QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 119 [QS. 16:119]

ثُمَّ اِنَّ رَبَّکَ لِلَّذِیۡنَ عَمِلُوا السُّوۡٓءَ بِجَہَالَۃٍ ثُمَّ تَابُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ وَ اَصۡلَحُوۡۤا ۙ اِنَّ رَبَّکَ مِنۡۢ بَعۡدِہَا لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Tsumma inna rabbaka lil-ladziina ‘amiluussuu-a bijahaalatin tsumma taabuu min ba’di dzalika wa-ashlahuu inna rabbaka min ba’dihaa laghafuurun rahiimun;

Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
―QS. 16:119
Topik ▪ Taubat ▪ Cara bertaubat ▪ Kekuasaan Allah
16:119, 16 119, 16-119, An Nahl 119, AnNahl 119, An-Nahl 119

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 119

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 119. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat ini menjelaskan kebesaran pengampunan-Nya dan kasih sayang Nya kepada hamba Nya yang melakukan kejahatan pada umumnya baik kejahatan berbuat nista kepada Allah maupun tindakan kejahatan dan maksiat lainnya.
Tetapi Allah subhanahu wa ta’ala mengaitkan beberapa ketentuan untuk memperoleh kasih dan pengampunan-Nya itu.

Pertama: Ketentuan bahwa orang-orang yang melakukan kejahatan itu atau bodoh tentang hal-hal yang tidak dibenarkan agama dan yang membawa celaka pada pendiriannya.
Orang yang tidak bodoh yakni orang yang bijaksana tidaklah dia berani melakukan suatu perbuatan sebelum ia mengetahui hakikat perbuatan itu.

Demikian pula orang jahil, orang yang melakukan kejahatan karena didorong oleh gelombang hawa nafsu atau api kemarahan, sehingga dia kurang mempertimbangkan perbuatannya walaupun dia mengetahui bahwa apa yang diperbuatnya itu suatu kejahatan.

Kedua: Timbul dalam dirinya rasa penyesalan yang mendalam sesudah melakukan kejahatan itu lalu mengucapkan istigfar dan tobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam waktu yang segera.
Tidaklah boleh diperlambangkan tobat sesudah dia menyadari kesalahannya itu, karena hal demikian merusak iman dan jiwanya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(Q.S An Nisa’: 17)

Ketiga: Melakukan amal saleh dan menjauhi larangan-Nya sebagai bukti dari penyesalannya.
Dengan penuh iman dan kebulatan hati dan tidak lagi mengulangi kejahatan yang dilakukannya itu dan kemudian bertekad berbuat taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Firman Allan subhanahu wa ta’ala:

Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.
(Q.S Furqan: 71)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Nabi, sesungguhnya orang-orang yang berbuat kesalahan karena lalai dalam memperhitungkan konsekuensi dan risiko perbuatannya lalu segera bertobat dari kesalahan itu dan mengadakan perbaikan diri, niscaya Tuhan-Mu akan mengampuni dosa mereka.
Sebab, setelah pertobatan itu, Allah Maha Mengampuni segala kesalahan, Mahaluas rahmat-Nya bagi para hamba.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kemudian sesungguhnya Rabbmu terhadap orang-orang yang mengerjakan keburukan) kemusyrikan (karena kebodohannya kemudian mereka bertobat) kembali kepada Allah (sesudah itu dan memperbaiki dirinya) memperbaiki amal perbuatannya (sesungguhnya Rabbmu sesudah itu) sesudah kebodohannya dan sesudah bertobat (benar-benar Maha Pengampun) kepada mereka (lagi Maha Penyayang) kepada mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya Rabbmu terhadap orang-orang yang mengerjakan kemaksiatan pada saat mereka tidak tahu akibatnya dan bahwa itu menyebabkan kemurkaan Allah (dan semua orang yang bermaskiat kepada Allah, baik ia tidak sengaja maupun sengaja, adalah jahil berdasarkan pertimbangan ini, meskipun ia tahu tentang pengharamannya) kemudian mereka kembali kepada Allah dari dosa-dosa yang telah mereka lakukan, dan mereka memperbaiki diri dan perbuatan mereka, sesungguhnya Rabbmu (sesudah mereka bertaubat dan melakukan perbaikan) benar-benar Maha Pengampun bagi mereka lagi Maha Penyayang kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan sifat Kemuliaan-Nya dan Kelapangan-Nya terhadap orang-orang mukmin yang durhaka, bahwa barang siapa di antara mereka yang bertobat kepada Allah, tentulah Allah menerima tobatnya.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Kemudian sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohan.

Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa setiap orang yang berbuat durhaka, dia adalah orang yang bodoh.

…kemudian mereka bertobat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya).

Maksudnya, mereka berhenti dari melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan mulai mengerjakan amal-amal ketaatan.

…sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Yakni sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala.
—sesudah mereka mengerjakan perbuatan itu dan tergelincir— benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada mereka yang bertobat.


Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nahl (16) ayat 119 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nahl (16) ayat 119 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nahl (16) ayat 119 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 128 & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra'
4.7
Ratingmu: 4.5 (11 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/16-119







Pembahasan ▪ Surat at-taubah dan surat an-nahl

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta