QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 90 [QS. 16:90]

اِنَّ اللّٰہَ یَاۡمُرُ بِالۡعَدۡلِ وَ الۡاِحۡسَانِ وَ اِیۡتَآیِٔ ذِی الۡقُرۡبٰی وَ یَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَ الۡمُنۡکَرِ وَ الۡبَغۡیِ ۚ یَعِظُکُمۡ لَعَلَّکُمۡ تَذَکَّرُوۡنَ
Innallaha ya’muru bil ‘adli wal-ihsaani wa-iitaa-i dziil qurba wayanha ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun(a);

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.
Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
―QS. 16:90
Topik ▪ Ilmu manusia sedikit
16:90, 16 90, 16-90, An Nahl 90, AnNahl 90, An-Nahl 90

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 90

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 90. Oleh Kementrian Agama RI

Dan ayat yang paling luas lingkupnya dalam Alquran tentang kebaikan dan kejahatan ialah ayat dalam surah An Nahl (yang artinya): “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebaikan”

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk berlaku adil dalam setiap perkataan dan perbuatan.
Allah menyuruh mereka untuk selalu berusaha menuju yang lebih baik dalam setiap usaha dan mengutamakan yang terbaik dari lainnya.
Allah memerintahkan mereka untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh para kerabat sebagai cara untuk memperkokoh ikatan kasih sayang antar keluarga.
Allah melarang mereka berbuat dosa, lebih-lebih dosa yang amat buruk dan segala perbuatan yang tidak dibenarkan oleh syariat dan akal sehat.
Allah melarang mereka menyakiti orang lain.
Dengan perintah dan larangan itu, Allah bermaksud membimbing kalian menuju kemaslahatan dalam setiap aspek kehidupan, agar kalian selalu ingat karunia-Nya dan menaati firman-firman-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya Allah menyuruh kalian berlaku adil) bertauhid atau berlaku adil dengan sesungguhnya (dan berbuat kebaikan) menunaikan fardu-fardu, atau hendaknya kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadis (memberi) bantuan (kepada kaum kerabat) famili, mereka disebutkan secara khusus di sini, sebagai pertanda bahwa mereka harus dipentingkan terlebih dahulu (dan Allah melarang dari perbuatan keji) yakni zina (dan kemungkaran) menurut hukum syariat, yaitu berupa perbuatan kekafiran dan kemaksiatan (dan permusuhan) menganiaya orang lain.

Lafal al-baghyu disebutkan di sini secara khusus sebagai pertanda, bahwa ia harus lebih dijauhi, dan demikian pula halnya dengan penyebutan lafal al-fahsyaa (Dia memberi pengajaran kepada kalian) melalui perintah dan larangan-Nya (agar kalian dapat mengambil pelajaran) mengambil pelajaran dari hal tersebut.

Di dalam lafal tadzakkaruuna menurut bentuk asalnya ialah huruf ta-nya diidghamkan kepada huruf dzal.

Di dalam kitab Al-Mustadrak disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu Masud yang telah mengatakan, bahwa ayat ini yakni ayat 90 surah An-Nahl, adalah ayat yang paling padat mengandung anjuran melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan di dalam Alquran.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya Allah menyuruh para hamba-Nya dalam al-Qur’an ini supaya berlaku adil berkenaan dengan hak-Nya dengan mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan dengan-Nya, dan berkenaan dengan hak para hamba-Nya dengan memberikan kepada setiap orang yang berhak akan haknya.
Dia memerintahkan berbuat baik berkenaan dengan hak-Nya, dengan beribadah kepada-Nya dan melaksanakan kewajiban-kewajiban dari-Nya menurut cara yang disyariatkan, berbuat baik kepada sesama dalam kata-kata dan perbuatan, dan menyuruh memberi kepada kaum kerabat sesuatu yang dapat menyambung dan berbakti kepada mereka.
Sebaliknya, Dia melarang dari semua kekejian, baik kata-kata maupun perbuatan, melarang apa yang diingkari syariat dan tidak diridhai-Nya berupa kekafiran dan kemaksiatan, melarang menzhalimi dan sewenang-wenang terhadap manusia.
Dengan perintah dan larangan ini, Dia memberi pengajaran kepada kalian dan mengingatkan kalian akan berbagai akibat, agar kalian mengingat perintah-perintah Allah dan memetik manfaatnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan bahwa Dia memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berlaku adil, yakni pertengahan dan seimbang.
Dan Allah memerintahkan untuk berbuat kebajikan, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam ayat yang lain, yaitu:

Dan jika kalian memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian.
Akan tetapi, jika kalian bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.
(Q.S. Al-Hijr [15]: 126)

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan ) Allah.
(Q.S. Asy Shyuura [42]: 40)

dan luka-luka(pun) ada qisasnya.
Barang siapa yang melepaskan (hak qisas)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya.
(Q.S. Al-Ma’idah [5]: 45)

Dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan perintah berbuat adil serta anjuran berbuat kebajikan.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil.
(Q.S. Al-Hijr [15]: 90) Yakni mengucapkan persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

Lain pula dengan Sufyan ibnu Uyaynah, ia mengatakan bahwa istilah adil dalam ayat ini ialah sikap pertengahan antara lahir dan batin bagi setiap orang yang mengamalkan suatu amal karena Allah subhanahu wa ta’ala.
Al-ihsan artinya ialah ‘bilamana hatinya lebih baik daripada lahiriahnya’.
Al fahsya serta al-munkar ialah ‘bila lahiriahnya lebih baik daripada hatinya’.

Dan yang dimaksud dengan firman-Nya:

…dan memberi kepada kaum kerabat.

Yaitu hendaknya dia menganjurkan untuk bersilaturahmi, seperti pengertian yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kalian menghambur-hamburkan (harta kalian) secara boros.
(Q.S. Al Israa [17]: 26)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan Allah melarang dari perbuatan keji dan kemungkaran.

Yang dimaksud dengan fahsya ialah hal-hal yang diharamkan, dan munkar ialah segala sesuatu yang ditampakkan dari perkara haram itu oleh pelakunya.
Karena itulah dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:

Katakanlah, “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 33)

Adapun yang dimaksud dengan al-bagyu ialah permusuhan dengan orang lain.
Di dalam sebuah hadis diterangkan:

Tiada suatu dosa pun yang lebih berhak Allah menyegerakan siksaan terhadap (pelaku)nya di dunia ini, di samping siksaan yang disediakan buat pelakunya di akhirat nanti, selain dari permusuhan dan memutuskan tali silaturahmi.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dia memberi pengajaran kepada kalian.

Yaitu melalui apa yang diperintahkannya kepada kalian agar berbuat kebaikan dan melarang kalian dari perbuatan yang jahat.

…agar kalian dapat mengambil pelajaran.

Asy-Sya’bi telah meriwayatkan dari Basyir ibnuNuhaik, bahwa ia pernah mendengar Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya ayat yang paling mencakup dalam Al-Qur’an adalah ayat surat An-Nahl,” yaitu firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berbuat adil dan berbuat kebajikan.
(Q.S. Al-Hijr [15]: 90), hingga akhir ayat.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Sa’id ibnu Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berbuat adil dan berbuat kebajikan., hingga akhir ayat.
Bahwa tiada suatu akhlak baik pun yang dahulu dilakukan oleh orang-orang Jahiliah dan mereka memandangnya sebagai perbuatan yang baik, melainkan Allah subhanahu wa ta’ala.
menganjurkannya.
Dan tiada suatu akhlak buruk pun yang dahulu mereka pandang sebagai suatu keaiban di antara sesama mereka melainkan Allah melarangnya.
Yang paling diprioritaskan ialah, sesungguhnya Allah melarang akhlak yang buruk dan yang tercela.

Karena itulah —menurut kami— di dalam sebuah hadis disebutkan:

Sesungguhnya Allah menyukai akhlak-akhlak yang tinggi dan benci terhadap akhlak-akhlak yang rendah.

Al-Hafiz Abu Ya’la dalam kitab Ma’rifatus Sahabah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad ibnul Fath A!-Hambali, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Muhammad maula (pelayan) Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Daud Al-Munkadiri, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Ali Al-Maqdami, dari Ali ibnu Abdul Malik ibnu Umair, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Aksam ibnu Saifi sampai di tempat Nabi ﷺ biasa keluar, maka dia bermaksud datang langsung menemui Nabi ﷺ tetapi kaumnya tidak membiarkannya berbuat begitu.
Mereka berkata, “Engkau adalah pemimpin kami, tidaklah pantas bila engkau datang sendiri kepadanya.” Aksam ibnu Saifi berkata, “Kalau begitu, carilah seseorang yang menjadi perantara untuk menyampaikan dariku dan seseorang perantara untuk menyampaikan darinya.” Maka ditugaskanlah dua orang lelaki, lalu keduanya datang menghadap kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Kami berdua adalah utusan Aksam ibnu Saifi, dia ingin bertanya kepadamu, siapakah kamu dan apakah kedudukanmu?”
Nabi ﷺ bersabda, “Aku adalah Muhammad ibnu Abdullah.
Adapun kedudukanku adalah Abdullah (hamba Allah) dan Rasulullah (utusan Allah).” Kemudian Nabi ﷺ membacakan kepada mereka ayat ini, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan.
(Q.S. Al-Hijr [15]: 90), hingga akhir ayat.
Mereka berkata, “Ulangilah kalimat itu kepada kami.” Maka Nabi ﷺ mengulang-ulang sabdanya kepada mereka hingga mereka hafal.
Setelah itu keduanya datang menghadap kepada Aksam ibnu Saifi dan mengatakan, “Dia menolak, tidak mau meninggikan nasabnya.
Ketika kami tanyakan kepada orang lain tentang nasabnya, ternyata kami jumpai dia (Nabi ﷺ) bersih nasabnya (tinggi), dan dimuliakan di kalangan Mudar.
Sesungguhnya dia telah melontarkan kepada kami kalimat-kalimat yang pernah kami dengar.” Setelah Aksam mendengar kalimat-kalimat tersebut, ia mengatakan, “Sesungguhnya saya melihat dia adalah orang yang memerintahkan kepada akhlak-akhlak yang mulia dan melarang akhlak-akhlak yang buruk.
Maka jadilah kalian semua dalam urusan ini sebagai pemimpin-pemimpin dan janganlah kalian menjadi pengekor-pengekor.”

Disebutkan di dalam hadis yang berpredikat hasan sehubungan dengan penyebab turunnya ayat ini, diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid, telah menceritakan kepada kami Syahr, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ berada di halaman rumahnya sedang duduk-duduk, tiba-tiba lewatlah Usman ibnu Maz’un (yang tuna netra).
Lalu Usman ibnu Maz’un tersenyum kepada Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Mengapa engkau tidak duduk (bersamaku)?”
Usman ibnu Maz’un menjawab, “Baiklah.” Maka duduklah Usman ibnu Maz’un berhadapan dengan Rasulullah ﷺ Ketika Rasulullah ﷺ sedang berbincang-bincang dengannya, tiba-tiba Rasulullah ﷺ menatapkan pandangan matanya ke arah langit, lalu memandang ke arah langit sesaat, setelah itu beliau menurunkan pandangan matanya ke arah sebelah kanannya, dan saat itu juga Rasulullah ﷺ beralih duduk ke tempat yang tadi dipandang oleh matanya, sedangkan teman duduknya (yaitu Usman ibnu Maz’un) ditinggalkannya.
Setelah itu Rasulullah ﷺ menundukkan kepalanya, seakan-akan sedang mencerna apa yang diucapkan kepadanya, sementara itu Ibnu Maz’un terus mengamatinya (dengan indera perasanya).
Sesudah keperluannya selesai dan memahami apa yang diucapkan kepadanya, maka Rasulullah ﷺ kembali menatapkan pandangannya ke arah langit, sebagaimana tatapannya yang pertama kali tadi.
Nabi ﷺ menatapkan pandangan matanya ke arah langit seakan-akan mengikuti kepergian (malaikat) hingga malaikat itu tidak kelihatan tertutup oleh langit.
Kemudian Rasulullah ﷺ menghadap kepada Usman di tempat duduknya yang semula tadi.
Maka Usman ibnu Maz’un bertanya, “Hai Muhammad, selama saya duduk denganmu saya belum pernah melihat­mu melakukan perbuatan seperti yang kamu lakukan siang hari ini.” Rasulullah ﷺ balik bertanya, “Apa sajakah yang kamu lihat aku me­lakukannya?”
Usman ibnu Maz’un berkata, “Saya lihat engkau mena­tapkan pandanganmu ke arah langit, kemudian kamu turunkan pandangan matamu ke suatu tempat di sebelah kananmu, lalu kamu pindah ke tempat itu seraya meninggalkan diriku.
Setelah itu engkau menundukkan kepala seakan-akan sedang menerima sesuatu yang diucapkan kepadamu.” Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah kamu (yang tuna netra) dapat melihat hal tersebut?”
Usman ibnu Maz’un menjawab, “Ya.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku baru saja kedatangan utusan Allah saat kamu sedang duduk.” Usman Ibnu Maz’un bertanya, “Utusan Allah?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Ya.” Usman ibnu Maz’un bertanya, “Apa sajakah yang dia sampaikan kepadamu?”
Rasulullah ﷺ bersabda membacakan firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.
(Q.S. Al-Hijr [15]: 90), hingga akhir ayat.
Usman ibnu Maz’un mengatakan, “Yang demikian itu terjadi di saat iman­ku telah mantap dalam hatiku dan aku mulai mencintai Muhammad ﷺ”

Sanad hadis ini cukup baik, muttasil lagi hasan, telah disebutkan di dalamnya sima’i secara muttasil.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui hadis Abdul Hamid ibnu Bahram secara ringkas.

Hadis lain mengenai hal tersebut berasal dari Usman ibnu Abul As As-Saqafi.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Aswad ibnu Amir, telah menceritakan kepada kami Harim, dari Lais, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Usman ibnu Abul As yang mengatakan, “Dahulu saya pernah duduk di hadapan Rasulullah ﷺ, tetapi tiba-tiba Rasulullah ﷺ menatapkan pandangan matanya (ke arah langit).
Setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Jibril baru datang kepadaku, dan memerintahkan kepadaku agar meletakkan ayat berikut pada suatu tempat dari surat (An-Nahl) ini,’ yaitu firman-Nya:

Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan., hingga akhir ayat.”

Sanad hadis ini tidak ada celanya, dan barangkali hadis ini yang ada pada Syahr ibnu Hausyab diriwayatkan melalui dua jalur.


Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nahl (16) ayat 90 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nahl (16) ayat 90 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nahl (16) ayat 90 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 128 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 16:90
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah 16
Nama Surah An Nahl
Arab النحل
Arti Lebah
Nama lain Al-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 70
Juz Juz 14
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 128
Jumlah kata 1851
Jumlah huruf 7838
Surah sebelumnya Surah Al-Hijr
Surah selanjutnya Surah Al-Isra'
4.8
Ratingmu: 4.8 (10 orang)
Sending







Pembahasan ▪ innallaha yamuru bil adli wal ihsan ▪ innallaha ya muru fi adhi wa ihsani ▪ ayach innallahu yakmurukum biamrin ▪ al yamuru ▪ innallaha yamuru ▪ innalloha yakmurubil adli wal ihsani

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta