Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Ali Imran (Keluarga ‘Imran) – surah 3 ayat 185 [QS. 3:185]

کُلُّ نَفۡسٍ ذَآئِقَۃُ الۡمَوۡتِ ؕ وَ اِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ اُجُوۡرَکُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ فَمَنۡ زُحۡزِحَ عَنِ النَّارِ وَ اُدۡخِلَ الۡجَنَّۃَ فَقَدۡ فَازَ ؕ وَ مَا الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَاۤ اِلَّا مَتَاعُ الۡغُرُوۡرِ
Kullu nafsin dzaa-iqatul mauti wa-innamaa tuwaffauna ujuurakum yaumal qiyaamati faman zuhziha ‘aninnaari wa-udkhilal jannata faqad faaza wamaal hayaatud-dunyaa ilaa mataa’ul ghuruur(i);
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.
Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan.
Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.
―QS. Ali Imran [3]: 185

Every soul will taste death, and you will only be given your (full) compensation on the Day of Resurrection.
So he who is drawn away from the Fire and admitted to Paradise has attained (his desire).
And what is the life of this world except the enjoyment of delusion.
― Chapter 3. Surah Ali Imran [verse 185]

كُلُّ tiap-tiap

Every
نَفْسٍ jiwa

soul
ذَآئِقَةُ akan merasakan

(will) taste
ٱلْمَوْتِ mati

[the] death,
وَإِنَّمَا dan sesungguhnya hanyalah

and only
تُوَفَّوْنَ akan disempurnakan

you will be paid in full
أُجُورَكُمْ pahalamu

your reward
يَوْمَ pada hari

(on the) Day
ٱلْقِيَٰمَةِ kiamat

(of) [the] Resurrection.
فَمَن maka barang siapa

Then whoever
زُحْزِحَ ia dijauhkan

is drawn away
عَنِ dari

from
ٱلنَّارِ neraka

the Fire
وَأُدْخِلَ dan ia dimasukkan

and admitted
ٱلْجَنَّةَ surga

(to) Paradise
فَقَدْ maka sungguh

then surely
فَازَ ia beruntung

he is successful.
وَمَا dan tidak

And not
ٱلْحَيَوٰةُ kehidupan

(is) the life
ٱلدُّنْيَآ dunia

(of) the world
إِلَّا melainkan

except
مَتَٰعُ kesenangan

enjoyment
ٱلْغُرُورِ tipuan/memperdayakan

(of) delusion.

Tafsir

Alquran

Surah Ali Imran
3:185

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 185. Oleh Kementrian Agama RI


Setiap yang bernyawa akan merasakan mati dan di hari kiamat nanti disempurnakan balasan masing-masing yang baik dibalas dengan yang baik, yaitu surga dan yang buruk akan dibalas dengan yang buruk pula yaitu neraka, sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ:


Kubur itu merupakan taman dari taman-taman surga, atau merupakan jurang dari jurang-jurang neraka.
(Riwayat at-Tirmidzi dan at-thabrani).


Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, dialah yang berbahagia.
Untuk mencapai kebahagiaan di atas, baiklah kita perhatikan sabda Rasulullah ﷺ sebagai berikut:


مَنْ اَحَبَّ اَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَاَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتُدْرِكْهُ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ اَنْ يُؤتٰى اِلَيْهِ

"Siapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah ia mati di dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan agar ia berbuat kepada manusia seperti yang ia sukai diperbuat orang kepadanya.
"
(Riwayat Imam Ahmad).


Kehidupan di dunia ini tiada lain kecuali kesenangan yang memperdayakan.

Kesenangan yang dirasakan di dunia ini berupa makanan, minuman, pangkat, kedudukan dan sebagainya, pada umumnya memperdayakan manusia.
Disangkanya itulah kebahagiaan, maka tenggelamlah ia dan asyik dengan kenikmatan dunia.

Padahal kalau manusia kurang pandai mempergunakannya, maka kesenangan itu akan menjadi bencana yang menyebabkan kerugian di dunia dan di akhirat kelak mendapat azab yang pedih.

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 185. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Setiap jiwa yang hidup pasti akan merasakan mati.
Apabila kamu sekalian mendapatkan kesengsaraan hidup di dunia, maka sesungguhnya kamu akan mendapatkan pahala secara penuh di hari kiamat.


Barangsiapa yang dijauhkan dari api neraka, maka sesungguhnya ia telah memperoleh kemenangan.
Dan kehidupan dunia itu tidak lebih dari perhiasan sementara yang menipu.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian, dengan itu seluruh makhluk akan kembali kepada Allah untuk menghadapi hisab.
Pahala atas amal perbuatan kalian akan diberikan sempurna tidak dikurangi di hari kiamat.


Barangsiapa yang dimuliakan oleh Tuhannya dan diselamatkan oleh-Nya dari api neraka dan dimasukkan oleh-Nya ke dalam surga, maka dia telah meraih apa yang diinginkannya.
Kehidupan dunia ini tidak lain kecuali kenikmatan sesaat, maka jangan terkecoh olehnya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Setiap diri akan merasai kematian dan hanya pada hari kiamatlah pahalamu disempurnakan) artinya pada hari kiamatlah ganjaran amal perbuatanmu dipenuhi dengan cukup.


(Barang siapa yang dijauhkan) setelah itu


(dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia beruntung) karena mencapai apa yang dicita-citakannya.


(Kehidupan dunia ini tidak lain) maksudnya hidup di dunia ini


(hanyalah kesenangan yang memperdayakan semata) artinya yang tidak sebenarnya karena dinikmati hanya sementara lalu ia segera sirna.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan kepada semua makhluknya secara umum.
bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati.
Perihalnya Sama dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:

Semua yang ada di bumi itu akan binasa.
Tetap kekal Zat Tuhan-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
(QS. Ar-Rahman [55]: 26-27)

Hanya Dia sendirilah yang Hidup Kekal dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia semuanya mati, begitu pula para malaikat umumnya dan para malaikat pemangku Arasy.
Hanya Allah sematalah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa Yang Kekal Abadi.
Dengan demikian, berarti Allah Yang Mahaakhir, sebagaimana Dia Maha Pertama (Akhirnya Allah tidak ada kesudahannya dan Permulaan Allah tidak ada awal-nya, pent.).

Ayat ini merupakan belasungkawa kepada semua manusia, karena sesungguhnya tidak ada seorang pun di muka bumi ini melainkan pasti mati.
Apabila masa telah habis dan nutfah yang telah ditakdirkan oleh Allah keberadaannya dari sulbi Adam telah habis.
serta semua makhluk habis, maka Allah melakukan hari kiamat dan membalas semua makhluk sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing, yang besar, yang kecil, yang banyak, yang sedikit.serta yang tua dan yang muda, semuanya mendapat balasannya.
Tiada seorang pun yang jianiaya barang sedikit pun dalam penerimaan pembalasannya.
Karena itulah maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz Al-Uwaisi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abu Ali Al-Hasyimi, dari Ja’far ibnu Muhammad Ali ibnul Husain, dari ayah-nya, dari.Ali ibnu Abu Thalib r.a. yang menceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ wafat, dan belasungkawa berdatangan, maka datanglah kepada mereka seseorang yang mereka rasakan keberadaannya, tetapi mereka tidak dapat melihat ujudnya.
Orang tersebut mengatakan:
Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian, hai Ahlul Bait.
Begitu pula rahmat Allah dan berkahnya, tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian.
Sesungguhnya belasungkawa dari setiap musibah itu hanyalah kepada Allah, dan hanya kepada-Nya memohon ganti dari setiap yang telah binasa, dan hanya kepada-Nya meminta disusulkan dari setiap yang terlewatkan.
Karena itu, hanya kepada Allah-lah kalian percaya, dan hanya kepada-Nyalah kalian berharap, karena sesungguhnya orang yang tertimpa musibah itu ialah orang yang terhalang tidak mendapat pahala.
Dan semoga keselamatan terlimpah kepada kalian.
begitu pula rahmat Allah dan berkah-Nya.
Ja’far ibnu Muhammad mengatakan, telah menceritakan kepadaku ayahku, bahwa Ali Abu Talib berkata."Tahukah kalian, siapakah orang ini?"
Ali mengatakan pula,
"Dia adalah Al-Khidir ‘Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.

Artinya, barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan selamat darinya serta dimasukkan ke dalam surga, berarti ia sang at beruntung.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr ibnu Alqamah, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Tempat sebuah cemeti di dalam surga lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya.
Bacalah oleh kalian jika kalian suka, yaitu firman-Nya,
"Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguhlah ia telah beruntung"
(QS. Ali ‘Imran [3]: 186).

Hadis ini ditetapkan di dalam kitab Sahihain melalui jalur lain tanpa memakai tambahan ayat.


Telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim serta Ibnu Hibban di dalam kitab Sahih-nya dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya tanpa memakai tambahan ini melalui hadis Muhammad ibnu Amr.

Telah diriwayatkan pula dengan memakai tambahan ini oleh Ibnu Murdawaih melalui jalur yang lain.
Untuk itu Ibnu Murdawaih mengatakan:


telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya.
telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Mas’adah, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, dari Abu Hazim, dari Sahl ibnu Sa’d yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
sesungguhnya tempat sebuah cemeti seseorang di antara kalian di dalam surga lebih baik daripada dunia ini dan semua yang ada di dalamnya.
Sahl ibnu Sa’d melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu beliau ﷺ membacakan firman-Nya:
Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga,maka sungguh ia telah beruntung.

Dalam pembahasan yang lalu sehubungan dengan firman-Nya:


dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 102)

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Waki’ ibnul Jarrah di dalam kitab tafsimya, dari Al-A’masy ibnu Zaid ibnu Wahb, dari Abdur Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka’bah, dari Abdullah ibnu Amr ibnul As yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah ia mati sedang ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Dan hendaklah ia memberikan kepada orang-orang apa yang ia suka bila diberikan kepada dirinya sendiri.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Makna ayat ini mengecilkan perkara duniawi dan meremehkan urusannya.
Bahwa masalah duniawi itu adalah masalah yang rendah, pasti lenyap, sedikit, dan pasti rusak.
Seperti yang diungkapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya:


Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.
Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.
(QS. Al-A’la [87]: 16-17)

Dan apa saja yang diberikan kepada kalian, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya, sedangkan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.
(QS. Al-Qashash [28]: 60)

Dan dalam sebuah hadis disebutkan:

Demi Allah, tiadalah dunia ini dalam kehidupan di akhirat, melainkan sebagaimana seseorang di antara kalian mencelupkan jari telunjuknya ke dalam laut, maka hendaklah ia melihat apa yang didapat olehnya dari laut itu.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 185)
Bahwa kehidupan duniawi itu merupakan kesenangan yang akan ditinggalkan, tidak lama kemudian, demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, pasti menyurut dan hilang dari pemiliknya.
Karena itu, ambillah dari kehidupan ini sebagai sarana untuk taat kepada Allah, jika kalian mampu dan tidak ada kekuatan (untuk melakukan ketaatan) kecuali berkat pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala

Kata Pilihan Dalam Surah Ali Imran (3) Ayat 185

DZAA IQAH
ذَآئِقَة

Lafaz dzaa iqah adalah ism fa’il mufradah, jamaknya dzaa ‘iqat, mudzakkar bagi kata dzaa’iq dan jamaknya dzaa ‘iqun. Berasal dari kata adz dzawq atau dzaaqa- yadzuqu yang berarti merasakan dan mencoba.

Raghib berkata,
adz dhawq bermakna wujudnya rasa di dalam mulut dan asal maknanya makan sedikit dari yang banyak.
Apabila makan makanan yang banyak maka disebut al akl. Beliau berkata lagi, di dalam Al Qur’an penggunaan lafaz adz dhawq lebih banyak menyentuh masalah azab atau siksaan.
Walaupun lafaz ini pada asalnya untuk hal yang sedikit, namun berkenaan dengan azab, ia bisa digunakan untuk perkara yang banyak dan sedikit.
Oleh karena itu, kecenderungan penggunaannya pada siksaan di dalam Al Quran mengisyaratkan makna universal.

Adz dhawq juga bermakna ujian dan cobaan sebagaimana maksud firman Allah:

فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلْجُوعِ وَٱلْخَوْفِ

yang dikaitkan dengan lafaz libaas (pakaian).

Adz dhawq juga juga digunakan untuk rahmat sebagaimana firman Allah,

وَلَئِنْ أَذَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِنَّا رَحْمَةً

maksudnya, "Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami,"

Lafaz dzaa ‘iqah di dalam Al Qur’an disebut tiga kali yaitu dalam surah:
Ali Imran (3), ayat 185;
-Al Anbiyaa (21), ayat 35;
Al Ankabut (29), ayat 57.
Lafaz jamaknya disebut dua kali yaitu dalam surah Ash Shaffaat ayat 31 dan 38. Kesemua lafaz dzaa ‘iqah yang terdapat dalam ayat-ayat tadi disandarkan dengan lafaz an nafs (diri atau jiwa) dan maut (kematian).
Allah berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِۗ

Dalam kitab Tafsir Al Misbah, M.
Quraish Shihab mengungkapkan, ayat ini menggunakan kata dzaa ‘iqah untuk kematian yang diterjemahkan dengan merasakan kematian untuk mengisyaratkan ia adalah awal dari sesuatu.
Bukankah sekiranya kita merasakan sesuatu, kita mengetahui sekelumit rasanya dan setelah dirasakan, ia dimakan dalam kadar yang lebih banyak dari apa yang dirasakan.
Sakit yang dirasakan dalam kematian atau kenikmatannya adalah bahagian kecil dari kepedihan dan nikmat yang akan dirasakan kelak.

Al Qurtubi mengungkapkan, terdapat dua qiraat pada ayat tersebut.
Kebanyakan para ulama membacanya dzaa iqatul mauuti.

Sedangkan Al A’masy, Yahya dan Ibn Abu Ishaq membacanya dengan dzaa iqatul mauuta. Hal ini karena ism fa’il terdiri dari dua bentuk makna yaitu al madhi (yang terdahulu) dan bermakna al istiqbaal (sekarang atau akan datang).

Qiraat pertama mengandung makna madhi (sudah berlaku atau pasti berlaku), maknanya setiap jiwa pasti mengalami kematian.
Sekiranya ism fa’il itu bermakna istiqbal, boleh dibaca dengan dua qiraat itu.
Maknanya setiap jiwa mengalami kematian karena jiwa itu belum lagi merasakan ke matian.

Kesimpulannya, lafaz dzaa ‘iqah bisa memiliki dua makna yaitu yang pasti merasakan dan yang akan merasakan, maknanya setiap jiwa pasti merasakan kematian atau setiap jiwa akan merasakan kematian.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 232-236

Unsur Pokok Surah Ali Imran (آل عمران)

Surat "Ali ‘lmran" yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat "Madaniyyah".

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘IsaAdamMaryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘IsaAl Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘IsaNabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalildalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘IsaMusyawarah.
Bermubahalah.
▪ Larangan melakukan riba.

Kisah:

▪ Kisah keluarga ‘lmran.
Perang Badar dan perang Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya.

Lain-lain:

▪ Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat.
▪ Sifat sifat Allah.
▪ Sifat orang-orang yang bertakwa.
Islam satu-satunya agama yang diridhai Allah.
Kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan.
▪ Pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
▪ Peringatan-peringatan terhadap Ahli Kitab.
▪ Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya.
Faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.

Audio

QS. Ali-Imran (3) : 1-200 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 200 + Terjemahan Indonesia

QS. Ali-Imran (3) : 1-200 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 200

Gambar Kutipan Ayat

Surah Ali Imran ayat 185 - Gambar 1 Surah Ali Imran ayat 185 - Gambar 2 Surah Ali Imran ayat 185 - Gambar 3
Statistik QS. 3:185
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah Ali Imran.

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl ‘Imrān berarti “Keluarga ‘Imran”) adalah surah ke-3 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-‘Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-‘Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Alquran disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang “Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab.”

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga ‘Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa’
Sending
User Review
4.7 (9 votes)
Tags:

3:185, 3 185, 3-185, Surah Ali Imran 185, Tafsir surat AliImran 185, Quran Al Imran 185, Surah Ali Imran ayat 185

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 43 [QS. 4:43]

Pada beberapa ayat yang lalu, Al-Qur’an menggambarkan perilaku orang-orang yang sombong dan membanggakan diri serta betapa dahsyat siksa yang akan dijumpai mereka pada hari berbangkit, sampaisampai me … 4:43, 4 43, 4-43, Surah An Nisaa’ 43, Tafsir surat AnNisaa 43, Quran AnNisa 43, An-Nisa’ 43, Surah An Nisa ayat 43

QS. Al Furqaan (Pembeda) – surah 25 ayat 34 [QS. 25:34]

34. Ayat berikut ini berisi peringatan keras kepada orang kafir tentang nasib mereka di akhirat nanti. Orang-orang yang dikumpulkan ke nera-ka Jahanam dengan diseret wajahnya secara hakiki. Wajah adal … 25:34, 25 34, 25-34, Surah Al Furqaan 34, Tafsir surat AlFurqaan 34, Quran Al Furqan 34, AlFurqan 34, Al-Furqan 34, Surah Al Furqan ayat 34

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Berikut ini, yang tidak mengandung moral terpuji, adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Orang yang suka berbohong adalah orang ...

Benar! Kurang tepat!

Bekerja tepat waktu adalah salah satu ciri orang yang ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan ...

Benar! Kurang tepat!

Lawan kata dari jujur ​​adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #5
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #5 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #5 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #21

Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini …

Pendidikan Agama Islam #27

Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun. 20 10 23 22 13 Benar! Kurang tepat! Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak

Pendidikan Agama Islam #30

كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًاArti dari kalimat di atas adalah … Kebodohan mendekatkan pada kemiskinan Kefakiran mendekatkan kepada kekufuran Kekufuran

Instagram