Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 186


لَتُبۡلَوُنَّ فِیۡۤ اَمۡوَالِکُمۡ وَ اَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ لَتَسۡمَعُنَّ مِنَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ وَ مِنَ الَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡۤا اَذًی کَثِیۡرًا ؕ وَ اِنۡ تَصۡبِرُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَاِنَّ ذٰلِکَ مِنۡ عَزۡمِ الۡاُمُوۡرِ
Latublawunna fii amwaalikum wa-anfusikum walatasma’unna minal-ladziina uutuul kitaaba min qablikum waminal-ladziina asyrakuu adzan katsiiran wa-in tashbiruu watattaquu fa-inna dzalika min ‘azmil amuur(i);

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.
Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.
Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.
―QS. 3:186
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Perbuatan dan niat
3:186, 3 186, 3-186, Ali Imran 186, AliImran 186, Al Imran 186
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 186. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ml Allah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ, dan pengikutnya akan mendapat ujian sebagaimana mereka telah uji dengan kesulitan di peperangan Uhud.
Mereka akan diuji lagi mengenal harta dan dirinya.
"Sesungguhnya kamu akan diuji mengenal hartamu dan dirimu.
Kamu akan berkorban dengan hartamu menghadapi musuhmu untuk menjunjung tinggi derajat umatmu.
Kamu akan meningkatkan perjuangan yang mengakibatkan hilangnya keluarga, teman-teman seperjuangan yang dicintai untuk membela yang hak.
Kamu akan difitnah oleh orang yang diberi kitab dan orang-orang yang mempersekutukan Allah.
Kamu akan mendengar dari mereka hal-hal yang menyakitkan hati, mengganggu ketenteraman jiwa seperti fitnah zina Yang dilancarkan oleh mereka terhadap Siti 'Aisyah.
Ia tertinggal dari rombongan Nabi ﷺ ketika kembali dari satu peperangan, di suatu tempat karena mencari kalungnya yang hilang, kemudian datang Safwan bin Mu'atta menjemputnya.
Orang-orang munafik menuduh `Aisyah berzina dengan Safwan.

Satu fitnah yang cukup memalukan, dan menggemparkan masyarakat Madinah pada waktu itu, peristiwa yang terkenal dengan "Hadisul ifki (kabar bohong)".
Demikian hebat fitnah yang dilancarkan, dan demikian banyak gangguan yang menyakitkan hati yang ditujukan kepadamu.
Tetapi jika kamu bersabar menghadapinya dan menerimanya dengan penuh takwa, maka semuanya itu tidak akan mempunyai arti dan pengaruh sama sekali, dan sesungguhnya sabar dan takwa itu termasuk urusan yang patut diutamakan.

Ali Imran (3) ayat 186 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 186 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 186 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Yakinlah, wahai orang-orang yang beriman, bahwa kalian akan mengalami cobaan harta (dengan perintah untuk berinfak) dan cobaan jiwa (dengan perintah berjihad, dengan penyakit dan kesengsaraan).
Dan sesungguhnya kalian akan mendengar ucapan-ucapan yang menyakitkan berupa cercaan dan hujatan, yang harus kamu terima dengan sabar dan takwa.
Karena sesungguhnya sikap yang demikian itu adalah sebagian dari kesalehan yang dikerjakan dengan niat yang bulat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kamu sungguh-sungguh akan diuji) karena berturut-turutnya beberapa 'nun' maka nun tanda rafa'nya dihilangkan, begitu juga 'wau' dhamir jamak karena bertemunya dua wawu sakin, sedangkan artinya ialah kamu sungguh-sungguh akan diuji atau dicoba (mengenai hartamu) dengan beban-beban dan kewajiban yang harus kamu penuhi (dan dirimu) dengan ibadat dan ujian berupa malapetaka (dan sungguh akan kamu dengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu) yakni dari orang-orang Yahudi dan Nasrani (dan dari orang-orang musyrik) dari kalangan Arab (gangguan menyakitkan yang banyak sekali) berupa makian dan tuduhan serta godaan dan gangguan terhadap wanita-wanitamu.
(Jika kamu bersabar) atas tantangan itu (dan bertakwa) kepada Allah (maka demikian itu termasuk di antara pekerjaan-pekerjaan utama) termasuk hal-hal yang harus dipentingkan dan wajib dihadapi dengan keteguhan hati dan kesabaran yang penuh.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kalian wahai orang-orang mukmin pasti akan diuji pada harta kalian melalui nafkah wajib dan mustahab yang harus dikeluarkan, dengan musibah-musibah yang menimpa kalian, dengan ujian pada diri kalian berupa ketaatan-ketaatan yang memang diwajibkan atas kalian.
Apa yang menimpa kalian berupa luka-luka atau kematian dan kehilangan orang-orang terkasih, hal itu agar mukmin yang benar bisa dipisahkan dengan selainnya.
Sungguh kalian akan mendengar dari orang-orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrikin kata-kata yang dapat menyakitkan pendengaranmu, kata-kata syirik dan celaan terhadap agamamu.
Bila kalian wahai orang-orang mukmin bersabar atas semua itu dan bertakwa kepada Allah dengan berpegang kepada ketaatan kepada-Nya dan menghindari larangan-larangan-Nya, maka hal itu termasuk perkara yang ditegaskan dan perlu diperebutkan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta kalian dan diri kalian.

Ayat ini sama maknanya dengan ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
(Al Baqarah:155), hingga akhir ayat berikutnya.

Dengan kata lain, seorang mukmin itu harus diuji terhadap sesuatu dari hartanya atau dirinya atau anaknya atau istrinya.
Seorang mukmin mendapat ujian (dari Allah) sesuai dengan tingkatan kadar agamanya, apabila agamanya kuat, maka ujiannya lebih dari yang lain.

Dan (Juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman kepada orang-orang mukmin ketika mereka tiba di Madinah sebelum Perang Badar untuk meringankan beban mereka dari tekanan gangguan yang menyakitkan hati yang dilakukan oleh kaum Ahli Kitab dan kaum musyrik.
Sekaligus memerintahkan mereka agar bersikap pemaaf dan bersabar serta memberikan ampunan hingga Allah memberikan jalan keluar dari hal tersebut.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib ibnu Abu Hamzah, dari Az-Zuhri, Urwah ibnuz Zubair menceritakan kepadanya, Usamah ibnu Zaid pernah bercerita kepadanya bahwa Nabi dan para sahabatnya di masa lalu selalu bersikap pemaaf terhadap orang-orang musyrik dan Ahli Kitab, sesuai dengan perintah Allah kepada mereka, dan mereka bersabar dalam menghadapi gangguan yang menyakitkan.
Perintah Allah subhanahu wa ta'ala tersebut adalah melalui firman-Nya: Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.
(Ali Imran:186) Tersebutlah bahwa Rasulullah ﷺ bersikap pemaaf sesuai dengan pengertiannya dari apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya, sehingga Allah mengizinkan kepada beliau terhadap mereka (yakni bertindak terhadap mereka).
Demikianlah menurut apa yang diketengahkannya secara ringkas.

Imam Bukhari mengetengahkannya dalam bentuk yang panjang lebar di saat ia menafsirkan ayat ini.
Dia mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Urwah ibnuz Zubair, Usamah ibnu Zaid telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ mengendarai himar (keledai) dengan memakai kain qatifah fadakiyah, seraya membonceng Usamah ibnu Zaid di belakangnya, dalam rangka hendak menjenguk Sa'd ibnu Ubadah yang ada di Banil Haris ibnul Khazraj.
Hal ini terjadi sebelum Perang Badar.
Ketika beliau melewati suatu majelis yang di dalamnya terdapat Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul sebelum dia Islam (lahiriahnya), ternyata di dalam majelis terdapat campuran orang-orang yang terdiri atas kaum muslim, kaum musyrik penyembah berhala, dan Ahli Kitab Yahudi.
Di dalam majelis itu terdapat pula Abdullah ibnu Rawwahah.
Di saat majelis tersebut tertutup oleh debu kendaraan Nabi ﷺ, maka Abdullah ibnu Ubay menutupi hidungnya dengan kain selendangnya, lalu berkata, "Janganlah engkau membuat kami berdebu." Rasulullah ﷺ mengucapkan salam kepada mereka, lalu berhenti dan turun dari kendaraannya, kemudian menyeru mereka untuk menyembah Allah subhanahu wa ta'ala dan membacakan Al-Qur'an kepada mereka.
Maka Abdullah ibnu Ubay berkata, "Hai manusia, sesungguhnya aku tidak pandai mengucapkan apa yang kamu katakan itu, jika hal itu benar.
Maka janganlah kamu ganggu kami dengannya dalam majelis kami ini.
Kembalilah ke kendaraanmu, dan barang siapa yang datang kepadamu, ceritakanlah (hal itu) kepadanya!' Abdullah ibnu Rawwahah berkata, "Tidak, wahai Rasulullah, liputilah kami dengan debumu di majelis kami ini, karena sesungguhnya kami menyukai apa yang engkau sampaikan itu!" Akhirnya kaum muslim saling mencaci dengan kaum musyrik dan orang-orang Yahudi, hingga hampir saja mereka saling baku hantam, tetapi Rasulullah ﷺ terus-menerus melerai mereka hingga mereka tenang kembali.
Sesudah itu Rasulullah ﷺ mengendarai kembali keledainya, lalu meneruskan perjalanannya hingga sampai di rumah Sa'd ibnu Ubadah.
Beliau masuk ke dalam rumahnya, lalu bersabda kepadanya, "Hai Sa'd, tidakkah engkau mendengar apa yang telah dikatakan oleh Abu Hubab —yang beliau maksud adalah Abdullah ibnu Ubay—?
Dia telah mengatakan anu dan anu." Sa'd ibnu Ubadah menjawab, "Wahai Rasulullah, maafkanlah dia dan ampunilah dia.
Demi Tuhan yang telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu, sesungguhnya Allah telah menurunkan perkara yang hak kepadamu, dan sesungguhnya semua penduduk kota ini telah berdamai (setuju) untuk mengangkat dia (Ibnu Ubay) menjadi pemimpin mereka dan membelanya dengan penuh kefanatikan.
Akan tetapi, setelah Allah menolak hal tersebut dengan perkara hak yang telah Dia turunkan kepadamu, maka dia merasa tersisihkan, maka apa yang telah engkau lihat itu merupakan ungkapan rasa tidak puasnya." Maka Rasulullah ﷺ memaafkan tindakan Ibnu Ubay itu.
Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya bersikap pemaaf terhadap gangguan kaum musyrik dan kaum Ahli Kitab seperti apa yang diperintahkan oleh Allah kepada mereka, dan tetap bersabar serta menahan diri.
Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman: Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.
(Ali Imran:186), hingga akhir ayat.
Dalam ayat yang lainnya Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman: Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.
Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya.
(Al Baqarah:109), hingga akhir ayat.
Nabi ﷺ bersikap pemaaf menurut pengertian yang beliau pahami dari perintah Allah subhanahu wa ta'ala sehingga Allah memberikan izin kepada beliau untuk bertindak terhadap mereka.
Ketika Rasulullah ﷺ melakukan Perang Badar, yang di dalam perang itu Allah mematikan banyak para pemimpin orang-orang kafir Quraisy, maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul dan orang-orang musyrik penyembah berhala yang mengikutinya mengatakan, "Ini merupakan suatu perkara yang sudah kuat, maka berbaiatlah kalian kepada Rasulullah ﷺ untuk Islam." Akhirnya mereka berbaiat dan masuk Islam.

Setiap orang yang menegakkan kebenaran atau memerintahkan kepada kebajikan atau melarang terhadap perbuatan mungkar pasti mendapat ganguan dan rintangan, dan tiada jalan baginya kecuali ber-sabar demi membela agama Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya serta mengembalikan segala sesuatunya kepada Dia.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Ali Imran (3) ayat 186
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepada kami Isma'il dia berkata,
telah menceritakan kepadaku saudaraku dari Sulaiman dari Muhammad bin Abu Atiq dari Ibnu Syihab dari Urwah bin Az Zubair bahwa Usamah bin Zaid ra. telah mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengendarai seekor keledai, dilengkapi dengan pelana yang terbuat dari kain Fadak, sementara Usamah berada di belakang beliau. Beliau pergi untuk menjenguk Sa'ad bin Ubadah di Bani Al Harits bin Al Khazraj, kejadian ini berlangsung sebelum perang Badar. Kemudian beliau berangkat hingga melewati suatu majlis, yang di dalamnya terdapat Abdullah bin Ubay bin Salul. Itu terjadi sebelum Abdullah bin Ubay masuk Islam. Di dalam majlis itu berkumpul pula orang-orang dari kaum Muslimin, orang-orang Musyrik, para penyembah berhala, dan orang-orang Yahudi. Di kalangan kaum Muslimin terdapat Abdullah bin Rawahah. Ketika majlis tersebut di kepuli oleh debu yang ditimbulkan dari hewan tunggangan, Abdullah bin Ubay langsung menutup hidungnya sambil berkata,
Hei, jangan kamu kepuli kami dengan debu. Rasulullah ﷺ mengucapkan salam kepada mereka, lalu beliau berhenti, turun dan mengajak mereka kepada Allah (memeluk agama Islam) dan membacakan kepada mereka Al Qur'an. Mendengar hal itu Abdullah bin Ubay berkata,
"Hei..! apa tak ada yang lebih baik dari yang engkau ucapkan! jika itu benar, jangan ganggu di pertemuan kami. Kembalilah! Dan bacakan saja kepada orang-orang yang datang kepadamu!"

Mendengar itu Abdullah bin Rawahah berkata,
"Ya Rasulullah! sampaikan saja kepada kami dalam pertemuan ini, karena kami menyukai hal itu." Maka Kaum Muslimin, orang-orang kafir, dan Yahudi saling mencaci-maki satu sama lain hingga hampir saja mereka berkelahi. Nabi ﷺ tidak henti-hentinya menenangkan mereka hingga mereka semua kembali tenang. Setelah itu Rasulullah ﷺ menaiki kembali keledainya dan melanjutkan perjalanan hingga sampai di kediaman Sa'ad bin Ubadah.

Lalu Rasulullah ﷺ berkata kepada Sa'ad: "Wahai Sa'd, tidakkah engkau mendengar apa yang diucapkan Abu Hubab?" -yang beliau maksudkan adalah Abdullah bin Ubay- "Dia telah berkata ini dan itu."

Mendengar itu Sa'ad bin Ubadah berkata,
Demi ayahku, maafkan dia wahai Rasulullah dan berlapang dadalah kepadanya. Demi dzat yang menurunkan kitab kepada anda, Allah telah datang dengan kebenaran yang diturunkan kepada anda. (dahulu) Penduduk telaga ini (penduduk Madinah -red) bersepakat untuk memilihnya dan mengangkatnya, namun karena kebenaran yang diberikan kepada anda itu muncul, sehingga menghalanginya (Abdullah bin Ubay) menjabat sebagai pemimpin, maka seperti itulah perbuatannya sebagaimana yang anda lihat. Akhirnya Rasulullah ﷺ memaafkannya, karena itu Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya memaafkan orang-orang kafir dan para Ahli Kitab sebagaimana yang diperintahkan Allah, dan mereka bersabar terhadap gangguan mereka. Allah Ta'ala berfirman: …kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab… QS Ali Imran, 186. dan firman Allah …Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu… QS Al Baqarah, 109.

Dan Nabi ﷺ menafsirkan (ayat di atas) suatu prinsip memberikan ampunan kepada mereka selama Allah memerintahkannya demikian hingga Allah memberikan izin untuk memerangi mereka. Maka ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerangi mereka dalam Perang Badar dan Allah membinasakan orang-orang terkemuka Quraisy, maka Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya pun kembali dengan membawa kemenangan, baik harta ghanimah maupun para tawanan dari pembesar-pembesar Qurasy, Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang kafir dari para penyembah berhala yang bersamanya berkata,
"Perkara ini (Islam) telah muncul." Lalu mereka berbaiat atas Islam kepada Rasulullah ﷺ, akhirnya mereka masuk Islam.

Shahih Bukhari, Kitab Adab - Nomor Hadits: 5739

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ali Imran (3) Ayat 186

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnul Mundzir dengan sanad yang hasan, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (Ali ‘Imraan: 186) turun berkenaan dengan peristiwa Abu Bakr dengan Fanhash, tentang ucapannya: “Allah itu miskin dan kami kaya”.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar, dari az-Zuhri, yang bersumber dari ‘Abdurrahman bin Ka’b bin Malik.
Bahwa turunnya ayat ini (Ali ‘Imraan: 186) berkenaan dengan Ka’b bin al-Asyraf yang mencaci maki Nabi ﷺ dan shahabat-shahabat beliau dengan syair.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat "Ali 'lmran" yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat "Madaniyyah".

Dinamakan Ali 'lmran karena memuat kisah keluarga 'lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam 'alaihis salam, kenabian dan beberapa mu'jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri 'lmran, ibu dari Nabi 'Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali 'lmran ini dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga 'lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka'bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.

QS 3 Ali-Imran (185-186) - Indonesian - Keni Atika
QS 3 Ali-Imran (185-186) - Arabic - Keni Atika


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 186 *beta

Surah Ali Imran Ayat 186



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.8
Rating Pembaca: 4.8 (10 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ al imran ayat 186, Arti QS Al-Imran : 186, isi kandungan ali imran 186, isi kandungan Q S al imran ayat 186, Kandungan q s al imran 186, kandungan surat al imran ayat 186, pelajaran yang diambil dari surat al imran ayat 186, surah ali imran ayat 186 tentang ujian dan cobaa