Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nahl

An Nahl (Lebah) surah 16 ayat 124


اِنَّمَا جُعِلَ السَّبۡتُ عَلَی الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ؕ وَ اِنَّ رَبَّکَ لَیَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ
Innamaa ju’ilassabtu ‘alaal-ladziina-akhtalafuu fiihi wa-inna rabbaka layahkumu bainahum yaumal qiyaamati fiimaa kaanuu fiihi yakhtalifuun(a);

Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya.
Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu.
―QS. 16:124
Topik ▪ Hisab ▪ Sifat hari penghitungan ▪ Amal shaleh sebagai pintu kebaikan
16:124, 16 124, 16-124, An Nahl 124, AnNahl 124, An-Nahl 124
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 124. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala mengecam orang Yahudi disebabkan mereka itu berselisih tentang kedudukan hari Sabtu.
Hari Sabtu adalah hari jatuhnya murka Allah kepada sebagian Bani Israil disebabkan kedurhakaan mereka, melanggar kewajiban hari Sabtu itu, seperti diterangkan Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina"
(Q.S Al Baqarah: 65)

Allah subhanahu wa ta'ala mewajibkan kepada Bani Israil untuk melaksanakan ibadah pada hari Sabtu dan melarang mereka dan hewan-hewan mereka mengerjakan suatu pekerjaan lain pada hari itu.
Tetapi sebagian mereka tidak menaati larangan Tuhan itu dan mencari-cari jalan untuk membenarkan perbuatan mereka pada hari itu.
Karena mereka menghalalkan yang haram, jatuhlah azab Tuhan kepada mereka dengan merubah mereka seperti kera.
Ketetapan hari Sabtu sebagai hari mulia dan hari untuk ibadah bukanlah lanjutan syariat Nabi Ibrahim, tetapi ketentuan syariat Nabi Musa, sebagaimana hari Ahad bagi syariat Nabi Isa dan hari Jumat bagi syariat Nabi Muhammad ﷺ.

"Allah menyesatkan orang-orang sebelum kita dari hari Jumat, maka untuk orang Yahudi hari Sabtu dan untuk orang Nasrani hari Ahad, maka datanglah Allah kepada kita yang diberinya kita petunjuk untuk hari Jumat lalu Allah menjadikan hari Jumat Sabtu dan Ahad.
Dan demikianlah mereka menjadi pengikut kita pada hari kiamat.
Kitalah orang yang terakhir dari penghuni dunia tapi orang permulaan pada hari kiamat dan diadili di antara mereka sebelum makhluk-makhluk lain diadili".
(H.r Muslim dari Abu Hurairah dan Huzaifah)

Keterangan hari-hari mulia itu tidaklah merupakan masalah pokok dan syariat yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nabi, tetapi termasuk masalah furu' (cabang).
Tapi Nabi mempunyai ketentuan sendiri-sendiri.
Nabi Muhammad ﷺ tidaklah diperintahkan untuk mengikuti syariat Nabi Musa as tapi beliau diperintahkan mengikuti Nabi Ibrahim as.

Perselisihan di antara golongan-golongan dalam agama Yahudi tidaklah dapat diselesaikan antara mereka sendiri, karena sudah mendalam dan meluas.
Hanya Allah subhanahu wa ta'ala yang menentukan keputusan di antara mereka di hari kiamat kelak, tentang masalah-masalah yang mereka perselisihkan.

An Nahl (16) ayat 124 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nahl (16) ayat 124 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nahl (16) ayat 124 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Pengagungan hari Jumat--dan bukan hari Sabtu--dalam ajaran Islam sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Ibrahim sebagaimana dikatakan oleh orang-orang Yahudi.
Larangan berburu pada hari Sabtu, sebagai penghormatan, bukan termasuk syariat Ibrahim.
Itu hanya berlaku bagi penganut Yahudi saja.
Kendati demikian, mereka tetap enggan memberikan penghormatan atas hari itu dan bahkan mereka menyalahi perintah Tuhan.
Jika demikian halnya, apa alasan mereka mencaci penganut agama lain yang tidak mau mengagungkan hari Sabtu yang jelas-jelas bukan ajaran agama mereka, sementara orang Yahudi sendiri yang diperintahkan untuk melaksanakan perintah untuk mengagungkan hari Sabtu itu justru mengabaikannya.
Yakinlah, wahai Nabi, kelak Allah akan memberikan keputusan pada mereka di hari kiamat berkenaaan dengan persoalan-persoalan yang mereka perselisihkan.
Allah akan memberi balasan setiap orang sesuai perbuatan masing-masing.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya telah dijadikan hari Sabtu) diwajibkan menghormatinya (atas orang-orang Yahudi yang berselisih mengenainya) dengan nabi mereka, mereka adalah orang-orang Yahudi yang diperintahkan oleh Allah supaya mereka menyibukkan dirinya untuk beribadah di hari Jumat, akan tetapi mereka mengatakan, "Kami tidak menghendakinya," lalu mereka memilih hari Sabtu sebagai hari untuk ibadah.
Akhirnya Allah memperketat peraturan kepada mereka di hari Sabtu.
(Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu) yaitu Dia kelak akan memberi pahala kepada orang yang taat, dan Dia akan mengazab orang-orang yang durhaka melanggar hal-hal yang diharamkan-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya Allah hanyalah menjadikan pengagungan terhadap hari Sabtu, dengan memfokuskan beribadah di dalamnya, atas orang-orang Yahudi yang berselisih mengenainya di hadapan Nabi mereka, dan mereka memilihnya sebagai ganti hari Jum”at yang diperintahkan kepada mereka supaya diagungkan.
Sesungguhnya Rabbmu, wahai Rasul, benar-benar akan memberi keputusan di antara orang-orang yang berselisih itu pada Hari Kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan di hadapan Nabi mereka, dan Dia akan membalas masing-masing dengan balasan yang berhak diterimanya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Tidak diragukan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala.
mensyariatkan atas setiap umat suatu hari dari satu minggu agar mereka berkumpul padanya guna melakukan ibadah.

Maka Allah mensyariatkan bagi umat ini hari Jumat, mengingat hari Jumat adalah hari keenam.
Pada hari Jumatlah Allah merampung­kan penciptaan-Nya, dan semua makhluk dikumpulkan pada hari itu serta sempurnalah nikmat Allah atas hamba-hamba-Nya.

Menurut suatu pendapat, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala.
mensyariatkan hal tersebut kepada kaum Bani lsrail melalui lisan Nabi Musa 'alaihis salam (yakni berkumpul melakukan ibadah pada hari Jumat).
Tetapi mereka menggantinya dan memilih hari Sabtu, karena sesungguhnya hari Sabtu adalah hari yang Allah tidak menciptakan sesuatu pun padanya, mengingat semua penciptaan telah diselesaikan pada hari sebelumnya, yaitu hari Jumat.
Maka Allah menetapkan hari Sabtu buat mereka dalam syariat kitab Taurat, dan memerintahkan mereka agar berpegang teguh padanya serta memeliharanya.
Selain dari itu Allah memerintahkan kepada mereka agar mengikuti Nabi Muhammad ﷺ bila telah diutus oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Kemudian Allah mengambil janji-janji dan sumpah-sumpah mereka.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya.
(An Nahl:124)

Mujahid mengatakan bahwa mereka memakai hari Sabtu dan meninggal­kan hari Jumat.
Kemudian mereka terus-menerus berpegang pada hari Sabtu hingga Allah mengutus Isa putra Maryam.

Menurut suatu pendapat, sesungguhnya Nabi Isa memindahkan mereka kepada hari Ahad.
Menurut pendapat yang lainnya lagi, Isa tidak meninggalkan syariat Kitab Taurat kecuali apa yang di-mansukh pada sebagian hukum-hukumnya, dan bahwa sesungguhnya Isa masih tetap memelihara hari Sabtu hingga ia diangkat.
Sesungguhnya orang-orang Nasrani sesudahnya—yaitu di zaman Konstantinopel—mengalihkannya ke hari Ahad untuk membedakan dengan orang-orang Yahudi, dan mereka mengalihkan arah salatnya menghadap ke arah timur, tidak lagi menghadap ke arah Sakhrah (kubah Baitul Maqdis).

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui hadis Abdur Razzaq, dari Ma'mar, dari Hammam, dari Abu.Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Kami adalah umat yang terakhir, tetapi umat yang paling ter­dahulu di hari kiamat, hanya bedanya mereka diberikan Al-Kitab sebelum kami.
Kemudian hari ini (Jumat) adalah hari mereka juga yang telah difardukan Allah atas mereka, tetapi mereka berselisih pendapat tentangnya, dan Allah memberi kami petunjuk kepadanya.
Manusia sehubungan dengan hal ini mengikuti kami, orang-orang Yahudi besok, dan orang-orang Nasrani lusanya.

Lafaz hadis ini berdasarkan apa yang ada pada imam Bukhari.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Huzaifah: keduanya mengata­kan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Allah menyesatkan orang-orang sebelum kita dari hari Jumat, maka orang-orang Yahudi menjadi hari Sabtu, dan orang-orang Nasrani menjadi hari Ahad.
Dan Allah mendatangkan kita, lalu Dia memberi kita petunjuk kepada hari Jumat.
Dia menjadikan hari Jumat, lalu hari Sabtu dan hari Ahad, demikian pula halnya mereka adalah mengikut kita pada hari kiamat.
Kita adalah umat yang terakhir dari kalangan penduduk dunia, tetapi merupakan orang-orang yang pertama pada hari kiamat, dan yang diputuskan peradilan di antara sesama mereka sebelum umat-umat lainnya.
(Riwayat Muslim)

Kata Pilihan Dalam Surah An Nahl (16) Ayat 124

SABT
لسَّبْت

Lafaz ini adalah kata nama yang berasal dari kata kerja sabata yang bermakna tidur, istirahat dan tinggal. Sedangkan as sabt berarti salah satu nama hari dari satu minggu, zaman, istirahat, tidur, banyak tidur, pemuda yang berani dan sebagainya.

Ar Raghib berkata,
''Asal makna as sabt ialah al qat (memotong), dikatakan hari itu dinamakan Sabtu karena Allah mula menciptakan langit dan bumi pada hari Abad selama enam hari dan memotong penciptaannya atau berehat pada hari Sabtu.

Lafaz ini disebut lima kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 65;
-An Nisaa (4), ayat 47, 154;
-Al A'raaf (7), ayat 163;
-An Nahl (16), ayat 124.

Lafaz as sabt dalam ayat ini dikaitkan dengan hari dan sekali dihubungkan dengan lafaz ashaab yaitu dalam surah An Nisaa (4), ayat 47.

Al Hasan berkata,
"As Sabt adalah hari Sabtu dan berkenaan dengan hukum pada hari Sabtu, di mana kesemua ayat bercerita tentang mereka yang melanggar perintah Allah dengan memburu dan menangkap ikan pada hari Sabtu."

Ibn Katsir berkata,
"Wahai orang Yahudi! Kamu mengetahui satu kaum yang mendurhaka perintah Allah dan melanggar janji-janji mereka supaya mengagungkan hari Sabtu, di mana mereka membuat helah dengan menangkap ikan pada hari Sabtu dengan meletakkan jerat, jala dan pancing sebelum hari Sabtu itu. Pada hari Sabtu itu, mereka menarik jerat, jala dan pancing serta mengumpulkannya, lalu setelah Sabtu malam berlalu, mereka pun mengambilnya'"

Terdapat tiga pendapat mengenai makna Ashaabas sabt pada ayat yaitu:

- Diriwayatkan dari Ibn Abbas, 'Abd Allah bin Katsir, Mujahid dan As Suddi, Ashaabas Sabt adalah kaum Ailah, di antara Madyan dan At Tur, atau di antara Mesir dan Madinah yang berada di tepi laut.

- Qatadah berpendapat, ia adalah sebuah kampung di tepi laut Madyan.

- Ibn Zaid berpendapat, ia adalah kampung yang dinamakan Maqna yaitu antara Madyan dan Aynuna.'

- At Tabari berkata,
"Kesemuanya bisa jadi benar, bisa jadi ia adalah Ailah, Madyan atau Maqna karena semuanya kampung yang berada di tepi laut. Tidak ada kabar dari Rasulullah mengenai kampung ini. Yang penting, ia adalah sebuah kota ataupun kampung yang berada di tepi laut'"

Kesimpulannya, lafaz as sabt secara umumnya mempunyai dua makna yaitu memotong dan istirahat. Yang dimaksudkan dalam Al Qur'an ialah hari Sabtu dan kampung atau kota yang mengingkari larangan Allah supaya tidak menangkap dan menjala ikan pada hari Sabtu.

Sedangkan lafaz sabtihim adalah bahagian dari lafaz di atas, dan him adalah dhamir dan merujuk kepada kaum itu. Ia disebut sekali saja dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al A'raaf (7), ayat 163 dan dikaitkan dengan lafaz al yaum atau hari.

Ar Raghib berkata,
"maknanya hari di mana mereka beristirahat dan tidak bekerja."

Dalam tafsir Safwah At Tafasir, ikan-ikan banyak muncul dan mengambang pada hari Sabtu, di mana mereka diharamkan untuk menangkap ikan pada hari itu.

Dalam Al Asas fi At Tafsir dijelaskan makna ayat ini, "Ikan-ikan muncul di atas air dan hal itu menjadi cobaan dari Allah untuk mereka. Sedangkan yang dimaksudkan dengan "yaum sabtihim" adalah hari Sabtu yang diperintahkan Allah untuk mengagungkannya dengan meninggalkan penangkapan ikan dan bekerja serta diperintahkan untuk beribadah. Ikan-ikan yang banyak muncul di atas air pada hari yang diharamkan bagi mereka untuk menangkap dan bekerja, sedangkan pada hari biasa, ikan-ikan itu tidak kelihatan.

Kesimpulannya, sabtihim bermakna hari Sabtu yang mereka diharamkan untuk bekerja dan menangkap ikan.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:290-291

Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan "An Nahl" yang berarti "lebah" karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya:
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah",
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni'matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur'anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur'an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra' ayat 82).

Surat ini dinamakan pula "An Ni'am" artinya ni'mat-ni'mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni'mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti'aadzah (a'Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da'wah dalam Islam.


Gambar Kutipan Surah An Nahl Ayat 124 *beta

Surah An Nahl Ayat 124



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nahl

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah 16
Nama Surah An Nahl
Arab النحل
Arti Lebah
Nama lain Al-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 70
Juz Juz 14
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 128
Jumlah kata 1851
Jumlah huruf 7838
Surah sebelumnya Surah Al-Hijr
Surah selanjutnya Surah Al-Isra'
4.6
Rating Pembaca: 4.2 (16 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku