QS. Ali Imran (Keluarga ‘Imran) – surah 3 ayat 69 [QS. 3:69]

وَدَّتۡ طَّآئِفَۃٌ مِّنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ لَوۡ یُضِلُّوۡنَکُمۡ ؕ وَ مَا یُضِلُّوۡنَ اِلَّاۤ اَنۡفُسَہُمۡ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ
Waddat thaa-ifatun min ahlil kitaabi lau yudhilluunakum wamaa yudhilluuna ilaa anfusahum wamaa yasy’uruun(a);

Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.
―QS. 3:69
Topik ▪ Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala
3:69, 3 69, 3-69, Ali Imran 69, AliImran 69, Al Imran 69

Tafsir surah Ali Imran (3) ayat 69

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 69. Oleh Kementrian Agama RI

Usaha mereka akan sia-sia belaka, bahwa tipu daya mereka akan menimpa mereka sendiri.
Sebabnya tiada lain karena perhatian mereka selalu diarahkan pada tujuan untuk menyesatkan orang-orang mukmin, maka mereka tidak mempunyai kesempatan lagi untuk memperhatikan cara-cara mendapatkan petunjuk.
pandangan mereka akan tertutup sehingga tidak dapat melihat lagi kebenaran ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang memberikan penjelasan tentang kebenaran dari kenabian beliau.
Boleh dikatakan bahwa mereka itu tidak berpikir sebagaimana mestinya.
bahkan mereka menyia-nyiakan akal, juga mereka telah merusak fitrah mereka sendiri sehingga tidak bisa menjangkau kebenaran.

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala mencela sikap perbuatan segolongan Ahli Kitab itu karena mereka tidak menyadari keadaan mereka yang jelek.
Karena itu mereka akhirnya jatuh dalam lembah kesesatan dan tidak dapat melihat lagi adanya kebenaran yang menuntun ke jalan yang lurus.

Firman Allah:

Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman karena dengki yang (timbul) dari diri mereka
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 109)

Dan firman Allah:

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 89)

Dengan demikian dapat diketahui bahwa tujuan Ahli Kitab menimbulkan persoalan yang meragukan di kalangan kaum Muslimin, tiada lain hanyalah untuk menyesatkan orang-orang mukmin dari agama yang benar, sehingga mengingkari ajaran-ajaran Nabi Muhammad ﷺ.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sebagian Ahl al-Kitab merasa ingin sekali menyesatkan dan menebar fitnah pada agama orang-orang Mukmin dengan melemparkan berbagai tuduhan yang menggoyah keyakinan.
Mereka, dalam perbuatannya itu, hanya akan menyesatkan diri sendiri dengan tetap berada dalam kesesatan yang hanya meliputi mereka sendiri.
Mereka tidak tahu bahwa akibat perbuatannya itu pasti akan sampai kepada mereka, dan tidak merugikan orang-orang Mukmin.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Segolongan Ahli Kitab hendak menyesatkan kamu padahal mereka hanya menyesatkan diri mereka sendiri) karena dosa kesesatan mereka tertimpa atas mereka, sedangkan orang-orang beriman tak mau menaati mereka (dan mereka tidak menyadari) demikian itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sekelompok orang-orang Yahudi dan Nasrani sangat berharap agar bisa menyesatkan kalian wahai kaum muslimin dari Islam, padahal mereka tidak bisa menyesatkan kecuali diri mereka sendiri dan para pengikut mereka.
Namun mereka tidak menyadari hal itu dan tidak mengetahuinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan perihal kedengkian orang-orang Yahudi kepada kaum mukmin dan mereka selalu menginginkan agar kaum mukmin menjadi sesat.
Allah memberitakan pula bahwa perbuatan mereka itu justru menjadi senjata makan tuan, sedangkan mereka tidak merasakan bahwa tipu daya diri mereka justru akibat buruknya menimpa diri mereka sendiri.


Kata Pilihan Dalam Surah Ali Imran (3) Ayat 69

THAA’IFAH
طَآئِفَة

Dalam Kamus Al Munjid disebutkan, lafaz ini adalah mu’annath dari thaa’if dan maknanya kembali kepada putaran, seolah­olah ia mengelilingi sesuatu. Setiap jemaah atau kelompok yang mengelilingi sesuatu dinamakan thaa’ifah. Selain itu, thaa’ifah dari sesuatu bermakna sebahagiannya. Apabila disandarkan kepada manusia membawa makna golongan dan setengah dari mereka yang dihimpunkan oleh mazhab atau pendapat yang membedakannya dari golongan lain.

Al Kafawi berkata,
Thaa’ifah adalah sebahagian dari sesuatu, sepotong daripadanya, atau terdiri dari satu hingga seterusnya, atau hingga seribu, paling sedikit dua lelaki atau satu, dan ia menjadi makna diri. Apabila ia dimaksudkan jamak, ia adalah jamak dan apabila dimaksudkan satu ia bisa dikatakan jamak'”

Lafaz thaa’ifah disebut 20 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 69, 72, 154 (dua kali);
-An Nisaa (4), ayat 81, 102 (dua kali), 113;
-Al A’raaf (7), ayat 87 (dua kali);
-At Taubah (9), ayat 66 (dua kali), 83, 122;
-An Nuur (24), ayat 2;
-Al Qashash (28), ayat 4;
-Al Ahzab (33), ayat 13;
-Ash Shaff (61),ayat 14 (dua kali);
-Al Muzzammil (73), ayat 20.

Lafaz thaa’ifah di dalam Al Qur’an merujuk kepada manusia dan ia dapat digolongkan kepada beberapa kelompok:

1. Kelompok orang Yahudi atau Ahli Kitab seperti dalam surah:
-Ali Imran, ayat 69, 72;
-Ash Shaff, ayat 14;
-Al Qashash, ayat 4;

Dimana segolongan mereka diperbudak, dijadikan buruh kasar dan dipaksa bekerja oleh Fir’aun.

2. Kelompok orang mukmin sebagaimana yang terdapat dalam surah:
-Ali ‘Imran (3), ayat 154;
-An Nisaa (4), ayat 102;
-Al A’raaf (7), ayat 87;
-At Taubah (8), ayat 122;
-An Nuur (24), ayat 2;
-Al Muzzarnmil (73), ayat 20.

3. Kelompok orang munafik seperti dalam surah:
-An Nisaa (4), ayat 81;
-At Taubah, ayat 66, 83

Yaitu sebanyak 12 orang yang balik dari Perang Badar, dan dalam surah Al Ahzab (33), ayat 13. Mereka ialah Aus bin Qayzi, ayah kepada Arabah bin Aus dan Ubayy bin Salul serta kawannya.

4. Bermakna Asid bin ‘Urwah dan sahabatnya. Diriwayatkan dari ‘Asim bin ‘Umar bin Qatadah Al Ansari, dari ayahnya dari kakeknya Qatadah bin An Nu’man, beliau menyebut kisah Bani Ubairiq, lalu turunlah ayat ini, yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah Asid bin ‘Urwah dan sahabatnya. Ketika mereka memuji Bani Ubairiq dan mencela Qatadah bin An Nu’man yang menuduh mereka ketika mereka bebas dari tuduhan itu seperti dalam ayat 113 dari surah Ali Imran.

Ibn Jarir berkata,
“Mereka ialah golongan yang mengkhianati diri mereka dan menyokong Bani Ubairiq.”

5. Kelompok dari kalangan orang kafir seperti dalam surah Al A’raaf (7), ayat 87.

6. Kelompok yang bertaubat dengan ikhlas dari kalangan orang munafik seperti dalam surah At Taubah (9) ayat 66.

إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ

artinya, “Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat),”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:333-334

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat “Ali ‘lmran” yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat “Madaniyyah”.

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam ‘alaihis salam, kenabian dan beberapa mu’jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan “Az Zahrawaani” (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga ‘lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ali-Imran (3) ayat 69 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ali-Imran (3) ayat 69 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ali-Imran (3) ayat 69 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ali-Imran - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 200 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 3:69
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ali Imran.

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah 3
Nama Surah Ali Imran
Arab آل عمران
Arti Keluarga 'Imran
Nama lain Al-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 89
Juz Juz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 200
Jumlah kata 200
Jumlah huruf 200
Surah sebelumnya Surah Al-Baqarah
Surah selanjutnya Surah An-Nisa'
4.5
Ratingmu: 4.3 (29 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/3-69









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta