Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Ali Imran

Ali Imran (Keluarga ‘Imran) surah 3 ayat 13


قَدۡ کَانَ لَکُمۡ اٰیَۃٌ فِیۡ فِئَتَیۡنِ الۡتَقَتَا ؕ فِئَۃٌ تُقَاتِلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ اُخۡرٰی کَافِرَۃٌ یَّرَوۡنَہُمۡ مِّثۡلَیۡہِمۡ رَاۡیَ الۡعَیۡنِ ؕ وَ اللّٰہُ یُؤَیِّدُ بِنَصۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَعِبۡرَۃً لِّاُولِی الۡاَبۡصَارِ
Qad kaana lakum aayatun fii fi-atainil taqataa fi-atun tuqaatilu fii sabiilillahi wa-ukhra kaafiratun yaraunahum mitslaihim ra’yal ‘aini wallahu yu’ai-yidu binashrihi man yasyaa-u inna fii dzalika la’ibratan auliil abshaar(i);

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur).
Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka.
Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.
―QS. 3:13
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Azab orang kafir
3:13, 3 13, 3-13, Ali Imran 13, AliImran 13, Al Imran 13
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ali Imran (3) : 13. Oleh Kementrian Agama RI

Selanjutnya Allah memperingatkan agar mereka jangan merasa kuat dengan jumlah harta dan tenaga yang mereka miliki.
Karena seharusnya mereka mengambil pelajaran dari peristiwa perang Badar itu.

Jumlah dana dan tenaga yang besar, banyaknya sekutu yang membantu, tidaklah akan menjamin kemenangan dalam peperangan.
Sejarah peperangan di dunia ini membuktikan kekeliruan anggapan demikian.
Apa yang terjadi pada perang Badar, di mana dua pasukan saling berhadapan.
Satu pasukan dari kaum muslimin yang berjumlah kecil yang berjuang dijalan Allah, ditakdirkan bagi mereka kemenangan atas pasukan kaum musyrikin yang jauh lebih besar jumlahnya.
Mereka yang memiliki akal pikiran yang sehat dan mempergunakannya untuk merenungkan segala perkara yang terjadi, serta mengambil faedah dari padanya, tentulah akan banyak memperoleh pelajaran dari peristiwa perang Badar ini.
Ternyata bahwa ada suatu kekuatan lain di atas segala kekuatan yang lahir.
Kekuatan itulah yang sering memperkuat pasukan yang lemah hingga dia dapat mengalahkan pasukan yang kuat lagi besar dengan izin Allah subhanahu wa ta'ala

Berperang di jalan Allah adalah kunci kemenangan itu.
Bila perjuangan dan peperangan tujuannya adalah membela kebenaran, melindungi agama dan pemeluknya, maka jiwa pejuang-pejuangnya akan menghadapi medan pertempuran dengan sepenuh kekuatan yang dimilikinya, dengan segala kemungkinan, siasat dan persiapan.
Karena mereka meyakini bahwa di belakang mereka ada kekuatan yang mendorong dan ada pertolongan dari Allah subhanahu wa ta'ala Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan pertolongan itu akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang berjihad di jalan-Nya, asal saja mereka itu tetap tahan dan sabar serta selalu ingat kepada Allah, dan patuh kepada pimpinan.
Pada perang Badar kedua yang terjadi tanggal 17 Ramadan tahun 2 Hijriah itu, kaum muslimin telah berusaha mematuhi ketentuan-ketentuan Tuhan dan ketentuan Rasul-Nya dengan segala kemampuan yang ada, serta dengan tekad yang bulat.
Mereka berperang dengan penuh keberanian.
Dan dengan pertolongan Allah mereka menang dalam peperangan itu.

Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman.
Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu".

(Q.S Muhammad: 7)

Menurut para ahli sejarah, tentara kaum muslimin dalam perang Badar itu berjumlah 313 orang.
Terdiri dari 77 orang Muhajirin dan 236 orang Ansar.
Yang memegang bendera dalam pasukan Muhajirin adalah Ali bin Abu Talib.
sedang bendera pasukan Ansar dipegang oleh Saad bin `Ubadah.
Dalam pasukan muslimin itu terdapat 90 ekor unta dan 2 ekor kuda perang masing-masing dikendarai oleh Miqdad bin Al Aswad dan Marsad bin Marsad, yang memakai baju besi ada enam orang dan yang bersenjata pedang ada delapan orang.
Seluruh yang terbunuh dari pihak kaum Muslimin 14 orang laki-laki, terdiri dari 6 orang Muhajirin dan delapan orang dari Ansar.
Jumlah tentara kaum musyrikin 950 orang, dipimpin oleh `Utbah bin Rabi'ah, dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan dan Abu Jahal.
Dalam pasukan mereka terdapat seratus ekor kuda perang, 700 ekor unta, dan sejumlah senjata yang tidak terbilang banyaknya.

Dalam peperangan Badar jumlah pasukan kaum muslimin hanyalah 313 orang saja.
Tetapi dalam penglihatan kaum musyrikin ketika perang telah berkecamuk jumlah tersebut menjadi berlipat ganda, sehingga hal itu menimbulkan rasa takut dalam hati mereka, Akhirnya mereka lari dari medan pertempuran.
Demikian Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan pertolongan kepada kaum muslimin.

Sebelum perang berkecamuk, pasukan kaum muslimin di mata orang-orang musyrikin kelihatan sangat kecil, karena itu mereka berani menghadapi dan menyerbu mereka, seperti diberitahukan Allah dalam kisah tentang Perang Badar ini, dengan firman-Nya:

Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.
(Q.S Al Anfal: 44)

Dengan pertolongan inilah Allah memperkuat orang-orang yang dikehendaki-Nya, dan sesungguhnya pada pertolongan yang demikian itu ada pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal dan pikiran.

Ali Imran (3) ayat 13 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ali Imran (3) ayat 13 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ali Imran (3) ayat 13 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Bagi kalian sebuah tanda yang jelas dan pelajaran yang berharga.
Ada dua kelompok yang berperang bertemu pada persitwa Badar.
Kelompok yang satu beriman:
berperang untuk menegakkan agama Allah dan menyebarkan kebenaran.
Sedang kelompok yang lain kafir:
berperang untuk kepentingan hawa nafsu.
Sebagai dukungan Allah terhadap orang-orang Mukmin, Allah menjadikan orang-orang kafir melihat jumlah mereka menjadi dua kali lebih banyak dari jumlah sebenarnya.
Dengan begitu, hati mereka menjadi kacau lalu kalah.
Allah memberikan kemenangan dan dukungan kepada yang dikehendaki-Nya.
Pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berhati bersih, memiliki pandangan yang jernih, yang tidak menyeleweng dari kebenaran dalam memandang.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya bagi kamu ada tanda) atau pelajaran, lalu hal itu disebutkan untuk penjelasan (pada dua golongan) dua puak (yang bertemu) di hari Badar untuk berperang (segolongan bertempur di jalan Allah) untuk menaati perintah-Nya, yaitu Nabi ﷺ bersama para sahabat.
Mereka berjumlah 313 orang laki-laki termasuk beberapa orang berkuda, enam buah ketopong besi dan delapan buah pedang, sedangkan kebanyakan mereka adalah berjalan kaki (dan yang lain kafir, yang melihat mereka) maksudnya kaum muslimin (dua kali lipat mereka) artinya jumlah mereka kaum muslimin kelihatan dua kali banyak dari jumlah mereka yang lebih kurang seribu orang, (yaitu penglihatan dengan mata kepala) artinya menurut pandangan lahir.
Ini termasuk pertolongan Allah kepada kaum muslimin yang berjumlah sedikit.
(Dan Allah menyokong) menguatkan (dengan pertolongan-Nya siapa yang disukai-Nya) untuk ditolong.
(Sesungguhnya pada yang demikian itu) maksudnya yang disebutkan tadi (menjadi pelajaran bagi orang yang mempunyai mata hati).
Kenapa kamu tidak mengambil pelajaran pula lalu kamu beriman?

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sungguh telah ada bagi kalian wahai orang-orang Yahudi yang sombong lagi ingkar bukti yang agung pada dua kelompok yang berperang di medan Badar ; kelompok yang berperang demi membela agama Allah, mereka adalah Muhammad صلی الله عليه وسلم dan para sahabatnya, sedangkan kelompok kedua adalah kelompok yang kafir kepada Allah, berperang demi membela kebatilan.
Mereka melihat julah orang-orang mukmin dua kali lipat jumlah mereka dengan mata kepada mereka.
Allah menjadikan hal itu sebagai sebab kemenangan bagi kaum muslimin atas mereka dan Allah memberikan kemenangan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya.
Sesungguhnya peristiwa yang terjadi tersebut mengandung pelajaran bagi orang-orang yang memiliki pandangan hati yang tajam yang mengetahui hukum dan perbuatan-perbuatan Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkannya pula melalui Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Sa'id dan Ikrimah, dari Ibnu Abbas dengan lafaz yang semisal.
Karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kalian.

Yakni telah ada bagi kalian, hai orang-orang Yahudi yang berkata demikian, suatu tanda yang menunjukkan bahwa Allah pasti akan memenangkan agama-Nya, menolong Rasul-Nya, dan menonjolkan kalimat-Nya serta meninggikan perintah-Nya.

...pada dua golongan yang telah bertemu (berperang).
Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir.

Mereka adalah kaum musyrik Quraisy dalam Perang Badar.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

...dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslim dua kali jumlah mereka.

Salah seorang ulama mengatakan berdasarkan kepada apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, bahwa orang-orang musyrik dalam Perang Badar melihat pasukan kaum muslim berjumlah dua kali lipat pasukan mereka menurut pandangan mata mereka.
Dengan kata lain, Allah-lah yang menjadikan demikian, sehingga tampak di mata mereka jumlah pasukan kaum muslim dua kali lipat jumlah pasukan kaum musyrik.
Hal inilah yang menjadi penyebab bagi kemenangan pasukan kaum muslim atas mereka.

Hal ini tidaklah aneh bila dipandang dari segi kenyataan.
Kaum musyrik sebelum terjadi perang mengirimkan Umar ibnu Sa'id untuk memata-matai pasukan kaum muslim.
Lalu Umar ibnu Sa'id kembali kepada mereka membawa berita bahwa jumlah pasukan kaum muslim terdiri atas kurang lebih tiga ratus orang, dan memang demikianlah kenyataannya, mereka berjumlah tiga ratus lebih belasan orang.
Kemudian ketika perang terjadi, Allah membantu kaum muslim dengan seribu malaikat yang terdiri atas para penghulu dan pemimpin malaikat.

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa makna yang terkandung di dalam firman-Nya:
...yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) pasukan kaum musyrik dua kali jumlah mereka.
Yakni pasukan kaum muslim melihat jumlah pasukan kaum musyrik dua kali lipat jumlah mereka.
Tetapi sekalipun demikian, Allah memenangkan pasukan kaum muslim atas pasukan kaum musyrik yang jumlahnya dua kali lipat itu.

Pengertian ini pun tidak aneh bila dipandang dari apa yang telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa kaum mukmin dalam Perang Badar berjumlah tiga ratus tiga belas orang, sedangkan pasukan kaum musyrik terdiri atas enam ratus dua puluh enam orang.
Seakan-akan pendapat ini disimpulkan dari makna lahiriah ayat.
Tetapi pendapat ini bertentangan dengan pendapat yang terkenal di kalangan ahli tarikh dan ahli sejarah, serta bertentangan dengan pendapat yang dikenal di kalangan jumhur ulama yang mengatakan bahwa kaum musyrik terdiri atas antara sembilan ratus sampai seribu orang, seperti yang diriwayatkan oleh Muhammad ibnu Ishaq dari Yazid ibnu Rauman, dari Urwah ibnuz Zubair:

Bahwa Rasulullah ﷺ ketika menanyakan kepada seorang budak hitam milik Banil Hajaj tentang bilangan pasukan Quraisy, maka budak itu menjawab bahwa jumlah mereka banyak.
Nabi ﷺ bertanya, "Berapa ekor untakah yang mereka sembelih setiap harinya?"
Budak itu menjawab, "Terkadang sembilan dan terkadang sepuluh ekor tiap harinya." Nabi ﷺ bersabda, "(Kalau demikian jumlah) kaum antara sembilan ratus sampai seribu orang personel."

Abu Ishaq As-Subai'i meriwayatkan dari seorang budak wanita, dari Ali r.a.
yang mengatakan bahwa jumlah mereka seribu orang.
Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Mas'ud.

Menurut pendapat yang terkenal, jumlah pasukan kaum Quraisy adalah antara sembilan ratus sampai seribu orang.
Pada garis besarnya jumlah pasukan kaum Quraisy tiga kali lipat jumlah pasukan kaum muslim.
Atas dasar ini, maka pendapat mengenai masalah ini cukup sulit untuk dicerna.
Akan tetapi, Ibnu Jarir menguatkan pendapat ini (yang mengatakan seribu orang) dan menganggapnya sebagai pendapat yang sahih.
Alasannya ialah seperti dikatakan, "Aku mempunyai seribu dinar dan aku memerlukan dua kali lipat." Dengan demikian, berarti ia memerlukan tiga ribu dinar.
Demikianlah menurut alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir, dan berdasarkan pengertian ini, maka mengenai masalah ini tidak ada kesulitan lagi.

Akan tetapi, masih ada satu pertanyaan lagi yang jawabannya ada dua pendapat.
Yaitu bagaimanakah cara menggabungkan pengertian yang terkandung di dalam ayat ini dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala sehubungan dengan Perang Badar, yaitu:

Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kalian, ketika kalian berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan mata kalian dan kalian ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan.
(Al Anfaal:44), hingga akhir ayat.

Sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa hal yang disebutkan dalam ayat ini mengisahkan suatu keadaan, sedangkan yang ada di dalam ayat di atas menceritakan keadaan yang lain.
Seperti apa yang dikatakan oleh As-Saddi, dari At-Tayyib, dari Ibnu Mas'ud sehubungan dengan firman-Nya:
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kalian pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur)...
, hingga akhir ayat.
Ini adalah dalam Perang Badar.

Abdullah ibnu Mas'ud mengatakan, "Kami pandang pasukan kaum musyrik dan ternyata kami lihat jumlah mereka berkali-kali lipat jumlah pasukan kami.
Kemudian dalam kesempatan yang lain kami pandang mereka, maka ternyata kami melihat mereka tidak lebih banyak dari pasukan kami, sekalipun hanya seorang." Yang demikian itulah yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kalian, ketika kalian berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan mata kalian dan kalian ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mereka.
(Al Anfaal:44), hingga akhir ayat.

Abu Ishaq meriwayatkan dari Abu Abdah, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan, "Sesungguhnya mereka ditampakkan di mata kami berjumlah sedikit, sehingga aku berkata kepada seorang lelaki yang ada di sebelahku, 'Kamu lihat jumlah mereka ada tujuh puluh orang bukan?' Ia menjawab, 'Menurutku jumlah mereka ada seratus orang'."

Ibnu Mas'ud melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia menawan seseorang dari mereka, ketika ia menanyakan kepadanya, "Berapakah jumlah kalian?"
Orang yang ditawan itu menjawabnya, "Seribu orang."

Ketika masing-masing pihak berhadap-hadapan, maka pasukan kaum muslim melihat jumlah pasukan kaum musyrik dua kali lipat jumlah mereka.
Dijadikan demikian oleh Allah agar kaum muslim bertawakal, berserah diri, dan meminta pertolongan kepada Tuhan-nya.
Sedangkan pasukan kaum musyrik melihat pasukan kaum muslim demikian pula, agar timbul rasa takut dan hati yang kecut di kalangan mereka, dan mental mereka beserta semangat tempurnya jatuh.

Setelah kedua pasukan terlibat di dalam pertempuran, maka Allah membuat pasukan kaum muslim memandang sedikit jumlah pasukan kaum musyrik.
Begitu pula sebaliknya, pasukan kaum musyrik memandang sedikit jumlah pasukan kaum muslim, agar masing-masing pihak maju dengan penuh semangat untuk menghancurkan pihak lainnya.
Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan.
(Al Anfaal:44)

Yakni untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, lalu menanglah kalimat iman atas kalimat kekufuran dan kezaliman.
Allah memenangkan pasukan kaum muslim dan mengalahkan pasukan kaum kafir, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala di dalam firman-Nya:

Sungguh Allah telah menolong kalian dalam peperangan Badar, padahal kalian adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah.
(Ali Imran:123)

Sedangkan dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan melalui firman-Nya:

Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.

Yakni sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terkandung pelajaran bagi orang yang mempunyai mata hati dan pemahaman, lalu hal ini ia jadikan sebagai petunjuk yang memperlihatkan kepadanya akan ketetapan Allah dan perbuatan-perbuatan-Nya serta takdir-Nya yang berlangsung ketika Dia menolong hamba-hamba-Nya yang beriman dalam kehidupan di dunia ini, juga pada hari di saat itu semua saksi bangkit mempersaksikan.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ali Imran (3) Ayat 13

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya, al-Baihaqi di dalam ad-Dalaa-il, dari Ibnu Ishaq, dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika kaum Mukminin mengalahkan orang-orang Quraisy pada perang Badr, dan pulang ke Madinah, Rasulullah mengumpulkan orang-orang Yahudi di pasar Bani Qainuqa’ dan bersabda: “Wahai kaum Yahudi.
Masuk Islam-lah kalian sebelum Allah menimpakan kepada kalian apa yang dialami kaum Quraisy.” Mereka menjawab:
“Hai Muhammad, janganlah engkau tertipu oleh dirimu sendiri atas kemenangan terhadap golongan Quraisy yang bodoh dan tidak mengetahui strategi perang.
Demi Allah, sekiranya engkau memerangi kami, engkau akan tahu bahwa kami ini jantan tiada taranya.” Maka turunlah ayat ini (Ali ‘Imraan: 12-13) sebagai penegasan atas kemampuan umat Islam mengalahkan mereka atas pertolongan Allah subhanahu wa ta'ala

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa orang Yahudi yang bernama Fanhash berkata di waktu perang Badr: “Janganlah Muhammad tertipu oleh kemenangannya atas kaum Quraisy, karena kaum Quraisy memang tidak pandai berperang.” Maka turunlah ayat ini (Ali ‘Imran: 12-13) sebagai penegasan bahwa umat Islam akan mendapat kemenganan atas pertolongan Allah subhanahu wa ta'ala

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Ali Imran (3) Ayat 13

FI'AH
فِئَة

Arti kata fi'ah adalah sekelompok manusia yang menunjukkan kebolehannya dan mereka saling membantu di antara satu dengan yang lainnya.

Bentuk tunggal fi'ah diulang sebanyak delapan kali dalam Al Qur'an, yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 249 (dua kali);
-Ali Imran (3), ayat 13;
-Al Anfaal (8), ayat 16, 19, 45;
-Al Kahfi (18), ayat 43;
-Al Qashash (28), ayat 81.

Sedangkan bentuk mutsanna (ganda)-nya fi'atayn dan fi'ataan diulang sebanyak tiga kali, yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 13;
-An Nisaa (4), ayat 88;
-Al Anfaal (8), ayat 48.

Pada surah Al Qashash (28), ayat 81 diceritakan bahawa ketika Allah menimbun Qarun bersama-sama dengan rumahnya di dalam tanah, maka ia tidak mendapat sebarang golongan (fi'ah) yang bisa menolongnya, baik fi'ah tersebut berupa kawan-kawan sekutu, pembantu-pembantu mahupun tentara. Hanya Allah lah yang dapat menyelamatkan hamba dari azab dan siksa.

Penggunaan kata fi'ah pada surah Al Kahfi (18), ayat 43 juga hampir sama dengan penggunaannya pada surah Al Qashash (28), ayat 81 di atas.

Pada surah Al Kahfi (18), ayat 43 ini, Allah menceritakan tentang nasib orang kaya pemilik kebun luas yang sombong dengan kekayaan dan anak-anaknya, dia tidak percaya hari kiamat dan tidak mau mensyukuri nikmat Allah. Kebunnya yang luas itu akhirnya rusak binasa dan tidak dapat menghasilkan buah apa pun. Allah menegaskan bahawa orang tersebut tidak mendapat sebarang golongan (fi'ah) yang bisa menolongnya, selain daripada Allah; dan ia pula tidak dapat membela dirinya sendiri.

Pada selain dua ayat tersebut kata fi'ah atau fi'atayn digunakan untuk menunjukkan golongan yang bersengketa dengan golongan yang lain, baik itu golongan-golongan tersebut berada dalam satu kelompok tertentu maupun kedua-duanya memang sekumpulan tentara yang siap berhadapan dalam peperangan.

Pada surah An Nisaa (4), ayat 88 Allah melarang orang beriman terpecah menjadi dua golongan (fi'atayn) yang saling berselisih ketika menghadapi orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang menampakkan keislaman pada sisi lahiriahnya namun mereka tidak mau ikut hijrah ke Madinah karena memang hati mereka masih kafir. Pada mulanya umat Islam berbeda pendapat mengenai mereka, ada yang menganggapnya sebagai orang beriman sehingga tidak boleh diperangi dan ada yang menganggapnya sebagai orang kafir. Kemudian Allah menegaskan bahawa orang-orang munafik tersebut adalah orang kafir, sehingga tidak boleh dikasihani atau dijadikan penolong, oleh karena itu umat Islam tidak perlu terpecah menjadi dua golongan yang saling berbantahan dalam masalah ini.

Dalam surah Al Baqarah (2), ayat 249 kata fi'ah dikaitkan dengan perkataan sebahagian tentara perang raja Thalut (termasuk juga Nabi Dawud (a.s.) yang jumlahnya sedikit ketika melawan tentara raja Jalut yang jumlahnya banyak. Sebahagian pasukan raja Thalut tersebut dengan penuh semangat dan dengan keimanan yang kuat berkata: "Berapa banyak (yang pernah terjadi), golongan yang sedikit (fi'atin qaliilah) berhasil menewaskan golongan yang banyak (fi'atan katsiirah) dengan izin Allah. Dan akhirnya mereka memperoleh kemenangan dalam perang tersebut. Perkataan pasukan raja Thalut tersebut juga bersesuaian dengan apa yang terjadi pada perang Badr, di mana jumlah tentara muslim sedikit sedangkan tentara musyrikin sangat banyak. Meskipun demikian dalam surah Al Anfaal (8), ayat 19 Allah menegaskan bahawa Dia akan selalu menolong orang-orang yang beriman dan golongan angkatan perang kaum musyrikin tidak akan mendapatkan selamat sekalipun mereka sangat banyak.

Kata fi'atayn dan fi'ataan "dua golongan" dalam surah Ali Imran (3), ayat 13 dan Al Anfaal (8), ayat 48 juga masih berkaitan dengan kejadian perang Badr.

Dua golongan yang disebut dalam kedua ayat tersebut adalah tentara muslim yang jumlahnya sedikit dan tentara musyrikin yang jumlahnya banyak semasa perang Badr. Allah menegaskan bahawa tentara muslim fi'ah berperang di jalan Allah bersama para malaikat, sedangkan tentara musyrikin fi'ah berperang memperjuangkan kekafiran bersama setan yang membujuk dan menyokong mereka, namun kemudian setan berkhianat dan lari dari peperangan setelah melihat para malaikat yang membantu tentara muslimin dalam perang tersebut.

Hampir sama dengan yang di atas, kata fi'ah yang terdapat dalam surah Al Anfaal (8), ayat 16 dan 45 mempunyai arti sekelompok tentara perang, namun ianya disebut untuk menerangkan aturan perang yang harus dipatuhi oleh umat Islam, supaya mereka mendapat kejayaan.

Pada ayat 45 Allah menetapkan aturan-aturan yang mesti dilakukan oleh tentara muslim semasa mereka bertemu dengan sesuatu pasukan musuh (fi'ah), yaitu:
(1). Hendaklah tetap teguh menghadapinya;
(2). Hendaklah banyak menyebut serta ingat kepada Allah;
(3). Hendaklah taat kepada Allah dan Rasul-Nya;
(4). Jangan berbantahbantahan dan bertelingkah;
(5). Bersabar menghadapi segala kesukaran.

Tujuan ditetapkannya aturan ini adalah supaya tentara muslim tidak menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan, dengan itu maka mereka akan mendapatkan kemenangan

Sedangkan ayat ke 16 menceritakan tentang strategi perang yang boleh dilakukan oleh tentara muslim. Tentara muslim sama sekali tidak boleh menghindar dari menghadapi musuh kecuali apabila bermaksud untuk melakukan tipu muslihat perang, yaitu lari ke arah atau ke tempat lain yang lebih strategis dan kemudian menyerang musuh kembali, atau mereka lari dengan maksud bergabung dengan kelompok pasukan muslim yang lain (fi'ah) untuk kemudian menyerang musuh dengan kekuatan pasukan yang lebih besar. Tindakan seperti itu dibolehkan, karena ianya tidak termasuk melarikan diri dari perang, melainkan maksud tindakan itu adalah untuk mengungguli musuh dan menyusun kekuatan kembali dengan cara menyerang musuh semula dari tempat yang lebih tepat atau bergabung dengan kekuatan kelompok tentara muslim yang lain. Dengan strategi seperti ini maka kejayaan perang akan terwujud.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:431-433

Informasi Surah Ali Imran (آل عمران)
Surat "Ali 'lmran" yang terdiri dari 200 ayat ini adalah surat "Madaniyyah".

Dinamakan Ali 'lmran karena memuat kisah keluarga 'lmran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam 'alaihis salam, kenabian dan beberapa mu'jizat­ nya, serta disebut pula kelahiran Maryam puteri 'lmran, ibu dari Nabi 'Isa a .s.

Surat Al Baqarah dan Ali 'lmran ini dinamakan "Az Zahrawaani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi 'Isa 'alaihis salam, kedatangan Nabi Muhammad ﷺ dan sebagainya.

Keimanan:

Dalil-dalil dan alasan-alasan yang membantah orang Nasrani yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s. ketauhidan adalah dasar yang dibawa oleh seluruh nabi.

Hukum:

musyawarah
bermubahalah
larangan melakukan riba.

Kisah:

Kisah keluarga 'lmran
perang Badar dan Uhud dan pelajaran yang dapat diambil dari padanya

Lain-lain:

Golongan-golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyaabihaat
sifat­ sifat Allah
sifat orang-orang yang bertakwa
Islam satu-satunya agama yang diri­dhai Allah
kemudharatan mengambil orang-orang kafir sebagai teman kepercayaan
pengambilan perjanjian para Nabi oleh Allah
perumpamaan-perumpamaan
peri­ngatan-peringatan terhadap Ahli Kitab
Ka'bah adalah rumah peribadatan yang tertua dan bukti-buktinya
faedah mengingati Allah dan merenungkan ciptaanNya.


Gambar Kutipan Surah Ali Imran Ayat 13 *beta

Surah Ali Imran Ayat 13



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ali Imran

Surah Al Imran (Arab: سورة آل عمران, translit.
sūrah Āl ‘Imrān‎, Āl 'Imrān berarti "Keluarga 'Imran") adalah surah ke-3 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 200 ayat dan termasuk surah Madaniyah.
Dinamakan Al-'Imran karena memuat kisah keluarga Imran yang di dalam kisah itu disebutkan kelahiran Nabi Isa, persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam, kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam binti Imran.
Surah Al-Baqarah dan Al-'Imran ini dinamakan Az-Zahrawan (Dua Yang Cemerlang), karena kedua surah ini menyingkapkan hal-hal yang menurut Al-Qur'an disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi Isa kedatangan Nabi Muhammad.
Pada ayat 7 terdapat keterangan tentang "Pedoman Cara Memahami isi Al-Kitab."

Nomor Surah3
Nama SurahAli Imran
Arabآل عمران
ArtiKeluarga 'Imran
Nama lainAl-Thayyibah (Yang Suci) dan Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu89
JuzJuz 3 (ayat 1-91), juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat200
Jumlah kata200
Jumlah huruf200
Surah sebelumnyaSurah Al-Baqarah
Surah selanjutnyaSurah An-Nisa'
4.9
Rating Pembaca: 4.3 (29 votes)
Sending







✔ kandungan surah al imran ayat 3 13, surah 3 ayat 13