QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 110 [QS. 16:110]

ثُمَّ اِنَّ رَبَّکَ لِلَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا فُتِنُوۡا ثُمَّ جٰہَدُوۡا وَ صَبَرُوۡۤا ۙ اِنَّ رَبَّکَ مِنۡۢ بَعۡدِہَا لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Tsumma inna rabbaka lil-ladziina haajaruu min ba’di maa futinuu tsumma jaahaduu washabaruu inna rabbaka min ba’dihaa laghafuurun rahiimun;

Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar, sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
―QS. 16:110
Topik ▪ Sifat neraka
16:110, 16 110, 16-110, An Nahl 110, AnNahl 110, An-Nahl 110

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 110

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 110. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan segolongan lain kaum Muslimin yang kehidupan beragama mereka di Mekah sangat tertekan sehingga mereka tidak berani melahirkan keislaman mereka.
Bilamana tampak keislaman mereka di mata kaum musyrikin, mereka dipaksa dan disiksa agar kembali kepada agama nenek moyang mereka yaitu agama syirik seperti apa yang dialami Amar bin Yasir, Khabbab dan lain-lain.
Karena penghinaan dan ancaman penganiayaan itu, mereka lalu berpura-pura kembali kepada agama syirik.
Menurut riwayat, Ayasi saudara sesusuan dan Abu Jahal pemimpin Quiaisy, beserta Abu Jahal bin Sahl, Salmah bin Hisyam dan Abdullah bin Salmah As’ Saqafi disiksa oleh kaum musyrikin sehingga mereka menurutkan apa yang mereka kehendaki, dari kejahatan mereka.
Tetapi sesudah peristiwa itu mereka hijrah dan berjuang.
Ayat ini diturunkan dengan kejadian ini.

Mereka mengikuti kemauan kaum Quraisy di bawah ancaman siksa tetapi jika mereka mendapatkan kesempatan hijrah meninggalkan kota Madinah, merekapun hijrah dan berpisah dengan sanak keluarga, harta benda dan rumah tangga dengan hati yang ikhlas dan mengharapkan rida Ilahi.
Bermacam-macam penderitaan dan kesulitan yang mereka hadapi dalam hijrah itu.
Baik sewaktu dalam perjalanan maupun setibanya di tempat yang dituju.
Semua penderitaan dan kesulitan itu mereka hadapi dengan penuh kesabaran serta tawakal kepada Tuhan.

Tempat yang mereka tuju adalah negeri Habsyah.
Sungguh-sungguh jauh jarak antara Habsyah dan Mekah.
Jarak yang jauh mereka tempuh dengan jalan kaki.
Setibanya di tempat tujuan itu mereka harus berjuang lagi mempertahankan kepercayaan mereka dengan menyebarkan kebenaran.

Sesudah mereka mengalami cobaan dan penderitaan itu, Allah mengampuni atas kesalahan yang mereka lakukan di bawah ancaman siksaan seperti mengucapkan kata-kata kafir kembali.
Allah subhanahu wa ta’ala memberikan rahmat dan kasih sayang bagi mereka dengan memberikan pahala yang besar bagi mereka pada hari akhirat kelak.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesudah itu ketahuilah, wahai Nabi, bahwa Tuhanmu akan menolong dan membela orang-orang yang berhijrah dari Mekah demi menyelamatkan agama dan jiwa mereka dari penindasan dan kekejaman orang-orang musyrik, kemudian berjihad dengan segala yang mereka miliki, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan, serta bersabar dalam mengemban beratnya tugas-tugas keagamaan dan tabah menghadapi rintangan dalam berjuang menegakkan agama.
Sesungguhnya Tuhanmu, setelah beban yang mereka telah tanggung itu, Maha Pengampun atas segala kesalahan yang mereka perbuat jika mereka bertobat, Maha Penyayang sehingga tidak menghukum mereka karena kekhilafan yang mereka lalukan atas dasar paksaan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan sesungguhnya Rabbmu terhadap orang-orang yang berhijrah) ke Madinah (sesudah menderita cobaan) sesudah mereka disiksa dan dipaksa mengucapkan kalimat kekafiran.

Menurut qiraat lafal futinuu dibaca fatanuu, artinya sesudah mereka kafir, atau sesudah mereka memfitnah manusia supaya jangan beriman (kemudian mereka berjihad dan sabar) di dalam melakukan ketaatan (sesungguhnya Rabbmu sesudah itu) sesudah cobaan itu (benar-benar Maha Pengampun) kepada mereka (lagi Maha Penyayang) terhadap mereka.

Khabarnya inna yang pertama sama dengan khabar inna yang kedua.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Terhadap orang-orang lemah di Makkah yang disiksa orang-orang musyrik sehingga menyetujui mereka secara zhahirnya, lalu mereka memaksa orang-orang yang lemah itu untuk mengucapkan kata-kata yang membuat mereka senang, sedang hati mereka merasa tenteram dengan keimanan.
Tatkala mereka bias bebas, mereka berhijrah ke Madinah, kemudian berjihad di jalan Allah, dan bersabar terhadap beban takalif (tugas-tugas agama), sesungguhnya Rabbmu (sesudah mereka bertaubat) benar-benar Maha Pengampun bagi dosa-dosa mereka lagi Maha Penyayang kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Mereka adalah golongan lain yang dahulu di Mekah dalam keadaan lemah dan tertindas oleh kaumnya, keadaan mereka yang lemah itu membuat mereka terpaksa menyetujui fitnah yang menimpa mereka.
Kemudian mereka dapat meloloskan dirinya dengan berhijrah.
Mereka rela meninggalkan negerinya, keluarga, dan harta bendanya demi mencari keridaan Allah dan ampunan-Nya.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nahl (16) Ayat 110

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam kitab ath-Thabaqaat, yang bersumber dari ‘Umar bin al-Hakam.
Lihat pula surah an-Nisaa’ ayat 97.
Bahwa ‘Ammar bin Yasir disiksa hingga tidak tahu apa yang mesti dikatakannya.
Demikian juga Shuhaib, Abu Fukaihah, Bilal, ‘Amir bin Fuhairah, dan kaum Muslimin lainnya.
Ayat ini (an-Nahl: 110) turun berkenaan dengan mereka yang telah diselamatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nahl (16) ayat 110 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nahl (16) ayat 110 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nahl (16) ayat 110 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 128 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 16:110
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah 16
Nama Surah An Nahl
Arab النحل
Arti Lebah
Nama lain Al-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 70
Juz Juz 14
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 128
Jumlah kata 1851
Jumlah huruf 7838
Surah sebelumnya Surah Al-Hijr
Surah selanjutnya Surah Al-Isra'
4.4
Ratingmu: 4.4 (16 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta