Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nahl

An Nahl (Lebah) surah 16 ayat 9


وَ عَلَی اللّٰہِ قَصۡدُ السَّبِیۡلِ وَ مِنۡہَا جَآئِرٌ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ لَہَدٰىکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ
Wa’alallahi qashdussabiili waminhaa jaa-irun walau syaa-a lahadaakum ajma’iin(a);

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok.
Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).
―QS. 16:9
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Keluasan ilmu Allah
16:9, 16 9, 16-9, An Nahl 9, AnNahl 9, An-Nahl 9
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 9. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan nikmat Nya yang berguna untuk kepentingan jiwa mereka, agar mereka mengetahui dan mensyukuri Pencipta Alam Semesta ini dan Pencipta nikmat yang sangat luas ini.

Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa Dia lah yang mempunyai kekuasaan tertinggi untuk membimbing manusia ke jalan yang lurus, agar manusia sampai pada kebenaran dengan memberikan bimbingan wahyu kepada para Rasul Nya dan memerintahkan agar mengajak manusia menaati bimbingan wahyu itu.
Dengan demikian maka barang siapa mengikuti bimbingan itu berarti ia akan peroleh kebahagiaan, dan kebahagiaan itu sangat berguna bagi dirinya, tetapi barang siapa yang menempuh jalan sesat maka deritanya akan dirasakannya sendiri.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan Nya.
Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.

(Q.S Al An'am: 153).

Dan firman Nya:

Allah berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus, kewajipan aku lah (menjaganya)".
(Q.S Al Hijr: 41)

Dan firman-Nya:

Sesungguhnya kewajiban Kami lah memberi petunjuk.
(Q.S Al Lail: 12).

Di samping jalan lurus itu ada jalan lain yang menyimpang dari kebenaran yang apabila manusia melalui jalan itu tidak akan mencapai kebahagiaan, jalan itu adalah jalan yang tersesat, yang membawa manusia pada perpecahan dan kehancuran.

Dimaksud dengan jalan lurus ini ialah Agama Islam, sedang jalan yang tersesat ialah agama-agama yang lain, baik agama itu berlandaskan pada wahyu yang diturunkan kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang telah berubah dari sumber aslinya ataupun agama yang berlandaskan pada hasil pemikiran atau renungan semata.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa jalan lurus yang mengantarkan manusia untuk memperoleh kebahagiaan hanyalah Agama Islam, yaitu agama yang disyariatkan Allah dan diwahyukan Nya kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Yaitu Agama yang sesuai dengan fitrah manusia.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah) (tataplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
(Q.S Ar Rum: 30).

Untuk membimbing manusia seluruhnya beragama tauhid, tentulah Allah berkuasa, akan tetapi Allah subhanahu wa ta'ala Maha Bijaksana, Ia telah memberi akal pikiran kepada manusia agar dipergunakan sebagaimana mestinya, dan Allah subhanahu wa ta'ala telah memberikan bimbingan wahyu kepada manusia dengan Rasul Nya, agar manusia melaksanakan tuntunan wahyu itu dengan diberi pilihan.

Untuk mendorong minat manusia melakukan amal yang baik, Allah subhanahu wa ta'ala menjanjikan pahala, dan untuk menghilangkan minat mereka melakukan amal yang jelek, Allah telah mengancam bagi pelaku-pelakunya dengan ancaman yang pedih.
Hal ini dimaksudkan agar manusia suka mengikuti petunjuk petunjuk Nya dan menghindari larangan-larangan Nya.

An Nahl (16) ayat 9 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nahl (16) ayat 9 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nahl (16) ayat 9 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesuai dengan karunia dan rahmat-Nya, Allah telah menetapkan atas diri-Nya untuk menjelaskan jalan lurus yang mengantarkan kalian menuju kebaikan.
Di antara jalan itu ada yang bengkok menyeleweng, tidak menuju kepada kebenaran.
Jika Allah berkehendak memberikan petunjuk kepada kalian, tentulah Dia akan menunjuki dan membawa kalian kepada jalan yang lurus.
Akan tetapi Dia telah menciptakan akal yang mampu menalar dan kehendak yang dapat mengarahkan.
Selanjutnya Dia memberikan kebebasan kepada kalian untuk memilih.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan hak bagi Allah menerangkan jalan yang lurus) hak bagi Allah menjelaskannya (dan di antara jalan-jalan) tersebut (ada yang bengkok) menyimpang dari jalan yang lurus.
(Dan jika Dia menghendaki) untuk memberi petunjuk kepada kalian (niscaya Dia memberi petunjuk kepada kalian) ke jalan yang lurus (semuanya) sehingga kalian semua mendapat petunjuk ke jalan yang lurus itu atas kehendak kalian sendiri.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wewenang Allah menerangkan jalan yang lurus untuk menunjukkan kalian, yaitu Islam.
Di antara jalan-jalan itu ada jalan yang menyimpang yang tidak mengantarkan kepada hidayah, yaitu segala agama dan ajaran yang menyelisihi Islam.
Seandainya Allah menghendaki untuk memberi hidayah kepada kalian, tentulah Dia menunjukkan kalian semua kepada iman.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah Allah subhanahu wa ta'ala.
menyebutkan berbagai hewan dan manfaat serta kegunaannya di jalan yang bersifat kongkret, maka Allah subhanahu wa ta'ala.
mengingatkan kepada jalan agama yang bersifat abstrak.
Di dalam Al-Qur'an sering sekali terjadi peralihan ungkapan dari hal-hal yang kongkret kepada hal-hal yang maknawi (abstrak), seperti yang terdapat di dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.
(Al Baqarah:197)

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.
Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.
(Al A'raf:26)

Setelah menyebutkan berbagai jenis hewan yang mereka kendarai sehingga dapat mengantarkan mereka kepada keperluan yang ada di dalam hati mereka—hewan-hewan itulah yang mengangkut barang-barang berat mereka ke berbagai negeri, tempat yang jauh, dan perjalanan yang melelahkan— Allah menyebutkan jalan-jalan yang ditempuh oleh manusia untuk menuju kepada Allah.
Maka dijelaskan bahwa hanya jalan yang hak sajalah yang dapat mengantarkan seseorang kepada Allah.
Untuk itu disebutkan dalam firman-Nya:

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus.

Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan­nya.
(Al An'am:153)

ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Akulah (menjaganya).
(Al Hijr:41) "

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus.
Maksudnya, jalan yang benar ialah jalan menuju kepada Allah.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus.
Artinya, Allah-lah yang menjelaskannya, yakni menjelaskan jalan petunjuk dan jalan yang sesat.

Tetapi pendapat Mujahid lebih kuat, sebab lebih serasi dengan konteks kalimat sebelumnya.
Allah subhanahu wa ta'ala.
memberitahukan bahwa banyak jalan yang ditempuh untuk menuju kepada-Nya, tetapi tidak dapat mengantarkan kepada-Nya kecuali hanya jalan yang hak (benar), yaitu jalan yang disyariatkan dan diridai-Nya.
Sedangkan selain dari jalan itu tertutup (buntu) dan semua amal perbuatan yang dilakukan padanya ditolak.
Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan:

...dan di antara jalan-jalan itu ada yang bengkok.

Yakni menyimpang dari jalan yang benar.

Menurut Ibnu Abbas dan lain-lainnya, yang dimaksud dengan jalan yang bengkok ialah jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Majusi.

Ibnu Mas'ud membaca ayat ini dengan bacaan berikut,

"Dan di antara kalian ada yang menyimpang dari jalan yang benar."

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala.
memberitahukan bahwa hal itu semuanya terjadi karena kekuasaan-Nya dan atas kehendak-Nya.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

Dan jikalau dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).

Sama seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.
(Yunus:99)

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.
Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.
Kalimat Tuhanmu (keputusan­Nya) telah ditetapkan, sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) kesemuanya.
(Huud:118-119)

Kata Pilihan Dalam Surah An Nahl (16) Ayat 9

QASHDUS SABIIL
قَصْدُ ٱلسَّبِيل

Lafaz as sabiil sudah dibentangkan maknanya pada pembahasan terdahulu. Sedangkan qahsd bermakna jalan yang lurus dan tariiq al qashd maksudnya jalan yang mudah dan lurus. la juga bermakna arah dan sedikit seperti ungkapan A'tahu qashda artinya dia memberinya sedikit.

Ungkapan ini hanya disebut sekali yaitu dalam surah An Nahl (16), ayat 9.

Az Zujjaj berkata,
"Makna lafaz qashdus sabiil adalah jalan yang terang lagi lurus serta mengajak kepadanya dengan hujah. As sabilal qashd bermakna jalan yang lurus dan garisan yang lurus." Begitu juga yang terdapat dalam Tafsir Al Jalalain di mana maknanya ialah menerangkan jalan yang lurus.

Mujahid berkata,
"Ia bermakna jalan kebenaran di sisi Allah"

As Suddi berkata,
"Ia bermaksud agama Islam"

Al 'Aufi meriwayatkan dari Ibn Abbas, ia bermakna keterangan atau menerangkan jalan hidayah dan kesesatan.

Ibn Katsir berkata,
"Pendapat yang paling benar adalah pendapat Mujahid karena ia bersesuaian dengan konteks ayat dan makna ini seperti makna dalam ayat Allah yang bermaksud, "Dan sesungguhnya inilah jalan Ku yang betul dan lurus, maka hendaklah kamu menurutinya dan janganlah kamu menurut jalan-jalan karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah."

Kesimpulannya, makna qashdus sabiil ialah jalan kebenaran.

Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan "An Nahl" yang berarti "lebah" karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya:
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah",
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni'matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur'anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur'an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra' ayat 82).

Surat ini dinamakan pula "An Ni'am" artinya ni'mat-ni'mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni'mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti'aadzah (a'Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da'wah dalam Islam.


Gambar Kutipan Surah An Nahl Ayat 9 *beta

Surah An Nahl Ayat 9



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nahl

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra'
4.5
Rating Pembaca: 4.7 (13 votes)
Sending








[apsl-login-lite login_text='❤ Bookmark ayat ini?'] [bookmark]📖 Lihat Semua Bookmark-ku