah yang dia katakan kepadamu (jawabannya kepadamu)?”
Atabah menyitir doa Nabi ﷺ, “Ya Allah, serahkanlah dia kepada salah seekor dari singa-singa­Mu.” Abu Lahab berkata, “Hai anakku, demi Allah, aku tidak dapat menjamin keamanan bagi dirimu dari doanya.” Maka kami berangkat.
Ketika sampai di Abrah, kami turun istirahat.
Abrah terletak di sebuah bendungan, lalu kami turun (berkemah) di dekat kuil seorang pendeta.
Dan pendeta yang ada di kuil itu bertanya, “Hai orang-orang Arab, apakah yang mendorong kalian berkemah di negeri ini?
Karena sesungguhnya di negeri ini banyak terdapat singa-singa yang hidup bebas bagaikan ternak kambing.” Lalu Abu Lahab berkata kepada kami, “‘Sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang yang sudah lanjut usia, dan sesungguhnya lelaki ini (yakni Nabi Saw) telah mendoakan terhadap anakku suatu doa yang, demi Allah, aku tidak dapat menjamin keselamatannya dari doa yang ditujukan terhadapnya.
Maka kumpulkanlah barang-barang kalian di kuil ini, lalu gelarkanlah hamparan di atasnya buat anakku, kemudian berkemahlah kalian di sekitar kuil ini.” Maka kami melakukan apa yang diperintahkan Abu Lahab, lalu datanglah seekor singa yang langsung mengendus wajah kami.
Ketika singa itu tidak menemukan apa yang dikehendakinya, maka ia mundur mengambil ancang-ancang untuk melompat, kemudian singa itu melompat ke atas barang-barang.
Sesampainya di atas, singa mencium wajah anak Abu Lahab, lalu menyerangnya dan mencabik-cabik mukanya.
Setelah peristiwa itu Abu Lahab berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui bahwa dia tidak dapat selamat dari doa Muhammad.”


Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Najm (53) ayat 8
Telah bercerita kepada kami Qutaibah telah bercerita kepada kami Abu Awanah telah bercerita kepada kami Abu Ishaq Asy Syaibaniy berkata,
Aku bertanya kepada Zirra bin Hubaisy tentang firman Allah Ta’ala QS an-Najm ayat 9-10: Fa kaana qaaba qausaini aw adnaa. Fa awhaa ilaa ‘abdihii maa awhaa (Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) sedekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan). Dia berkata,
telah bercerita kepada kami Ibnu Mas’ud bahwa Beliau shallallahu alaihi wasallam telah melihat Jibril yang memiliki enam ratus sayap.

Shahih Bukhari, Kitab Permulaan Penciptaan Makhluq – Nomor Hadits: 2993

Informasi Surah An Najm (النجم)
Surat An Najm terdiri atas 62 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al lkhlash.

Nama “An Najm” (Bintang), diambil dari perkataan “An Najm” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Allah bersumpah dengan “An Najm” (bintang) adalah karena bintang-bintang yang timbul dan tenggelam, amat besar manfaatnya bagi manusia sebagai pedoman bagi manusia dalam melakukan pelayaran di lautan, dalam perjalanan di padang pasir, untuk menentukan peredaran musim dan sebagainya.

Keimanan:

Al Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan perantaraan Jibril a.s.
kebatilan penyembah berhala
tak ada seseorangpun memberi syafa’at tanpa izin Allah
tiap-tiap orang hanya memikul dosanya sendiri.

Hukum:

Kewajiban menjauhi dosa-dosa besar
kewajiban bersujud dan menyembah Allah saja

Lain-lain:

Nabi Muhammad ﷺ melihat malaikat Jibril 2 kali dalam bentuk aslinya, yaitu sekali waktu menerima wahyu pertama dan sekali lagi di Sidratul Muntaha
anjuran supaya manusia jangan mengatakan dirinya suci karena Allah sendirilah yang mengetahui siapa yang takwa kepada-Nya
orang-orang musyrik selalu memperolok­olokkan Al Qur’an

Ayat-ayat dalam Surah An Najm (62 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Najm (53) ayat 8 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Najm (53) ayat 8 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Najm (53) ayat 8 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Najm - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 62 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 53:8
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Najm.

SuraH An-Najm (bahasa Arab :النّجْم) adalah surah ke-53 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 62 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Ikhlas.
Nama An Najm yang berarti bintang, diambil dari perkataan An Najm yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 53
Nama Surah An Najm
Arab النجم
Arti Bintang
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 23
Juz Juz 27
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 62
Jumlah kata 359
Jumlah huruf 1432
Surah sebelumnya Surah At-Tur
Surah selanjutnya Surah Al-Qamar
4.7
Ratingmu: 4.9 (11 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/53-8









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta