QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 89 [QS. 16:89]

وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ
Wayauma nab’atsu fii kulli ummatin syahiidan ‘alaihim min anfusihim waji-anaa bika syahiidan ‘ala ha’ulaa-i wanazzalnaa ‘alaikal kitaaba tibyaanan likulli syai-in wahudan warahmatan wabusyra lilmuslimiin(a);

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka.
Dan Kami turunkan Kitab (Alquran) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim).
―QS. 16:89
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Al Qur’an menerangkan segala sesuatu ▪ Kesucian Allah dari sekutu dan anak
16:89, 16 89, 16-89, An Nahl 89, AnNahl 89, An-Nahl 89
English Translation - Sahih International
And (mention) the Day when We will resurrect among every nation a witness over them from themselves.
And We will bring you, (O Muhammad), as a witness over your nation.
And We have sent down to you the Book as clarification for all things and as guidance and mercy and good tidings for the Muslims.
―QS. 16:89

 

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 89

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 89. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah ﷻ menjelaskan kembali apa yang akan terjadi pada hari kiamat atas setiap umat, yakni kehadiran seorang nabi dari kalangan mereka sendiri, yang akan menjadi saksi atas perbuatan mereka.

Nabi Muhammad ﷺ menjadi saksi pula atas umatnya.
Pada hari akhir itu, dia menjelaskan sikap kaumnya terhadap risalah yang dibawanya, apakah mereka beriman dan taat kepada seruannya, ataukah mereka melawan dan mendustakannya.
Para nabi itulah yang paling patut untuk menjawab segala alasan dari kaumnya.

Ketika memberikan kesaksian, para rasul tentu berdasarkan penghayatan mereka sendiri atau dari keterangan Allah ﷻ sebab mereka tidak lagi mengetahui apa yang terjadi atas umatnya sesudah mereka wafat.

Rasulullah mencucurkan air mata sewaktu sahabatnya, ‘Abdullah bin Mas’ud, membaca ayat yang serupa maknanya dengan ayat di atas:

فَكَيْفَ اِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ اُمَّةٍۢ بِشَهِيْدٍ وَّجِئْنَا بِكَ عَلٰى هٰٓؤُلَاۤءِ شَهِيْدًا

Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka. (an-Nisa’ [4]: 41)

‘Abdullah bin Mas’ud berhenti membaca ketika sampai ayat ini, karena Rasul ﷺ berkata kepadanya,
“Cukup.”
‘Abdullah bin Mas’ud kemudian menoleh kepada Rasul ﷺ, dan melihatnya mencucurkan air mata.

Menjadi saksi pada hari kiamat adalah kedudukan yang mulia, tetapi berat.
Rasul ﷺ akan menjelaskan kepada Allah pada hari kiamat keadaan umatnya sampai sejauh mana mereka mengamalkan petunjuk Alquran yang diwahyukan kepadanya.
Pada hari itu, tak ada alasan lagi bagi umat untuk tidak mempertanggungjawabkan amal perbuatan mereka di dunia, sebab Alquran telah menjelaskan kepada mereka segala sesuatu, yang baik ataupun yang buruk, yang halal dan yang haram, serta yang benar dan yang salah.
Alquran memberikan pedoman bagi manusia jalan mana yang lurus dan yang sesat, serta arah mana yang membawa bahagia dan mana yang membawa kesengsaraan.

Barang siapa membenarkan Alquran dan mengamalkan segala petunjuk yang terdapat di dalamnya, tentulah ia memperoleh rahmat dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Alquran memberi kabar yang menyenangkan kepada orang yang taat dan bertobat kepada Allah dengan pahala yang besar di akhirat dan kemuliaan yang tinggi bagi mereka.

Rasul ﷺ yang diberi tugas untuk menyampaikan Alquran, kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang tugas dan kewajibannya itu pada hari kiamat, sebagaimana firman Allah:

فَلَنَسْـَٔلَنَّ الَّذِيْنَ اُرْسِلَ اِلَيْهِمْ وَلَنَسْـَٔلَنَّ الْمُرْسَلِيْنَ

Maka pasti akan Kami tanyakan kepada umat yang telah mendapat seruan (dari rasul-rasul) dan Kami akan tanyai (pula) para rasul. (al-A’raf [7]: 6)

Di antara tugas Rasulullah adalah menjelaskan Alquran kepada manusia tentang masalah-masalah agama karena ayat-ayat Alquran ada yang terperinci dan ada pula yang umum isinya.
Rasulullah menjelaskan ayat-ayat Allah yang masih bersifat umum itu.
Firman Allah ﷻ:

بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِ وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

(mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab.
Dan Kami turunkan Ad-Zikr (Alquran) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.
(an-Nahl [16]: 44)

Selain menjelaskan ayat-ayat yang masih bersifat umum, Rasulullah menetapkan pula petunjuk-petunjuk dan hukum-hukum yang bertalian dengan urusan agama dan akhlak.