QS. An Najm (Bintang) – surah 53 ayat 32 [QS. 53:32]

اَلَّذِیۡنَ یَجۡتَنِبُوۡنَ کَبٰٓئِرَ الۡاِثۡمِ وَ الۡفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ وَاسِعُ الۡمَغۡفِرَۃِ ؕ ہُوَ اَعۡلَمُ بِکُمۡ اِذۡ اَنۡشَاَکُمۡ مِّنَ الۡاَرۡضِ وَ اِذۡ اَنۡتُمۡ اَجِنَّۃٌ فِیۡ بُطُوۡنِ اُمَّہٰتِکُمۡ ۚ فَلَا تُزَکُّوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ ہُوَ اَعۡلَمُ بِمَنِ اتَّقٰی
Al-ladziina yajtanibuuna kabaa-ira-itsmi wal fawaahisya ilaallamama inna rabbaka waasi’ul maghfirati huwa a’lamu bikum idz ansyaakum minal ardhi wa-idz antum ajinnatun fii buthuuni ummahaatikum falaa tuzakkuu anfusakum huwa a’lamu bimaniittaq(a);

(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil.
Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya.
Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu, maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci.
Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
―QS. 53:32
Topik ▪ Takwa ▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa ▪ Azab orang kafir
53:32, 53 32, 53-32, An Najm 32, AnNajm 32, An-Najm 32

Tafsir surah An Najm (53) ayat 32

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Najm (53) : 32. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan sifat-sifat orang yang baik itu, ialah mereka yang menjauhkan dirinya dari dosa-dosa besar seperti syirik, membunuh, berzina, dan lain-lain, meskipun mereka melakukan dosa-dosa kecil yang kemudian disadari sehingga mereka segera bertaubat sambil menyesali perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan, mereka juga mengimbanginya dengan melakukan banyak perbuatan yang baik karena perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa-dosa kecil.
Sebagaimana firman Allah:

Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.
(Q.S. Hud [11]: 114)

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahankesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).
(Q.S. An-Nisa: 31)

Dosa-dosa besar itu ada tujuh, Ali radhiyallahu ‘anhu, mengatakan bahwa sebagaimana tersebut dalam Sahih Al Bukhari dan Muslim:

Jauhilah tujuh dosa besar yang menghancurkan.
Para sahabat bertanya, “Apakah hal itu?
Nabi menjawab, mempersekutukan Allah, sihir, membunuh manusia yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari perang yang sedang berkecamuk dan menuduh wanita-wanita muhsanat, gafilat mu’minat.

(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Ada pula yang menyatakan, “Dosa-dosa besar adalah dosa-dosa yang diancam oleh Allah dengan neraka atau dengan amarah-Nya atau dengan laknat, azab atau mewajibkan had atau hukuman tertentu di dunia seperti qisas potong tangan, rajam dan lain-lain karena yang melakukannya tidak merasa khawatir dan tidak meyesal atas tindakannya itu, padahal tindakannya itu menyebabkan kerusakan besar, walaupun menurut pandangan manusia merupakan hal kecil.”

Selanjutnya, ayat 32 ini menegaskan bahwa Allah Mahaluas ampunan-Nya, dan Dia akan mengampuni dosa-dosa kecil jika menjauhi dosa besar dan Dia mengampuni dosa-dosa besar bila pelakunya bertobat, serta diiringi penyesalan atas perbuatannya, tapi tidak putus asa terhadap pengampunan Allah.
Allah berfirman:

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

(Q.S. Az-Zumar [39]: 53)

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala lebih mengetahui keadaan, perbuatan, dan ucapan manusia dikala Dia menjadikan manusia dari tanah dan dikala Dia membentuk rupanya dalam rahim ibunya, dari satu tahap ke tahap yang lainnya.
Maka janganlah ada yang mengatakan dirinya suci.
Allahlah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
Bila kamu sadari yang demikian itu, maka janganlah kamu memuji dirinya dengan suci dari dosa atau suci dari perbuatan maksiat atau banyak melakukan kebaikan, tetapi hendaklah manusia banyak bersyukur kepada Allah atas limpahan karunia dan ampunan-Nya.
Allah Maha Mengetahui siapa yang bersih dari kejahatan dan siapa yang menjerumuskan dirinya dalam kejahatan dan melumurkan dirinya dengan dosa.
Sesungguhnya larangan menyucikan diri hanya berlaku bila yang mendorong seseorang untuk itu adalah riya’, takabur atau bangga.
Selain dari sebab di atas, maka menyucikan diri tidak terlarang, bahkan dianjurkan.
Dalam ayat lain Allah berfirman:

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci (orang Yahudi dan Nasrani)?
Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.

(Q.S. An-Nisa’: 49)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Yaitu orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali dosa-dosa kecil, sebab akan diampuni oleh Allah.
Sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun lagi Maha Mengetahui keadaan kalian, ketika Dia menciptakan kalian dari tanah dan ketika kalian masih berupa janin dalam perut ibu pada beberapa fase yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, jangan mengaku suci dengan memuji dan membanggakan diri.
Allah lebih tahu orang yang bertakwa yang benar-benar suci karena ketakwaannya itu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(“Yaitu orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalahan kecil) yang dimaksud dari lafal Al Lamam adalah dosa-dosa kecil seperti, melihat wanita lain, menciumnya dan menyentuhnya.

Istitsna atau pengecualian di sini bersifat Munqathi’ artinya dosa-dosa kecil itu diampuni oleh sebab menjauhi dosa-dosa besar.

(Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan-Nya) disebabkan hal tersebut, sebab Dia Penerima Tobat.

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang telah mengatakan, salat kami, shaum kami dan haji kami (Dia lebih mengetahui) (tentang kalian ketika Dia menjadikan kalian dari tanah) ketika Dia menciptakan bapak moyang kalian yaitu Adam dari tanah (dan ketika kalian masih berupa janin lafal Ajinnatin adalah bentuk jamak dari lafal Janiin (dalam perut ibu kalian, maka janganlah kalian mengatakan diri kalian suci) janganlah kalian memuji-muji diri kalian sendiri dengan cara ujub atau takabur, akan tetapi bila kalian melakukannya dengan cara mengakui nikmat Allah, maka hal ini dianggap baik (Dia-lah Yang paling mengetahui) Yang mengetahui (tentang orang yang bertakwa”).

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya.
(Q.S. An-Najm [53]: 32)

Artinya, rahmat Allah memuat segala sesuatu dan ampunan-Nya memuat semua dosa-dosa bagi orang yang bertobat darinya.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 53)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah.
(Q.S. An-Najm [53]: 32)

Yaitu Dia Maha Melihat kalian lagi Maha Mengetahui keadaan, sepak terjang dan ucapan kalian yang akan keluar dan dikerjakan oleh kalian sejak Dia menciptakan bapak moyang kalian dari tanah (yaitu Adam), lalu Dia mengeluarkan semua keturunannya dari sulbinya seperti semut-semut kecil.
Kemudian membagi mereka menjadi dua golongan, ada golongan yang dimasukkan ke dalam surga dan.
golongan lainnya dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Demikian pula pengertian firman berikutnya:

dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu.
(Q.S. An-Najm [53]: 32)

Malaikat yang telah ditugaskan oleh Tuhannya telah menetapkan terhadapnya rezeki, ajal, dan amal perbuatannya, dan apakah dia termasuk orang yang celaka ataukah orang yang berbahagia, semuanya dicatat oleh malaikat itu terhadapnya.
Mak-hul mengatakan, “Pada mulanya kita berupa janin dalam perut ibu kita, ada pula di antara kita yang gugur, sedangkan ki(a ini termasuk di antara orang-orang yang dihidupkan.
Lalu kita menjadi bayi yang menyusu, maka di antara kita ada yang mati, sedangkan kita termasuk yang dipanjangkan usia.
Kemudian kita menjadi anak-anak, maka di antara kita ada yang mati, sedangkan kita termasuk yang di beri usia panjang.
Kemudian kita tumbuh menjadi pemuda, ada pula di antara kita yang mati, sedangkan kita termasuk yang masih hidup.
Kemudian kita menjadi manusia yang berusia lanjut, maka celakalah Anda, lalu apa lagi yang kita tunggu sesudah semuanya itu?”
Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan hal yang sama dari Mak-hul.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci.
(Q.S. An-Najm [53]: 32)

Yakni memuji diri sendiri dan merasa besar diri serta membanggakan amal sendiri.

Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
(Q.S. An-Najm [53]: 32)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya bersih?
Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang di­kehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 49)

Imam Muslim mengatakan di dalam kitab sahihnya, bahwa:

telah menceritakan kepada kami Amr An-Naqid, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, dari Yazid, dari Abu Habib, dari Muhammad ibnu Amr ibnu Ata yang mengatakan bahwa ia memberi nama anak perempuannya Barrah.
Maka Zainab binti Abu Salamah berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah melarang nama ini, dan dirinya pada mulanya diberi nama Barrah.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Janganlah kamu menganggap dirimu suci, sesungguhnya Allah lebih mengetahui daripada kalian tentang orang yang suci.
Mereka bertanya, “Lalu nama apakah yang harus kami berikan kepadanya?”
Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Namailah dia Zainab!

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan pula bahwa:

telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, telah menceritakan kepada kami Khalid Al-Hazza, dari Abdur Rahman ibnu Abu Bakrah, dari ayahnya yang mengatakan bahwa pernah ada seseorang memuji seorang lelaki di hadapan Nabi ﷺ Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Celakalah engkau, engkau telah mematahkan leher temanmu —berkali-kali—.
Apabila seseorang di antara kalian terpaksa memuji temannya, hendaklah ia mengatakan, “Kulihat si Fulan —hanya Allah-lah yang mengetahui sebenarnya, aku tidak membersihkan seseorang pun terhadap Allah— kulihat dia adalah seorang yang anu dan anu, “jika memang dia mengetahuinya.

Kemudian Imam Muslim meriwayatkannya melalui Gundar, dari Syu’bah, dari Khalid Al-Hazza dengan sanad yang sama.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan Imam Ibnu Majah melalui berbagai jalur dari Khalid Al-Hazza dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Abdur Rahman.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Mansur, dari Ibrahim, dari Hammam ibnul Haris yang mengatakan bahwa pernah seorang lelaki datang kepada Khalifah Usman, lalu memujinya di hadapannya.
Maka Al-Miqdad ibnul Aswad (yang ada di majelis itu) menaburkan pasir ke wajah lelaki itu seraya berkata: Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kepada kami apabila kami jumpai orang-orang yang memuji, hendaknya kami taburkan debu di wajah mereka.

Imam Muslim dan Imam Abu Daud telah meriwayatkannya melalui hadis As-Sauri, dari Mansur dengan sanad yang sama.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Najm (53) Ayat 32

Diriwayatkan oleh al-Wahidi, ath-Thabarani, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Tsabit bin al-Harits al-Anshari bahwa kaum Yahudi beranggapan, apabila seorang bayi mereka mati di waktu kecil, bayi itu termasuk orang shiddiq (manusia sempurna).
Anggapan itu sampai kepada Rasulullah ﷺ Beliau bersabda: “Bohong kaum Yahudi itu.
Tak seorangpun yang dijadikan Allah di dalam rahim ibunya kecuali ditetapkan apakah ia celaka (di neraka) atau selamat (di surga).” Ayat ini (an-Najm: 32) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui nasib makhluk-Nya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Najm (53) Ayat 32

KABAA’IR
كَبَآئِر

Lafaz ini dalam bentuk jamak, mufradnya kabirah, berasal dari kabura. Kabirah dari sudut bahasa ialah dosa besar yang dicegah oleh syara’ seperti membunuh jiwa.

Al kabirah juga digunakan pada sesuatu yang sukar dan berat pada jiwa. Ia juga peringatan tentang besarnya hal itu dari dosa-dosa dan besar siksaannya.

Disebut tiga kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-An Nisaa (4), ayat 31;
-Asy Syuura (42), ayat 37;
-An Najm (53), ayat 32.

Kata kabiaa’ir di dalam Al Qur’an disandarkan kepada al itsm yaitu dosa.

Ibn Mas’ud berkata,
Al kabaa’ir yang terdapat dalam surah ini mencakup 33 ayat dan kebenaran hal ini melalui firman Allah,

إِن تَجْتَنِبُوا۟ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ

Diriwayatkan oleh Abu Hatim di dalam musnadnya yang shahih dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah duduk di atas mimbar dan bersabda, “Demi jiwaku yang berada di tangan Nya” diulang sebanyak tiga kali, kemudian diam. Para sahabat menangis kesedihan karena sumpahan Rasulullah itu, kemudian beliau berkata lagi, “Siapa saja dari hamba Ku yang mendirikan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadan, menjauhkan Al kabaa’iral sab’ yaitu tujuh dosa besar, akan dibuka baginya delapan pintu syurga pada hari kiamat sambil bertepuk tangan, lalu beliau membaca:

إِن تَجْتَنِبُوا۟ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلًا كَرِيمًا

Ibn Katsir berkata,
tafsiran tujuh dosa besar itu dijelaskan dalam Ash Sahihain. Hadis diriwayatkan dari Sulaiman bin Hilal, dari Tsaur bin Zaid, dari Salim Abi Al Ghaits dan dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda, “Jauhkan olehmu tujuh perkara yang membinasakan. Beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah dia?’ Beliau berkata,
‘Menyekutukan Allah, membunuh jiwa yang diharamkan kecuali dengan hak, belajar sihir, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan memfitnah wanita-wanita suci yang beriman,”

Diriwayatkan dari Ibn Umar, al kabaa’ir ada sembilan yaitu membunuh jiwa, memakan riba, memakan harta anak yatim, memfitnah wanita-wanita suci yang beriman, bersaksi palsu, durhaka kepada orang tua, lari dari medan perang, (belajar) sihir dan kufur di dalam Masjidil Haram.

Al Qurtubi berkata,
“Para ulama berselisih dalam menyebut dan menghitungnya disebabkan berbagai atsar mengenainya, oleh karena itu, saya berpendapat sudah stabit dari riwayat yang shahih maupun hasan dimana sebahagian dosa ada yang lebih besar dari yang lainnya berdasarkan kadar mudarat yang besar. Menyekutukan Allah adalah dosa yang paling besar dari keseluruhannya dan ia tidak akan diampuni oleh Allah. Setelah itu, berputus asa dari rahmat Allah karena di dalamnya mendustakan Al Qur’an. Dia berkata,
“Dosa ini tidak akan diampunkan,” dan apabila ia beriktikad dengan hal itu, oleh itu, Allah berfirman yang artinya,

“Sesungguhnya tidak berputus asa seorang itu dari rahmat Allah melainkan orang kafir.”

Kemudian, Al Qanit seperti firman Allah dalam surah Al Hijr (15), ayat 56,

وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِۦٓ إِلَّا ٱلضَّآلُّونَ

dan sebagainya dari apa yang kelihatan besar mudaratnya; setiap dosa yang diperbesar ancaman ke atasnya oleh syara’ dengan siksaan, atau dibesarkan mudaratnya, ia termasuk dari kabirah dan selainnya adalah kecil.

Oleh karena yang demikian, Abd Al Rahman Al Qusyairi dan lainnya berkata,
“Sebahagian dosa dikatakan kecil apabila disandarkan kepada apa yang lebih besar darinya. Contohnya, zina dianggap kecil apabila dibandingkan dengan kufur, ciuman yang haram dianggap kecil apabila dibandingkan dengan zina.

Menurut kami, dosa tidak diampuni dengan menjauhkan dosa yang lain, tetapi kesemuanya adalah besar dan pelakunya akan diampuni dengan izin Allah melainkan kekufuran berdasarkan firman Allah dalam surah Al Nisaa (4), ayat 48 dan 116:

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:505-507

Informasi Surah An Najm (النجم)
Surat An Najm terdiri atas 62 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al lkhlash.

Nama “An Najm” (Bintang), diambil dari perkataan “An Najm” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Allah bersumpah dengan “An Najm” (bintang) adalah karena bintang-bintang yang timbul dan tenggelam, amat besar manfaatnya bagi manusia sebagai pedoman bagi manusia dalam melakukan pelayaran di lautan, dalam perjalanan di padang pasir, untuk menentukan peredaran musim dan sebagainya.

Keimanan:

Al Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan perantaraan Jibril a.s.
kebatilan penyembah berhala
tak ada seseorangpun memberi syafa’at tanpa izin Allah
tiap-tiap orang hanya memikul dosanya sendiri.

Hukum:

Kewajiban menjauhi dosa-dosa besar
kewajiban bersujud dan menyembah Allah saja

Lain-lain:

Nabi Muhammad ﷺ melihat malaikat Jibril 2 kali dalam bentuk aslinya, yaitu sekali waktu menerima wahyu pertama dan sekali lagi di Sidratul Muntaha
anjuran supaya manusia jangan mengatakan dirinya suci karena Allah sendirilah yang mengetahui siapa yang takwa kepada-Nya
orang-orang musyrik selalu memperolok­olokkan Al Qur’an

Ayat-ayat dalam Surah An Najm (62 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Najm (53) ayat 32 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Najm (53) ayat 32 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Najm (53) ayat 32 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Najm - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 62 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 53:32
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Najm.

SuraH An-Najm (bahasa Arab :النّجْم) adalah surah ke-53 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 62 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Ikhlas.
Nama An Najm yang berarti bintang, diambil dari perkataan An Najm yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 53
Nama Surah An Najm
Arab النجم
Arti Bintang
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 23
Juz Juz 27
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 62
Jumlah kata 359
Jumlah huruf 1432
Surah sebelumnya Surah At-Tur
Surah selanjutnya Surah Al-Qamar
4.7
Ratingmu: 4.9 (21 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs 53 : 32

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim