Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 179


مَا کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ
Maa kaanallahu liyadzaral mu’miniina ‘ala maa antum ‘alaihi hatta yamiizal khabiitsa minath-thai-yibi wamaa kaanallahu liyuthli’akum ‘alal ghaibi walakinnallaha yajtabii min rusulihi man yasyaa-u faaaminuu billahi warusulihi wa-in tu’minuu watattaquu falakum ajrun ‘azhiimun;

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin).
Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya.
Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.
―QS. 3:179
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Pahala Iman
3:179, 3 179, 3-179, Ali Imran 179, AliImran 179, Al Imran 179
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 179. Oleh Kementrian Agama RI

Salah satu sunnatullah kepada hamba Nya yang tidak dapat dirubah-rubah ialah bahwa Dia tidak akan membiarkan orang-orang mukmin tetap di dalam kesulitan sebagaimana halnya peperangan Uhud.
Allah akan memisahkan orang-orang mukmin dari orang-orang munafik dan akan memperbaiki keadaan orang mukmin dan memperkuat iman mereka.
Di dalam keadaaan sulit dan susah, dapat dinilai dan dibedakan orang-orang yang kuat imannya dengan orang-orang yang lemah imannya.

Kaum muslimin di uji sampai di mana iman dan kesungguhan mereka menghadapi kaum kafir.

Setelah kaum muslimin mengalami kesulitan dalam peperangan Uhud karena dipukul mundur oleh musuh, dan mereka hampir-hampir patah semangat, di kala itulah diketahui bahwa di antara kaum muslimin ada orang-orang munafik yang menyeleweng, berpihak kepada musuh.
Orang-orang yang lemah imannya mengalami kebingungan.
Berlainan halnya dengan orang-orang yang kuat imannya, kesulitan yang dihadapinya itu, mendorong mereka untuk menambah kekuatan iman dan semangat mereka.

Hal-hal yang gaib dan hikmah yang tersembunyi dalam peristiwa ini, tidak diperlihatkan, kecuali kepada orang-orang tertentu, seperti kepada rasul yang telah di pilih oleh Allah subhanahu wa ta’ala

(Dia adalah Tuhan) Yang Maha Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridai Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.
(Q.S Al Jin: 26-27)

Sesudah Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan celaan-celaan kaum munafik atas kenabian Muhammad ﷺ setelah perang Uhud dan menjelaskan bahwa peristiwa Uhud itu banyak mengandung iktibar, maka orang-orang mukmin diperintahkan supaya tetap beriman kepada Allah dan rasul-rasul Nya, dan kepada Nabi Muhammad ﷺ yang membenarkan rasul-rasul sebelumnya.
Jika mereka beriman kepadanya terutama mengenai hal-hal yang gaib dan bertakwa kepada Allah dengan menjauhi larangan-larangan Nya, mematuhi segala perintah-perintah Nya, maka mereka akan memperoleh pahala yang amat besar.
Di dalam Alquran sering disusulkan kata takwa sesudah kata iman sebagaimana halnya zakat sesudah salat.
Itu menunjukkan bahwa iman itu barulah sempurna jika disertai dengan takwa, sebagaimana halnya salat barulah sempurna jika zakat di keluarkan.

Ali Imran (3) ayat 179 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 179 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 179 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah tidak akan membiarkan kalian, hai orang-orang Mukmin, bercampur dengan orang-orang munafik sebelum memberikan ujian berupa penugasan kewajiban, agar Dia membedakan kalian dari mereka.
Juga, agar kalian dapat melihat orang munafik yang buruk dan orang Mukmin yang baik.
Bukan merupakan sunnatullah, jika ada seorang makhluk-Nya yang diberitahu rahasia kegaiban-Nya.
Tetapi Allah memilih Rasul yang dikehendaki-Nya untuk mengetahui itu.
Kalau kalian beriman dan menyadari kehadiran Tuhan dengan selalu menaatinya, Dia tentu akan memasukkanmu ke dalam surga sebagai balasannya.
Alangkah baiknya balasan itu karena merupakan balasan yang amat besar.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Allah sekali-kali tidak akan meninggalkan) membiarkan (orang-orang yang beriman dalam keadaan yang kamu) hai manusia (berada di atasnya) artinya yang kamu alami berupa campur aduknya yang ikhlas dengan yang lainnya (sampai Dia memisahkan) dibaca yamiiza atau yumayyiza artinya menyisihkan (orang-orang yang jelek) yaitu orang munafik (dari yang baik) yaitu orang beriman.
Caranya ialah dengan tugas-tugas berat sehingga menyingkapkan yang demikian itu, misalnya seperti yang dilakukan-Nya di waktu perang Uhud.
(Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan padamu hal-hal gaib) sehingga kamu dapat mengenal mana yang munafik dan mana yang baik sebelum dipisahkan Allah itu (tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang dikehendaki-Nya) untuk diberitahukan-Nya hal-hal gaib itu seperti kepada Nabi ﷺ yang disingkapkan-Nya perihal orang-orang munafik.
(Oleh sebab itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan jika kamu beriman dan bertakwa) artinya menjaga dirimu dari kemunafikan (maka akan beroleh pahala yang besar.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah tidak akan membiarkan kalian wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan RasulNya dan mengamalkan syariatNya berada dalam keadaaan kalian saat ini, di mana orang mukmin bercampur dengan orang munafik sampai Allah membedakan yang buruk dengan yang baik, sehingga orang munafik dipilah dari orang mukmin yang benar.
Buka termasuk hikmah Allah wahai orang-orang mukmin bila Allah membuat kalian mengetahui hal-hal ghaib yang Dia ketahui dari hamba-hamba-Nya, sehingga kalian dapat mengetahui yang mukmin dari mereka dengan yang munafik.
Akan tetapi Allah membedakan mereka melalui ujian dan cobaan, hanya saja Allah memilih dari utusan-utusan-Nya siapa yang Dia kehendaki untuk diberitahu sebagian ilmu ghaib dengan wahyu dari-Nya.
Maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, bila kalian beriman dengan benar dan bertakwa kepada Tuhan kalian dengan menaati-Nya, maka kalian akan memperoleh pahala besar di sisi Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dan yang baik (mukmin).

Yakni merupakan suatu keharusan adanya ujian guna menampakkan siapa yang menjadi penolong (agama) Allah dan siapa yang menjadi musuh Allah, dengan ujian tampak berbeda dan mudah dikenal antara orang mukmin yang sabar dan orang munafik yang durhaka.
Dengan kata lain, ujian tersebut terjadi dalam peperangan Uhud, yang dalam perang itu Allah menguji ketabahan orang-orang mukmin.
Maka dengan adanya ujian tersebut tampaklah keimanan, kesabaran, keteguhan.
ketabahan,dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sekaligus dengan demikian terbukalah kedok yang selama itu menutupi diri orang-orang munafik, dan menjadi nyatalah pelanggaran dan pembangkangan mereka untuk melakukan jihad serta pengkhianatan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Karena itulah maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk dengan yang baik.

Menurut Mujahid, Allah membedakan antara orang-orang mukmin dan orang-orang munafik dalam Perang Uhud.
Sedangkan menurut Qatadah, Allah membedakan di antara mereka dengan kewajiban berjihad dan berhijrah.

Menurut As-Saddi, mereka mengatakan, “Jika Muhammad memang benar (sebagai seorang rasul), maka dia harus menceritakan kepada kita siapa orang yang beriman kepadanya di antara kita dan siapa orang yang ingkar kepadanya di antara kita.” Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini.
sehingga Dia menyisihkan yang buruk dengan yang baik.
Yakni sebelum memisahkan antara orang mukmin dengan orang Kafir.

Semua pendapat di atas diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kalian hal-hal yang gaib.

Yaitu kalian tidak akan mengetahui kegaiban urusan Allah terhadap makhluk-Nya sehingga Dia membedakan bagi kalian antara orang mukmin dengan orang munafik, sekiranya tidak ada tanda-tanda yang menyingkap hal itu.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya.

Ayat ini semakna dengan firman-Nya yang mengatakan:

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.
(Al Jin:26-27)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.

Artinya, taatilah oleh kalian Allah dan Rasul-Nya, dan ikutilah dia dalam menjalankan syariat yang ditetapkan buat kalian.

…dan jika kalian beriman dan bertakwa, maka bagi kalian pahala yang besar.

Kata Pilihan Dalam Surah Ali Imran (3) Ayat 179

THAYYIB
طَيِّب

Lafaz ini adalah mashdar dari lafaz thayyaba yaitu menjadikan sesuatu baik dan suci.

Ath thayyib mengandung makna setiap sesuatu yang melezatkan indera atau diri, setiap sesuatu yang kosong dari yang menyakitkan dan kotor atau najis, orang yang lepas dari segala kehinaan dan bersifat dengan segala kemuliaan, ungkapan fulaan thayyibal qalb bermakna si fulan batin (hatinya) bersih, begitu juga dengan thayyibal izaar atau kain yang bersih. Ath thayyib minal bilaad artinya tanah yang baik.

Lafaz thayyib disebut 13 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 168;
-Ali Imran (3), ayat 179;
-An Nisaa (4), ayat 2, 43;
-Al Maa’idah (5), ayat 6, 88, 100;
-Al A’raaf (7), ayat 58;
-Al Anfaal (8), ayat 37, 69;
-An Nahl (16), ayat 114;
-Al Hajj (22), ayat 24;
-Faathir (35), ayat 10.

Al Kafawi berkata,
Aththayyib mengandung tiga makna, yaitu:

-ath thaahir (suci atau bersih),
-al halal (halal),
-al mustalidz (yang melazatkan).

Oleh karena itu lafaz ini dapat digunakan pada perkara akhlak, percakapan dan manusia secara umumnya.

Di dalam Al Qur’an lafaz thayyib mengandung beberapa makna:

1. Halal
Ia dikaitkan dengan makanan. Makna ini terdapat dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 168;
-Al Maa’idah (5), ayat 88;
-Al Anfaal (8), ayat 69;
-An Nahl (16), ayat 16;
-An Nisaa (4), ayat 2.

Muhammad Quraish Shihab menyatakan ahli-ahli tafsir ketika menjelaskan lafaz ini dalam konteks perintah makan menyatakan ia berarti makanan yang tidak kotor dari segi zatnya atau rusak (expiry), atau dicampuri benda najis.

Ada juga yang mengartikannya sebagai makanan yang mengundang selera bagi yang memakannya dan tidak membahayakan fisik dan akalnya, jadi lafaz thayyib dalam makanan adalah makanan yang sehat, profesional dan selamat.

Sehat berarti makanan yang memiliki zat yang cukup dan seimbang seperti madu (An Nahl (16), ayat 69); padi (As Sajadah (32), ayat 27); ikan (An Nahl (16), ayat 14 dan sebagainya.

Profesional berarti sesuai dengan keperluan pemakan, tidak lebih dan tidak kurang, dan arti selamat ialah dengan memperhatikan sisi takwa yang intinya adalah berusaha menghindari segala yang mengakibatkan siksa dan terganggunya rasa aman.

Dalam surah An Nisaa (4), ayat 2, Sa’id bin Jubair berkata,
“Janganlah kamu menggantikan harta manusia yang haram dengan harta kamu yang halal atau janganlah kamu menggantikan harta kamu yang halal dengan memakan harta mereka yang haram.”

2. Suci
Karena lafaz ini dikaitkan dengan perkataan sha’iidan yang berarti debu atau tanah. Makna ini terdapat dalam surah An Nisaa (4), ayat 43 dan Al Maa’idah (5), ayat 6.

Ibn Qutaibah berkata,
“Lafaz sha’iidan thayyiban bermakna debu yang bersih:’

Dalam Tafsir Al Jalalayn ia bermakna debu yang suci, maka pukullah dengannya dua kali.

3. Perkataan yang baik
Karena lafaz ini dikaitkan dengan al qaul dan al kalim. Makna untuk lafaz ini terdapat dalam surah Al Hajj (22), ayat 24 dan Faathir (35), ayat 10.

Asy Syaukani menukilkan laporan Ibn Mundzir dan Ibn Abi Hatim dari Isma’il bin Abi Khalid beliau berkata,
“Ia adalah Al Qur’an.”

Diriwayatkan Ibn Abi Hatim dari Ibn Zaid beliau berkata,
“La Ilaha lllallah, Wallaahu Akbar Walhamdulillaah bagi al kalim Ath thayyib, yaitu dalam surah Faathir (35), ayat 10

As Sabuni menafsirkan ia bermakna kalam yang baik dan perkataan yang bermanfaat karena di dalam syurga tidak ada perkataan yang sia-sia maupun dusta.

Dalam surah Faathir ia bermakna setiap perkataan yang baik berupa doa, zikir, membaca Al Qur’an, tasbih, tahmid dan sebagainya.

4. Bumi atau tanah yang baik
Ia dikaitkan dengan perkataan ‘al balad yaitu negeri, seperti yang terdapat dalam surah Al A’raaf (7), ayat 58.

Ibn Katsir berkata,
“Makna al baladuth thayyib ialah tanah yang baik dan subur yang mengeluarkan tumbuh-tumbuhannya dengan cepat dan elok,” seperti firman Allah yang bermakna “Maka ia (Maryam) diterima oleh Tuhannya dengan didikan yang baik dan dibesarkannya dengan didikan yang baik” (Ali Imran, ayat 37).

Az Zamakhsyari berkata,
“Ia adalah negeri yang baik dengan tanah yang subur lagi mulia.”

Ali bin Abi Talhah meriwayatkan dari Ibn Abbas ayat ini merupakan permisalan bagi orang mukmin.

5. Misalan bagi orang Mukmin
Makna ini terdapat dalam surah Ali ‘Imran (3), ayat 179; Al Maa’idah (5), ayat 100; dan Al Anfaal (8), ayat 37.

Ibn ‘Abbas berkata: “Ia bermakna ahlash sha’adah (ahli kebahagiaan).

Al Qatadah berkata,
“Orang yang berjihad dan berhijrah.”

Muqatil berkata,
“Ia bermakna seorang mukmin.”

Abu Salih meriwayatkan dari Ibn Abbas ia bermakna amalan yang shaleh.

Ibn Zaid dan Al Zujjaj berkata,
“Ia adalah menafkahkan yang baik di jalan Alah.

Al Fakh Al Razi berkata,
Ath thayyib ada dua jenis: bersifat jasmani, dan ia telah maklum bagi setiap individu; adapun yang bersifat rohani adalah perkara yang paling baik ialah mengenal Allah dan taat kepada perintah Allah, karena rohani yang mengenal Allah dan berterusan berkhidmat kepada Allah akan bersinar dengan nur makrifat Ilahi yang selalu rindu mendekatkan diri di samping Tuhan pentadbir alam dan masuk ke dalam kumpulan para malaikat serta mendampingi nabi, para shiddiqiin, syuhada’ dan orang shaleh.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:351-352

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat “Ali ‘lmran” yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat “Madaniyyah”.

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam ‘alaihis salam, kenabian dan beberapa mu’jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan “Az Zahrawaani” (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga ‘lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 179 *beta

Surah Ali Imran Ayat 179



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (27 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku