QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 12 [QS. 16:12]

وَ سَخَّرَ لَکُمُ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ ۙ وَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ وَ النُّجُوۡمُ مُسَخَّرٰتٌۢ بِاَمۡرِہٖ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ یَّعۡقِلُوۡنَ
Wasakh-khara lakumullaila wannahaara wasy-syamsa wal qamara wannujuumu musakh-kharaatun biamrihi inna fii dzalika li-aayaatin liqaumin ya’qiluun(a);

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu.
Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya),
―QS. 16:12
Topik ▪ Penciptaan ▪ Penciptaan malam dan siang ▪ Diwajibkannya kisas
16:12, 16 12, 16-12, An Nahl 12, AnNahl 12, An-Nahl 12

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 12

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 12. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa Dialah yang mengendalikan malam dan siang, matahari dan bulan.
Kesemuanya itu untuk kepentingan manusia.
Sebagai nikmai yang diciptakan Allah untuk mereka.
Allah subhanahu wa ta’ala mengendalikan siang dan malam secara berganti-ganti.
Malam sebagai waktu untuk manusia beristirahat dan tidur agar tenang pikirannya di siang harinya.
Sedang siang adalah waktu untuk mereka berusaha mencari rezeki guna memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Allah subhanahu wa ta’ala men menyebutkan matahari dan bulan.
Matahari sebagai penyebab adanya siang dan malam.
Apabila matahari muncul di cakrawala di bagian bola langit sebelah timur berarti hari sudah mulai siang dan makin lama matahari makin meninggi bergerak di angkasa secara perlahan-lahan dan apabila matahari telah tenggelam di bagian ufuk sebelah barat berarti malam telah mulai tiba.
Matahari sebagai sumber tenaga yang sangat diperlukan bagi segenap kehidupan yang ada di permukaan bumi ini, diperlukan oleh manusia oleh binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Bulan mempunyai perjalanan yang lebih cepat dari matahari sehingga menyebabkan kedudukan dan rupa-rupa semu yang berubah-ubah.
Pada suatu saat ia berbentuk sabit beberapa hari kemudian bertambah besar akhirnya menjadi bulan purnama, sesudah itu cahayanya mulai berkurang, sehingga habis sama sekali, saat itu disebut bulan mati.
Dari perubahan-perubahan rupa-rupa semua inilah orang dapat mengetahui tanggal yang sangat bermanfaat bagi pelaksanaan ibadat.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa benda langit itu merupakan nikmat Allah yang sangat besar bagi manusia, baik manfaat bagi kehidupan mereka ataupun manfaat bagi pengetahuan mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan juga bahwa Dia mengendalikan bintang-bintang yang bergerak pada orbitnya sendiri-sendiri dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan Tuhan.
Gerakannya begitu teratur dan tetap, demikian pula posisi dan konstelasinya.
Hal ini memberikan petunjuk kepada manusia untuk mengetahui posisi mereka di permukaan bumi dengan berpedoman kepada kedudukan bintang-bintang itu, baik di daratan, di lautan maupun di udara, terutama pada saat tanda-tanda dan rambu-rambu pengenal lainnya tak dapat dilihat.

Di rakhir ayat Allah subhanahu wa ta’ala menandaskan sekali lagi bahwa matahari bulan dan bintang itu menjadi tanda bukti yang jelas bagi mereka yang suka memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah itu dan dapat memahami hukum-hukum yang berlaku terhadapnya.

Disebutkan bahwa tanda-tanda kekuasaan itu sebagai bukti bagi orang yang berakal, memberikan pengertian bahwa memikirkan tanda-tanda kekuasaan yang terdapat di angkasa tidaklah hanya di dapat dengan penglihatan selintas saja melainkan dengan merenungkan dan memikirkan dengan akal yang sehat.
Berbeda dengan memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di permukaan bumi.
Dalam hal ini dengan pandangan selintas saja manusia akan dapat mengetahui keagungan pencipta-Nya, dan dalam hal ini manusia dapat melihat tanda-tanda kekuasaan itu secara langsung.
Sedang memperhatikan benda-benda langit, selain benda langit itu yang terlihat hanya rupa-rupa semu saja, juga yang terlihat oleh mata itu hanya sesungguhnya merupakan akibat saja dari keadaan yang sebenarnya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah menundukkan malam dengan menjadikannya sebagai waktu istirahat kalian, dan siang sebagai waktu yang tepat untuk berusaha dan bekerja.
Dia juga menundukkan matahari yang membantu kalian dengan kehangatan dan sinarnya, serta menundukkan bulan agar kalian mengetahui jumlah tahun dan hitungan.
Bintang-bintang juga ditundukkan dengan perintah Allah, sehingga kalian mendapat petunjuk dalam kegelapan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda dan bukti-bukti bagi kaum yang memanfaatkan akal yang dikaruniakan kepada mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Dia menundukkan malam dan siang untuk kalian, dan matahari) lafal wasysyamsa bila dibaca nashab berarti diathafkan kepada lafal sebelumnya, bila dibaca rafa’ berarti menjadi mubtada (bulan dan bintang-bintang) kedua lafal ini dapat dibaca nashab dan rafa` (ditundukkan) kalau dibaca nashab, maka berkedudukan menjadi hal, dan kalau dibaca rafa` maka menjadi khabar (dengan perintah-Nya) berdasarkan kehendak-Nya (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang memahami-Nya) bagi kaum yang mau memikirkannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dia menundukkan malam bagi kalian untuk istirahat kalian, dan siang untuk penghidupan kalian.
Dia menundukkan matahari bersinar bagi kalian, dan bulan bercahaya, serta untuk mengetahui tahun dan perhitungan, dan manfaat-manfaat lainnya.
Bintang-bintang di langit ditundukkan untuk kalian dengan perintah Allah untuk mengetahui waktu, untuk mengetahui waktu matangnya buah dan tanaman, serta menjadi petunjuk dalam kegelapan malam.
Sesungguhnya dalam menundukkan semua itu benar-benar terdapat tanda-tanda yang jelas bagi kaum yang memahami bukti-bukti dan keterangan-keterangan dari Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Tafsir ayat ini tidak diterangkan secara terpisah pada kitab aslinya.


Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nahl (16) ayat 12 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nahl (16) ayat 12 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nahl (16) ayat 12 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 128 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 16:12
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah 16
Nama Surah An Nahl
Arab النحل
Arti Lebah
Nama lain Al-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 70
Juz Juz 14
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 128
Jumlah kata 1851
Jumlah huruf 7838
Surah sebelumnya Surah Al-Hijr
Surah selanjutnya Surah Al-Isra'
4.8
Ratingmu: 4.2 (16 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta