Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Ali Imran (Keluarga ‘Imran) – surah 3 ayat 159 [QS. 3:159]

فَبِمَا رَحۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ لِنۡتَ لَہُمۡ ۚ وَ لَوۡ کُنۡتَ فَظًّا غَلِیۡظَ الۡقَلۡبِ لَانۡفَضُّوۡا مِنۡ حَوۡلِکَ ۪ فَاعۡفُ عَنۡہُمۡ وَ اسۡتَغۡفِرۡ لَہُمۡ وَ شَاوِرۡہُمۡ فِی الۡاَمۡرِ ۚ فَاِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُتَوَکِّلِیۡنَ
Fabimaa rahmatin minallahi linta lahum walau kunta fazh-zhan ghaliizhal qalbi laanfadh-dhuu min haulika faa’fu ‘anhum waastaghfir lahum wasyaawirhum fiil amri fa-idzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallahi innallaha yuhibbul mutawakkiliin(a);
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.
Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.
Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.
Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.
―QS. Ali Imran [3]: 159

So by mercy from Allah, (O Muhammad), you were lenient with them.
And if you had been rude (in speech) and harsh in heart, they would have disbanded from about you.
So pardon them and ask forgiveness for them and consult them in the matter.
And when you have decided, then rely upon Allah.
Indeed, Allah loves those who rely (upon Him).
― Chapter 3. Surah Ali Imran [verse 159]

فَبِمَا maka dengan

So because
رَحْمَةٍ rahmat

(of) Mercy
مِّنَ dari

from
ٱللَّهِ Allah

Allah
لِنتَ kamu berlaku lemah lembut

you dealt gently
لَهُمْ bagi/terhadap mereka

with them.
وَلَوْ dan sekiranya

And if
كُنتَ kamu adalah

you had been
فَظًّا bersikap keras

rude
غَلِيظَ kasar

(and) harsh
ٱلْقَلْبِ hati

(at) [the] heart,
لَٱنفَضُّوا۟ tentu mereka akan menjauhkan diri

surely they (would have) dispersed
مِنْ dari

from
حَوْلِكَ sekelilingmu

around you.
فَٱعْفُ maka maafkanlah

Then pardon
عَنْهُمْ dari mereka

[from] them
وَٱسْتَغْفِرْ dan mohonkan ampun

and ask forgiveness
لَهُمْ bagi mereka

for them
وَشَاوِرْهُمْ dan bermusyawarahlah dengan mereka

and consult them
فِى dalam

in
ٱلْأَمْرِ urusan

the matter.
فَإِذَا maka apabila

Then when
عَزَمْتَ kamu membulatkan tekad

you have decided,
فَتَوَكَّلْ maka bertawakkallah

then put trust
عَلَى atas/kepada

on
ٱللَّهِ Allah

Allah.
إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
يُحِبُّ Dia menyukai

loves
ٱلْمُتَوَكِّلِينَ orang-orang yang bertawakkal

the ones who put trust (in Him).

Tafsir

Alquran

Surah Ali Imran
3:159

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 159. Oleh Kementrian Agama RI


Meskipun dalam keadaan genting, seperti terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin dalam Perang Uhud sehingga menyebabkan kaum Muslimin menderita, tetapi Rasulullah tetap bersikap lemah lembut dan tidak marah terhadap para pelanggar itu, bahkan memaafkannya, dan memohonkan ampunan dari Allah untuk mereka.
Andaikata Nabi Muhammad ﷺ bersikap keras, berhati kasar tentulah mereka akan menjauhkan diri dari beliau.


Di samping itu Nabi Muhammad ﷺ selalu bermusyawarah dengan mereka dalam segala hal, apalagi dalam urusan peperangan.
Oleh karena itu kaum Muslimin patuh melaksanakan keputusan-keputusan musyawarah itu karena keputusan itu merupakan keputusan mereka sendiri bersama Nabi.

Mereka tetap berjuang dan berjihad di jalan Allah dengan tekad yang bulat tanpa menghiraukan bahaya dan kesulitan yang mereka hadapi.
Mereka bertawakal sepenuhnya kepada Allah, karena tidak ada yang dapat membela kaum Muslimin selain Allah.

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 159. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sebagai wujud kasih sayang Allah kepada kamu dan mereka, kamu bersikap lemah lembut dan tidak berkata kasar karena kesalahan mereka.
Dan seandainya kamu bersikap kasar dan keras, mereka pasti akan bercerai berai meninggalkanmu.


Oleh sebab itu, lupakanlah kesalahan mereka.
Mintakanlah ampunan untuk mereka.


Dan ajaklah mereka bermusyawarah untuk mengetahui pendapat mereka dalam berbagai persoalan yang tidak disebut dalam wahyu.
Apabila kamu telah bertekad untuk mengambil suatu langkah setelah terebih dahulu melakukan musyawarah, laksanakanlah langkah itu dengan bertawakkal kepada Allah, karena Allah benar-benar mencintai orang-orang yang menyerahkan urusan kepada-Nya[1].


[1] Musyawarah atau syura adalah salah satu pokok ajaran yang sangat penting dalam Islam.
Dalam adagium ArabIslam dikatakan,
"Orang beristikharah tak akan gagal, orang bermusyawarah tak akan menyesal. "
Sesuai dengan kebiasaan gayanya dalam menetapkan hukum, Alquran hanya menjelaskan prinsip-prinsip umum dan garis besarnya saja.
Selanjutnya, perinciannya diserahkan kepada manusia, sesuai tuntutan ruang dan waktu.


Oleh sebab itu, adakalanya sistem perwakilan dalam suatu pemerintahan, di mana semua anggota pemerintahan bertanggung jawab kepada parlemen, cocok untuk negara-negara tertentu seperti Inggris dan Perancis.
Pengalaman sejarah membuat mereka terbiasa dengan model pemerintahan seperti itu.


Adakalanya pula sistem presidensial, dengan syura yang relatif luas, karena keinginan perkembangan cepat dan tidak mau terlalu terganggu oleh jatuh bangunnya kabinet, lebih cocok untuk negar-negara tertentu seperti Amerika Serikat.
Dan, adakalanya pula syura model pertengahan antara presidensial dan parlementer lebih cocok untuk negara lain seperti Mesir.
Dengan demikian, tiap negara dan kelompok bebas menentukan model syura yang mereka anggap sesuai dengan dimensi ruang dan waktu masing-masing.
Yang penting, prinsip syura harus terwujud untuk menghindari dominasi dan kesewenang-wenangan individu.
Demikianlah, Alquran telah mencantumkan prinsip musyawarah sejak 14 abad yang lalu.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Dengan rahmat Allah kepadamu dan kepada sahabat-sahabatmu wahai nabi, Allah melimphakan nikmat-Nya kepadamu sehingga kamu bisa bersikap lemah-lembut kepada mereka.
Bila kamu berakhlak buruk dan berhati kasar maka para sahabatmu akan menjauh darimu.


Maka jangan menyalahkan mereka karena apa yang mereka lakukan di perang Uhud.
Mohonah wahai Nabi kepada Allah agar mengampuni mereka, bermusyawarahlah dengan mereka dalam perkara-perkara yang memang memerlukan musyawarah, lalu bila kamu sudah bertekad bulat melakukan salah satu urusan setelah bermusyawarah, maka lakukanlah dengan hanya berpegang kepada Allah semata.


Sesungguhnya Allah menicintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Maka berkat) ma merupakan tambahan


(rahmat dari Allah kamu menjadi lemah lembut) hai Muhammad


(kepada mereka) sehingga kamu hadapi pelanggaran mereka terhadap perintahmu itu dengan sikap lunak


(dan sekiranya kamu bersikap keras) artinya akhlakmu jelek tidak terpuji


(dan berhati kasar) hingga kamu mengambil tindakan keras terhadap mereka


(tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu, maka maafkanlah mereka) atas kesalahan yang mereka perbuat


(dan mintakanlah ampunan bagi mereka) atas kesalahan-kesalahan itu hingga Kuampuni


(serta berundinglah dengan mereka) artinya mintalah pendapat atau buah pikiran mereka


(mengenai urusan itu) yakni urusan peperangan dan lain-lain demi mengambil hati mereka, dan agar umat meniru sunah dan jejak langkahmu, maka Rasulullah ﷺ banyak bermusyawarah dengan mereka.


(Kemudian apabila kamu telah berketetapan hati) untuk melaksanakan apa yang kamu kehendaki setelah bermusyawarah itu


(maka bertawakallah kepada Allah) artinya percayalah kepada-Nya.


(Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal) kepada-Nya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada rasul-Nya seraya menyebutkan anugerah yang telah dilimpahkan-Nya kepada dia, juga kepada orang-orang mukmin, yaitu Allah telah membuat hatinya lemah lembut kepada umatnya yang akibatnya mereka menaati perintahnya dan menjauhi larangannya, Allah juga membuat tutur katanya terasa menyejukkan hati mereka.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.

Yakni sikapmu yang lemah lembut terhadap mereka, tiada lain hal itu dijadikan oleh Allah buatmu sebagai rahmat buat dirimu dan juga buat mereka.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.Yaitu berkat rahmat Allah-lah kamu dapat bersikap lemah lembut terhadap mereka.


Huruf ma merupakan silah, orang-orang Arab biasa menghubungkannya dengan isim makrifat, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

Maka disebabkan mereka melanggar perjanjian itu.
(QS. An-Nisa’ [4]: 155)

Dapat pula dihubungkan dengan isim nakirah, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

Dalam sedikit waktu.
(QS. Al-Mu’minun [23]: 40)

Demikian pula dalam ayat ini disebutkan melalui firman-Nya:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Yakni karena rahmat dari Allah.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa begitulah akhlak Nabi Muhammad ﷺ yang diutus oleh Allah, dengan menyandang akhlak ini.
Makna ayat ini mirip dengan makna ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
(QS. At-Taubah [9]: 128)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Haiwah, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ziyad, telah menceritakan kepadaku Abu Rasyid Al-Harrani yang mengatakan bahwa Abu Umamah Al-Bahili pernah memegang tangannya, lalu bercerita bahwa Rasulullah ﷺ pernah memegang tangannya, kemudian bersabda:
Hai Abu Umamah, sesungguhnya termasuk orang-orang mukmin ialah orang yang dapat melunakkan hatinya.

Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad sendiri.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.


Al-fazzu artinya keras, tetapi makna yang dimaksud ialah keras dan kasar dalam berbicara, karena dalam firman selanjutnya disebutkan:

…lagi berhati kasar.

Dengan kata lain, sekiranya kamu kasar dalam berbicara dan berkeras hati dalam menghadapi mereka, niscaya mereka bubar darimu dan meninggalkan kamu.
Akan tetapi, Allah menghimpun mereka di sekelilingmu dan membuat hatimu lemah lembut terhadap mereka sehingga mereka menyukaimu, seperti apa yang dikatakan oleh Abdullah ibnu Amr:
Sesungguhnya aku telah melihat di dalam kitabkitab terdahulu mengenai sifat Rasulullah ﷺ, bahwa beliau tidak keras, tidak kasar, dan tidak bersuara gaduh di pasar-pasar, serta tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan lagi, melainkan memaafkan dan merelakan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.

Karena itulah Rasulullah ﷺ selalu bermusyawarah dengan mereka apabila menghadapi suatu masalah untuk mengenakkan hati mereka, agar menjadi pendorong bagi mereka untuk melaksanakannya.
Seperti musyawarah yang beliau lakukan dengan mereka mengenai Perang Badar, sehubungan dengan hal mencegat iring-iringan kafilah kaum musyrik.
Maka mereka mengatakan:
Wahai Rasulullah, seandainya engkau membawa kami ke lautan, niscaya kami tempuh laut itu bersamamu, dan seandainya engkau membawa kami berjalan ke Barkil Gimad (ujung dunia), niscaya kami mau berjalan bersamamu.
Dan kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Musa,
"Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya tetap duduk di sini,"
melainkan kami katakan,
"Pergilah dan kami selalu bersamamu, di hadapanmu, di sebelah kananmu, dan di sebelah kirimu dalam keadaan siap bertempur."

Nabi ﷺ mengajak mereka bermusyawarah ketika hendak menentukan posisi beliau saat itu, pada akhirnya Al-Munzir ibnu Amr mengisyaratkan (mengusulkan) agar Nabi ﷺ berada di hadapan kaum (pasukan kaum muslim).
Nabi ﷺ mengajak mereka bermusyawarah sebelum Perang Uhud, apakah beliau tetap berada di Madinah atau keluar menyambut kedatangan musuh.
Maka sebagian besar dari mereka mengusulkan agar semuanya berangkat menghadapi mereka.
Lalu Nabi ﷺ berangkat bersama pasukannya menuju ke arah musuh-musuhnya berada.

Nabi ﷺ mengajak mereka bermusyawarah dalam Perang Khandaq, apakah berdamai dengan golongan yang bersekutu dengan memberikan sepertiga dari hasil buah-buahan Madinah pada tahun itu.
Usul itu ditolak oleh dua orang Sa’d, yaitu Sa’d ibnu Mu’az dan Sa’d ibnu Ubadah.
Akhirnya Nabi ﷺ menuruti pendapat mereka.

Nabi ﷺ mengajak mereka bermusyawarah pula dalam Perjanjian Hudaibiyah, apakah sebaiknya beliau bersama kaum muslim menyerang orang-orang musyrik.
Maka Abu Bakar As-Siddiq berkata,
"Sesungguhnya kita datang bukan untuk berperang, melainkan kita datang untuk melakukan ibadah umrah."
Kemudian Nabi ﷺ memperkenankan pendapat Abu Bakar itu.

Dalam peristiwa hadisul ifki (berita bohong), Nabi ﷺ bersabda:

Hai kaum muslim, kemukakanlah pendapat kalian kepadaku tentang suatu kaum yang telah mencemarkan keluargaku dan menuduh mereka berbuat tidak senonoh.
Demi Allah, aku belum pernah melihat suatu keburukan pun pada diri keluargaku, lalu dengan siapakah mereka berbuat tidak senonoh.
Demi Allah, tiada yang aku ketahui kecuali hanya kebaikan belaka.

Lalu beliau meminta pendapat kepada sahabat Ali dan sahabat Usamah tentang menceraikan Siti Aisyah r.a.
Nabi ﷺ bermusyawarah pula dengan mereka dalam semua peperangannya, juga dalam masalah-masalah lainnya.

Para ahli fiqih berbeda pendapat mengenai masalah, apakah musyawarah bagi Nabi ﷺ merupakan hal yang wajib ataukah hanya dianjurkan (disunatkan) saja untuk mengenakkan hati mereka (para sahabatnya)?
Sebagai jawabannya ada dua pendapat.

Imam Hakim meriwayatkan di dalam kitab Mustadrak-nya, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad ibnu Muhammad Al-Bagdadi, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ayyub Al-Allaf di Mesir, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Amr ibnu Dinar, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:
dan bermusyawarahlah kamu dengan mereka dalam urusan itu.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 159)
Yang dimaksud dengan mereka ialah sahabat Abu Bakar dan sahabat Umar r.a kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa asar ini sahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Kalbi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar dan Umar.
Keduanya adalah penolong Rasulullah ﷺ dan sebagai wazir (patih)nya serta sekaligus sebagai kedua orang tua kaum muslim.

Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Abdur Rahman ibnu Ganam, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada Abu Bakar dan Umar:
Seandainya kamu berdua berkumpul dalam suatu musyawarah, aku tidak akan berbeda denganmu.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui sahabat Ali ibnu Abu Talib yang pernah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai azam (tekad bulat).
Maka beliau bersabda:

Meminta pendapat dari ahlur rayi, kemudian mengikuti pendapat mereka.

Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Bukair, dari Sufyan, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Penasihat adalah orang yang dipercaya.

Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi meriwayatkannya pula melalui hadis Abdul Malik dengan konteks yang lebih panjang daripada hadis di atas, dan dinilai hasan oleh Imam Nasai.

Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Aswad ibnu Amir, dari Syarik, dari Al-A’masy, dari Abu Amr Asy-Syaibani, dari ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Penasihat adalah orang yang dipercaya.

Imam Ibnu Majah menyendiri dalam periwayatan hadis ini dengan sanad tersebut.


ia mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Zakaria ibnu Abu Zaidah dan Ali ibnu Hasyim, dari Ibnu Abu Laila, dari Abuz Zubair, dari Jabir yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Apabila seseorang di antara kalian meminta nasihat kepada saudaranya, maka hendaklah saudaranya itu memberikan nasihat (saran) kepadanya.

Hadis ini pun hanya diriwayatkan oleh Ibnu Majah sendiri.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.

Yakni apabila engkau bermusyawarah dengan mereka dalam urusan itu, dan kamu telah membulatkan tekadmu, hendaklah kamu bertawakal kepada Allah dalam urusan itu.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Jika Allah menolong kalian, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kalian, jika Allah membiarkan kalian (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kalian (selain) dari Allah sesudah itu?
Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 160)

Ayat ini —seperti yang telah disebutkan di atas— sama maknanya dengan firman-Nya:

Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 126)

Kata Pilihan Dalam Surah Ali Imran (3) Ayat 159

FAZZ
فَظّ

Arti asal kata fazhzh adalah air (kotor) yang berada dalam perut.
Air jenis ini sangat dibenci oleh orang dan tidak akan disentuh kecuali karena terpaksa.

Kata fazhzh ini juga digunakan untuk menyebut orang yang keras perangainya, tercela akhlaknya dan kasar tutur katanya.
Orang yang mempunyai sikap seperti ini juga dibenci orang banyak dan tidak akan didekati kecuali terpaksa.

Kata fazhzh diulang sekali saja dalam Al Qur’an, yaitu pada surah Ali Imran (3), ayat 159. Pada ayat ini diterangkan lima sikap mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad ﷺ dan juga dua sikap tercela yang tidak dimiliki oleh beliau.
Dengan sikap dan kepribadian sebagaimana yang diterangkan pada ayat ini, maka beliau tidak dijauhi atau dibenci oleh banyak orang bahkan mereka mendekat dan menyukai beliau, sehingga nasihat dan dakwah yang diajarkan pun berkesan.

Salah satu sikap tercela yang tidak dimiliki oleh Rasulullah adalah sikap fazhzh.

Imam Ibn Katsir menerangkan bahawa arti fazhzh adalah sikap yang keras, namun yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah perkataan yang kasar, karana setelah itu Allah berfirman ghaliidzhal qalb yang artinya adalah berhati keras.
Sehingga penggalan ayat ini dapat diartikan, "wahai Muhammad apabila perkataan kamu kasar dan hatimu keras terhadap mereka, maka mereka akan lari darimu dan akan meninggalkanmu.
Namun Allah telah mendekatkan mereka kepadamu dan melemah lembutkan sikapmu supaya hati mereka suka kepadamu,"

Sikap Rasulullah ini adalah sesuai dengan yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr, "Saya melihat sifat-sifat Rasulullah ﷺ dalam kitabkitab (umat) terdahulu.
Beliau tidak kasar ucapannya, tidak keras hatinya tidak berteriak di pasar-pasar, tidak membalas kejelekan dengan kejelikan melainkan beliau suka memberi ampun dan berlapang dada"

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 430-431

Unsur Pokok Surah Ali Imran (آل عمران)

Surat "Ali ‘lmran" yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat "Madaniyyah".

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isaalaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adamalaihis salam, kenabian dan beberapa mukjizat-nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isaalaihis salam.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isaalaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalildalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isaalaihis salam ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

Musyawarah.
Bermubahalah.
▪ Larangan melakukan riba.

Kisah:

▪ Kisah keluarga ‘lmran.
Perang Badar dan perang Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya.

Lain-lain:

▪ Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat.
▪ Sifat sifat Allah.
▪ Sifat orang-orang yang bertakwa.
Islam satu-satunya agama yang diridhai Allah.
Kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan.
▪ Pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
▪ Peringatan-peringatan terhadap Ahli Kitab.
▪ Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya.
Faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.

Audio

QS. Ali-Imran (3) : 1-200 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 200 + Terjemahan Indonesia

QS. Ali-Imran (3) : 1-200 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 200

Gambar Kutipan Ayat

Surah Ali Imran ayat 159 - Gambar 1 Surah Ali Imran ayat 159 - Gambar 2 Surah Ali Imran ayat 159 - Gambar 3
Statistik QS. 3:159
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Ali Imran.

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl ‘Imrān berarti “Keluarga ‘Imran”) adalah surah ke-3 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-‘Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-‘Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Alquran disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang “Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab.”

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga ‘Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa’
Sending
User Review
4.5 (11 votes)
Tags:

3:159, 3 159, 3-159, Surah Ali Imran 159, Tafsir surat AliImran 159, Quran Al Imran 159, Surah Ali Imran ayat 159

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Maryam (Maria) – surah 19 ayat 59 [QS. 19:59]

59. Usai menjelaskan sifat para nabi, rasul, dan orang yang mendapat karunia Allah, pada ayat ini Allah menerangkan balasan bagi orang yang sesat dan ganjaran bagi orang yang bertobat. Kemudian datang … 19:59, 19 59, 19-59, Surah Maryam 59, Tafsir surat Maryam 59, Quran Maryam 59, Surah Maryam ayat 59

QS. Al Qamar (Bulan) – surah 54 ayat 46 [QS. 54:46]

45-46. Allah menegasikan keyakinan kaum kafir itu . Golongan itu pasti akan dikalahkan oleh kaum yang beriman dan mereka akan mundur ke belakang sambil berlari pontang-panting. Kekalahan mereka di dun … 54:46, 54 46, 54-46, Surah Al Qamar 46, Tafsir surat AlQamar 46, Quran Al-Qamar 46, Surah Al Qomar ayat 46

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut ...

Benar! Kurang tepat!

Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Surah yang terpanjang dalam Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Baqarah adalah surah ke-2 dalam Alquran. Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.121 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah. Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.

+

Array

Pesan utama dari kandungan Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Nama lain dari surah Al-Insyirah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #26
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #26 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #26 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #17

اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ lafal tersebut adalah surah Ad-Dhuha ayat ke- … 3 7 6 5 4 Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #13

Apa makanan kegemaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ayam bakar Daging Unta Roti dan kacang Cuka dan labu Kurma

Pendidikan Agama Islam #5

Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan … apa yang dirasakan oleh hatinya bahwa kita hidup di dunia hanya sementara kebenaran

Instagram