Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 152


وَ لَقَدۡ صَدَقَکُمُ اللّٰہُ وَعۡدَہٗۤ اِذۡ تَحُسُّوۡنَہُمۡ بِاِذۡنِہٖ ۚ حَتّٰۤی اِذَا فَشِلۡتُمۡ وَ تَنَازَعۡتُمۡ فِی الۡاَمۡرِ وَ عَصَیۡتُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ اَرٰىکُمۡ مَّا تُحِبُّوۡنَ ؕ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّرِیۡدُ الدُّنۡیَا وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّرِیۡدُ الۡاٰخِرَۃَ ۚ ثُمَّ صَرَفَکُمۡ عَنۡہُمۡ لِیَبۡتَلِیَکُمۡ ۚ وَ لَقَدۡ عَفَا عَنۡکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
Walaqad shadaqakumullahu wa’dahu idz tahussuunahum biidznihi hatta idzaa fasyiltum watanaaza’tum fiil amri wa’ashaitum min ba’di maa araakum maa tuhibbuuna minkum man yuriiduddunyaa waminkum man yuriidu-aakhirata tsumma sharafakum ‘anhum liyabtaliyakum walaqad ‘afaa ‘ankum wallahu dzuu fadhlin ‘alal mu’miniin(a);

Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai.
Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.
Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu.
Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.
―QS. 3:152
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat
3:152, 3 152, 3-152, Ali Imran 152, AliImran 152, Al Imran 152
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 152. Oleh Kementrian Agama RI

Menurut riwayat Al Wahidi dari Muhammad bin Kaab bahwa sebab turunnya ayat ini adalah sebagai berikut:

Setelah Nabi Muhammad ﷺ dengan sahabatnya-sahabatnya kembali ke Madinah dari perang Uhud, timbullah pertanyaan di antara mereka mengenai sebab-sebab mereka menderita kekalahan, padahal Allah telah menjanjikan kemenangan, maka turunlah ayat ini yang maksudnya: Allah telah memenuhi segala apa yang telah dijanjikan kepada kamu, di mana kamu telah sampai kepada suatu tahap kemenangan yang telah mengobrak-abrikkan kekuatan musuh yang jauh lebih banyak jumlahnya dan persiapannya.
Akan tetapi karena kamu kurang sabar, kurang patuh dan kurang disiplin terhadap komando Muhammad ﷺ, yang memerintahkan agar setiap regu, terutama regu pemanah agar jangan meninggalkan tempatnya masing-masing sebelum ada perintah, tetapi banyak di antara kamu yang melanggarnya, bahkan kamu berselisih karena menghendaki harta dunia, yakni mengejar harta rampasan perang, maka terjadilah sebaliknya, musuh kembali menjadi kuat, karena telah merebut tempat-tempat strategis, akhirnya kamu lemah, sehingga menderita kekalahan disebabkan perbuatan dan tingkah laku kamu sendiri, sebagai ujian dari Allah terhadap keimanan, kesabaran dan kedisiplinan kamu.

Allah telah memenuhi segala apa yang telah dijanjikan kepada hambanya yang beriman, di mana mereka telah sampai kepada suatu tahap kemenangan dengan menghancurkan kekuatan musuh yang jauh lebih banyak jumlah dan persiapannya.
Tetapi karena mereka kurang sabar, kurang patuh dan kurang disiplin terhadap komando Muhammad yang memerintahkan agar setiap regu, terutama regu pemanah jangan meninggalkan tempatnya masing-masing sebelum ada perintah, tetapi banyak di antara mereka yang melanggarnya, bahkan mereka berselisih karena menghendaki harta dunia, yakni mengejar harta rampasan perang, maka terjadilah apa yang terjadi, musuh kembali menjadi kuat, karena telah merebut tempat-tempat strategis, akhirnya kaum Muslimin menjadi lemah, sehingga mengalami penderitaan disebabkan perbuatan dan tingkah laku mereka sendiri, sebagai ujian dari Allah terhadap keimanan, kesabaran dan kedisiplinan mereka.

Pada akhir ayat ini, Allah menerangkan yang maksudnya walaupun itu semuanya telah terjadi dan kamu telah sadar menyesali kesalahan-kesalahan kamu itu, karena Allah telah mengampuni kamu, karena Allah selalu memberikan karunia-Nya kepada orang-orang mukmin.

Para ahli tafsir menguraikan tentang apa yang dimaksudkan janji Allah yang disebutkan pada ayat ini sebagai berikut:

1.
Janji Allah akan menolong kaum mukminin pada perang Uhud dengan mengirimkan bala bantuan sebanyak lima ribu malaikat, kalau mereka sabar dan bertakwa.
Tetapi menurut yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi pasukan malaikat itu tidak jai datang karena mereka kurang sabar.

2.
Janji Allah akan memberi kemenangan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ kepada regu pemanah selama mereka tidak meninggalkan tempatnya.
Tetapi rupanya banyak yang meninggalkan tempat.

3.
Janji Allah akan menolong setiap orang mukmin yang bersabar dan bertakwa yag banyak disebutkan dalam beberapa ayat dan surat dalam Alquran.

Kalau kita perhatikan tiga pendapat yang tersebut di atas, tidaklah bertentangan satu dengan yang lain, hanya tinjauannya dari segi yang berlainan.
Pendapat yang pertama meninjau dari segi historisnya dan hubungan ayat 152 ini dengan ayat 125.
Pendapat yang kedua meninjau dari segi sebagian kenyataan historis tentang pelanggaran mereka terhadap taktik perang yang telah diperintahkan oleh Rasul kepada mereka, pendapat yang ketiga meninjau secara umum, karena di dalam Alquran banyak ayat-ayat yang menjanjikan bantuan dan pertolongan kepada setiap orang yang beriman, sabar dan bertakwa kepada-Nya.

Ali Imran (3) ayat 152 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 152 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 152 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Pertolongan Allah benar-benar jelas terjadi.
Dia telah memenuhi janji-Nya untuk memenangkan kalian, ketika pada awal-awal peperangan, kalian membunuh sejumlah besar dari mereka dengan kehendak Allah.
Namun, cara pandang kalian terhadap perang ternyata mulai melemah, dan kalian saling berselisih dalam memahami perintah Nabi untuk menetap pada pos masing-masing:
ada yang mengira kemenangan telah datang dan, oleh karenanya, boleh meninggalkan posnya, ada pula yang memilih menetap sampai akhir pertempuran.
Yang lain bahkan tidak mematuhi sama sekali perintah Rasul dengan terus mencari harta rampasan setelah tampak kemenangan yang kalian inginkan.
Pada akhirnya kalian terpecah menjadi dua:
golongan yang lebih menginginkan dunia dan golongan yang lebih mengutamakan akhirat.
Dalam keadaan seperti itu semua, Allah menahan pertolongan-Nya, hingga kalian kembali menderita kekalahan melawan musuh.
Semua itu dimaksudkan untuk menguji, agar tampak siapa saja di antara kalian yang tulus ikhlas dan siapa saja yang tidak.
Kemudian Allah mengampuni kalian setelah kalian semua menyesal.
Allah mempunyai karunia atas kamu sekalian dengan mengampuni dan menerima pertobatan kalian.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya) kepadamu dengan memberikan kemenangan (ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya) atau dengan kehendak-Nya (hingga saat kamu gagal) atau takut menghadapi peperangan (dan berselisih dalam urusan itu) yakni mengenai perintah Nabi ﷺ agar tetap bertahan di lereng bukit untuk memanah musuh di mana sebagian kamu mengatakan, “Mari kita turun bukankah teman-teman kita sudah beroleh kemenangan?”
Sedangkan sebagian lagi berkata, “Tidak, kita tidak boleh melanggar perintah Nabi ﷺ” (dan kamu mendurhakai) perintahnya, lalu kamu tinggalkan markas demi mengharapkan harta rampasan (setelah diperlihatkan-Nya kepadamu) maksudnya oleh Allah (apa yang kamu sukai) yakni kemenangan.
Mengenai jawab idzaa ditunjukkan oleh kalimat yang sebelumnya, artinya kamu terhalang beroleh kemenangan dari-Nya.
(Di antaramu ada yang menghendaki dunia) lalu ditinggalkannya markas guna merebut harta rampasan (dan di antaramu ada yang menghendaki akhirat) maka ia tetap bertahan di tempat sampai ia gugur seperti Abdullah bin Jubair dan sahabat-sahabatnya.
(Kemudian Allah memalingkan kamu) dihubungkan kepada jawaban idzaa yang diperkirakan berbunyi, “Terpukul mundur karena menderita kekalahan” (dari mereka) maksudnya orang-orang kafir (untuk mencoba kamu) artinya menguji mana-mana yang ikhlas di antaramu dari yang bukan.
(Sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu) atas kesalahan yang telah kamu lakukan (dan Allah mempunyai karunia terhadap orang-orang yang beriman) dengan memaafkan dan mengampuni mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sungguh Allah telah mewujudkan kemenangan yang Dia janjikan kepada kalian, saat kalian membunuh orang-orang kafir di perang Uhud dengan izin Allah, sampai kalian merasa gentar, kalian melemah dan berselisih, apakah kalian tetap berada di tempat kalian atau meninggalkannya untuk mengumpulkan harta rampasan perang bersama orang-orang yang mengumpulkannya?
Kalian telah menyelisihi perintah Rasul kalian yang memerintahkan kalian agar tidak meninggalkan pos-pos kalian dalam keadaan apa pun, kalian akhirnya ditimpa kekalahan setelah sebelumnya Allah memperlihatkan kemenangan di depan mata kalian.
Terbuktilah bahwa di antara kalian ada yang hanya menginginkan harta rampasan perang dan di antara kalian ada yang menginginkan akhirat dan pahalanya, kemudian Allah memalingkan wajah-wajah kalian dari musuh-musuh kalian untuk menguji kalian.
Alllah mengetahui bahwa kalian sangat menyesal dan meminta ampun kepada-Nya maka Diapun mengampuni kalian, dan Allah adalah pemilik karunia yang besar atas orang-orang mukmin.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah telah menjanjikan kepada kaum mukmin akan beroleh kemenangan.
Menurut salah satu di antara dua pendapat yang disebut di muka, firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:

(Ingatlah) ketika kamu mengatakan kepada orang-orang mukmin, “Apakah tidak cukup bagi kalian Allah membantu kalian dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”
Ya (cukup), jika kalian bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kalian dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.
(Ali Imran:124-125)

menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi dalam Perang Uhud.
Karena jumlah pasukan musuh mereka terdiri atas tiga ribu personel.
Ketika pasukan kaum muslim menghadapi mereka, maka kemenangan dan keberuntungan berada di pihak pasukan Islam pada permulaan siang harinya.
Tetapi setelah terjadi pelanggaran perintah yang dilakukan oleh pasukan pemanah kaum muslim dan sebagian pasukan kaum muslim merasa frustasi, maka janji ini ditangguhkan, karena syarat dari janji ini ialah hendaknya mereka sabar dalam menghadapi musuh dan taat kepada pimpinan (Nabi ﷺ).
Karena itu, dalam ayat ini disebutkan:

Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian.

Yakni pada permulaan siang hari.

Ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya.

Yaitu kalian dapat membunuh mereka dengan kekuasaan Allah yang diberikan kepada kalian terhadap mereka.

…sampai pada saat kalian lemah.

Ibnu Juraij mengatakan bahwa menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan al-fasyl ialah frustasi atau menjadi pengecut.

…dan kalian berselisih dalam urusan itu dan kalian mendurhakai perintah (Rasul). Seperti yang terjadi pada pasukan pemanah kaum muslim.

…sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai.

Yakni kemenangan yang kalian raih atas mereka.

Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia.

Mereka adalah orang-orang yang menginginkan dapat ganimah setelah melihat pasukan musuh terpukul mundur.

dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat.
Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian.
(Ali Imran:152)

Kemudian Allah memberikan kesempatan menang kepada mereka atas kalian untuk menguji dan mencoba kalian.

…dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian.

Yakni mengampuni kalian atas perbuatan kalian yang demikian itu, karena —hanya Allah Yang lebih mengetahui— jumlah personel pasukan musuh dan peralatan mereka lebih banyak, sedangkan pasukan kaum muslim dan peralatannya sedikit.

Ibnu Juraij mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian.

Yaitu dengan tidak memusnahkan kalian.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Muhammad ibnu Ishaq, kedua riwayat ini diceritakan oleh Ibnu Jarir.

Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra yang menceritakan bahwa pada hari itu kami bersua dengan pasukan kaum musyrik, lalu Nabi ﷺ menempatkan sepasukan pemanah (pada posisi yang strategis), dan mengangkat Abdullah ibnu Jubair sebagai pemimpin (komandan) mereka, lalu beliau ﷺ bersabda: Janganlah kalian tinggalkan posisi ini, jika kalian melihat kami memperoleh kemenangan atas mereka (musuh), kalian telap jangan meninggalkan ternpat ini.
Dan juga jika kalian melihat mereka beroleh kemenangan atas kami, janganlah kalian membantu kami.
Ketika kami bertempur dengan mereka dan mereka lari hingga aku melihat kaum wanita (musyrik) menaiki bukit seraya mengangkat kain mereka hingga gelang kaki mereka kelihatan.
Maka pasukan kaum muslim berseru, “Ganimah, ganimah!” Abdullah ibnu Jubair berkata, “Ingatlah kalian kepada pesan Nabi ﷺ, jangan sekali-kali kalian meninggalkan posisi ini!” Tetapi mereka menolak (dan tetap turun merebut ganimah).
Setelah mereka membangkang, perhatian mereka berpaling (ke arah ganimah), akibatnya tujuh puluh orang dari pasukan kaum muslim gugur di medan perang.
Lalu muncullah Abu Sufyan dan berkata, “Apakah di antara kaum ada Muhammad?”
Nabi ﷺ bersabda, “Jangan kalian jawab dia.” Abu Sufyan berkata lagi, “Apakah di antara kaum ada Abu Quhafah?”
Nabi ﷺ bersabda, “Jangan kalian jawab dia.” Abu Sufyan berseru lagi, “Apakah di antara kaum ada Ibnul Khattab?”
Karena tidak ada yang menjawab, akhirnya Abu Sufyan mengatakan, “Sesungguhnya mereka telah terbunuh.
Seandainya mereka masih hidup, niscaya mereka akan menjawab seruanku ini.” Tetapi Umar tidak dapat menahan dirinya, maka ia berkata kepada Abu Sufyan, “Engkau dusta, hai musuh Allah! Semoga Allah mengekalkan apa yang menyusahkanmu.” Abu Sufyan berkata, “Tinggilah Hubal.” Nabi ﷺ bersabda, “Jawablah dia.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apa yang harus kami katakan?”
Nabi ﷺ bersabda, “Katakanlah oleh kalian bahwa Allah Mahatinggi lagi Mahaagung.” Abu Sufyan berkata, “Kami mempunyai Uzza (kejayaan), sedangkan kalian tidak mempunyai Uzza” Nabi ﷺ bersabda, “Jawablah dia.” Mereka bertanya, “Apa yang harus kami katakan?”
Nabi ﷺ bersabda: Katakanlah oleh kalian bahwa Allah adalah Penolong kami, sedangkan kalian tidak mempunyai penolong.
Abu Sufyan berkata, “Perang hari ini pembalasan Perang Badar.
peperangan itu silih berganti, dan kalian akan menjumpai orang yang tercincang, tetapi aku tidak memerintahkannya dan tidak pula membuatku sedih (susah).”

Dari segi ini hadis hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari sendiri.
Kemudian Imam Bukhari meriwayatkannya melalui Amr ibnu Khalid, dari Zuhair ibnu Mu’awiyah ibnu Abu Ishaq, dari Al-Barra dengan lafaz yang semisal.
Nanti akan disebutkan hal yang lebih panjang lebar dari pembahasan ini.

Imam Bukhari mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah r.a.
yang menceritakan bahwa dalam peperangan Uhud ketika pasukan kaum musyrik terpukul mundur, iblis berseru, “Hai hamba-hamba Allah, mundurlah kalian ke belakang!” Maka pasukan yang terdepan mundur ke belakang hingga bertubrukan dengan pasukan yang berada di belakang (terlibat dalam pertempuran di antara sesama kawan).
Dalam pertempuran itu tiba-tiba Huzaifah melihat ayahnya, yaitu Al-Yaman.
Maka ia berseru, “Hai hamba-hamba Allah, dia adalah ayahku, dia adalah ayahku!” Akan tetapi, demi Allah, mereka tidak mempedulikannya hingga membunuhnya.
Maka Huzaifah berkata, “Semoga Allah mengampuni kalian.” Urwah mengatakan, “Demi Allah, di dalam diri Huzaifah masih ada lebihan kebaikan hingga ia bersua dengan Allah subhanahu wa ta’ala”

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari kakeknya, bahwa Az-Zubair ibnul Awwam pernah menceritakan kisah berikut.”Demi Allah, aku melihat pelayan-pelayan Hindun dan semua teman wanitanya lari terbirit-birit seraya menyingsingkan kain mereka dengan meninggalkan semua barang bawaan mereka, baik yang banyak maupun yang sedikit.
Kemudian pasukan pemanah menyerbu ke arah medan perang di saat kami mencegah mereka supaya jangan meninggalkan tempat mereka.
Tetapi mereka tidak mengindahkan cegahanku demi merebut ganimah.
dan mereka membiarkan kami pasukan kaum muslim tidak terlindungi dari arah belakang dari pasukan berkuda kaum musyrik.
Kami diserang oleh pasukan berkuda dari arah belakang, ada seseorang yang menyerukan bahwa Muhammad telah terbunuh.
Kami mundur, dan semua kaum pun (pasukan kaum muslim) mundur, padahal sebelumnya kami banyak membunuh para pemegang panji pasukan kaum musyrik, hingga tidak ada seorang pun dari mereka yang berani mendekat kepadanya.” Muhammad ibnu Ishaq melanjutkan kisahnya, bahwa pemegang panji pasukan kaum musyrik satu demi satu mati terbunuh hingga panji mereka dipegang oleh Amrah binti Alqamah Al-Harisiyyah, lalu ia menyerahkan panji itu kepada kabilah Quraisy, dan mereka langsung melipatnya.

As-Saddi meriwayatkan dari Abdu Khair, dari Ali ibnu Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa ia sama sekali belum pernah berpendapat bahwa ada seseorang di antara sahabat Rasulullah ﷺ yang menghendaki duniawi sebelum diturunkan kepada kami apa yang diturunkan oleh Allah dalam Perang Uhud, yaitu firman-Nya:

Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia.
dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat.

Hadis ini diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Ibnu Mas’ud.
Hal yang sama diriwayatkan dari Abdur Rahman ibnu Auf dan Abu Talhah.
Ibnu Murdawaih meriwayatkannya di dalam kitab tafsirnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian.

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Qasim ibnu Abdur Rahman ibnu Rafi’ —salah seorang dari Bani Addi ibnun Najjar— yang menceritakan hadis berikut, bahwa Anas ibnu Nadr (paman Anas ibnu Malik) sampai kepada Umar ibnul Khattab dan Talhah ibnu Ubaidillah yang berada di tengah-tengah kaum Muhajirin dan Ansar, mereka menjatuhkan semua senjata yang ada di tangan mereka.
Anas ibnun Nadr bertanya, “Apakah yang menyebabkan kalian melepas senjata kalian?”
Mereka menjawab, “Rasulullah ﷺ telah gugur.” Anas Ibnun Nadr berkata, “Lalu apakah yang akan kalian lakukan dalam kehidupan sesudah peristiwa ini?
Ayo bangkitlah, dan majulah sampai titik darah penghabisan untuk membela apa yang telah dibela beliau.” Kemudian Anas ibnun Nadr menghadapi pasukan musuh dan bertempur sendirian dengan gigihnya hingga gugur.
Semoga Allah melimpahkan keridaan-Nya kepadanya.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hassan ibnu Hassan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Talhah, telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas ibnu Malik, bahwa pamannya (yaitu Anas ibnun Nadr) tidak ikut dalam Perang Badar, lalu ia mengatakan, “Aku tidak ikut dalam permulaan peperangan yang dilakukan oleh Nabi ﷺ (yakni Perang Badar).
Sekiranya Allah memperkenankan aku ikut perang bersama Rasulullah-ﷺ di masa datang, sungguh Allah akan menyaksikan apa yang akan aku lakukan.” Lalu ia ikut dalam Perang Uhud.
Ketika orang-orang (pasukan kaum muslim) terpukul mundur, ia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta maaf kepada-Mu atas apa yang telah dilakukan mereka (pasukan kaum muslim yang mundur), dan aku nyatakan kepada-Mu berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.” Kemudian ia maju dengan senjata pedangnya.
Ketika bersua dengan Sa’d ibnu Mu’az, ia bertanya, “Hendak ke manakah engkau, hai Sa’d?
Sesungguhnya aku menjumpai bau surga dari arah Uhud ini.” Lalu ia maju dan berperang dengan sengitnya hingga gugur.
Tiada yang mengenalnya, hanya saudara perempuannya sendiri yang mengenalnya melalui tahi lalatnya atau jari jemarinya, sedangkan pada tubuhnya terdapat delapan puluh luka lebih akibat sabetan pedang, tusukan tombak, dan lemparan panah.

Demikianlah menurut lafaz hadis yang diketengahkan oleh Imam Bukhari.

Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Sabit ibnu Anas dengan lafaz yang semisal.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdan, telah menceritakan kepada kami Abu Hamzah.
dari Usman ibnu Mauhib yang mengatakan bahwa seorang lelaki datang melakukan ibadah haji, lalu ia melihat suatu kaum yang sedang duduk, maka ia bertanya, “Siapakah mereka yang sedang duduk itu?”
Orang-orang menjawab, “Mereka adalah orang-orang Quraisy.” Lelaki itu bertanya, “Siapakah guru mengaji mereka?”
Orang-orang menjawab, “Sahabat Ibnu Umar.” Lalu ia mendatanginya dan bertanya, “Sesungguhnya aku mau bertanya kepadamu tentang sesuatu, maka aku memohon sudilah engkau menjawabnya.” Ibnu Umar berkata, “Bertanyalah.” Ia berkata.”Aku bertanya kepadamu demi kesucian Baitullah ini, tahukah engkau bahwa Usman ibnu Affan lari dalam Perang Uhud?”
Ibnu Umar menjawab, “Ya.” Ia bertanya lagi, “Kalau demikian, berarti engkau mengetahui pula bahwa dia absen dalam Perang Badar dan tidak (mengikuti)nya?”
Ibnu Umar menjawab, “Ya.” Ia berkata lagi, “Dan engkau pun pasti tahu pula bahwa dia absen pula dalam Bai’atur Ridwan dan tidak menyaksikan (mengikuti)nya.” Ibnu Umar menjawab, “Ya.” Lalu ia bertakbir.
Maka Ibnu Umar berkata: Kemarilah, aku akan menceritakan kepadamu dan menjelaskan kepadamu hal-hal yang engkau tanyakan kepadaku tadi.
Adapun mengenai dia (Usman) lari dalam Perang Uhud, maka aku bersaksi bahwa Allah telah memaafkannya.
Adapun mengenai ketidakhadirannya dalam Perang Badar, karena sesungguhnya dia sedang merawat putri Nabi ﷺ yang menjadi istrinya yang saat itu sedang sakit.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau beroleh pahala seorang lelaki yang ikut dalam Perang Badar dan juga bagian (ganimah)nya.” Adapun mengenai ketidakhadirannya dalam Bai’at Ridwan, kisahnya adalah seperti berikut.
Seandainya ada seseorang yang lebih dihormati di lembah Mekah daripada Usman, niscaya Nabi ﷺ akan mengutusnya sebagai delegasi menjadi ganti Usman.
Maka Nabi ﷺ mengutus Usman, lalu terjadilah Bai’at Ridwan sesudah keberangkatan Usman ke Mekah.
Maka Nabi ﷺ bersabda seraya mengisyaratkan dengan tangan kanannya, “Inilah tangan Usman,” lalu beliau menepukkan tangan kanannya itu ke tangan kirinya seraya bersabda, “Ini adalah tangan Usman, sekarang pergilah engkau bersamanya!”

Kemudian Imam Bukhari meriwayatkannya melalui jalur lain dari Abu Uwwanah, dari Usman ibnu Abdullah ibnu Mauhib.

Kata Pilihan Dalam Surah Ali Imran (3) Ayat 152

DUNYAA
لدُّنْيَا

Lafaz dunyaa berasal dari lafaz ad dunuww kemudian al waw diganti dengan al yaa karena lafaz yang berwazan fu’laa, sekiranya memiliki al waw pada akhirannya, maka ia diganti dengan al yaa. Dinamakan dunyaa karena dekatnya dan kedatangan akhirat. Ia juga bermakna lawan dari akhirat, nama bagi kehidupan ini karena akhirat jauh darinya, bumi dan segala yang terdapat di permukaannya, alam tempat kita diami, perihal bidang dan lapangan.

Al Kafawi berkata,
“Ia adalah nama bagi apa yang ada di bawah bulan.”

Lafaz dunyaa disebut sebanyak 115 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 85, 86, 114, 130, 200, 201, 204, 212, 217, 220;
-Ali Imran (3), ayat 14, 22, 45, 56, 117, 145, 148, 152, 185;
-An Nisaa(4), ayat 74, 77, 94, 109, 134 (dua kali);
-Al­ Maa’idah (5), ayat 33, 41;
-Al An’aam (6), ayat 29, 32, 70, 130;
-Al A’raaf (7), ayat 32, 51, 152, 156;
-Al Anfaal (8), ayat 42, 67;
-At Taubah (9), ayat 38 (dua kali), 55, 69, 74, 85;
-Yunus (10), ayat 7, 23, 24, 64, 70, 88, 98;
-Hud (11), ayat 15, 60;
-Yusuf (12), ayat 101;
-Ar Ra’d (13), ayat 26 (dua kali), 34;
-Ibrahim (14), ayat 3, 27;
-An Nahl (16), ayat 30, 41, 107, 122;
-Al Kahfi (18), ayat 28, 45, 46, 104;
-Tha Ha (20), ayat 72, 131;
-Al Hajj (22), ayat 11, 15;
-Al Mu’minuun (23), ayat 33, 37;
-An Nuur (24), ayat 14, 19, 23, 33;
-Al Qashash (28), ayat 42, 60, 61, 77;
-Al Ankabut (29), ayat 79, 25, 27; 64;
-Ar Rum (30), ayat 7;
-Luqrnan (31), ayat 15, 33;
-Al Ahzab (33), ayat 28, 57;
-Faathir (35), ayat 5;
-Ash Shaffaat (37), ayat 6;
-Az Zumar (39), ayat 10, 26;
-Al Mu’min (40), ayat 39, 43, 51;
-Fushshilat (41), ayat 12, 16, 31;
-Asy Syuura (42), ayat 20, 36;
-Az-Zukhruf (43), ayat 32, 35;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 24, 35;
-Al­ Ahqaf (46), ayat 20;
-Muhammad (47), ayat 36;
-An Najm (53), ayat 29;
-Al­ Hadid (57), ayat 20 (dua kali);
-Al Hasyr (59), ayat 3;
-Al Mulk (67), ayat 5;
-An Naazi’aat (79), ayat 38;
-Al A’laa (87), ayat 16.

Kebanyakan lafaz dunyaa digandengkan dengan akhirat dan juga kebanyakannya di­hubungkan dengan al hayaah maknanya ke­hidupan dunia. Apabila berhubungan dengan kehidupan dunia, Al Qur’an memberinya beberapa gelaran yaitu:

1. Dunia hanyalah mataa’al ghuurur artinya benda tipuan.
Maknanya kehidupan ini selalu me­nipu dan merayu manusia sehingga sering kali manusia lupa pada ke­hidupan yang sebenarnya. Tipu daya hidup ini sering kali menipu manusia sehingga hatinya terpaut dan terikat dengan dunia. Oleh karena itu, ayat ini me­nerangkan kehinaan dunia dan ke­fanaannya yang sebentar lagi musnah.

Qatadah berkata,
“Maknanya ialah benda (kenikmatan) yang akan di­tinggalkan. Oleh karena itu, ambillah ia dan taat kepada Allah semampu kamu'” Dalam hadits dikatakan, “Demi Allah! Kehidupan dunia berbanding akhirat adalah bagaikan salah seorang kamu menenggelamkan jari kedalam lautan, lalu lihatlah apa yang tertinggal di jari kamu (bila kamu mengangkatnya).”

2. Kenikmatan dan kebendaan yang qaliil yaitu sedikit.
Kenikmatan dan kebendaan yang banyak sekiranya ia fana dan hilang ia dinamakan sedikit, apatah lagi dengan sedikit yang lenyap lagi fana, atau apa yang dinikmati dari kelezatan dunia cepat hilang dan terbatas serta fana.

3. Kehidupan dunia hanyalah la’ib wa lahw yaitu tempat senda gurau dan bermain-main saja serta menjadi tempat mencari kesenangan bagi orang yang menyekutukan Allah.

Al Qurtubi berkata,
“Dunia adalah sesuatu yang dipermainkan olehnya dan dilalaikan dengannya yaitu apa yang diberikan Allah kepada orang kaya dari dunia, musnah dan lenyap seperti sebuah permainan yang tidak wujud dalamnya ketetapan dan hakikat.”

Dengan penjelasan Al Qur’an pada hakikat dan kedudukan dunia, sekali lagi Al­ Quran menyamakan kebendaan dunia yang menipu, hilang dan fana seperti air hujan yang turun dari langit dan bersatu dengan bumi lalu keluar darinya tumbuh-tumbuhan yang lebat dan rimbun lalu ia menjadi kering, hancur dan bertebaran diterbangkan oleh angin ke kiri dan ke kanan.

Bagi yang membelanjakan harta benda demi mendapat kepentingan dunia, Al­ Quran juga mengumpamakannya seperti angin yang di dalamnya ada udara yang dingin yang kering pada musim dingin, tidak mem­bawa kesuburan melainkan kemusnahan. Bukan ajaran Ilahi yang dapat mereka kalah­kan melainkan kebun dan tanaman mereka sendirilah yang akan punah dan musnah karena apabila tanaman itu menjadi kering, ia mudah terbakar karena zat air tidak ada lagi di dalamnya.

Lafaz ad dunyaa digandengkan dengan as­ samaa yaitu as sama ad dunyaa yang terdapat dalam surah:
-Ash Shaffaat (37), ayat 6;
-Fushshilat (41), ayat 12;
-Al Mulk (67), ayat 5.

Maksudnya ialah langit yang dekat dengan kamu. Ia dihiasi dengan keindahan planet-planet dan bintang-bintang yang bercahaya dan berkilau, berguna untuk melempar dan memburu syaitan apabila ia hendak mencuri pendengaran, datang kilat yang menyambar sehingga membakarnya. Maksudnya “meteor” melempar syaitan yang terlepas dari bintang itu karena pada hakikatnya adalah satu bulatan seperti bumi juga yang tetap pada halnya.

Sebagaimana fungsinya yang diterangkan dalam surah Al Mulk. Qatadah berkata,
“Allah menciptakan bintang-bintang untuk tiga keguna­an, yaitu:
(1) Perhiasan langit;
(2) Pemanah syaitan;
(3) Memberi petunjuk dalam per­jalanan.

Sekiranya ada orang lain yang ingin menambahkannya orang itu mengada­ adakan ilmu. Maksudnya Muhammad bin Ka’ab menerangkan, “Demi Allah! tidak ada orang di bumi mempunyai bintang di langit namun sebenarnya mereka ingin bermain tilik-menilik lalu dihubungkannya dengan bintang di langit”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:232-234

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat “Ali ‘lmran” yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat “Madaniyyah”.

Dinamakan Ali ‘lmran karena memuat kisah keluarga ‘lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam ‘alaihis salam, kenabian dan beberapa mu’jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri ‘lmran, ibu dari Nabi ‘Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali ‘lmran ini dinamakan “Az Zahrawaani” (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga ‘lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka’bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 152 *beta

Surah Ali Imran Ayat 152



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.4
Rating Pembaca: 4.6 (28 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku