Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

Tampilkan Lainnya ...

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages
QS. Ali Imran (Keluarga ‘Imran) – surah 3 ayat 96 [QS. 3:96]
اِنَّ اَوَّلَ بَیۡتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِیۡ بِبَکَّۃَ مُبٰرَکًا وَّ ہُدًی لِّلۡعٰلَمِیۡنَ
Inna au-wala baitin wudhi’a li-nnaasi lal-ladzii bibakkata mubaarakan wahudal(n)-lil’aalamiin(a);
Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.
―QS. 3:96
Topik ▪ Penghinaan dan pengusiran bangsa Yahudi
English Translation - Sahih International
Indeed, the first House (of worship) established for mankind was that at Makkah – blessed and a guidance for the worlds.
―QS. 3:96

Alquran Arti Perkata (Indonesia & English)
إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
أَوَّلَ mula-mula

(the) First
بَيْتٍ rumah

House
وُضِعَ diletakkan/dibangun

set up
لِلنَّاسِ bagi manusia

for the mankind
لَلَّذِى ialah rumah (Baitullah)

(is) the one which
بِبَكَّةَ di Bakkah

(is) at Bakkah,
مُبَارَكًا yang diberkahi

blessed
وَهُدًى dan menjadi petunjuk

and a guidance
لِّلْعَٰلَمِينَ bagi semesta alam

for the worlds.

 

Tafsir surah Ali Imran (3) ayat 96

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di antara bentuk mengikuti millat Ibrahim adalah salat menghadap dan berziarah ke Ka’bah yang dibangunnya.
Hal itu dijelaskan Allah sebagai berikut,
“Sesungguhnya rumah pertama dan paling terhormat yang dijadikan Allah sebagai tempat peribadatan adalah yang terletak di kota Mekah.
Rumah itu penuh dengan segala bentuk kebaikan dan berbagai macam keberkahan.”
Allah menitipkan keberkahan-Nya kepada rumah itu yang merupakan tempat hidayah bagi umat manusia dengan mendatanginya dan menghadap kepadanya saat melakukan salat[1].

[1] Ka’bah yang berada di kota Mekah adalah rumah pertama yang dibangun di muka bumi sebagai tempat peribadatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala Bangsa dan kabilah lain di dunia ini membangun rumah untuk menyembah patung.
Orang-orang Mesir kuno, misalnya, menyembah sejumlah tuhan dalam satu waktu sekaligus, atau dalam waktu-waktu terpisah.
Mulai dari menyembah matahari dengan dewanya yang bernama Ra’, kemudian menyembah gambar, sampai kepada menyembah tiga tuhan:
Ozerus, Ozis dan anaknya, Horis.
Untuk keperluan itu mereka membangun sejumlah patung.
Orang-orang Asiria menyembah Ba’l Masymusy, dewa matahari, dan membuat patung dalam bentuk yang mirip Spinx (berkepala manusia dan bertubuh singa) dan bersayap.
Orang-orang Kan’an juga menyembah Ba’l, juga mirip dengan Spinx yang patungnya masih ada sampai sekarang, meskipun dalam bentuk yang tidak sempurna lagi, di kota Ba’albak, Lebanon.
Pada ayat ini, kota Mekah disebut Bakkah, bukan Makkah.
Kedua-duanya sama dan benar.
Sebab, dalam dialek beberapa kabilah Arab terdapat gejala perubahan fonem /b/ menjadi /m/ dan, sebaliknya, fonem /m/ menjadi /b/.
Kata makan, misalnya, menjadi bakan, dan bakr menjadi makr.
Gejala bahasa seperti ini masih terdapat sampai sekarang pada beberapa kabilah di bagian selatan Mesir.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun) untuk tempat ibadah

(bagi manusia) di muka bumi

(ialah yang terdapat di Bakkah) dengan ba sebagai nama lain dari Mekah.
Dinamakan demikian karena Kakbah mematahkan leher orang-orang durhaka lagi aniaya.
Baitullah ini dibina oleh malaikat sebelum diciptakannya Adam dan setelah itu baru dibangun pula Masjidilaksa dan jarak di antara keduanya 40 tahun sebagai tersebut dalam kedua hadis sahih.
Pada sebuah hadis lain disebutkan pula bahwa Kakbahlah yang mula-mula muncul di permukaan air ketika langit dan bumi ini diciptakan sebagai buih yang putih, maka dihamparkanlah tanah dari bawahnya

(diberi berkah) hal dari alladzii tadi

(dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam) karena ia merupakan kiblat mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk beribadah kepada Allah di bumi adalah Baitullah al-Haram di Makkah.
Rumah ini adalah rumah penuh berkah, kebaikan-kebaikan akan dilipatgandakan dan rahmat-rahmat turun, sebagai kibat dalam shalat, sebagai tujuan haji dan umrah, sebagai sumber kebaikan dan hidayah bagi manusia.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan bahwa rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, yakni untuk tempat ibadah dan manasik mereka, di mana mereka melakukan tawaf dan salat serta ber-i’tikaf padanya.

…ialah Baitullah yang di Bakkah.

Yakni Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam yang diklaim oleh masing-masing dari dua golongan, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, bahwa mereka berada di dalam agama Nabi Ibrahim dan tuntunannya, tetapi mereka tidak mau ber-haji ke Baitullah yang dibangun olehnya atas perintah Allah untuk tujuan itu, padahal Nabi Ibrahim telah menyerukan kepada manusia untuk melakukan haji ke Baitullah.
Seperti yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

…yang diberkahi.

Yaitu diberkahi sejak awal pembangunannya.

Yang menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A’masy, dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Abu Zar r.a. yang telah menceritakan:
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, masjid manakah yang mula-mula dibangun?”
Nabi ﷺ menjawab,
Masjidil Haram.”
Aku bertanya,
“Sesudah itu mana lagi?”
Nabi ﷺ menjawab,
Masjidil Aqsa.”
Aku bertanya,
“Berapa lama jarak di antara keduanya?”
Nabi ﷺ menjawab.”Empat puluh tahun.”
Aku bertanya,
“Kemudian masjid apa lagi?”
Nabi ﷺ bersabda,
“Kemudian tempat di mana kamu mengalami waklu salat, maka salatlah padanya, karena semuanya adalah masjid.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Al-A’masy dengan lafaz yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, dari Syarik, dari Mujahid, dari Asy-Sya’bi, dari Ali r.a. sehubungan dengan firman-Nya:
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 96)
Memang banyak rumah yang dibangun sebelum Masjidil Haram, tetapi Baitullah adalah rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah.

(Ibnu Abu Hatim mengatakan pula) dan telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnur Rabi’, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Sammak, dari Khalid ibnu Ur’urah yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki berdiri, lalu menuju kepada sahabat Ali r.a. dan bertanya,
“Sudikah engkau menceritakan kepadaku tentang Baitullah, apakah ia merupakan rumah yang mula-mula dibangun di bumi ini?”
Sahabat Ali menjawab,
“Tidak, tetapi Baitullah merupakan rumah yang mula-mula dibangun mengandung berkah, yaitu maqam Ibrahim, dan barang siapa memasukinya, menjadi amanlah dia.”

Kemudian Ibnu Abu Hatim menuturkan asar ini hingga selesai, yaitu menyangkut perihal pembangunan Baitullah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.
Kami mengetengahkan asar ini secara rinci di dalam permulaan tafsir surat Al-Baqarah, hingga tidak perlu diulangi lagi dalam bab ini.

As-Saddi menduga bahwa Baitullah merupakan rumah yang mula-mula dibangun di bumi ini secara mutlak.
Akan tetapi, pendapat Ali r.a.-lah yang benar.

Adapun mengenai hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi di dalam kitabnya yang berjudul Dalailun Nubuwwah mengenai pembangunan Ka’bah yang ia ketengahkan melalui jalur Ibnu Luhai’ah, dari Yazid ibnu Habib, dari Abul Khair, dari Abdullah ibnu Amr ibnul As secara marfu’ yaitu:
Allah mengutus Jibril kepada Adam dan Hawa, membawa perintah kepada keduanya agar keduanya membangun Ka’bah.
Maka Adam membangunnya, kemudian Allah memerintahkan kepadanya untuk melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah.
Dikatakan kepadanya,
“Engkau adalah manusia pertama (yang beribadah di Baitullah), dan ini merupakan Baitullah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia.”

Maka sesungguhnya hadis ini merupakan salah satu dari mufradat (hadis yang hanya diriwayatkan oleh satu orang) Ibnu Luhai’ah, sedangkan Ibnu Luhai’ah orangnya dinilai daif.
Hal yang mirip kepada kebenaran —hanya Allah Yang Maha Mengetahui—bila hadis ini dikatakan mauquf hanya sampai kepada Abdullah ibnu Amr.
Dengan demikian, berarti kisah ini termasuk ke dalam kategori kedua hadis daif lainnya yang keduanya diperoleh oleh Abdullah ibnu Amr pada saat Perang Yarmuk, yaitu diambil dari kisah Ahli Kitab.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah).

Bakkah merupakan salah satu nama lain dari kota Mekah yang terkenal.
Menurut suatu pendapat, dinamakan demikian karena kota Mekah dapat membuat hina orang-orang yang zalim dan yang angkara murka.
Dengan kata lain, mereka menjadi hina dan tunduk bila memasukinya.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, dinamakan demikian karena manusia berdesak-desakan padanya.
Qatadah mengatakan, sesungguhnya Allah membuat manusia berdesak-desakan di dalamnya, hingga kaum wanita dapat salat di depan kaum laki-laki, hal seperti ini tidak boleh dilakukan selain hanya di dalam kota Mekah.
Hal yang sama diriwayatkan pula dari Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Amr ibnu Syu’aib, dan Muqatil ibnu Hayyan.

Hammad ibnu Salamah meriwayatkan dari Ata ibnus Saib, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa batas Mekah mulai dari Al-Faj sampai ke Tan’im, sedangkan Bakkah batas-nya dari Baitullah sampai ke Al-Batha.

Syu’bah meriwayatkan dari Al-Mugirah, dari Ibrahim, bahwa Bakkah ialah Baitullah dan Masjidil Haram.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Az-Zuhri.

Ikrimah dalam salah satu riwayat dan Maimun ibnu Mihran mengatakan bahwa Baitullah dan sekitarnya dinamakan Bakkah, sedangkan selain itu dinamakan Mekah.

Abu Malik, Abu Saleh, Ibrahim An-Nakha’i, Atiyyah Al-Aufi, dan Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa Bakkah ialah tempat Baitullah berada, sedangkan selain itu dinamakan Mekah.

Mereka menyebutkan beberapa nama lain yang banyak bagi Mekah, yaitu Bakkah, Baitul Atiq, Baitul Haram, Baladul Amin, Al-Mamun, Ummu Rahim, Ummul Qura, Salah, Al-Arsy, Al-Qadis (karena menyucikan dosa-dosa), Al-Muqaddasah, An-Nasah, Al-Basah, Al-Balsah, Al-Hatimah, Ar-Ras, Kausa, Al-Baldah, Al-Bunyah, dan Al-Ka’bah.

Qari Internasional

QS. Ali-Imran (3) : 96 ⊸ Syekh Mishari Alafasy

QS. Ali-Imran (3) : 96 ⊸ Syekh Sa’ad Al-Ghamidi

QS. Ali-Imran (3) : 96 ⊸ Syekh Muhammad Ayyub

Murottal Alquran & Terjemahan Indonesia
QS. Ali-Imran (3) : 1-200 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 200 + Terjemahan

Ayat 1 sampai 200 + Terjemahan