QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 101 [QS. 16:101]

وَ اِذَا بَدَّلۡنَاۤ اٰیَۃً مَّکَانَ اٰیَۃٍ ۙ وَّ اللّٰہُ اَعۡلَمُ بِمَا یُنَزِّلُ قَالُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَنۡتَ مُفۡتَرٍ ؕ بَلۡ اَکۡثَرُہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ
Wa-idzaa baddalnaa aayatan makaana aayatin wallahu a’lamu bimaa yunazzilu qaaluuu innamaa anta muftarin bal aktsaruhum laa ya’lamuun(a);

Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata:
“Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja”.
Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.
―QS. 16:101
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Naskh (penghapusan) dalam Al Qur’an ▪ Kekuasaan Allah
16:101, 16 101, 16-101, An Nahl 101, AnNahl 101, An-Nahl 101

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 101

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 101. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwasanya Dia telah menghapuskan suatu ayat dalam Alquran lalu menggantikaannya dengan ayat lain di tempat yang sama.

Penggantian itu dimaksudkan untuk kemaslahatan manusia, karena hanyalah Tuhan yang mengetahui hukum yang mana yang lebih sesuai untuk suatu masa bagi suatu umat.

Kaum musyrikin mencela Nabi Muhammad ﷺ karena beliau menurut mereka pada suatu waktu memerintahkan suatu perkara, pada waktu yang lain melarangnya.
Mereka mengatakan bahwa Rasul suka mengada-ada.
Sikap mereka yang demikian disebabkan mereka tidak mengetahui hikmah yang terkandung dalam penggantian ayat itu.
Rasul merubah kebiasaan umatnya ke arah kemajuan, secara berangsur-angsur, terkecuali masalah akidah.

Penggantian ayat atau hukum Alquran sedikit dan terbatas dalam masalah hukum di luar akidah.
Merubah adat istiadat suatu kaum dengan sekaligus, akan menimbulkan keguncangan di kalangan mereka.
Adalah sangat bijaksana dalam memmbina perubahan suatu masyarakat selalu diperhatikan segi-segi jiwa masyarakat itu.

Tetapi orang yang hatinya tertutup oleh kesombongan dan permusuhan terhadap Rasul, pergantian ayat yang mendukung dan mengandung hikmah itu dajadikan mereka sumber fitnah.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dan tatkala Kami menurunkan mukjizat kepadamu berupa Al Quran yang menggantikan mukjizat nabi- nabi sebelum kamu, mereka malah menuduh bahwa kamu mengada-ada dan mendustakan Allah.
Hanya Allah saja–dengan ilmu-Nya yang berada di atas segala ilmu–yang mengetahui segala mukjizat para nabi.
Dan sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan yang benar.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain) artinya dengan memansukhnya kemudian menggantinya dengan ayat yang lain demi kemaslahatan semua hamba (padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata) orang-orang kafir kepada Nabi ﷺ (“Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-ada saja.”) seorang pendusta yang pandai membuat-buat perkataan dari dirimu sendiri.

(Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui) hakikat Alquran dan faedah yang terkandung di dalam penasikhan ini.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat lainnya, padahal Allah Sang Pencipta lebih tahu kemashlahatan hamba-Nya berkenaan dengan hukum-hukum yang diturunkan-Nya dalam waktu yang berbeda-beda, maka orang-orang kafir berkata :
Kamu, wahai Muhammad, hanyalah pendusta yang mengada-adakan atas nama Allah apa yang tidak difirmankan-Nya.
Muhammad bukanlah sebagaimana yang mereka sangka.
Bahkan, kebanyakan dari mereka tidak mengetahui tentang Rabb mereka dan tidak pula tahu tentang syariat dan hukum-hukum-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan kelemahan akal orang-orang musyrik, rapuhnya pendirian, dan tipisnya keyakinan mereka, sehingga tidak tergambarkan mereka mau beriman, dan sesungguhnya mereka telah dipastikan menjadi orang-orang yang celaka.
Demikian itu apabila mereka melihat ada perubahan hukum-hukum yang di-rnansukh oleh hukum yang baru dari Allah, maka dengan spontan mereka berkata kepada Rasulullah ﷺ, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-ada saja.

Dengan kata lain, mereka menuduh Nabi ﷺ sebagai seorang pendusta.
Padahal sesungguhnya penggantian hukum itu hanyalah dari Allah subhanahu wa ta’ala.
belaka, Dia berbuat menurut apa yang dikehendaki-Nya dan memutuskan menurut apa yang disukai-Nya.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Kami gantikan suatu ayat dengan ayat yang lain.Artinya, Kami hapus ayat yang pertama, lalu Kami turunkan ayat yang lain menggantikan kedudukannya.

Qatadah mengatakan bahwa ayat ini sama artinya dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam ayat yang lain, yaitu:

Ayat mana saja yang Kami nasakhkan atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 106), hingga akhir ayat.


Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nahl (16) ayat 101 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nahl (16) ayat 101 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nahl (16) ayat 101 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 128 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 16:101
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra'
4.7
Ratingmu: 4.3 (21 orang)
Sending







Pembahasan ▪ tafsir surah nahal ayat 57 tafsir jalalain ▪ Qs 16 : 101 ▪ qs 16:101

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di




Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta