QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 87 [QS. 16:87]

وَ اَلۡقَوۡا اِلَی اللّٰہِ یَوۡمَئِذِۣ السَّلَمَ وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ مَّا کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ
Wa-alqau ilallahi yauma-idzinssalama wadhalla ‘anhum maa kaanuu yaftaruun(a);

Dan mereka menyatakan ketundukannya kepada Allah pada hari itu dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan.
―QS. 16:87
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan ▪ Beberapa nama dan sifat Al Qur’an
16:87, 16 87, 16-87, An Nahl 87, AnNahl 87, An-Nahl 87

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 87

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 87. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat.
Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan (alangkah ngerinya) jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya mereka di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.
(Q.S. As-Sajdah [32]: 12)

Orang-orang musyrik pada akhirnya meyakini kesesatannya dan menyesali diri.
Segala sembahan dan pujaan mereka selama ini lenyap padahal dulunya mereka menganggap bahwa sembahan-sembahan itu merupakan sekutu Tuhan yang dapat memberi pertolongan kepada mereka.

Sebelum orang-orang musyrik itu menyatakan ketundukan mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala mereka pertama kali memungkiri bahwa mereka telah mempersekutukan Tuhan, seperti diterangkan Allah subhanahu wa ta’ala:

(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat).
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.

(Q.S. Al Mujadilah: 18)

Jadi pada hari kiamat itu, orang-orang musyrik pertama kali mungkir kemudian tunduk kepada Allah subhanahu wa ta’ala Mungkir itu disebabkan ketebalan karat-karat kemusyrikan yang menutup jiwa mereka sehingga mereka jauh dari cahaya iman.
Fitrah insaniah yang cenderung kepada pengakuan akan keesaan Tuhan menjadi tertutup oleh kegelapan tabir syirik itu sehingga cahaya fitrah insaniah itu tak berdaya menembusnya.

Tetapi kemudian setelah melalui perkembangan dalam waktu yang lama, karat-karat yang menutupi jiwa manusia itu semakin menipis, sedangkan sinar fitrah insaniah yang terus hidup itu berusaha menembus dinding-dinding itu, sehingga akhirnya kembali mengakui kepada keesaan Tuhan dan menyerah tunduk kepadanya.

Demikianlah perkembangan jiwa orang-orang musyrik dari ingkar kepada keesaan Tuhan menuju kepada pengakuan akan keesaan Nya.
Perkembangan jiwa serupa ini, bilamana ingkar akan tunduk kepada keesaan Tuhan itu ada pada tingkat jiwa tertentu misalnya jiwa manusia musyrik.
Banyak pula, jiwa manusia sampai kepada tunduk dan iman kepada keesaan Tuhan namun dia belum mengalami kekotoran jiwa sejauh orang musyrik.
Cahaya fitrah insaniahnya tidak sempat padam.
Keingkaran kepada Tuhan terdapat pada orang yang jiwanya sudah dikuasai sifat-sifat setan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Pada saat itu orang-orang musyrik menyerah dan tunduk pada keputusan Allah.
Lenyaplah sudah anggapan yang mereka buat selama ini bahwa tuhan-tuhan itu dapat memberi syafaat dan mampu menyelamatkan mereka dari siksa.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan mereka menyatakan ketundukannya kepada Allah pada hari itu) artinya mereka tunduk terhadap keputusan Allah (dan hilanglah) lenyaplah (dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan) yang menyatakan bahwa sekutu-sekutu mereka itu dapat memberikan syafaat bagi mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang musyrik menampakkan ketundukan dan kepatuhan kepada Allah pada Hari Kiamat, dan hilang dari mereka dusta-dusta yang dulu mereka ada-adakan, dan bahwa sembahan-sembahan mereka akan memberikan syafaat kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan mereka menyatakan ketundakannya kepada Allah pada hari itu.

Qatadah dan Ikrimah mengatakan bahwa mereka (sembahan-sembahan itu) menyatakan ketundukan dan penyerahan dirinya kepada Allah pada hari itu.
Dengan kata lain, mereka semua tunduk kepada Allah, dan tiada seorang pun melainkan tunduk patuh kepada-Nya.
Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajam­nya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada kami.
(Q.S. Maryam [19]: 38)

Artinya, pada hari itu pendengaran mereka sangat terang dan penglihatan mereka sangat tajam.

Dan Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman:

Dan (alangkah ngerinya) jika sekiranya kalian melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar.” (Q.S. As-Sajdah [32]: 12), hingga akhir ayat.

Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya).
(Q.S. Thaa haa [20]: 111)

Yakni tunduk, merasa hina, diam serta berserah diri.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan mereka menyatakan ketundukannya kepada Allah pada hari itu dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan.

Maksudnya, surut dan lenyaplah semua sembahan yang mereka ada-adakan terhadap Allah.
Maka tiada yang dapat menolong mereka, tiada yang dapat membantu mereka, dan tiada yang dapat melindungi mereka.
Kemudian dalam firman selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah.
Kami tambahkan kepada mereka siksaan.
(Q.S. Al-Hijr [15]: 88), hingga akhir ayat.

Yakni azab atas kekafiran mereka dan azab karena menghalangi manusia dari mengikuti perkara yang hak, sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Qur’an dan mereka sendiri menjauhkan diri darinya.
(Q.S. Al-An’am : 26)

Mereka mencegah manusia dari mengikuti perkara yang hak, dan mereka sendiri menjauh dari perkara yang hak.

dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak menyadari.
(Q.S. Al-An’am [6]: 26)

Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir itu berbeda-beda dalam menerima azabnya.
Sebagaimana orang-orang mukmin, berbeda-beda tingkatannya di dalam surga, begitu pula derajat (kedudukan)nya.
Seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:

Allah berfirman, ”Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, tetapi kalian tidak mengetahui.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 38)

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Suraij ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy.
dari Abdullah ibnu Murrah, dari Masruq, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya: Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan.
(Q.S. Al-Hijr [15]: 88) Mereka diberi siksaan tambahan, yaitu dengan kalajengking yang taring-taringnya sebesar pohon kurma yang tinggi.

Telah menceritakan pula kepada kami Suraij ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Al-Hasan, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan.
(Q.S. Al-Hijr [15]: 88) Bahwa siksaan tambahan itu diadakan di lima buah sungai yang terletak di bawah ‘Arasy, pada sebagiannya mereka disiksa di malam hari, dan pada sebagian yang lainnya mereka disiksa di siang hari.


Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nahl (16) ayat 87 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nahl (16) ayat 87 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nahl (16) ayat 87 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 128 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 16:87
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah 16
Nama Surah An Nahl
Arab النحل
Arti Lebah
Nama lain Al-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 70
Juz Juz 14
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 128
Jumlah kata 1851
Jumlah huruf 7838
Surah sebelumnya Surah Al-Hijr
Surah selanjutnya Surah Al-Isra'
4.5
Ratingmu: 4.5 (21 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta