Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 90 [QS. 16:90]

اِنَّ اللّٰہَ یَاۡمُرُ بِالۡعَدۡلِ وَ الۡاِحۡسَانِ وَ اِیۡتَآیِٔ ذِی الۡقُرۡبٰی وَ یَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَ الۡمُنۡکَرِ وَ الۡبَغۡیِ ۚ یَعِظُکُمۡ لَعَلَّکُمۡ تَذَکَّرُوۡنَ
Innallaha ya’muru bil ‘adli wal-ihsaani wa-iitaa-i dziil qurba wayanha ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun(a);
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.
Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
―QS. An Nahl [16]: 90

Indeed, Allah orders justice and good conduct and giving to relatives and forbids immorality and bad conduct and oppression.
He admonishes you that perhaps you will be reminded.
― Chapter 16. Surah An Nahl [verse 90]

إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
يَأْمُرُ Dia menyuruh

commands
بِٱلْعَدْلِ dengan keadilan

justice
وَٱلْإِحْسَٰنِ dan kebaikan

and the good,
وَإِيتَآئِ mendatangkan

and giving
ذِى memiliki hubungan

(to) relatives, *[meaning includes next or prev. word]
ٱلْقُرْبَىٰ kerabat

(to) relatives, *[meaning includes next or prev. word]
وَيَنْهَىٰ dan Dia melarang

and forbids
عَنِ dari

[from]
ٱلْفَحْشَآءِ perbuatan keji

the immorality
وَٱلْمُنكَرِ dan munkar

and the bad
وَٱلْبَغْىِ dan kedurhakaan

and the oppression.
يَعِظُكُمْ Dia memberi pengajaran kepadamu

He admonishes you
لَعَلَّكُمْ agar kalian

so that you may
تَذَكَّرُونَ kamu ingat/mengerti

take heed.

Tafsir

Alquran

Surah An Nahl
16:90

Tafsir QS. An Nahl (16) : 90. Oleh Kementrian Agama RI


Allah ﷻ memerintahkan kaum Muslimin untuk berbuat adil dalam semua aspek kehidupan serta melaksanakan perintah Alquran, dan berbuat ihsan (keutamaan).
Adil berarti mewujudkan kesamaan dan keseimbangan di antara hak dan kewajiban.

Hak asasi tidak boleh dikurangi disebabkan adanya kewajiban.
Ayat ini termasuk ayat yang sangat luas dalam pengertiannya.

Ibnu Mas’ud berkata:


Dan ayat paling luas lingkupnya dalam Alquran tentang kebaikan dan kejahatan ialah ayat dalam Surah An-Nahl (yang artinya):
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan".
(Riwayat Bukhari dari Ibnu Masud dalam kitab al-Adab al-Mufrad)


Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ikrimah bahwa Nabi Muhammad ﷺ membacakan ayat ini kepada al-Walid.

"Ulang kembali hai saudaraku,"
kata al-Walid, maka Rasul ﷺ mengulang kembali membaca ayat itu.
Lalu al-Walid berkata,
"Demi Allah sungguh Alquran ini memiliki kelezatan dan keindahan, di atasnya berbuah, di bawahnya berakar, dan bukanlah dia kata-kata manusia.


Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ada seorang sahabat yang semula kurang senang kepada Rasul ﷺ.
Sewaktu dibacakan kepadanya ayat ini oleh Rasul ﷺ, maka iman dalam jiwanya menjadi teguh dan dia menjadi sayang kepada Nabi ﷺ.


Pada ayat ini disebutkan tiga perintah dan tiga larangan.
Tiga perintah itu ialah berlaku adil, berbuat kebajikan (ihsan), dan berbuat baik kepada kerabat.

Sedangkan tiga larangan itu ialah berbuat keji, mungkar, dan permusuhan.



Kezaliman lawan dari keadilan, sehingga wajib dijauhi.
Hak setiap orang harus diberikan sebagaimana mestinya.
Kebahagiaan barulah dirasakan oleh manusia bilamana hak-hak mereka dijamin dalam masyarakat, hak setiap orang dihargai, dan golongan yang kuat mengayomi yang lemah.
Penyimpangan dari keadilan adalah penyimpangan dari sunnah Allah dalam menciptakan alam ini.
Hal ini tentulah akan menimbulkan kekacauan dan kegoncangan dalam masyarakat, seperti putusnya hubungan cinta kasih sesama manusia, serta tertanamnya rasa dendam, kebencian, iri, dengki, dan sebagainya dalam hati manusia.


Semua yang disebutkan itu akan menimbulkan permusuhan yang menyebabkan kehancuran.
Oleh karena itu, agama Islam menegakkan dasar-dasar keadilan untuk memelihara kelangsungan hidup masyarakat.
Dalam Alquran banyak ditemukan ayat-ayat yang turun di Mekah maupun di Madinah, yang memerintahkan manusia berbuat adil dan melarang kezaliman.
Di antaranya adalah:


Firman Allah ﷻ:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا اِعْدِلُوْا هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil.
Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.
Berlaku adillah.
Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.
Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.
(al-Ma’idah [5]: 8)


Allah ﷻ menetapkan keadilan sebagai landasan umum bagi kehidupan masyarakat untuk setiap bangsa di segala zaman.
Keadilan merupakan tujuan dari pengutusan rasulrasul ke dunia serta tujuan dari syariat dan hukum yang diturunkan kepada mereka.


Firman Allah ﷻ:

لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ وَرُسُلَهٗ بِالْغَيْبِ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ

Sungguh, Kami telah mengutus rasulrasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil.
Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasulrasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya.
Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa.
(al-Hadid [57]: 25)


Menurut Mahmud Syaltut, Allah ﷻ menyebutkan besi dalam rangkaian pembinaan keadilan, mengandung isyarat yang kuat dan jelas bahwa pembinaan dan pelaksanaan keadilan adalah ketentuan Ilahi yang wajib dikerjakan.
Para pelaksananya dapat mempergunakan kekuatan yang dibenarkan Tuhan, seperti dengan peralatan besi (senjata) yang punya daya kekuatan yang dahsyat.


Adapun macam-macam keadilan yang dikemukakan oleh Islam antara lain sebagai berikut:


Pertama:
Keadilan dalam Kepercayaan

Menurut Alquran kepercayaan syirik itu suatu kezaliman.
Sebagaimana firman Allah ﷻ:

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya,
"Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar."
(Luqman [31]: 13)


Mengesakan Tuhan adalah suatu keadilan, sebab hanya Dialah yang menjadi sumber hidup dan kehidupan.
Dia memberi nikmat lahir dan batin.
Segala ibadah, syukur, dan pujian hanya untuk Allah ﷻ Mengarahkan ibadah dan pujian kepada selain Allah adalah perbuatan yang tidak adil atau suatu kezaliman.
Hak manusia mendapatkan rahmat dan nikmat dari Allah, karena itu manusia berkewajiban mengesakan Allah dalam itikad dan ibadah.


Kedua:
Keadilan dalam Rumah Tangga

Rumah tangga merupakan bagian dari masyarakat.
Bilamana rumah tangga sejahtera, masyarakat pun akan sejahtera dan negara akan kuat.


Dari rumah tangga yang baik lahir individu-individu yang baik pula.
Oleh karena itu, Islam menetapkan peraturan-peraturan dalam pembinaan rumah tangga yang cukup luwes dan sempurna.
Keadilan tidak hanya mendasari ketentuan-ketentuan formal yang menyangkut hak dan kewajiban suami istri, tetapi juga keadilan mendasari hubungan kasih sayang dengan istri.


Ketiga:
Keadilan dalam Perjanjian

Dalam memenuhi kebutuhan hidup, setiap orang ataupun bangsa pasti memerlukan bantuan orang lain.
Tolong-menolong dan bantu-membantu sesama manusia dalam usaha mencapai kebutuhan masing-masing merupakan ciri kehidupan kemanusiaan.
Agama Islam memberikan tuntunan dalam menyelenggarakan hidup tolong-menolong itu.
Umpamanya dalam soal muamalah, seperti utang piutang, jual beli, sewa menyewa, dan sebagainya, dengan suatu perjanjian, Islam memerintahkan agar perjanjian itu ditulis.
Firman Allah ﷻ yang artinya :



Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.
Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.
…..Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan.
(al-Baqarah [2]: 282)


Pada persaksian yang banyak terjadi dalam perjanjian-perjanjian, Islam menetapkan pula adanya keadilan.
Keadilan dalam persaksian ialah melaksanakannya secara jujur isi kesaksian itu tanpa penyelewengan dan pemalsuan.
Firman Allah ﷻ:


Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena barang siapa menyembunyikannya, sungguh, hatinya kotor (berdosa).
(al-Baqarah [2]: 283)


Firman Allah ﷻ:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. (an-Nisa’ [4]: 135)


Keempat :
Keadilan dalam Hukum

Dalam Islam semua manusia sama di hadapan Tuhan, tidak ada perbedaan orang kulit putih dan kulit hitam, antara anak raja dengan anak rakyat, semua sama dalam perlakuan hukum.
Melaksanakan keadilan hukum dipandang oleh Islam sebagai melaksanakan amanat.
Firman Allah ﷻ:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَا وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ

Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. (an-Nisa’ [4]: 58)


Hadis Nabi ﷺ:
Sesungguhnya kehancuran umat sebelummu karena jika orang terpandang yang mencuri mereka tidak menghukumnya, namun jika orang lemah yang mencuri, mereka menghukumnya.
Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti kupotong tangannya.
(Riwayat Muslim)


Di samping berlaku adil, Allah ﷻ memerintahkan pula berbuat ihsan seperti membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan yang lebih baik/besar atau memaafkan orang lain.
Firman Allah:

وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا

Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (peng-hormatan itu, yang sepadan) dengannya.
Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu.
(an-Nisa’ [4]: 86)


Al-Ihsan terbagi dalam tiga kategori:


1. Al-Ihsan dalam ibadah:
engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya.
Jika tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.
Hadis Nabi Muhammad ﷺ:


Ihsan itu ialah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, apabila kamu tidak melihat-Nya, Dia pasti melihatmu.
(Riwayat Bukhari dari Abu Hurairah)


2. Al-Ihsan dalam balasan dan sanksi dengan seimbang, dan menyempurna-kan hak dalam pembunuhan dan luka dengan qisas.


3. Al-Ihsan dalam menepati hak atau hutang dengan membayarnya tanpa mengulur waktu, atau disertai tambahan yang tidak bersyarat.



Tingkat al-ihsan yang tertinggi ialah berbuat kebaikan terhadap orang yang bersalah.
Diriwayatkan bahwa Isa `alaihis salam, pernah berkata,
"Sesungguhnya al-ihsan itu ialah kamu berbuat baik kepada orang yang bersalah terhadapmu.
Bukanlah al-ihsan bila kamu berbuat baik kepada orang yang telah berbuat baik kepadamu."


Allah ﷻ memerintahkan pula dalam ayat ini untuk memberikan sedekah kepada kerabat untuk kebutuhan mereka.
Bersedekah kepada kerabat sebenarnya sudah termasuk dalam pengakuan berbuat adil dan al-ihsan.
Namun disebutkan secara khusus untuk memberikan pengertian bahwa urusan memberikan bantuan kepada kerabat hendaklah diperhatikan dan diutamakan.


Sesudah menerangkan ketiga perkara yang diperintahkan kepada umat manusia, Allah ﷻ meneruskan dengan menerangkan tiga perkara lagi yang harus ditinggalkan.


Pertama: Melarang berbuat keji (fahisyah), yaitu perbuatan-perbuatan yang didasarkan pada pemuasan hawa nafsu seperti zina, minuman-minuman yang memabukkan, dan mencuri.


Kedua: Melarang berbuat mungkar yaitu perbuatan yang buruk yang berlawanan dengan pikiran yang waras, seperti membunuh dan merampok hak orang lain.


Ketiga: Melarang permusuhan yang sewenang-wenang terhadap orang lain.


Demikianlah dalam ayat ini, Allah ﷻ memerintahkan tiga perkara yang harus dikerjakan, yaitu berbuat adil, al-ihsan, dan mempererat persaudaraan.
Allah juga melarang tiga perkara, yaitu berbuat keji, mungkar, dan permusuhan.


Semua itu merupakan pengajaran kepada manusia yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, maka sewajarnya mereka mengamalkannya.

Tafsir QS. An Nahl (16) : 90. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk berlaku adil dalam setiap perkataan dan perbuatan.
Allah menyuruh mereka untuk selalu berusaha menuju yang lebih baik dalam setiap usaha dan mengutamakan yang terbaik dari lainnya.


Allah memerintahkan mereka untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh para kerabat sebagai cara untuk memperkokoh ikatan kasih sayang antar keluarga.
Allah melarang mereka berbuat dosa, lebih-lebih dosa yang amat buruk dan segala perbuatan yang tidak dibenarkan oleh syariat dan akal sehat.


Allah melarang mereka menyakiti orang lain.
Dengan perintah dan larangan itu, Allah bermaksud membimbing kalian menuju kemaslahatan dalam setiap aspek kehidupan, agar kalian selalu ingat karunia-Nya dan menaati firmanfirman-Nya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Sesungguhnya Allah menyuruh para hamba-Nya dalam al-Qur’an ini supaya berlaku adil berkenaan dengan hak-Nya dengan mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan dengan-Nya, dan berkenaan dengan hak para hamba-Nya dengan memberikan kepada setiap orang yang berhak akan haknya.
Dia memerintahkan berbuat baik berkenaan dengan hak-Nya, dengan beribadah kepada-Nya dan melaksanakan kewajiban-kewajiban dari-Nya menurut cara yang disyariatkan, berbuat baik kepada sesama dalam kata-kata dan perbuatan, dan menyuruh memberi kepada kaum kerabat sesuatu yang dapat menyambung dan berbakti kepada mereka.


Sebaliknya, Dia melarang dari semua kekejian, baik kata-kata maupun perbuatan, melarang apa yang diingkari syariat dan tidak diridhai-Nya berupa kekafiran dan kemaksiatan, melarang menzalimi dan sewenang-wenang terhadap manusia.
Dengan perintah dan larangan ini, Dia memberi pengajaran kepada kalian dan mengingatkan kalian akan berbagai akibat, agar kalian mengingat perintah-perintah Allah dan memetik manfaatnya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Sesungguhnya Allah menyuruh kalian berlaku adil) bertauhid atau berlaku adil dengan sesungguhnya


(dan berbuat kebaikan) menunaikan fardufardu, atau hendaknya kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadis


(memberi) bantuan


(kepada kaum kerabat) famili, mereka disebutkan secara khusus di sini, sebagai pertanda bahwa mereka harus dipentingkan terlebih dahulu


(dan Allah melarang dari perbuatan keji) yakni zina


(dan kemungkaran) menurut hukum syariat, yaitu berupa perbuatan kekafiran dan kemaksiatan


(dan permusuhan) menganiaya orang lain.
Lafal al-baghyu disebutkan di sini secara khusus sebagai pertanda, bahwa ia harus lebih dijauhi, dan demikian pula halnya dengan penyebutan lafal al-fahsyaa


(Dia memberi pengajaran kepada kalian) melalui perintah dan larangan-Nya


(agar kalian dapat mengambil pelajaran) mengambil pelajaran dari hal tersebut.
Di dalam lafal tadzakkaruuna menurut bentuk asalnya ialah huruf ta-nya diidghamkan kepada huruf dzal.
Di dalam kitab Al-Mustadrak disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu Masud yang telah mengatakan, bahwa ayat ini yakni ayat 90 surah An-Nahl, adalah ayat yang paling padat mengandung anjuran melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan di dalam Alquran.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala, menyebutkan bahwa Dia memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berlaku adil, yakni pertengahan dan seimbang.
Dan Allah memerintahkan untuk berbuat kebajikan, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam ayat yang lain, yaitu:

Dan jika kalian memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian.
Akan tetapi, jika kalian bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.
(QS. Al-Hijr [15]: 126)

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan ) Allah.
(QS. Asy Shyuura [42]: 40)

dan luka-luka(pun) ada qisasnya.
Barang siapa yang melepaskan (hak qisas)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 45)

Dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan perintah berbuat adil serta anjuran berbuat kebajikan.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil.
(QS. Al-Hijr [15]: 90)
Yakni mengucapkan persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.


Lain pula dengan Sufyan ibnu Uyaynah, ia mengatakan bahwa istilah adil dalam ayat ini ialah sikap pertengahan antara lahir dan batin bagi setiap orang yang mengamalkan suatu amal karena Allah subhanahu wa ta’ala, Al-ihsan artinya ialah ‘bilamana hatinya lebih baik daripada lahiriahnya’.
Al fahsya serta al-munkar ialah ‘bila lahiriahnya lebih baik daripada hatinya’.


Dan yang dimaksud dengan firman-Nya:

…dan memberi kepada kaum kerabat.

Yaitu hendaknya dia menganjurkan untuk bersilaturahmi, seperti pengertian yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kalian menghambur-hamburkan (harta kalian) secara boros.
(QS. Al Israa [17]: 26)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…dan Allah melarang dari perbuatan keji dan kemungkaran.

Yang dimaksud dengan fahsya ialah hal-hal yang diharamkan, dan munkar ialah segala sesuatu yang ditampakkan dari perkara haram itu oleh pelakunya.
Karena itulah dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:

Katakanlah,
"Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi."
(QS. Al-A’raf [7]: 33)

Adapun yang dimaksud dengan al-bagyu ialah permusuhan dengan orang lain.
Di dalam sebuah hadis diterangkan:

Tiada suatu dosa pun yang lebih berhak Allah menyegerakan siksaan terhadap (pelaku)nya di dunia ini, di samping siksaan yang disediakan buat pelakunya di akhirat nanti, selain dari permusuhan dan memutuskan tali silaturahmi.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Dia memberi pengajaran kepada kalian.

Yaitu melalui apa yang diperintahkannya kepada kalian agar berbuat kebaikan dan melarang kalian dari perbuatan yang jahat.

…agar kalian dapat mengambil pelajaran.

Asy-Sya’bi telah meriwayatkan dari Basyir ibnuNuhaik, bahwa ia pernah mendengar Ibnu Mas’ud mengatakan,
"Sesungguhnya ayat yang paling mencakup dalam Alquran adalah ayat surat An-Nahl,"
yaitu firman-Nya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berbuat adil dan berbuat kebajikan.
(QS. Al-Hijr [15]: 90), hingga akhir ayat.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Sa’id ibnu Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berbuat adil dan berbuat kebajikan., hingga akhir ayat.
Bahwa tiada suatu akhlak baik pun yang dahulu dilakukan oleh orang-orang Jahiliah dan mereka memandangnya sebagai perbuatan yang baik, melainkan Allah subhanahu wa ta’ala, menganjurkannya.
Dan tiada suatu akhlak buruk pun yang dahulu mereka pandang sebagai suatu keaiban di antara sesama mereka melainkan Allah melarangnya.
Yang paling diprioritaskan ialah, sesungguhnya Allah melarang akhlak yang buruk dan yang tercela.


Karena itulah —menurut kami— di dalam sebuah hadis disebutkan:

Sesungguhnya Allah menyukai akhlakakhlak yang tinggi dan benci terhadap akhlakakhlak yang rendah.

Al-Hafiz Abu Ya’la dalam kitab Ma’rifatus Sahabah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad ibnul Fath A!-Hambali, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Muhammad maula (pelayan) Al-Hasan ibnu Daud Al-Munkadiri, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Ali Al-Maqdami, dari Ali ibnu Abdul Malik ibnu Umair, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Aksam ibnu Saifi sampai di tempat Nabi ﷺ biasa keluar, maka dia bermaksud datang langsung menemui Nabi ﷺ tetapi kaumnya tidak membiarkannya berbuat begitu.
Mereka berkata,
"Engkau adalah pemimpin kami, tidaklah pantas bila engkau datang sendiri kepadanya."
Aksam ibnu Saifi berkata,
"Kalau begitu, carilah seseorang yang menjadi perantara untuk menyampaikan dariku dan seseorang perantara untuk menyampaikan darinya."
Maka ditugaskanlah dua orang lelaki, lalu keduanya datang menghadap kepada Nabi ﷺ dan berkata,
"Kami berdua adalah utusan Aksam ibnu Saifi, dia ingin bertanya kepadamu, siapakah kamu dan apakah kedudukanmu?"
Nabi ﷺ bersabda,
"Aku adalah Muhammad ibnu Abdullah.
Adapun kedudukanku adalah Abdullah (hamba Allah) dan Rasulullah (utusan Allah)."
Kemudian Nabi ﷺ membacakan kepada mereka ayat ini, yaitu firman-Nya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan.
(QS. Al-Hijr [15]: 90), hingga akhir ayat.
Mereka berkata,
"Ulangilah kalimat itu kepada kami."
Maka Nabi ﷺ mengulang-ulang sabdanya kepada mereka hingga mereka hafal.
Setelah itu keduanya datang menghadap kepada Aksam ibnu Saifi dan mengatakan,
"Dia menolak, tidak mau meninggikan nasabnya.
Ketika kami tanyakan kepada orang lain tentang nasabnya, ternyata kami jumpai dia (Nabi ﷺ) bersih nasabnya (tinggi), dan dimuliakan di kalangan Mudar.
Sesungguhnya dia telah melontarkan kepada kami kalimat-kalimat yang pernah kami dengar."
Setelah Aksam mendengar kalimat-kalimat tersebut, ia mengatakan,
"Sesungguhnya saya melihat dia adalah orang yang memerintahkan kepada akhlakakhlak yang mulia dan melarang akhlakakhlak yang buruk.
Maka jadilah kalian semua dalam urusan ini sebagai pemimpin-pemimpin dan janganlah kalian menjadi pengekor-pengekor."

Disebutkan di dalam hadis yang berpredikat hasan sehubungan dengan penyebab turunnya ayat ini, diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid, telah menceritakan kepada kami Syahr, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ berada di halaman rumahnya sedang duduk-duduk, tiba-tiba lewatlah Usman ibnu Maz’un (yang tuna netra).
Lalu Usman ibnu Maz’un tersenyum kepada Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya,
"Mengapa engkau tidak duduk (bersamaku)?"
Usman ibnu Maz’un menjawab,
"Baiklah."
Maka duduklah Usman ibnu Maz’un berhadapan dengan Rasulullah ﷺ Ketika Rasulullah ﷺ sedang berbincang-bincang dengannya, tiba-tiba Rasulullah ﷺ menatapkan pandangan matanya ke arah langit, lalu memandang ke arah langit sesaat, setelah itu beliau menurunkan pandangan matanya ke arah sebelah kanannya, dan saat itu juga Rasulullah ﷺ beralih duduk ke tempat yang tadi dipandang oleh matanya, sedangkan teman duduknya (yaitu Usman ibnu Maz’un) ditinggalkannya.
Setelah itu Rasulullah ﷺ menundukkan kepalanya, seakan-akan sedang mencerna apa yang diucapkan kepadanya, sementara itu Ibnu Maz’un terus mengamatinya (dengan indera perasanya).
Sesudah keperluannya selesai dan memahami apa yang diucapkan kepadanya, maka Rasulullah ﷺ kembali menatapkan pandangannya ke arah langit, sebagaimana tatapannya yang pertama kali tadi.
Nabi ﷺ menatapkan pandangan matanya ke arah langit seakan-akan mengikuti kepergian (malaikat) hingga malaikat itu tidak kelihatan tertutup oleh langit.
Kemudian Rasulullah ﷺ menghadap kepada Usman di tempat duduknya yang semula tadi.
Maka Usman ibnu Maz’un bertanya,
"Hai Muhammad, selama saya duduk denganmu saya belum pernah melihat­mu melakukan perbuatan seperti yang kamu lakukan siang hari ini."
Rasulullah ﷺ balik bertanya,
"Apa sajakah yang kamu lihat aku me­lakukannya?"
Usman ibnu Maz’un berkata,
"Saya lihat engkau mena­tapkan pandanganmu ke arah langit, kemudian kamu turunkan pandangan matamu ke suatu tempat di sebelah kananmu, lalu kamu pindah ke tempat itu seraya meninggalkan diriku.
Setelah itu engkau menundukkan kepala seakan-akan sedang menerima sesuatu yang diucapkan kepadamu."
Rasulullah ﷺ bertanya,
"Apakah kamu (yang tuna netra) dapat melihat hal tersebut?"
Usman ibnu Maz’un menjawab,
"Ya."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Aku baru saja kedatangan utusan Allah saat kamu sedang duduk."
Usman Ibnu Maz’un bertanya,
"Utusan Allah?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Ya."
Usman ibnu Maz’un bertanya,
"Apa sajakah yang dia sampaikan kepadamu?"
Rasulullah ﷺ bersabda membacakan firman-Nya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.
(QS. Al-Hijr [15]: 90), hingga akhir ayat.
Usman ibnu Maz’un mengatakan,
"Yang demikian itu terjadi di saat iman­ku telah mantap dalam hatiku dan aku mulai mencintai Muhammad ﷺ"

Sanad hadis ini cukup baik, muttasil lagi hasan, telah disebutkan di dalamnya sima’i secara muttasil.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui hadis Abdul Hamid ibnu Bahram secara ringkas.

Hadis lain mengenai hal tersebut berasal dari Usman ibnu Abul As As-Saqafi.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Aswad ibnu Amir, telah menceritakan kepada kami Harim, dari Lais, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Usman ibnu Abul As yang mengatakan,
"Dahulu saya pernah duduk di hadapan Rasulullah ﷺ, tetapi tiba-tiba Rasulullah ﷺ menatapkan pandangan matanya (ke arah langit).
Setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jibril baru datang kepadaku, dan memerintahkan kepadaku agar meletakkan ayat berikut pada suatu tempat dari surat (An-Nahl) ini,’ yaitu firman-Nya:

Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan., hingga akhir ayat."

Sanad hadis ini tidak ada celanya, dan barangkali hadis ini yang ada pada Syahr ibnu Hausyab diriwayatkan melalui dua jalur.

Unsur Pokok Surah An Nahl (النحل)

Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan "An Nahl" yang berarti "lebah" karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah",
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Alquranul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Alquran mengandung inti sari dari kitabkitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu, ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula "An Ni’am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Keimanan:

▪ Kepastian adanya hari kiamat.
▪ Ke-Esaan Allah.
▪ Kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya.
▪ Pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

▪ Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang dihalalkan.
▪ Kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut seperti marjan dan mutiara.
▪ Dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa.
▪ Kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan.
▪ Kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah.
▪ Larangan membuat buat hukum yang tak ada dasarnya.
▪ Perintah membaca isti’aadzah (a’uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk).
▪ Larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.

Lain-lain:

▪ Asal kejadian manusia.
▪ Madu adalah untuk kesehatan manusia.
▪ Nasib pemimpin-pemimpin palsu di hari kiamat.
▪ Pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan.
▪ Ajaran moral di dalam Islam.
▪ Pedoman dakwah dalam Islam.

Audio

QS. An-Nahl (16) : 1-128 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 128 + Terjemahan Indonesia

QS. An-Nahl (16) : 1-128 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 128

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nahl ayat 90 - Gambar 1 Surah An Nahl ayat 90 - Gambar 2
Statistik QS. 16:90
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, “Lebah”) adalah surah ke-16 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya : “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”.
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Alquranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Alquran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra’ ayat 82).
Surah ini dinamakan pula “An-Ni’am” artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni’am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra’
Sending
User Review
4.8 (10 votes)
Tags:

16:90, 16 90, 16-90, Surah An Nahl 90, Tafsir surat AnNahl 90, Quran An-Nahl 90, Surah An Nahl ayat 90

▪ innallaha yamurukum ▪ ibadallah inallahabyamuru bil adli walihsan
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Anfaal (Harta rampasan perang) – surah 8 ayat 67 [QS. 8:67]

Beberapa ayat sebelumnya menjelaskan tentang ketentuan-ketentuan dalam peperangan, di antaranya adalah ketentuan pembagian rampasan perang, maka ayat ini menjelaskan hukum-hukum lainnya, yaitu me-nyan … 8:67, 8 67, 8-67, Surah Al Anfaal 67, Tafsir surat AlAnfaal 67, Quran Al Anfal 67, AlAnfal 67, Al-Anfal 67, Surah Al Anfal ayat 67

QS. Az Zukhruf (Perhiasan) – surah 43 ayat 65 [QS. 43:65]

65. Akan tetapi, golongan-golongan yang ada saling berselisih di antara mereka mengenai pribadi Nabi Isa yang agung dan hamba Allah yang lahir tanpa ayah itu. Maka, celakalah orang-orang yang zalim it … 43:65, 43 65, 43-65, Surah Az Zukhruf 65, Tafsir surat AzZukhruf 65, Quran Az-Zukhruf 65, Surah Az Zukruf ayat 65

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di ...

Benar! Kurang tepat!

Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Sejak wahyu di Surah Al Muddasir [74]: 1-7, Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama ...

Benar! Kurang tepat!

Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam terkandung dalam surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.'
--QS. al-Alaq [96] ayat 1-5.

Pendidikan Agama Islam #10
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #10 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #10 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #10

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di … Madinah Ka’bah Padang Arafat Masjid Al Haram Gua Hira Benar!

Pendidikan Agama Islam #30

Di bawah ini adalah cara untuk menjadikan semangat mengamalkan ilmu dalam kehidupan kecuali … Menjauhkan diri dari perbuatan maksiat Mencari

Instagram